GEREJA DI LAODIKIA
Pembacaan Alkitab: Why. 3:14 - 21
Gereja di Laodikia
Kini kita akan membahas gereja yang terakhir. Di depan kita telah melihat gereja Roma Katolik, gereja Protestan, dan pergerakan persaudaraan. Di antara mereka, yang dipilih oleh Allah adalah pergerakan persaudaraan. Tiatira telah gagal total. Sardis, walaupun lebih baik daripada Tiatira, tetapi masih dicela oleh Tuhan. Hanya Filadelfia, satu-satunya yang sedikit pun tidak dicela, dan janji Tuhan ada dalam Filadelfia. (Hanya di dalam Filadelfia juga ada panggilan bagi para pemenang). Kalau kita sebagai penulis, kita akan berhenti sampai di Filadelfia, tidak meneruskannya lagi. Namun di dalam ketujuh gereja ini, Tuhan menubuatkan kepada kita keadaan gereja, karenanya perlu berjalan selangkah lagi menuju ke Laodikia, yakni yang sangat dikenal oleh kita semua.
Jika Anda bertanya, Laodikia itu sebenarnya ditujukan kepada gereja mana? Banyak orang yang tidak dapat menjawabnya. Banyak anak Allah tidak jelas tentang Laodikia; ada orang ingin mendapatkan pelajaran pribadi darinya, ada juga yang menilainya sebagai keadaan kegersangan gereja pada umumnya. Namun di sini Tuhan mengatakan perkataan nubuat.
Seperti halnya dengan gereja lain, nama Laodikia ini juga mengandung arti khusus. Nama tersebut terdiri dari dua kata, “lao” berarti “awam atau orang biasa”, “dikia” boleh berarti “adat istiadat” boleh juga berarti “opini/pendapat”. Jadi “Laodikia” berarti “adat istiadat orang awam atau opini orang biasa”. Di sini kita dengan jelas nampak satu arti, yakni gereja telah gagal. Sekarang gereja hanya merupakan opini atau kebiasaan orang awam. Kalau dalam Filadelfia Anda nampak persaudaraan dan kasih sesama saudara, maka di sini yang nampak tidak lain adalah orang awam, opini, dan kebiasaan belaka.
Ada satu hal yang harus Anda ingat: Kalau anak-anak Allah tidak berdiri di atas kedudukan Filadelfia, mereka jatuh dan gagal, mereka tidak akan kembali ke Sardis. Seseorang yang telah nampak kebenaran saudara, ia tidak mungkin kembali ke Protestan, sekalipun ia ingin kembali ke sana. Akhirnya, karena ia tidak dapat berdiri teguh di dalam Filadelfia, maka dari Filadelfia ia mengevolusi menjadi Laodikia. Yang keluar dari gereja Roma Katolik adalah Protestan, yang keluar dari Protestan adalah persaudaraan, dan yang keluar dari persaudaraan adalah Laodikia. Sardis keluar dari Tiatira; Filadelfia keluar dari Sardis, begitu pula, Laodikia keluar dari Filadelfia.
Hari ini, anak-anak Allah mempunyai satu kesalahan, yaitu ketika mereka melihat keadaan satu denominasi tidak beres, mereka lalu mengatakannya sebagai Laodikia. Ini salah. Satu denominasi yang tidak beres itu adalah Sardis, bukan Laodikia. Setiap denominasi adalah agama Protestan. Denominasi tidak bersyarat untuk menjadi Laodikia. Hanya Filadelfia yang gagal barulah bisa menjadi Laodikia. Keadaan Laodikia bukanlah keadaan Sardis. Yang pernah mengecap kenikmatan dan yang sekarang telah merosot itulah Laodikia. Tetapi yang asalnya memang tidak seberapa banyak, itu adalah Sardis. Yang tidak memegang teguh kekayaan rohani di dalam Roh Kudus, itulah yang akan menjadi Laodikia.
Lalu, kejatuhan ini adalah kejatuhan yang bagaimana? Mulai dari Efesus, telah kita lihat adanya keabnormalan di dalam kenormalan. Di Pergamus kita lihat adanya ajaran Bileam. Di Tiatira terlihat adanya Izebel, di sinilah kelas mediator berakar. Sardis memberikan kepada kita Alkitab yang terbuka, namun Sardis sendiri menciptakan kelas mediator yang lain. Di Filadelfia kita hanya melihat saudara, dan di sana kelas yang mengatasi kaum awam telah lenyap. Orang kembali kepada firman Tuhan dan mematuhi apa yang dikatakan dalam firman melalui Roh Kudus. Tetapi pada suatu hari, karena mereka tidak memegang pendirian saudara yang menerima tata tertib Roh Kudus, dan karena dari posisi saudara merosot ke posisi kaum awam, maka muncullah Laodikia.
Di Sardis, kekuasaan (otoritas) ada di tangan sistem kependetaan; di Filadelfia, otoritas ada dalam tangan Roh Kudus; Roh Kudus berkuasa demi firman dan nama, dan semua saudara saling mengasihi. Sekarang yang berkuasa bukan Roh Kudus, pun bukan sistem kependetaan, melainkan kaum awam. Apakah artinya kaum awam berkuasa? Itu berarti banyak orang yang berkuasa. Pendapat kebanyakan orang, itulah pendapat yang dibenarkan. Persetujuan mayoritas itulah yang harus dibenarkan. Itulah Laodikia. Dengan perkataan lain, bukan pastor yang mengatur mereka, bukan pendeta dan bukan pula Roh Kudus yang mengatur mereka, melainkan pendapat mayoritas dari antara mereka, itulah yang menguasai mereka. Di sini bukan saudara, melainkan manusia. Laodikia tidak berdiri di atas kedudukan saudara, tetapi manusia yang ada di sini dan yang bersandar kepada kemauan daging; kalau setiap orang mengacungkan tangannya, sudahlah beres. Kita harus memahami kehendak Allah, dan melihat Filadelfia di dalam kehendak Allah. Kapan kasih persaudaraan itu lenyap, dan yang ada hanya opini dan pendapat daging manusia, di sanalah Anda akan menjumpai Laodikia.
Di sini Tuhan menyebut diri-Nya sebagai “Amin, Saksi yang setia dan benar, sumber dari ciptaan Allah.” Tuhan itulah Amin. Amin berarti “benar”, atau “ya, jadilah begitu”. Maka segalanya akan dijadikan atau digenapkan. Segala sesuatu yang dari Allah akan digenapkan-Nya, satu pun tidak ada yang nihil. Ketika Tuhan Yesus hidup di bumi, Dia bersaksi untuk pekerjaan Allah. Dan di antara banyak orang dan benda yang diciptakan Allah, Dia adalah kepalanya.
“Aku tahu segala pekerjaanmu: Engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” Kalau Sardis dikatakan hidup, padahal mati; maka Laodikia dikatakan tidak dingin dan tidak panas. Kalau terhadap Efesus Tuhan berkata, “Aku akan mengambil kaki pelitamu dari tempatnya”, tetapi terhadap Laodikia Tuhan berkata, “Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” Tuhan tidak memakai mereka lagi, mereka bukan lagi yang amin. Persoalannya ialah karena mereka suam-suam kuku, penuh dengan pengetahuan, namun kekurangan kekuatan. Ketika panas, mereka itulah Filadelfia, tetapi kini mereka menjadi lebih dingin daripada sebelumnya. Begitu Filadelfia jatuh, ia segera menjadi Laodikia. Hanya orang-orang Filadelfialah yang dapat merosot ke dalam keadaan yang sedemikian.
“Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa.” Seperti telah saya katakan di depan bahwa pergerakan persaudaraan lebih besar artinya daripada pergerakan Reformasi. Kalau reformasi hanya bersifat kuantitas, maka pergerakan persaudaraan bersifat kualitas, yakni yang telah memulihkan mutu asasi kekristenan. Kekuatan itu sungguh amat besar. Karena saudara-saudara ini lebih kuat daripada orang lain, baik dalam hal kelakuan maupun kebenaran — bahkan seorang jurumasak di antara meraka tahu lebih banyak daripada pendeta-pendeta Protestan — maka akhirnya mereka menjadi sombong. “Kalian tidak mahir, kamilah yang mahir”, begitulah sikap mereka. Tidak ada satu pun yang mahir di antara Protestan. Pendeta Scofield yang terkenal pun harus datang kepada “Kaum Saudara” untuk menerima pengajaran. Gipsy Smith, yang juga sangat terkenal, ia pun harus menerima bantuan dari mereka, dan khotbahnya adalah mengambil bahan-bahan dari mereka. Ya, seluruh pekerja, pelajar, penginjil, dan kaum beriman di dunia ini, semua harus menerima bantuan dan terang Alkitab dari mereka. Lebih-lebih bantuan yang diterima dari buku-buku karangan mereka. Banyak orang mengakui dalam hati bahwa dalam dunia tidak ada golongan lain yang bisa mengajar Alkitab sebaik mereka.
Hasilnya, di antara mereka ada yang menjadi sombong. Mereka sampai berkata, “Murid-murid kami adalah guru-guru bagi orang lain.” Walaupun mereka banyak ditentang orang, tetapi di antara mereka ada yang mengaku dirinya sebagai pahlawan. Akibat yang paling menonjol ialah di antara mereka ada yang merasa puas terhadap diri sendiri. Memang ada beberapa saudara sangat menaruh kasih persaudaraan dan mencari kebaikan orang lain, tetapi ada juga yang hanya memiliki pengetahuan saja, sehingga meninggikan diri sendiri. Tuhan memperlihatkan kepada kita bahwa Filadelfia yang sombong itulah Laodikia, Laodikia adalah Filadelfia yang sudah merosot. Dan akhirnya di banyak tempat, dalam sidang-sidang mereka, timbul kesulitan-kesulitan atas perbuatan maupun pengajaran. Ciri-ciri Laodikia ialah kesombongan rohani. Hal ini dalam aspek sejarah telah Tuhan genapkan bagi kita.
Hari ini kita dapat menjumpai Filadelfia, juga bisa menemukan Laodikia. Pada kedudukannya, kedua gereja itu sangat mirip. Yang berbeda ialah kalau Filadelfia mempunyai kasih, sedang Laodikia mempunyai kesombongan. Secara lahiriah mereka berdua tidak berbeda; kalau ada perbedaan itu adalah: Laodikia adalah Filadelfia yang sombong. Saya tidak ingin mengatakan terlalu banyak tentang mereka. Saya hanya mengemukakan sedikit contoh saja:
Ada saudara di antara mereka berkata, “Adakah suatu perkara rohani yang tidak terdapat di antara kita?” Seorang saudara ketika melihat sebuah majalah baru dari golongan lain segera berkata, “Dapatkah ia memberikan sesuatu yang baru kepada kita? Apakah yang tidak kita miliki?” Dan majalah itu tidak ia baca, melainkan dikembalikan kepada pemiliknya. Seorang saudara berkata, “Tuhan telah memberikan terang yang paling besar, patutlah kita merasa puas; kalau kita membaca tulisan orang lain, itu hanya membuangbuang waktu saja.” Ada lagi seorang berkata, “Ada apakah yang dimiliki orang lain yang tidak kita miliki?” Ada lagi yang berkata, “Yang orang lain miliki, kita pun memiliki; tetapi yang kita miliki, orang lain belum tentu memiliki.” Setelah kita mendengar kata-kata ini, kita segera teringat di sini Tuhan mengatakan tentang pengakuan mereka, yakni “Aku kaya”. Oh, kita harus sangat hati-hati, agar tidak terjerumus menjadi Laodikia!
Di suatu pulau yang indah di Samudera Atlantik, tinggallah beberapa saudara. Suatu kali, datanglah angin topan dan merobohkan banyak rumah penduduk pulau itu; rumahrumah saudara dan tempat sidang pun tidak terkecuali. Dalam beberapa jam setelah musibah itu, “Kaum Saudara” dari seluruh dunia telah mengirimkan bantuan sejumlah 200.000 lebih pound sterling (mata uang Inggris) kepada penduduk pulau tersebut, bantuan ini lebih cepat daripada yang didatangkan oleh pemerintah. Di antara mereka sungguh ada kasih persaudaraan, namun ada juga yang menjadi sombong.
Protestan tidak bersyarat menjadi Laodikia; Sardis mengakui dirinya tidak memiliki apa-apa. Selama dua puluh tahun melayani Tuhan, saya tidak pernah menjumpai satu pun pekerja atau pendeta denominasi yang mengatakan bahwa diri mereka mempunyai sesuatu yang rohani. Mereka sering mengatakan diri mereka tidak cukup. Protestan yang gagal dan lemah itulah Sardis, bukan Laodikia. Hanya Laodikialah yang bisa menyombongkan kerohanian mereka, dan itulah ciri-ciri mereka.
Gereja Protestan banyak dosanya, tetapi kesombongan rohani bukan dosa mereka yang istimewa. Hanya “Kaum Saudara” yang merosot baru berani berkata, “Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa.” Hanya Filadelfia yang jatuh baru dapat berubah menjadi Laodikia. Sardis menyadari diri mereka tidak memiliki kekayaan rohani. Mereka sering berkata, “Di antara kami tidak banyak yang bergairah, anggota kami yang bergairah semua telah pergi.” Kekayaan adalah keadaan Filadelfia, sedang menyombongkan kekayaan itulah tanda Laodikia. Hanya Laodikia yang dapat menyombongkan diri. Seorang yang meninggalkan kedudukan Filadelfia tidak mungkin kembali lagi ke dalam Sardis. Menyuruh seorang saudara kembali ke Protestan hal itu tidaklah mungkin, ia hanya mungkin melangkah lagi menjadi Laodikia. Laodikia pun bukan mengikuti garis ortodoksi para rasul, melainkan telah melampaui garis lurus rasul itu. Mereka hanya memiliki pengetahuan tanpa hayat, merasa puas diri dan meninggikan diri sendiri.
“Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang.” Ya, mereka sungguhsungguh telah berkata demikian, “Aku kaya, aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa!” Mereka benar-benar hebat di hadapan Allah. Mereka cukup beralasan untuk menyombongkan diri. Kita mengakui bahwa mereka memiliki banyak hal yang patut dibanggakan. Namun itu paling baik dirasakan oleh orang lain, jangan dirasakan oleh diri sendiri; biar orang lain yang mengetahui, tidak perlu diketahui oleh diri sendiri. Kalau orang lain yang mengatakan, baiklah; tetapi kalau diri sendiri yang mengatakan, itu tidak baik. Perkara rohani tidak boleh dibanggakan. Lain dengan perkara duniawi, jika Anda menyombongkan diri sendiri kaya, harta kekayaan Anda tidak akan terbang, angkanya pun tidak mungkin berkurang. Tetapi bila Anda menyombongkan kerohanian Anda, kerohanian Anda akan segera kabur. Bila seorang menyombongkan dirinya perkasa dalam rohaninya, keperkasaannya pasti segera lenyap.
Suatu saat, wajah Musa bercahaya, namun Musa sendiri tidak tahu bahwa wajahnya bercahaya. Setiap orang yang mengetahui wajahnya sendiri bersinar, pasti sinarnya itu segera lenyap. Kalau Anda tidak tahu diri sendiri beroleh kemajuan, Anda adalah orang yang berbahagia. Banyak orang yang memahami diri sendiri terlampau jelas, itulah yang menyebabkannya kehilangan semuanya. Anda boleh memiliki kekuasaan, namun jangan mengetahui diri Anda memiliki kekuasaan. “Kaum Saudara” menilai diri sendiri terlalu jelas, dan apa yang mereka miliki terlalu banyak, sehingga akhirnya menjadi buta, malang, miskin, dan telanjang. Karena itu hendaklah kita di sini menerima satu pelajaran. Laodikia terlampau jelas terhadap kekayaan diri sendiri. Kita mengharap bahwa kita akan bertumbuh besar, namun kita sendiri tidak mengetahuinya.
Firman Tuhan, “Engkau melarat”. Istilah “melarat” di sini sama dengan “celaka” dalam Roma 7, yang dipakai oleh Rasul Paulus. Di sini Tuhan berkata kepada Laodikia, engkau serupa dengan Paulus dalam Roma 7, yakni celaka dalam kerohanian, engkau memalukan, tidak mirip dengan yang ini, pun tidak mirip dengan yang itu, dan di mata Tuhan engkau sangat kasihan sekali. Pada kata-kata selanjutnya Tuhan menunjukkan tiga alasan mengapa ia celaka: miskin, buta, dan telanjang.
Mengenai kemiskinan, Tuhan berkata kepada mereka, “Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari Aku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya.” Walaupun mereka kaya dalam doktrin, tetapi Tuhan melihat mereka tetap miskin. Mereka wajib memiliki iman yang hidup, jika tidak, firman Allah tidak berguna bagi mereka. Kegagalan dan keburukan mereka ialah karena iman mereka telah lenyap. Petrus mengatakan bahwa emas yang dimurnikan dalam api adalah iman yang mengalami ujian (1 Ptr. 1:7). Pada hari-hari di mana firman itu langka, Anda harus berdoa. Dan pada saat firman melimpah, Anda harus beriman untuk berbaur dengan firman yang Anda dengar itu. Anda perlu mengalami berbagai pengujian, agar firman-firman yang Anda dengar itu ada manfaatnya yang nyata. Karena itu, Anda harus membeli emas yang dimurnikan dalam api. Anda harus belajar percaya, sekalipun dalam kesulitan, dengan itu barulah Anda dapat benar-benar kaya.
Tuhan berkata lagi, “Dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan.” Telah kita katakan bahwa “pakaian putih” berarti perbuatan atau kelakuan kaum beriman. Pakaian putih di sini sama artinya dengan pakaian putih yang ditampilkan dalam beberapa tempat dalam Kitab Wahyu. Maksud Allah ialah agar mereka tidak bernoda, seperti pakaian yang putih bersih. Allah menghendaki mereka senantiasa berjalan di hadapan-Nya. Telanjang di hadapan Allah adalah suatu hal yang tidak patut. Dalam Perjanjian Lama orang tidak mungkin dapat menghadap Allah tanpa berpakaian; para imam yang datang kepada mezbah tidak boleh kelihatan tubuh bagian bawahnya. Dua Korintus 5:3 memperlihatkan kepada kita, “Sebab dengan demikian kita berpakaian dan tidak kedapatan telanjang.”
Masalahnya sekarang, bukan ada tidaknya pakaian yang dipakai, melainkan putih atau tidak pakaian itu. Tuhan Yesus berkata, “Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya” (Mat. 10:42). Inilah pakaian putih. Kita boleh menjamu orang dengan pesta besar, namun itu belum tentu menjadi “putih”. Bila hal itu kita lakukan sekadar untuk mempertahankan kemuliaan kelompok kita, itu tidak terhitung; jika itu muncul dari motivasi yang lebih rendah, itu lebih tidak terhitung. Itu tidak cukup bersih. Tuhan menghendaki kita memiliki satu tujuan yang bersih, memiliki motivasi yang bersih, untuk bekerja bagi-Nya. Ada banyak aktivitas dan ada banyak motivasi yang begitu Anda jamah, segera terasa di dalamnya mengandung banyak kekotoran; semua itu tidak putih. “Agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan.” Supaya ketika kamu berjalan di hadapan Allah tidak dipermalukan.
Perkara ketiga ialah, “Dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.” Di sini dikatakan “minyak” bukan “tablet” (obat). Membeli minyak untuk melumas matamu, ini adalah wahyu Roh Kudus. Anda perlu wahyu Roh Kudus, baru Anda terhitung sudah melihat. Terhadap doktrin sangat paham, tetapi malah kekurangan wahyu Roh Kudus.
Sering kali, ajaran/doktrin merupakan perpindahan pikiran dari seseorang kepada seorang lainnya, namun mata rohaninya tetap tidak melihat. Banyak orang yang berjalan di bawah terang orang lain. Banyak saudara senior berkata demikian, maka Anda berbuat demikian. Hari ini Anda berkata, “Si Anu memberi tahu aku demikian”; jika si Anu tidak memberi tahu kepada Anda, Anda tidak tahu harus bagaimana. Anda menerima doktrin dari pengajaran manusia, bukan mendapatkan dari Tuhan. Tuhan mengatakan bahwa itu tidak berguna; Anda harus memiliki wahyu dari Roh Kudus.
Saya tidak dapat menulis surat kepada teman saya dan menyuruhnya mewakili saya mendengar Injil hingga beroleh selamat. Begitu pula, suatu benda yang diterima dari tangan orang lain, ketika sampai di atas diri sendiri, itu sudah habis, tidak ada hubungannya dengan Allah. Menurut Alkitab, itulah yang disebut buta. Kecuali Anda menjamah Roh Kudus, Anda tidak mungkin menjamah perkara rohani. Itu bukan masalah berapa kali Anda sudah mendengar. Sering kali hanya doktrin yang bertambah, hanya pengetahuan yang bertambah, tetapi di hadapan Allah tidak melihat apa-apa. Karena itu, kita harus belajar satu perkara di hadapan Allah, yaitu membeli minyak untuk mata. Hanya yang saya lihat sendiri, itu baru berarti melihat. Melihat itulah dasar dari apa yang telah saya peroleh, dan dasar untuk melihat lagi.
“Siapa yang Kukasihi, ia Kutegur dan Kuhajar; sebab itu, bersungguh-sungguh dan bertobatlah!” Perkataan di atas, semuanya adalah teguran. Namun Tuhan menunjukkan kepada kita, karena Dia mengasihi kita, maka Dia menegur dan menghajar kita. Kalau begitu, kalian wajib menggairahkan hati. Apakah yang harus kalian lakukan? Bertobat. Pertama, harus bertobat. Bertobat bukan hanya urusan individu, gereja pun harus bertobat.
“Lihat, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk menemui dia dan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” Perkataan ini mengandung banyak arti. Pintu apakah yang dikatakan di sini? Banyak orang menggunakan ayat ini untuk memberitakan Injil. Ayat ini memang boleh saja dipinjam untuk memberitakan Injil. Ayat ini memang boleh kita pinjam untuk orang dosa, tetapi tidak bisa dipinjam terlalu lama tanpa dikembalikan. Ayat ini ditujukan kepada anak-anak Allah, maka kalimat ini bukan berarti Tuhan mengetuk pintu hati orang berdosa. Pintu ini adalah pintu hati gereja. Sebab pintu di sini dalam bentuk tunggal, maka ini Tuhan tujukan kepada gereja. Istimewa sekali, Tuhan adalah Kepala gereja, atau kita katakan Dialah permulaan gereja. Tetapi di sini Dia malah berdiri di luar gereja! “Lihatlah, Aku berdiri di depan pintu!” Ini sungguh merupakan suatu perkara yang gawat sekali. Tuhan berdiri di depan pintu gereja, gereja macam apakah yang demikian itu?
Tuhan berkata, “Lihat!” Kata ini Tuhan tujukan kepada seluruh gereja. Pintu ini adalah pintu hati gereja. “Jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu.” Kata “jikalau ada orang”, menunjukkan bahwa masalah membukakan pintu adalah masalah pribadi. Anda harus tahu, dalam Alkitab, kebenaran mempunyai dua garis. Yang satu adalah garis Roh Kudus, lainnya adalah garis Kristus. Yang satu subyektif, lainnya obyektif; yang satu adalah pengalaman, lainnya adalah kepercayaan.
Bila ada orang terlalu mementingkan kebenaran yang obyektif, Anda akan nampak bahwa ia seolah terbang di awang-awang, tanpa realitas; dan bila ia selalu berdiri di pihak subyektif, selalu mementingkan pekerjaan Roh Kudus dalam batinnya, ia akan terus memandang ke dalam diri, tanpa merasa puas. Karena itu setiap orang yang menuntut di hadapan Allah, perlu memiliki kedua kebenaran tersebut barulah baik. Yang satu memperlihatkan kepada kita bahwa kita telah sempurna di dalam Kristus; dan yang lain memperlihatkan kepada kita bahwa Roh Kudus bekerja di dalam kita agar digarap menjadi sempurna.
Kegagalan “Kaum Saudara” yang terbesar ialah terlalu mementingkan kebenaran yang obyektif dan mengabaikan kebenaran yang subyektif. Kegagalan Filadelfia membuatnya menjadi Laodikia. Kegagalannya dikarenakan terlalu banyak kebenaran yang subyektif. Ini bukan berarti di antara mereka sama sekali tidak ada pekerjaan Roh Kudus yang di dalam itu. Namun pada umumnya, mereka terlalu banyak obyektifnya, terlalu sedikit subyektifnya. Jika Anda membukakan pintu, maka “Aku akan masuk menemui dia.” Ini berarti yang obyektif akan menjadi subyektif, yaitu: Dia akan merubah semua yang ada pada Anda, dari obyektif menjadi subyektif.
Dalam Yohanes 15, dapat Anda lihat dua aspek: Tuhan mengatakan, “Kamu tinggal di dalam-Ku, Aku pun tinggal di dalam kamu.” “Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” Di sini Tuhan berkata, jika Anda membuka pintu, Aku akan makan bersama-sama dengan Anda. Inilah persekutuan, inilah sukacita. Dengan demikian kita akan memiliki persekutuan yang mesra dengan Tuhan, dan mendapatkan sukacita dari persekutuan itu.
“Siapa yang menang, ia akan Kududukkan bersamasama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama Bapa-Ku di atas takhta-Nya.”
Di antara janji-janji yang diberikan kepada para pemenang ketujuh gereja, banyak orang mengatakan, inilah yang terbaik. Walaupun ada yang menyukai janji-janji lainnya bagi pemenang, tetapi banyak orang berkata kepada saya bahwa janji Tuhan kepada Laodikia adalah yang terbaik. Dalam janji-janji pemenang terdahulu, Tuhan tidak mengatakan apa-apa tentang diri-Nya sendiri. Akan tetapi di sini Tuhan berkata, “Jika engkau menang, engkau akan duduk bersama-sama dengan Aku. Aku pernah mengalami bermacam-macam kemenangan, kemudian baru Aku duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya. Kamu pun harus menang, baru dapat duduk bersama-sama dengan-Ku di atas takhta-Ku.”
Di sini pemenang menerima janji yang sangat tinggi. Mengapa? Sebab sampai saat ini gereja telah berakhir. Para pemenang tinggal menunggu kedatangan Tuhan Yesus. Maka di sini terdapat takhta.