← Daftar isi Markus (3) · bab 11/23

TINDAKAN-TINDAKAN PENUNJANG PELAYANAN INJIL HAMBA-PENYELAMAT (1)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 3:7-35

Kita telah nampak dalam Markus 1 terdapat lima per-kara yang merupakan isi pelayanan Injil Hamba-Penyelamat: Memberitakan Injil (1:14-20), mengajarkan kebenaran (ayat 21-22), mengusir setan-setan (ayat 23-28), menyembuhkan orang sakit (ayat 29-39), dan mentahirkan orang sakit kusta (ayat 40-45). Kita juga telah nampak dalam 2:1—3:6 menge-nai lima cara Hamba-Penyelamat melaksanakan pelayanan Injil, yaitu: Mengampuni dosa-dosa orang sakit (2:1-12), ma-kan bersama orang dosa (2:13-17), membuat para pengikut-Nya bersukacita tanpa berpuasa (2:18-22), lebih memper-hatikan kelaparan para pengikut-Nya daripada peraturan agama (2:23-28), dan lebih memperhatikan pembebasan orang yang menderita daripada ritual agama (3:1-6). Dalam 3:7-35 kita dapati lima hal dari kelompok lain. Kelompok ini meliputi tindakan-tindakan penunjang untuk pelayanan Injil: Menyingkir dari kerumunan orang (ayat 7-12), mene-tapkan rasul-rasul (ayat 13-19), tidak makan karena keper-luan (ayat 20-21), mengikat Iblis dan merampas isi rumah-nya (ayat 22-30), dan tidak mengakui kaum keluarga-Nya, hanya mengakui orang yang melakukan kehendak Allah (ayat 31-35). Dalam semua hal dalam ketiga kelompok ini kita nampak keunggulan Tuhan Yesus. Dalam berita ini dan berikutnya kita akan melihat tindakan-tindakan pe-nunjang ini untuk pelayanan Injil Hamba-Penyelamat.

MENYINGKIR DARI KERUMUNAN ORANG

Dalam melaksanakan ministri yang telah Allah ama-natkan kepada kita, kita akan menghadapi masalah, ten-tangan, dan halangan. Masalah-masalah tertentu justru dise-babkan oleh sesuatu yang dilakukan secara alamiah dengan maksud untuk membantu kita. Tuhan menghadapi halangan yang sedemikian ini dalam pelayanan-Nya. Ketika Ia me-laksanakan pelayanan Injil-Nya, Ia menemui berbagai masalah.

Dalam 3:7-12 kita dapati masalah kerumunan orang yang menghimpit Tuhan. Ayat 7 mengatakan bahwa ba-nyak orang yang mengikuti Dia dan murid-murid-Nya, dan dalam ayat 8 kita nampak “Mereka semua datang kepada-Nya, karena mendengar segala hal yang dilakukan-Nya.” Orang banyak itu mengerumuni Dia karena mereka mende-ngar apa yang telah dilakukan-Nya. Kerumunan ini meru-pakan penghambat bagi pelayanan Tuhan.

Banyak pengkhotbah dan penginjil hari ini senang akan kerumunan orang. Akan tetapi, kerumunan itu bukanlah penolong bagi ministri hayat yang riil. Sebaliknya, kerumunan orang paling banyak hanya bisa membantu suatu pergerakan, tetapi tidaklah membantu ministri dalam hayat.

Menghimpit dan Menyentuh

Dalam 3:7-12 ada dua kata yang bermakna yang digu-nakan dalam kaitannya dengan orang-orang yang berkeru-mun itu: menghimpit (ayat 9-10) dan menyentuh (ayat 10). Ayat 9 mengatakan, “Ia menyuruh murid-murid-Nya me-nyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya.” Tuhan naik ke perahu untuk menghindari himpitan orang banyak itu. Himpitan orang banyak itu menghalangi orang-orang yang tulus hati untuk datang kepada Tuhan dan me-nyentuh Dia secara langsung. Jika kita berada di antara mereka yang hanya menghimpit Tuhan, kita tidak akan menerima apa-apa dari Dia. Untuk menerima sesuatu dari Dia, kita perlu menyentuh-Nya. Karena itu, dalam bagian Injil Markus ini, kata “menghimpit” dipakai dalam arti ne-gatif, sedangkan kata “menyentuh” mempunyai arti positif.

Menurut catatan kitab Injil, beberapa kali orang-orang menghimpit Tuhan. Tetapi hanya mereka yang menyentuh-Nya yang bisa menerima manfaat dari Dia. Melalui me-nyentuh Tuhan secara langsung, barulah hayat disalurkan dari Dia kepada kita. Penyaluran hayat ini kita sebut transmisi atau infusi. Istilah lainnya adalah penyaluran. Ketika kita berkontak dengan Tuhan secara langsung, kita menerima penyaluran ilahi. Tetapi menghimpit Tuhan tidak menghasilkan apa-apa ditinjau dari penyaluran ilahi. Kita mengalami penyaluran ilahi hanya dengan menyentuh Tuhan secara langsung. Karena Tuhan menyadari hal ini, maka Ia ingin memisahkan diri-Nya dari kerumunan itu. Sebab itu Ia menyingkir bersama murid-murid-Nya ke laut.

Perahu Kecil

Walaupun Tuhan meninggalkan kerumunan orang itu, mereka terus mengikuti Dia. Sekalipun Dia berada di pan-tai, orang-orang itu tetap berusaha menghimpit Dia. Maka, Dia menyuruh murid-murid-Nya mempersiapkan sebuah perahu kecil di dekat-Nya. Ia tidak ingin orang banyak itu menghimpit Dia. Perahu itu adalah sarana Tuhan untuk menyingkir dari kerumunan orang itu.

Dalam perlambangan, perahu kecil yang diminta Tuhan agar dipersiapkan di dekat-Nya melambangkan gereja. Da-lam Matius 13 perahu bermakna demikian. Gereja berbeda dengan bangsa Israel yang dilambangkan dengan daratan. Gereja juga berbeda dari dunia bangsa-bangsa, yang dilam-bangkan dengan air. Gereja terpisah dari daratan dan ber-ada di atas air. Maka, gereja bukanlah di daratan juga bu-kan di dalam air. Gereja itu “perahu” yang di atas air, tetapi bukan di dalam air, dan air tidak ada di dalam perahu. Ja-di, daratan melambangkan bangsa Israel, laut melambang-kan dunia bangsa-bangsa, dan perahu, yang terpisah baik dari daratan maupun laut, melambangkan gereja. Melalui ini kita nampak bahwa gereja terpisah baik dari bangsa Israel maupun dari dunia bangsa-bangsa. Pengertian ini sesuai dengan perkataan Paulus dalam 1 Korintus 10:32 mengenai orang Yahudi, orang Yunani (bangsa-bangsa lain), dan gereja Allah.

Hari ini Tuhan sedang melayankan hayat-Nya kepada orang-orang yang ada di dalam gereja, Ia juga melayankan hayat dari gereja kepada orang-orang lain. Inilah makna pe-rahu. Jika kita nampak makna dari lambang perahu, kita akan menyadari, jika kita di luar gereja dan mencoba me-layani orang lain, kita akan mengalami himpitan kerumun-an orang. Hari ini banyak ministri yang melayani orang banyak di luar perahu. Namun, ministri yang benar adalah ministri di dalam perahu, suatu ministri yang menyalur-kan suplai hayat bukan kepada orang-orang yang menghim-pit Tuhan, melainkan kepada orang-orang yang dengan tulus damba menyentuh-Nya.

Apa yang Tuhan perbuat berkenaan dengan orang ba-nyak itu seharusnya menjadi contoh bagi kita, dan kita ha-rus mengikuti jejak-Nya. Akan tetapi, kebanyakan peng-khotbah dan penginjil hari ini menghargai kerumunan. Semakin banyak orang berkerumun, mereka semakin se-nang. Tetapi fakta sejarah menunjukkan kerumunan besar menyebabkan kerugian bagi ministri hayat yang sejati, bukan mendatangkan manfaat.

Di sini kita nampak cara Tuhan berbeda dengan cara manusia. Ia tidak memandang penting kerumunan orang, sebaliknya Ia berusaha menghindari mereka. Ketika orang-orang itu mengikuti-Nya, Ia minta disediakan sebuah perahu kecil agar Ia bisa menghindari orang-orang yang menghimpit Dia.

Menerima Ministri Hayat

Walaupun Tuhan berusaha menghindari kerumunan orang itu, tetapi Ia tetap menghendaki orang-orang yang tulus bisa menyentuh-Nya. Jika kita hanyalah bagian dari kerumunan itu, kita tidak akan menerima apa-apa dari Tuhan. Kita perlu keluar dari antara kerumunan itu dan menyentuh-Nya secara langsung dan tulus. Bila kita berbuat demikian, kita akan menerima ministri hayat.

Tindakan penunjang yang pertama dari pelayanan Injil Hamba-Penyelamat adalah menyingkir dari kerumunan orang. Mengenai hal ini kita perlu belajar dari Tuhan. Se-ring kali para pengkhotbah terkecoh oleh kerumunan orang. Bila orang banyak mengerumuni kita, hal itu bisa menge-labui atau mengganggu kita. Jadi kita perlu menghindari kerumunan orang. Tetapi ini tidak berarti kita harus men-jauhi orang. Tidak, ketika kita menghindari orang banyak, kita perlu membiarkan orang lain berkontak dengan kita, menyentuh kita secara langsung agar menerima ministri hayat yang sejati.

Roh-roh Najis

Markus 3:11-12 mengatakan, “Setiap kali roh-roh jahat (najis) melihat Dia, mereka sujud di hadapan-Nya dan berteriak, ‘Engkaulah Anak Allah.’ Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.” Teriakan setan-setan terhadap Hamba-Penyelamat juga merupakan halangan bagi pelayanan Injil-Nya. Sebab itu, Ia memper-ingatkan dan melarang mereka memberitahukan siapa Dia.

MENETAPKAN RASUL-RASUL

Kita telah nampak bahwa Hamba-Penyelamat pertama-tama memerlukan laut dan kemudian sebuah perahu kecil untuk menghindari himpitan orang banyak itu, menunjuk-kan bahwa orang-orang yang mengerumuni Dia merupakan suatu halangan bagi pelayanan Injil-Nya. Untuk menyingkir dari kerumunan itu, Tuhan pergi ke laut. Kemudian, Ia meninggalkan laut, pergi ke bukit.

Tindakan-tindakan Tuhan di sini sangatlah berarti. Untuk menghindari himpitan orang-orang yang berkerumun itu, Ia pergi ke laut, di mana Ia melayani orang-orang yang dengan tulus menyentuh Dia secara langsung. Akhirnya setelah orang-orang ini menerima ministri hayat-Nya, Ia naik ke bukit.

Markus 3:13-15 memberi tahu kita mengapa Tuhan na-ik ke bukit, “Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang, yang juga disebut-Nya rasul-rasul, untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan.” Di sini kita nampak bahwa tujuan Tuhan naik ke atas bukit adalah untuk memanggil orang-orang tertentu dan menjadikan mereka rasul-rasul-Nya. Ia menunjuk mereka menjadi rasul-rasul adalah untuk penye-baran pelayanan Injil-Nya.

Menurut ayat 14 dan 15, kedua belas orang yang ditun-juk oleh-Nya adalah untuk memberitakan Injil dan meng-usir setan-setan. Memberitakan Injil adalah melayankan Allah kepada manusia; mengusir setan adalah menyingkir-kan Iblis dari manusia. Ini menjadi tujuan utama pelayanan Injil Hamba-Penyelamat.

Menurut Kehendak Bapa

Injil Lukas menyatakan bahwa sebelum menunjuk ke-dua belas orang itu menjadi rasul-rasul, Tuhan Yesus ber-doa: “Pada hari-hari itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ke-tika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul” (Luk. 6:12-13). Banyak orang telah me-nerima ministri hayat dari Tuhan. Ini berarti Ia telah mem-berikan banyak hayat kepada orang-orang yang dengan tulus menyentuh Dia secara langsung. Mereka menerima suplai hayat dari Dia. Kemudian Ia berbeban memilih orang-orang tertentu di antara mereka, menunjuk mereka untuk mem-bantu Dia dalam ministri Injil-Nya. Untuk itulah Ia pergi ke atas bukit dan berdoa. Injil Lukas menyatakan Ia berdoa semalam-malaman. Tuhan pasti berdoa mengenai pemilihan kedua belas rasul itu. Ia mendoakan perihal memilih kedua belas orang dari antara orang banyak yang telah menerima ministri hayat-Nya.

Kita tahu bahwa salah seorang dari kedua belas rasul yang dipilih oleh Tuhan adalah Yudas Iskariot, yang meng-khianati Dia (Mrk. 3:19). Jelas, Tuhan Yesus tahu bahwa Yudas akan mengkhianati Dia. Saya percaya sebelum Tuhan memilih, Ia telah berkonsultasi dengan Bapa di dalam doa. Penunjukan-Nya atas kedua belas orang itu sebenarnya bukanlah pelaksanaan dari kehendak-Nya sendiri, tetapi pe-laksanaan kehendak Allah Bapa. Saya percaya Bapa me-nyuruh Dia memilih orang-orang tertentu, termasuk Yudas. Tuhan melakukan pemilihan-Nya menurut kehendak Bapa.

Belajar Membangunkan Orang lain

Kita perlu belajar dari Tuhan, tidak hanya sendirian melaksanakan ministri. Bahkan Tuhan Yesus sendiri pun tidak hanya sendirian melaksanakan ministri-Nya. Mula-mula Ia memilih dua belas orang; kemudian memilih tujuh puluh orang. Dari sini kita nampak bahwa baik dalam pelayanan maupun dalam hidup gereja, kita perlu belajar rajin, setia, dan juga belajar membangunkan sejumlah orang untuk membantu kita.

Tidaklah sulit melaksanakan pelayanan kita hanya sendirian saja. Kenyataannya, para pengajar dan pengkhot-bah cenderung melakukan segala sesuatu hanya oleh diri mereka sendiri. Di antara orang-orang Kristen hari ini ti-dak ada kebiasaan berbagi ministri dengan orang lain, juga tidak ada praktek mengajar, menunjuk, dan menyempurna-kan orang lain untuk menggenapi ministri yang sama. Tetapi menurut perkataan Paulus dalam Efesus 4, ministri para rasul, nabi, penginjil, dan gembala serta pengajar ada-lah menyempurnakan kaum beriman agar kaum beriman dapat melakukan pekerjaan ministri. Ministri Tuhan adalah menyempurnakan para rasul, dan ministri para rasul adalah menyempurnakan kaum beriman. Melalui ini kita nampak bahwa pergerakan Allah di bumi bukan dilaksana-kan oleh perorangan; pergerakan-Nya berhubungan dengan sekelompok orang.

Dalam kitab Injil mula-mula kita dapati sekelompok orang yang terdiri atas dua belas orang. Kemudian kelom-pok tujuh puluh orang. Penunjukan Tuhan atas para rasul untuk memberitakan Injil tentu saja adalah tindakan penun-jang yang berarti untuk pelayanan Injil-Nya. Dalam perka-ra ini kita semua perlu mengikuti Tuhan. Para penatua di dalam gereja lokal perlu belajar membangunkan orang lain. Setelah sejangka waktu, para penatua seyogianya tidak lagi sendirian merawat gereja; mereka hendaknya membangunkan orang lain untuk bergabung dengan mereka dalam tanggung jawab ini.

Bukan Pandangan Alamiah, Melainkan Pandangan Menurut Daya Pandang Rohani

Tuhan memilih dua belas rasul di awal ministri-Nya. Orang-orang yang Ia pilih tentunya tidaklah sangat ma-tang. Dua di antara mereka, Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudara Yakobus, diberi nama Boanerges, yang berarti anak guruh. Kata Yunani “boanerges” berasal dari bahasa Aram. Nama ini ditambahkan kepada Yakobus dan Yohanes oleh Tuhan Yesus karena ketidaksabaran mereka (lihat Luk. 9:54-55; Mrk. 9:38). Dalam Markus 9 kita da-pati suatu contoh “guruh” Yohanes. Tetapi pada saat ia me-nulis kitab Injil, Surat Kiriman, dan Kitab Wahyu, guruh ini telah kehilangan suaranya.

Satu lagi dari kedua belas orang yang dipilih oleh Tuhan Yesus adalah Simon orang Kanaan (Zelot) (Mrk. 3:18). Kata “kanaan” berasal dari kata Ibrani “kanna”, yang berarti ber-gairah. Ini bukan mengacu kepada tanah Kanaan, melain-kan mengacu kepada suatu sekte orang Galilea yang dike-nal sebagai sekte Zealot (Luk. 6:15; Kis. 1:13). Orang-orang Zelot sangatlah patriotis, mencintai tradisi, dan praktek-praktek orang Yahudi. Tuhan memilih salah seorang Zelot ini menjadi rasul.

Salah seorang dari kedua belas itu, Matius, sebelumnya adalah seorang pemungut cukai. Dalam penyebutan kedua belas rasul ini, Matius secara khusus menyebut dirinya pemungut cukai (Mat. 10:3). Ini mungkin menyatakan ia mengingat keselamatannya dengan penuh syukur. Seorang pemungut cukai yang diremehkan dan penuh dosa sekalipun bisa menjadi seorang rasul Hamba-Penyelamat.

Yang terakhir disebut oleh Markus dari kedua belas orang itu adalah Yudas Iskariot. Kata “Iskariot” adalah ka-ta Yunani, mungkin berasal dari bahasa Ibrani yang berarti orang dari Keriot. Keriot terletak di Yehuda (Yos. 15:25). Jadi, di antara rasul-rasul, hanya Yudas yang berasal dari Yudea; yang lain berasal dari Galilea.

Ketika kita mempertimbangkan saudara-saudara mana yang bisa menjabat penatua di suatu gereja lokal, seolah-olah tidak ada seorang pun yang layak. Contohnya, kita mungkin berkata, “Saudara ini kelihatannya cukup baik, dan ia sangat mengasihi Tuhan. Tetapi bagaimana dengan latar belakangnya?” Bila Tuhan Yesus mempertimbangkan kedua belas rasul secara demikian, siapa yang bisa terpilih? Matius tentu akan tersingkir. Bagaimana Tuhan bisa memi-lih seorang pemungut cukai menjadi salah seorang dari ke-dua belas rasul? Mungkin kita mengira, Tuhan seharusnya memilih seorang ahli Taurat. Tetapi salah seorang dari orang-orang yang Ia pilih nyatanya adalah seorang pemungut cukai.

Kita perlu belajar dari Tuhan bahwa pandangan ala-miah berbeda dengan pandangan yang menurut daya pan-dang rohani. Tuhan menentukan pilihan-Nya menurut daya pandang rohani-Nya, bukan menurut pandangan alamiah manusia. Yakobus dan Yohanes memiliki temperamen yang buruk, temperamen yang bisa menggeledek. Kita tidak mung-kin memilih mereka menjadi rasul, tetapi Tuhan telah me-milih mereka. Dari pandangan alamiah, tidak seorang pun layak menjadi rasul Tuhan Yesus. Yakobus dan Yohanes, Simon orang Zelot, Matius si pemungut cukai — tak seorang pun yang memenuhi syarat. Puji Tuhan, Ia tidak menentukan pilihan-Nya menurut pandangan alamiah!

Jika kita dengan pandangan alamiah melihat kaum ber-iman dalam hidup gereja, mungkin kita merasa kitalah satu-satunya orang yang layak melakukan hal-hal tertentu. Misalnya, di suatu tempat hanya ada satu penatua. Pena-tua ini mengatakan diperlukan paling sedikit dua penatua lagi. Akan tetapi, saudara ini mungkin melanjutkan, “Ya, orang ini baik dalam hal-hal tertentu, namun ia tidak cu-kup bagus.” Akhirnya, menurut pandangan alamiahnya, hanya dia sendirilah satu-satunya saudara yang memenuhi syarat. Tahun demi tahun berlalu, dan ia tetap satu-satu-nya orang yang seolah-olah cocok memikul tanggung jawab sebagai penatua. Tidak ada “dua belas orang”, lebih-lebih “tujuh puluh orang” untuk membantu dia. Dialah satu-sa-tunya orang di gereja lokal yang layak menjadi penatua.

Sebaliknya, Tuhan Yesus memilih orang-orang yang tidak layak untuk menjadi rasul-rasul-Nya. Kedua belas ra-sul itu tidak layak, kita pun tidak layak. Namun, dalam pergerakan Tuhan diperlukan para pembantu. Karena itu, salah satu tindakan penunjang Tuhan dalam pelaksanaan ministri-Nya adalah memilih orang-orang yang tidak layak menjadi rasul-rasul-Nya.

Akhirnya, Petrus memperoleh penegasan melalui peris-tiwa yang terjadi pada hari Pentakosta. Saya tidak percaya Petrus memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Tetapi, ti-dak lama setelah Tuhan Yesus disalibkan dan dibangkitkan, Petrus bisa berdiri pada hari Pentakosta sebagai rasul ter-kemuka. Gereja Roma Katolik menganggap Petrus seba-gai Paus yang pertama. Tetapi “Paus” ini adalah seorang nelayan yang dipilih oleh Tuhan, kemudian ditegaskan pada hari Pentakosta.

Sangatlah penting bagi kita untuk belajar tidak me-mandang ministri Tuhan atau gereja menurut konsepsi alamiah. Tuhan tidak memilih Nikodemus menjadi salah seorang dari kedua belas rasul itu. Tuhan tidak memilih sa-tu orang pun yang berpendidikan. Sebaliknya, orang-orang yang Ia pilih kelihatannya aneh. Ia bahkan memberi nama “anak-anak guruh” kepada Yakobus dan Yohanes. Sering kali mereka berbicara seperti guruh. Jika kita ada di sana, si-kap kita mungkin begini, “Singkirkan kedua orang ini sam-pai mereka berhenti menggeledek. Setelah mereka berubah dan geledeknya sudah tidak menyambar-nyambar lagi, ba-ruah kita bisa memakai mereka dalam pelayanan.” Ini adalah konsepsi kita, konsepsi alamiah. Namun ini bukan-lah pandangan Tuhan Yesus. Di tempat Anda, mampukah Anda memakai anak-anak guruh dalam pelayanan gereja? Kita harus belajar dari Tuhan untuk memakai orang-orang yang sedemikian dalam pelayanan Injil.

Kita telah nampak bahwa Tuhan Yesus beralih dari kerumunan orang, dan kemudian minta disediakan sebuah perahu kecil. Tindakan-Nya tidak alamiah. Segala sesuatu yang Ia perbuat adalah di dalam roh. Demikian pula, pe-nunjukan-Nya atas kedua belas rasul tidaklah alamiah, tetapi seluruhnya di dalam roh. Walaupun Ia tahu bahwa Yudas akan mengkhianati Dia, Ia tetap masih menunjuk-nya menjadi salah seorang dari kedua belas rasul itu. Se-cara alamiah, tidak ada seorang pun yang akan memilih seorang seperti Yudas. Tetapi, ketika bertindak menurut roh, Tuhan Yesus justru memilihnya.

TIDAK MAKAN KARENA KEPERLUAN

Markus 3:20-21 mengatakan, “Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Orang banyak datang lagi berkerumun, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Waktu keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.” Ini menunjuk-kan kesibukan, kerajinan, dan kesetiaan Hamba-Penyela-mat dalam pelayanan penyebaran Injil-Nya sebagai Hamba Allah.

Tidaklah mudah untuk menganalisis atau menjabar-kan tindakan-tindakan Tuhan. Seolah-olah ada kontradiksi antara perbuatan Tuhan dalam menghindari kerumunan dalam 3:7-12 dan perbuatan-Nya dalam 3:20-21. Mula-mula Ia menghindari kerumunan orang. Tetapi ketika Ia di da-lam sebuah rumah dan orang banyak berdatangan, Ia tidak berusaha menyingkir dari kerumunan orang. Menurut apa yang Ia perbuat dalam 3:7-12, kita menduga Ia pasti akan menyingkir dari kerumunan orang untuk menyelesaikan makan-Nya. Kita menduga Ia akan berkata, “Sekarang Aku sedang makan, dan Aku tidak ada waktu bersama kalian.” Akan tetapi, Ia bertindak lain. Ia berhenti makan dan mem-perhatikan keperluan mendesak orang-orang yang berkeru-mun itu.

Ketika keluarga Tuhan mendengar situasi ini, mereka keluar untuk mendapatkan Dia. Mereka mengatakan bah-wa Ia tidak waras. Pernyataan ini adalah ungkapan yang mengekspresikan keprihatinan alamiah terhadap Hamba-Penyelamat dari pihak keluarga-Nya. Seperti yang akan kita lihat dalam berita berikutnya, hal ini membuka pelu-ang bagi para ahli Taurat untuk menghujat Dia (ayat 22).

Sanak keluarga Tuhan, mungkin saudara-saudara-Nya dalam daging, mengira Ia tidak waras. Mereka beranggapan demikian karena Yesus hanya memperhatikan orang banyak itu, tetapi tidak mempedulikan makan-Nya sendiri.

Kita seharusnya tidak menganalisis secara alamiah apa yang kelihatannya merupakan tingkah laku Tuhan yang kontras. Ketika orang banyak menghimpit Dia, Tuhan ber-usaha menghindar. Tetapi ketika orang banyak memberi-Nya kesempatan untuk melayankan hayat, Ia tidak mempe-dulikan makan-Nya. Kita perlu membedakan kedua perkara tersebut — orang-orang yang menghimpit dan kesempatan untuk melayankan hayat.