HARI-HARI RAYA (1)
Pembacaan Alkitab: Im. 23:1-14
Dalam berita ini kita sampai pada perkara yang menakjubkan dalam Kitab Imamat, hari-hari raya. Menurut urutan kitab ini, menjelang akhir pasal 22, kita dibawa dari kenajisan kita kepada jabatan imam dengan kenikmatannya. Butir selanjutnya adalah hari-hari raya, yang adalah untuk perhentian dan kenikmatan, keduanya melambangkan Kristus sebagai perhentian dan kenikmatan kita. Ini menunjukkan bahwa dalam Kitab Imamat, kitab jabatan imam Allah untuk pelayanan Allah dalam persekutuan Allah, pelayanan kita menghasilkan Kristus sebagai perhentian dan kenikmatan yang kita miliki bersama Allah dan orang lain. Dengan perkataan lain, hasil dari pelayanan ini adalah hari-hari raya.
Hari-hari raya ini tidak terjadi sewaktu-waktu. Sebaliknya, hari-hari ini ditetapkan oleh Allah, ditentukan oleh Allah. Allah menentukan hari-hari raya supaya umat-Nya dapat beristirahat dengan Dia dan bersukacita dengan Dia, menikmati semua yang Dia sediakan untuk umat tebusan-Nya. Mereka menikmati semua itu bersama Allah dan orang lain.
I. HARI-HARI RAYA DITETAPKAN TUHAN
SEBAGAI PERTEMUAN KUDUS
Imamat 23:2 mengatakan, “Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN yang harus kamu maklumkan sebagai waktu pertemuan kudus, waktu perayaan yang Kutetapkan, adalah yang berikut.” Kata “pertemuan” di sini menunjukkan sesuatu yang lebih besar dan serius dibandingkan berkumpul. “Pertemuan” ini adalah perhimpunan khusus yang diadakan untuk tujuan khusus dan tertentu. Hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN sebagai pertemuan kudus melambangkan perkumpulan umat tebusan Allah untuk berhari raya dengan Allah untuk sukacita dan kenikmatan-Nya supaya umat tebusan dapat berbagian dengan Dia dan orang lain. Karena itu, hari raya hanya untuk perhentian dan kenikmatan, bukan untuk yang lain. Perhentian dan kenikmatan ini bukan individual, melainkan korporat.
A. Hari Raya Mingguan—Sabat
“Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada sabat, hari perhentian penuh, yakni hari pertemuan kudus; janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan; itulah sabat bagi TUHAN di segala tempat kediamanmu” (ayat 3). Hari raya mingguan, sabat, melambangkan perhentian yang dinikmati umat tebusan Allah bersama Dia dan orang lain. Setiap tujuh hari ada satu hari perhentian dan kenikmatan. Pada hari itu ada perhimpunan, pertemuan kudus. Ini menunjukkan bahwa pada hari Sabat, umat tebusan Allah berkumpul bersama. Jika mereka tidak berkumpul bersama, mereka dapat menikmati perhentian bersama Allah, tetapi mereka tidak dapat menikmati perhentian bersama Allah dan dengan satu sama lain secara korporat.
1. Adalah Makna Utama dari Semua Hari-hari Raya (Perayaan) Tahunan,
Agar Umat Tebusan Allah Beristirahat bersama Allah dan Orang Lain
Makna utama dari semua hari-hari raya (perayaan) tahunan adalah agar umat Allah saling memiliki perhentian bersama Dia dan orang lain. Jadi, perhentian mingguan adalah makna dari tujuh kali hari raya dalam setahun. Setiap perayaan tahunan, sepertilah perhentian mingguan, adalah suatu perhentian.
2. Perhentian yang Serius
Sabat mingguan adalah perhentian yang serius. Ini bukan sesuatu yang ringan dan umum, tetapi sesuatu yang sangat kudus, sakral, dan penting untuk kenikmatan Allah dan kenikmatan umat-Nya. Perhentian yang serius ini melambangkan perhentian yang sejati dan tuntas dari Allah dan bersama Allah agar umat tebusan Allah menikmati bersama Dia dan orang lain.
3. Pertemuan Kudus
Bila ada hari raya, itu adalah pertemuan kudus. Pertemuan kudus melambangkan kenikmatan yang korporat atas perhentian, bukan oleh orang beriman individu secara terpisah, melainkan oleh gereja secara korporat. Dalam perkumpulan demikian kita di hadapan Allah, memiliki kenikmatan atas Allah, bersama Allah, dan bersama orang lain.
4. Tidak Melakukan Pekerjaan Apa pun
Pada hari Sabat orang dilarang melakukan pekerjaan apa pun. Ini melambangkan tidak perlu memiliki jerih lelah manusia.
5. Sabat bagi TUHAN
Sabat adalah “bagi TUHAN”. Ini melambangkan perhentian untuk kenikmatan Allah, dinikmati juga oleh umat tebusan-Nya. Dalam semua pertemuan, dalam semua hari raya, kita melakukan satu hal, beristirahat di hadapan Allah dan bersama Dia dan orang lain.
B. Hari-hari Raya (Perayaan) Tahunan
Ada tujuh hari raya (perayaan) tahunan. Tujuh adalah angka kepenuhan. Tujuh kali hari raya dalam setahun berada dalam kepenuhan kekayaan Allah. Dalam Alkitab, angka tujuh terbentuk dengan dua cara: empat ditambah tiga dan satu ditambah enam. Tujuh hari raya dalam Imamat 23 terbagi dalam dua kelompok, empat dalam kelompok pertama dan tiga dalam kelompok kedua. Empat hari raya dalam kelompok pertama semua terjadi pada bulan pertama setiap tahun. Tiga hari raya dalam kelompok kedua terjadi pada bulan ketujuh setiap tahun. Menurut penggenapan zamannya, empat yang pertama sudah terjadi, dan tiga yang terakhir akan terjadi di masa yang akan datang.
1. Hari Raya Paskah
“Inilah hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN, hari-hari pertemuan kudus, yang harus kamu maklumkan masing-masing pada waktunya yang tetap. Dalam bulan yang pertama, pada tanggal empat belas bulan itu, pada waktu senja, ada Paskah bagi TUHAN” (ayat 4-5). Hari raya Paskah melambangkan Kristus (1Kor. 5:7b) sebagai penebusan kita untuk memulai kenikmatan kita atas keselamatan Allah bersama Allah.
a. Pada Bulan Pertama Setiap Tahun
Paskah dirayakan pada bulan pertama setiap tahun. Ini melambangkan permulaan suatu masa.
b. Menunjukkan Melewati
Paskah berarti melewati. Ini melambangkan bahwa Allah yang menghakimi telah melewati kita, orang dosa yang berada dalam dosa-dosa kita, supaya kita dapat menikmati Dia sebagai hari raya. Hari ini kita memiliki hari raya, yang adalah Allah Sang penebus itu sendiri, dan kita menikmati Dia sebagai perhentian dan sukacita.
2. Hari Raya Roti Tidak Beragi
“Dan pada hari yang kelima belas bulan itu ada hari raya Roti Tidak Beragi bagi TUHAN; tujuh hari lamanya kamu harus makan roti yang tidak beragi. Pada hari yang pertama kamu harus mengadakan pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat. Kamu harus mempersembahkan kurban api-apian kepada TUHAN tujuh hari lamanya; pada hari yang ketujuh haruslah ada pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat” (Im. 23:6-8). Hari raya roti tidak beragi melambangkan Kristus yang tanpa dosa (2Kor. 5:21) untuk kenikmatan kita sebagai hari raya dalam kehidupan yang terpisah dari dosa.
Hari raya Roti Tidak Beragi, hari raya kedua, dimulai segera setelah hari raya pertama, Paskah. Hari raya pertama diadakan pada hari keempat belas bulan pertama, dan hari raya kedua dimulai pada hari berikutnya. Sebenarnya, dua hari raya ini, hari raya Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi, bergandengan. Hari raya pertama adalah permulaan, dan hari raya kedua adalah kelanjutannya. Hari raya pertama hanya satu hari, hari keempat belas bulan pertama; hari raya kedua berlangsung selama tujuh hari, dari hari kelima belas sampai hari kedua puluh satu.
Hari raya Roti Tidak Beragi berlangsung selama tujuh hari, melambangkan atau menandakan seumur hidup kristiani kita. Seumur hidup kristiani kita adalah hari raya Roti Tidak Beragi, hari raya tanpa dosa. Kita telah ditebus dari dosa, dan sekarang Penebus, yang tanpa dosa, adalah hari raya kita untuk seumur hidup kristiani kita. Hari ini kita ada dalam hari raya, menikmati perhentian, menikmati Allah, dan menikmati Penebus kita, terpisah dari dosa. Sebagai orang yang menikmati hari raya ini, kita tidak ada hubungan dengan dosa.
a. Makan Roti Tidak Beragi Selama Tujuh Hari
Makan roti tidak beragi selama tujuh hari (ayat 6b) melambangkan setiap hari kita menempuh kehidupan tanpa dosa karena menikmati Kristus untuk seumur hidup kristiani kita. Dalam pengajarannya, Kaum Saudara tidak banyak menyinggung tentang Kristus adalah hayat kita terpisah dari dosa untuk seumur hidup kristiani kita. Karena itu, kita perlu menekankan perkara ini hari ini. Setelah melewati Paskah, kita sekarang menikmati hari raya Roti Tidak Beragi. Dalam hari raya ini kita menikmati satu roti-roti tidak beragi, yang melambangkan Kristus yang tidak beragi, Kristus yang tanpa dosa.
Kapan kita mengalami Paskah kita? Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Secara korporat sebagai umat Perjanjian Baru Allah, kita melewati Paskah pada hari Tuhan Yesus mendirikan meja-Nya. Meja Tuhan menggantikan Paskah Perjanjian Lama. Tuhan Yesus, Anak Domba Paskah, setelah diperiksa beberapa hari, dibunuh pada hari Paskah. Pada petang sebelum Dia disalibkan, Dia mendirikan meja (Mat. 26:26-30). Mula-mula Dia “mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata, ‘Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku’” (ayat 26). Kemudian Dia memberikan cawan, dan berkata, “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa-dosa” (ayat 27b-28). Ini adalah meja Tuhan menjadi pengganti Paskah. Walaupun kita telah melewati hari raya ini, kita masih memeliharanya. Setiap minggu, pada hari pertama dalam satu minggu, kita memiliki Paskah Perjanjian Baru. Jadi, kita masih menikmati hari raya ini.
Secara individu kita melewati hari raya Paskah pada saat kita beroleh selamat. Ini berarti bahwa secara individu, kita melewati Paskah pada waktu yang berbeda. Segera setelah hari raya ini, kita mengalami hari raya lainnya, hari raya Roti Tidak Beragi. Hal penting yang kita nikmati dalam hari raya Paskah adalah Kristus sebagai anak domba kita. Dalam hari raya Roti Tidak Beragi, hal penting yang kita nikmati adalah Kristus sebagai roti tidak beragi, sebagai suplai hayat kita yang tanpa dosa. Sekarang untuk seluruh kehidupan kristiani kita, kita hidup dari roti ini yang tanpa dosa.
b. Pada Hari Pertama Harus Mengadakan Pertemuan Kudus dan Jangan Melakukan Pekerjaan Berat
Pada hari pertama hari raya Roti Tidak Beragi bangsa itu harus mengadakan pertemuan kudus dan tidak melakukan pekerjaan berat (ayat 7). Ini melambangkan bahwa sejak memulai lembaran kehidupan kristiani kita, kita menikmati Kristus secara korporat sebagai hari raya kita, tanpa jerih lelah manusia.
c. Selama Tujuh Hari Mempersembahkan Kurban Api-apian kepada Allah
Selama tujuh hari umat itu harus mempersembahkan kurban api-apian kepada Allah (ayat 8a). Ini melambangkan bahwa kita mempersembahkan Kristus sebagai makanan Allah terus-menerus seumur hidup kristiani kita. Kristus adalah makanan kita. Setelah kita menikmati Dia sebagai makanan, Dia menjadi kurban persembahan kita kepada Allah, menjadi makanan Allah. Pada meja Tuhan kita memamerkan kepada alam semesta bahwa selama seminggu kita mengambil Kristus sebagai makanan kita yang tidak beragi, sebagai suplai hayat kita yang terpisah dari dosa, dan kita datang ke meja itu bersama Dia. Kemudian kita mempersembahkan Dia yang telah kita nikmati sebagai makanan kita kepada Allah untuk kepuasan-Nya. Dengan berbuat demikian, kita mengalami Dia sebagai kenikmatan kita.
d. Pada Hari Ketujuh Mengadakan Pertemuan Kudus
dan Tidak Melakukan Pekerjaan Berat
Pada hari ketujuh juga bangsa itu harus mengadakan pertemuan kudus dan tidak melakukan pekerjaan berat (ayat 8b). Ini melambangkan bahwa kita terus-menerus menikmati Kristus secara korporat, tanpa jerih lelah manusia, sampai hari terakhir penempuhan kehidupan kristiani kita.
3. Hari Raya Hasil Pertama
Hari raya tahunan ketiga adalah hari raya Hasil Pertama (Buah Sulung) (ayat 9-14). Hari raya ini melambangkan Kristus yang bangkit (1Kor. 15:20) untuk kenikmatan kita sebagai hari raya dalam kebangkitan-Nya. Hari raya ini terjadi kurang dari tiga hari setelah hari raya Paskah. Kristus disalibkan pada waktu hari raya Paskah, dan kemudian pada hari ketiga Dia bangkit. Hari kebangkitan-Nya adalah hari raya Hasil Pertama. Ini adalah Kristus dalam kebangkitan-Nya sebagai hasil pertama.
a. Seberkas (Bukan Setangkai Gandum)
dari Hasil Pertama Tuaian Dibawa kepada Allah
“Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila kamu sampai ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu, dan kamu menuai hasilnya, maka kamu harus membawa seberkas hasil pertama dari penuaianmu kepada imam” (ayat 10). Ini melambangkan bahwa Kristus yang bangkit, dengan beberapa orang beriman Perjanjian Lama (lihat Mat. 27:52-53), dibawa kepada Allah. Ketika Kristus dibangkitkan, beberapa orang beriman Perjanjian Lama dibangkitkan dengan Dia. “Keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang” (Mat. 27:53). Bersama Kristus, kaum beriman yang dibangkitkan ini bukan “setangkai” tetapi “seberkas” yang dibawa kepada Allah, sama seperti dalam lambang hasil pertama dibawa ke dalam tempat kudus dan dipersembahkan kepada Allah untuk kenikmatan-Nya yang segar.
b. Seberkas Hasil Pertama Dipersembahkan Menjadi Timangan
di Hadapan TUHAN pada Hari Setelah Sabat (Hari Kedelapan)
supaya Umat Allah Dapat Diperkenan
“Dan imam itu haruslah mengunjukkan (menimang) berkas itu di hadapan TUHAN, supaya TUHAN berkenan akan kamu. Imam harus mengunjukkannya (menimangnya) pada hari sesudah sabat itu” (Im. 23:11). Ini melambangkan bahwa Kristus dibangkitkan supaya kita dapat dibenarkan di hadapan Allah dan diperkenan oleh Allah (Rm. 4:25b).
c. Pada Hari Kurban Timangan Seekor Domba Berumur
Setahun yang Tidak Bercela, Dipersembahkan
sebagai Kurban Bakaran kepada TUHAN
“Pada hari kamu mengunjukkan (menimang) berkas itu kamu harus mempersembahkan seekor domba berumur setahun yang tidak bercela, sebagai kurban bakaran bagi TUHAN” (ayat 12). Ini melambangkan bahwa Kristus yang bangkit, yang segar, halus, lembut, kuat, dan tidak bercela, dipersembahkan kepada Allah sebagai kurban bakaran yang mutlak untuk Allah. Hayat ini, yang mutlak untuk Allah, bukan hanya menyiratkan Kristus sendiri, tetapi juga kita semua yang dibangkitkan dengan Dia. Ketika Kristus dibangkitkan, kita semua dibangkitkan dalam Dia dan dengan Dia (Ef. 2:6). Ini berarti kita dibangkitkan sebelum kita dilahirkan, fakta yang dengan jelas diwahyukan dalam 1Petrus 1:3. Kita semua dipersembahkan kepada Allah dengan Kristus sebagai kurban bakaran pada hari kebangkitan-Nya. Sekarang di dalam Kristus dan dengan Kristus sebagai kurban bakaran untuk Allah, kita dapat menempuh kehidupan yang mutlak untuk Allah.
d. Menimang Seberkas Kurban Sajian
dari Tepung Halus yang Dibaurkan dengan Minyak sebagai
Kurban Api-apian bagi TUHAN,
Menjadi Bau yang Menyenangkan
“Serta dengan kurban sajiannya dari dua persepuluh efa tepung yang terbaik, diolah dengan minyak, sebagai kurban api-apian bagi TUHAN yakni bau yang menyenangkan” (Im. 23:13a). Ini melambangkan Kristus yang bangkit sebagai kurban sajian kita yang dibaurkan dengan Roh yang mengurapi, dipersembahkan kepada Allah sebagai makanan dalam kebangkitan-Nya sebagai bau harum untuk kepuasan Allah.
Kristus yang bangkit mula-mula adalah kurban bakaran kita dan kemudian kurban sajian kita. Sebagai kurban bakaran, Kristus adalah untuk kita, agar kita menempuh kehidupan yang mutlak untuk Allah. Sebagai kurban sajian, Kristus menyuplai kita, menopang kita, dan menguatkan kita untuk menempuh kehidupan yang mutlak untuk Allah. Kristus disalibkan dan dikuburkan, dan pada hari ketiga Dia bangkit dari antara orang mati. Bersama Dia yang bangkit ini beberapa orang beriman Perjanjian Lama dibangkitkan. Saya percaya bahwa ini adalah tanda yang menunjukkan bahwa semua yang percaya kepada Dia suatu hari akan dibangkitkan. Kristus yang bangkit telah menjadi kurban bakaran yang mencakup semua orang beriman-Nya, yang sekarang menempuh kehidupan yang mutlak untuk Allah. Kristus juga telah menjadi kurban sajian yang dibaurkan dengan minyak, yang melambangkan Roh Kudus. Sebenarnya, dalam kebangkitan-Nya, Kristus sendiri menjadi Roh itu. Tepung halus dalam kurban sajian juga adalah Kristus sendiri. Dia adalah sebutir gandum (Yoh. 12:24), tetapi Dia adalah tepung halus yang dibaurkan dengan minyak menjadi kurban sajian, suplai hayat yang menopang kita untuk menempuh kehidupan yang mutlak bagi Allah.
e. Dengan Kurban Curahan dari Anggur
Pada kurban bakaran dan kurban sajian ada kurban curahan dari anggur (Im. 23:13b). Ini melambangkan Kristus yang bangkit dalam kehidupan insani-Nya yang ditempuh dengan mutlak untuk Allah dan dicurahkan di atas salib, dipersembahkan kepada Allah dalam kebangkitan-Nya untuk kenikmatan Allah.
Di atas salib Kristus bukan hanya disalibkan, tetapi juga dicurahkan. Dia disalibkan sebagai kurban penghapus dosa, kurban penebus salah, kurban bakaran, dan kurban pendamaian, tetapi Dia dicurahkan sebagai kurban curahan, seperti anggur yang dicurahkan di hadapan Allah untuk kepuasan-Nya. Kristus mencakup kita ketika Dia disalibkan dan juga ketika Dia dicurahkan. Dalam Kristus kita semua dicurahkan kepada Allah sebagai kurban curahan. Hari ini kita menempuh kehidupan sebagai kurban bakaran yang mutlak untuk Allah. Kehidupan ini ditopang oleh kurban sajian sebagai makanan kita tiap hari. Sementara itu, karena Allah adalah Yang menikmati curahan, kita juga harus menjadi kurban curahan yang dicurahkan untuk minuman Allah. Kurban curahan demikian sepenuhnya untuk kenikmatan Allah, menjadi kenikmatan kita bersama Dia dan orang lain.
f. Tidak Boleh Makan Roti atau Bertih Gandum Sampai Seberkas Hasil Pertama dari Tuaian Dibawa kepada Allah
“Sampai pada hari itu juga janganlah kamu makan roti, atau bertih gandum atau gandum baru, sampai kamu telah membawa persembahan Allahmu; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu turun-temurun di segala tempat kediamanmu” (ayat 14). Ini melambangkan bahwa Kristus yang bangkit naik ke surga dan dipersembahkan kepada Allah dengan semua buah dalam kebangkitan-Nya sebagai makanan Allah untuk kepuasan Allah lebih dulu. Kemudian Dia menjadi suplai manusia untuk kepuasan manusia.
Kristus yang bangkit, Kristus yang segar dalam kebangkitan-Nya, mula-mula untuk dinikmati Allah. Ini adalah hasil pertama, dan hasil pertama adalah untuk kenikmatan Allah. Kemudian Kristus yang bangkit menjadi kenikmatan kita bersama Allah dan orang lain.
Hari raya Paskah, hari raya Roti Tidak Beragi, dan hari raya Hasil Pertama, semua terjadi sekitar tiga hari. Kristus disalibkan pada hari Paskah, dan dalam tiga hari, Dia dibangkitkan pada hari raya Hasil Pertama. Antara hari raya Paskah dan hari raya Hasil Pertama, hari raya Roti Tidak Beragi dimulai. Karena itu, ketiga hari raya ini terjadi di dalam waktu kematian dan kebangkitan Tuhan. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya kita sekarang menikmati hari raya Paskah, hari raya Roti Tidak Beragi, dan hari raya Hasil Pertama. Seperti yang akan kita lihat dalam berita selanjutnya, kita masih perlu hari raya Pentakosta, ketika Roh Kudus dicurahkan dari surga untuk melengkapi perayaan orang Kristen Perjanjian Baru. Kita menikmati Kristus dalam kematian-Nya, kita menikmati Kristus dalam kebangkitan-Nya, dan kita menikmati Kristus dalam pencurahan-Nya dari surga sebagai Roh ekonomikal Allah.
Keempat hari raya ini disusun dari kematian Kristus, kebangkitan Kristus, dan pencurahan Kristus sebagai Roh ekonomikal Allah. Hari-hari raya ini telah menjadi kenikmatan kita, dan kita memeliharanya terus-menerus. Kita orang Kristen selalu memiliki hari-hari raya untuk kenikmatan atas Kristus dalam kematian-Nya, dalam kebangkitan-Nya, dan dalam pencurahan-Nya dari surga sebagai Roh ekonomikal.