Daftar isi Markus (1) · Berita Kedua Belas · bab 12/23

Berita Kedua Belas

TINDAKAN-TINDAKAN PENUNJANG PELAYANAN INJIL HAMBA-PENYELAMAT (2)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 3:22-35

Dalam 3:7-35 kita tampak lima tindakan penunjang untuk pelayanan Injil Hamba-Penyelamat: Menyingkir dari kerumunan orang (ayat 7-12), menetapkan rasul-rasul (ayat 13-19), tidak makan karena keperluan (ayat 20-21), mengikat Iblis dan merampas isi rumahnya (ayat 22-30), dan tidak mengakui kaum keluarga-Nya, hanya mengakui orang yang melakukan kehendak Allah (ayat 31-35). Dalam berita sebelum ini telah kita bahas tiga tindakan penunjang yang pertama. Dalam berita ini kita akan membahas dua tindakan yang terakhir mengenai mengikat Iblis dan merampas isi rumahnya serta tidak mengakui kaum keluarga-Nya, hanya mengakui orang yang melakukan kehendak Allah.

MENGIKAT IBLIS

DAN MERAMPAS ISI RUMAHNYA

Markus 3:21 mengatakan, “Waktu keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.” Ini adalah ungkapan yang mengekspresikan keprihatinan alamiah terhadap Hamba-Penyelamat dari pihak keluarga-Nya. Ini membuka peluang ahli Taurat untuk menghujat Dia. Ayat 22 mengatakan, “Ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata, ‘Ia kerasukan Beelzebul,’ dan, ‘Dengan pemimpin setan Ia mengusir setan.’” Ini adalah hujatan yang diakibatkan oleh keprihatinan alamiah dalam ayat 21.

Karena sanak keluarga Tuhan tidak bisa memahami-Nya, maka mereka mengatakan bahwa Ia tidak waras. Perkataan ini membuka pintu bagi para ahli Taurat, para penentang, untuk menghujat Tuhan. Para ahli Taurat tersebut mungkin berkata, “Lihatlah, bahkan keluarga-Nya pun mengatakan bahwa Ia tidak waras. Tahukah kalian mengapa Ia tidak waras? Ia tidak waras karena Ia dirasuk setan, setan itu adalah Beelzebul, penghulu setan.” Hamba-Penyelamat mengusir setan berarti mengusir pekerja-pekerja jahat yang bekerja untuk kerajaan gelap Iblis; tetapi para penentang itu berkata bahwa Ia melakukan itu dengan pemimpin setan. Betapa liciknya si jahat itu, ia menggerakkan penentang-penentang jahat untuk mengucapkan perkataan tersebut! Mereka adalah sekerja si jahat, bahkan bersatu dengannya.

Beelzebub berarti dewa lalat, adalah nama dewa bangsa Ekron (2 Raj. 1:2). Istilah ini diganti menjadi Beelzebul oleh orang Yahudi, dengan maksud menghina. Beelzebul berarti dewa tahi, dan dipakai untuk menyebut penghulu setan (Mat. 12:24, 27; Luk. 11:15, 18-19). Para ahli Taurat menghina Hamba-Penyelamat dengan mengatakan bahwa Dia mengusir setan dengan kuasa penghulu setan. Dengan memakai nama yang sangat menghujat, mereka menyatakan penghinaan dan penolakan yang tegas.

Tidak diragukan, nama Beelzebub mengacu kepada Iblis. Iblis adalah dewa lalat dan dewa tahi. Para ahli Taurat tidak bisa memilih istilah yang lebih buruk lagi untuk menghina Tuhan Yesus. Mereka bukan hanya mengatai Ia dirasuk setan, bahkan mengatakan Ia berada di bawah Beelzebul, penghulu setan. Hujatan ini begitu seriusnya sehingga Tuhan kemudian menyatakan bahwa dosa ini tidak dapat diampuni, karena menghujat Roh Kudus (Mrk. 3:28-30).

Kita perlu ingat bahwa pintu untuk penghinaan itu dibuka oleh perkataan sanak keluarga Tuhan, yang mengatakan bahwa Ia tidak waras. Mereka menuduh Tuhan tidak normal, dan ini memberi kesempatan bagi para ahli Taurat untuk menghina Dia. Ahli-ahli Taurat itu mungkin berkata, “Tentu saja Ia abnormal, karena Ia dirasuk setan, Beelzebul.” Dari sini kita tampak bahwa mungkin sekali kasih alamiah kerabat kita membuka pintu untuk masuknya Iblis.

Markus 3:23-25 mengatakan, “Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan, ‘Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan.’” Perkataan Tuhan di sini menyatakan bahwa Iblis tidak hanya memiliki rumah, tetapi juga kerajaan. Rumahnya adalah rumah dosa (1 Yoh. 3:8, 10), dan kerajaannya adalah kerajaan kegelapan (Kol. 1:13). Orang-orang dosa adalah milik rumah dan kerajaannya. Setan-setan itu milik kerajaannya dan merasuk orang demi kerajaannya. Iblis (satan) adalah penguasa dunia ini (Yoh. 12:31) dan penguasa udara (Ef. 2:2). Ia memiliki wewenang-nya (Kis. 26:18) dan malaikat-malaikatnya (Mat. 25:41), yang adalah bawahannya sebagai pemerintah, penguasa, dan penghulu dunia kegelapan (Ef. 6:12). Jadi, ia memiliki kerajaan, yaitu kuasa kegelapan (Kol. 1:13).

Kita telah tampak bahwa Iblis memiliki rumah juga memiliki kerajaan. Kerajaan Iblis berlawanan dengan Kerajaan Allah, dan rumah Iblis berlawanan dengan rumah Allah.

Dalam Markus 3:26 Tuhan menunjukkan, “Kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya.” Kemudian Ia meneruskan dalam ayat 27, “Tetapi tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu.” “Harta benda” di sini adalah orang-orang dosa tertawan dalam rumah Iblis bagi kerajaannya. Hamba-Penyelamat mengikat Iblis, orang kuat itu, dan masuk ke dalam rumahnya untuk merampas orang-orang dosa, agar mereka dapat dibawa masuk ke dalam rumah Allah (Ef. 2:19) melalui kelahiran kembali, demi Kerajaan Allah (Yoh. 3:5). Ketika Hamba-Penyelamat sedang melakukan pelayan-an Injil, Ia mengikat orang kuat itu, yakni Iblis. Pelayanan Injil adalah suatu peperangan untuk menghancurkan Iblis dan kerajaan kegelapannya.

Perkataan Tuhan dalam ayat 27 menunjukkan bahwa ketika Hamba-Penyelamat sedang melakukan pelayanan Injil, Ia mengikat orang kuat itu, yakni Iblis, untuk menghancurkan kerajaannya dengan merampas isi rumahnya. Iblis telah menangkap semua orang dosa dan menyekap mereka di dalam rumahnya, yang adalah penjara. Jadi semua orang dosa telah menjadi tawanan Iblis. Tetapi Tuhan Yesus, yang memiliki kuasa Roh itu telah datang untuk memberitakan Injil. Ia datang untuk merampas isi rumah Iblis dan melepaskan para tawanan.

Bila kita tidak mempunyai firman Tuhan yang tercatat dalam ayat 27, kita tidak akan menyadari bahwa ketika kita memberitakan Injil, kita harus merampas isi rumah Iblis. Kita mungkin mengira pengabaran Injil itu hanya perkara memenangkan jiwa, perkara menyelamatkan orang-orang dosa yang hilang. Akan tetapi, Tuhan memandang pemberitaan Injil menyelamatkan orang-orang dosa adalah merampas isi rumah Iblis untuk membebaskan para tawanan; jelasnya, perampasan ini menghancurkan kerajaan Iblis.

Firman dalam 3:27 semakna dengan firman Tuhan kepada Paulus dalam Kisah Para Rasul 26:18, “untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah.” Ketika Paulus dipanggil Allah untuk memberitakan Injil, ia disuruh memalingkan orang-orang dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah. Kuasa Iblis adalah kerajaan Iblis. Hari ini ketika kita memberitakan Injil kepada orang-orang, kita juga perlu memalingkan mereka, tawanan-tawanan Iblis, dari kuasa kegelapan kepada Allah dan kerajaan-Nya.

Dalam Markus 3:28-29 Tuhan meneruskan ucapan-Nya kepada para ahli Taurat, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Semua dosa dan hujat apa pun yang diucapkan anak-anak manusia akan diampuni. Tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa yang kekal.”

Perkataan Tuhan di sini mengenai Roh Kudus, menyatakan pelayanan Injil Hamba-Penyelamat, terutama dalam mengusir setan-setan, untuk menghancurkan kerajaan kegelapan Iblis, dilakukan dengan Roh Kudus yang mengurapi Dia dan memimpin Dia secara berkesinambungan dalam pergerakan-Nya (Luk. 4:18, 19; Mrk. 1:12).

Ketika Ia memberitakan Injil, Tuhan menghancurkan kerajaan Iblis oleh kekuatan Roh Kudus. Pada saat baptisan-Nya Ia menyangkal diri-Nya sendiri, menguburkan diri-Nya sendiri di dalam air kematian. Tuhan tidak akan melakukan apa pun oleh tenaga, kekuatan, atau energi-Nya sendiri. Sebaliknya, Ia melakukan segala sesuatu oleh Roh Kudus. Khususnya, oleh Roh Kudus Ia memberitakan Injil untuk merampas isi rumah Iblis dan menghancurkan kerajaannya.

Matius 12:28 menyatakan ketika Tuhan Yesus menghancurkan kerajaan Iblis dengan memberitakan Injil, Ia sedang membawa masuk Kerajaan Allah. “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.” Roh Allah adalah kuasa Kerajaan Allah. Di mana Roh Allah berkuasa, di sana ada Kerajaan Allah, dan di tempat itu setan tidak ada kedudukan.

Betapa indahnya tindakan penunjang bagi pelayanan Injil Hamba-Penyelamat yang dijelaskan dalam Markus 3:22-30. Dari gambaran ini kita mengetahui bahwa ketika kita memberitakan Injil, kita perlu berdoa untuk berkontak dengan Allah sebagai sumber kita, agar kita bisa menerima lebih banyak Roh Kudus dan diperkuat oleh Roh Kudus. Kemudian ketika kita memberitakan Injil, kita akan merampas isi rumah Iblis dan menghancurkan kerajaannya. Ini adalah perkara besar, dan sangatlah penting. Kita semua perlu tampak hal ini.

Pelayanan Injil bukan hanya perkara pemberitaan, tetapi juga melibatkan perkara peperangan dan perampasan. Orang-orang yang berdosa adalah “harta benda” yang ditangkap oleh Iblis dan disekap dalam cengkeraman rumah-nya. Jadi orang-orang yang tidak percaya tidak saja perlu diyakinkan dan ditaklukkan, tetapi seisi rumah Iblis perlu juga dirampas agar mereka dibebaskan dari tahanan. Untuk membebaskan tawanan Iblis dari dalam penjaranya, kita perlu kekuatan dan kekuasaan. Roh Kudus adalah kekuasaan dan kekuatan kita. Dari tindakan penunjang Tuhan di sini, kita sadar akan keperluan kita untuk diperkuat oleh Roh Kudus guna memberitakan Injil.

Dalam 3:28-29 Tuhan berkata bahwa segala dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni. Tetapi siapa yang menghujat Roh Kudus “tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa yang kekal”. Dosa yang kekal adalah suatu dosa yang tidak akan diampuni selamanya. Menghujat Roh Kudus berbeda dengan menghina Roh itu (Ibr. 10:29). Menghina Roh Kudus adalah tidak menaati Dia dengan sengaja. Banyak orang beriman melakukan hal ini. Jika mereka mengakui dosa ini, mereka akan diampuni dan dicuci oleh darah Tuhan (1 Yoh. 1:7, 9). Tetapi menghujat Roh Kudus adalah memfitnah Dia, seperti yang dilakukan ahli-ahli Taurat dalam Markus 3:22. Tuhan mengusir setan dengan Roh Kudus, tetapi orang-orang Farisi yang melihatnya mengatakan bahwa Tuhan mengusir setan dengan Beelzebul, pemimpin setan. Ini adalah menghujat Roh Kudus.

Dalam ekonomi Allah Tritunggal, Bapa merancang rencana penebusan (Ef. 1:5, 9), Anak merampungkan penebusan sesuai dengan rencana Bapa (1 Ptr. 2:24; Gal. 1:4), dan Roh itu menjangkau orang dosa untuk menerapkan penebusan yang dirampungkan oleh Anak (1 Kor. 6:11; 1 Ptr. 1:2). Jika seorang dosa menghujat Anak seperti yang diperbuat Saulus dari Tarsus, Roh itu masih memiliki tumpuan untuk bekerja di atas dirinya dan membuatnya bertobat dan percaya kepada Anak agar dia dapat diampuni (lihat 1 Tim. 1:13-16). Tetapi jika orang dosa menghujat Roh itu, Roh itu tidak memiliki tumpuan untuk bekerja di atas dirinya, dan tidak akan ada apa pun lagi yang dapat membuatnya bertobat dan percaya. Jadi, orang semacam ini tidak mungkin mendapatkan pengampunan. Ini bukan hanya logis menurut alasan, tetapi juga bersifat kepemerin-tahan berdasarkan prinsip administrasi Allah, seperti yang diwahyukan di sini oleh firman Tuhan.

TIDAK MENGAKUI KAUM KELUARGA-NYA,

HANYA MENGAKUI ORANG YANG MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH

Dalam Markus 3:31-35 kita tampak tindakan kelima penunjang pelayanan Injil Hamba-Penyelamat: Tidak mengakui kaum keluarga-Nya, hanya mengakui orang yang melakukan kehendak Allah. Markus 3:31-32 mengatakan, “Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya, ‘Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau.’” Setelah penghujatan para penentang yang dihasut oleh Iblis, kaum keluarga Hamba-Penyelamat datang lagi mengganggu-Nya dengan keprihatinan alamiah mereka terhadap-Nya. Tidak diragukan lagi, ini pun digerakkan oleh si jahat itu.

Dalam ayat 33-35 Tuhan berkata, “‘Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?’ Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata, ‘Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Siapa saja yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku.’” Perkataan Tuhan di sini menunjukkan penolakan-Nya terhadap keprihatinan alamiah kaum keluarga-Nya. Untuk menggagalkan rencana si jahat dan menggenapkan pelayanan Injil-Nya, Ia tidak mau tinggal dalam hubungan hayat alamiah. Ini menyatakan kemutlakan-Nya bagi Allah dalam keinsanian-Nya.

Sambil melihat kepada orang-orang yang duduk mengelilingi Dia, Tuhan berkata, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!” Kemudian Ia berkata pula bahwa siapa yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-saudara, saudari-saudari, dan ibu-Nya. Di sini kita tampak hubungan Tuhan dengan para pengikut-Nya bukanlah di dalam daging, tetapi di dalam roh. Siapa yang melakukan kehendak Bapa-Nya, adalah saudara yang bisa membantu-Nya, saudari yang bisa bersimpati kepada-Nya, dan ibu yang bisa dengan lembut mengasihi-Nya.

Melalui pelayanan Injil Hamba-Penyelamat, orang-orang dosa yang percaya menjadi kaum kerabat rohani-Nya, menjadi saudara-saudara-Nya (Rm. 8:29; Ibr. 2:11) di rumah Allah (Ibr. 3:5) dan menjadi anggota-anggota-Nya bagi pembangunan Tubuh-Nya yang misteri (Ef. 5:30; 1 Kor. 12:12) untuk melakukan kehendak Allah.

Hari ini Gereja Roma Katolik menganggap Maria adalah ibu dari Tuhan. Tetapi di sini Tuhan Yesus menyangkal hubungan alamiah-Nya dengan ibu-Nya dan berkata bahwa orang yang melakukan kehendak Allah adalah ibu-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa seorang saudari yang melakukan kehendak Allah boleh berbangga menyatakan bahwa ia adalah ibu bagi Tuhan Yesus. Lagi pula, bukanlah suatu kecongkakan bagi kita semua untuk mengatakan dengan bangga bahwa kita adalah saudara-saudara Tuhan.

Dalam 3:31-35 kita tampak bahwa Hamba-Penyelamat tidak menetap dalam hubungan hayat alamiah. Sebaliknya, hubungan-Nya dengan para pengikut-Nya adalah hubungan hayat rohani. Dari tindakan penunjang di sini kita tampak agar kuat dalam ministri Allah, kita perlu menyangkal hu-bungan-hubungan alamiah. Penghambat yang paling besar bagi ministri Allah adalah hubungan alamiah dengan ayah atau ibu, suami atau istri, anak-anak atau sanak keluarga. Dengan menyangkal hubungan alamiah, Tuhan Yesus menghindari penghambatan ini.

Dalam kelima tindakan penunjang bagi pelayanan Injil Hamba-Penyelamat ini kita tampak bahwa tidak ada tempat bagi konsepsi alamiah, pemahaman alamiah, atau hubungan alamiah. Dalam tindakan-tindakan penunjang segalanya rohani, kudus, dan ilahi, sama sekali berlawanan dengan konsepsi manusia. Hari ini jika kita ingin mengikuti Tuhan melaksanakan tindakan-tindakan penunjang ini. Kita tidak boleh bertumpu pada konsepsi atau hubungan alamiah. Untuk mengikuti Tuhan dalam perkara-perkara ini, segalanya harus rohani, ilahi, kudus, dan menurut Allah, demikian barulah kita memiliki pijakan dan keberanian dalam melaksanakan pekerjaan Allah.

Saya harap kita semua, terutama kaum muda, mendapat bantuan dan terkesan oleh tindakan-tindakan penunjang ini bagi pelayanan Injil Tuhan. Khususnya, kita perlu terkesan serta tidak pernah memandang pemulihan Tuhan, ministri Tuhan, dan pergerakan Tuhan secara alamiah. Kita jangan mengukur hal-hal dalam pemulihan menurut pengertian alamiah.

Semua peristiwa yang tercatat dalam Injil Markus terjadi di bawah kedaulatan Tuhan. Pertama, dalam 1:14-45 kita memiliki lima perkara yang membentuk isi pelayanan Injil Hamba-Penyelamat. Kemudian dalam 2:1—3:6 kita tampak lima peristiwa yang menunjukkan kepada kita cara melaksanakan pelayanan Injil. Seperti yang telah kita tampak, kita juga mempunyai lima tindakan penunjang dalam 3:7-35. Kelima perkara, kelima peristiwa, dan kelima tindakan ini terjadi menurut kedaulatan Allah dalam urutan-urut-an yang menakjubkan. Jika kita tampak perkara-perkara ini, kita akan tahu bagaimana melaksanakan ministri Allah. Jika kita tampak isi, cara, dan tindakan-tindakan tersebut, kita akan tahu apakah pelayanan Injil itu, tahu bagaimana melaksanakan pelayanan ini, dan tahu bagaimana memiliki tumpuan, posisi, untuk melakukan pekerjaan Allah.