KEKUDUSAN DALAM MENIKMATI HAL-HAL YANG KUDUS DAN CARA YANG DIPERKENAN UNTUK MEMPERSEMBAHKAN KURBAN NAZAR DAN PERSEMBAHAN SUKARELA
Pembacaan Alkitab: Im. 22:1-33
Imamat 22 membahas dua hal: kekudusan dalam menikmati hal-hal yang kudus (ayat 2-16) dan cara yang diperkenan untuk mempersembahkan kurban nazar dan persembahan sukarela (ayat 18-33).
I. KEKUDUSAN DALAM MENIKMATI HAL-HAL YANG KUDUS
Kita perlu kekudusan untuk menikmati hal-hal yang kudus. Untuk memenuhi syarat menikmati hal-hal yang kudus, kita perlu sejumlah kekudusan. Kita perlu kekudusan, pengudusan, disisihkan bagi Allah, sampai tingkat tertentu.
A. Hal-hal Kudus yang Dikuduskan Orang Israel bagi TUHAN
“Katakanlah kepada Harun dan anak-anaknya, supaya mereka berlaku hati-hati terhadap persembahan-persembahan kudus yang dikuduskan orang Israel bagi-Ku, agar jangan mereka melanggar kekudusan nama-Ku yang kudus; Akulah TUHAN. Katakanlah kepada mereka: Setiap orang di antara kamu turun-temurun, yakni dari antara segala keturunanmu yang datang mendekat kepada persembahan-persembahan kudus yang dikuduskan orang Israel bagi TUHAN, sedang ia dalam keadaan najis, maka orang itu akan dilenyapkan dari hadapan-Ku; Akulah TUHAN” (ayat 2-3). Hal-hal kudus di sini melambangkan Kristus, yang Allah berikan kepada orang-orang yang melayani-Nya untuk kenikmatan mereka. Segala sesuatu yang dipersembahkan kepada Allah oleh umatnya adalah lambang Kristus, yang Allah berikan kepada kita, orang-orang yang melayani, untuk kenikmatan kita. Maka, hal-hal kudus adalah Kristus yang kita alami dan nikmati.
B. Orang yang Najis Dilarang Makan Hal-hal yang Kudus,
Kecuali Dia Membasuh Tubuhnya dengan Air,
Supaya Dia Jangan Berdosa dan Mati
Dalam ayat 3 sampai 9 kita melihat bahwa orang yang najis dilarang makan hal-hal yang kudus, kecuali dia membasuh tubuhnya dengan air, supaya dia jangan berdosa dan mati. Ini melambangkan bahwa kita seharusnya tidak menikmati Kristus ketika kita tercemar dengan hal-hal yang najis, sampai kita menanggulangi pencemaran itu dengan tuntas, supaya kita tidak dihukum dan menderita kematian rohani. Ini berarti, jika kita mau menikmati Kristus, kita harus berhati-hati tentang situasi kita. Jika kita najis atau tercemar dalam aspek apa pun, kita harus menanggulanginya dengan tuntas, terutama melalui membasuh diri kita dalam Roh Kudus. Jika tidak, kita akan menderita sejumlah kematian rohani tertentu.
C. Orang Awam, Tamu Imam, atau Orang Upahan
Dilarang Makan Persembahan Kudus
“Setiap orang awam janganlah memakan persembahan kudus; demikian juga pendatang yang tinggal pada imam ataupun orang upahan” (ayat 10). Ini melambangkan bahwa orang yang belum beroleh selamat atau orang yang tidak berbagian dalam pelayanan Allah tidak dapat menikmati Kristus. Orang-orang demikian tidak memiliki bagian dalam jabatan imam dan dilarang makan persembahan kudus.
D. Budak yang Dibeli Imam dan yang Lahir
di Rumah Imam Diperbolehkan
Makan Hal-hal yang Kudus
“Tetapi apabila seseorang telah dibeli oleh imam dengan uangnya menjadi budak beliannya, maka orang itu boleh turut memakannya, demikian juga mereka yang lahir di rumahnya” (ayat 11). Ini melambangkan bahwa orang yang dibeli oleh Kristus dengan darah adi-Nya dan dilahirkan Allah dalam rumah-Nya boleh menikmati Kristus. Karena kita telah dibeli oleh Kristus dan karena kita lahir dari Allah dalam rumah-Nya, kita benar-benar bersyarat menikmati Kristus.
E. Anak Perempuan Imam yang Bersuamikan Orang Awam
Dilarang Makan Kurban Unjukan dari Persembahan Kudus,
tetapi jika Ia Menjadi Janda atau Diceraikan, Tidak Mempunyai Anak,
dan Kembali ke Rumah Ayahnya, Ia Diperbolehkan Makan Makanan Ayahnya
“Apabila anak perempuan imam bersuamikan orang awam, janganlah ia makan persembahan unjukan (Tl.) dari persembahan-persembahan kudus. Tetapi apabila perempuan itu menjadi janda atau diceraikan, dan ia tidak mempunyai anak, dan telah kembali ke rumah ayahnya seperti waktu ia masih gadis, maka ia boleh makan dari makanan ayahnya; tetapi setiap orang awam janganlah memakannya” (ayat 12-13). Ini melambangkan bahwa seorang beriman yang terpikat kepada orang awam tidak dapat menikmati Kristus yang naik. Namun, jika ia memutuskan hubungannya dengan orang awam itu tanpa meninggalkan ikatan apa pun dan kembali ke gereja, ia boleh memulihkan kenikmatannya akan Kristus.
Anak perempuan imam berarti orang milik jabatan imam. Jika kita yang milik jabatan imam tertarik oleh orang awam, kita putus dari jabatan imam dan dari kenikmatan akan Kristus. Namun, jika yang menarik ini mati dan kita kembali ke hidup gereja, maka kenikmatan kita akan Kristus dipulihkan.
F. Orang yang dengan Tidak Sengaja Memakan
Persembahan Kudus, Harus Menambah Seperlima dan Memberikannya kepada Imam
“Apabila seseorang dengan tidak sengaja memakan persembahan kudus, ia harus memberi gantinya kepada imam dengan menambah seperlima” (ayat 14). Di sini kita melihat jika seseorang memakan persembahan kudus tanpa mengetahui bahwa itu adalah kudus, dia harus mengganti dengan menambah seperlima lagi untuk persembahan kudus itu dan menyerahkannya kepada imam. Ini melambangkan bahwa kecerobohan kita dalam menikmati Kristus tidak terhitung sebagai benar-benar menikmati Kristus, malahan harus ditanggulangi di hadapan Allah. Dalam hal menikmati Kristus, kita bisa saja menipu diri sendiri. Kita mungkin berpikir bahwa kita menikmati Kristus, padahal kenikmatan itu bukan kenikmatan yang sejati atas Kristus. Kenikmatan palsu atas Kristus demikian perlu ditanggulangi di hadapan Allah.
II. CARA YANG DIPERKENAN UNTUK
MEMPERSEMBAHKAN KURBAN NAZAR DAN PERSEMBAHAN SUKARELA
Secara singkat, kita telah membahas perlunya kekudusan untuk menikmati Kristus sebagai hal-hal yang kudus. Sekarang kita akan memperhatikan dari ayat 18-33 cara diperkenan untuk mempersembahkan kurban nazar dan persembahan sukarela. Kurban nazar jauh lebih kuat daripada persembahan sukarela. Begitu diucapkan, nazar adalah sesuatu yang sangat teguh, dan harus dijaga. Sebaliknya, persembahan sukarela adalah perkara kehendak bebas kita. Kita mungkin memberikan persembahan sukarela dan kemudian tidak menindaklanjutinya atau bahkan melupakannya. Kita mungkin memberikan persembahan sukarela kepada Allah dan kemudian ingin mengubahnya. Ini mengacu kepada jenis persembahan diri yang tidak mantap dan tidak teguh. Namun, nazar adalah seperti sumpah yang dibuat dengan Allah yang tidak dapat ditarik kembali. Nazar harus dijaga. Seorang beriman mungkin mempersembahkan dirinya kepada Allah dari kehendak bebasnya, tetapi setelah sejangka waktu, ia mungkin melupakannya. Namun, nazar tidak dapat dibatalkan. Maka, kurban persembahan untuk nazar lebih kuat daripada untuk persembahan sukarela. Selain itu, persembahan tertentu mungkin diperkenan sebagai persembahan sukarela, tetapi bukan diperkenan sebagai kurban nazar.
A. Persembahan untuk Kurban Nazar,
untuk Persembahan Sukarela, atau sebagai Kurban Pendamaian
yang Dipersembahkan kepada TUHAN sebagai
Kurban Bakaran, Supaya Dapat Diperkenan,
Harus Berupa Jantan yang Tidak Bercacat dari Antara Kawanan Domba, atau Kambing
Dalam Imamat 22:18-21 kita melihat bahwa persembahan untuk kurban nazar, untuk persembahan sukarela, atau sebagai kurban pendamaian yang dipersembahkan kepada TUHAN sebagai kurban bakaran, supaya dapat diperkenan, harus berupa jantan yang tidak cacat dari antara kawanan domba, atau kambing. Ini melambangkan bahwa kita mempersembahkan Kristus yang kita alami ini kepada Allah sebagai makanan Allah harus tidak bercacat, supaya dapat diperkenan. Setiap persembahan untuk kurban nazar, untuk persembahan sukarela, dan sebagai kurban pendamaian, semua dapat menjadi kurban bakaran. Makna kurban bakaran adalah mutlak untuk Allah. Kita harus mutlak untuk Allah, tetapi sering kita tidak mutlak untuk Dia. Maka, kita mungkin berharap memutuskan untuk bernazar kepada Allah bahwa kita harus mutlak untuk Allah selama sisa hidup kita. Nazar yang dipersembahkan kepada Allah ini akhirnya menjadi kurban bakaran, dengan makna mutlak untuk Allah seumur hidup kita.
Persembahan sukarela juga bisa menjadi kurban bakaran. Dari kerelaan, kita mungkin memilih untuk mutlak bagi Allah. Persembahan sukarela demikian juga dapat dipersembahkan kepada Allah sebagai kurban bakaran. Sulit dijelaskan, bagaimana kurban pendamaian dapat dipersembahkan kepada Allah sebagai kurban bakaran. Saya percaya bahwa banyak dari kita mengalami hal ini pada meja Tuhan. Ketika kita menikmati Tuhan sebagai kurban pendamaian pada meja-Nya, kita berkata kepada diri kita sendiri, “Di masa lalu aku tidak mutlak untuk Tuhan. Sekarang ketika aku menikmati Dia, aku memutuskan untuk mutlak bagi Tuhan mulai sekarang dan seterusnya.” Ini adalah kurban pendamaian menjadi kurban bakaran.
Adakalanya, kita mungkin membuat keputusan yang tegas untuk mutlak bagi Allah. Ini adalah kurban nazar menjadi kurban bakaran. Pada saat yang lain, kita dengan spontan memakai kehendak bebas kita memilih bersikap mutlak bagi Allah. Ini adalah persembahan sukarela menjadi kurban bakaran. Kadang-kadang ketika kita menikmati Kristus pada meja Tuhan, kita memiliki pikiran bahwa kita harus mutlak untuk Allah. Ini adalah kurban pendamaian menjadi kurban bakaran. Dari sini kita melihat bahwa tiga jenis kurban persembahan yang berbeda, persembahan untuk kurban nazar, untuk persembahan sukarela, dan kurban pendamaian, dapat menjadi kurban bakaran yang mutlak bagi Allah.
Menurut Imamat 22:18-21, setiap kurban persembahan ini perlu berupa jantan yang tidak bercacat, dari kawanan domba atau kambing. Jantan melambangkan Kristus yang kuat. Dalam cara apa pun kita mempersembahkan kurban bakaran kepada Allah, persembahan kita haruslah Kristus yang kuat dan tanpa cacat, yang telah kita alami.
B. Binatang yang Buta, atau Patah Tulang,
Luka, Berbisul, Berkurap, Bersisik Dilarang Dipersembahkan sebagai
Kurban Api-apian, Menjadi Makanan bagi TUHAN
“Binatang yang buta atau yang patah tulang, yang luka atau yang berbisul, yang berkedal atau yang berkurap, semuanya itu janganlah kamu persembahkan kepada TUHAN dan binatang yang demikian janganlah kamu taruh sebagai kurban api-apian bagi TUHAN ke atas mezbah” (ayat 22 Tl.). Ini melambangkan bahwa ketika kita mempersembahkan Kristus yang kita alami, jika kurban ini cacat seperti dilambangkan oleh enam cacat yang disebutkan dalam ayat ini, tidak boleh dipersembahkan kepada Allah sebagai makanan-Nya untuk kepuasan-Nya. Sebaliknya, kita perlu menikmati Kristus yang sempurna, yang tidak bercacat, dan yang selalu mengemban penampilan yang menyenangkan. Kemudian kita akan dapat mempersembahkan Dia kepada Allah sebagai makanan Allah. Ini berarti kita akan dapat memberi makan Allah dengan Kristus untuk kepuasan Allah.
C. Seekor Lembu atau Domba yang Terlalu Panjang
atau Terlalu Pendek Anggotanya Boleh Dipersembahkan
sebagai Kurban Sukarela tetapi Tidak Boleh untuk Nazar
“Tetapi seekor lembu atau domba yang terlalu panjang atau terlalu pendek anggotanya bolehlah kaupersembahkan sebagai kurban sukarela, tetapi sebagai kurban nazar TUHAN tidak akan berkenan akan binatang itu” (ayat 23). Anggota yang panjang berarti anggota yang melebihi batas; anggota yang pendek berarti di bawah ukuran yang tepat. Ayat 23 melambangkan bahwa kita, secara umum (persembahan sukarela), mempersembahkan Kristus yang kita alami kepada Allah sebagai makanan terlalu banyak atau terlalu sedikit, tetapi jika kita persembahkan secara tegas (nazar), kurban kita tidak akan diperkenan.
Ayat 23 menunjukkan bahwa kita mungkin tidak seimbang bahkan dalam pengalaman atas Kristus. Kadang-kadang pengalaman kita atas Kristus mungkin melebihi batas. Pada saat lain mungkin di bawah ukuran yang tepat. Sebagai contoh, beberapa orang beriman menekankan menikmati Kristus, tetapi mereka tidak berbuah. Kenikmatan atas Kristus dibahas dalam Yohanes 15. “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (ayat 4a). Jika kita tinggal di dalam Tuhan, kita akan menyesap kekayaan sari hayat dari Dia. Kemudian Dia akan tinggal di dalam kita untuk menyuplai kita dan menopang kita dengan segala kekayaan-Nya. Hasilnya adalah berbuah. Tinggal di dalam Kristus menghasilkan buah. Namun, beberapa orang beriman menekankan menikmati Kristus melalui tinggal di dalam Dia, tetapi mereka tidak berbuah. Pengalaman atas Kristus semacam ini dilambangkan dalam Imamat 22:23 dengan anggota yang terlalu panjang. Kurangnya buah mereka adalah fakta bahwa pengalamannya atas Kristus tidak seimbang.
Tuhan Yesus berkata, “Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya . . . Siapa saja yang tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar” (Yoh. 15:2a, 6). Ini bukan binasa kekal, ini adalah kehilangan kenikmatan atas Kristus. Jika ranting dipotong dari pokok anggur, ranting kehilangan kenikmatan atas pokok anggur. Kita telah melihat hal demikian pada kaum beriman tertentu yang menyatakan bahwa mereka tidak memperhatikan apa-apa selain menikmati Kristus, tetapi tidak berbuah, bahkan setelah bertahun-tahun. Kenikmatan mereka berlebihan; ini seperti anggota yang terlalu panjang. Tidak ada buah yang dihasilkan dari pengalaman mereka atas Kristus.
Kaum beriman lain kurang menikmati Kristus, dan hasilnya, mereka juga tidak berbuah. Mengenai pengalaman atas Kristus, kaum beriman ini tidak mencapai standar. Mereka yang terlalu banyak dan mereka yang terlalu sedikit dalam pengalamannya atas Kristus adalah mereka yang gagal berbuah.
Dalam Yohanes 15 kita melihat cara yang tepat dan seimbang untuk mengalami Kristus. Kita perlu tinggal di dalam Kristus supaya kita dapat menikmati Dia, namun kita masih perlu berbuah. Kita perlu memeriksa apakah kenikmatan kita atas Kristus sejati atau tidak melalui perkara berbuah. Berbuah adalah bukti bahwa kenikmatan kita atas Kristus ada di dalam batasan.
Dalam Yohanes 15:16 Tuhan Yesus berkata, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Tuhan tidak mengatakan bahwa kita harus tinggal di dalam Dia tanpa melakukan sesuatu, sebab ini akan melebihi batas dan akan memanjangkan kenikmatan atas Kristus. Kita perlu mengunjungi orang lain supaya kita dapat berbuah. Kemudian, mengenai perihal tinggal dan berbuah ini kita akan seimbang. Tinggal adalah untuk berbuah, dan berbuah adalah bukti dari kenikmatan atas Kristus yang sejati. Jika kita sungguh-sungguh menikmati Kristus, kita akan pergi untuk berbuah.
D. Binatang yang Buah Pelirnya Terjepit,
Ditumbuk, Direnggut, atau Dikerat Dilarang Dipersembahkan kepada TUHAN
“Tetapi binatang yang buah pelirnya terjepit, ditumbuk, direnggut atau dikerat, janganlah kamu persembahkan kepada TUHAN; janganlah kamu berbuat demikian di negerimu” (Im. 22:24). Ini melambangkan bahwa kita tidak seharusnya mempersembahkan Kristus yang kita alami kepada Allah sebagai makanan dengan fungsi rohani yang rusak secara apa pun. Kita perlu menikmati Kristus sebagai Dia yang organ reproduksinya tidak rusak. Ini berarti Kristus yang kita alami harus memiliki organ reproduksi yang sempurna dan utuh, supaya kita dapat menghasilkan Kristus lebih banyak dan lebih banyak lagi. Menurut Yohanes 15, inilah berbuah.
E. Segala yang Diperoleh dari Tangan Orang Asing,
Jangan Dipersembahkan kepada Allah sebagai
Makanan-Nya, Karena Telah Rusak dan Bercacat Badannya,
Tidak Diperkenan oleh Dia
“Juga dari tangan orang asing janganlah kamu persembahkan sesuatu dari semuanya itu sebagai santapan Allahmu, karena semuanya itu telah rusak dan bercacat badannya; TUHAN tidak akan berkenan akan kamu karena persembahan-persembahan itu” (ayat 25). Ini melambangkan, kalau kita mempersembahkan Kristus yang kita alami kepada Allah sebagai makanan bukan dengan cara kaum beriman, kita tidak akan diperkenan Allah. Mengenai mempersembahkan Kristus kepada Allah, tidak ada yang boleh dikerjakan secara asing. Kita tidak boleh menikmati Kristus dan mempersembahkan Kristus kepada Allah dengan cara orang asing. Jika kita melakukan hal ini, persembahan kita tidak akan diperkenan Allah.
F. Anak Lembu, Anak Domba, Anak Kambing
yang Baru Dilahirkan Harus Tinggal
dengan Induknya Sampai Hari Kedelapan,
Setelah Itu Boleh Dipersembahkan
berupa Kurban Api-apian bagi TUHAN sebagai Makanan-Nya
“Apabila seekor anak lembu atau anak domba atau anak kambing dilahirkan, maka haruslah itu tinggal tujuh hari lamanya dengan induknya, tetapi sejak hari kedelapan dan seterusnya TUHAN berkenan akan binatang itu kalau dipersembahkan berupa kurban api-apian bagi-Nya” (ayat 27). Ini melambangkan bahwa pengalaman kita atas Kristus harus bertumbuh sampai tingkat kebangkitan, baru dapat diperkenan sebagai persembahan bagi Allah untuk makanan-Nya. Jika pengalaman kita atas Kristus tidak mencapai tingkat kebangkitan, sesuatu yang alamiah masih tinggal di dalam kita. Pengalaman demikian agak kekanak-kanakan. Karena itu, kita perlu bertumbuh dalam pengalaman atas Kristus.
Saya suka mendengarkan orang muda mempersaksikan pengalaman mereka atas Kristus. Namun, karena pengalaman mereka atas Kristus belum pada hari kedelapan, mereka perlu bertumbuh dalam mengalami Kristus. Bahkan jika pengalaman kita atas Kristus ada pada hari ketujuh, kita masih belum mencapai standar. Pengalaman kita atas Kristus perlu sampai pada hari kedelapan; yaitu, perlu ada pada tingkat kebangkitan.
Jika pengalaman kita atas Kristus ingin mencapai tingkat kebangkitan, kita harus belajar menolak hayat alamiah kita dan menyingkirkan segala sesuatu dalam diri kita yang bersifat alamiah. Sebagai contoh, kaum beriman baru mulai mengasihi Tuhan, tetapi kasih mereka terhadap Dia bersifat alamiah. Kita harus mengasihi Tuhan, tetapi kita tidak boleh mengasihi Dia dengan kasih alamiah kita. Kita harus mengasihi Tuhan melalui menyalibkan hayat alamiah kita. Di satu pihak, kita harus mengasihi Tuhan; di pihak lain, kita harus menyangkal hayat alamiah kita sama sekali. Ini akan membantu kita bertumbuh sampai tingkat kebangkitan dalam mengasihi Tuhan. Ketika kita mengasihi Tuhan secara demikian, tidak ada bagian dari kasih kita terhadap-Nya yang bersifat alamiah. Kita semua perlu menyangkal kasih alamiah, kemampuan alamiah, dan kekuatan alamiah kita dalam melakukan segala sesuatu untuk Tuhan. Kemudian kita akan menempuh kehidupan yang untuk Kristus sampai standar kebangkitan-Nya.
G. Lembu atau Domba Dilarang Disembelih
Bersama Anaknya pada Hari yang Sama
“Seekor lembu atau kambing atau domba janganlah kamu sembelih bersama dengan anaknya pada satu hari juga” (ayat 28). Ini melambangkan bahwa Kristus yang kita persembahkan kepada Allah sebagai makanan Allah harus sesuai dengan kapasitas kita dalam hayat ilahi. Kristus yang kita persembahkan kepada Allah harus sesuai dengan ukuran hayat ilahi yang kita alami. Jika kita memiliki pertumbuhan dalam hayat ilahi, kita akan dapat mempersembahkan sesuatu dari Kristus kepada Allah sebagai makanan-Nya. Namun, jika kita belum matang dalam hayat ilahi, kita tidak akan dapat mempersembahkan apa-apa kepada Allah yang dapat diperkenan Dia sebagai makanan.
H. Kurban Syukur bagi TUHAN Harus Dikurbankan Sedemikian Sehingga Diperkenan,
Harus Dimakan pada Hari Itu, Tidak Ditinggalkan Sampai Pagi
“Dan apabila kamu menyembelih kurban syukur bagi TUHAN, kamu harus menyembelihnya sedemikian, hingga TUHAN berkenan akan kamu. Pada hari itu juga kurban itu harus dimakan; janganlah kamu tinggalkan apa-apa dari padanya sampai pagi; Akulah TUHAN” (ayat 29-30). Ini melambangkan bahwa persembahan kita akan Kristus sebagai kurban syukur kepada Allah harus segar dan baru, tanpa ada yang tersisa sampai menjadi basi. Jika persembahan kita basi, itu memang tetap satu persembahan, tetapi tidak diperkenan Allah. Segala sesuatu yang kita persembahkan kepada Allah harus segar dan baru. Pengalaman kita atas Kristus perlu disesuaikan, seimbang, segar, dan baru. Kita perlu memiliki pengalaman yang segar dan baru atas Kristus. Ini akan menghasilkan ucapan syukur di dalam kita. Kemudian Kristus yang kita alami yang kita persembahkan kepada Allah tidak akan basi, tetapi akan segar dan baru.