CARA HAMBA-PENYELAMAT MELAKSANAKAN PELAYANAN INJIL-NYA (3)
Pembacaan Alkitab: Mrk. 2:18—3:6
Injil Markus bukanlah kitab doktrin. Sebagai sebuah biografi, Injil ini ditulis menurut fakta-fakta sejarah. Karena itu, Injil ini dicatat menurut urutan sejarah.
LIMA KATA KUNCI
Pengampunan
Kita telah nampak bahwa kelima peristiwa yang terca-tat dalam 2:1—3:6 membentuk satu kelompok. Kelima pe-ristiwa tersebut adalah pengampunan dosa-dosa orang sakit (2:1-12); makan bersama orang dosa (2:13-17); membuat para pengikut-Nya bergembira tanpa berpuasa (2:18-22); le-bih memperhatikan kelaparan para pengikut-Nya, daripada peraturan agama (2:23-28); dan lebih memperhatikan pembebasan orang yang menderita daripada ritual agama (3:1-6). Peristiwa-peristiwa tersebut, masing-masing dapat diringkas menjadi satu kata khusus. Kata untuk meringkas peristiwa yang pertama ialah pengampunan. Dalam 2:1-12 terdapat kasus pengampunan dosa-dosa oleh Anak Manusia, yaitu Allah pengampun yang berinkarnasi dalam rupa se-orang Hamba. Dalam 2:5 Tuhan Yesus berkata kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!” Ketika para ahli Taurat mendengarnya, mereka berpikir dalam hati mereka, “Ia menghujat Allah! Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” (ayat 7). Akhirnya Tuhan berkata, “Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Ma-nusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini — berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu — ‘Kepadamu Kukatakan, ba-ngunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!’” (ayat 10-11). Walaupun Anak Manusia dalam rupa seorang Hamba, namun Ia mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa. Di sini kita mendapatkan petunjuk kuat bahwa Allah pengampun ada di dalam manusia ini, dan Ia adalah seorang Hamba. Karena itu, peristiwa pertama dalam rangkaian lima peristiwa ini berhubungan dengan pengampunan.
Kenikmatan
Kata kunci untuk menggambarkan peristiwa yang kedua adalah kenikmatan. Dalam peristiwa yang tercatat dalam 2:13-17 ini, Hamba-Penyelamat sebagai Tabib makan bersama orang dosa. Jadi, di sini ada kenikmatan makan bersama Penyelamat. Orang-orang yang makan bersama-Nya menikmati kebaikan Hamba-Penyelamat yang adalah perwujudan Allah. Karena itu, apa yang sebenarnya mereka alami adalah kenikmatan akan Allah sendiri. Maka, kata “kenikmatan” adalah ringkasan peristiwa ini.
Sukacita
Kita bisa memakai kata yang paling sederhana untuk menggambarkan peristiwa ketiga — sukacita. Jadi, dalam ketiga peristiwa pertama ini kita dapati pengampunan, kenikmatan, dan sukacita.
Menurut 2:18-22, harus ada faktor-faktor dasar tertentu agar kita bersukacita. Tanpa faktor-faktor tersebut, kita tidak dapat memiliki sukacita. Faktor dasar yang pertama adalah Mempelai Laki-laki: “Jawab Yesus kepada mereka, ‘Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa se-mentara mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa’” (ayat 19). Mempelai Laki-laki adalah orang yang paling bersu-kacita. Jadi, dalam Markus 2, faktor dasar sukacita kita adalah Penyelamat sebagai Mempelai Laki-laki.
Dua faktor sukacita yang lainnya adalah kain yang belum susut (kain baru) (ayat 21), dan anggur baru (ayat 22). Kain baru dijadikan pakaian untuk menutupi kita dan mempercantik kita. Kain yang belum susut adalah kain yang belum digarap atau dikerjakan. Kain baru ini adalah untuk dijadikan pakaian baru. Pakaian baru ini yang sebe-narnya adalah Kristus sendiri, menutupi kita dan memper-cantik kita. Anggur baru memuaskan kita dan membuat kita bersukacita. Di luaran, kita memiliki kain baru, di dalam, kita memiliki anggur baru. Tidak hanya demikian, kita berada bersama Mempelai Laki-laki. Kini kita memi-liki faktor-faktor dasar agar kita bersukacita.
Tidak ada ahli filsafat yang dapat mengucapkan perkataan seperti yang diucapkan oleh Tuhan Yesus dalam 2:18-22. Dalam hikmat-Nya, Tuhan memakai hal-hal umum seperti kain dan anggur untuk mengilustrasikan hal-hal yang ajaib. Tuhan berbicara tentang mempelai laki-laki, kain baru, dan anggur baru untuk memperlihatkan kepada kita bagaimana agar kita dapat bersukacita. Kita dapat bersukacita karena kita beserta dengan Mempelai Laki-laki, karena kita memiliki penutup baru untuk mempercantik kita, dan karena kita memiliki anggur baru untuk meme-nuhi kita, memuaskan kita, dan membuat kita bergejolak oleh sukacita. Jadi, dalam peristiwa ketiga kita memiliki sukacita.
Kepuasan
Peristiwa keempat, yang tercatat dalam 2:23-28, adalah tentang Tuhan lebih memperhatikan kelaparan para pengi-kut-Nya daripada peraturan agama. Markus 2:23-24 menga-takan, “Pada suatu hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Lalu kata orang-orang Farisi kepada-Nya, ‘Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diper-bolehkan pada hari Sabat?’” Di sini kita nampak bahwa Hamba-Penyelamat lebih memperhatikan kelaparan para pengikut-Nya daripada peraturan agama. Sebagai orang yang mengikuti Hamba-Penyelamat, kita tidak lapar lagi. Seba-liknya, kita dikenyangkan dan dipuaskan. Karena kita di-puaskan, kita dapat bersaksi, “Kami tidak mau memelihara peraturan agama dan tetap lapar. Peraturan agama selalu membuat kami lapar. Tetapi sebagai pengikut Hamba-Penyelamat, kami tidak lapar lagi. Setiap hari, termasuk hari Sabat, Ia memberi kami makan. Kini kami kenyang. Kami tidak peduli jika ada orang lain menurut aturan aga-ma mereka menyalahkan kami. Orang lain memperhatikan aturan agama, tetapi kami ingin dikenyangkan di dalam Tuhan.” Jadi, peristiwa ini dapat diringkas dengan kata kepuasan.
Kebebasan
Kata terbaik untuk meringkas peristiwa kelima ten-tang Hamba-Penyelamat lebih memperhatikan pembebasan orang yang menderita daripada ritual agama (3:1-6), adalah “kebebasan”. Dalam peristiwa ini kita nampak bahwa pada hari Sabat, Penyelamat memulihkan tangan seorang laki-laki yang lumpuh. Di sini kita nampak bahwa Ia tidak memperhatikan ritual agama; Ia memperhatikan pembebas-an orang yang menderita. Ia ingin membebaskannya, memerdekakannya. Jadi, dalam peristiwa ini kita dapati kebebasan.
URUTAN SEJARAH YANG SEBENARNYA
Marilah kita mengulangi kelima kata yang dipakai un-tuk menggambarkan kelima peristiwa tersebut: Pengampun-an, kenikmatan, sukacita, kepuasan, dan kebebasan. Beta-pa ajaib urutan yang kita miliki di sini! Bayangkan betapa berbedanya bila pengampunan adalah yang terakhir, bukan-nya yang pertama. Menurut urutan sejarah yang tercatat dalam Injil Markus, mula-mula kita memiliki pengampun-an, kemudian kenikmatan, sukacita, kepuasan, dan kebe-basan. Pengampunan dosa-dosa kita oleh Tuhan selalu meng-hasilkan kenikmatan, sukacita, kepuasan, dan kebebasan. Dari pengalaman kita dapat bersaksi mengenai hal ini.
Peristiwa-peristiwa ini bukanlah diatur oleh Markus untuk menyajikan suatu doktrin. Sebaliknya, peristiwa-pe-ristiwa ini disajikan menurut fakta dan urutan sejarah. Dengan kata lain, semua ini terjadi menurut urutan yang dicatat Markus. Kelima peristiwa tersebut terjadi di bawah kedaulatan Tuhan, sesuai dengan urutan sebenarnya akan kenikmatan atas karunia keselamatan-Nya. Hal pertama dalam urutan ini adalah pengampunan dosa. Dari pengala-man kita akan karunia keselamatan Tuhan, kita dapat ber-saksi, setelah dosa-dosa kita diampuni, kita juga memiliki kenikmatan dan sukacita. Sukacita ini diikuti oleh kepu-asan dan kebebasan. Betapa ajaib!
Ketika kita merenungkan urutan kelima peristiwa ini dalam Injil Markus, sekali lagi kita menyadari bahwa Alkitab sungguh-sungguh adalah firman Allah. Tanpa ins-pirasi Roh Kudus, tidak ada manusia yang bisa menyusun tulisan, seperti yang kita dapati dalam Injil Markus. Saya tidak percaya bahwa Markus berpendidikan tinggi atau me-miliki pengetahuan bahasa Yunani yang sempurna. Yang pasti, bahasa Yunani dalam Injil Markus tidaklah setinggi bahasa Yunani dalam Injil Lukas atau dalam surat-surat Paulus. Walaupun bahasa Yunani dalam Injil Markus tidak disajikan secara istimewa, kelima peristiwa dalam bagian ini diatur dalam urutan yang menakjubkan, urutan yang sepenuhnya sesuai dengan pengalaman kita atas karunia keselamatan Tuhan. Menurut urutan ini, kita memiliki pengampunan, kenikmatan, sukacita, kepuasan, dan kebe-basan.
Ketika mempertimbangkan catatan Markus, kita benarbenar perlu menyembah Tuhan, karena ini sungguh-sungguh bagian dari firman-Nya yang kudus. Ini bukanlah suatu kom-posisi yang ditulis oleh seorang yang pendidikannya terbatas. Tidak, ini adalah hembusan Allah yang berdaulat. Semua tulisan Alkitab, termasuk Injil Markus, adalah hembusan Allah (2 Tim. 3:16). Ini berarti pengisahan dalam Markus 2:1—3:6 adalah hembusan Allah. Untuk mengingat urutan di sini, saya menganjurkan Anda menuliskan kata-kata peng-ampunan, kenikmatan, sukacita, kepuasan, dan kebebasan pada akhir bagian-bagian tersebut dalam Alkitab Anda.
PUASA AGAMAWI
Marilah kita sekarang melihat lebih rinci 2:18-22. Se-telah Tuhan berkata kepada ahli-ahli Taurat bahwa Ia da-tang sebagai Tabib untuk merawat orang sakit, dua kelom-pok murid, murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi, datang kepada-Nya: “Murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus, ‘Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?’” (2:18). Kedua kelompok murid ini mempraktek-kan puasa. Hal ini menunjukkan bahwa jika kita berada di dalam agama, kita perlu berpuasa. Orang-orang yang di da-lam peraturan agama Yahudi adalah hampa dan lapar, tidak memiliki apa-apa yang dapat memuaskan mereka. Menjadi murid di dalam agama jenis apa pun selalu memiliki kesu-litan, rasa lapar, haus, khawatir, dan cemas. Dalam menge-mukakan hal ini saya bukan mengkritik; saya hanya mem-bicarakan kebenaran. Orang-orang yang di dalam peraturan agama Yahudi tentu mempunyai alasan untuk berpuasa. Agama memberi syarat dan tuntutan. Agama menyuruh kita tidak boleh berbuat ini dan tidak boleh berbuat itu. Akan tetapi, tidak membuat kita mampu memenuhi syarat-syaratnya. Karena mereka yang di dalam agama tidak dapat memenuhi syarat-syarat agama mereka, maka mereka perlu berpuasa. Itulah sebabnya, murid-murid Yohanes dan murid-murid orang-orang Farisi berpuasa.
PARA PENGIRING MEMPELAI LAKI-LAKI
Berlawanan dengan murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi yang berpuasa, murid-murid Tuhan penuh dengan sukacita. Bagaimana mereka bisa berpuasa ketika Mempelai Laki-laki, faktor paling penting dari sukacita mereka, ada bersama mereka? Dalam 2:19 Tuhan berkata kepada murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi itu, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa se-mentara mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa.” Di sini Tuhan mengumpamakan murid-murid-Nya sebagai pengi-ring (sahabat, LAI) mempelai laki-laki. Jika mereka ber-puasa ketika Mempelai Laki-laki bersama mereka, mereka akan mempermalukan Dia.
Andaikata Anda adalah pengapit pada suatu pesta per-nikahan. Ketika pesta sedang berlangsung, Anda yang men-jadi pengapit mempelai laki-laki ini berpuasa. Ini akan merupakan suatu penghinaan bagi sang mempelai. Tidak ada mempelai laki-laki yang ingin melihat pengapitnya ber-puasa selama pernikahannya. Sebaliknya, ia ingin melihat pengapitnya bersukacita, berdandan yang pantas, dan menik-mati makanan yang disediakan. Inilah ilustrasi dari perka-taan Tuhan dalam 2:19. Di sini Tuhan seakan-akan berkata kepada murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi, “Untuk apa kalian bertanya, Mengapa murid-murid-Ku tidak berpu-asa? Aku adalah Mempelai Laki-laki, dan mereka semua adalah pengiring-pengiring Mempelai laki-laki, sekelompok pengapit. Matius si pemungut cukai adalah salah seorang pengiring mempelai laki-laki. Mereka tidak dapat berpuasa bila Aku bersama mereka.”
Anda murid Yohanes atau murid orang Farisi, atau sa-lah seorang dari pengiring Mempelai laki-laki, bagian dari “pengapit” korporat Tuhan Yesus? Kita semua hendaknya bersaksi dengan tegas bahwa kita adalah bagian dari penga-pit korporat Tuhan. Semua orang yang dosa-dosanya telah diampuni oleh Tuhan Yesus, telah menjadi pengiring Mem-pelai laki-laki. Dalam Markus 2, kita nampak bahwa para pemungut cukai dan orang-orang dosa pun menjadi pengiring Mempelai laki-laki.
ALLAH PENGAMPUN DAN TABIB
Dalam 2:1-12 kita nampak Allah pengampun sebagai Manusia sejati dalam rupa seorang Hamba. Keilahian ber-ada di dalam keinsanian, dan keinsanian mengandung ke-ilahian. Dia ini, Allah pengampun sebagai Manusia sejati adalah Orang yang ajaib. Di dalam Dia kita nampak kein-dahan kebajikan insani dan kemuliaan atribut ilahi, karena di dalam Dia kita serempak nampak keinsanian dan keila-hian di dalam satu Orang yang lengkap. Peristiwa yang ter-catat dalam 2:1-12 melukiskan Orang ini, Dia adalah Allah yang sejati juga manusia yang sejati. Inilah gambaran yang indah dari Tuhan dalam kebajikan insani-Nya dan atribut ilahi-Nya!
Dalam peristiwa yang kedua (2:13-17) kita nampak Dia yang sama ini sebagai Tabib yang merawat orang-orang yang sakit. Di sini pasien-pasien-Nya digambarkan sedang makan bersama-Nya. Ayat 15 mengatakan, “Kemudian ke-tika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia.” Ketika mereka mengelilingi meja bersama Tuhan, me-reka memiliki kenikmatan yang menakjubkan bersama-Nya. Ketika ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat bahwa Tuhan makan bersama orang-orang dosa dan para pemungut cukai, mereka berkata kepada murid-murid-Nya, “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (ayat 16). Ketika Tuhan mendengar ini, Ia berka-ta kepada ahli-ahli Taurat itu, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (ayat 17). Di sini Tuhan seolah-olah berkata kepada ahli-ahli Taurat itu, “Aku adalah Tabib Agung yang merawat pasien-pasien-Ku. Mereka telah disembuhkan, dan sekarang mereka berbahagia menikmati santapan bersama Aku.”
KAIN BARU, ANGGUR BARU,
DAN KANTONG ANGGUR BARU
Sebagaimana telah saya tunjukkan, setelah peristiwa Tuhan makan bersama para pemungut cukai dan orang do-sa, murid-murid Yohanes, agamawan masa kini, dan murid-murid orang Farisi, agamawan zaman dulu bertanya kepada Tuhan mengapa murid-murid-Nya tidak berpuasa. Tampaknya, mereka menghendaki murid-murid Tuhan berpuasa seperti mereka. Bagi mereka perlu sekali berpuasa karena mereka menganggap bahwa Mesias dan kerajaan itu belum datang. Karena mereka masih menunggu kedatangan Mesias dan kerajaan, maka mereka berpuasa.
Tuhan tidak secara langsung menjawab murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi itu, melainkan dengan kata-kata kiasan. Dalam jawaban-Nya Tuhan mengumpamakan diri-Nya sebagai Mempelai Laki-laki, juga berbicara tentang kain baru dan anggur baru. Tuhan seakan-akan berkata, “Mengapa murid-murid-Ku harus berpuasa bila mereka me-miliki segala sesuatu yang membuat mereka bersukacita? Mereka memiliki Aku sebagai Mempelai Laki-laki, dan me-reka memiliki Aku sebagai kebenaran, kain baru mereka, dan juga memiliki Aku sebagai hayat mereka, anggur baru mereka. Aku adalah segala sesuatu yang mereka perlukan. Aku adalah Allah dan manusia, Aku adalah Tabib dan Mem-pelai Laki-laki, orang yang paling menyenangkan. Sangat janggal bila murid-murid-Ku berpuasa ketika mereka me-miliki Aku. Akulah jubah yang menutupi mereka dan mem-percantik mereka, dan hayat-Ku adalah anggur sejati yang memenuhi mereka, mengobarkan mereka, dan memuaskan mereka. Mereka seharusnya tidak berpuasa, sebaliknya ha-rus penuh sukacita. Engkau menyuruh mereka berpuasa. Tetapi Aku berkata kepadamu, mereka tidak mungkin berpuasa, karena Mempelai Laki-laki ada bersama mereka, kain baru ada pada mereka, dan anggur baru ada di dalam mereka.” Betapa hikmat dan mengagumkan jawaban Tuhan yang menyangkut Mempelai Laki-laki, kain, dan anggur!
Mungkin kita perlu mengadakan sidang penginjilan dan memberi tahu orang bahwa Yesus Kristus hari ini adalah Mempelai Laki-laki; lagi pula sebagai kebenaran kita Ia adalah kain untuk menutupi ketelanjangan kita dan mem-percantik kita; dan hayat ilahi-Nya adalah anggur untuk kita minum sebagai kepuasan kita. Ini adalah Injil yang riil — Persona hidup dengan kebenaran dan hayat. Hale-luya, kita memiliki Mempelai Laki-laki, dan secara luaran kita memiliki Dia sebagai kebenaran dan secara batiniah kita memiliki Dia sebagai hayat kita!
Dalam 2:21 Tuhan berbicara tentang kain yang belum susut. Kata Yunani yang diterjemahkan “belum susut” juga berarti baru, mentah, belum digarap. Kata Yunaninya ada-lah agnaphos, terdiri dari a yang berarti belum, dan gnapto, yang berarti menyusun atau menyisir wol, jadi mempersi-apkan atau menenun kain. Jadi, kata ini berarti belum ter-susun, belum ditenun, belum selesai, belum diapa-apakan. Kain yang belum susut ini melambangkan Kristus, dari inkarnasi-Nya hingga penyaliban-Nya, sebagai sehelai kain baru, belum terjamah, belum terselesaikan. Jubah baru dalam Lukas 5:36 melambangkan Kristus setelah digarap dalam penyaliban-Nya, sebagai jubah baru. Dalam Markus 2:21 kata Yunani untuk baru adalah kainos. Mula-mula Kristus adalah kain yang belum susut untuk dijadikan baju baru, dan kemudian melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Ia dijadikan baju baru untuk menutupi kita sebagai kebe-naran kita di hadapan Allah agar kita dibenarkan oleh Allah dan diperkenan oleh-Nya (Luk. 15:22; Gal. 3:27; 1 Kor. 1:30; Flp. 3:9).
Di sini baju lama melambangkan perilaku baik manusia, perbuatan-perbuatan baik, dan praktek-praktek agama bersandarkan hayat alamiah, hayat ciptaan lama. Jika kain penambal yang terbuat dari kain yang belum susut dija-hitkan pada baju yang usang, kain penambal itu akan men-cabiknya, yang baru mencabik yang usang, dan makin pa-rahlah robeknya. Meniru apa yang diperbuat Tuhan Yesus dalam kehidupan insani-Nya di bumi bisa disamakan dengan menambalkan kain yang belum susut pada baju usang. Be-berapa orang mencoba meniru perbuatan-perbuatan insani Tuhan Yesus untuk memperbaiki perilaku mereka, tetapi tidak percaya kepada Yesus yang tersalib sebagai Penebus mereka, juga tidak percaya Kristus yang telah bangkit itu sebagai kebenaran mereka, agar mereka bisa dibenarkan oleh Allah dan diperkenan oleh Allah. Kita harus menerima Kristus yang tersalib dan yang telah bangkit itu sebagai baju baru kita, sebagai kebenaran kita untuk menutupi kita di hadapan Allah. Kita tidak seharusnya mencoba memperbaiki perilaku kita melalui meniru perbuatan-perbuatan insani Tuhan.
Dalam 2:22 Tuhan Yesus berkata, “Demikian juga ti-dak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kan-tong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantong-nya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendak-nya disimpan dalam kantong yang baru pula.” Kata Yunani untuk “baru” dalam ayat ini adalah neos, yang berarti baru dalam waktu, baru-baru ini, baru dimiliki. Anggur yang ba-ru di sini melambangkan Kristus sebagai hayat baru, penuh dengan semangat, merangsang orang sehingga bergairah. Hamba-Penyelamat bukan hanya Mempelai Laki-laki untuk kenikmatan kita, juga baju baru kita untuk memperleng-kapi kita secara luaran, agar kita memenuhi syarat untuk menghadiri pesta pernikahan. Selanjutnya, Dia juga adalah hayat baru kita, secara batiniah menyukakan kita untuk menikmati Dia sebagai Mempelai Laki-laki. Untuk menik-mati Dia sebagai Mempelai Laki-laki, kita perlu Dia di luar kita sebagai baju baru, dan di dalam kita sebagai anggur baru.
Kantong kulit tua dalam 2:22 melambangkan praktek-praktek agama, seperti berpuasa yang dilakukan oleh orang-orang Farisi dari agama usang dan oleh murid-murid Yohanes dari agama baru. Semua agama adalah kantong kulit yang tua. Anggur baru yang ditaruh ke dalam kantong kulit tua akan mengoyakkan kantong kulit itu dengan kekuatan pe-ragiannya. Menaruh anggur baru ke dalam kantong kulit yang tua berarti menaruh Kristus sebagai hayat yang meng-gairahkan ke dalam agama jenis apa pun. Janganlah men-coba menaruh Kristus ke dalam berbagai ritual dan forma-litas agama, tetapi taruhlah anggur baru ke dalam kantong kulit yang baru.
Kata Yunani untuk “baru” di sini adalah kainos yang berarti baru dalam sifat, kualitas, atau bentuk; tidak ter-biasa, belum pernah dipakai; jadi masih baru sama sekali. Kantong kulit yang baru melambangkan hidup gereja dalam gereja lokal sebagai wadah bagi anggur baru, yaitu Kristus sendiri sebagai hayat yang menggairahkan. Sebagai orang-orang yang percaya Tuhan, kita adalah orang-orang yang di-lahirkan kembali yang menyusun Tubuh Kristus dan men-jadi gereja (Rm. 12:5; Ef. 1:22-23). Tubuh Kristus sebagai kepenuhan-Nya juga disebut “Kristus” (1 Kor. 12:12), meng-acu kepada Kristus yang korporat. Kristus yang individual adalah anggur yang baru, hayat yang menggairahkan di batin, dan Kristus yang korporat adalah kantong kulit yang baru, wadah luaran yang menampung anggur baru. Yang ki-ta miliki hari ini bukanlah puasa atau praktek agama yang lain, melainkan hidup gereja dengan Kristus sebagai isinya. Kita memiliki Dia, Persona yang hidup, sebagai Tabib, Mempelai Laki-laki, kain yang belum susut, dan anggur baru kita. Dia adalah kenikmatan penuh kita sehingga kita bisa menjadi kantong kulit yang baru, Tubuh-Nya, gereja, untuk menampung Dia.