HARI-HARI RAYA (2)
Pembacaan Alkitab: Im. 23:15-22
Dalam berita ini kita sampai kepada hari raya keempat, hari raya Pentakosta. Hari raya ini adalah termasuk hari raya kelompok pertama, yang mencakup hari raya Paskah, hari raya Roti Tidak Beragi, hari raya Hasil Pertama (Buah Sulung), dan hari raya Pentakosta (Tujuh Minggu). Keempat hari raya ini dapat diterapkan kepada sejarah dan pengalaman kita. Paskah diadakan pada hari keempat belas bulan pertama tahun orang Yahudi. Pada hari itu Yesus Kristus dibunuh sebagai Paskah kita. Sementara Paskah dalam Perjanjian Lama adalah lambang, Kristus adalah Paskah sejati kita. Dia adalah realitas Paskah, penggenapan dalam sejarah lambang Paskah. Hari raya Paskah diikuti oleh hari raya Roti Tidak Beragi dan hari raya Hasil Pertama. Kebangkitan Kristus adalah penggenapan hari raya Hasil Pertama dan adalah realitas hari raya ini. Hari raya Hasil Pertama diikuti oleh hari raya Pentakosta.
Fakta sejarah ini dapat diterapkan kepada kita dalam pengalaman kita menurut sejarah Kristus. Dengan kata lain, apa yang Kristus rampungkan dan capai dalam sejarah-Nya dapat menjadi pengalaman kita. Inilah sebabnya hari raya kelompok pertama dapat diterapkan dalam dua cara, kepada sejarah Kristus dan kepada pengalaman kristiani kita. Ketika kita beroleh selamat, kita mengalami hari raya Paskah. Karena Kristus dibunuh untuk kita, Allah dapat melewati kita. Demikianlah kita menikmati realitas Paskah. Apa yang orang Yahudi nikmati di Mesir hanyalah lambang; apa yang kita nikmati adalah realitas. Ini adalah perkara bukan hanya sejarah Kristus, tetapi juga pengalaman kita.
Setelah kita mengalami hari raya Paskah, kita mulai menikmati Kristus sebagi roti tidak beragi dan menempuh kehidupan yang tidak beragi. Kristus adalah tidak beragi, tanpa dosa. Pada Dia tidak ada dosa. Kita dapat menempuh kehidupan demikian melalui disuplai dan ditunjang oleh Dia.
Dalam pengalaman kita, kita juga menikmati Kristus sebagai hari raya Hasil Pertama. Sebagai Yang bangkit, Dia sekarang hidup di dalam kita. Kristus bukan saja Yang tidak beragi, tetapi juga Yang mati dan hidup lagi dan yang hidup selamanya. Dia hidup di dalam kita sebagai hasil pertama untuk kenikmatan kita setiap hari.
Hari raya keempat, hari raya Pentakosta, atau hari raya tujuh minggu, terjadi tujuh minggu setelah kebangkitan Kristus. Dari kebangkitan Kristus sampai hari Pentakosta, ketika Roh Kudus dicurahkan dari surga oleh Kristus yang naik ke surga, ada lima puluh hari. Pentakosta berarti lima puluh hari. Kebangkitan Kristus terjadi pada hari pertama dalam satu minggu. Hari ini juga disebut hari kedelapan. Terhitung tujuh minggu sejak hari ini, kita mencapai hari kelima puluh, yang juga hari pertama dalam seminggu dan hari kedelapan. Kristus bangkit pada hari pertama dalam seminggu, dan hari Pentakosta terjadi juga pada hari pertama dalam seminggu.
Setelah kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya selama periode empat puluh hari (Kis. 1:3). Walaupun Dia tertampak dan kemudian lenyap, Dia tidak pernah meninggalkan murid-murid. Pada hari kebangkitan-Nya. Dia tertampak kepada mereka dan mengembuskan diri-Nya sebagai Roh pemberi-hayat ke dalam mereka (Yoh. 20:22), dan sejak saat itu Dia hidup bukan hanya di antara murid-murid, tetapi juga di dalam mereka. Penampakan Tuhan kepada murid-murid tidak lain berarti Dia membuat kehadiran-Nya terlihat oleh mereka; ini tidak berarti bahwa Dia meninggalkan mereka. Tuhan tertampak dan tidak tertampak adalah satu latihan bagi murid-murid. Selama empat puluh hari setelah kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus melatih murid-murid-Nya untuk menyadari dan menikmati kehadiran-Nya yang tidak kelihatan. Sekalipun Dia tidak kelihatan, mereka masih dapat mengapresiasi dan mengalami kehadiran-Nya yang tidak kelihatan. Hari ini Tuhan Yesus juga menyertai kita dan ada di dalam kita. Kita tidak dapat melihat Dia, tetapi kita percaya bahwa Dia menyertai kita dan ada di dalam kita.
Setelah empat puluh hari ini, Tuhan Yesus naik ke surga, meninggalkan murid-murid di bumi. Sepuluh hari selanjutnya mereka berdoa terus-menerus dalam kesehatian. Kemudian, pada hari kelima puluh terjadi peristiwa besar, Allah Tritunggal yang telah rampung dicurahkan. Perampungan ini adalah Roh almuhit, pemberi-hayat, yang majemuk dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Dia yang demikian, totalitas Allah Tritunggal, dicurahkan pada seratus dua puluh murid, yang mewakili Tubuh Kristus.
Pentakosta adalah hasil penuh kebangkitan Kristus, dan kebangkitan Kristus adalah hasil kematian-Nya. Tanpa kematian tidak ada kebangkitan. Kematian Tuhan di atas salib menghasilkan kebangkitan-Nya, dan kebangkitan-Nya menghasilkan bukan saja kenaikan-Nya, tetapi juga membuat Dia dicurahkan sebagai Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung sempurna ke atas Tubuh-Nya. Karena terjadi pada hari Pentakosta, hari raya Pentakosta adalah manifestasi besar dari ekonomi Allah.
Sebagai hasil dari apa yang terjadi pada hari Pentakosta, dihasilkanlah Tubuh Kristus. Sebelumnya, dalam ekonomi Allah hanya ada Kristus yang individual untuk menggenapkan kedambaan hati Allah. Namun, pada hari Pentakosta, Tubuh Kristus terwujud untuk mendampingi Kristus, membuat Dia menjadi Kristus yang korporat. Sekarang Kristus memiliki Tubuh, dan Tubuh ini adalah penyebaran-Nya, perbesaran-Nya, perluasan-Nya, perkembangan-Nya. Hari ini kita adalah bagian dari perluasan Kristus. Setiap gereja lokal adalah bagian kecil dari perluasan universal Kristus, yang terwujud pada hari Pentakosta.
Empat hari raya pertama membentuk satu kelompok yang mengemban makna yang besar. Makna ini termasuk kematian Kristus, kebangkitan Kristus, kenaikan Kristus, dan pencurahan perampungan Roh Allah Tritunggal yang telah melalui proses untuk menghasilkan Tubuh Kristus sebagai perbesaran, penyebaran, perluasan, dan pengembangan Kristus yang individual ke dalam Kristus yang korporat, universal, dan tidak terbatas.
Secara historis, empat hari raya pertama semuanya berhubungan dengan Kristus. Dia adalah penggenapan dan realitas Paskah, roti tidak beragi, dan hasil pertama. Dalam bentuk rohani, sebagai perampungan sempurna Allah Tritunggal yang telah melalui proses, Kristus juga penggenapan dan realitas Pentakosta. Semua contoh historis ini telah menjadi pengalaman kita. Kita telah berbagian dalam Paskah, dalam roti tidak beragi, dan dalam hasil pertama, dan kita telah menjadi bagian Pentakosta.
Pentakosta adalah perihal empat puluh sembilan hari ditambah hari pertama dalam seminggu. Ini termasuk delapan hari pertama, dari hari pertama, hari kebangkitan, sampai hari pertama yang kedelapan, yang adalah hari kelima puluh. Ini menunjukkan dari kebangkitan sampai kebangkitan. Di sini segala sesuatu ada dalam kebangkitan, sebab kita memiliki delapan kali kebangkitan.
Kita semua ada dalam kebangkitan ini. Kita dilahirkan pada hari pertama dari tujuh hari yang pertama, dan kita telah sampai pada hari pertama yang kedelapan. Sekarang kita adalah bagian perluasan Kristus, penyebaran, perbesaran, dan perkembangan-Nya. Kristus bukan lagi Kristus yang individual; Dia sekarang adalah Kristus yang korporat. Kristus yang korporat ini mencakup kita. Karena itu, gereja adalah Kristus yang korporat.
Kita perlu melihat bahwa kita sekarang ada pada Pentakosta dan susunan Pentakosta ini adalah delapan kali kebangkitan. Di sini kita memiliki perluasan Kristus yang korporat. Perluasan ini sebagai perbesaran, penyebaran Kristus, sebenarnya adalah perbauran Allah Tritunggal yang telah melalui proses dengan umat pilihan dan tebusan-Nya. Ada perbauran demikian di alam semesta, perbauran yang adalah pencapaian ekonomi kekal Allah dan penggenapan kedambaan kekal Allah. Kita mungkin tidak banyak menyadari hal ini pada hari ini, tetapi kita akan memiliki kesadaran yang penuh atasnya dalam Yerusalem Baru. Tahukah Anda apakah Yerusalem Baru itu? Yerusalem Baru adalah penyebaran, perbesaran, perluasan, dan perkembangan sejati dari Kristus yang almuhit, tak terukur, tak terduga, yang memenuhi semua di dalam segala sesuatu. Puji Tuhan bahwa kita semua adalah bagian dari perbesaran Kristus yang dihasilkan pada hari Pentakosta!
4. Hari Raya Pentakosta (Hari Raya Hari Kelima Puluh,
Terhitung Setelah Hari Sabat, pada Hari Itu Seberkas
Persembahan Timangan Dibawa kepada Allah,
sampai Hari Sesudah Sabat yang Ketujuh)
“Kemudian kamu harus menghitung, mulai dari hari sesudah sabat itu, yaitu waktu kamu membawa berkas persembahan unjukan (timangan), harus ada genap tujuh minggu; sampai pada hari sesudah sabat yang ketujuh kamu harus hitung lima puluh hari” (Im. 23:15-16a). Hari raya Pentakosta adalah hari raya hari kelima puluh, terhitung mulai hari setelah Sabat, pada hari itu seberkas persembahan timangan dibawa kepada Allah, sampai hari sesudah sabat yang ketujuh. Ini melambangkan kebangkitan Kristus dalam kepenuhan tujuh gandanya yang mencapai alam kepenuhan yang lengkap, memikul tanggung jawab yang penuh (dilambangkan oleh angka lima puluh, yang adalah sepuluh dikali lima, angka tanggung jawab) untuk kesaksian kebangkitan.
Ketika malaikat-malaikat memandang kita dari surga, mereka melihat kita sebagai kesaksian kebangkitan Kristus. Namun, kita masih memiliki perasaan bahwa kita najis dan kusta, bahwa kita memiliki lelehan najis, dan bahwa kita dikelilingi oleh kekacauan dan berbagai jenis agama. Namun, dalam pandangan Allah, kita semua adalah bagian dari kesaksian kebangkitan Kristus. Sekarang, karena kita ada dalam Imamat 23 dan dalam hari raya Pentakosta, kita harus melupakan semua hal negatif. Di sini tidak ada kenajisan atau kusta. Sebaliknya, ada perluasan Kristus.
a. Mempersembahkan Kurban Sajian kepada TUHAN,
Dua Roti Unjukan yang Dibakar Dicampur Ragi, sebagai Hulu Hasil kepada TUHAN
“Lalu kamu harus mempersembahkan kurban sajian yang baru kepada TUHAN. Dari tempat kediamanmu kamu harus membawa dua buah roti unjukan yang harus dibuat dari dua persepuluh efa tepung yang terbaik dan yang dibakar sesudah dicampur dengan ragi sebagai hulu hasil bagi TUHAN” (ayat 16b-17). Ini melambangkan bahwa tepung halus, yang melambangkan Kristus pada tahap hulu hasil, telah menjadi dua roti, melambangkan gereja dalam dua bagian pada tahap Pentakosta, yang satu adalah bagian gereja orang Yahudi dan lainnya gereja orang bukan Yahudi, keduanya memiliki dosa (dilambangkan oleh ragi) di dalam mereka, dipersembahkan kepada Allah sebagai kurban sajian yang baru untuk kepuasan Allah. Lambang dalam Imamat 23:17 tidak membicarakan satu roti atau tiga roti, tetapi dua roti. Dua roti ini melambangkan dua bagian gereja sebagai Tubuh Kristus, bagian orang Yahudi dan bagian orang bukan Yahudi. Dua bagian ini diwakili oleh kaum beriman di Yerusalem dan oleh mereka yang di rumah Kornelius.
Mengapa roti-roti dalam Imamat 23:17 dibakar dicampur ragi sedangkan menurut Imamat 2 tidak boleh ada ragi dalam kurban sajian? Alasannya adalah dalam setiap bagian gereja sebagai Tubuh, seperti dilambangkan oleh kedua roti ini, masih ada dosa. Kita melihat hal ini dengan jelas dalam Kitab Kisah Para Rasul, misalnya dalam hal dosa Ananias dan Safira dalam Kisah Para Rasul 5 dan sungut-sungut atas pembagian makanan dalam Kisah Para Rasul 6.
Seperti yang ditunjukkan oleh lambang, bukan Kristus saja yang adalah hasil pertama, gereja juga hasil pertama. Dua roti yang dibakar dicampur ragi dan yang melambangkan gereja adalah hasil pertama. Kristus, hasil pertama sebagai tepung halus, adalah hasil pertama pada hari kebangkitan. Akhirnya, tepung halus ini menjadi dua roti. Maka, roti-roti ini adalah penyebaran, perluasan tepung halus yang dihasilkan dari hasil pertama pada hari kebangkitan. Perlambangan ini menunjukkan bahwa Kristus telah menjadi gereja, bahwa gereja adalah perbesaran Kristus. Sebagai perbesaran Kristus yang demikian, gereja dengan dua bagiannya dipersembahkan kepada Allah untuk kepuasan-Nya.
b. Beserta Roti Itu Harus Mempersembahkan Tujuh Ekor
Domba Berumur Setahun yang Tidak Bercela,
Seekor Lembu Jantan, dan Dua Ekor Domba Jantan
sebagai Kurban Bakaran bagi TUHAN,
dengan Kurban Sajiannya dan Kurban Curahan,
sebagai Kurban Api-apian yang Baunya
Menyenangkan bagi TUHAN
“Beserta roti itu kamu harus mempersembahkan tujuh ekor domba berumur setahun yang tidak bercela dan seekor lembu jantan muda dan dua ekor domba jantan; semuanya itu haruslah menjadi kurban bakaran bagi TUHAN, serta dengan kurban sajiannya dan kurban-kurban curahannya, suatu kurban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN” (ayat 18). Ini melambangkan bahwa gereja pada hari Pentakosta adalah manusia korporat yang dipersembahkan kepada Allah sebagai kurban bakaran agar hidup mutlak bagi Allah, dengan kehidupan sebagai kurban sajian yang dicampur ragi, dosa-dosa, dan sebagai kurban curahan (mencurahkan kehidupannya untuk Allah melalui mati martir) untuk menjadi kurban api-apian yang diperkenan Allah, untuk kepuasan Allah dan manusia. Dalam pandangan Allah, gereja semula adalah kurban curahan, karena banyak orang beriman yang martir. Mereka mencurahkan jiwa mereka bagi Allah untuk kepuasan-Nya, bahkan seperti Kristus yang mencurahkan nyawa-Nya di atas salib untuk Allah.
c. Mempersembahkan Seekor Kambing Jantan
dan Dua Ekor Domba yang Berumur Setahun sebagai Kurban Pendamaian,
Ditimang beserta Roti Hulu Hasil sebagai Kurban Timangan di Hadapan TUHAN
“Kemudian kamu harus mempersembahkan seekor kambing jantan sebagai kurban penghapus dosa, dan dua ekor domba yang berumur setahun sebagai kurban keselamatan (pendamaian). Imam harus mengunjukkan (menimang) semuanya beserta roti hulu hasil itu sebagai persembahan unjukan (timangan) di hadapan TUHAN, beserta kedua ekor domba itu. Semuanya itu haruslah menjadi persembahan kudus bagi TUHAN dan adalah bagian imam” (ayat 19-20). Ini melambangkan bahwa karena dosa-dosanya, gereja pada hari Pentakosta memerlukan Kristus sebagai kurban penghapus dosanya, dan untuk kepentingan persekutuan manusia dengan Allah dan manusia dengan manusia, gereja memerlukan Kristus sebagai kurban pendamaiannya. Pada waktu yang sama, gereja menikmati Kristus sebagai kurban timangannya. Gereja pada hari Pentakosta memiliki kurban penghapus dosa, kurban pendamaian, dan kurban timangan. Kurban penghapus dosa adalah untuk dosa, kurban pendamaian adalah untuk persekutuan, dan kurban timangan melambangkan kebangkitan. Tentu saja, ketiga kurban ini mengacu kepada Kristus.
d. Mengumumkan dan Mengadakan Pertemuan Kudus, Tidak Melakukan Pekerjaan Berat
“Pada hari itu juga kamu harus mengumumkan hari raya dan kamu harus mengadakan pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya di segala tempat kediamanmu turun-temurun” (ayat 21). Ini melambangkan umat tebusan Allah sebagai gereja menikmati Kristus dengan Allah tanpa memerlukan jerih lelah manusia untuk menambahkan sesuatu. Karena segala sesuatunya telah lengkap, selesai, tidak perlu ada jerih lelah manusia sedikit pun. Bukan berjerih lelah, malah seharusnya ada perhentian.
e. Pada Waktu Menuai Hasil Tanah,
Janganlah MenyabitLadang Habis-habis Sampai ke Tepinya,
ataupun Memungut Apa yang Ketinggalan dari Penuaian,
tetapi Meninggalkan bagi Orang Miskin dan Orang Asing
“Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu, semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing; Akulah TUHAN, Allahmu” (ayat 22). Ini melambangkan bahwa anugerah Kristus dalam kebangkitan-Nya pada hari raya Pentakosta disisakan buat kita, orang-orang miskin dan orang-orang bukan Yahudi, supaya dapat berbagian. Kita adalah yang dilambangkan oleh orang miskin dan asing, dan bagian kita adalah sisa-sisa. Ini adalah bagian luar biasa dari anugerah Allah. Bagian demikian diilustrasikan oleh peristiwa perempuan Kanaan dalam Matius 15. Ketika Tuhan Yesus berkata kepadanya, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing,” ia membalas, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya” (ayat 26-27). Perempuan Kanaan itu tidak sakit hati oleh perkataan Tuhan, sebaliknya ia mengakui bahwa dirinya adalah seekor “anjing”. Ia juga menyadari bahwa Kristus “roti anak-anak”, telah ditolak oleh orang Yahudi dan menjadi “remah-remah” di bawah meja untuk dinikmati anjing kafir. Ini adalah sisa-sisa, tuaian pada sudut ladang, yang ditinggalkan untuk orang miskin dan orang asing.
Kita mungkin orang kafir yang miskin, tetapi kita memiliki bagian kita dari tuaian Pentakosta. Sekarang kita dapat menikmati Allah Tritunggal Pentakosta, Kristus Pentakosta, dan Roh yang almuhit Pentakosta sebagai bagian kita. Bagian ini menjadikan kita bagian dari penyebaran, perbesaran, perluasan, dan pengembangan Kristus. Empat hari raya pertama, Paskah, Roti Tidak Beragi, Hasil Pertama, dan Pentakosta, semuanya berhubungan dengan makanan dan dengan perkara makan untuk kepuasan Allah, namun hati Allah masih mengingat orang miskin dan orang asing. Maka, kita, orang kafir, dapat berbagian dalam anugerah Kristus pada hari raya Pentakosta seperti yang dirampungkan pada gereja.
KELIMA PULUH EMPAT
HARI-HARI RAYA
(3)
Pembacaan Alkitab: Im. 23:23-44
Setelah hidup di bumi sebagai Manusia-Allah selama tiga puluh tiga setengah tahun, Tuhan Yesus mati di atas salib sebagai penggenapan dan realitas lambang Paskah. Melalui kematian-Nya di atas salib, Dia merampungkan penebusan dan mengakhiri semua hal negatif di alam semesta. Hasil dari kematian yang demikian adalah kebangkitan dengan menghasilkan hayat ilahi, yang adalah realitas Allah Tritunggal yang telah rampung sempurna menjadi bagian kita. Dalam kebangkitan Kristus, kita semua memiliki bagian dalam Allah Tritunggal yang telah rampung sempurna ini.
Setelah kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus naik ke surga. Dalam kenaikan-Nya, Dia mencurahkan diri-Nya sebagai perampungan sempurna dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses dalam bentuk Roh ekonomikal. Walaupun Allah kita adalah sempurna selamanya, Dia masih perlu satu perampungan yang sempurna. Sebelum inkarnasi-Nya, Dia hanya Allah tanpa satu perampungan. Namun, sebagai akibat proses yang dilalui-Nya, Dia telah dirampungkan. Perampungan yang sempurna dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses adalah Roh almuhit, pemberi-hayat, yang majemuk. Sebagai perampungan yang sempurna demikian, Dia mencurahkan diri-Nya ke atas kita, menjadikan kita bagian dari perbesaran-Nya. Inilah makna Pentakosta.
Pentakosta adalah hasil dari kebangkitan Kristus, dan kebangkitan-Nya adalah hasil dari kematian-Nya yang almuhit. Semua ini telah menjadi hari raya yang menakjubkan untuk Allah dan untuk kita. Hasil akhir dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses adalah Pentakosta. Pada saat kita sampai kepada hari raya Pentakosta, semua hal negatif telah dibersihkan, dan semua hal positif telah dilepaskan. Allah Tritunggal yang telah melalui proses sebagai Yang rampung sempurna telah dicurahkan ke atas kita untuk membawa kita ke dalam diri-Nya, supaya kita dapat menjadi perluasan, perbesaran, penyebaran, dan perkembangan-Nya. Sekarang kita adalah Tubuh Kristus, dan dalam Tubuh-Nya kita memiliki perbauran dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses, dan rampung sempurna dengan manusia tripartit yang dipilih, ditebus, dilahirkan kembali, dan diubah. Alam semesta adalah untuk perbauran ini, dan perbauran ini akan tetap tinggal sampai selama-lamanya. Akhirnya, perbauran ini akan menjadi Yerusalem Baru dalam langit baru dan bumi baru sebagai kesaksian yang lengkap dan kekal dari Allah Tritunggal yang telah rampung sempurna dengan umat tebusan-Nya.
Setelah membahas empat hari raya ini, kita akan melanjutkan dalam berita ini untuk membahas tiga hari raya terakhir, hari raya Meniup Serunai, hari raya Pendamaian, dan hari raya Pondok Daun. Kelompok pertama dari empat hari raya terjadi pada paruh pertama dari satu tahun. Kelompok kedua dari tiga hari raya terjadi pada paruh kedua dari satu tahun. Empat hari raya pertama mengacu kepada masa lalu dan hari ini. Hari-hari raya ini telah digenapkan dalam Kristus, namun kita masih mengalami dan menikmatinya. Kita menikmati hari raya Paskah, dan kita masih dalam hari raya Roti Tidak Beragi, dan hari raya Hasil Pertama. Selain itu, kita masih dalam hari raya Pentakosta, yang sebenarnya hari raya gereja. Kelompok kedua dari hari-hari raya mengacu kepada masa yang akan datang, masa mendatang, waktu kedatangan kembali Tuhan. Ketika Tuhan Yesus datang lagi, tiga hari raya ini akan digenapi.
5. Hari Raya Meniup Serunai
Imamat 23:23-25 memberi tahu kita hari raya meniup serunai. Hari raya ini melambangkan Allah mengumpulkan umat-Nya yang tercerai-berai (orang Israel yang terserak) dan Dia mengingatkan mereka bahwa Dia akan memanggil mereka (Mat. 24:31; lihat Yes. 27:13;Mzm. 81:3).
a. Pada Tanggal Satu Bulan Ketujuh, Permulaan Paruh Kedua dari Tahun Itu
“TUHAN berfirman kepada Musa: ‘Katakanlah kepada orang Israel, begini: Dalam bulan yang ketujuh, pada tanggal
satu bulan itu, kamu harus mengadakan hari perhentian penuh yang diperingati dengan meniup serunai, yakni hari pertemuan kudus’” (Im. 23:23-24). Di sini kita melihat bahwa hari raya Meniup Serunai diadakan pada tanggal satu bulan ketujuh, permulaan paruh kedua dari satu tahun. Ini melambangkan paruh kedua penebusan Allah, yang dirampungkan atas Israel, paruh yang pertama telah dirampungkan pada gereja. Walaupun paruh kedua penebusan Allah akan diterapkan kepada orang Israel, ini masih berhubungan dengan kita.
Antara hari raya keempat, Pentakosta, dan hari raya kelima, Meniup Serunai, tampaknya tidak ada apa-apa. Sebenarnya, jarak waktu ini adalah zaman gereja, yang disebut zaman rahasia. Zaman gereja berlangsung dari hari Pentakosta, ketika gereja muncul, sampai hari Allah memanggil umat-Nya yang berserakan kembali berkumpul.
Hari raya Pentakosta dan hari raya Meniup Serunai boleh diumpamakan sebagai dua puncak gunung yang kelihatannya berdekatan, tetapi sebenarnya terpisah sangat jauh. Kita dapat mengumpamakan jarak antara dua puncak gunung ini dengan jangka waktu antara hari raya Pentakosta dengan hari raya Meniup Serunai. Jangka waktu ini sudah berlangsung lebih dari seribu sembilan ratus tahun. Masa periode waktu panjang ini adalah zaman gereja, zaman rahasia.
b. Memiliki Perhentian Penuh
Hari perhentian penuh diperingati dengan meniup serunai (ayat 24b). Ini melambangkan membuat umat yang Allah kumpulkan masuk ke dalam perhentian Allah yang sejati dan menyeluruh. Selama dua ribu tujuh ratus tahun sejak ditawan ke Babel, orang Yahudi telah menjadi bangsa yang tanpa perhentian. Mereka kehilangan tanah leluhur mereka karena mereka menolak Allah Sang perhentian. Hanya sebagian tanah nenek moyang yang telah dipulihkan, dan orang Yahudi hari ini masih berjuang, sebab mereka adalah bangsa tanpa perhentian. Ketika serunai ditiup, Allah akan memanggil umat-Nya yang terserak, yang begitu lama tanpa perhentian, kembali ke negeri nenek moyangnya. Kemudian mereka akan memiliki perhentian dengan Allah. Mereka akan menikmati Kristus sebagai perhentian yang mutlak dan menyeluruh. Untuk orang Yahudi, ini akan menjadi hari raya sejati.
c. Sebagai Peringatan Melalui Meniup Serunai
Hari raya ini diperingati dengan meniup serunai (ayat 24b). Ini melambangkan bahwa sejak orang Israel membunuh Tuhan Yesus dan diserakkan, tidak ada apa-apa di antara mereka yang dapat menjadi peringatan di hadapan Allah. Namun, pada kedatangan kembali Tuhan, panggilan Allah mengumpulkan mereka yang terserak kembali ke tanah nenek moyang mereka. Ini akan menjadi peringatan sejati untuk mereka.
d. Mengadakan Pertemuan Kudus
Perhentian penuh yang diumumkan dengan meniup serunai adalah pertemuan kudus. Mengadakan pertemuan kudus demikian melambangkan kembali kepada Allah dan menjadi umat korporat.
e. Tidak Melakukan Pekerjaan Berat Apa pun,
tetapi Mempersembahkan Kurban Api-apian kepada TUHAN
“Janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat dan kamu harus mempersembahkan kurban api-apian kepada TUHAN” (ayat 25). Ini melambangkan bahwa tanpa perlu kerja keras apa pun dari manusia, umat yang dikumpulkan Allah akan dapat mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai makanan untuk kepuasan Allah dan manusia.
6. Hari Raya Pendamaian
Hari raya keenam adalah hari raya Pendamaian, hari Pendamaian segera menyusul setelah pertobatan Israel kepada Allah (ayat 26-32). Ini melambangkan bahwa hari penebusan manusia mengikuti peniupan nafiri Injil dan pertobatan manusia sebagai reaksinya.
a. Mengadakan Pertemuan Kudus
Hari raya Pendamaian adalah pertemuan kudus (ayat 27b). Ini melambangkan bahwa hari raya Pendamaian bukan untuk individual, melainkan untuk jemaat.
b. Merendahkan Diri dengan Berpuasa
dan Membawa Kurban Api-apian kepada TUHAN
Pada hari raya Pendamaian, orang-orang merendahkan diri dengan berpuasa dan membawa kurban api-apian kepada TUHAN (ayat 27c, 29). Ini melambangkan dukacita, pertobatan, dan penyesalan karena dosa, dan mempersembahkan Kristus sebagai makanan untuk Allah bagi kepuasan Allah dan manusia. Menurut Zakharia 12, ini adalah perkara yang akan dilakukan orang Yahudi ketika Tuhan Yesus datang kembali.
c. Jangan Melakukan Sesuatu Pekerjaan, tetapi Memiliki Perhentian Sabat
Pada hari Pendamaian, umat Allah tidak boleh melakukan sesuatu pekerjaan, tetapi harus memiliki perhentian Sabat (ayat 28, 30-32a). Ini melambangkan bahwa umat tebusan Allah tidak boleh melakukan sesuatu pekerjaan untuk penebusannya, tetapi harus beristirahat dalam penebusan yang telah dirampungkan Allah bagi mereka, supaya Allah juga mendapatkan perhentian dalam umat tebusan-Nya.
d. Pada Tanggal Sembilan Bulan Itu,
dari Matahari Terbenam Sampai Matahari Terbenam,
Umat yang Berpaling kepada Allah Harus Merayakan Sabat
“Mulai pada malam tanggal sembilan bulan itu, dari matahari terbenam sampai matahari terbenam, kamu harus merayakan sabatmu” (ayat 32b). Ini melambangkan bahwa perhentian umat tebusan Allah adalah perhentian yang penuh dan lengkap. Pada tanggal satu bulan ketujuh ada hari raya Meniup Serunai, dan hari raya Pendamaian diadakan pada tanggal sepuluh bulan itu. Hari raya Meniup Serunai akan digenapkan ketika Tuhan Yesus datang kembali, dan serunai ditiup untuk mengumpulkan umat Allah yang terserak, untuk memanggil orang-orang Yahudi yang berserakan kembali ke negeri nenek moyang mereka. Setelah Tuhan Yesus turun dari angkasa ke bumi, orang Yahudi akan bertobat, berdukacita, dan berpaling kepada Allah, menerima Kristus sebagai Juruselamat mereka. Ini akan menjadi penggenapan riil dari hari raya Pendamaian.
Namun, perlambangan hari raya ini telah digenapkan secara rohani pada diri kita. Di atas salib, Kristus merampungkan pendamaian. Memakai istilah Perjanjian Baru, Dia menggenapkan penebusan. Ketika kita bertobat, percaya, dan menerima Kristus sebagai Juruselamat kita, kita mengalami hari raya ini. Karena itu, hari raya Pendamaian memiliki penerapan ganda. Secara rohani hari raya ini telah diterapkan pada diri kita, dan secara riil akan diterapkan di masa yang akan datang pada orang Yahudi.
7. Hari Raya Pondok Daun
Imamat 23:33-43 membicarakan hari raya Pondok Daun. Ini melambangkan Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang sebagai satu berkat zaman yang penuh suka-cita untuk dinikmati umat tebusan Allah bersama Allah selama periode waktu tertentu dalam ciptaan lama Allah. Ini akan terjadi bukan di langit baru dan bumi baru, melainkan di bumi yang dipulihkan.
a. Selama Tujuh Hari
“Katakanlah kepada orang Israel, begini: Pada hari yang kelima belas bulan yang ketujuh itu ada hari raya Pondok Daun bagi TUHAN tujuh hari lamanya” (ayat 34). Tujuh hari ini melambangkan bahwa hari raya Pondok Daun bukan untuk satu hari saja, tetapi untuk satu masa yang lengkap. Satu masa yang lengkap ini adalah seribu tahun.
b. Pada Hari yang Pertama Mengadakan
Pertemuan Kudus, Jangan Melakukan Pekerjaan Berat
“Pada hari yang pertama haruslah ada pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat” (ayat 35). Ini melambangkan bahwa sejak hari pertama hari raya ini bukan untuk individual, tetapi untuk jemaat menikmati perhentian tanpa perlu kerja berat manusia.
c. Selama Tujuh Hari Mempersembahkan Kurban Api-apian kepada TUHAN
“Tujuh hari lamanya kamu harus mempersembahkan kurban api-apian kepada TUHAN” (ayat 36a). Ini melambangkan mempersembahkan Kristus hari demi hari sebagai makanan kepada Allah untuk kepuasan Allah dan manusia. Menurut lambang ini, dalam Kerajaan Seribu Tahun setiap hari kurban akan dipersembahkan kepada Allah yang menandakan bahwa Kristus adalah makanan Allah dalam pengalaman kita yang dipersembahkan kepada Allah untuk kepuasan-Nya supaya kita dan Allah dapat saling menikmati perhentian.
d. Pada Hari Kedelapan Mengadakan Pertemuan Kudus, Perkumpulan Kudus,
Mempersembahkan Kurban Api-apian kepada TUHAN, Tidak Melakukan Pekerjaan Berat
“Dan pada hari yang kedelapan kamu harus mengadakan pertemuan kudus dan mempersembahkan kurban api-apian kepada TUHAN. Itulah hari raya perkumpulan, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat” (ayat 36b). Ini melambangkan bahwa umat Allah sebagai jemaat kudus yang mempersembahkan Kristus dalam kebangkitan sebagai makanan Allah untuk kepuasan Allah dan manusia, tidak perlu melakukan pekerjaan apa pun, selain beristirahat. Ini menunjukkan bahwa selama seribu tahun, Kerajaan Seribu Tahun akan menjadi perhentian untuk Allah dan untuk umat tebusan Allah.
e. Mempersembahkan Kurban Api-apian kepada TUHAN—
Kurban Bakaran, Kurban Sajian, Kurban Sembelihan,
dan Kurban Curahan, Setiap Harinya
“Itulah hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN, yang harus kamu maklumkan sebagai hari pertemuan kudus untuk mempersembahkan kurban api-apian kepada TUHAN, yaitu kurban bakaran dan kurban sajian, kurban sembelihan dan kurban-kurban curahan, setiap hari sebanyak yang ditetapkan untuk hari itu, belum termasuk hari-hari Sabat TUHAN dan belum termasuk persembahan-persembahanmu atau segala kurban nazarmu atau segala kurban sukarelamu, yang kamu hendak persembahkan kepada TUHAN” (ayat 37-38). Ini melambangkan mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai berbagai kurban persembahan, setiap harinya, untuk Allah nikmati bersama umat-Nya. Di sini kita melihat bahwa dalam hati Allah, kenikmatan dan kepuasan-Nya adalah Kristus menjadi segala sesuatu. Dalam berbagai aspek, Kristus adalah kepuasan dan kenikmatan Allah.
f. Mengumpulkan Hasil Tanah
“Akan tetapi pada hari yang kelima belas bulan yang ketujuh itu pada waktu mengumpulkan hasil tanahmu, kamu harus mengadakan perayaan bagi TUHAN tujuh hari lamanya” (ayat 39a). Ini melambangkan bahwa Kerajaan Seribu Tahun akan datang setelah penuaian apa yang Allah damba untuk Dia dapatkan di bumi.
Setelah menciptakan bumi, Allah akan melalui empat zaman utama. Pertama adalah zaman nenek moyang, juga disebut zaman sebelum hukum Taurat atau tanpa hukum Taurat, dari Adam sampai Musa. Kedua adalah zaman hukum Taurat, dari Musa sampai kedatangan Kristus kali pertama. Ketiga adalah zaman gereja, sejak hari Pentakosta sampai kedatangan Kristus kali kedua. Keempat adalah zaman kerajaan, Kerajaan Seribu Tahun. Dalam empat zaman ini, Allah telah mengerjakan banyak untuk ciptaan baru-Nya. Dalam ciptaan lama-Nya, Allah menciptakan alam semesta. Inti ciptaan lama ini adalah manusia yang diciptakan Allah. Dalam rencana kekal-Nya, Allah memiliki tujuan terhadap manusia, dan tujuan ini adalah untuk menghasilkan satu umat bagi ekspresi-Nya, yang akan rampung dalam Yerusalem Baru.
Selama empat zaman ini, Allah bekerja bersama manusia dalam ciptaan lama. Allah menyalurkan diri-Nya ke dalam manusia untuk menjadikan manusia ciptaan baru. Akhirnya, setelah empat zaman, ciptaan baru ini akan rampung dalam Yerusalem Baru, yang akan menjadi totalitas hasil pekerjaan ciptaan baru Allah di antara ciptaan lama. Hari ini, kita berada dalam zaman ketiga, zaman gereja. Dalam zaman akan datang, kita akan berada pada zaman keempat, zaman kerajaan, entah sebagai para pemenang atau sebagai yang didisiplinkan.
Kerajaan Seribu Tahun akan menjadi tuaian penuh dari apa yang Allah kerjakan dalam tiga zaman terakhir. Maka, Kerajaan Seribu Tahun akan menjadi hari raya bagi Allah dan umat tebusan-Nya. Jika kita membaca Perjanjian Baru dengan cermat, kita akan menyadari bahwa dalam Kerajaan Seribu Tahun, umat tebusan Allah akan meliputi dua kelompok orang, gereja dan kerajaan Israel. Kedua kelompok ini akan menikmati hari raya ini.
g. Mengambil Buah-buah dari Pohon-pohon yang Elok, Pelepah-pelepah Pohon Korma,
Ranting-ranting dari Pohon-pohon yang Rimbun, dan Pohon Gandarusa,
Bersukaria di Hadapan Allah Selama Tujuh Hari
“Pada hari yang pertama kamu harus mengambil buah-buah dari pohon-pohon yang elok, pelepah-pelepah pohon-pohon korma, ranting-ranting dari pohon-pohon yang rimbun dan dari pohon-pohon gandarusa dan kamu harus bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu, tujuh hari lamanya” (ayat 40). Ini melambangkan keadaan keinsanian Kristus yang selalu hijau, penuh rawatan, elok, dan kaya yang diperhidupkan umat tebusan Allah.
Pohon adalah hayat tumbuh-tumbuhan, dan dalam perlambangan tumbuh-tumbuhan melambangkan keinsanian Kristus. Pohon-pohon dalam ayat 40 melambangkan berbagai aspek keinsanian Kristus. Kristus bukan hanya penuh buah, tetapi juga penuh daun, yang secara khusus memperlihatkan keelokan keinsanian-Nya.
“Kamu harus bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu, tujuh hari lamanya” (ayat 40b). Ini melambangkan keinsanian Kristus yang diperhidupkan umat tebusan Allah dalam Kerajaan Seribu Tahun. Bahkan hari ini, ketika kita menempuh hidup gereja, kerabat kita mungkin akan melihat sesuatu pada diri kita yang hijau, elok, dan menang. Beberapa orang tua memiliki kesaksian melihat ekspresi demikian pada anak-anak mereka. Dalam Kerajaan Seribu Tahun semua pemenang akan memperhidupkan keadaan keinsanian Kristus yang selalu hijau, penuh rawatan, elok, dan kaya.
h. Umat Tebusan Allah Harus Tinggal di Dalam Pondok-pondok Daun Tujuh Hari Lamanya
“Kamu harus merayakannya sebagai perayaan bagi TUHAN tujuh hari lamanya dalam setahun; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun. Dalam bulan yang ketujuh kamu harus merayakannya. Di dalam pondok-pondok daun kamu harus tinggal tujuh hari lamanya, setiap orang asli di Israel haruslah tinggal di dalam pondok-pondok daun” (ayat 41-42). Ini melambangkan bahwa Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang akan menjadi kesimpulan dari semua yang telah Allah kerjakan dengan umat tebusan-Nya dalam sepanjang zaman, masa, dalam ciptaan lama-Nya. Dalam empat zaman, manusia tidak dapat memiliki tempat tinggal yang teguh. Bahkan hari ini kita masih tinggal dalam Kemah, dalam pondok. Akhirnya, Kemah yang sekarang yang dapat dipindah-pindah, akan menjadi yang teguh, Yerusalem Baru dengan dasar dua belas lapis.
II. PENGGENAPAN ZAMAN DARI TUJUH
HARI RAYA SEBAGAI LAMBANG
Sekarang karena kita sudah membahas tujuh hari raya, saya akan menyampaikan perkataan mengenai penggenapan zaman sebagaimana yang dilambangkan oleh tujuh hari.
A. Hari Raya Paskah
Hari raya Paskah digenapkan pada hari kematian Kristus (Mat. 26:2, 17-19, 26-28; 1Kor. 5:7).
B. Hari Raya Roti Tidak Beragi
Hari raya Roti Tidak Beragi digenapkan dalam zaman gereja (1Kor. 5:7-8).
C. Hari Raya Hasil Pertama
Hari raya Hasil Pertama digenapkan pada hari kebangkitan Kristus (1Kor. 15:20).
D. Hari Raya Pentakosta
Hari raya Pentakosta digenapkan lima puluh hari setelah kebangkitan Kristus, pada hari pencurahan Roh Kudus (Kis. 2:1-4; lihat Kis. 1:3). Empat hari raya di atas digenapi secara sezaman pada tahun yang sama, bahkan dalam setengah tahun pertama, ketika Kristus mati, bangkit, naik ke surga untuk mencurahkan Roh Kudus. Ini semua berhubungan dengan penebusan Allah dan telah diterapkan kepada kita sebagai orang Kristen.
E. Hari Raya Meniup Serunai
Hari raya Meniup Serunai akan digenapkan pada kedatangan Kristus kali kedua (Mat. 24:31).
F. Hari Raya Pendamaian
Hari raya Pendamaian akan digenapkan pada saat orang Israel kembali kepada Allah, setelah mereka dikumpulkan kembali ke negeri nenek moyang mereka (Rm. 11:26-27; Za. 12:10-14). Kembalinya Israel kepada Allah bukan saja akan menjadi kembalinya secara jasmani ke negeri nenek moyang mereka, tetapi juga kembalinya mereka secara rohani kepada diri Allah sendiri.
G. Hari Raya Pondok Daun
Hari raya Pondok Daun akan digenapkan pada Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang selama seribu tahun (Why. 20:4-6) sebagai kesimpulan semua zaman ciptaan lama Allah, untuk langit baru dan bumi baru yang akan datang dengan Yerusalem Baru sebagai pusatnya (Why. 21:1-2). Kerajaan Seribu Tahun akan mengantarkan ciptaan baru Allah masuk ke dalam langit baru dan bumi baru. Di sana ciptaan baru akan tinggal sampai selama-lamanya sebagai Yerusalem Baru, yang akan menjadi totalitas ciptaan baru Allah yang dihasilkan dari ciptaan lama-Nya. Tiga hari raya terakhir akan digenapkan pada “bulan ketujuh” tahun itu, ketika Kristus akan datang kembali.