Daftar isi Markus (1) · Berita Kesepuluh · bab 10/23

Berita Kesepuluh

CARA HAMBA-PENYELAMAT MELAKSANAKAN PELAYANAN INJIL-NYA (4)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 2:23—3:6

Dalam berita ini kita akan melihat lebih lanjut cara Hamba-Penyelamat melaksanakan pelayanan Injil-Nya. Menurut 2:23-28, Ia lebih memperhatikan kelaparan para pengikut-Nya daripada peraturan agama, dan menurut 3:1-6 Ia lebih memperhatikan pembebasan orang yang menderita daripada ritual agama.

LEBIH MEMPERHATIKAN KELAPARAN

PARA PENGIKUT-NYA DARIPADA

MEMPERHATIKAN PERATURAN AGAMA

Markus 2:23 mengatakan, “Pada suatu hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum.” Saya yakin bahwa Tuhan Yesus dengan sengaja membawa para pengikut-Nya ke ladang gandum pada hari Sabat. Ia tentunya tahu bahwa hari itu adalah hari Sabat. Menurut peraturan, Ia seharusnya tidak memutuskan untuk melewati ladang gandum pada hari Sabat karena hal itu melanggar peraturan tentang memelihara hari Sabat. Akan tetapi, Dia sebagai Gembala, memimpin semua pengikut-Nya, domba-domba-Nya, masuk ke ladang gandum, dan ladang tersebut menjadi padang rumput mereka. Ayat 23 mengatakan, “Sementara berjalan mu-rid-murid-Nya memetik bulir gandum.” Di sini kita tampak murid-murid makan bulir-bulir gandum yang segar. Melalui cara makan yang demikian mereka dipuaskan.

Dalam ayat 24, “Lalu kata orang-orang Farisi kepada-Nya, ‘Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?’” Hari Sabat ditetapkan supaya orang-orang Yahudi mengingat penyelesaian penciptaan Allah (Kej. 2:2), memelihara tanda perjanjian yang diadakan oleh Allah dengan mereka (Yeh. 20:12), dan mengingat penebusan Allah yang sudah rampung bagi mereka (Ul. 5:15). Karena itu, melanggar hari Sabat adalah perkara yang serius dalam pandangan orang Farisi yang agamawi. Bagi mereka, murid-murid Tuhan memetik bulir-bulir gandum pada hari Sabat adalah tidak menurut hukum, tidak sesuai dengan Kitab Suci. Tetapi mereka tidak memiliki pengenalan yang memadai mengenai Kitab Suci. Berdasarkan pengetahuan mereka yang sangat sedikit, mereka memperhatikan upacara memperingati hari Sabat, tidak memperhatikan rasa lapar orang. Alangkah bodohnya jika kita hanya memperhatikan upacara yang sia-sia!

Daud Sejati

Dalam Markus 2:25-26 kita tampak jawaban Tuhan kepada orang-orang Farisi tersebut, “Jawab-Nya kepada mereka, ‘Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu — yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam — dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Orang-orang Farisi berkata bahwa murid-murid Tuhan tidak boleh memetik bulir gandum dan memakannya. Orang-orang Farisi menyalahkan mereka karena bertindak bertentangan dengan Kitab Suci. Tetapi Tuhan bertanya kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca?” Ia menunjukkan kepada mereka satu aspek lain dari kebenaran dalam Kitab Suci yang membenarkan Dia dan murid-murid-Nya. Ini menyalahkan orang-orang Farisi yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang Kitab Suci.

Jawaban Tuhan dalam ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa Dia pasti telah memiliki cara yang hebat untuk mempelajari Alkitab. Di sini Tuhan seakan-akan memberi tahu orang-orang Farisi itu, “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud? Kamu kaum agamawan begitu menghormati Kitab Suci. Belum pernahkah kamu baca bagaimana Daud memasuki Rumah Allah, makan roti sajian, dan juga memberikannya kepada orang-orang yang bersamanya? Tidakkah kamu tahu bahwa Daud memimpin para pengikutnya melakukan hal ini? Menurut kamu, apakah ia menyesatkan mereka dalam hal ini?” Betapa hebatnya cara Tuhan mempelajari Kitab Suci! Kita semua perlu belajar dari Dia.

Dalam pandangan orang-orang Yahudi, Tuhan tidak terpelajar. Mereka heran dan berkata tentang Dia, “Bagaimanakah orang ini mempunyai pengetahuan demikian tanpa belajar?” (Yoh. 7:15). Dia ini, yang seolah-olah tidak pernah mempelajari Kitab Suci, mengajukan pertanyaan kepada ahli-ahli Taurat, ahli Kitab Suci zaman dulu, mengenai pengetahuan mereka tentang Kitab Suci. Walaupun mereka dipandang sebagai ahli Kitab Suci, mereka mengenal Kitab Suci hanya secara dangkal dan berupa doktrin dari huruf-huruf yang mati. Tuhan menyingkapkan kekurangan pengetahuan mereka mengenai Kitab Suci, ketika Ia bertanya apakah mereka belum pernah membaca apa yang Daud perbuat ketika ia dan orang-orang yang bersamanya dalam kekurangan dan kelaparan.

Perkataan Tuhan kepada orang-orang Farisi sangatlah berhikmat dan kaya dalam maknanya. Perkataan Tuhan di sini menyiratkan bahwa Dia adalah Daud yang sejati. Pada zaman dulu, ketika mereka ditolak, Daud dan para pengikutnya masuk ke dalam Rumah Allah dan memakan roti sajian, kelihatannya melanggar hukum imamat. Kini Daud yang sejati dan para pengikut-Nya ditolak, dan murid-murid memetik gandum dan memakannya, kelihatannya melanggar peraturan hari Sabat. Sebagaimana Daud dan para pengikutnya tidak dianggap bersalah, demikian pula Kristus dan murid-murid-Nya tidak seharusnya disalahkan.

Selanjutnya, perkataan Tuhan di sini menyiratkan perubahan zaman, dari imamat kepada kerajaan. Pada zaman dulu, kedatangan Daud mengubah zaman dari zaman imam kepada zaman raja, sehingga raja berada di atas imam. Dalam zaman imam, pemuka umat harus mendengarkan imam (Bil. 27:21-22). Tetapi dalam zaman raja, imam harus taat kepada raja (1 Sam. 2:35-36). Karena itu, apa yang dilakukan Raja Daud bersama para pengikutnya tidak melanggar hukum. Kini kedatangan Kristus mengubah zaman lagi, kali ini dari zaman hukum Taurat kepada zaman anugerah. Dalam zaman ini, Kristus berada di atas segalanya. Apa pun yang dilakukan-Nya adalah benar.

Kita telah tampak bahwa perkataan Tuhan yang ditujukan kepada orang-orang Farisi menyiratkan bahwa Ia adalah Daud yang sejati. Matius, si pemungut cukai, adalah salah seorang pengikut Daud ini; Daud berperang bagi Kerajaan Allah. Ketika Daud memimpin kawan-kawannya ke Rumah Allah, Ia sedang berperang bagi kerajaan. Demikian pula, sebagai Daud yang sejati, Kristus dan para pengikut-Nya juga sedang berperang bagi kedatangan kerajaan. Selain itu, dengan datangnya Tuhan, terjadilah perubahan zaman.

Dalam 2:27 Tuhan Yesus terus berkata kepada orang-orang Farisi, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.” Manusia diciptakan bukan untuk hari Sabat, sebaliknya, hari Sabat ditetapkan untuk manusia agar manusia bisa menikmatinya bersama Allah (Kej. 2:2-3).

Tuhan Hari Sabat

Ayat 28 dengan kuat menyatakan siapakah Tuhan itu, “Karena itu Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat.” Ini memperlihatkan keilahian Hamba-Penyelamat dalam keinsanian-Nya. Ia, Anak Manusia, adalah Allah yang menetapkan hari Sabat, dan yang berhak untuk mengubah apa yang telah Ia tetapkan mengenai hari Sabat. Sebagai Tuhan hari Sabat, Ia berhak mengubah apa yang telah Ia tetapkan mengenai hari Sabat.

Tuhan Yesus menyatakan kepada orang-orang Farisi yang menyalahkan Dia, bahwa Dia adalah Daud yang sejati, Raja dari Kerajaan Allah yang akan datang, dan juga Tuhan hari Sabat. Karena itu, Dia dapat berbuat apa pun yang Dia sukai pada hari Sabat, dan apa pun yang Dia perbuat dibenarkan oleh apa adanya Dia. Dia melampaui segala upacara dan peraturan. Dengan kehadiran-Nya, seyogianya tidak seorang pun memperhatikan upacara dan peraturan!

Saya harap Anda memperhatikan kata “bahkan” dalam 2:28. Di sini Tuhan berkata bahwa Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat. Penggunaan kata “bahkan” di sini menyatakan bahwa Ia bukan hanya Tuhan atas satu hal, tetapi Tuhan atas segala sesuatu, termasuk hari Sabat.

Perkataan Tuhan menyiratkan dan menunjukkan bahwa Dia adalah Allah yang Mahakuasa, Dia yang menetapkan hari Sabat dalam Kejadian 2. Sebagai Dia yang berkuasa menetapkan hari Sabat, Dia juga berhak untuk mengubahnya. Sebab itu, Tuhan bisa saja mengatakan kepada orang-orang Farisi itu, “Mengapa kamu mengganggu Aku? Aku adalah Tuhan yang menetapkan hari Sabat, dan Aku berkedudukan penuh dan berhak untuk mengubahnya. Baik menetapkan hari Sabat maupun mengubahnya, Aku melakukannya untuk manusia. Hari Sabat dijadikan untuk manusia; bukan manusia untuk hari Sabat. Kamu, orang-orang Farisi, dengan caramu memelihara hari Sabat, malah membuat orang mati. Tetapi pada hari Sabat, Aku memperhatikan pemberian makan para pengikut-Ku. Dalam Kejadian 2, Aku menetapkan hari Sabat karena Aku ingin manusia beristirahat. Sebab itu, hari Sabat dijadikan untuk manusia. Tetapi sekarang saat Aku di sini, Aku ingin membatalkan hari Sabat untuk memberi makan para pengikut-Ku. Sebagai Tuhan atas hari Sabat, Aku tentu saja berhak melakukannya.”

Betapa ajaibnya penanganan Tuhan atas situasi dalam 2:23-28! Dia benar-benar seorang pengacara yang terbaik, pengacara surgawi. Apa pun yang dikatakan-Nya itu benar. Dalam berdebat dengan-Nya, orang-orang Farisi tidak sanggup mengalahkan-Nya, karena Dia adalah Tuhan yang Mahakuasa.

LEBIH MEMPERHATIKAN PEMBEBASAN

ORANG YANG MENDERITA

DARIPADA RITUAL AGAMA

Dalam 3:1-6 kita tampak bahwa Tuhan melaksanakan pelayanan Injil-Nya dengan memperhatikan pembebasan orang yang menderita, bukan memperhatikan ritual agama. Di sini kita memiliki peristiwa terakhir dari kelima peristiwa yang tercatat dalam 2:1—3:6, kasus penyembuhan orang yang lumpuh tangannya. Penyembuhan ini juga terjadi pada hari Sabat (3:2).

Pergerakan Tuhan pada Dua Hari Sabat

Markus 2:23—3:6 mencatat pergerakan Tuhan pada hari Sabat (Luk. 6:1, 6). Apa yang Ia perbuat pada hari Sabat yang pertama menunjukkan bahwa Ia bertindak sebagai Kepala Tubuh. Sebagai Kepala, Dia adalah Daud yang sejati dan Tuhan atas hari Sabat. Apa yang Ia perbuat pada hari Sabat yang kedua menunjukkan bahwa Ia memperhatikan para anggota-Nya. Pada hari Sabat ini, Ia menyembuhkan orang yang lumpuh tangannya. Tangan adalah anggota tubuh. Tuhan akan melakukan apa saja bagi penyembuhan anggota-anggota-Nya. Hari Sabat atau bukan hari Sabat, Tuhan ingin menyembuhkan anggota-anggota Tubuh-Nya yang memerlukan, bahkan menyembuhkan anggota yang mati. Peraturan-peraturan tidak penting, tetapi penyembuhan anggota-anggota Tubuh-Nya sangat berarti bagi Dia.

Dalam kedua bagian ini kita dapati dua kasus pelanggaran hari Sabat. Contoh pertama pelanggaran hari Sabat terjadi di ladang gandum, yang kedua terjadi di sebuah rumah ibadat (3:1). Pelanggaran pertama atas hari Sabat berkaitan dengan kepuasan, dan yang kedua berkaitan dengan kebebasan. Kita bisa saja dipuaskan, tetapi mungkin belum dibebaskan. Kita mungkin tidak bebas. Kita bukan hanya memerlukan kepuasan, tetapi juga kebebasan. Sudahkah Anda dibebaskan? Sudahkah Anda dilepaskan? Apakah Anda merdeka sepenuhnya? Anda mungkin cukup puas karena Anda telah makan Tuhan Yesus. Akan tetapi, Anda belum tentu yakin bahwa Anda telah dibebaskan. Sebenarnya, kita lebih perlu kebebasan daripada kepuasan.

Menurut urutan dalam Injil Markus, kebebasan ada setelah kepuasan. Bila belum dipuaskan, kita tidak akan merasakan perlu dibebaskan. Kebutuhan kita yang mendesak adalah agar rasa lapar kita dipuaskan. Pertama, Tuhan memuaskan rasa lapar kita. Kemudian, sebagai ahli bedah ilahi, Dia mengoperasi kita. Begitu kita dikenyangkan, Ia membawa kita masuk ke dalam “ruangan operasi” tempat Ia menyembuhkan kita dan membebaskan kita. Dalam 3:1-6 ruang operasi-Nya adalah rumah ibadat. Dalam rumah ibadatlah orang yang lumpuh tangannya mengalami penyembuhan (ayat 5).

Dalam ayat 4 Tuhan berkata kepada orang-orang di dalam rumah ibadat, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” Perkataan ini menyatakan bahwa Hamba-Penyelamat adalah Pembebas, yang membebaskan orang dari belenggu ritual keagamaan.

Kita Perlu Dibebaskan Sepenuhnya

Dalam 2:1-12 kita dapati kasus orang lumpuh, kasus seorang yang sepenuhnya lumpuh. Tetapi dalam 3:1-6 kita dapati kasus seorang yang lumpuh tangannya. Ini adalah kasus seorang yang bebas sebagian, tetapi tidak bebas sepenuhnya. Apakah Anda bebas sepenuhnya? Pertanyaan ini sulit dijawab dan Anda mungkin berkata, “Di satu pihak, aku tidak dapat mengatakan bahwa aku bebas sepenuhnya. Di pihak lain, tidak benar mengatakan bahwa aku tidak bebas sama sekali. Aku harus menjawab dengan mengatakan bahwa aku bebas sebagian.” Seperti orang yang tangannya lumpuh sebelah, kita perlu dibebaskan seluruhnya. Orang ini tidak sekarat. Ia dapat bergerak ke sana ke mari, dan melakukan sesuatu dengan satu tangan, namun tangannya lumpuh sebelah. Ini menunjukkan bahwa ia perlu dibebaskan.

Sangatlah bermakna bahwa kasus orang yang lumpuh tangannya adalah kasus yang terakhir dari kelima kasus dalam 2:1—3:6. Dalam kasus pertama (2:1-12) kita dapati pengampunan dosa; yang kedua (2:13-17), masuk ke dalam kenikmatan akan Allah; yang ketiga (2:18-22), sukacita melalui Kristus yang hidup sebagai Mempelai Laki-laki, Dia yang mempunyai baju untuk menutupi dan mempercantik kita dan yang memiliki hayat ilahi untuk memenuhi kita; dan yang keempat (2:23-28), kepuasan melalui makan Tuhan. Kini dalam kasus kelima kita dapati kebebasan yang sempurna. Di sini kita tampak seorang yang bebas sepenuhnya.

Jika kita satukan kelima peristiwa ini, kita akan tampak sebuah gambaran lengkap tentang seseorang yang sepenuhnya diselamatkan, gambaran seseorang yang menikmati keselamatan secara menyeluruh. Menurut gambar ini, karunia keselamatan Tuhan mencakup pengampunan, kenikmatan, sukacita, kepuasan, dan kebebasan. Semoga kita semua dapat mengalami kelima aspek karunia keselamatan Tuhan ini.

Keilahian Diekspresikan dalam Keinsanian

Markus 3:5 mengatakan, “Ia sangat berduka karena kekerasan hati mereka dan dengan marah Ia memandang orang-orang di sekeliling-Nya lalu Ia berkata kepada orang itu, ‘Ulurkanlah tanganmu!’ Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu.” Tuhan marah kepada para penentang dan sangat sedih atas kekerasan hati mereka. Tetapi Ia menyatakan kemurahan-Nya kepada orang yang sakit, dan memulihkan anggota tubuhnya yang lumpuh. Kemarahan dan kesedihan-Nya bisa dianggap sebagai ungkapan kesejatian sifat insani-Nya; sedangkan kemurahan hati dan penyembuhan-Nya adalah gabungan kebajikan insani-Nya dengan kuasa ilahi-Nya, yang ternyata serentak kepada manusia. Jadi, keilahian-Nya sekali lagi terekspresi dalam sifat insani-Nya di hadapan manusia. Pemulihan tangan yang lumpuh ini menunjukkan kuasa keilahian Hamba-Penyelamat.

Tuhan berkata kepada orang itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Dalam perkataan Tuhan terdapat hayat yang menghidupkan. Dengan mengulurkan tangannya, orang itu menerima firman pemberi-hayat, dan tangannya yang lumpuh dipulihkan oleh hayat yang ada dalam firman-Nya.

Tantangan Kaum Agamawan

Dalam 3:6 kita dapati kesimpulan dari peristiwa-peristiwa tersebut, “Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para pendukung Herodes untuk membunuh Dia.” Dalam pandangan orang-orang Farisi yang agamawi, melanggar hari Sabat berarti merusak perjanjian Allah dengan bangsa Israel, yaitu merusak hubungan antara Allah dengan Israel. Karena itu, orang-orang Farisi bersepakat dengan orang-orang Herodian mengenai bagaimana mereka membunuh Tuhan Yesus. Pelanggaran atas hari Sabat menyebabkan kaum agamawan Yahudi menolak Hamba-Penyelamat. Sebagai kaum agamawan dari agama usang dan tak berhayat, orang-orang Farisi digerakkan oleh Iblis dan diperalat olehnya untuk melawan, menolak, dan menghalang-halangi pelayanan Injil dalam ministri Hamba-Penyelamat. Karena dibutakan oleh agama tradisional mereka, mereka tidak tampak Kristus yang di dalam ekonomi Allah, malahan berencana untuk membunuh Dia.