← Daftar isi Ortodoksi Gereja · bab 9/9

KESIMPULAN

Dalam Perjanjian Lama terdapat nubuat yang sangat jelas tentang Yehuda. (Nubuat tentang Israel tidak ada. Israel pada zaman Yerobeam telah mendurhakai Allah, dan kerajaan ini lebih dulu musnah. Ini membuktikan bahwa Allah tidak berkenan akan Israel dan Allah membuang mereka. Karena itu tidak ada nubuat tentang Israel). Nubuat Yehuda berlangsung terus sampai kepada diri Tuhan Yesus, hal ini dapat kita lihat dalam silsilah di Injil Matius 1. Dalam Perjanjian Lama, banyak nabi yang pekerjaannya tidak ada tujuan lain kecuali untuk memperlihatkan kepada kita apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang.

Misalnya Daniel, ia menubuatkan bagaimana keadaan bangsa-bangsa kelak. Yehuda akan dihancurkan. Setelah penghancuran itu, dalam kurun waktu 2.500 tahun, bangsabangsa atau negara-negara kafir akan bangkit satu per satu, hingga masa kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Maka nubuat-nubuat terkenal seperti Daniel 2, 7, 9, dan 11, merupakan nubuat yang sangat mendetail tentang bangsabangsa kafir, dalam rencana Allah masih pula terdapat gereja Allah. Di manakah nubuat mengenai gereja Allah?

Ketika kita membaca ketujuh surat rasuli pertama (Surat Kiriman Paulus) tidak ada nubuat. Dalam Matius 13 terlihat ada sedikit nubuat, namun kurang mendetail dan kurang jelas tertuju kepada gereja, sebab itu tertuju kepada penampilan luar dari Kerajaan Surga. Maka boleh kita katakan, hanya pada Wahyu 2 dan 3, yakni ketujuh surat terakhir ini, memberi kita nubuat tentang gereja.

Di depan telah kita bahas secara singkat, dan kita pun telah melihat bahwa satu per satu, semuanya telah digenapkan. Kita telah melihat nubuat yang diberikan Tuhan kepada kita, dan kegenapannya yang diberikan oleh sejarah. Kita bersyukur kepada Allah, semua nubuat telah tergenapi; sehingga sangat lebih mudah bagi kita untuk membaca ketujuh surat kiriman itu berdasarkan apa yang telah tergenapi.

Melalui ketujuh surat kiriman ini, Tuhan ingin memberi petunjuk kepada kita untuk menjadi pemenang. Tuhan khusus mengatakan kepada kita apa yang wajib kita perbuat agar kita bisa menjadi pemenang. Maka demi kegenapan surat kiriman ini, Dia telah menunjukkan kepada kita bagaimana caranya untuk menjadi pemenang di bumi ini. Karena itu, hal ini berkaitan dengan jalan yang kita (masing-masing) tempuh.

Bila kita membaca ketujuh surat ini bersama-sama, kita lihat bahwa setiap surat terbagi dalam empat bagian. Dari surat pertama hingga surat yang terakhir semua sama. Pertama ada nama Tuhan sendiri, lalu ada keadaan gereja, kemudian ada pahala bagi pemenang, dan akhirnya ada panggilan kepada mereka yang bertelinga. Dalam tiap surat, Tuhan memperlihatkan kepada kita siapakah Dia, bagaimana situasi gereja, para pemenang akan beroleh pahala apa, dan menyuruh siapa saja yang bertelinga haruslah ia mendengarkan. Dalam tiap gereja ada panggilan untuk pemenang, dan ada keistimewaannya sendiri; pahala yang Tuhan karuniakan kepada pemenang pun tidak sama. Karena itu, melalui ini baiklah kita belajar satu perkara: Tidak peduli gereja berada dalam situasi bagaimana, tiap gereja mengalami kesulitan apa, bila seseorang itu setia di hadapan Allah, ia harus mencari jalan yang seharusnya ia tempuh.

Tuhan memperlihatkan kepada kita jalan pemecahannya. Tuhan berkata, Dialah jalan, Dialah kebenaran, dan Dialah kehidupan. Maka tidak peduli dalam surat mana, dalam situasi apa pun, Tuhan tidak menyuruh kita memperhatikan situasinya yang betapa kacau dan buruk, tetapi Dia menghendaki kita melihat siapakah Dia. Wahyu berarti pemulihan penglihatan. Pengenalan kita terhadap Tuhan adalah demi melihat-Nya sekali melalui wahyu itu. Begitu kita melihat, semua kegagalan akan berlalu. Anda harus nampak di hadapan Allah bahwa kesulitan gereja sangat mendesak sekali. Dalam situasi demikian kita berteriak minta tolong, namun Tuhan berkata, hanya orang yang mengenal Dialah yang tertolong. Karena itu dalam tiap surat, Tuhan selalu membuat satu pernyataan, menyatakan siapakah Dia. Dapatkah Tuhan seperti Dia menanggulangi situasi itu?

Atas diri pribadi kita, juga sama seperti gereja; dalam situasi yang sulit, kita harus mengenal Tuhan yang berlawanan dengan kesulitan itu. Persoalan lain adalah masalah sekunder. Pemecahan semua masalah tergantung pada seberapa jauh pengenalan kita terhadap Tuhan. Ada orang dapat menanggung begitu banyak, ada orang hanya dapat menanggung begitu sedikit. Banyak sedikitnya kekuatan untuk menanggung tergantung pada berapa banyaknya kita mengenal Tuhan. Karena itu dalam permulaan setiap surat, yang menjadi perhatian ialah siapakah Tuhan itu.

Seseorang yang tidak mengenal Tuhan, ia tidak mungkin mengenal gereja. Hari ini banyak orang merasa puas dengan keadaan gereja, disebabkan ia di hadapan Allah tidak melihat; ia tidak mengenal siapakah yang duduk di atas takhta itu; ia pun tidak nampak berbagai aspek dari kemuliaan dan kebajikan sifat Tuhan. Bila Anda mengenal Tuhan, Anda akan menemukan dosa perorangan dan dosa gereja. Semua persoalannya tergantung bagaimana pengenalan Anda terhadap Allah. Orang yang sedikit mengenal Allah, wahyu Allah padanya pun sedikit, sehingga ia bersikap toleran terhadap tindakan yang tidak seharusnya ada. Namun bagi setiap orang yang berdiri di hadapan Tuhan, Tuhan pasti akan mengikis semua perkara yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Begitu kita memperoleh wahyu Tuhan, segala perkara yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya pasti akan dilenyapkan-Nya. Kemudian kita tahu bahwa kita harus kudus, baru kita memiliki Tuhan; kalau kita tidak kudus, persekutuan dengan Tuhan akan lenyap.

Tentang masalah dalam ketujuh surat kiriman yang telah kita lihat dahulu itu, jangan sekali-kali kita salah paham, yaitu mengira bahwa yang kita perselisihkan adalah masalah sistem. Anda harus ingat, setiap perkara dalam ketujuh surat itu ada hubungannya dengan Tuhan. Jika Anda mengenal Tuhan, pasti Anda akan menyalahkan anak-anak Allah yang bertindak semena-mena itu. Kalau pengenalan Anda terhadap Tuhan sedikit, Anda akan membiarkan umat Allah bertindak sesuka hati mereka. Sering kali orang dapat bertoleransi terhadap orang Kristen, karena ia tidak setia kepada Kristus. Orang yang kurang setia terhadap Tuhan, itu disebabkan ia belum memiliki wahyu untuk mengenal Tuhan yang mengutuk hal itu sebagai dosa. Oh, adakalanya kita harus memilih antara Tuhan dengan umat-Nya, siapa yang harus kita layani.

Kita telah mengetahui bahwa angka “tujuh” jelas terdiri dari tiga dan empat. Setelah Efesus itulah Smirna, dan setelah Smirna itulah Pergamus. Ketiganya adalah satu kelompok, sebab mereka semua telah berlalu. Empat yang berikutnya juga sekelompok. Tiatira, Sardis, Filadelfia, dan Laodikia. Keempat gereja ini pada dasarnya berlainan dengan ketiga gereja terdahulu. Pada hari-hari di mana Sardis berada di bumi, Tiatira juga masih berada di bumi, Sardis juga berada di bumi; dan pada hari-hari di mana Laodikia berada di bumi, Filadelfia pun berada di bumi ini. Dengan kata lain, keempat gereja yang terakhir ini adalah bersama-sama melalui hari-hari mereka di bumi ini. Mereka tidak dimulai dari waktu yang sama, namun mereka berakhir pada waktu yang sama.

Hari ini keempat gereja tersebut terbentang di hadapan kita, ini sangatlah berarti. Ketika Protestan muncul, Roma Katolik telah berlangsung selama 1.000 tahun lebih. Ketika Filadelfia muncul, Protestan telah berlangsung selama 200-300 tahun. Dan ketika Laodikia ada di bumi, Filadelfia juga telah hadir beberapa puluh tahun. Kita yang hidup pada zaman ini, pada hari ini, telah berhadapan dengan suatu perkara yang sangat istimewa: ada empat macam gereja yang berbeda, yang boleh kita pilih.

Andai kita hidup pada masa sebelum abad ke 14-15, kecuali kita menjadi penganut agama Roma Katolik, tidak ada jalan lain. Jika kita dilahirkan pada abad ke-18, kita boleh memilih menjadi orang Roma Katolik, atau menjadi orang Protestan. Sampai pada seabad yang lalu, sekitar tahun 1825, Filadelfia datang, “Kaum Saudara” bangkit, saat itu orang memiliki tiga pilihan. Dan hingga sekitar 1840, Laodikia datang. Maka hari ini ada empat macam gereja yang berbeda. Dalam keempatnya itu ada orang yang beroleh selamat, ada yang lumayan baik, ada pula yang tidak baik. Allah telah meletakkan kita di sini, ada empat jalan yang dibentangkan kepada kita untuk kita pilih.

Namun, Tuhan pun telah membukakan isi hati-Nya kepada kita. Kehendak-Nya bukanlah gereja Katolik, persoalan ini telah berlalu. Apakah aku harus menjadi pengikut Paus atau tidak, untuk menjawab ini kita sama sekali tidak perlu berdoa kepada Allah. Meskipun dalam Wahyu 2 ada nubuat ini, namun keperluan untuk memilihnya sudah tidak ada lagi. Semua pembaca Alkitab mengetahui bahwa soal memilih agama Roma Katolik sudah berlalu. Sekarang, kesulitannya demikian: Banyak saudara tidak mengetahui bahwa soal memilih gereja Protestan pun sudah berlalu. Apakah Tuhan menyuruh kita menjadi Sardis? Sungguh mengherakan sekali, banyak orang merasa puas menjadi Sardis. Tetapi jika kita membaca Alkitab, kita akan nampak bahwa Tuhan tidak merasa puas terhadap Sardis. Perkenan hati Tuhan adalah kepada Filadelfia.

Dari ketujuh surat kiriman yang Anda lihat, hanya satu, yaitu Filadelfia yang dipuji oleh Tuhan, lainnya ada teguran Tuhan. Smirna agak lumayan, ia tidak ditegur, namun juga tidak dipuji. Lain halnya dengan Filadelfia, dari awal hingga akhir terus dipuji oleh Tuhan. Lalu Anda mungkin akan bertanya, bagaimana kalau kita masuk ke dalam pergerakan persaudaraan? (seolah pergerakan ini boleh kita “masuki”!). Banyak saudara dalam pergerakan persaudaraan telah berubah menjadi Laodikia. Kalau begitu bagaimana kita sekarang? Laodikia juga ditolak Tuhan. Kalau kita tidak berhati-hati, kita tidak dapat menjangkau Filadelfia, malah akan menjangkau Laodikia.

Hari ini ada satu problem besar yang harus diperhatikan anak-anak Allah. Sejak tahun 1921, di China, kita melihat Injil semakin lama semakin jelas, orang yang beroleh selamat bertambah banyak, dan perhatian terhadap kebenaran gereja pun lebih banyak. Saat itu kita mulai nampak bahwa gereja sepenuhnya adalah milik Allah, hanya orang-orang yang beroleh selamat yang dapat tercakup di dalamnya, dan hanya firman yang Allah tetapkan dalam Alkitab yang harus kita patuhi. Ketika itu, tidak seorang pun di antara kita yang pernah mendengar adanya pergerakan persaudaraan. Hingga tahun 1927, baru kita mendengar kabar bahwa di luar negeri ada pekerjaan yang sedemikian. Selanjutnya melalui majalah, baru kita mengetahui adanya pergerakan sebesar itu. Namun di pihak lain, kita merasa banyak di antara mereka telah merosot ke dalam kedudukan Laodikia. Ketika itu kita mempunyai satu pertanyaan, bagaimanakah sebenarnya firman Allah? Apakah anak-anak Allah harus masuk suatu pergerakan?

Kesatuan orang Kristen harus di dalam Kristus, bukan di dalam suatu pergerakan. Karena itu, kita menggunakan lebih banyak waktu untuk membaca Alkitab. Akhirnya kita makin lama makin jelas bahwa yang lebih besar daripada lokalitas, itu bukan gereja; dan yang lebih kecil daripada lokalitas, juga bukan gereja. Dalam zaman ini Allah menunjukkan adanya 4 macam gereja yang berlainan. Atau kita boleh mengatakan demikian, ada Roma Katolik, Protestan, persaudaraan yang saling mengasihi dan gereja saudara. Yang keempat, gereja saudara, itu telah merosot ke dalam posisi Laodikia; ditinjau dari kelompoknya mereka telah berubah menjadi satu sekte. Saya pernah bertanya kepada satu saudara, “Menurut Anda, apakah aku ini mirip seorang saudara?” Ia menjawab, “Ya, Anda mirip, hanya di tengah-tengah ‘kalian’ masih ada . . .“ Saya segera berkata, “Kalau begitu apakah ‘kalian’? Saya di sini menjadi seorang saudara tidakkah cukup? Di antara “kami” telah mencakup setiap orang yang telah tertebus darah adi.”

Bila ada seseorang telah beroleh selamat di Chungking, namun gereja di Chungking tidak mengakuinya sebagai seorang saudara, gereja di Chungking sudah menjadi sekte. Seseorang yang selain menjadi saudara harus pula ditambah dengan sesuatu, baru ia disebut saudara, itu sudah menjadi satu sekte. Walaupun mereka tidak mengatakan sendiri bahwa mereka adalah gereja saudara, tetapi di sana ada suatu batasan yang tidak berwujud.

Hari ini orang macam apakah yang menjadi Filadelfia? Gereja-gereja di tiap tempat mungkin adalah Filadelfia, tetapi mungkin pula bukan. Sesungguhnya saya tidak dapat mengatakan mana yang “ya” mana yang “bukan”. Boleh jadi gereja di Chungking adalah Filadelfia, gereja di Kunming bukan, gereja di Chengtu ialah Filadelfia, gereja di Lanchow bukan. Hari ini telah menjadi masalah lokalitas. Seperti halnya ketujuh surat adalah untuk lokalitas.

Kita harus menolak agama Roma Katolik, kita pun harus meninggalkan agama Protestan. Di pihak negatif Anda dapat menyingkirkan keduanya, tetapi di pihak positifnya apakah Anda menjadi Filadelfia? Atau menjadi Laodikia? Terlepas dari Roma Katolik mudah, meniggalkan gereja Protestan juga mudah, asal Anda menulis sepucuk surat kepada mereka, Anda sudah keluar dari pintu depan. Namun apakah Anda sebagai Filadelfia masih merupakan suatu pertanyaan; harus dilihat apakah Anda telah keluar dari pintu belakang atau tidak. Filadelfia tidak mungkin merosot menjadi Sardis, tetapi ia bisa jatuh menjadi Laodikia. Teguran Tuhan terhadap Laodikia lebih berat daripada teguran Tuhan terhadap Sardis. Di sini Tuhan menghendaki kita belajar menjunjung tinggi nama-Nya. Di mana saja ada dua atau tiga orang bersidang demi nama-Nya, Tuhan akan ada di tengah-tengah mereka. Akan tetapi jangan Anda sekali-kali meninggikan diri sendiri. Siapa saja yang mengatakan bahwa dirinya adalah Filadelfia, orang itu sudah tidak seperti Filadelfia lagi.

Hari ini jika Anda telah meninggalkan denominasi dan telah nampak gereja, maka hanya firman Allah satu-satunya yang harus menjadi standar Anda. Misalnya ada seorang saudara, ia adalah seorang yang telah dilahirkan kembali, dapatkah Anda mengatakan bahwa ia bukan seorang saudara? Ia adalah seorang saudara, jika ia jelas akan kebenaran; dan ia tetap seorang saudara, jika ia tidak jelas akan kebenaran. Kalau berada di rumah, ia adalah saudaraku, sekalipun ia jatuh ke dalam selokan di jalanan, ia tetap saudaraku. Semua kesalahan hanya dapat kusalahkan kepada bapaku yang melahirkannya.

Ciri-ciri Filadelfia adalah kasih persaudaraan. Hari ini, mau tidak mau Anda harus menempuh jalan ini. Tetapi jangan Anda bersikap demikian, “Aku mengasihi saudara yang jelas dan aku mengasihi saudara yang patut dikasihi; yang tidak patut dikasihi, aku tidak mengasihinya.” Seorang saudara terhadap kebenaran jelas atau tidak, itu urusannya sendiri. Sekali-kali kita tidak boleh berkata, “Anda adalah seorang yang suka melawan, penentang.” Apa yang Anda nampak tahun ini, adalah apa yang tidak Anda nampak di tahun-tahun yang lalu; mungkin tahun depan, ia akan nampak apa yang Anda nampak tahun ini. Ketika ia membaca Alkitab, Tuhan juga akan memberi terang kepadanya.

Kalau hati Allah sedemikian besar, maka hati kita juga harus sedemikian besar. Kita harus belajar agar kita memiliki hati yang lapang, yang dapat mencakup seluruh anak Allah. Ketika Anda mengatakan kata “kita” tanpa mencakup seluruh anak Allah, maka Anda adalah sekte terbesar, sebab Anda tidak berdiri pada kedudukan kasih persaudaraan, melainkan meninggikan diri sendiri. Jalan Filadelfia mau tidak mau harus kita tempuh. Kesulitannya ialah, karena Filadelfia mencakup seluruh saudara; namun ada orang yang tidak bisa mencakup sebesar itu.

Satu contoh, sebelum perang Sino-Jepang meletus, saya pergi ke Kunming, di sana ada seorang saudara dari gereja “X” mengundang saya untuk berbincang-bincang. Ia adalah seorang saudara yang sangat baik. Begitu bertemu dengan saya ia berkata, “Apakah masih ingat, ketika di Shanghai, saya pernah mengajukan satu pertanyaan kepada Anda, dan Anda belum menjawab saya — Bagaimana supaya kita bisa bekerja sama?” Saya menjawab, “Saudara, Anda memiliki satu gereja ‘X’ yang di dalamnya saya tidak ada bagian.” Dia menjawab, “Ya, benar, tetapi Anda jangan menghiraukan hal itu, maksudku, marilah kita bekerja sama sebaik-baiknya di hadapan Allah.” Saya berkata, “Saya memiliki satu gereja, saya ada di dalamnya, Paulus ada di dalamnya, Petrus ada di dalamnya, Yohanes, Martin Luther, John Wesley, Hudson Taylor, . . . semua ada di dalamnya, Anda pun ada di dalamnya. Gereja saya ini sangat besar, setiap orang yang ada di dalam Kristus, baik besar maupun kecil, ada di dalamnya.” Selanjutnya saya berkata, “Saudara, antara Anda dan saya ada satu perbedaan, saya hanya mendirikan satu gereja, tetapi Anda mendirikan dua gereja. Pekerjaan saya hanya untuk gereja Kristus, bukan untuk gereja ‘X’. Jika yang Anda maksud adalah mendirikan gereja Kristus, bukan gereja ‘X’, saya mutlak dapat bekerja sama dengan Anda.”

Saudara saudari, sudahkah kalian nampak perbedaannya? Kasih saudara tadi kurang besar. Ia mementingkan gereja Kristus yang ada di dalam gereja “X”, ia mendirikan dua gereja!

Setelah saya berkata demikian, ia mengakui bahwa ia pertama kali nampak permasalahannya. Lalu sambil menjabat tangan saya ia berkata, ia harap persoalan ini tidak akan timbul lagi.

Kasih persaudaraan berarti kita harus mengasihi semua saudara, kalau ia memiliki kelemahan, itu adalah soal lain. Saya berkata bahwa anak-anak Allah harus dibaptis (baptis selam), tetapi saya tidak dapat mengatakan, bila ia tidak dibaptis selam berarti ia bukan saudara. Ia telah dilahirkan kembali kalau ia dibaptis selam. Semua kesalahan hanya ada pada Bapa saya yang telah melahirkannya. (Tuhan mengampuni saya kalau saya berbicara demikian). Memang, bila ada kesempatan, Anda harus membaca Alkitab bersamanya, agar ia tahu bahwa sida-sida dengan Filipus bersama-sama turun ke dalam air; dan Tuhan Yesus naik dari dalam air. Pembaptisan dalam Alkitab (yang alkitabiah), ialah manusia yang turun dan naik, bukan jari-jari tangan yang turun naik. Namun kita tidak dapat mengatakan, sebab ia belum menaati hal ini, maka ia belum menjadi saudara. Dasar menjadi saudara adalah hayat Tuhan, bukan baptisan.

Meskipun kita percaya bahwa baptis selamlah yang benar, akan tetapi kita bukan gereja Baptis. Dasar persekutuan adalah darah, adalah hayat Roh Kudus, bukan pengetahuan, juga bukan pengetahuan Alkitab. Problem terbesar ialah apakah orang itu memiliki hayat Allah atau tidak. Bila ia telah dilahirkan kembali, ia sudah menjadi saudara. Saling mengasihi adalah hanya berdiri di atas pendirian ini. Kapan kita memasukkan sesuatu yang lain, atau menuntut tambahan yang lain, itulah sekte.

Misalkan lagi, tentang pemecahan roti. Ketika Paulus sebagai orang beriman baru tiba di suatu tempat, ada orang membawanya ke sana, dan ia benar-benar mempunyai satu kesaksian. Mereka tahu bahwa ia seorang saudara, maka ia boleh ikut ambil bagian dalam pemecahan roti. Sama sekali tidak ada syarat kedua yang diharuskan; entah ia percaya atau tidak bahwa malapetaka besar itu lamanya tujuh tahun, dan pengangkatan itu sebagian atau sekaligus. Jika Anda harus bertanya demikian, Anda sudah keliru sama sekali. Bila saya hanya mengasihi saudara saudari yang sama dengan saya, saya adalah sekte, dan ini bertentangan dengan kesaksian kasih persaudaraan. Syukur kepada Allah, kita semua adalah saudara; tiap orang yang tertebus darah adi, semua adalah saudara kita. Jika satu bagian dari pribadi Anda tampil keluar, itu pasti menjadi kesombongan. Ada orang berkata, “Hanya kamilah yang benar, kamu saudarasaudara ini tidak benar.” Namun, “roti” harus mencakup semua saudara, baik ia benar, maupun salah.

Ketika Anda ingin demikian mengikuti Tuhan, dan Anda ingin mengasihi setiap saudara, itu tidak berarti bahwa setiap saudara akan mengasihi Anda. Hal ini harus Anda sadari. Sardis keluar dari Tiatira; walaupun Sardis telah mengikuti kehendak Tuhan, namun ia tidak dapat menghindarkan dirinya dari kebencian gereja Roma Katolik. Begitu pula, Filadelfia keluar dari Sardis, maka denominasi-denominasi juga akan menentang Anda. Karena mereka ingin mempertahankan organisasi mereka, maka mereka akan berkata kepada Anda, “Bila Anda bertindak demikian, itu bukan mengasihi saudara.” Dalam pandangan mereka, mengasihi saudara ialah mengasihi Sardis, seolah mengasihi saudara tidak berbeda dengan mengasihi denominasi. Orang yang bermotivasi mempertahankan denominasi akan mengecam dan mengatakan bahwa kasih Anda tidak cukup; karena Anda tidak membangun denominasi mereka. Tetapi Anda harus jelas, mengasihi saudara-saudara dengan mengasihi denominasi yang dikasihi saudara-saudara adalah dua perkara yang berbeda.

Lagi pula, kita harus mengetahui bahwa mengasihi seluruh gereja hanyalah berdasarkan apakah ia itu saudara atau bukan saudara; jika ia saudara, kita harus mengasihinya. Itulah artinya mengasihi saudara. Jika di antara saudara-saudara yang kita kasihi hanya sebagian saja, atau kita hanya mengasihi saudara yang berada dalam lingkungan kita saja, maka kasih ini bukan kasih persaudaraan, melainkan kasih persektean/golongan. Jika kita tidak meninggalkan kasih persektean yang demikian, mustahillah kita mengasihi saudara. Kasih persektean bukan saja salah, bahkan salah mutlak. Kasih persektean adalah rintangan terbesar bagi kasih persaudaraan. Kalau seseorang tidak menyingkirkan kasih persektean, ia tidak akan dapat mengasihi saudara. Tetapi seorang yang mengasihi saudara-saudara, karena ia tidak memiliki kasih persektean, ia akan dikecam dan dikritik orang, dituduh tidak memiliki kasih, hal ini sudah lumrah; jangan mengira itu sebagai suatu keanehan.

Mari kita singgung butir lain. Di sini pemenang dikatakan sebanyak tujuh kali. Kepada gereja di Efesus, Tuhan berfirman, “Bertobatlah”. Bagaimana menjadi pemenang? Tergantung pada penemuan atas kekenduran kasih semula. Kemenangan di Smirna tidak lain ialah seperti kata Tuhan, mereka harus setia sampai pada akhirnya, mereka akan beroleh mahkota. Di Pergamus Tuhan menentang ajaran Bileam dan pengikut Nikolaus. Siapa saja yang menolak ajaran Bileam dan pengikut Nikolaus, dialah pemenang.

Di Tiatira, meskipun di sini ada Izebel, tetapi ada orang yang tidak menuruti ajarannya. Firman Tuhan, “Apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku datang.” Itulah pemenang. Tuhan tidak menyuruh mereka bangkit menjadi Martin Luther. Di Sardis, ada beberapa orang yang hidup. Meskipun di Sardis sendiri tidak ada satu pun yang sempurna, namun Tuhan berkata, siapa yang mengenakan pakaian putih adalah pemenang. Filadelfia sangat mengherankan, walau ia mengalami pencobaan dan kesulitan, Tuhan berkata, peganglah apa yang ada padamu, maka kamu sudah menang. Bagi Laodikia, tidak cukup hanya memiliki yang obyektif saja, ia juga harus berjalan bersama Tuhan secara subyektif.

Semua kemenangan di sini ditujukan kepada perbedaan di antara anak-anak Allah. Janji kemenangan dikaruniakan kepada gereja. Karena itu, dalam gereja terdapat dua macam orang, pemenang dan orang-orang yang gagal. Titik perbedaannya di sini: Allah memiliki satu rencana, satu standar; siapa saja yang bisa mencapai standar itu, dialah pemenang. Seorang pemenang adalah seorang yang telah melakukan apa yang wajib dilakukan saja. Banyak orang berkonsepsi salah, mengira menjadi pemenang harus mencapai kebaikan yang istimewa. Namun ingatlah, menang adalah tingkat yang paling rendah/minimum. Kemenangan bukan melampaui garis level, melainkan tepat mencapai garis level saja. Bila Anda dapat mencapai garis level ini, Anda sudah menjadi pemenang. Gagal berarti Anda tidak dapat mencapai rencana Allah dan merosot ke bawah garis level.

Hari ini ada satu hal yang membuat saya sangat senang, saya tidak tahu entah bagaimana perasaan kalian. Waktu zaman Tiatira, hampir 1.400 tahun, Allah tidak menyuruh saya dilahirkan pada waktu itu. Allah juga tidak menyuruh saya dilahirkan pada zaman Sardis. Kita semua dilahirkan dalam zaman Filadelfia yang baru muncul dalam seratus tahun lebih ini. Tuhan justru menempatkan kita dalam zaman Filadelfia, yakni menghendaki kita menjadi Filadelfia. Terus terang saja, banyak orang pada zaman dulu itu tidak mungkin menjadi Filadelfia. Hari ini dalam denominasi juga banyak pemenang, namun mereka bukan di dalam Filadelfia. Hari ini dalam Laodikia pun ada pemenang-pemenang, namun mereka hanyalah pemenang-pemenang Laodikia. Dalam keseluruhan sejarah gereja, tidak ada satu kesempatan yang lebih baik daripada kesempatan hari ini. “Siapa yang menang, ia akan Kujadikan tiang di dalam Bait Suci Allah-Ku, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ.”

Anda harus memperhatikan kata “lagi”. “Lagi” berarti pernah keluar sekali. Di antara saudara, dari sepuluh ada delapan yang pernah keluar. Saya sungguh merasa takjub sekali akan janji Tuhan di sini. Sebagai sokoguru Bait Suci Allah, kalau keluar lagi, maka Bait Allah akan runtuh.

Ketiga nama di bawah juga sangat istimewa, “Nama Allah-Ku, nama kota Allah-Ku dan nama-Ku yang baru.” Apakah arti nama? Besar sekali arti suatu nama. Nama Allah mewakili kemuliaan Allah; selain gereja di Filadelfia, tidak ada satu gereja pun yang beroleh kemuliaan Allah. Nama kota Allah ialah Yerusalem Baru, dengan kata lain, Filadelfia telah menggenapkan rencana kekal Allah. Dan “nama-Ku yang baru”, Anda tentu tahu, ketika Tuhan dinaikkan ke surga, Dia beroleh satu nama baru; nama di atas segala nama (Flp. 2:9-11). Maka di sini Tuhan memperlihatkan kepada kita bahwa di antara semua gereja, yang istimewa dihargai Tuhan adalah Filadelfia.

Syukur kepada Allah, hari ini kita dilahirkan dalam zaman yang memungkinkan kita menjadi Filadelfia. Walaupun kita terlahir dalam zaman di mana situasi gereja demikian kacau, namun syukur kepada Allah, kita masing-masing bisa menjadi orang-orang milik Filadelfia.

Terakhir, saya harap kalian mengingatnya, yaitu Tuhan mengatakan tujuh kali perkataan yang sama kepada ketujuh gereja itu. “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.” Anda harus memperhatikan perkataan ini, mata Tuhan tidak hanya memandang ketujuh gereja yang ada di sini, mata-Nya juga memandang seluruh gereja di seluruh dunia, baik yang sekarang maupun yang dulu. Perkataan Tuhan ini ditujukan kepada semua gereja. Keadaan kekenduran pada zaman Efesus sangat mungkin sekali timbul di dalam Filadelfia hari ini. Walau zaman Smirna telah berlalu, namun mungkin pula keadaannya timbul pada hari ini. Keadaan tiap gereja sering kali timbul di dalam satu gereja. Gereja tidak begitu sederhana. Keadaan yang istimewa hanya merupakan keadaan utama pada zaman itu saja. Dan boleh jadi juga semua keadaan itu terjadi dalam waktu yang sama di dalam ketujuh gereja itu.

Di sini Tuhan berkata, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.”

Ada dua orang berjalan bersama di jalan, yang seorang berkata, “Tunggu sebentar, aku mendengar suara jangkrik.” Temannya lalu berkata, “Ah, Anda sinting, suara kendaraan berlalu-lalang begini bising, orang berbicara tidak terdengar, apalagi bunyi jangkrik!” Namun orang itu kemudian menghampiri sebuah dinding dan menyuruh temannya itu mendengarkan. Dan sungguh benar, di sela-sela dinding itu memang ada jangkrik sedang mengerik. Temannya lalu bertanya, bagaimana ia bisa mendengarnya? Ia menjawab, “Orang yang di dalam bank, hanya mendengar suara uang; musikus hanya mendengar suara musik. Aku adalah entomologis (ahli serangga), maka telingaku dapat mendengar bunyi seranggaserangga.”

Tuhan berkata kepada Anda, “Siapa bertelinga dan dapat mendengarkan firman Tuhan, hendaklah ia mendengarkan.” Banyak orang tidak bertelinga untuk mendengarkan firman Tuhan. Jika Anda bertelinga, hendaklah Anda mendengarkan. Mohon Tuhan mengaruniakan sebuah jalan lurus untuk kita tempuh. Bagaimanapun, kita harus memilih jalan Filadelfia.