← Daftar isi Markus (3) · bab 14/23

PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN TENTANG KERAJAAN (2)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 4:1-34

Istilah “kerajaan”, tidak diragukan, menunjukkan suatu pemerintahan. Mengatakan kita mempraktekkan kehidupan kerajaan berarti kita berada di bawah pengaturan Allah. Namun, dalam berita ini kita akan membahas Kerajaan Allah dari sudut pandang yang sangat berbeda.

BENIH INJIL

Baiklah kita mulai membahas kerajaan dengan mengajukan pertanyaan berikut: Apakah Injil itu? Kita mungkin mengatakan Injil adalah satu Persona yang ajaib, Manusia-Allah yang ajaib. Injil memberi tahu kita bahwa pada suatu hari Allah berinkarnasi. Dia yang ajaib ini, yakni Allah yang berinkarnasi adalah manusia-Allah. Ketika Ia berusia tiga puluh tahun, Ia keluar memberitakan Injil. Seperti telah kita tunjukkan dalam berita sebelumnya, Injil telah menggantikan seluruh Perjanjian Lama, karena Injil telah menggenapkan segala janji, nubuat, dan lambang, juga ada-lah penghapus hukum Taurat. Dengan kedatangan ma-nusia-Allah, Yesus Kristus, Perjanjian Lama telah berlalu. Dia inilah Injil itu. Jadi, Injil adalah Manusia-Allah yang ajaib ini.

Menurut catatan Injil Markus 4, kita boleh berkata bahwa Injil adalah Manusia-Allah yang ajaib yang datang untuk menaburkan diri-Nya sendiri sebagai benih hayat. Benih hayat ini terkandung dalam firman Tuhan. Mengenai ini, Markus 4:2-3 mengatakan, “Ia mengajarkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka, ‘Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.’” Kata “mengajarkan” di sini dalam bahasa aslinya adalah dalam bentuk tidak sem-purna (imperfect tense), menunjukkan suatu tindakan yang berulang-ulang di waktu yang lampau. Istilah “penabur” menyatakan bahwa Hamba-Penyelamat, Putra Allah, yang datang untuk menaburkan diri-Nya sendiri sebagai benih hayat dalam firman-Nya (ayat 14) ke dalam hati manusia, agar Ia dapat bertumbuh dan hidup di dalam mereka, dan terekspresi dari dalam mereka. Benih yang ditaburkan di sini adalah firman yang keluar dari mulut Hamba-Penye-lamat. Jadi, firman-Nya adalah benih, dan di dalam hayat ilahi. Sesungguhnya, benih hayat ini adalah diri Tuhan sendiri.

Benih yang ditabur dalam Markus 4 adalah benih Injil. Sama seperti benih anyelir yang sebenarnya adalah anyelir itu sendiri, maka benih Injil adalah Injil itu sendiri. Sebagai Manusia-Allah, Yesus Kristus adalah benih Injil. Bila kita berbicara tentang benih Injil, maka yang kita maksud dengan benih ini adalah Injil itu sendiri, sama seperti benih anyelir adalah anyelir itu. Dalam Markus 4 kita memiliki benih Injil, atau Injil se-bagai benih. Menurut 4:3, sewaktu Tuhan mengajar, berarti Ia sedang menabur. Penaburan ini adalah pengabaran Injil Allah oleh Hamba-Penyelamat yang mendatangkan Keraja-an Allah (1:14-15). Sebagaimana dalam 4:26, itulah pena-buran benih hayat dalam firman yang diucapkan Hamba-Penyelamat, yang menunjukkan bahwa pelayanan Injil-Nya adalah menaburkan hayat ilahi ke dalam orang-orang yang Ia layani. Pertumbuhan hayat ini tergantung kepada kon-disi orang-orang yang dilayani, dan hasilnya berbeda menu-rut kondisi mereka yang berbeda, seperti yang dilukiskan dalam perumpamaan ini (4:1-20).

Tuhan Yesus menaburkan benih ke dalam hati manu-sia. Dalam Markus 4 dan Matius 13 hati manusia diumpa-makan sebagai tanah. Hati kita adalah ladang, tanah, yang ke dalamnya Tuhan Yesus telah menaburkan diri-Nya se-bagai benih hayat, yaitu benih Injil. Dalam perumpamaan penabur, Tuhan Yesus adalah Penabur juga benih yang dita-burkan. Sebagai Penabur, Tuhan menaburkan diri-Nya sen-diri sebagai benih hayat melalui firman-Nya.

Dalam perumpamaan penabur itu tidak disebutkan Kerajaan Allah. Sebagai contoh, dalam 4:3 Tuhan Yesus tidak menyebut kerajaan, melainkan memberi tahu kita tentang penabur yang keluar menabur. Mengapa dalam 4:1-8 tidak disebutkan kerajaan? Alasannya, walaupun Kerajaan Allah telah dekat, namun belum datang. Tetapi dalam 4:26 kita nampak bahwa kerajaan itu telah datang. Inilah sebabnya Tuhan bisa berkata, “Beginilah hal Kerajaan Allah . . .” Kemudian dalam 4:30 Tuhan bertanya pula, “Dengan apa kita hendak membandingkan Kerajaan Allah itu?” Dalam perumpamaan benih (ayat 26-29) dan dalam perumpamaan biji sesawi (ayat 30-34) terdapat Kerajaan Allah. Tetapi da-lam perumpamaan yang pertama, perumpamaan seorang penabur, Kerajaan Allah belum datang. Seperti yang telah kita lihat, dalam perumpamaan ini, benih kerajaan dita-burkan.

Sewaktu Tuhan menaburkan benih Kerajaan Allah, Ia menaburkan diri-Nya ke dalam murid-murid-Nya. Kemu-dian benih kerajaan ini melalui suatu proses perkembangan di dalam murid-murid itu selama tiga setengah tahun. Ha-silnya, ketika tiba hari Pentakosta, Kerajaan Allah hadir bersama-sama murid-murid itu. Mulai saat dari kedatangan Tuhan untuk memberitakan Injil hingga hari Pentakosta, waktunya kurang dari empat tahun. Itulah suatu periode bertumbuhnya benih yang ditaburkan ke dalam “tanah”. Benih ini terus bertumbuh dan berkembang hingga hari Pentakosta, sewaktu kerajaan itu dengan jelas hadir ber-sama-sama Petrus dan keseratus dua puluh orang lainnya.

Memang mudah membicarakan aspek luaran kerajaan. Tetapi sangatlah sulit untuk membahas Kerajaan Allah me-nurut jalan hayat yang di dalam. Kita perlu terkesan dengan fakta bahwa Kerajaan Allah sangat berbeda dengan kera-jaan manusia. Kerajaan manusia merupakan suatu perkara organisasi. Kerajaan Allah bukanlah perkara organisasi; sebaliknya, Kerajaan Allah adalah mutlak perkara hayat.

Apakah Kerajaan Allah itu? Kerajaan Allah sesungguhnya adalah Manusia-Allah, Yesus Kristus, yang ditaburkan sebagai benih ke dalam kaum beriman-Nya. Setelah benih ini ditaburkan ke dalam mereka, benih ini akan tumbuh di dalam mereka dan akhirnya berkembang menjadi suatu kerajaan.

Yesus Kristus adalah benih Kerajaan Allah, dan benih ini telah ditaburkan ke dalam mereka yang percaya kepada Dia. Sekarang benih ini bertumbuh dan berkembang di da-lam kaum beriman. Akhirnya, pertumbuhan dan perkem-bangan ini akan membuahkan suatu hasil, dan hasil ini akan menjadi kerajaan. Kemudian hasil ini, kerajaan, akan membawa semua orang beriman Tuhan mencapai sasaran. Sasaran ini juga adalah kerajaan. Markus 4 menyajikan tujuan khusus pewahyuan kerajaan kepada kita secara demikian.

UNSUR HAKIKI INJIL

Dalam berita ini saya tidak akan membahas ayat demi ayat dalam 4:1-34, juga tidak akan mempelajari berbagai perumpamaan. Beban saya adalah agar kita melihat apa itu Kerajaan Allah. Kita perlu nampak bahwa Injil adalah Injil Kerajaan Allah. Injil ini sebenarnya adalah Manusia-Allah, Yesus Kristus, ditaburkan ke dalam kita sebagai be-nih hayat, sebutir benih yang tak lain adalah benih keraja-an. Benih ini sekarang sedang bertumbuh dan berkembang di dalam kita. Akhirnya, suatu kerajaan akan muncul dari pertumbuhan dan perkembangan benih ini.

Jika kita mengatakan bahwa di dalam pemulihan Tuhan kita mempraktekkan kehidupan kerajaan, maka kita perlu menyadari bahwa kerajaan ini bukanlah suatu organisasi. Tidak, kerajaan ini adalah sesuatu yang berasal dari hayat batini, hayat yang tak lain adalah diri Tuhan Yesus itu sen-diri. Ia telah ditaburkan ke dalam diri kita sebagai sebutir benih, dan sekarang sedang bertumbuh dan berkembang di dalam kita! Puji Tuhan, benih ini ada di dalam kita ma-sing-masing dan sedang berkembang di dalam kita! Pertum-buhan dan perkembangan benih ini akan menghasilkan kerajaan. Selanjutnya, kerajaan ini akan membawa kita ke-pada tujuan Allah, sehingga tujuan Allah tercapai. Tahu-kah Anda apa tujuan ini? Tujuan ini adalah perkembangan yang penuh dari Kerajaan Allah.

Kita telah menunjukkan bahwa Injil Markus mencatat pergerakan Tuhan. Dalam ketiga pasal yang pertama kita nampak isi pelayanan Injil (1:14-45), cara melaksanakan pelayanan Injil (2:1—3:6), dan tindakan-tindakan penunjang untuk pelayanan Injil (3:7-35). Sekarang dalam pasal 4 kita nampak apakah Injil itu. Menurut pasal ini, Injil adalah benih hayat yang ditaburkan ke dalam orang yang percaya kepada Tuhan Yesus sehingga benih ini bisa tumbuh, ber-kembang, dan menghasilkan kerajaan. Tampaknya, Injil me-rupakan suatu perkara pemberitaan, pengajaran, mengusir setan-setan, menyembuhkan penyakit, dan mentahirkan orang-orang kusta. Namun sebenarnya, unsur hakiki Injil adalah benih ilahi, Manusia-Allah, dan Allah yang berinkarnasi, ditaburkan ke dalam kita. Unsur hakiki Injil ini telah di-abaikan oleh kebanyakan orang Kristen hari ini.

Dalam Injil ada benih batini, dan benih ini, unsur ha-kiki Injil, adalah Manusia-Allah. Kapan saja kita memberi-takan Injil, kita perlu melayankan Kristus kepada orang yang mendengarkan kita dan menerima perkataan kita, ka-rena di dalam Injil ada suatu unsur hakiki. Bila seseorang menerima Injil, berarti ia menerima Allah yang berinkarnasi sebagai unsur hakiki, benih Injil. Ini berarti kapan saja seseorang menerima Injil, ia menerima benih Injil. Melalui Injil, Allah yang berinkarnasi ditaburkan ke dalam orang itu.

ALLAH TRITUNGGAL TINGGAL DI DALAM KITA

Ada suatu argumentasi teologi di antara umat Kristen mengenai Kristus yang tinggal di dalam kaum beriman. Ar-gumentasi ini berkisar pada pertanyaan tentang benarkah Kristus ada di dalam kita? Ada yang mengatakan Kristus terlalu besar dan kita terlalu kecil untuk menampung Dia. Menurut orang-orang yang mengukuhi konsepsi ini, Kristus bisa berada di surga, tetapi tidak mungkin berada di dalam kita. Karena itu, menurut pandangan ini, hanya Roh Kudus sebagai wakil Kristus yang ada di dalam kita.

Sebagian orang lainnya boleh jadi mengakui Kristus Sang Putra ada di dalam kita, tetapi mereka menyangkal bahwa Bapa ada di dalam kita. Menurut mereka, Putra dan Bapa adalah dua persona yang terpisah. Di dalam ke-Allahan, mereka menegaskan, ada tiga persona yang saling terpisah, dan ketiga persona yang terpisah ini adalah Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Mereka yang menyatakan bahwa Putra ada di dalam kita, namun tidak demikian dengan Bapa, berkata bahwa sementara Putra tinggal di dalam ki-ta, Bapa ada di takhta di surga. Mengenai perkara Bapa tinggal di dalam kita, kita perlu memperhatikan perkataan Paulus dalam Efesus 4:6: “Satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan melalui semua dan di dalam semua.” Menurut ayat ini, Bapa ada di atas kita, melalui kita, dan di dalam kita. Lalu bagaimanakah kita bisa me-ngatakan kalau Bapa tidak di dalam kita?

Baik dari Perjanjian Baru maupun dari pengalaman kita, kita tahu bahwa Bapa, Putra, dan Roh Kudus ada di dalam kita. Kita telah nampak bahwa Efesus 4:6 menunjukkan Bapa ada di dalam kita. Kolose 1:27 dan 2 Korintus 13:5 dengan jelas membuktikan bahwa Kristus Sang Putra tinggal di dalam kita. Yohanes 14:17 dan Roma 8:9 mewah-yukan bahwa Roh itu tinggal di dalam kita. Selanjutnya dalam Yohanes 14:23 Tuhan Yesus berkata, “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia.” Di sini kita nampak bah-wa ketika Putra datang, Bapa datang bersama-Nya. Hal ini bukanlah perkara Bapa tetap tinggal di surga dan Putra datang tinggal di dalam kita. Tidak, Bapa dan Putra bersa-ma-sama datang dan tinggal di dalam orang yang menga-sihi Tuhan Yesus.

Allah Tritunggal ada di dalam kita. Allah Tritunggal yang tinggal di dalam kita adalah benih Injil itu. Kita telah nampak bahwa benih ini adalah Manusia-Allah. Karena itu, benih Injil adalah Allah Tritunggal di dalam keinsanian.

Dalam peristiwa pengampunan dosa-dosa orang lumpuh yang tercatat dalam Markus 2, kita nampak Allah Tritunggal dalam keinsanian. Di sini kita nampak keilahian maupun keinsanian Hamba-Penyelamat. Hamba-Penyelamat menge-tahui iman orang-orang yang mencari-Nya, dosa-dosa orang yang sakit, dan segala pikiran yang ada di dalam hati para ahli Taurat. Hal ini menunjukkan bahwa Ia Mahatahu. Kemahatahuan tersebut, yang menyatakan atribut ilahi-Nya, menyingkapkan keilahian-Nya. Akan tetapi, dalam 2:10 Hamba-Penyelamat meneruskan pembicaraan mengenai diri-Nya sebagai Anak Manusia. Hamba-Penyelamat adalah Allah yang berinkarnasi, Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai sesuatu yang harus dipertahankan. Dari luar-an, Ia serupa dan segambar dengan manusia, bahkan dalam rupa seorang hamba, tetapi di dalam, Ia adalah Allah (Flp. 2:6-7). Ia adalah Hamba-Penyelamat juga Allah-Penyelamat. Karena itu, Ia tidak saja sanggup menyelamatkan orang-orang dosa, tetapi juga berkuasa mengampuni dosa-dosa me-reka. Dalam peristiwa yang tercatat dalam 2:1-12, Ia seba-gai Allah mengampuni dosa-dosa orang, sambil menegaskan bahwa Ia adalah Anak Manusia. Hal ini menunjukkan bah-wa Ia adalah Allah yang sejati dan manusia yang sejati. Di dalam Dia kita nampak keilahian dan keinsanian. Menurut pasal 4, Dia yang menakjubkan ini, Manusia-Allah, adalah benih kerajaan. Inilah sesungguhnya yang diajarkan dalam pasal 4.

Markus 4 menampakkan kepada kita bahwa Injil yang dikabarkan oleh Yohanes Pembaptis dan yang diberitakan oleh Tuhan Yesus sendiri sebenarnya merupakan perkara Allah Tritunggal dalam keinsanian sebagai sebutir benih hayat yang ditaburkan ke dalam hati kita. Jika kita ingin mengenal apakah Kerajaan Allah itu, kita perlu nampak perkara yang sangat penting ini.

GEN KERAJAAN

Untuk menjelaskan perkara ini, saya ingin meminjam istilah biologi. Istilah ini adalah kata “gen”. Allah Tritunggal di dalam keinsanian ditaburkan ke dalam kita sebagai gen kerajaan. Kita tahu bahwa tanpa gen manusia tidak mung-kin ada hayat manusia. Kelahiran kita, diri kita, dan keber-adaan kita semua berasal dari gen. Kini kita harus nampak bahwa Allah Tritunggal di dalam keinsanian telah ditabur-kan ke dalam kita sebagai gen kerajaan. Terpujilah Tuhan, karena gen ini ada di dalam kita! Akhirnya, kerajaan akan dihasilkan dari gen ini.

Pertama, kerajaan adalah hasil Injil, dan kemudian kerajaan adalah tujuan Injil. Di antara hasil dan tujuan itu kita memiliki gereja. Tahukah Anda apakah gereja itu? Gereja adalah kelanjutan dari hasil gen kerajaan.

Pengertian kerajaan ini tentu saja berbeda dengan pengertian dangkal kebanyakan orang Kristen hari ini. Kita telah nampak bahwa pada suatu hari Allah Tritunggal menjadi seorang manusia yang bernama Yesus Kristus, Manusia-Allah. Dalam mengampuni orang yang lumpuh da-lam Markus 2, baik keilahian maupun keinsanian Tuhan Yesus terekspresikan. Sekarang Dia ini, telah ditaburkan ke dalam kita melalui pemberitaan Injil. Hari ini, untuk ber-kontak dengan-Nya, kita tidak perlu menjebol atap seperti yang diperbuat oleh orang-orang yang bergairah dalam Markus 2. Tuhan telah ditaburkan ke dalam hati kita! Dia yang telah ditaburkan ke dalam kita adalah gen kerajaan, Allah Tritunggal di dalam keinsanian. Dia yang menakjub-kan ini adalah Allah, Tuhan, Penyelamat, Penebus, Majikan, dan hayat kita.

Karena Manusia-Allah sebagai gen kerajaan telah ditaburkan ke dalam kita, kita dengan spontan saling mengasihi dan menikmati persekutuan yang indah. Kita boleh mengatakan bahwa gereja di dalam pemulihan Tuhan adalah wadah peleburan yang riil dari berbagai ras, kebangsaan, dan kebudayaan. Sebenarnya, kita bukan hanya dilebur bersama — kita disatukan dan dibaurkan bersama-sama. Tahukah Anda mengapa kita saling mengasihi? Kita saling mengasihi karena gen yang ada di dalam kita. Gen ini mengandung unsur yang dengannya kita saling mengasihi.

Hari demi hari benih kerajaan bertumbuh dan ber-kembang di dalam kita. Saya berbeban agar kita semua ter-kesan dengan fakta bahwa benih ini, gen ini, telah ditabur-kan ke dalam kita dan bahwa ini adalah Allah Tritunggal yang berinkarnasi, Allah dalam keinsanian. Dia yang meng-ampuni orang yang lumpuh sekarang ada di dalam kita sebagai benih kerajaan.

Oh, kiranya kita semua berbeban untuk memberi tahu orang lain tentang kabar baik ini! Kita boleh melupakan banyak hal, tetapi kita semua hendaknya mengingat gen yang ada di dalam kita. Allah Tritunggal di dalam keinsa-nian telah ditaburkan ke dalam kita sebagai benih hayat agar bertumbuh, berkembang, dan menghasilkan kerajaan. Jadi, kerajaan ini adalah hasil Injil dan akan menjadi tuju-an Injil. Di antara hasil dan tujuan ini kita mempunyai hi-dup gereja sebagai kelanjutan hasil gen yang menakjubkan yang berada di dalam kita.