← Daftar isi Imamat (3) · bab 6/20

KEHIDUPAN KUDUS UMAT KUDUS— MENANGGALKAN KEHIDUPAN LAMA DAN MENGENAKAN YANG BARU

Pembacaan Alkitab: Im. 18—20

Subyek berita ini adalah “Kehidupan Kudus Umat Kudus, Menanggalkan Kehidupan Lama dan Mengenakan “yang Baru”. Berita ini membahas Imamat 18 sampai 20. Bagian firman yang panjang ini sama dengan Efesus 4:17—5:14 dalam Perjanjian Baru, yang memerintahkan umat kudus Allah untuk menanggalkan, sehubungan dengan cara hidup mereka yang lampau, manusia lama dan mengenakan manusia baru, yang menurut Allah diciptakan dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Ef. 4:22, 24), menempuh kehidupan yang kudus, seperti Allah adalah kudus.

Melalui membaca Efesus 4:17—5:14 kita dibantu untuk memahami Imamat 18—20; dan melalui membaca bagian Kitab Imamat ini kita dibantu memahami bagian Surat Efesus ini. Semakin kita baca Efesus 4:17—5:14, kita semakin memahami Imamat 18—20. Dalam istilah Perjanjian Lama, umat Allah tidak boleh hidup seperti orang Mesir, yang di antaranya mereka pernah hidup, tidak juga seperti orang Kanaan. Mereka harus menanggalkan manusia lama dengan cara hidup yang lama dan mengenakan manusia baru dengan cara hidup yang baru. Imamat 18:3 mengatakan, “Janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Mesir, di mana kamu diam dahulu; juga janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Kanaan, ke mana Aku membawa kamu; janganlah kamu hidup menurut kebiasaan mereka.” Di sini kita melihat bahwa orang Israel harus menempuh kehidupan yang baru, satu kehidupan bukan seperti orang Mesir, yang di antaranya mereka pernah hidup, atau seperti orang Kanaan, ke tempat mereka dibawa, melainkan seperti umat kudus Allah. Menanggalkan kehidupan orang Mesir dan orang Kanaan adalah menanggalkan manusia lama, dan menempuh kehidupan menurut kekudusan Allah, yaitu mengenakan manusia baru.

Dalam Imamat 18 sampai 20 terdapat banyak ketentuan dan undang-undang hukum Taurat (20:22). Hukum Taurat terutama tersusun dari Sepuluh Perintah. Sepuluh Perintah, yang merupakan unsur dasar hukum Taurat, adalah sederhana, pendek, dan tegas. Karena Sepuluh Perintah singkat, perlu ada penjelasan dan uraian. Ketentuan-ketentuan dan undang-undang adalah penjelasan dan uraian Sepuluh Perintah. Imamat 18—20 penuh dengan undang-undang dan ketentuan-ketentuan, yang adalah penjelasan dan uraian Sepuluh Perintah. Secara keseluruhan, hukum Taurat tersusun dari Sepuluh Perintah ditambah penjelasan dan uraian Sepuluh Perintah.

Banyak pembaca Alkitab, dan bahkan beberapa penerjemah Alkitab, tidak memahami perbedaan antara undang-undang dengan ketentuan-ketentuan dan menganggapnya sama. Sebenarnya, ada perbedaan penting antara ketentuan-ketentuan dengan undang-undang. Ketentuan-ketentuan adalah peraturan disertai penghakiman. Namun, undang-undang, peraturan-peraturan yang tidak mencakup penghakiman, adalah undang-undang semata. Dalam Imamat 18 sampai 20, ada peraturan-peraturan yang tanpa penghakiman; peraturan-peraturan ini tidak memberi tahu kita bagaimana menghakimi satu kasus. Peraturan ini adalah undang-undang. Peraturan-peraturan lain mencakup penghakiman dan karena itu harus dianggap ketentuan-ketentuan dan bukan hanya undang-undang.

Dalam Imamat 18—20 tidak ada pengulangan Sepuluh Perintah, tetapi ada penjelasan dan uraian Sepuluh Perintah. Sebagai contoh, satu dari Sepuluh Perintah melarang penyembahan berhala, dan dalam peraturan mengenai sihir di sana ada uraian dari perintah ini (19:26, 31; 20:6). Contoh lain adalah uraian dalam 20:9 tentang perintah menghormati orang tua kita. Ayat ini mengatakan, “Apabila ada seseorang yang mengutuki ayahnya atau ibunya, pastilah ia dihukum mati; ia telah mengutuki ayahnya atau ibunya, maka darahnya tertimpa kepadanya sendiri.” Banyak contoh undang-undang dan ketentuan-ketentuan lainnya dapat ditemukan dalam pasal-pasal ini. Dalam berita ini saya hanya akan membahas perkara tertentu, yang khusus dan tidak dibahas di tempat lain.

I. ORANG ISRAEL MENANGGALKAN PERILAKU ORANG MESIR YANG LALU

Orang Israel diperintahkan untuk menanggalkan perilaku orang Mesir yang lalu (18:3a). Ini melambangkan bahwa kaum beriman harus menanggalkan cara hidup yang lalu, yang lama.

II. TIDAK BERBUAT SEPERTI KEBIASAAN

ORANG KANAAN, YANG KE MANA MEREKA AKAN DIBAWA

Orang Israel juga diperintahkan tidak berbuat seperti kebiasaan orang Kanaan, yang negerinya mereka masuki (18:3b). Ini melambangkan bahwa setelah beroleh selamat, kaum beriman seharusnya tidak diserupakan dengan kehidupan dan perilaku orang dunia.

III. MEMILIKI KEHIDUPAN KUDUS ALLAH

Orang Israel memiliki kehidupan kudus Allah (18:4— 20:27). Ini melambangkan mengenakan manusia baru. Menempuh kehidupan kudus menurut kekudusan Allah sama dengan mengenakan manusia baru.

IV. MENJADI KUDUS, KARENA ALLAH ADALAH KUDUS

Pasal-pasal ini menekankan tuntutan bahwa umat Allah harus kudus, karena Dia adalah kudus. “Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus” (19:2). “Maka kamu harus menguduskan dirimu, dan kuduslah kamu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu” (20:7). “Kuduslah kamu bagi-Ku, sebab Aku ini, TUHAN, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milik-Ku” (20:26). Menjadi kudus karena Allah adalah kudus, menandakan berjalan menurut kekudusan Allah, menempuh kehidupan kudus.

V. MEMPERSEMBAHKAN KURBAN

PENDAMAIAN KEPADA TUHAN SUPAYA DIPERKENAN

“Apabila kamu mempersembahkan kurban keselamatan (pendamaian) kepada TUHAN, kamu harus mempersembahkannya sedemikian, hingga TUHAN berkenan akan kamu” (19:5). Ini melambangkan bahwa pemecahan roti untuk mengingat Tuhan harus dilakukan dalam cara yang dapat diperkenan Tuhan (lihat 1Kor. 11:17-21). Kita tidak boleh mendirikan meja Tuhan dengan sikap melecehkan, melainkan dengan sikap yang tepat.

Kita telah melihat bahwa pendamaian dalam Imamat 16 meliputi empat dari lima kurban persembahan dasar: kurban penghapus dosa, kurban penebus salah, kurban bakaran, dan kurban sajian. Hasil dari kurban-kurban persembahan ini adalah kurban pendamaian. Ini berarti keempat kurban persembahan ini mengeluarkan hasil, dan hasil ini adalah kita menikmati damai sejahtera dengan Allah dan dengan umat Allah. Ini adalah kurban pendamaian.

Imamat 18 sampai 20 tidak menyinggung pendamaian tetapi kehidupan kudus umat kudus Allah. Dalam jenis kehidupan ini penting sekali kita memiliki persekutuan dan saling menikmati dalam damai sejahtera. Ini sepenuhnya dilambangkan oleh kurban pendamaian.

Kurban pendamaian adalah lambang Perjanjian Lama untuk meja Tuhan. Ketika kita berbagian atas meja Tuhan, kita menikmati kurban pendamaian. Pada meja Tuhan kita menikmati Kristus sebagai kurban pendamaian kita untuk persekutuan kita dengan Allah dan dengan satu sama lain. Kenikmatan atas kurban pendamaian ini dihasilkan dari kurban penebus salah, kurban penghapus dosa, kurban bakaran, dan kurban sajian. Kenikmatan kita atas Kristus sebagai empat kurban persembahan ini akan memiliki satu hasil, menikmati Kristus sebagai kurban pendamaian kita agar kita memiliki persekutuan dengan Allah dan dengan sesama orang beriman.

Melalui empat kurban persembahan dalam Imamat 16, situasi negatif kita didamaikan. Jadi, mengenai kehidupan kudus dalam Imamat 18—20, kita perlu memperhatikan kenikmatan atas Kristus sebagai kurban pendamaian kita.

A. Kurban Persembahan Harus Dimakan pada Hari

Dipersembahkan atau Hari Esoknya,

Apa yang Tinggal Sampai Hari Ketiga Harus Dibakar Habis

“Dan haruslah itu dimakan pada hari mempersembahkannya atau boleh juga pada keesokan harinya, tetapi apa yang tinggal sampai hari yang ketiga haruslah dibakar habis” (19:6). Ini melambangkan bahwa persekutuan antar kaum beriman dan dengan Allah harus dijaga tetap segar. Kenikmatan kita atas Kristus sebagai kurban pendamaian untuk persekutuan kita dengan Allah dan dengan satu sama lain harus segar.

B. Jika Kurban Itu Dimakan Seluruhnya pada Hari Ketiga,

Itu Adalah Hal yang Menjijikkan,

Tidak Diperkenan Allah

“Jikalau dimakan juga pada hari yang ketiga, maka itu menjadi sesuatu yang jijik dan TUHAN tidak berkenan akan orang itu” (19:7). Ini melambangkan bahwa kenikmatan usang atas persekutuan antar kaum beriman dan dengan Allah tidak dapat diperkenan Allah, tetapi menjijikkan bagi Allah. Kita tidak seharusnya memiliki pelaksanaan yang usang pada meja Tuhan. Kita tidak seharusnya datang ke meja Tuhan dengan segala hal yang usang. Sebaliknya, kita harus datang dengan sesuatu yang baru. Untuk ini, kita perlu pertobatan yang baru, pengakuan dosa yang baru, penanggulangan yang baru, dan jamahan Tuhan yang baru. Dengan kata lain, kita perlu pencucian yang baru, pembasuhan yang baru dalam firman atau dalam Roh itu, supaya kita dapat mengingat Tuhan dengan segar. Ketika kita memiliki kenikmatan yang segar atas Tuhan. Dia juga akan memiliki kenikmatan yang segar karena kenikmatan segar kita.

C. Orang yang Makan Kurban Itu Akan Menanggung Kesalahannya,

karena Telah Melanggar Kekudusan Persembahan Kudus kepada TUHAN,

Harus Dilenyapkan dari Orang-orang Sebangsanya

“Siapa yang memakannya, akan menanggung kesalahannya sendiri, karena ia telah melanggar kekudusan persembahan kudus yang kepada TUHAN. Nyawa orang itu haruslah dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya” (19:8). Ini melambangkan bahwa orang yang berbagian dalam persekutuan usang kaum beriman bersalah karena telah memandang rendah hal-hal kudus Allah dan akan kehilangan persekutuan dengan umat Allah.

VI. TIDAK BOLEH ADA PERCAMPURAN

“Kamu harus berpegang kepada ketetapan-Ku. Janganlah kawinkan dua jenis ternak dan janganlah taburi ladangmu dengan dua jenis benih, dan janganlah pakai pakaian yang dibuat dari pada dua jenis bahan” (19:19). Fakta bahwa tidak boleh ada percampuran menunjukkan bahwa Allah menginginkan segala sesuatu menurut jenisnya (lihat Kej. 1:11, 21, 24-25), tanpa percampuran apa pun. Dalam hidup gereja kita harus menjauhi percampuran apa pun.

A. Mengembangbiakkan Ternak Tanpa Percampuran

Dalam Imamat 19 ditunjukkan tiga ilustrasi percampuran. Ilustrasi pertama adalah mengembangbiakkan ternak tanpa percampuran. Ini melambangkan bahwa hayat tidak boleh bercampur; mereka yang hidup oleh hayat Allah tidak seharusnya hidup oleh daging. Hidup oleh hayat Allah di satu pihak dan hidup oleh daging di pihak lain adalah percampuran. Percampuran demikian tidak diperkenan Allah.

B. Menabur Benih Tanpa Percampuran

Ilustrasi kedua dalam ayat 19 adalah menabur benih tanpa percampuran. Ini melambangkan bahwa ministri firman tidak boleh dicampur; firman Allah yang dilayankan tidak seharusnya bercampur dengan perkataan dunia.

C. Membuat Pakaian Tanpa Percampuran Bahan

Ilustrasi ketiga adalah tentang membuat pakaian tanpa percampuran bahan. Ini melambangkan bahwa perilaku kita tidak boleh campur aduk. Mereka yang hidup dalam kehidupan Perjanjian Baru tidak seharusnya hidup berdasarkan peraturan-peraturan Perjanjian Lama, dan mereka yang milik Tuhan tidak seharusnya hidup menurut kebiasaan orang kafir.

Dalam sejumlah aliran kekristenan, ada percampuran hal-hal Perjanjian Baru dengan hal-hal tertentu dari Perjanjian Lama. Pakaian yang dikenakan oleh aliran kekristenan tertentu mirip dengan jubah (pakaian) yang dikenakan imam-imam dalam Perjanjian Lama. Selain itu, banyak formalitas dan ritual diambil dari Perjanjian Lama. Dalam aliran tertentu banyak nubuat disampaikan seperti cara Perjanjian Lama, pembicaranya sering mengatakan, “Demikianlah firman Tuhan.” Dalam pembicaraan yang demikian, Perjanjian Lama, khususnya Kitab Mazmur dan Yesaya, mungkin dikutip lebih sering dibanding Perjanjian Baru seperti Surat Efesus dan Roma. Saya tidak yakin ada orang di aliran tersebut yang berbicara seperti Paulus dalam 1Korintus 7. Mula-mula Paulus berkata, “Aku tidak mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku sebagai seorang yang dapat dipercayai karena rahmat Allah” (ayat 25). Setelah memberikan opininya, Paulus menyimpulkan, “Aku berpendapat bahwa aku juga mempunyai Roh Allah” (ayat 40b). Pembicaraan Paulus sangat berbeda dengan pembicaraan mereka yang ada di aliran tersebut yang menganggap diri menjadi nabi Perjanjian Lama dan yang pembicaraannya mencampurkan Perjanjian Baru dengan hal-hal Perjanjian Lama.

VII. TANAH PERMAI MEMUNTAHKAN

ORANG YANG CEMAR DAN TIDAK KUDUS

Tiga ayat dalam Imamat 18 dan 20 membicarakan tanah permai memuntahkan penduduknya yang cemar dan tidak kudus (18:25, 28; 20:22). Imamat 20:22 mengatakan, “Demikianlah kamu harus berpegang pada segala ketetapan-Ku dan segala peraturan-Ku serta melakukan semuanya itu, supaya jangan kamu dimuntahkan oleh negeri ke mana Aku membawa kamu untuk diam di sana.” Tanah permai memuntahkan orang yang cemar dan tidak kudus melambangkan bahwa Kristus yang almuhit sebagai tempat tinggal kita dan segala sesuatu yang kita perlukan untuk kenikmatan kita akan memuntahkan kita dari diri-Nya (Why. 3:16).

Perkara negeri memuntahkan orang ini menyiratkan banyak hal. Perkara ini menyiratkan bahwa negeri itu adalah suplai untuk keberadaan dan kehidupan umat Allah, juga menyiratkan bahwa negeri ini adalah untuk kenikmatan mereka. Jika keadaan orang-orang sesuai dengan negeri itu, negeri itu akan mengizinkan mereka menikmatinya. Kalau tidak, negeri itu akan memuntahkan mereka, akan mengusir mereka. Ini menunjukkan bahwa jika kita tidak tepat terhadap Kristus, yang adalah tanah permai kita, Dia akan memuntahkan kita dan tidak mengizinkan kita menikmati Dia lagi.

Ketentuan-ketentuan dan undang-undang dalam Imamat 18—20 membahas banyak hal. Mula-mula, kita dilarang berhubungan dengan jin-jin, berhala-berhala, arwah, dan roh peramal (sihir) (19:4, 26; 20:2, 6, 27). Ketentuan-ketentuan dan undang-undang ini juga membahas perlu ada kehidupan insani yang normal termasuk perkara-perkara seperti menghormati ibu dan ayah kita (19:3a; 20:9), menghargai orang yang tua (19:32), tidak menindas orang asing tetapi mengasihinya (19:33-34), memiliki ukuran dan timbangan yang betul (19:35-36), tidak berbohong atau mencuri (19:11), tidak memeras sesama (19:13), tidak mengutuki orang tuli atau buta (19:14), tidak memihak dalam peradilan (19:15), tidak menyebarkan fitnah (19:16), dan tidak membenci saudara kita dalam hati (19:17). Hal yang sangat penting adalah jangan pernah melakukan perbuatan sumbang. Perbuatan sumbang adalah hal yang sangat merusak keinsanian, dan bagian panjang dari pasal ini membahas hal ini secara rinci. Kita harus murni dalam perkara ini.

Imamat 18 sampai 20 memperlihatkan kepada kita standar moralitas yang sangat tinggi. Kita perlu menempuh kehidupan insani yang tertinggi, kehidupan insani yang sesuai dengan gambar Allah. Allah adalah kudus dan benar, dan Dia adalah kasih dan terang. Jadi, kita harus menempuh hidup yang penuh terang. Untuk melayani Allah, kita perlu hayat kudus dengan standar moralitas dan etika tertinggi. Walaupun kita melayani Allah, kita harus memiliki kehidupan insani yang tepat terhadap semua orang di sekeliling kita, bukan saja terhadap kerabat dan tetangga kita, tetapi juga terhadap kaum pendatang. Kita perlu memperlakukan setiap orang dengan tepat. Ini adalah permintaan Allah, karena Dia itu benar, kudus, penuh kasih, penuh terang.

Jangan berpikir bahwa dalam pemulihan Tuhan kita hanya memperhatikan Kristus, Roh itu, hayat, dan gereja dan tidak memperhatikan etika dan moralitas. Ya, karena kekurangan dalam kekristenan, kita harus menekankan Kristus, Roh itu, hayat, dan gereja. Namun, hal ini jelas bukan berarti bahwa kita tidak memperhatikan standar etika dan moralitas tertinggi. Dalam Pelajaran-Hayat Lukas saya menyajikan standar tertinggi keinsanian Tuhan, yang adalah model, teladan untuk kita terima dan ikuti. Untuk menempuh hidup yang sesuai dengan pelayanan kita kepada Allah, kita harus memperhidupkan standar keinsanian yang tinggi. Standar keinsanian yang tinggi ini adalah ketat, benar, jujur, bijaksana, dan penuh kasih.