← Daftar isi Markus (3) · bab 13/23

PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN TENTANG KERAJAAN (1)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 4:1-34

Dalam berita ini sampailah kita pada Markus 4, suatu pasal yang penting mengenai Kerajaan Allah.

Sekali lagi saya ingin mengingatkan Anda untuk mem-perhatikan urutan pengisahan Injil Markus. Dalam 1:14-45 terdapat isi pelayanan Injil: Memberitakan Injil, menga-jarkan kebenaran, mengusir setan-setan, menyembuhkan orang sakit, dan mentahirkan orang sakit kusta. Kemudian dalam 2:1—3:6 kita nampak cara melaksanakan pelayanan Injil: Mengampuni dosa-dosa orang sakit, makan bersama orang dosa, membuat para pengikut-Nya bersukacita tanpa berpuasa, lebih memperhatikan rasa lapar para pengikut-Nya daripada peraturan agama, dan lebih memperhatikan pembebasan orang yang menderita daripada ritual agama. Setelah itu, dalam 3:7-35 terdapat lima tindakan penunjang untuk pelayanan Injil: Menyingkir dari kerumunan orang, menetapkan rasul-rasul, tidak makan karena keperluan, mengikat Iblis dan merampas isi rumahnya, dan tidak mengakui kaum keluarganya, hanya mengakui orang yang melakukan kehendak Allah.

KERAJAAN ALLAH

Walaupun dalam ketiga bagian ini terdapat pemandangan yang lengkap mengenai Injil, kita tidak nampak esens hakiki Injil. Kita juga belum nampak tujuan Injil dan hasilnya. Kita belum nampak untuk apakah Injil. Inilah alasannya dalam pasal 4 Injil ini mencatat perkara Kerajaan Allah.

Dalam 1:15 terdapat pernyataan pertama Tuhan Yesus dalam pemberitaan Injil-Nya, “Saatnya telah genap; Keraja-an Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa Injil adalah untuk kerajaan, dan kerajaan ini bukanlah kerajaan ma-nusia maupun kerajaan Israel, melainkan Kerajaan Allah.

Apakah Kerajaan Allah itu? Tidaklah mudah mendefinisikannya. Untuk memahami Kerajaan Allah, kita perlu meninjau seluruh Perjanjian Lama, karena dalam Perjanjian Lama terdapat visi yang jelas tentang kerajaan.

Kita bisa mengatakan bahwa kerajaan adalah suatu ruang lingkup, atau suatu lingkungan, di mana seseorang mencapai sesuatu. Kadang kala kita mengatakan bahwa seseorang memiliki kerajaannya sendiri. Ini berarti ia memi-liki suatu ruang lingkup, suatu lingkungan, di mana ia dapat bekerja untuk mencapai tujuannya atau menggenapi rencananya. Jadi, kerajaan adalah suatu ruang lingkup di mana seseorang melakukan apa yang ia inginkan. Menurut Perjanjian Lama, ada lingkungan yang disebut Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah suatu lingkungan, suatu wilayah Allah untuk menggarap tujuan kekal-Nya dan menggenapkan sasaran-Nya.

Setelah menciptakan langit, bumi, dan miliaran benda, Allah menciptakan manusia. Menurut Kitab Kejadian, Allah menciptakan manusia untuk tujuan ganda. Di pihak positif, Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya agar manusia bisa mengekspresikan Dia. Di pihak negatif, Allah memberi manusia kekuasaan-Nya atas segala makhluk cip-taan. Kekuasaan berarti otoritas dalam suatu lingkungan atau wilayah tertentu. Sebab itu, kekuasaan berkaitan de-ngan Kerajaan Allah. Dalam Kejadian 1 kita nampak bahwa atas diri manusia terdapat gambar dan rupa Allah serta ke-kuasaan Allah. Gambar Allah adalah untuk ekspresi-Nya, dan kekuasaan Allah adalah untuk kerajaan-Nya.

Sewaktu menciptakan manusia, Allah ingin manusia ini mengekspresikan Dia. Untuk mendapatkan ekspresi ini, Allah memerlukan suatu lingkungan, dan lingkungan ini adalah kerajaan, suatu wilayah di mana Allah dapat melak-sanakan kuasa-Nya. Allah memberikan kuasa-Nya kepada manusia dan menjadikan manusia sebagai kepala semua makhluk ciptaan. Karena itu kita nampak bahwa segera setelah penciptaan manusia, Allah mendirikan kerajaan di bumi. Jadi, Kerajaan Allah dapat dilihat dalam pasal per-tama Kitab Kejadian.

Setelah kejatuhan manusia, Allah memanggil Abraham, Ishak, dan Yakub. Kitab Kejadian mencatat pengalaman para nenek moyang tersebut serta pengalaman bani Israel dan tinggalnya mereka di Mesir. Menurut catatan dalam Kitab Keluaran, Allah membawa bani Israel keluar dari Mesir. Keluaran 19:6 mewahyukan tujuan Allah membawa bani Israel keluar dari Mesir, yaitu, “Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus.” Tuhan membawa bani Israel keluar dari Mesir adalah untuk men-jadikan mereka suatu kerajaan imam, kerajaan di mana se-tiap orang akan menjadi imam, orang yang melayani Allah. Jadi tujuan Allah adalah memiliki kerajaan imamat.

Dari Keluaran 19 hingga akhir Perjanjian Lama kita dapati catatan tentang sejarah kerajaan. Kita seharusnya jangan memandang kerajaan ini hanya sebagai kerajaan Israel. Akan tetapi, kerajaan ini adalah Kerajaan Allah yang diekspresikan dalam kerajaan Israel.

Sewaktu kita mempelajari Perjanjian Lama, kita nampak bahwa Allah tidak bisa merampungkan tujuan-Nya atas diri Adam, Nuh, atau bani Israel. Walaupun Kerajaan Allah diekspresikan dalam kerajaan Israel, namun Allah tidak bisa mencapai sasaran-Nya melalui bani Israel. Karena itu, akhirnya Allah sendiri datang melalui inkarnasi.

Karena tujuan Allah tidak tercapai baik melalui Adam yang pertama maupun keturunannya, maka Allah melalui inkarnasi datang sebagai Adam yang terakhir. Tuhan Yesus, sebagai inkarnasi dari Allah, datang untuk mewujudkan Kerajaan Allah, mendirikan suatu ruang lingkup di mana Allah dapat melaksanakan tujuan-Nya melalui pelaksanaan kuasa-Nya. Inilah sebabnya Tuhan mengajar murid-murid-Nya untuk berdoa bagi kedatangan kerajaan (Mat. 6:10). Ini juga merupakan alasan Tuhan Yesus dalam pemberitaan Injil-Nya menyuruh orang-orang untuk bertobat bagi Kerajaan Allah. Tuhan mengumumkan bahwa Kerajaan Allah telah dekat dan semua orang harus bertobat untuk masuk ke dalam kerajaan. Orang-orang yang bertobat karena Kerajaan Allah telah dekat akan bisa berpartisipasi dalam mewujudkan tujuan kekal Allah.

SASARAN DAN HASIL INJIL

Dalam pemberitaan Injil, Kerajaan Allah sering diabaikan. Kebanyakan pemberitaan Injil hari ini kesannya hanyalah untuk mendapatkan jiwa, untuk memindahkan orang dari neraka ke surga, untuk menolong orang memiliki damai sejahtera, sukacita, dan berkat kekal. Akan tetapi, dalam Perjanjian Baru, kesan kita terhadap Injil berbeda sekali. Ketika Tuhan Yesus memberitakan Injil, Ia membicarakan Kerajaan Allah, dan Ia menyuruh mereka bertobat bagi kerajaan.

Pada suatu hari, untuk mendidik murid-murid-Nya, Tuhan membawa mereka ke Kaisarea Filipi, yang berada di sebelah utara Tanah Kudus, dekat perbatasan, di kaki Gu-nung Hermon. Kemudian Tuhan bertanya kepada murid-murid-Nya mengenai diri-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu? . . . Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (Mat. 16:13, 15). Petrus menjawab, katanya, “Engkaulah Mesias (Kristus), Anak Allah yang hidup!” (ayat 16). Petrus mengenal Tuhan sebagai Kristus, Anak Allah yang hidup. Ini berarti Anak Allah yang hidup ditetapkan sebagai Yang diurapi Allah, Kristus. Setelah Petrus menerima wahyu me-ngenai Tuhan ini, Tuhan berkata, “Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku . . . Kepadamu akan Kube-rikan kunci Kerajaan Surga . . .” (ayat 18-19). Dalam ayat-ayat ini kata “gereja” dan “kerajaan” bisa saling dipertukarkan. Mula-mula Tuhan berkata, “Aku akan mendirikan gereja-Ku”, dan kemudian “Aku akan memberikan kepadamu kun-ci Kerajaan Surga.” Ini menunjukkan bahwa untuk terba-ngunnya gereja, kerajaan perlu dibuka. Dengan kata lain, membuka kerajaan adalah cara untuk memulai pembangun-an gereja.

Kita perlu nampak satu hal yang penting, yaitu esens hakiki Injil adalah kerajaan. Injil diberitakan untuk kera-jaan, dan kerajaan adalah ruang lingkup ilahi bagi Allah untuk melaksanakan rencana-Nya, suatu ruang lingkup di mana Allah dapat menjalankan kekuasaan-Nya untuk me-rampungkan apa yang Dia dambakan. Bagi Allah, cara satu-satunya untuk mencapai tujuan-Nya adalah melalui keraja-an. Karena itu, dalam Injil Markus ada satu bagian yang me-wahyukan tujuan Injil. Tujuan Injil adalah untuk memiliki kerajaan. Kerajaan Allah adalah sasaran Injil.

Kerajaan Allah bukan hanya tujuan Injil, tetapi juga adalah hasil Injil. Ketika Injil diberitakan, apakah yang akan muncul? Apakah hasil Injil? Yang muncul atau hasil-nya, adalah kerajaan. Pemberitaan Injil adalah untuk meng-hasilkan kerajaan.

Hanya dalam Injil Matiuslah Tuhan berbicara tentang gereja. Dalam Injil Markus, Lukas, atau Yohanes sama sekali tidak disinggung tentang gereja. Namun kita perlu menyadari, di dalam pikiran Tuhan, gereja dan kerajaan adalah satu perkara. Gereja adalah kerajaan dan kerajaan adalah gereja.

KERAJAAN ALLAH TIDAK DITANGGUHKAN

Beberapa guru Alkitab tidak mempunyai pemahaman yang tepat mengenai Kerajaan Allah ini. Menurut mereka Kristus datang bersama kerajaan dan membawa kerajaan kepada orang-orang Yahudi. Tetapi orang-orang Yahudi me-nolak Tuhan Yesus. Menurut guru-guru tersebut, ketika Tuhan ditolak, kerajaan yang dibawa-Nya pun ditolak. Me-reka juga berkata bahwa setelah Tuhan dan kerajaan dito-lak, Tuhan menangguhkan kerajaan dan mulai membangun gereja. Selanjutnya, mereka menyatakan bahwa zaman ini, zaman anugerah, adalah zaman gereja. Dalam zaman anu-gerah, mereka berkata, Tuhan sedang membangun gereja-Nya. Kelak, setelah zaman gereja, pada saat kedatangan-Nya kembali, Tuhan akan membawa masuk kerajaan, yang mereka katakan telah ditangguhkan, dan mendirikan kera-jaan di bumi selama zaman seribu tahun, zaman kerajaan. Menurut pandangan ini, zaman ini adalah zaman gereja, dan zaman yang akan datang adalah zaman kerajaan.

Tampaknya dalam pengertian mengenai kerajaan ini ada juga unsur kebenarannya. Tetapi pengertian ini tidak mutlak benar. Sesungguhnya, Tuhan Yesus tidak menang-guhkan kerajaan. Dalam Pelajaran-Hayat Injil Matius telah kita tunjukkan bahwa pada akhir Matius 13 penolakan orang-orang Yahudi terhadap Tuhan Yesus telah tuntas. Na-mun, Tuhan tidak menangguhkan kerajaan, karena dalam Matius 16, Ia kemudian berbicara tentang pembangunan gereja dan juga tentang kunci kerajaan. Hal ini menunjuk-kan dengan jelas dan pasti bahwa kerajaan itu tidak ditang-guhkan.

Dalam Kitab Kisah Para Rasul kita dapati petunjuk le-bih lanjut bahwa Tuhan tidaklah menangguhkan kerajaan. Kisah Para Rasul 1:3 mengatakan, “Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak bukti Ia menunjukkan bahwa Ia hidup. Se-bab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menam-pakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.” Di sini kita nampak bahwa selama empat puluh hari, yaitu jangka waktu antara kebangkitan dan keterangkatan-Nya, Tuhan berbicara kepada murid-murid-Nya tentang kerajaan. Dalam Kisah Para Rasul 14:22 Paulus berbicara kepada kaum beriman tentang masuk ke dalam Kerajaan Allah, katanya, “Untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.” Kisah Para Rasul 19:8 memberi tahu kita bahwa “Selama tiga bulan Paulus me-ngunjungi rumah ibadat di situ dan berbicara dengan bera-ni serta berdebat dengan mereka untuk meyakinkan mere-ka tentang Kerajaan Allah.” Dari Kisah Para Rasul 20:25 kita nampak bahwa di antara orang-orang di Efesus, Paulus memberitakan Kerajaan Allah. Selanjutnya, Kisah Para Rasul 28:23 dan 31 mengatakan bahwa Paulus “menerang-kan dan memberi kesaksian tentang Kerajaan Allah” dan “memberitakan Kerajaan Allah”. Melalui ayat-ayat ini kita nampak bahwa Paulus mengajar dan memberitakan hal-hal tentang Kerajaan Allah.

Roma 14:17 membicarakan tentang hubungan Keraja-an Allah dengan hidup gereja. “Sebab Kerajaan Allah bu-kanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus.” Ayat ini adalah bukti kuat bahwa dalam zaman gereja, gereja adalah Kerajaan Allah, karena konteks di sini membahas hidup gereja (church life) dalam zaman ini.

Dalam pasal ini Paulus menulis tentang menerima orang-orang yang lemah. Kita tidak boleh menolak orang-orang yang lemah mengenai perkara makan, karena Kera-jaan Allah bukanlah perkara makanan dan minuman. Ke-rajaan Allah adalah perkara kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam Roh Kudus. Menurut ayat ini, hidup gereja hari ini adalah kerajaan. Mempraktekkan hidup ge-reja adalah mempraktekkan kerajaan. Karena itu, hidup gereja dalam pemulihan Tuhan adalah mempraktekkan Kerajaan Allah.

Dalam Kitab-kitab 1 Korintus, Galatia, dan Efesus, Paulus juga berbicara tentang Kerajaan Allah. Dalam 1 Korintus 6:9-10 Paulus menyebutkan orang-orang kategori tertentu tidak akan mewarisi Kerajaan Allah. Dalam Galatia 5:21 Paulus berkata bahwa orang-orang yang melakukan perbuatan-perbuatan daging tidak akan mewarisi Kerajaan Allah. Dalam Efesus 5:5 Paulus sekali lagi membicarakan orang-orang yang tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Kristus dan Allah. Isi dari semua ayat mengenai Kerajaan Allah ini adalah hidup gereja.

Dalam Wahyu 1:9 Yohanes memberi kesaksian bahwa ia dan orang-orang kudus lainnya berada di dalam Kerajaan Allah, “Aku, Yohanes, saudara seiman yang ikut serta dalam kesusahan, dalam Kerajaan dan dalam ketekunan menanti-kan Yesus.” Bagaimana Yohanes bisa berada dalam Keraja-an jika Kerajaan ditangguhkan? Fakta bahwa Yohanes ber-ada dalam Kerajaan membuktikan bahwa Kerajaan tidak ditangguhkan.

HAYAT ILAHI DAN KERAJAAN ILAHI

Dalam Injil Yohanes 3 kita nampak bahwa kita tidak bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah bila kita tidak dilahir-kan kembali, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Yoh. 3:5). Di sini kita nampak bahwa kelahiran kembali bukanlah untuk masuk ke surga; kelahiran kembali adalah untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. “Masuk surga” adalah perkara yang akan datang, sedangkan masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah perkara hari ini. Bila kita percaya di dalam Tuhan Yesus, kita dilahirkan kembali. Kelahiran kembali kita adalah ma-suknya kita ke dalam Kerajaan Allah.

Jalan satu-satunya untuk masuk ke dalam kerajaan apa pun adalah dilahirkan ke dalam kerajaan itu. Misal-nya, seekor binatang memasuki kerajaan binatang melalui dilahirkan ke dalam kerajaan ini. Bila seekor binatang mau masuk ke dalam kerajaan manusia, ia perlu dilahirkan de-ngan hayat manusia. Melalui contoh ini kita nampak bah-wa kelahiran adalah jalan masuk ke dalam kerajaan terten-tu. Kita dilahirkan ke dalam kerajaan manusia. Dengan cara yang sama, untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah, kita harus dilahirkan kembali dari Allah.

Bagaimanakah kita bisa masuk ke dalam kerajaan manusia? Kita masuk ke dalam kerajaan ini melalui kelahiran insani. Melalui kelahiran ini kita menerima hayat insani, dan sekarang oleh hayat ini kita mengetahui berbagai hal tentang kerajaan manusia. Demikian pula, untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah, kita harus dilahirkan dari Allah. Untuk masuk ke dalam kerajaan ilahi, kita harus memiliki hayat ilahi. Untuk memahami berbagai perkara dalam Kerajaan Allah, kita memerlukan hayat Allah. Tanpa hayat Allah, kita tidak akan mampu memahami kerajaan ilahi.

Karena kita telah dilahirkan dari Allah dan telah me-nerima hayat Allah, maka kita berada di dalam Kerajaan Allah. Terpujilah Tuhan, karena kita telah dilahirkan kem-bali dan kita sekarang di dalam kerajaan ilahi! Karena kita telah dilahirkan kembali, maka kita berada di dalam Kera-jaan Allah. Menurut Roma 14, dengan mempraktekkan hidup gereja, berarti kita sedang mempraktekkan kehidupan kerajaan.

KEHIDUPAN KERAJAAN

Dalam pemulihan Tuhan kita biasa menggunakan kata-kata “hidup gereja (church life)”. Kita sering memberi tahu orang lain bahwa kita berada di dalam hidup gereja. Saya ingin menganjuri bahwa mulai sekarang kita tidak hanya mengatakan kita berada dalam hidup gereja, tetapi juga berada di dalam kehidupan kerajaan. Kadang-kadang malah lebih baik menyebut kehidupan kerajaan daripada hidup gereja. Jika kita menggunakan istilah “kehidupan kerajaan” bersama-sama dengan “hidup gereja”, hal ini mengingatkan kita bahwa hari ini kita ada di dalam kehidupan kerajaan. Berada di dalam hidup gereja berarti berada di dalam kera-jaan, karena gereja hari ini adalah kerajaan, dan kerajaan adalah realitas hidup gereja.