CARA HAMBA-PENYELAMAT MELAKSANAKAN PELAYANAN INJIL-NYA (4)
Pembacaan Alkitab: Mrk. 2:23—3:6
Dalam berita ini kita akan melihat lebih lanjut cara Hamba-Penyelamat melaksanakan pelayanan Injil-Nya. Me-nurut 2:23-28, Ia lebih memperhatikan kelaparan para pengikut-Nya daripada peraturan agama, dan menurut 3:1-6 Ia lebih memperhatikan pembebasan orang yang mende-rita daripada ritual agama.
LEBIH MEMPERHATIKAN KELAPARAN
PARA PENGIKUT-NYA DARIPADA
MEMPERHATIKAN PERATURAN AGAMA
Markus 2:23 mengatakan, “Pada suatu hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum.” Saya yakin bahwa Tuhan Yesus dengan sengaja membawa para pengikut-Nya ke la-dang gandum pada hari Sabat. Ia tentunya tahu bahwa hari itu adalah hari Sabat. Menurut peraturan, Ia seharusnya ti-dak memutuskan untuk melewati ladang gandum pada hari Sabat karena hal itu melanggar peraturan tentang memeli-hara hari Sabat. Akan tetapi, Dia sebagai Gembala, me-mimpin semua pengikut-Nya, domba-domba-Nya, masuk ke ladang gandum, dan ladang tersebut menjadi padang rum-put mereka. Ayat 23 mengatakan, “Sementara berjalan mu-rid-murid-Nya memetik bulir gandum.” Di sini kita nampak murid-murid makan bulir-bulir gandum yang segar. Melalui cara makan yang demikian mereka dipuaskan.
Dalam ayat 24, “Lalu kata orang-orang Farisi kepada-Nya, ‘Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?’” Hari Sabat ditetapkan supa-ya orang-orang Yahudi mengingat penyelesaian penciptaan Allah (Kej. 2:2), memelihara tanda perjanjian yang diada-kan oleh Allah dengan mereka (Yeh. 20:12), dan mengingat penebusan Allah yang sudah rampung bagi mereka (Ul. 5:15). Karena itu, melanggar hari Sabat adalah perkara yang serius dalam pandangan orang Farisi yang agamawi. Bagi mereka, murid-murid Tuhan memetik bulir-bulir gandum pada hari Sabat adalah tidak menurut hukum, tidak sesuai dengan Kitab Suci. Tetapi mereka tidak memiliki pengenal-an yang memadai mengenai Kitab Suci. Berdasarkan penge-tahuan mereka yang sangat sedikit, mereka memperhatikan upacara memperingati hari Sabat, tidak memperhatikan rasa lapar orang. Alangkah bodohnya jika kita hanya memperha-tikan upacara yang sia-sia!
Daud Sejati
Dalam Markus 2:25-26 kita nampak jawaban Tuhan kepada orang-orang Farisi tersebut, “Jawab-Nya kepada me-reka, ‘Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya keku-rangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu — yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam — dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Orang-orang Farisi berkata bahwa murid-murid Tuhan tidak boleh memetik bulir gandum dan mema-kannya. Orang-orang Farisi menyalahkan mereka karena bertindak bertentangan dengan Kitab Suci. Tetapi Tuhan bertanya kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca?” Ia menunjukkan kepada mereka satu aspek lain dari kebe-naran dalam Kitab Suci yang membenarkan Dia dan murid-murid-Nya. Ini menyalahkan orang-orang Farisi yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang Kitab Suci.
Jawaban Tuhan dalam ayat-ayat tersebut menunjuk-kan bahwa Dia pasti telah memiliki cara yang hebat untuk mempelajari Alkitab. Di sini Tuhan seakan-akan memberi tahu orang-orang Farisi itu, “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud? Kamu kaum agamawan begitu menghormati Kitab Suci. Belum pernahkah kamu baca ba-gaimana Daud memasuki Rumah Allah, makan roti sajian, dan juga memberikannya kepada orang-orang yang bersa-manya? Tidakkah kamu tahu bahwa Daud memimpin para pengikutnya melakukan hal ini? Menurut kamu, apakah ia menyesatkan mereka dalam hal ini?” Betapa hebatnya cara Tuhan mempelajari Kitab Suci! Kita semua perlu belajar dari Dia.
Dalam pandangan orang-orang Yahudi, Tuhan tidak terpelajar. Mereka heran dan berkata tentang Dia, “Bagai-manakah orang ini mempunyai pengetahuan demikian tan-pa belajar?” (Yoh. 7:15). Dia ini, yang seolah-olah tidak pernah mempelajari Kitab Suci, mengajukan pertanyaan kepada ahli-ahli Taurat, ahli Kitab Suci zaman dulu, me-ngenai pengetahuan mereka tentang Kitab Suci. Walaupun mereka dipandang sebagai ahli Kitab Suci, mereka menge-nal Kitab Suci hanya secara dangkal dan berupa doktrin dari huruf-huruf yang mati. Tuhan menyingkapkan keku-rangan pengetahuan mereka mengenai Kitab Suci, ketika Ia bertanya apakah mereka belum pernah membaca apa yang Daud perbuat ketika ia dan orang-orang yang bersamanya dalam kekurangan dan kelaparan.
Perkataan Tuhan kepada orang-orang Farisi sangatlah berhikmat dan kaya dalam maknanya. Perkataan Tuhan di sini menyiratkan bahwa Dia adalah Daud yang sejati. Pada zaman dulu, ketika mereka ditolak, Daud dan para pengi-kutnya masuk ke dalam Rumah Allah dan memakan roti sajian, kelihatannya melanggar hukum imamat. Kini Daud yang sejati dan para pengikut-Nya ditolak, dan murid-mu-rid memetik gandum dan memakannya, kelihatannya me-langgar peraturan hari Sabat. Sebagaimana Daud dan para pengikutnya tidak dianggap bersalah, demikian pula Kristus dan murid-murid-Nya tidak seharusnya disalahkan.
Selanjutnya, perkataan Tuhan di sini menyiratkan perubahan zaman, dari imamat kepada kerajaan. Pada zaman dulu, kedatangan Daud mengubah zaman dari zaman imam kepada zaman raja, sehingga raja berada di atas imam. Da-lam zaman imam, pemuka umat harus mendengarkan imam (Bil. 27:21-22). Tetapi dalam zaman raja, imam harus taat kepada raja (1 Sam. 2:35-36). Karena itu, apa yang dilaku-kan Raja Daud bersama para pengikutnya tidak melanggar hukum. Kini kedatangan Kristus mengubah zaman lagi, kali ini dari zaman hukum Taurat kepada zaman anuge-rah. Dalam zaman ini, Kristus berada di atas segalanya. Apa pun yang dilakukan-Nya adalah benar.
Kita telah nampak bahwa perkataan Tuhan yang ditu-jukan kepada orang-orang Farisi menyiratkan bahwa Ia ada-lah Daud yang sejati. Matius, si pemungut cukai, adalah salah seorang pengikut Daud ini; Daud berperang bagi Ke-rajaan Allah. Ketika Daud memimpin kawan-kawannya ke Rumah Allah, Ia sedang berperang bagi kerajaan. Demikian pula, sebagai Daud yang sejati, Kristus dan para pengikut-Nya juga sedang berperang bagi kedatangan kerajaan. Selain itu, dengan datangnya Tuhan, terjadilah perubahan zaman.
Dalam 2:27 Tuhan Yesus terus berkata kepada orang-orang Farisi, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.” Manusia diciptakan bu-kan untuk hari Sabat, sebaliknya, hari Sabat ditetapkan untuk manusia agar manusia bisa menikmatinya bersama Allah (Kej. 2:2-3).
Tuhan Hari Sabat
Ayat 28 dengan kuat menyatakan siapakah Tuhan itu, “Karena itu Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat.” Ini memperlihatkan keilahian Hamba-Penyelamat dalam keinsanian-Nya. Ia, Anak Manusia, adalah Allah yang menetapkan hari Sabat, dan yang berhak untuk mengubah apa yang telah Ia tetapkan mengenai hari Sabat. Sebagai Tuhan hari Sabat, Ia berhak mengubah apa yang telah Ia tetapkan mengenai hari Sabat.
Tuhan Yesus menyatakan kepada orang-orang Farisi yang menyalahkan Dia, bahwa Dia adalah Daud yang se-jati, Raja dari Kerajaan Allah yang akan datang, dan juga Tuhan hari Sabat. Karena itu, Dia dapat berbuat apa pun yang Dia sukai pada hari Sabat, dan apa pun yang Dia per-buat dibenarkan oleh apa adanya Dia. Dia melampaui se-gala upacara dan peraturan. Dengan kehadiran-Nya, se-yogianya tidak seorang pun memperhatikan upacara dan peraturan!
Saya harap Anda memperhatikan kata “bahkan” dalam 2:28. Di sini Tuhan berkata bahwa Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat. Penggunaan kata “bahkan” di sini menyatakan bahwa Ia bukan hanya Tuhan atas satu hal, tetapi Tuhan atas segala sesuatu, termasuk hari Sabat.
Perkataan Tuhan menyiratkan dan menunjukkan bah-wa Dia adalah Allah yang Mahakuasa, Dia yang menetapkan hari Sabat dalam Kejadian 2. Sebagai Dia yang berkuasa menetapkan hari Sabat, Dia juga berhak untuk mengubah-nya. Sebab itu, Tuhan bisa saja mengatakan kepada orang-orang Farisi itu, “Mengapa kamu mengganggu Aku? Aku adalah Tuhan yang menetapkan hari Sabat, dan Aku ber-kedudukan penuh dan berhak untuk mengubahnya. Baik menetapkan hari Sabat maupun mengubahnya, Aku mela-kukannya untuk manusia. Hari Sabat dijadikan untuk ma-nusia; bukan manusia untuk hari Sabat. Kamu, orang-orang Farisi, dengan caramu memelihara hari Sabat, malah mem-buat orang mati. Tetapi pada hari Sabat, Aku memperhati-kan pemberian makan para pengikut-Ku. Dalam Kejadian 2, Aku menetapkan hari Sabat karena Aku ingin manusia beristirahat. Sebab itu, hari Sabat dijadikan untuk manu-sia. Tetapi sekarang saat Aku di sini, Aku ingin membatal-kan hari Sabat untuk memberi makan para pengikut-Ku. Sebagai Tuhan atas hari Sabat, Aku tentu saja berhak me-lakukannya.”
Betapa ajaibnya penanganan Tuhan atas situasi dalam 2:23-28! Dia benar-benar seorang pengacara yang terbaik, pengacara surgawi. Apa pun yang dikatakan-Nya itu benar. Dalam berdebat dengan-Nya, orang-orang Farisi tidak sang-gup mengalahkan-Nya, karena Dia adalah Tuhan yang Mahakuasa.
LEBIH MEMPERHATIKAN PEMBEBASAN
ORANG YANG MENDERITA
DARIPADA RITUAL AGAMA
Dalam 3:1-6 kita nampak bahwa Tuhan melaksanakan pelayanan Injil-Nya dengan memperhatikan pembebasan orang yang menderita, bukan memperhatikan ritual agama. Di sini kita memiliki peristiwa terakhir dari kelima peristiwa yang tercatat dalam 2:1—3:6, kasus penyembuhan orang yang lumpuh tangannya. Penyembuhan ini juga terjadi pada hari Sabat (3:2).
Pergerakan Tuhan pada Dua Hari Sabat
Markus 2:23—3:6 mencatat pergerakan Tuhan pada hari Sabat (Luk. 6:1, 6). Apa yang Ia perbuat pada hari Sabat yang pertama menunjukkan bahwa Ia bertindak sebagai Kepala Tubuh. Sebagai Kepala, Dia adalah Daud yang sejati dan Tuhan atas hari Sabat. Apa yang Ia perbuat pada hari Sabat yang kedua menunjukkan bahwa Ia memperhatikan para anggota-Nya. Pada hari Sabat ini, Ia menyembuhkan orang yang lumpuh tangannya. Tangan adalah anggota tu-buh. Tuhan akan melakukan apa saja bagi penyembuhan anggota-anggota-Nya. Hari Sabat atau bukan hari Sabat, Tuhan ingin menyembuhkan anggota-anggota Tubuh-Nya yang memerlukan, bahkan menyembuhkan anggota yang mati. Peraturan-peraturan tidak penting, tetapi penyembuh-an anggota-anggota Tubuh-Nya sangat berarti bagi Dia.
Dalam kedua bagian ini kita dapati dua kasus pelang-garan hari Sabat. Contoh pertama pelanggaran hari Sabat terjadi di ladang gandum, yang kedua terjadi di sebuah ru-mah ibadat (3:1). Pelanggaran pertama atas hari Sabat ber-kaitan dengan kepuasan, dan yang kedua berkaitan dengan kebebasan. Kita bisa saja dipuaskan, tetapi mungkin belum dibebaskan. Kita mungkin tidak bebas. Kita bukan hanya memerlukan kepuasan, tetapi juga kebebasan. Sudahkah Anda dibebaskan? Sudahkah Anda dilepaskan? Apakah An-da merdeka sepenuhnya? Anda mungkin cukup puas karena Anda telah makan Tuhan Yesus. Akan tetapi, Anda belum tentu yakin bahwa Anda telah dibebaskan. Sebenarnya, kita lebih perlu kebebasan daripada kepuasan.
Menurut urutan dalam Injil Markus, kebebasan ada setelah kepuasan. Bila belum dipuaskan, kita tidak akan merasakan perlu dibebaskan. Kebutuhan kita yang mende-sak adalah agar rasa lapar kita dipuaskan. Pertama, Tuhan memuaskan rasa lapar kita. Kemudian, sebagai ahli bedah ilahi, Dia mengoperasi kita. Begitu kita dikenyangkan, Ia membawa kita masuk ke dalam “ruangan operasi” tempat Ia menyembuhkan kita dan membebaskan kita. Dalam 3:1-6 ruang operasi-Nya adalah rumah ibadat. Dalam rumah ibadatlah orang yang lumpuh tangannya mengalami penyembuhan (ayat 5).
Dalam ayat 4 Tuhan berkata kepada orang-orang di da-lam rumah ibadat, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” Perkataan ini menya-takan bahwa Hamba-Penyelamat adalah Pembebas, yang membebaskan orang dari belenggu ritual keagamaan.
Kita Perlu Dibebaskan Sepenuhnya
Dalam 2:1-12 kita dapati kasus orang lumpuh, kasus seorang yang sepenuhnya lumpuh. Tetapi dalam 3:1-6 kita dapati kasus seorang yang lumpuh tangannya. Ini adalah kasus seorang yang bebas sebagian, tetapi tidak bebas sepe-nuhnya. Apakah Anda bebas sepenuhnya? Pertanyaan ini sulit dijawab dan Anda mungkin berkata, “Di satu pihak, aku tidak dapat mengatakan bahwa aku bebas sepenuhnya. Di pihak lain, tidak benar mengatakan bahwa aku tidak be-bas sama sekali. Aku harus menjawab dengan mengatakan bahwa aku bebas sebagian.” Seperti orang yang tangannya lumpuh sebelah, kita perlu dibebaskan seluruhnya. Orang ini tidak sekarat. Ia dapat bergerak ke sana ke mari, dan melakukan sesuatu dengan satu tangan, namun tangannya lumpuh sebelah. Ini menunjukkan bahwa ia perlu dibebas-kan.
Sangatlah bermakna bahwa kasus orang yang lumpuh tangannya adalah kasus yang terakhir dari kelima kasus dalam 2:1—3:6. Dalam kasus pertama (2:1-12) kita dapati pengampunan dosa; yang kedua (2:13-17), masuk ke dalam kenikmatan akan Allah; yang ketiga (2:18-22), sukacita me-lalui Kristus yang hidup sebagai Mempelai Laki-laki, Dia yang mempunyai baju untuk menutupi dan mempercantik kita dan yang memiliki hayat ilahi untuk memenuhi kita; dan yang keempat (2:23-28), kepuasan melalui makan Tuhan. Kini dalam kasus kelima kita dapati kebebasan yang sem-purna. Di sini kita nampak seorang yang bebas sepenuh-nya.
Jika kita satukan kelima peristiwa ini, kita akan nam-pak sebuah gambaran lengkap tentang seseorang yang sepe-nuhnya diselamatkan, gambaran seseorang yang menik-mati keselamatan secara menyeluruh. Menurut gambar ini, karunia keselamatan Tuhan mencakup pengampunan, ke-nikmatan, sukacita, kepuasan, dan kebebasan. Semoga kita semua dapat mengalami kelima aspek karunia keselamatan Tuhan ini.
Keilahian Diekspresikan dalam Keinsanian
Markus 3:5 mengatakan, “Ia sangat berduka karena kekerasan hati mereka dan dengan marah Ia memandang orang-orang di sekeliling-Nya lalu Ia berkata kepada orang itu, ‘Ulurkanlah tanganmu!’ Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu.” Tuhan marah kepada pa-ra penentang dan sangat sedih atas kekerasan hati mereka. Tetapi Ia menyatakan kemurahan-Nya kepada orang yang sakit, dan memulihkan anggota tubuhnya yang lumpuh. Ke-marahan dan kesedihan-Nya bisa dianggap sebagai ungkapan kesejatian sifat insani-Nya; sedangkan kemurahan hati dan penyembuhan-Nya adalah gabungan kebajikan insani-Nya dengan kuasa ilahi-Nya, yang ternyata serentak kepada manusia. Jadi, keilahian-Nya sekali lagi terekspresi dalam sifat insani-Nya di hadapan manusia. Pemulihan tangan yang lumpuh ini menunjukkan kuasa keilahian Hamba-Penyelamat.
Tuhan berkata kepada orang itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Dalam perkataan Tuhan terdapat hayat yang menghidupkan. Dengan mengulurkan tangannya, orang itu menerima firman pemberi-hayat, dan tangannya yang lumpuh dipulihkan oleh hayat yang ada dalam firman-Nya.
Tantangan Kaum Agamawan
Dalam 3:6 kita dapati kesimpulan dari peristiwa-peris-tiwa tersebut, “Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para pendukung Herodes untuk membunuh Dia.” Dalam pandangan orang-orang Farisi yang agamawi, melanggar hari Sabat berarti meru-sak perjanjian Allah dengan bangsa Israel, yaitu merusak hubungan antara Allah dengan Israel. Karena itu, orang-orang Farisi bersepakat dengan orang-orang Herodian me-ngenai bagaimana mereka membunuh Tuhan Yesus. Pelang-garan atas hari Sabat menyebabkan kaum agamawan Yahudi menolak Hamba-Penyelamat. Sebagai kaum agama-wan dari agama usang dan tak berhayat, orang-orang Farisi digerakkan oleh Iblis dan diperalat olehnya untuk melawan, menolak, dan menghalang-halangi pelayanan Injil dalam ministri Hamba-Penyelamat. Karena dibutakan oleh agama tradisional mereka, mereka tidak nampak Kristus yang di dalam ekonomi Allah, malahan berencana untuk membunuh Dia.