PENGATURAN KAKI PELITA DAN MEJA ROTI SAJIAN DAN HUKUMAN MATI KARENA MENGHUJAT NAMA YANG KUDUS
Pembacaan Alkitab: Im. 24:1-23
Imamat 24 adalah satu sisipan antara pasal 23 mengenai hari-hari raya dan pasal 25 mengenai Yobel, yaitu hari raya di atas hari-hari raya, yang terjadi setiap lima puluh tahun. Sebenarnya, pasal 25 adalah kelanjutan pasal 23, tetapi pasal 24 disisipkan di antaranya. Pasal ini terutama membahas empat hal: memelihara kaki pelita dalam Kemah, mengatur meja roti sajian dalam Kemah, menghujat nama Allah, dan memperhatikan kehidupan manusia dan kehidupan binatang.
Untuk melayani Allah sebagai imam-imam, kita perlu memperhatikan dua hal dengan tepat dan memadai. Kedua hal itu adalah terang dan makanan. Tentu saja, kita tidak mengacukan kepada terang dan makanan alami atau insani, melainkan kepada terang dan makanan ilahi. Sebagai imam-imam yang melayani Allah, kita perlu hidup, bertindak, berperilaku, dan melayani di bawah terang ilahi. Jika tidak ada terang dalam Kemah, setiap orang akan sangat sulit memasukinya dan bertindak, bergerak, dan melayani Allah di sana. Maka, hal pertama yang kita perlukan adalah terang. Di satu aspek, terang adalah lebih penting daripada makanan.
Bersama terang, kita perlu makanan. Kita perlu makanan ilahi sebagai suplai kita supaya kita dapat bertindak, bergerak, berperilaku, dan melayani Allah dengan tepat melalui suplai dan kekuatan yang cukup (Lihat Pelajaran-Hayat Keluaran berita kesembilan puluh sampai kesembilan puluh empat, di mana meja roti sajian dan kaki pelita dibahas menyeluruh).
Kita perlu memperhatikan kedua perkara ini: terang dan makanan. Ini berarti kita perlu diterangi di bawah terang ilahi, terang yang adalah terang hayat (Yoh. 1:4). Hayat ini memerlukan suplai makanan. Karena itu, kita perlu memiliki suplai Roh Yesus Kristus dalam roh kita (Flp. 1:19), supaya kita dapat memiliki suplai hayat yang memadai setiap hari. Dengan suplai demikian, kita akan dikuatkan. Kemudian kita akan dapat bertindak, bergerak, dan melayani Allah dengan tepat dengan kekuatan yang cukup di bawah terang ilahi-Nya.
I. PENGATURAN KAKI PELITA DAN MEJA
ROTI SAJIAN
Imamat 24:1-9 membahas pengaturan kaki pelita dan meja roti sajian. Di sini kata pengaturan berarti memperhatikan, memelihara.
A. Pengaturan Kaki Pelita
Ayat 2-4 memperlihatkan kepada kita pengaturan kaki pelita.
1. Minyak Zaitun Tumbuk yang Tulen untuk Lampu
“Perintahkanlah kepada orang Israel, supaya mereka membawa kepadamu minyak zaitun tumbuk yang tulen untuk lampu” (ayat 2a). Minyak zaitun tumbuk yang tulen untuk lampu melambangkan Roh Kudus yang murni, dilambangkan oleh air yang keluar dari rusuk Kristus (Yoh. 19:34), keluar dari Kristus yang tersalib, dilambangkan oleh zaitun tumbuk, untuk memancarkan Kristus sebagai kaki pelita dalam tempat tinggal Allah.
Zaitun, yang adalah lambang Kristus, harus ditekan supaya minyaknya keluar. Ini melambangkan bahwa Kristus “ditekan” melalui disalibkan, supaya Roh Kudus dapat mengalir dari Dia sebagai air kehidupan dan juga sebagai minyak untuk memancarkan Kristus sebagai kaki pelita.
2. Terang Kaki Pelita Tetap Menyala dari Petang Sampai Pagi
Orang Israel harus mengusahakan “supaya lampu dapat dipasang dan tetap menyala” (ayat 2b). Ayat 3 selanjutnya mengatakan, “Harun harus tetap mengatur lampu-lampu itu di depan tabir yang menutupi tabut hukum, di dalam Kemah Pertemuan, dari petang sampai pagi, di hadapan TUHAN. Itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun.” Ini melambangkan bahwa terang ilahi Kristus tetap menyala dalam rumah Allah.
3. Imam Besar Harun Tetap Mengatur Pelita di Hadapan TUHAN
“Di atas kandil (pelita) dari emas murni haruslah tetap diaturnya lampu-lampu itu di hadapan TUHAN” (ayat 4). Ini melambangkan bahwa Kristus sebagai Imam Besar kita tetap memelihara terang ilahi-Nya, supaya tetap memancar untuk Allah. Banyak dari kita telah mengalami pemeliharaan terang Kristus di dalam kita. Pada pagi hari kita mengontak Tuhan, Sang Imam Besar. Dalam kontak kita dengan Dia, Dia memelihara terang di dalam kita. Jika pada pagi hari kita tidak berkontak dengan Tuhan, kita akan kekurangan terang sepanjang hari. Walaupun kita mungkin tidak berada dalam kegelapan, kita akan merasakan bahwa tidak ada terang di dalam kita. Namun, jika kita meluangkan waktu dengan Tuhan di pagi hari, terang akan datang dengan spontan. Sesuatu akan memancar di dalam kita sepanjang hari. Pancaran ini adalah Kristus yang kita alami dan nikmati pada pagi hari memelihara diri-Nya di dalam kita sebagai terang yang memancar.
B. Pengaturan Meja Roti Sajian
Imamat 24:5-9 memperlihatkan kepada kita pengaturan meja roti sajian.
1. Dua Belas Roti Dibuat dari Tepung Halus, Setiap Roti Dua Persepuluh Efa
“Engkau harus mengambil tepung yang terbaik dan membakar dua belas roti bundar dari padanya, setiap roti bundar harus dibuat dari dua persepuluh efa” (ayat 5). Ini melambangkan bahwa Kristus yang bangkit, Kristus yang menghasilkan gereja (dilambangkan oleh dua persepuluh efa tepung halus, 23:13, 17), adalah unsur yang menyusun makanan secara penuh (dilambangkan dengan angka dua belas) untuk seluruh umat Allah dan untuk Allah nikmati. Angka dua belas dalam Imamat 24:5 jelas mengacu kepada dua belas suku Israel. Ini menunjukkan bahwa jenis suplai makanan ini cukup untuk merawat seluruh umat Allah. Kristus sebagai makanan kita berhubungan dengan hidup gereja. Ini menunjukkan bahwa jika kita berharap dirawat dengan memadai, kita harus menempuh kehidupan yang berhubungan dengan hidup gereja.
2. Mengatur Dua Belas Roti Menjadi Dua Susun, Enam Setiap Susunnya,
di Atas Meja dari Emas Murni di Hadapan TUHAN
“Engkau harus mengaturnya menjadi dua susun, enam buah sesusun, di atas meja dari emas murni itu, di hadapan TUHAN” (ayat 6). Ini melambangkan bahwa kaum beriman menikmati Kristus sejajar dengan kesaksian (dilambangkan dengan angka dua) berdasarkan Kristus yang menopang kita (dilambangkan oleh meja) dengan kemurnian-Nya, sifat ilahi (dilambangkan oleh emas murni).
3. Membubuhkan Kemenyan Tulen di Atas tiap-tiap Susun,
Menjadi Bagian Ingat-ingatan Roti Itu, sebagai Kurban Api-apian bagi TUHAN
“Engkau harus membubuh kemenyan tulen di atas tiaptiap susun; kemenyan itulah yang harus menjadi bagian ingat-ingatan roti itu, yakni suatu kurban api-apian bagi TUHAN” (ayat 7). Ini melambangkan bahwa dengan bau harum kebangkitan-Nya sebagai bagian ingat-ingatan, Kristus menjadi makanan Allah dan kita. Sebenarnya, roti adalah makanan untuk imam besar dan untuk para imam. Namun, ayat 7 mengatakan bahwa roti adalah kurban api-apian untuk makanan Allah. Dari sini kita melihat bahwa apa yang kita makan adalah apa yang Allah makan, dan apa yang Allah makan adalah apa yang kita makan. Ini menunjukkan bahwa kita sebagai orang-orang yang melayani Allah, imam-imam, bersatu dengan Allah. Apa yang kita nikmati adalah kenikmatan Allah, dan apa yang Allah nikmati adalah kenikmatan kita. Allah dan kita, kita dan Allah, adalah satu dalam hal melayani Allah. Di sini kita memiliki perawatan Kristus. Jika kita melangkah ke kedalaman semua butir ini, kita akan menyadari jenis kehidupan yang harus kita tempuh. Dalam kehidupan ini ada unsur yang adalah bau harum kebangkitan Kristus. Jenis kenikmatan ini selalu diingat, sesuatu yang patut dikenang.
4. Setiap Hari Sabat Harun Tetap Mengatur Roti di Hadapan TUHAN
“Setiap hari Sabat ia harus tetap mengaturnya di hadapan Tuhan; itulah dari pihak orang Israel suatu kewajiban perjanjian untuk selama-lamanya” (ayat 8). Ini melambangkan bahwa kenikmatan kita akan Kristus sebagai makanan kita harus diatur tetap segar sehingga kita dapat memiliki perhentian dengan Allah terus-menerus. Kata Sabat mengandung pemikiran perhentian. Pada setiap Sabat, yaitu, setiap perhentian, roti diatur sebagai makanan untuk Allah dan juga untuk kita.
5. Harun dan Anak-anak-Nya Makan Roti
Di Tempat Kudus, sebagai Bagian Maha Kudus
yang Dipersembahkan kepada Allah
“Roti itu teruntuk bagi Harun serta anak-anaknya dan mereka harus memakannya di suatu tempat yang kudus; itulah bagian maha kudus baginya dari segala kurban api-apian TUHAN; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya” (ayat 9). Ini melambangkan bahwa kita, orang-orang yang melayani Allah, harus menikmati Kristus sebagai bagian maha kudus dari makanan yang dipersembahkan kepada Allah dalam gereja sebagai tempat kudus.
Kita perlu menafsirkan tempat kudus dalam ayat 9 sebagai lambang gereja. Di dalam gerejalah kita mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai suplai makanan-Nya untuk kenikmatan-Nya. Kemudian kita akan menikmati makanan ini. Kita akan menikmati apa yang Allah nikmati. Kristus adalah apa yang Allah nikmati dan juga apa yang kita nikmati. Di sini kita mau mencatat bahwa Imamat 24:1-9 menyingkapkan bahwa bila kita, umat kudus Allah, ingin menempuh hidup yang kudus, kita perlu pengaturan Kristus yang baru sebagai terang ilahi untuk menyoroti kita dan sebagai makanan ilahi untuk merawat kita.
II. HUKUMAN MATI KARENA MENGHUJAT
NAMA YANG KUDUS
Bagian utama kedua dari Imamat 24 (ayat 12-23) membahas hukuman mati karena menghujat nama yang kudus. Ini sangat penting, karena sejalan dengan penerangan dan perawatan, kita harus selalu menghormati nama Allah. Kita harus memelihara nama Allah kita.
A. Kisah Menghujat Nama yang Kudus
Dicatat Setelah Catatan mengenai Pengaturan Meja Roti Sajian
Kisah menghujat nama yang kudus dicatat setelah catatan mengenai pengaturan meja roti sajian. Ini melambangkan bahwa dalam kenikmatan kita akan Kristus dalam kepenuhan-Nya, kita harus menguduskan nama yang ku-dus dan tidak mencemarkannya. Dalam doa di Matius 6:9-11, permohonan pertama adalah “Dikuduskanlah nama-Mu” (ayat 9). Menguduskan nama Tuhan adalah menyisihkannya sebagai sesuatu yang unik. Nama Tuhan itu unik, dan nama ini tidak seharusnya disejajarkan dengan nama-nama lainnya. Menguduskan, menyisihkan nama Tuhan dari nama-nama yang umum adalah menghormati dan menghargai nama yang kudus.
B. Kisah Seorang Laki-laki yang Ibunya Seorang
Israel sedang Ayahnya Seorang Mesir
Dalam Imamat 24:10-11 dikatakan bahwa “Seorang laki-laki, ibunya seorang Israel sedang ayahnya seorang Mesir. . . Menghujat nama TUHAN dengan mengutuk.” Kisah ini melambangkan bahwa kesatuan seseorang milik Allah dengan seseorang milik dunia membawa akibat yang akan mencemarkan Allah, menyebabkan orang yang mencemarkan dipotong dari kenikmatan akan Kristus dalam kepenuhan-Nya. Menurut pasal ini, jika kita mencemarkan nama Allah, membuatnya umum dan tidak menguduskannya, kita akan terputus dari kenikmatan akan Kristus sebagai terang yang memancar dan makanan yang merawat kita. Dalam Imamat 24 kita melihat bahwa kita perlu memelihara diri kita diterangi dan dirawat. Untuk menikmati Kristus sebagai terang kita dan makanan kita, kita harus menguduskan nama yang kudus. Ini berarti kita harus menempuh hidup yang selalu menguduskan Allah kita, kehidupan yang selalu menganggap Allah kita sebagai Sang unik, terpisah dari semua nama lain.
Pasal ini juga mewahyukan bahwa kita perlu memperhatikan hayat manusia dan hayat binatang. Hayat manusia adalah untuk mengekspresikan Allah, dan tujuan utama hayat binatang adalah dipersembahkan kepada Allah. Hayat manusia adalah untuk mengekspresikan Allah, dan hayat binatang adalah menjadi sarana untuk kita menyembah Allah. Karena itu, kita perlu memperhatikan hayat manusia dan hayat binatang; yaitu hayat untuk mengekspresikan Allah dan kehidupan untuk menyembah Allah.