GEREJA DI FILADELFIA
Pembacaan Alkitab:
Why. 3:7 - 13
Mat. 23:8 - 11; Yoh. 20:17;
1 Kor. 12:13; Gal. 3:28
Gereja di Filadelfia
Membahas sampai di sini, kita perlu melihat sebuah gambar yang mungkin bisa membantu kita supaya lebih mengerti. Bagian pertama mewakili gereja zaman para rasul. Walaupun Efesus adalah satu gereja yang telah kendur, tetapi ia masih berada pada garis lurus, sebab ia diakui oleh Tuhan sebagai gereja yang meneruskan gereja para rasul. Kemudian datanglah Smirna yang juga meneruskan garis itu. Smirna benar-benar sebagai gereja yang menderita sengsara, ia tidak dipuji juga tidak dicela. Sesudah Smirna, yaitu ketika Pergamus muncul, terjadilah sesuatu perkara. Ia tidak melanjutkan ortodoksi para rasul, malahan bersatu dengan dunia dan menyimpang dari garis semula. Ia memang tersambung di belakang dengan Smirna, tetapi tidak melanjutkan gereja ortodoksi para rasul. Sejak Pergamus menyimpang, Tiatira mengikuti jejaknya. Ia dengan Pergamus berada di garis yang sama, tetapi bukan segaris dengan para rasul. Sardis adalah gereja yang keluar dari Tiatira, ia pun menyimpang, tetapi penyimpangannya merupakan jalan untuk kembali. Tiatira akan berlangsung terus hingga kedatangan Tuhan, Sardis pun akan berlangsung terus hingga kedatangan Tuhan.
Sekarang yang akan kita bahas adalah Filadelfia. Filadelfia adalah gereja yang kembali kepada ortodoksi para rasul. Filadelfia juga mempunyai satu pembelokan, yaitu membelok kembali ke kedudukan permulaan dalam Alkitab. Pembelokan pemulihan dimulai dari Sardis dan dirampungkan oleh Filadelfia. Kini Filadelfia menjadi satu garis lagi dengan zaman para rasul. Filadelfia keluar dari Sardis, ia bukan gereja Roma Katolik, pun bukan gereja Protestan, ia adalah gereja yang melanjutkan gereja zaman para rasul. Terakhir muncul pula Laodikia, ini akan kita tinjau nanti pada bab berikutnya. Sekarang kita ingin mengeluarkan sedikit waktu untuk melihat apakah sebenarnya Filadelfia. Semoga kita semua dapat dengan jelas mengetahui, apakah Filadelfia itu.
Di antara ketujuh gereja, ada lima yang dicela, dua tidak dicela. Dua yang tidak dicela itu masing-masing adalah Smirna dan Filadelfia. Hanya dua gereja inilah yang diperkenan Tuhan. Sungguh mengherankan, kata-kata yang dikatakan Tuhan kepada Filadelfia mirip sekali dengan yang dikatakan-Nya kepada Smirna. Problem Smirna adalah agama Yahudi; sedang pada Filadelfia juga terdapat problem agama Yahudi. Tuhan berkata kepada gereja di Smirna, “Supaya kamu dicobai”; dan kepada gereja Filadelfia Tuhan berkata, “Aku pun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang tinggal di bumi.” Lagi pula hanya kepada kedua gereja itu Tuhan menyinggung tentang mahkota. Kepada Smirna Dia berkata, “Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” Kepada Filadelfia Dia berkata, “Peganglah terus apa yang ada padamu, supaya tidak seorang pun mengambil mahkotamu.” Kedua gereja ini mempunyai titik-titik persamaan yang menyatakan bahwa mereka berada di atas garis yang sama, yakni garis gereja ortodoksi para rasul.
Gereja di Sardis adalah suatu pemulihan, namun tidak sempurna dan tidak mencapai sasaran akhir. Filadelfia telah terpulih hingga sesuai dengan kehendak Tuhan. Gereja di Filadelfia memperlihatkan kepada kita bahwa ia tidak saja tidak dicela seperti halnya pada Smirna, bahkan ia menerima pujian. Garis lurus yang terlukis di sini adalah garis terpulih. Kita mengetahui dengan jelas bahwa yang dipilih Tuhan ialah Filadelfia. Filadelfia adalah gereja yang meneruskan ortodoksi para rasul, dan yang terpulih hingga ke dalam Smirna. Karena itu, firman yang Tuhan katakan kepadanya, itulah yang harus kita taati.
Penyimpangan Pergamus dan Tiatira terlampau besar, sehingga meskipun kedatangan Sardis itu bertubi-tubi, ia tidak terpulih sepenuhnya; meskipun Sardis menuju ke jalan pemulihan, namun tidak mencapai sasaran akhir. Pemulihan yang sempurna barulah tercapai oleh Filadelfia. Mengenai ini saya harap kita semua memahaminya dengan jelas.
“Filadelfia” dalam bahasa Yunani adalah kata majemuk yang terdiri dari dua kata yang masing-masing berarti “saling mengasihi” dan “saudara”. Maka “filadelfia” berarti “kasih persaudaraan”. “Kasih persaudaraan” adalah nubuat Tuhan. Kalau persembahan adalah ciri-ciri Tiatira, yang telah digenapkan oleh gereja Roma Katolik; pemulihan menjadi ciriciri Sardis, yang telah digenapkan oleh gereja Protestan. Sekarang Tuhan berfirman kepada kita bahwa ada satu gereja yang telah terpulih sepenuhnya dan mendapat pujian-Nya. Orang-orang yang membaca Alkitab akan bertanya siapakah sebenarnya Filadelfia itu? Di manakah dapat kita temukan dalam sejarah? Kita tidak bisa membiarkan persoalan ini lewat begitu saja.
Saya telah menyinggung perbuatan dan ajaran pengikutpengikut Nikolaus dalam gereja di Efesus dan Pergamus, bahkan sudah saya tunjukkan bagaimana mereka sebagai wakil dari kelas (mediator) imamat. Di kalangan umat Israel, kecuali suku Lewi, tidak ada suku lain yang boleh menjadi imam. Namun di dalam gereja, anak-anak Allah adalah imam-imam. Dalam 1 Petrus 2 dan Wahyu 5 dikatakan dengan jelas bahwa setiap orang yang telah tertebus oleh darah adi adalah imam. Tetapi pengikut-pengikut Nikolaus secara khusus membentuk jabatan imamat. Mereka mengangkat segolongan orang di atas kaum awam, menjabat sebagai imam untuk mengurus urusan-urusan rohani, sedang kaum awam bekerja di dunia dan melakukan urusan duniawi.
Di sini akan saya ulangi lagi masalah kelas mediator itu. Orang Yahudi mempunyai agama Yahudi; pengikut-pengikut Nikolaus mempunyai perbuatan dan kemudian ajaran. Anda lihat, kelas-kelas pastor atau paderi telah muncul. Urusan rohani ditangani oleh mereka, sedang kita melakukan urusan duniawi saja. Penumpangan tangan adalah pekerjaan mereka, hanya merekalah yang dapat memberikan berkat. Kalau saya ingin menanyakan suatu perkara, saya sendiri tidak dapat langsung bertanya kepada Allah, tetapi saya harus meminta bantuan mereka untuk menanyakan kepada Allah.
Sampai pada masa Sardis keadaannya sudah ada kemajuan. Sistem pastor telah dihapus, akan tetapi muncul sistem pendeta sebagai penggantinya. Dalam kalangan gerejagereja Protestan, ada gereja-gereja negara yang luar biasa kerasnya, dan ada gereja-gereja swasta yang bertebaran di mana-mana. Namun dalam gereja negara maupun gereja swasta, Anda pasti nampak adanya kelas mediator di antara mereka. Yang di depan ada sistem paderi, yang di belakang ada sistem pendeta. Mengenai sistem kelas imamat semacam itu, baik Anda sebut pastor, paderi ataupun pendeta, pada pokoknya semua itu adalah yang ditolak Tuhan. Agama Protestan adalah bentuk perubahan dari ajaran pengikut Nikolaus sebagai penerus Pergamus. Walaupun di kalangan Protestan tidak ada orang yang disebut pastor atau paderi, namun ada pendeta yang pada prinsipnya sama saja. Sekalipun disebut pekerja atau pelayan, jika kedudukannya tetap demikian, rasanya tetap sama juga.
Saya telah mengeluarkan banyak ayat Alkitab sebagai dasar yang membuktikan bahwa kita semua adalah imam-imam. Tetapi kini di antara Allah dengan manusia terdapat suatu pertentangan. Allah berkata bahwa setiap orang dalam gereja layak menjadi imam, tetapi mengapa orang-orang berkata bahwa otoritas kerohanian hanya berada dalam tangan pastor dan kelas mediator sejenisnya? Saya katakan sekali lagi: Setiap orang yang telah tertebus darah adi adalah imam. Berapa banyak orang yang telah tertebus oleh darah adi, sebanyak itu pula yang menjadi imam.
Mengapa Tuhan tidak mencela Filadelfia, malah memujinya? Tentu Anda masih ingat bahwa titik permulaan kelas imamat muncul pada Pergamus, dan prakteknya terlihat di Roma. Mereka memiliki Paus yang berkuasa mengatur umat, pejabat-pejabat tinggi yang mengurusi umat, pembesarpembesar Vatikan, dan lainnya. Akan tetapi Tuhan berkata, “Kamu semua adalah saudara.” Matius 20:25 dan 23:8 perlu Anda pegang teguh. Memang benar dalam Alkitab ada “penggembala (pastor)”, tetapi dalam Alkitab tidak ada sistem pastor. Tuhan mengatakan bahwa di antara kamu janganlah ada yang disebut guru (rabi) atau yang disebut bapa (father). Namun Anda lihat bagaimana gereja Roma Katolik menyebut pastor-pastor mereka “bapa” (father), dan gereja-gereja Protestan menyebut pastor-pastor mereka “pendeta”. Pada abad ke-19 muncullah suatu kebangunan besar, yang telah menghapuskan kelas mediator itu. Setelah Sardis datanglah suatu pemulihan besar, di dalam gereja tiap saudara saling mengasihi dan menghapuskan kelas mediator. Itulah Filadelfia.
Pada tahun 1825, di Dublin, ibu kota Irlandia, ada beberapa orang beriman yang hatinya tergerak oleh Allah, mereka mengasihi semua anak-anak Allah tanpa mempedulikan dari sekte mana mereka itu. Kasih semacam ini tidak dapat dirintangi oleh dinding denominasi. Mereka mulai nampak firman Tuhan dalam Alkitab yang mengatakan bahwa Tubuh Kristus itu esa adanya, tidak peduli ia telah dipecah belah manusia sehingga menjadi beberapa sekte. Mereka membaca lagi Alkitab, dan nampak lagi bahwa sistem pengaturan gereja dan pengkhotbahan oleh satu orang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab. Karena itu, mereka memulai pada setiap hari Minggu mengadakan sidang, memecahkan roti, dan berdoa. Pada tahun 1825, itu berarti lebih dari seribu tahun sesudah adanya gereja-gereja Protestan, untuk pertama kalinya mereka mengadakan penyembahan atau pelayanan rohani yang sederhana, bebas, dan yang sesuai dengan ajaran Alkitab. Pada permulaannya mereka hanya 2 orang saja, lalu bertambah menjadi 5 orang.
Orang-orang beriman itu, dalam pandangan dunia tidak saja rendah juga tidak terkenal, namun di antara mereka ada penyertaan Tuhan dan penghiburan Roh Kudus. Mereka berdiri di atas pendirian kebenaran yang jelas: pertama, sebagai Tubuh Kristus, gereja hanya ada satu; kedua, dalam Perjanjian Baru tidak ada kelas mediator atau sistem pastor. Semua pejabat firman yang dilantik manusia sama sekali tidak sesuai dengan Alkitab. Mereka percaya bahwa setiap kaum beriman adalah anggota dari Tubuh ini. Mereka menyambut dengan hangat setiap orang beriman yang sejati yang ingin datang di antara mereka, tidak peduli mereka itu dari sekte mana; mereka tidak mempunyai perasaan sekte apa pun.
Mereka percaya bahwa setiap orang beriman sejati mempunyai jabatan imamat, karenanya mereka boleh dengan bebas masuk ke dalam tempat maha kudus. Mereka pun percaya bahwa Tuhan yang telah diangkat ke surga telah mengaruniakan berbagai macam karunia kepada gereja, untuk menyempurnakan kaum beriman dan membangun Tubuh Kristus. Karena itu, mereka dapat terlepas dari dua jenis dosa kelas mediator: mempersembahkan persembahan dan pengkhotbahan.
Prinsip-prinsip itu telah memungkinkan mereka menyambut setiap orang yang di dalam Kristus sebagai saudara mereka, serta terbuka bagi semua pejabat firman yang dilantik oleh Roh Kudus, agar mereka dapat memberikan pelayanan.
Selama masa ini, ada seorang pastor gereja Anglikan yang bernama John Nelson Darby. Ia sangat tidak puas terhadap kedudukan gerejanya sendiri, dan menganggap gerejanya itu tidak sesuai dengan Alkitab. Ia mulai sering bersidang dengan saudara-saudara, sekalipun saat itu ia masih mengenakan jubah pastor dan tetap sebagai pastor gereja Anglikan. Ia adalah seorang milik Allah, seorang yang berbobot dan seorang yang rela menerima sengsara. Ia adalah seorang rohani yang mengenal Allah dan Alkitab, serta yang menghukum daging. Pada tahun 1927, ia dengan resmi keluar dari gereja Anglikan; menanggalkan jubah pastornya, menjadi seorang saudara sederhana dan bersidang dengan “Kaum Saudara”.
Pada mulanya apa yang dikenal saudara-saudara sangat terbatas, tetapi ketika Darby secara resmi ikut serta, maka terang surgawi tercurah seperti air deras. Pekerjaan Darby banyak persamaannya dengan pekerjaan Wesley, namun sikap mereka terhadap gereja Anglikan mutlak berlainan. Kalau pada satu abad sebelumnya, Wesley merasa dirinya tidak dapat dengan tabah meninggalkan gereja negara, sedang pada satu abad yang belakangan, Darby merasa tidak dapat dengan tabah menetap terus di dalam gereja negara Inggris itu. Hanya saja banyak persamaan mereka dalam kegairahan, kesungguhan, dan kesetiaan.
Pada tahun itu, J.G. Bellet juga mengikuti sidang “Kaum Saudara”. Ia adalah seorang rohani yang sangat dalam. Sidang yang sederhana tetapi Alkitabiah semacam ini sangat mengharukan hatinya. Keadaan saat itu dilukiskannya demikian,
“Baru saja seorang saudara mengatakan kepadaku bahwa dari Alkitab yang diketahuinya, ketika kaum beriman berhimpun bersama sebagai murid Kristus, mereka sudah patut memecahkan roti, seperti yang telah Tuhan perintahkan, bahkan jika perbuatan para rasul itu dijadikan pedoman, maka setiap hari Tuhan, patutlah kita memperingati Tuhan serta mematuhi perintah perpisahan-Nya.”
Pada kesempatan lain Bellet berkata lagi,
“Pada suatu hari, aku bersama seorang saudara melalui Jalan Pembroke bawah, ia berkata kepadaku, Aku tidak meragukan lagi, inilah kehendak Allah untuk kita, yaitu kita harus bersidang sebagai murid dengan segala kesederhanaan, bukan menunggu mimbar apa pun, melainkan bersandar kepada Tuhan agar Dia yang membina kita lewat pelayanan dari kita sendiri menurut perkenan-Nya. Sewaktu dia mengatakan perkataan itu, aku merasa hatiku telah nampak terang. Hari itu seolah hari kelahiranku saja, yaitu hari pertama aku dilahirkan sebagai saudara.”
Dengan demikian saudara-saudara itu berangsur-angsur meraba, menjamah, berangsur-angsur beroleh wahyu dan terang.
Setahun kemudian, tahun 1828, Darby menerbitkan sejilid buku yang berjudul, “The Nature and Unity of the Church of Christ” (Sifat dan Kesatuan Gereja Kristus). Buku kecil ini merupakan buku pertama dari ribuan buku yang diterbitkan oleh saudara-saudara. Dalam buku tersebut, Darby dengan jelas mengumumkan bahwa saudara-saudara tidak berniat mendirikan satu denominasi baru, atau suatu persatuan gereja-gereja. Katanya,
“Pertama-tama, satu persatuan resmi dari organisasiorganisasi yang terpecah belah bukanlah yang diingini Allah. Namun aneh sekali, banyak orang Protestan yang berpikiran bahwa mereka malah mengingini hal tersebut. Aku percaya bahwa persatuan semacam itu tidak berfaedah, lagi pula kelompok hasil persatuan semacam itu tidak mungkin menjadi gereja Allah, itu hanya akan menjadi kelompok tandingan dari kesatuan gereja Roma Katolik belaka. Dalam kelompok semacam itu, kehidupan gerejani dan kekuatan firman akan sirna, apalagi kesatuan kehidupan rohani mutlak tidak mungkin ada. Kesatuan sejati adalah kesatuan Roh Kudus yang harus dikerjakan oleh Roh itu sendiri. Tidak ada sidang yang tidak sepenuhnya berdasarkan Kerajaan Anak Allah dan yang mencakup seluruh anak-anak Allah, dapat menerima berkat yang melimpah, sebab sidang itu tidak menginginkan berkat ini, dan sifat mereka juga tidak merangkul berkat ini. Alkitab mengatakan, bersidang di dalam nama-Nya, dan nama-Nya itu adalah untuk berkat karunia . . .”
“Lagi pula, kesatuan adalah kemuliaan gereja. Namun jika hal itu bertujuan untuk menyukseskan usaha kita, itu bukan kesatuan gereja, melainkan semacam konfederasi atau persekongkolan yang menyangkal sifat dan harapan gereja. Kesatuan gereja adalah kesatuan Roh Kudus, maka kesatuan ini hanya ada di dalam perkara Roh Kudus pula, dan hanya akan mencapai kesempurnaannya di dalam kalangan orang-orang rohani . . .”
“Apakah yang harus dilakukan oleh umat Allah? Harus menantikan Tuhan, harus menantikan menurut ajaran Roh Kudus, dan harus mencontoh teladan Anak-Nya menurut hayat Roh Kudus. Mereka harus mengikuti jejak kawanan domba, barulah mereka dapat mengetahui di mana Gembala yang baik itu menggembalakan domba-Nya.”
Di lain tempat Darby mengatakan,
“Karena perjamuan kita adalah perjamuan Tuhan, bukan perjamuan kita, maka kita menerima setiap orang yang Allah terima, yaitu orang dosa yang miskin, melarat, yang melarikan diri, dan yang mencari Tuhan sebagai tempat perlindungan, serta yang tidak memiliki perhentian di dalam diri sendiri, melainkan memiliki perhentian di dalam Kristus.”
Bersamaan dengan itu, Allah juga bekerja di Guiana, jajahan Inggris, dan Italia, dengan membangkitkan sidang yang serupa. Pada tahun 1829, di Arab juga telah ada sidang. Pada tahun 1830, berturut-turut, di London, Plymouth, dan Bristol (Inggris), juga mulai ada sidang. Kemudian, di beberapa kota di Amerika dan di daratan Eropa pun ada sidang. Tidak lama kemudian, hampir di setiap pelosok dunia ini, orang-orang yang mengasihi Tuhan bersidang dengan cara demikian. Walaupun mereka tidak bersatu secara lahiriah, namun mereka semua adalah yang digerakkan oleh Tuhan sendiri.
Ada satu keistimewaan pada saudara-saudara ini, yaitu mereka yang memiliki titel membuang titel mereka; yang memiliki kedudukan mengesampingkan kedudukan mereka; yang memiliki gelar, membuang gelar mereka. Mereka membuang semua kelas mereka, baik yang duniawi maupun yang gerejani. Dan mereka hanya ingin menjadi murid Kristus yang sederhana dan saling bersaudara. Kalau istilah “bapa” lazim dipakai oleh gereja Roma Katolik, dan istilah “pendeta” lazim dipakai gereja Protestan, maka istilah “saudara” kini lazim pula dipakai di kalangan mereka. Perhimpunan mereka adalah karena tertarik oleh Tuhan semata. Dan karena mereka mengasihi Tuhan, maka dengan sendirinya mereka pun dapat saling mengasihi.
Dalam masa beberapa puluh tahun, Allah memberi banyak karunia kepada gereja-Nya. Selain Darby dan Bellet, kita masih melihat Allah mengaruniakan ministri-ministri rohani khusus kepada mereka agar gereja-Nya mendapatkan suplaian. George Muller, yang mendirikan panti asuhan, telah memulihkan berdoa dengan iman. Doa-doanya selama hidupnya yang dikabulkan Tuhan ada lebih dari 1.500.000 kali. C.H. Mackintosh, penulis tafsiran kitab-kitab Musa(Pentateuch), telah memulihkan pengenalan tentang lambanglambang. D.L. Moody berkata, andaikata buku-buku di seluruh dunia terbakar semuanya, itu tidak mengapa, asal ia memiliki sejilid Alkitab dan satu set tafsiran Pentateuch tulisan Mackintosh itu. James G. Deck mengarang banyak syair kidung yang indah bagi kita. George Cutting telah memulihkan jaminan keselamatan. Buku kecil karangannya, “Safety, Certainty, and Enjoyment” (Keselamatan, Kepastian, dan Sukacita) pada tahun 1930 telah terjual sebanyak 30.000.000 jilid, dan merupakan buku terlaris kedua setelah Alkitab.
William Kelly ialah seorang yang banyak menulis tafsiran yang oleh C.H. Spurgeon dinilai sebagai seorang yang berpikiran sebesar jagad. F.W. Grand adalah seorang yang paling mengenal Alkitab di abad 19-20. Robert Anderson ialah orang yang paling mengerti kitab Nabi Daniel di abad terakhir ini. C. Stanley ialah seorang penginjil sukses mendapatkan jiwa-jiwa dengan berita tentang keadilan Allah. S.P. Tregelles adalah ahli bahasa (philologist) Perjanjian Baru yang terkenal. Sejarah gereja susunan Andrew Miller adalah yang paling sesuai dengan Alkitab dari antara seluruh sejarah gereja yang ada. R.C. Chapman adalah seorang hamba yang dipakai secara besar oleh Tuhan. Itulah saudara-saudara pada masa itu. Selain itu, kalau ingin mengisahkan satu per satu dari kalangan saudara secara saksama, maka jumlah mereka yang sangat dipakai Tuhan paling sedikit ada ribuan orang lebih.
Sekarang mari kita lihat apakah yang diberikan mereka kepada kita. Mereka menunjukkan betapa darah adi Tuhan telah memenuhi tuntutan keadilan Allah; kepastian keselamatan; bagaimana orang Kristen terlemah dapat juga diperkenan di dalam Kristus, seperti halnya Kristus diperkenan Allah; bagaimana percaya kepada firman Allah sebagai dasar keselamatan. Sejak dimulainya sejarah gereja, tidak pernah ada satu masa di mana Injil diberitakan lebih jelas daripada masa mereka.
Tidak saja demikian, mereka juga menampakkan kepada kita bahwa gereja tidak mungkin memperoleh seluruh dunia. Panggilan gereja adalah surgawi, maka gereja tidak memiliki pengharapan duniawi. Mereka pulalah yang pertama membukakan nubuat sehingga kita tahu bahwa kedatangan Tuhan kelak adalah pengharapan gereja. Mereka telah membuka Kitab Wahyu dan Daniel, sehingga kita mengetahui masalah kerajaan, malapetaka, pengangkatan, dan mempelai perempuan. Tanpa mereka, pengertian kita akan hal-hal yang akan datang itu, tentu akan kurang banyak sekali. Mereka juga menampakkan kepada kita, apakah hukum dosa itu; apakah pelepasan dan apakah tersalib bersama dengan Tuhan; apa pula bangkit bersama Tuhan; bagaimana bersatu dengan Tuhan oleh iman, yang karena memandang kepada-Nya mengalami pengubahan dari hari ke hari.
Mereka juga yang memperlihatkan kepada kita dosa dan kejatuhan denominasi, keesaan Tubuh Kristus, kesatuan Roh Kudus. Mereka memperlihatkan pula perbedaan antara agama Yahudi dengan kekristenan. Karena dalam gereja Roma Katolik maupun Protestan, perbedaan itu sudah pudar. Mereka juga menyingkapkan dosa kelas mediator; dan menunjukkan bahwa semua anak Allah adalah imam yang harus bertindak sebagai iman, yakni harus dapat melayani Allah. Mereka pula yang memulihkan asas sidang yang sesuai dengan 1 Korintus 14; sehingga kita tahu bahwa khotbah bukanlah urusan satu orang, melainkan urusan dua atau tiga orang. Dan khotbah bukan berdasarkan pentahbisan atau pelantikan, melainkan berdasarkan karunia Roh Kudus. Jika kita ingin menyebutkan setiap perkara yang mereka pulihkan, maka boleh kita katakan, tidak ada satu pun kebenaran yang dimiliki kekristenan yang murni hari ini, yang tidak dipulihkan atau yang tidak dipulihkan lebih banyak oleh mereka.
Maka tidaklah heran kalau D.M. Panton berkata, “Pergerakan saudara dan maknanya adalah jauh lebih besar daripada pergerakan Reformasi.” Thomas Griffith berkata, “Mereka adalah orang-orang yang paling pandai menguraikan kebenaran menurut arti yang tepat dari antara anak-anak Allah.” Henry Ironside juga berkata, “Tidak peduli orang kenal atau tidak kepada saudara-saudara, namun kenyataannya semua orang yang mengenal Allah sudah menerima bantuan dari saudara-saudara, baik secara langsung atau tidak langsung.”
Memang pergerakan ini lebih besar daripada pergerakan Reformasi. Saya di sini ingin mengatakan bahwa karya Filadelfia lebih besar daripada karya Reformasi. Dari Filadelfia kita telah menerima sesuatu yang tidak diberikan oleh Reformasi. Kita bersyukur kepada Tuhan, karena demi pergerakan saudara, problem gereja telah terselesaikan. Kedudukan anak-anak Allah hampir terpulih semuanya. Maka baik pada kuantitas maupun kualitasnya kita nampak bahwa mereka benar-benar lebih besar daripada Reformasi.
Namun di pihak lain kita harus tahu bahwa pergerakan saudara ini jauh tidak semasyhur pergerakan Reformasi. Kalau Reformasi mengandalkan pedang dan tombak, sedang pergerakan saudara mengandalkan pengkhotbahan. Reformasi telah menyebabkan banyak jiwa yang gugur dalam perang Eropa. Ada satu sebab lagi yang membuat Reformasi menjadi tenar, yaitu ia berhubungan dengan politik. Banyak negara yang secara politis melepaskan diri dari kekuasaan Roma. Memang, sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan politik tidak mudah dikenal orang.
Selain itu, saudara-saudara itu melihat adanya dua perkara: pertama ialah apa yang kita katakan dunia yang terorganisir, yaitu dunia kejiwaan; dan yang kedua ialah yang mereka sebut dunia kekristenan. Mereka tidak saja terlepas dari dunia kejiwaan, juga terlepas dari dunia kekristenan yang diwakili oleh gereja-gereja Protestan. Bahkan terhadap selebaran/iklan-iklan Protestan pun tidak ada. Mereka tidak saja keluar dari dunia kedosaan, bahkan telah keluar dari dunia kekristenan.
Sejak saat itu, orang mengerti apakah gereja. Gereja adalah Tubuh Kristus, anak-anak Allah itulah satu gereja. Maka mereka tidak dapat terpisah. Yang mereka titik beratkan ialah persaudaraan dan kasih sejati antar satu sama lain. Tuhan Yesus berkata bahwa akan muncul satu gereja, yang disebut “Filadelfia”.
Sekarang mari kita melihat Kitab Wahyu, “Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Filadelfia.” Filadelfia ialah kasih persaudaraan. Karena apakah Tuhan memuji Filadelfia? Dia berkata bahwa Filadelfia adalah kasih persaudaraan, itu berarti kedudukan mediator seluruhnya telah terhapus. Saya ingin mengambil kesempatan ini untuk menguraikan lebih lanjut. Dalam gereja, tidak ada laki-laki atau perempuan. Dalam gereja seorang saudari pun tidak ada. Semua yang duduk di sini adalah saudara, tidak ada saudari. Kalau demikian, saudari kita akan bertanya, “Lalu, siapakah aku ini?” Anda adalah saudara. Mengapa? Karena kita semua memiliki hayat Kristus. Hari ini, di dalam dunia banyak orang laki-laki, tetapi mereka bukan saudara kita. Seseorang bisa menjadi saudara bukan karena ia adalah laki-laki, melainkan karena di dalamnya ada hayat Kristus. Karena di dalam kita masing-masing ada hayat Kristus, maka kita adalah saudara.
Ketika Tuhan bangkit dan akan naik ke surga, Dia berkata “Sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu” (Yoh. 20:17). Dalam Yohanes 1, Dia adalah Anak tunggal Allah, tetapi dalam pasal 20, Dia adalah Anak sulung Allah. Dalam pasal 1, Allah hanya memiliki satu Anak, sampai pasal 20, karena hayat-Nya telah disalurkan kepada orang, maka dengan sendirinya Dia menjadi anak sulung, dan kita semua adalah para saudara-Nya. Melalui kematian dan kebangkitan, Anak Allah yang tunggal menjadi Anak sulung. Kita dapat menjadi saudara karena kita telah menerima hayat-Nya.
Seorang laki-laki adalah saudara kalau ia menerima hayat Kristus, seorang perempuan adalah saudara kalau ia juga menerima hayat Kristus. Seorang saudari, meskipun ia bersifat perempuan, tetapi hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan keadaannya di dalam Kristus. Baik laki-laki maupun perempuan, kalau telah menerima hayat Kristus, maka semua adalah saudara. Semua surat ditujukan kepada saudara, tidak kepada saudari. Secara perorangan, mereka adalah saudari, tetapi di dalam gereja hanya ada saudara. Karena hayat itu, maka kita semua menjadi anak-anak (tekina) Allah. Semua kata “anak laki-laki dan perempuan” dalam Perjanjian Baru seharusnya diterjemahkan menjadi “anakanak”. Selain 2 Korintus 6, Allah tidak memiliki anak perempuan. Sudahkah Anda nampak? Dalam gereja kita semua berdiri di atas kedudukan saudara.
Pernah sekali terjadi di Shanghai, saya berkata kepada seorang saudara yang menjadi tukang batu, “Coba Anda keluar mengundang beberapa saudara datang.” Ia bertanya, “Anda menyuruhku mengundang saudara laki-laki atau saudara perempuan?” Orang ini telah menerima didikan Tuhan. Kita menyebut saudari, itu adalah sebutan perorangan, tetapi di dalam Kristus dan gereja tidak ada perbedaan laki-laki dan perempuan.
Dalam gereja juga tidak ada perbedaan orang merdeka atau hamba. Bukan karena ia adalah majikan, maka ia memperoleh hayat lebih besar; sedang aku ini hamba, maka hayat yang kuterima lebih sedikit. Saya ingat, dulu ada seorang saudara berkata kepada saya bahwa tempat sidang yang biasa dipakai ini kurang baik, lebih baik kita menyediakan suatu tempat khusus untuk berkhotbah kepada pejabatpejabat pemerintah. Lalu saya bertanya, kalau begitu kita harus memasang merek atau tanda apa? Itu bukan gereja Kristus, melainkan gereja pejabat. Dalam gereja tidak ada pejabat atau orang besar, semua adalah saudara. Begitu mata kita dicelikkan oleh Tuhan, kita akan menyadari, kalau di dalam dunia, kita lebih tinggi daripada orang lain itu mulia; namun dalam gereja perbedaan yang demikian tidak ada.
Paulus mengatakan, di dalam Kristus tidak ada orang Yahudi, orang Yunani, orang merdeka atau budak, laki-laki atau perempuan. Gereja bukan berdiri di atas perbedaan, melainkan di atas kasih persaudaraan.
Seperti pada bagian lain, di sini Tuhan juga menyebutkan nama-Nya sendiri. Kata-Nya, “Dari Yang Kudus, Yang Benar, yang memegang kunci Daud; apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.” Kekudusan ialah hayat-Nya, Dia sendiri adalah kekudusan. Di hadapan Allah, Dialah kebenaran; Dialah realitas Allah, dan realitas Allah ialah Kristus. Tangan-Nya “memegang kunci”. Di sini saya minta kalian memperhatikan satu perkara: Ketika Sardis berdiri bersaksi bagi Tuhan, ada raja-raja dunia membantunya berperang. Peperangan itu berlangsung di benua Eropa selama beberapa puluh tahun, di Inggris pun demikian. Tetapi bagaimana dengan pergerakan saudara ini? Tidak ada kekuatan yang mendukung mereka dari belakang. Lalu bagaimana? Tuhan berkata bahwa Dia memegang kunci Daud, itu berarti kekuasaan (Alkitab menyebut Daud raja). Itu bukan masalah kekuatan senjata, bukan masalah advertensi atau iklan, melainkan masalah membuka pintu.
Seorang redaksi surat kabar di Inggris berkata, “Aku tidak menyangka begitu banyaknya saudara, dan aku tidak mengerti bagaimana orang-orang itu bisa bertumbuh secepat itu?” Jika Anda berkeliling dunia, Anda akan mengetahui bahwa saudara itu ada di mana-mana. Walaupun di antara mereka ada yang mengerti ajaran lebih dalam, dan ada yang agak dangkal, namun kedudukan saudara itu tetap sama. Melihat keadaan ini, kita patut bersyukur kepada Tuhan. Tuhan berkata bahwa apabila Dia membuka pintu, tidak ada yang dapat menutupnya, apabila Dia menutup, tidak ada yang dapat membuka.
“Aku tahu segala pekerjaanmu . . . Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa.”Ketika kita membaca sampai di sini, dengan spontan kita teringat akan keadaan kembalinya Zerubabel, ada seorang nabi mengatakan, “Siapa memandang hina hari peristiwa-peristiwa yang kecil . . .” (Za. 4:10). Anda jangan memandang hina hari peristiwa-peristiwa yang kecil, yaitu hari pembangunan Bait Suci.
Dalam Alkitab ada satu lambang yang sangat besar dari gereja, yakni Bait Suci. Ketika Daud berkuasa sebagai raja, umat Allah bersatu. Setelah itu, mereka terpecah menjadi Kerajaan Yehuda dan Kerajaan Israel. Umat Allah mulai terpecah belah, bersamaan dengan itu muncul pula berhala dan perzinaan yang mengakibatkan tertawannya mereka ke Babilon. Semua orang mengakui bahwa tertawan ke Babilon adalah lambang Tiatira, yaitu Roma Katolik. Karena Alkitab memakai Babilon sebagai lambang Roma. Jadi, gereja pun mempunyai masalah tertawan di Babilon.
Apakah yang dilakukan umat Allah sewaktu mereka kembali dari tempat tawanan mereka? Mereka kembali dalam keadaan yang lemah, kelompok demi kelompok dan kemudian mereka membangun Bait Suci. Keadaan mereka mirip sekali dengan yang dilambangkan oleh pergerakan saudara. Saat itu banyak orang Yahudi, yaitu kaum tua, mereka yang pernah melihat Bait Suci yang dulu, kini dengan mata kepala sendiri melihat peletakan dasar bait, maka menangislah mereka dengan nyaring, sebab bait ini jauh lebih tidak mulia daripada bait yang dibangun oleh Salomo pada mulanya. Namun melalui seorang nabi kecil, Allah telah berkata, “Jangan memandang hina hari peristiwa-peristiwa kecil, karena itulah hari pemulihan.”
Di sini pun Tuhan mengatakan perkataan yang sama, “Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa.” Kesaksian gereja hari ini di dunia, jika dibandingkan dengan hari Pentakosta yang semula itu sungguh hanya merupakan peristiwa-peristiwa yang kecil saja.
“Engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.” Tuhan mengakui mereka atas dua perkara: Tidak menyangkal nama Tuhan dan tidak menyangkal firman-Nya. Dalam sejarah gereja tidak ada satu zaman di mana orang mengenal firman Allah sejelas “Kaum Saudara”. Terang dari firman banyaknya seolah arus air bah yang tercurah menggelora.
Suatu malam ketika saya di Shanghai, saya berjumpa dengan seorang saudara yang mengaku menjadi jurumasak di atas sebuah kapal. Saya berdialog lama dengannya, saya merasa bahwa jarang sekali ada pendeta misi yang mengenal firman Allah sejelas dia. Pernah juga orang bertanya kepada seorang saudara, “Mengapa dalam Alkitab hanya ada kecapi, namun tidak ada seruling?” Dia menjawab, “Allah memang senang musik, tetapi Allah pun senang akan puji-pujian.” Benar, kalau memakai mulut meniup, bagaimana mungkin bisa memuji? Demikianlah tanpa disadarinya, ia telah menjawab demikian. Bahkan di tempat terpencil, Anda akan merasa bahwa mereka sangat mengenal firman Allah.
Ada seorang saudari yang sedang dalam keadaan sulit, ketika seorang saudara bertanya kepadanya, apa sebabnya, ia menjawab, “Kedudukan tidak benar, malah ingin berperang, maka hasilnya tentu rambutnya akan terkait di atas pohon.” Ada pula seorang misionaris yang bertanya kepada seorang saudara di atas kapal, demikian, “Aku heran, mengapa dalam Perjanjian Baru di banyak tempat selalu menyinggung roti dan ikan?” Saudara itu menjawab, “Kelimpahan bumi ditambah kelimpahan laut”. Sungguh, mereka memiliki satu ciri-ciri khusus, yaitu sangat mengenal firman Allah. Sekalipun Anda bertemu dengan seorang beriman yang sederhana di antara mereka, ia lebih jelas daripada kebanyakan pendeta misi.
Tuhan berkata, “Engkau tidak menyangkal nama-Ku.” Sejak tahun 1825, “Kaum Saudara” itu mengatakan bahwa mereka hanya dapat disebut Kristen (Christians). Kalau Anda bertanya kepada mereka, “Siapakah Anda?” Mereka masingmasing akan menjawab “Aku adalah seorang Kristen.” Tetapi jika Anda bertanya kepada salah seorang anggota gereja Methodis, ia akan menjawab, “Aku adalah orang Methodis.” Kalau Anda bertemu dengan seorang anggota gereja Persahabatan (Friends Church) ia akan berkata, “Aku anggota gereja Persahabatan.” Seorang yang dari gereja Lutheran akan mengatakan, “Aku orang gereja Lutheran.” Dan orang dari gereja Baptis akan menjawab, “Aku anggota Baptis.” Kecuali Kristus, orang masih memakai nama lain untuk menyebut diri sendiri.
Namun bagi anak-anak Allah sepatutnya hanya ada satu nama saja yang bisa dipakai untuk menyebut diri sendiri. Tuhan Yesus berkata, “Berdoa di dalam nama-Ku” dan “berhimpun di dalam nama-Ku”. Kita hanya boleh memiliki nama Tuhan. Whitefield berkata, “Biarlah semua nama lain tersingkir, hanya nama Kristus yang terjunjung tinggi.” Kaum saudara itu bangkit justru melakukan hal ini. Nubuat Tuhan pun demikian, yaitu mereka sangat menghargai nama Tuhan. Nama Kristus telah menjadi inti mereka. Di antara mereka sering terdengar kata-kata, “Apakah nama Kristus tidak cukup bagi kita untuk memisahkan diri dari dunia? Apakah tidak cukup baik bagi kita untuk memikul nama Tuhan?”
Saya ingat, saya pernah berjumpa dengan seorang seiman di atas kereta api yang bertanya kepada saya, “Anda seorang Kristen apa?” Saya menjawab bahwa saya adalah orang Kristen saja. Ia menegur saya, “Dalam dunia tidak ada orang Kristen semacam itu. Hanya mengatakan sebagai seorang Kristen saja, itu tidak bermakna. Anda harus mengatakan Anda seorang Kristen macam apa, barulah bermakna.” Saya menjawab, “Saya hanyalah seorang Kristen saja. Kalau Anda mengatakan menjadi seorang Kristen saja tidak bermakna, lalu, menjadi orang Kristen macam apakah baru bermakna? Bagi saya, saya hanya bisa menjadi seorang Kristen saja, lain dari itu tidak.” Hari itu kami berdua berdialog baik sekali.
Saya ingin kalian nampak satu perkara, yaitu dasar pemikiran kebanyakan orang mengira nama Tuhan saja masih tidak cukup, harus ditambah dengan nama sesuatu denominasi barulah cukup. Jadi di luar nama Tuhan masih harus ditambah dengan nama lain. Saudara, janganlah Anda menganggap sikap kita terlalu keras. Di sini Tuhan berkata, “Engkau tidak menyangkal nama-Ku.” Jika perasaanku benar, semua nama lain itu memalukan Tuhan. Istilah “menyangkal” sama dengan penyangkalan Petrus kepada Tuhan. Aku adalah orang Kristen macam apa? Aku adalah orang Kristen. (titik). Aku tidak mau menyebut nama lainnya. Banyak orang enggan mengindahkan nama Tuhan, dan tidak mau kalau hanya disebut orang Kristen saja. Syukur kepada Tuhan, dalam sejarah, nubuat tentang Filadelfia telah digenapkan oleh “Kaum Saudara”. Mereka tidak lagi memiliki nama pemisah lainnya. Mereka adalah saudara-saudara, mereka bukan “Gereja Persaudaraan” (The Brethren Church).
“Lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorang pun.” Tuhan berkata kepada gereja di Filadelfia mengenai “pintu yang terbuka”. Orang sering mengatakan, jika Anda berbuat sesuai dengan Alkitab, pasti tidak lama lagi pintu Anda akan tertutup. Tertutupnya pintu itulah kesulitan terbesar untuk menaati Tuhan. Namun di sini ada sebuah janji, “Lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorang pun.” Hal ini bagi mereka adalah satu fakta. Di seluruh dunia, baik dalam pemahaman Alkitab maupun memberitakan Injil, tidak ada golongan lainnya yang memiliki kesempatan sebaik yang mereka miliki. Entah di Eropa, Amerika, dan Afrika, semua demikianlah adanya. Tanpa dukungan manusia, selebaranselebaran, propaganda ataupun sokongan-sokongan; mereka tetap mempunyai banyak kesempatan untuk bekerja, sebab pintu untuk bekerja selalu terbuka bagi mereka.
“Lihatlah, beberapa orang dari jemaah Iblis, yaitu mereka yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, melainkan berdusta, akan Kuserahkan kepadamu. Sesungguhnya Aku akan menyuruh mereka datang dan sujud di depan kakimu dan mereka akan tahu bahwa Aku mengasihi engkau.”
Kita telah melihat paling sedikit ada empat perkara yang membuat kekristenan menjadi agama Yahudi: Imamat yang berkelas-kelas, hukum yang harfiah, Bait Suci yang material, dan perjanjian yang duniawi. Apa perkataan Tuhan? “Sesungguhnya Aku akan menyuruh mereka datang dan sujud di depan kakimu.” Agama Yahudi telah rusak di tangan mereka. Di setiap tempat di bumi ini, telah muncul pergerakan yang demikian. Di mana mereka berada, di situ pula agama Yahudi ditaklukkan. Di tengah-tengah orang yang benar-benar mengenal Allah hari ini, kekuatan utama dari agama Yahudi telah berlalu.
“Karena engkau telah menuruti firman kesabaran-Ku” (Why. 3:10, versi King James). Ini berkaitan dengan kata “berbagian dalam kesusahan, kerajaan, dan kesabaran Yesus” dalam pasal 1. “Kesabaran” di sini adalah kata benda. Hari ini adalah waktu kesabaran Kristus. Hari ini Tuhan di sini menjumpai cemoohan-cemoohan, namun Dia sabar. Pada suatu hari kelak, penghakiman akan datang; tetapi hari ini Dia sabar. Firman-Nya hari ini adalah firman kesabaran. Dia di sini tidak ada reputasi, Dia sebagai manusia yang rendah, tetap sebagai orang Nazaret anak tukang kayu. Ketika kita mengikuti Dia, Dia berkata hendaklah kita “menuruti firman kesabaran-Ku”.
“Aku pun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang tinggal di bumi.” Kata “hari” dalam ayat di atas, menurut bahasa aslinya seharusnya diterjemahkan “jam”. Jadi, seharusnya demikian, “Aku pun akan melindungi engkau dari jam pencobaan yang . . .” Kita dapat mengambil Kota Chungking sebagai perumpamaan. Bila mengatakan, saya akan melindungi Anda dari pemboman itu, ini berarti Anda tetap berada di Kota Chungking, namun Anda terhindar dari pemboman itu. Kalau saya mengatakan, melindungi Anda dari jam itu, ini berarti sebelum saat pemboman, Anda telah pergi ke kota lain.
Ketika seluruh dunia mengalami pencobaan (kita tahu itu ditujukan kepada malapetaka besar), Anda tidak sampai mengalaminya. Sebelum waktu itu tiba, kita telah diangkat. Dalam seluruh Alkitab hanya ada dua tempat yang membicarakan tentang janji pengangkatan, yaitu Lukas 21:36 dan Wahyu 3:10. Hari ini, kalau kita ingin mengikuti Tuhan, kita tidak bisa dengan sembarangan melewatkan hari-hari kita. Kita harus belajar pada jalan Filadelfia dan mohon Tuhan menyelamatkan kita, agar terlepas dari semua pencobaan yang akan menimpa kelak.
“Aku datang segera. Peganglah terus apa yang ada padamu, supaya tidak seorang pun mengambil mahkotamu.” Tuhan berkata, “Aku datang segera.” Maka gereja ini akan berlangsung terus hingga kedatangan Tuhan yang kedua kalinya. Tiatira tidak berlalu, Sardis tidak berlalu, Filadelfia pun tidak berlalu.
“Peganglah terus apa yang ada padamu.” Itulah “firman-Ku” dan “nama-Ku”. Janganlah kita melupakan firman Tuhan, dan janganlah memalukan nama-Nya. “Supaya tidak seorang pun mengambil mahkotamu.” Seluruh Filadelfia telah memiliki mahkota. Kalau pada gereja lain masalahnya adalah mendapatkan mahkota, namun di sini masalahnya ialah kehilangan mahkota. Tuhan mengatakan bahwa kalian semua telah memiliki mahkota. Dalam seluruh Perjanjian Baru hanya seorang yang tahu dirinya telah memiliki mahkota, dialah Paulus (2 Tim. 4:8). Demikian pula di antara seluruh gereja hanya Filadelfia yang mengetahui bahwa dirinya memiliki mahkota. Sekarang janganlah sampai ada siapa pun yang merebutnya, jangan keluar dari Filadelfia dan melepaskan kedudukan Anda. Karena itu, di sini Tuhan berkata, “Peganglah terus apa yang ada padamu, supaya tidak seorang pun mengambil mahkotamu.”
Perkataan Tuhan ini menyatakan bahwa Filadelfia pun mempunyai bahaya tersendiri, jika tidak, tentu Tuhan tidak memberi peringatan demikian. Lagi pula, bahaya ini sangat riil, itulah sebabnya mengapa Tuhan berpesan dengan serius kepadanya. Apakah bahaya mereka itu? Bahaya itu ialah kehilangan apa yang ada pada mereka. Maka Tuhan menyuruh mereka memegang apa yang ada pada mereka. Bahaya mereka bukan tidak maju, tetapi mundur. Mereka berkenan kepada Tuhan dikarenakan mereka saling mengasihi dan setia kepada firman dan nama Tuhan. Bahaya mereka adalah karena kehilangan kasih dan kesetiaan itu. Celaka sekali! Pada faktanya, itulah yang terjadi. Dua puluh tahun kemudian, kita melihat bahwa mereka terpecah belah. Mereka terpecah menjadi dua golongan: Golongan “terbuka” dan golongan “tertutup”; dan di antara keduanya itu, juga terbagi lagi menjadi banyak sekte. Karena itu, dalam Filadelfia pun ada panggilan untuk para pemenang.
Di manakah sebab kesulitan ini? Kita harus berhati-hati sekali dan juga perlu sangat merendahkan diri, jika tidak, kita pun akan terperosok ke dalam kegagalan yang serupa. Saya kira setiap perpecahan disebabkan karena kekurangan saling mengasihi. Apabila kasih telah hilang atau berkurang, orang lalu memperhatikan Taurat, mementingkan tata cara dan mencari-cari kesalahan. Begitu kasih itu mengalami ketidakberesan, orang pun akan menyombongkan dirinya sendiri dan dengki terhadap orang lain, sehingga timbul pertikaian atau perselisihan. Roh Kudus adalah kekuatan keesaan, tetapi daging adalah kekuatan perpecahan. Tanpa membereskan daging, cepat atau lambat, perpecahan pasti akan terjadi.
Selain itu, saya yakin, kekurangan “Kaum Saudara” waktu itu adalah karena mereka tidak nampak pendirian dan batasan “lokalitas” gereja. Mereka menyadari dengan jelas akan dosa dan kejahatan gereja pada segi negatifnya, namun mereka kurang jelas terhadap bagaimana gereja harus saling mengasihi dan bersehati di atas pendirian dan batasan lokalitas secara positif. Kalau gereja Roma Katolik memperhatikan keesaan dari satu gereja gabungan di bumi ini, maka “Kaum Saudara” memperhatikan satu keesaan idealistis dari gereja rohani di atas surga. Mereka tidak nampak atau kurang nampak dengan jelas bahwa saling mengasihi dalam Surat Kiriman rasul merupakan saling mengasihi dalam satu gereja setempat atau lokal, dan kesatuan merupakan kesatuan gereja dalam satu lokal; persekutuan adalah persekutuan gereja dalam satu lokal, pembinaan juga adalah pembinaan gereja setempat/lokal, bahkan pemecatan pun adalah pemecatan dalam gereja setempat.
Bagaimanapun juga hanya ada dua golongan manusia yang membicarakan masalah keesaan: gereja Roma Katolik menekankan kesatuan seluruh gereja di dunia ini; kaum saudara menekankan kesatuan gereja yang rohani di atas surga. Akibatnya, yang di depan hanya keesaan lahiriah, sedang yang di belakang hanya kesatuan idealistis belaka. Padahal mereka berpecah belah. Keduanya itu tidak memperhatikan kesatuan tiap gereja setempat, di tiap lokal, seperti yang tercantum dalam Alkitab.
Karena “Kaum Saudara” kurang memperhatikan bahwa batasan gereja adalah batasan lokalitas, maka “Kaum Saudara” golongan “tertutup” menuntut setiap gereja bertindak seragam, sehingga memecahkan lingkungan lokalitas gereja dan terperosok ke dalam kekeliruan semacam gereja serikat (United Church); sedang kaum saudara golongan “terbuka” menuntut adanya administrasi independen di tiap gereja, dengan demikian maka di banyak tempat, dalam satu kota, muncul banyak gereja, sehingga jatuh ke dalam kekeliruan yang membuat tiap jemaah (congregation) satu kesatuan (unit) tersendiri.
Kalau golongan “tertutup” telah melampaui batasan lokalitas; maka golongan “terbuka” tidak mencapai batasan lokalitas, lebih kecil daripada batasan lokalitas. Mereka lupa bahwa menurut Alkitab semua perkataan yang ditujukan kepada gereja ditujukan kepada gereja yang demikian — gereja lokal.
Aneh sekali, kecenderungan hari ini ialah perkataan yang ditujukan kepada gereja lokal dalam Alkitab telah diganti menjadi perkataan yang ditujukan kepada gereja rohani. Dan ketika ada saudara akan mendirikan gereja, ia mendirikan gereja yang lebih kecil daripada lokalitas, gereja “rumahan”, itulah salah satu macam di antaranya. Namun, dalam Alkitab tidak ada “Gereja Serikat” dari beberapa tempat, pun tidak ada gereja-gereja jemaah dalam satu tempat sebagai gereja-gereja independen. Beberapa lokal sebagai satu gereja atau beberapa gereja berdiri pada satu tempat, sama sekali bukanlah yang ditetapkan Allah. Menurut firman Allah ialah, satu tempat, satu gereja. Beberapa lokal menjadi satu gereja, berarti menuntut keesaan yang tidak dituntut oleh Alkitab, sedang beberapa gereja berdiri dalam satu lokal berarti memecahkan keesaan yang dituntut oleh Alkitab.
Jadi, kesulitan “Kaum Saudara” pada waktu itu dikarenakan mereka kurang jelas terhadap ajaran lokalitas dalam Alkitab. Akibatnya, di antara mereka timbul kesatuan ala “gereja serikat” yang bersatu dengan saudara di lain tempat, sehingga tidak takut terpisah dengan saudara yang berlokasi sama dengan mereka. Dan mereka yang mengambil satu jemaah sebagai satu unit, asal tidak ada masalah dengan saudara dalam jemaah itu, lalu merasa tidak takut berpisah dengan saudara selokal namun berhimpun di lain jemaah. Berhubung mereka tidak memahami pentingnya ajaran lokalitas gereja yang sesuai dengan Alkitab, akhirnya semua terpecah belah.
Allah tidak menghendaki kesatuan seluruh tempat yang tidak riil. Allah pun tidak menghendaki orang menarik satu jemaah (sidang) sebagai lingkungan kesatuan, itu terlalu bebas, terlampau semena-mena, tanpa pembatasan dan tanpa pelajaran; hanya satu perkataan saja kurang cocok, segera bercerai dan mendirikan sidang lain, dengan tiga atau lima orang berkelompok dan itu dianggap sebagai satu kesatuan. Ini tidak benar! Camkanlah, dalam satu lokal hanya boleh ada satu kesatuan! Hal ini bagi mereka yang menghamburkan keinginan daging sungguh merupakan suatu pembatasan.
Pergerakan “Kaum Saudara” sampai hari ini tetap berlangsung. Terang “lokalitas” kian hari kian jelas. Kita tidak mengetahui Allah akan bekerja sampai ke tahap mana. Kita hanya bisa menunggu kedatangan sejarah, saat itu kita baru jelas. Jika persembahan kita mutlak kepada Tuhan dan jika kita merendahkan diri, mungkin kita boleh menerima rahmat-Nya, sehingga terhindar dari kesalahan-kesalahan.
“Siapa yang menang, ia akan Kujadikan tiang di dalam Bait Suci Allah-Ku, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ; dan padanya akan Kutuliskan nama Allah-Ku, nama kota Allah-Ku, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari surga dari Allah-Ku, dan nama-Ku yang baru.”
Masalah pecat memecat di antara saudara di Filadelfia banyak terjadi. Namun di sini mereka tidak lagi saling memecat, mereka akan menjadi sokoguru dalam Bait Suci Allah. Andaikan sokoguru tergeser, bait pasti akan roboh. Filadelfia telah menegakkan Bait Suci Allah. Di atas pemenang tertulis tiga nama: Nama Allah, nama Yerusalem Baru, dan nama Tuhan yang baru. Rencana Allah yang kekal telah genap. Orang-orang di Filadelfia telah kembali kepada Tuhan dan telah memuaskan hati Tuhan.
“Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.” Harap kalian ingat, Allah tidak menyembunyikan kehendak-Nya. Allah telah membentangkan jalan-Nya dengan jelas di hadapan kita semua.