← Daftar isi Markus (3) · bab 15/23

PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN TENTANG KERAJAAN (3)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 4:1-34

Injil Markus memberi kita catatan tentang pergerakan Hamba-Penyelamat. Seperti yang telah saya tunjukkan, tujuan Injil ini bukanlah melaporkan perkataan atau peng-ajaran Hamba-Penyelamat. Memang Injil ini memberi tahu kita bahwa Tuhan Yesus mengajar, namun, Injil Markus tidak menekankan perkataan Tuhan.

Pasal 4 yang bisa dianggap sebagai suatu sisipan, ber-beda dengan pasal-pasal lainnya dari Injil Markus, karena memberikan catatan tentang empat perumpamaan yang diucapkan oleh Tuhan. Dalam 4:1-34 tidak ada gambaran tentang aktivitas atau pergerakan Hamba-Penyelamat. Seba-liknya, dalam pasal ini terdapat catatan tentang ajaran Hamba-Penyelamat perihal Kerajaan Allah. Pasal ini, pasal tentang pengajaran, sangatlah penting.

Jika kita membandingkan Matius 13 dengan Markus 4, kita akan nampak bahwa Markus 4 jauh lebih singkat dari-pada Matius 13. Dalam Matius 13 ada tujuh perumpamaan, tetapi dalam Markus 4 hanya ada empat, yakni: Perumpa-maan tentang penabur (ayat 1-20), perumpamaan tentang pelita (ayat 21-25), perumpamaan tentang benih (ayat 26-29), dan perumpamaan tentang biji sesawi (ayat 30-34). Dari keempat perumpamaan ini, hanya perumpamaan ten-tang pelitalah yang tidak tercantum dalam Matius 13.

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN BENIH KERAJAAN

Perkara penting yang diwahyukan dalam Markus 4 adalah benih kerajaan atau gen kerajaan. Kerajaan Allah tidak dihasilkan oleh aktivitas ataupun organisasi. Sesungguhnya, Kerajaan Allah adalah diri Allah sendiri yang ditaburkan ke dalam manusia dan berkembang di dalam mereka menjadi suatu kerajaan.

Kita perlu terkesan dengan fakta bahwa Kerajaan Allah bukanlah soal pengajaran, aktivitas, atau organisasi. Seba-liknya, Kerajaan Allah adalah Allah Tritunggal di dalam inkarnasi-Nya ditaburkan ke dalam umat pilihan-Nya agar bertumbuh dan berkembang di dalam mereka untuk men-jadi kerajaan.

Dalam definisi ringkas mengenai kerajaan ini kita me-nyinggung tentang unsur hakiki dari keseluruhan ajaran Perjanjian Baru. Perjanjian Baru mengajar kita perihal Allah Tritunggal berinkarnasi untuk ditaburkan ke dalam umat pilihan-Nya dan kemudian bertumbuh serta berkem-bang di dalam mereka menjadi suatu kerajaan. Inilah unsur hakiki pengajaran Perjanjian Baru.

Jika kita membaca Perjanjian Baru di dalam terang ini, kita akan nampak bahwa Allah Tritunggal menjadi se-orang manusia. Ketika manusia ini, Yesus Kristus, mulai memberitakan Injil dan mengajarkan kebenaran, berarti Ia sedang menaburkan diri-Nya ke dalam orang-orang lainnya. Ini berarti pemberitaan Injil-Nya serta pengajaran-Nya peri-hal kebenaran sesungguhnya merupakan suatu penaburan diri-Nya ke dalam orang-orang yang mendengarkan-Nya. Sambil memberitakan dan mengajar, Ia menaburkan perka-taan-Nya ke dalam para pendengar-Nya. Perkataan-Nya me-masukkan diri-Nya ke dalam mereka. Karena itu, melalui perkataan-Nya, diri-Nya pribadi sebagai Manusia-Allah, Allah Tritunggal dalam keinsanian, ditaburkan ke dalam umat pilihan-Nya. Pemberitaan dan pengajaran adalah jalan untuk menaburkan diri-Nya sebagai benih kerajaan. Ketika umat pilihan-Nya mendengar perkataan Manusia-Allah ini serta menerimanya, maka sesungguhnya mereka itu mene-rima persona yang ajaib tersebut, yakni persona yang adalah Allah Tritunggal juga manusia yang sejati. Inilah yang di-catat dalam keempat Injil.

Keempat Injil mewahyukan Allah Tritunggal yang ber-inkarnasi. Akhirnya Manusia-Allah ini tampil untuk mena-burkan diri-Nya ke dalam umat pilihan Allah dengan jalan memberitakan dan mengajar. Sewaktu orang-orang yang telah dipilih Allah ini mendengar perkataan-Nya serta me-nerima-Nya, mereka menerima benih, gen, kerajaan. Benih, gen ini, adalah Allah yang berinkarnasi, Allah Tritunggal di dalam keinsanian. Dalam kitab-kitab Injil kita memiliki penaburan benih kerajaan ini.

Dalam Kitab Kisah Para Rasul terdapat pembiakan dan penyebaran dari penaburan ini. Dalam kitab-kitab Injil kita temukan beberapa penyebaran: Pertama, dari seorang Pe-nabur menjadi dua belas penabur, dan kemudian dari dua belas penabur menjadi tujuh puluh penabur. Namun dalam Kitab Kisah Para Rasul, ratusan dan bahkan ribuan pena-bur dibangkitkan. Semua penabur ini adalah orang-orang yang telah menerima benih, gen. Melalui menerima benih, mereka menjadi orang-orang yang kemudian dapat mena-burkan benih ke dalam orang-orang lain. Dengan jalan ini kita memiliki perkembangbiakan penaburan dan benih.

Dalam Surat-surat Kiriman kita nampak pertumbuhan benih, gen kerajaan. Kita nampak pertumbuhan ini, teris-timewa dalam 1 Korintus 3. Dalam 1 Korintus 3:9b Paulus berkata, “Kamu adalah ladang Allah.” Di tempat lain, dalam pasal yang sama Paulus berkata, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang menumbuhkan” (ayat 6). Da-lam pasal ini kita memiliki pertumbuhan dan perkembangan benih.

Perkembangan lebih lanjut dari gen kerajaan dapat di-lihat dalam 2 Petrus 1:3, “Kuasa ilahi-Nya (Allah) telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.” Segala hal yang berkaitan dengan hayat ilahi telah diberikan kepada kita untuk tujuan pertumbuhan. Kita mempunyai gambaran perihal pertumbuhan ini dalam 2 Petrus 1:5-7: “Justru karena itu, kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan ke-pada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan pengu-asaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih terhadap saudara-saudara seiman, dan kepada kasih terhadap sau-dara-saudara seiman, kasih terhadap semua orang.” Di sini kita dapati langkah-langkah pertumbuhan benih hingga men-capai kematangan. Petrus menyatakan bahwa jika kita mem-punyai pertumbuhan ini, “Dengan demikian, kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (ayat 11). Karena itu, dalam Surat Kiriman ini kita nampak dengan jelas pertumbuhan benih kerajaan.

Penuaian benih ini terdapat dalam kitab terakhir Perjanjian Baru, yakni Kitab Wahyu. Menurut Wahyu 14, pertama-pertama kita memiliki buah sulung dan kemudian tuaian. Wahyu 14:4 membicarakan perihal orang-orang yang “ditebus dari antara manusia sebagai kurban-kurban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu.” Kemudian dalam ayat 15 kita nampak bahwa “tuaian di bumi sudah masak.”

Orang-orang yang adalah buah-buah sulung seperti yang disebutkan dalam Wahyu 14 akan berada di antara orang-orang yang meraja bersama Kristus di dalam Kerajaan Se-ribu Tahun. Kerajaan Seribu Tahun akan menjadi per-kembangan penuh dari gen kerajaan. Selama seribu tahun, banyak orang yang telah menerima gen kerajaan akan me-raja bersama Kristus. Pada waktu itu, Bapa kita bisa ber-megah terhadap musuh-Nya, “Iblis kecil, di mana kamu? Kamu ada di dalam jurang maut. Hai Iblis, pandanglah kerajaan-Ku. Khususnya, pandanglah semua orang yang se-karang meraja beserta Kristus. Banyak orang yang percaya di dalam Anak-Ku dan menerima gen kerajaan menjadi raja bersama-Nya. Putra-Ku adalah Raja dan semua orang beriman pemenang juga bersama-sama meraja dengan-Nya. Iblis, pandanglah Raja dan orang-orang yang meraja dengan-Nya. Betapa mengagumkan kerajaan itu!”

Allah kita adalah Allah yang tak berkesudahan, yang kekal, dan pada-Nya tidak ada unsur waktu. “Di hadapan Tuhan, satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu ta-hun sama seperti satu hari!” (2 Ptr. 3:8). Dalam pandangan Allah, seribu tahun sama seperti satu hari saja untuk me-mamerkan kerajaan-Nya yang mengagumkan. Akan tetapi, bagi Iblis pameran kerajaan tersebut akan berlangsung sampai seribu tahun. Selama waktu itu Iblis akan diikat dalam jurang maut.

Pada akhir seribu tahun, Iblis akan dilepaskan dan diizinkan untuk memberontak sekali lagi. Tentang hal ini, Wahyu 20:7-8 berkata, “Setelah masa seribu tahun itu ber-akhir, Iblis akan dilepaskan dari penjaranya, dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa pada keempat penjuru bumi, yaitu Gog dan Magog.” Sekalipun Iblis akan mengge-rakkan pemberontakan di antara bangsa-bangsa, namun ia tidak akan sanggup menjamah orang-orang yang meraja de-ngan-Nya, karena mereka telah diubah oleh gen kerajaan. Semua unsur pemberontak yang ada di dalam keinsanian yang telah jatuh dari orang-orang yang meraja dengan-Nya telah ditelan oleh gen kerajaan. Karena itu, tidak mungkin bagi Iblis, si jahat, menghasut “umat yang mempunyai gen kerajaan” untuk memberontak melawan Allah. Akan tetapi, sejumlah besar orang dari bangsa-bangsa yang telah dipulih-kan akan mengikutinya. Wahyu 20:9 memberi tahu kita ha-sil dari pemberontakan terakhir ini, “Lalu naiklah mereka ke seluruh dataran bumi dan mengepung perkemahan tentara orang-orang kudus dan kota yang dikasihi itu. Tetapi dari langit turunlah api menghanguskan mereka.” Akan tetapi bangsa-bangsa yang telah dipulihkan yang tidak turut serta dalam pemberontakan itu akan dipindahkan ke bumi baru.

Di dalam langit baru dan bumi baru Allah akan memi-liki kerajaan yang kekal dengan Yerusalem Baru sebagai ibukotanya. Yerusalem Baru akan terdiri atas raja-raja, dan raja-raja ini akan memerintah bangsa-bangsa yang telah di-pulihkan sepenuhnya. Kemudian Allah akan memiliki se-buah kerajaan kekal sebagai perkembangan penuh dari gen yang telah ditaburkan di dalam kitab-kitab Injil oleh Yesus orang Nazaret, yang tak lain adalah Allah Tritunggal dalam keinsanian.

Betapa menakjubkan gen kerajaan yang ditaburkan dalam kitab-kitab Injil! Akhirnya, gen ini akan berkembang menjadi Kerajaan Seribu Tahun sebagaimana dikatakan dalam Wahyu 20 dan menjadi Kerajaan Allah yang kekal dalam Wahyu 21 dan 22. Terpujilah Tuhan atas gambaran gen kerajaan serta perkembangannya!

PERTUMBUHAN DAN PENGUBAHAN DALAM HIDUP GEREJA

Di manakah gereja di dalam gambaran gen kerajaan be-serta perkembangan dan penggenapannya ini? Gereja berada di dalam zaman perkembangan gen. Perkembangan ini ter-jadi melalui pertumbuhan dan pengubahan. Dalam hidup gereja kita bertumbuh dan diubah.

Dalam 1 dan 2 Korintus Paulus membicarakan pertumbuhan dan pengubahan yang kita alami dalam hidup gereja hari ini. Dalam 1 Korintus 3 kita memiliki pertumbuhan hayat, dan dalam 2 Korintus 3 kita memiliki pengubahan hayat. Dalam 1 Korintus 3:7 Paulus berkata, “Allah yang menumbuhkan.” Di sini kita dapatkan pertumbuhan hayat. Kemudian dalam 2 Korintus 3:18 Paulus berkata, “Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” Di sini kita memiliki pengubahan hayat. Karena itu, dalam 1 dan 2 Korintus kita memiliki satu pasal yang bersangkut paut dengan pertumbuhan dalam hayat dan pasal lain tentang pengubahan hayat. Sekarang, di dalam hidup ge-reja kita mengalami pertumbuhan hayat dan pengubahan hayat.

Kita telah menunjukkan bahwa gereja merupakan ke-lanjutan dari hasil gen kerajaan. Kelanjutan ini akhirnya akan mencapai perkembangan penuh dari gen tersebut. Ke-mudian kerajaan akan dinyatakan dalam zaman seribu ta-hun. Semua orang dari abad ke abad yang telah menerima gen ini akan menjadi raja-raja melalui perkembangan gen yang ada di dalam mereka. Jumlah keseluruhan raja-raja ini akan menjadi Kerajaan Allah yang kekal yang meru-pakan perkembangan penuh dari gen yang ditaburkan oleh Manusia-Allah, Yesus orang Nazaret.

Dalam hidup gereja hari ini kita mengalami pertumbuhan dan perkembangan gen kerajaan melalui pertumbuhan hayat dan pengubahan hayat. Akhirnya, pertumbuhan dan pengubahan ini akan mencapai perampungan yang sempurna. Kemudian kita akan meraja bersama Kristus, yaitu semua orang yang telah mengalami perkembangan penuh dari gen kerajaan.

Saat ini kita masih berada di dalam proses pertum-buhan. Tetapi suatu hari kita pasti akan meraja bersama Kristus. Ketika hari itu tiba, boleh jadi kita akan saling memandang dan berkata, “Saudara, ingatkah engkau akan sidang-sidang di mana kita mendengar tentang gen kera-jaan? Ketika kita menempuh hidup gereja, kita berada di bawah perkembangan gen ini. Sekarang kita semua ada di sini sebagai sesama raja dari Kristus. Saat ini kita bisa nampak perkembangan penuh dari gen kerajaan.” Perkem-bangan penuh dari gen kerajaan ini akan dipamerkan ke-pada bangsa-bangsa, para malaikat, dan kepada si Iblis, Satan.

Kita perlu membaca Markus 4 dengan terang menurut apa yang telah kita nampak mengenai gen kerajaan. Jika kita membaca pasal ini dengan terang ini, kita akan me-nyadari bahwa dalam Markus 4 kita memiliki unsur hakiki Injil.

RAHASIA KERAJAAN ALLAH

Dalam 4:1-8 Tuhan menceritakan perumpamaan ten-tang seorang penabur. Dalam 4:11 Ia melanjutkan perkata-an-Nya kepada murid-murid-Nya, “Kepadamu telah diberi-kan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan.” Ekonomi Allah mengenai kerajaan-Nya adalah suatu rahasia tersem-bunyi yang telah disingkapkan kepada murid-murid Hamba-Penyelamat. Tetapi karena sifat dan ciri Kerajaan Allah se-luruhnya ilahi dan unsur-unsur yang membawanya adalah hayat ilahi dan terang ilahi, maka Kerajaan Allah, terutama dalam realitasnya sebagai gereja yang sejati dalam zaman ini (Rm. 14:17), tetap merupakan suatu rahasia bagi manusia alamiah, dan perlu wahyu ilahi untuk memahaminya.

PERUMPAMAAN TENTANG PELITA

Dalam 4:21-25 kita dapati perumpamaan tentang pelita. Dalam ayat 21-22 Tuhan berkata, “Mungkinkah orang mem-bawa pelita supaya ditempatkan di bawah tempayan atau di bawah tempat tidur? Bukankah supaya ditaruh di atas kaki pelita? Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap.” Pelita yang memancarkan te-rang menunjukkan pelayanan Injil Hamba-Penyelamat, bukan hanya menaburkan hayat ke dalam orang-orang yang dilayani-Nya, tetapi juga membawakan terang kepada me-reka. Karena itu, pelayanan ilahi yang demikian mengha-silkan kaum beriman seperti bintang-bintang (Flp. 2:15) dan gereja-gereja sebagai kaki pelita (Why. 1:20), yang ber-sinar dalam zaman gelap ini sebagai kesaksian-Nya, dan rampung dalam Yerusalem Baru dengan ciri-ciri khusus hayat dan terang (Why. 22:1-2; 21:11, 23-24).

Markus 4:24-25 mengatakan, “Lalu Ia berkata lagi, ‘Per-hatikanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pa-kai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan di-ambil.’” Dalam Matius 7:2 dan Lukas 6:38, perkataan Tuhan tentang ukuran ini diterapkan terhadap cara kita memper-lakukan orang lain. Di sini, dalam Markus 4:24, hal terse-but diterapkan pada cara kita mendengarkan firman Tuhan. Berapa banyak yang dapat Tuhan berikan kepada kita ter-gantung kepada ukuran pendengaran kita. Demikian juga, perkataan Tuhan dalam ayat 25 bersangkut paut dengan bagaimana kita mendengarkan firman Tuhan. Sama halnya dengan Matius 13:10-13 dan Lukas 8:18.

PERUMPAMAAN TENTANG BENIH

Dalam Markus 4:26-29 kita mempunyai perumpamaan tentang benih. Ayat 26 menyatakan, “Lalu kata Yesus, ‘Be-ginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang me-naburkan benih di tanah.’” Kerajaan Allah adalah realitas gereja yang dihasilkan oleh hayat kebangkitan Kristus me-lalui Injil (1 Kor. 4:15). Kelahiran kembali adalah jalan masuk ke dalam kerajaan (Yoh. 3:5), dan pertumbuhan ha-yat ilahi dalam kaum beriman adalah perkembangan kerajaan (2 Ptr. 1:3-11).

Orang dalam Markus 4:26 adalah Hamba-Penyelamat sebagai penabur. Orang dalam ayat 26 adalah penabur dalam ayat 3. Penabur ini adalah Hamba-Penyelamat, yang adalah Putra Allah yang datang untuk menaburkan diri-Nya sebagai benih hayat di dalam firman-Nya (ayat 14) ke dalam hati manusia agar Ia bisa bertumbuh dan hidup di dalam mereka dan bisa diekspresikan dari dalam mereka.

Benih dalam ayat 26 adalah benih hayat ilahi (1 Yoh. 3:9; 1 Ptr. 1:23) yang ditaburkan ke dalam kaum beriman Hamba-Penyelamat. Penaburan benih di sini menunjukkan bahwa Kerajaan Allah, yang merupakan hasil dan sasaran dari Injil Hamba-Penyelamat, dan gereja dalam zaman ini (Rm. 14:17), adalah perkara hayat, yaitu perkara hayat Allah. Hayat ini bertunas, bertumbuh, berbuah, matang, dan meng-hasilkan tuaian. Kerajaan Allah dan gereja bukanlah per-kara organisasi yang tak berhayat yang dihasilkan oleh hikmat dan kemampuan manusia. Perkataan para rasul dalam 1 Korintus 3:6-9 dan Wahyu 14:4, 15-16 menguatkan hal ini.

Selanjutnya dalam Markus 4:27, “Lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketa-hui orang itu.” Perkataan “pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun” dan “bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu”, tidak seharusnya diterapkan pada diri Hamba-Penyelamat. Kalimat ini mengilustrasikan spontanitas dari pertumbuhan benih (ayat 28). Kata-kata “bertunas dan tumbuh” di sini menunjukkan adanya per-tumbuhan.

Ayat 28 mengatakan, “Bumi dengan sendirinya menge-luarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemu-dian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu.” Bumi di sini adalah tanah yang baik (ayat 8), menandakan hati baik yang diciptakan oleh Allah (Kej. 1:31) untuk pertum-buhan hayat ilahi-Nya dalam manusia. Hati baik sedemi-kian ini bekerja sama dengan benih hayat ilahi yang dita-burkan ke dalamnya, membuat benih itu bertumbuh dan berbuah dengan spontan demi ekspresi Allah. Perkataan di sini memungkinkan kita memiliki iman dalam spontanitas hayat ini. Jadi pada segi negatifnya, lalang tidak disebut-sebut di sini, seperti dalam Matius 13:24-30. Perkataan “dengan sendirinya” berarti pertumbuhan itu berlangsung secara spontan.

Kemudian ayat 29 diakhiri dengan kata-kata, “Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.” Penyabit ditujukan kepada para malaikat yang diutus Tuhan untuk menuai tuaian (Why. 14:16; Mat. 13:39).

PERUMPAMAAN TENTANG BIJI SESAWI

Dalam 4:30-34 kita memiliki perumpamaan tentang biji sesawi. Dalam ayat 30-32 Tuhan berkata, “Dengan apa kita hendak membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah kita hendak menggambarkannya? Hal kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala je-nis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan, be-nih itu tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang da-lam naungannya.” Makna benih dalam ayat 3 dan 26, dan pelita dalam ayat 21 mengungkapkan sifat dan realitas ba-tini Kerajaan Allah; sedangkan makna dari sesawi yang menjadi lebih besar, tidak seperti jenisnya, dan burung-burung bersarang di bawah naungannya, menyatakan kebe-jatan dan penampilan luaran Kerajaan Allah.

Dalam Matius 13:31-32 kita nampak biji sesawi itu tidak hanya menjadi lebih besar daripada semua tumbuhan lainnya, bahkan akhirnya menjadi sebuah pohon. Gereja, yang merupakan perwujudan dari kerajaan, hendaknya men-jadi tanaman sayur-mayur untuk menghasilkan makanan. Akan tetapi, bila ia menjadi pohon, tempat berteduh bagi burung-burung, maka sifat dan fungsinya telah berubah. (Hal ini berlawanan dengan hukum penciptaan Allah yang menentukan bahwa setiap tanaman harus menurut jenis-nya — Kej. 1:11-12). Hal ini terjadi ketika Konstantin Agung mencampuradukkan gereja dengan dunia pada awal abad keempat. Ia membawa ribuan orang beriman palsu ke dalam kekristenan, menjadikannya kerajaan Kristen, bukan lagi gereja. Karena itu, perumpamaan tentang biji sesawi berkaitan dengan gereja ketiga di antara ketujuh gereja da-lam Wahyu 2 dan 3, yakni gereja di Pergamus (Why. 2:12-17). Sesawi adalah tanaman musiman, sedang pepohonan hidup bertahun-tahun. Gereja, menurut sifatnya yang ro-hani dan surgawi, seharusnya seperti sesawi, tinggal semen-tara di bumi. Namun, karena sifatnya telah berubah, ge-reja kemudian berakar dengan sangat dalam dan mapan di bumi sebagai pohon, semarak dengan kegiatannya sebagai cabang-cabang tempat bersarang banyak orang dan hal-hal jahat. Hal ini menyebabkan terbentuknya organisasi luaran dari penampilan luaran Kerajaan Allah.

Dalam perumpamaan tentang seorang penabur, “lalu datanglah burung dan memakannya (benih yang jatuh di pinggir jalan) sampai habis” (Mrk. 4:4). Menurut ayat 15, hal ini menyatakan bahwa Iblis datang dan mengambil fir-man yang baru ditaburkan ke dalam orang-orang tertentu. Karena burung dalam perumpamaan ini ditujukan kepada si jahat, Iblis, “burung-burung di udara” dalam perumpamaan biji sesawi pasti ditujukan kepada roh-roh jahat si Iblis be-serta orang-orang dan hal-hal jahat yang digerakkan oleh mereka. Mereka bersarang di cabang-cabang pohon besar itu, yakni di dalam segala aktivitas dunia kekristenan.

Markus 4:33-34 merupakan kesimpulan dari potongan Injil Markus perihal perumpamaan-perumpamaan tentang Kerajaan Allah, “Dalam banyak perumpamaan yang sema-cam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengerti, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri.” Perumpamaan-perumpamaan ini menya-takan hikmat dan pengetahuan ilahi Hamba-Penyelamat (Mat. 13:34-35).