← Daftar isi Imamat (3) · bab 5/20

MEMPERHATIKAN KURBAN-KURBAN DAN DARAH

Pembacaan Alkitab: Im. 17:1-16

Dalam berita ini kita akan melihat dua perkara dalam Imamat 17 yang sulit dipahami, memperhatikan kurban-kurban dan darah. Jika kita mau memahami Imamat 17, kita perlu melihat bahwa pasal ini melanjutkan pasal 16. Untuk melihat hubungan antara Imamat 16 dengan 17, kita perlu memiliki satu pandangan menyeluruh terhadap susunan kitab ini. Kitab Imamat adalah kitab pelayan-pelayan Allah, imam-imam. Dalam kitab sebelumnya, Kitab Keluaran, Kemah Suci dibangun, jabatan imam didirikan, dan sampai tingkat tertentu, kurban-kurban persembahan diatur. Pada akhir Kitab Keluaran, pelayanan kepada Allah dari umat-Nya dimulai. Mengikuti Kitab Keluaran, perlu ada kitab yang memberi tahu kita tentang pelayan-pelayan dalam pelayanan Allah, imam-imam, tentang rincian mengenai semua kurban persembahan, serta tentang hayat dan kehidupan yang harus dimiliki imam-imam. Hayat imam-imam harus sesuai dengan apa adanya Allah. Allah itu kudus, maka kehidupan imam-imam sebagai pelayan-pelayan Allah juga harus kudus. Imam-imam harus kudus sama seperti Allah itu kudus. Ini ditunjukkan oleh urutan Kitab Keluaran dan Imamat.

Sepuluh pasal pertama Kitab Imamat memperlihatkan kepada kita kurban-kurban persembahan dengan jabatan imam. Lima pasal selanjutnya memperlihatkan kepada kita siapa dan apa itu pelayan-pelayan, asal usul mereka, keadaan dan situasi mereka, dan apa yang dihasilkan dari mereka. Semua hal ini bersifat negatif. Namun, gambaran negatif dalam Imamat 11 sampai 15 adalah latar belakang untuk menyajikan kepada kita Kristus sebagai Dia yang kita perlukan.

Dalam Imamat 16 kita memiliki lambang, bayang-bayang penebusan Allah, yang pada masa kitab ini ditulis, masih akan datang. Menurut konsepsi Allah dan dalam ekonomi ilahi-Nya, perlu ada penebusan. Karena masa Perjanjian Lama bukan masa terjadinya penebusan, maka diperlukan lambang, bayang-bayang dari penebusan yang akan datang. Bayang-bayang ini adalah pendamaian (penutupan dosa) dalam Imamat 16. Dalam pendamaian ini empat dari lima kurban persembahan dasar disajikan dalam Imamat 1 sampai 7, mencakup kurban bakaran, kurban sajian, kurban penghapus dosa, dan kurban penebus salah. Satu kurban persembahan yang tidak tercakup di sini adalah kurban pendamaian. Selanjutnya, secara khusus dalam Imamat 19, kita akan melihat orang yang diperdamaikan menikmati kurban pendamaian. Karena itu, dalam Imamat 16, pendamaian sepenuhnya diterapkan, tetapi hasil dari empat kurban persembahan, kurban pendamaian, belum diterapkan.

Pada akhir Imamat 16, segala sesuatunya menakjubkan. Dalam perlambangan, pasal ini melambangkan bahwa kita telah diperdamaikan, kita sekarang boleh menikmati Kristus sebagai kurban bakaran dan hidup berdasarkan Dia sebagai kurban sajian. Selain itu, kita telah keluar dari perkemahan untuk mengikuti Dia, Yang menderita, menanggung kehinaan-Nya. Apalagi yang kita perlukan? Kelihatannya kita tidak perlu apa-apa. Memakai istilah Perjanjian Baru, kita telah ditebus dan sampai tingkat tertentu, telah digantikan. Kita memperhidupkan Kristus sebagai hayat yang mutlak untuk Allah, kita menikmati Dia sebagai suplai hayat kita setiap hari, dan kita mengikuti Dia keluar perkemahan, menanggung kehinaan-Nya dan menempuh hidup yang ibadah. Terhadap kita, segala sesuatu adalah baik, tetapi situasi sekeliling kita masih sangat rumit. Karena itu, perlu ada Imamat 17.

Imamat 17 adalah pengingat dan peringatan mengenai penyalahgunaan (pelecehan) kurban-kurban. Pelecehan kurban-kurban adalah menerapkannya secara salah, tidak tepat; maksudnya menerapkan kurban-kurban tidak menurut ekonomi Allah, tetapi menurut pilihan manusia: tidak menurut kedambaan Allah, tetapi menurut selera sendiri. Seharusnya ada pembatasan berkenaan dengan penerapan kurban-kurban. Kurban-kurban tidak boleh diterapkan di setiap tempat atau di tempat pilihan kita. Penerapan kurban-kurban bukan perkara pilihan, kedambaan, maksud, dan kenikmatan kita; ini adalah perkara maksud, kedambaan, dan pilihan Allah. Allah memiliki pilihan unik sehubungan dengan pemakaian, penerapan, kurban-kurban yang dipersiapkan untuk Dia. Inilah sebabnya judul berita ini menyinggung dua hal, memperhatikan kurban-kurban dan memperhatikan darah.

Pertama, kita harus memperhatikan kurban-kurban dan kemudian darah. Kurban-kurban (ayat 5, 7) mengacu kepada Kristus. Di alam semesta Kristus adalah kurban yang unik. Akhirnya, demi keperluan kita, kurban yang unik ini menjadi banyak kurban. Ini adalah satu kurban dalam banyak aspek: kurban penebus salah, kurban penghapus dosa, kurban bakaran, kurban sajian, dan kurban pendamaian. Jadi, Kristus adalah satu kurban menjadi lima kurban, atau satu kurban dalam lima aspek.

Kurban-kurban dalam Imamat 17 mengacu kepada Kristus dalam persona-Nya. Kristus adalah kurban yang unik yang diterapkan kepada situasi kita. Sebagai Yang demikian, Dia memenuhi keperluan kita dalam lima aspek. Dia adalah kurban penebus salah, kurban penghapus dosa, kurban bakaran, kurban sajian, dan kurban pendamaian. Kristus adalah segala sesuatu kita. Khususnya, Dia adalah semua kurban persembahan. Karena itu, memelihara kurban-kurban berarti memelihara Kristus.

Dalam Alkitab, darah mengacu kepada pekerjaan penebusan Kristus. Kurban-kurban mengacu kepada persona Kristus, darah mengacu kepada pekerjaan Kristus. Iman (kepercayaan) Perjanjian Baru kita, kepercayaan yang unik, tersusun dari persona dan pekerjaan Kristus. Menjajarkan bersama persona dan pekerjaan Kristus berarti memiliki kepercayaan orang Kristen. Kita percaya kepada Kristus, dan kita percaya kepada pekerjaan-Nya. Inilah kepercayaan kita menurut pengajaran Perjanjian Baru dan ekonomi kekal Allah.

Sebagai orang-orang yang percaya kepada Kristus, kita memustikakan dua perkara yang menyusun kepercayaan kita. Kita memustikakan persona Kristus, dan kita memustikakan pekerjaan penebusan Kristus. Dalam Imamat 17, persona Kristus dilambangkan oleh kurban-kurban, dan pekerjaan Kristus dilambangkan oleh darah. Kita harus memperhatikan kurban-kurban dan darah; yaitu, kita harus memperhatikan persona Kristus dan pekerjaan penebusan-Nya.

Dalam Imamat 17, orang Israel diperintahkan untuk tidak mempersembahkan kurban-kurbannya di setiap tempat yang mereka inginkan. Sebaliknya, mereka perlu membawa kurban-kurban ke tempat yang unik, ke satu tempat yang dipilih dan ditentukan oleh Allah. Pilihan unik Allah adalah “ke pintu Kemah Pertemuan,” “di depan Kemah Suci TUHAN” (ayat 4). Tempat unik ini, pintu Kemah Pertemuan, melambangkan gereja. Hari ini gereja adalah tempat Kemah Allah, tempat Kemah Pertemuan. Kurban-kurban dipersembahkan hanya di tempat di mana ada Kemah Suci. Ini melambangkan bahwa hari ini Kristus harus diterapkan dalam gereja, tempat tinggal Allah. Dalam Kitab Imamat, tempat tinggal Allah di bumi adalah Kemah Suci. Di zaman Perjanjian Baru, tempat tinggal Allah adalah gereja. Karena itu, seperti dilambangkan dengan mempersembahkan kurban-kurban di pintu Kemah Pertemuan, kita harus menerapkan Kristus dalam gereja, tempat tinggal Allah hari ini. Menerapkan Kristus di luar gereja adalah menyalahgunakan (melecehkan) Kristus.

Mengenai perkara menerapkan Kristus dalam gereja, saya minta Anda mempertimbangkan mengapa kita tidak memiliki nama yang menyatakan kita sebagai gereja. Kita adalah gereja, titik. Sering kita disalahkan karena kita tidak memakai nama untuk menyebut gereja, seperti Episkopal, Lutheran, Metodis, Presbiterian, atau Baptis. Menamai diri sendiri dalam cara ini berarti mempersembahkan kurban-kurban di mana saja, menurut selera kita. Ini dilambangkan dalam Imamat 17 dengan mempersembahkan kurban-kurban dengan cara yang salah.

Menerapkan Kristus dengan cara yang salah berarti menerapkan Dia tanpa aturan, pembatasan. Hari ini banyak orang suka memiliki kata yang khusus sebagai nama untuk menyebut gereja. Namun, menyebut gereja secara demikian adalah membuatnya menjadi denominasi, dan ini menyalahgunakan penerapan kurban-kurban. Bertahun-tahun yang lalu, saya bercakap-cakap dengan beberapa orang Kristen yang menantang pendirian kita mengenai gereja. Mereka berkata kepada saya, “Anda sangat sempit. Kristus ada di mana-mana. Dia ada di setiap tempat. Dia hadir di China, di Inggris, di Amerika. Kristus ada di setiap gereja Lutheran, Anglikan, Metodis, Baptis, Presbiterian.” Saya menjawab dengan berkata, “Ya, Kristus ada di mana-mana. Tetapi mengapa Dia menyandang banyak nama? Adakah Kristus orang China? Kristus orang Inggris? Kristus orang Amerika? Adakah Kristus orang Lutheran atau Kristus orang Wesleyan?”

Menyebut gereja dengan mengambil nama selain nama Kristus adalah melecehkan Kristus. Kita dapat memakai pernikahan sebagai satu ilustrasi. Seorang perempuan yang menikah harus memiliki satu suami dan satu nama pernikahan. Andai Miss Mary Jones menikah dengan Mr. Smith. Namanya tentu menjadi Mary Jones Smith. Jika ia mengambil nama lain, ia akan melecehkan nama suaminya; sesungguhnya, itu adalah melacurkan dirinya. Prinsipnya sama dengan melecehkan Kristus dengan menerapkan Dia di luar gereja, yaitu, dengan menerapkan Dia di setiap tempat yang kita pilih menurut selera kita. Pelecehan semacam ini, pelacuran semacam ini, dilambangkan dalam Imamat 17, di mana terdapat ungkapan “melacurkan dirinya” (Tl.) yang sangat tegas (ayat 7).

Menurut Imamat 17, menyembah Allah harus dibatasi di tempat pilihan Allah. Ini adalah tempat tinggal Allah di bumi. Setiap kurban harus dibawa ke tempat ini. Ini berarti Kristus harus diterapkan dalam gereja. Namun, banyak pekerja Kristen hari ini tidak memiliki konsepsi ini. Mereka tidak menerapkan Kristus di tempat yang dipilih Allah, malah menerapkan Kristus di mana saja. Melakukan hal ini adalah melecehkan Kristus. Mari kita sekarang memperhatikan rincian dari dua perkara ini: memperhatikan kurban-kurban dan darah (Im. 17).

I. MEMPERHATIKAN KURBAN-KURBAN

Ayat 3-9 membicarakan perihal memperhatikan kurban-kurban. Memperhatikan kurban-kurban adalah memperhatikan Kristus dan memustikakan Dia sebagai kurbankurban kita untuk Allah.

A. Kurban-kurban Dipersembahkan kepada Allah

Hanya di Pintu Kemah Pertemuan di Hadapan TUHAN,

dan Darahnya Ditumpahkan pada Mezbah

Menurut ayat 3-6, kurban-kurban dipersembahkan kepada Allah hanya di pintu Kemah Pertemuan di hadapan TUHAN, dan darahnya ditumpahkan pada mezbah. Ini melambangkan bahwa kita menerapkan Tuhan Yesus sebagai kurban-kurban kita untuk dipersembahkan kepada Allah dan kita berbagian dalam darah penebusan-Nya haruslah di pintu masuk tempat tinggal Allah (gereja) di bumi dan harus melalui salib.

B. Satu Kurban sebagai Kurban Pendamaian untuk TUHAN

Ayat 5b membicarakan kurban dari kurban pendamaian untuk TUHAN. Ini melambangkan Kristus sebagai damai sejahtera di antara kita dengan Allah supaya kita dapat menikmati Dia dengan manusia dan dengan Allah dalam persekutuan dan sukacita, seperti kenikmatan kita atas Kristus dalam pemecahan roti untuk mengingat Dia (1Kor. 10:16). Imamat 16 mengacu kepada kurban penghapus dosa, kurban penebus salah, kurban bakaran, dan kurban sajian, tetapi tidak disebutkan kurban pendamaian. Kita memiliki kurban pendamaian (Tl.) di Imamat 17. Kurban pendamaian dihasilkan dari empat kurban persembahan utama lainnya. Dengan kata lain, Imamat 17 dihasilkan dari Imamat 16. Maka, kurban-kurban dalam Imamat 17:5 mengacu kepada hasil kurban penghapus dosa, kurban penebus salah, kurban bakaran, dan kurban sajian.

1. Menyiramkan Darah pada Mezbah

“Imam harus menyiramkan darahnya pada mezbah TUHAN di depan pintu Kemah Pertemuan” (ayat 6a). Ini melambangkan bahwa darah Kristus dicurahkan di atas salib.

2. Membakar Lemaknya Menjadi Bau yang Menyenangkan bagi TUHAN

Imam juga “membakar lemaknya menjadi bau yang menyenangkan bagi TUHAN” (ayat 6b). Lemak di sini melambangkan keunggulan Kristus. Bau yang menyenangkan adalah bau yang memuaskan Allah. Membakar lemaknya menjadi bau yang menyenangkan bagi TUHAN melambangkan bahwa keunggulan Kristus dipersembahkan kepada Allah melalui api kudus Allah sebagai bau yang memuaskan Allah.

3. Jangan Mempersembahkan Lagi kepada Jin-jin, Sehingga Mereka Melacurkan Dirinya

“Janganlah mereka mempersembahkan lagi kurban mereka kepada jin-jin, sebab menyembah jin-jin itu adalah zina (melacurkan diri). Itulah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi mereka turun-temurun” (ayat 7). Ini melambangkan tidak lagi memiliki persekutuan dengan jin-jin yang sama artinya dengan melakukan perzinaan rohani (1Kor. 10:20-21). Kata Ibrani untuk “jin-jin” dapat juga diterjemahkan “berhala-berhala”. Kata “zina” (melacurkan diri) di sini menunjukkan bahwa bagi orang Israel, menyalahgunakan kurban-kurban dengan mempersembahkan kurban itu di tempat pilihannya sendiri berarti menjadikan dirinya melacur. Ini adalah perkara pelacuran rohani, perzinaan rohani.

Jika kita dipandang berpikiran sempit karena mengatakan bahwa gereja adalah tempat Kristus harus diterapkan, berarti Allah sendiri juga berpikiran sempit dalam perkara ini, karena kita hanya mengikuti Dia. Hanya pilihan Allah yang benar. Dia meminta agar kurban-kurban dipersembahkan hanya di tempat tinggal-Nya. Mengenai ini, kita harus kudus seperti apa adanya Dia dan sempit seperti apa adanya Dia. Allah adalah teladan kita, dan kita harus mengikuti Dia. Kalau tidak, kita tidak akan menjadi perawan suci yang dipersembahkan kepada Kristus (2Kor. 11:2), melainkan bertingkah laku seperti pelacur besar dalam Wahyu 17. Imamat 17 menunjukkan bahwa dalam perkara kurban-kurban, Allah berpikiran sempit, dan kita harus sama, bahkan jika ini menyebabkan kita menanggung kehinaan Tuhan (Ibr. 13:13).

C. Satu Kurban sebagai Kurban Bakaran

Dalam Imamat 17:8 kurban bakaran disebutkan. Kurban bakaran melambangkan Kristus sebagai kurban bakaran kita untuk Allah, yang berdasarkan hayat-Nya kita dapat hidup mutlak untuk Allah.

1. Dipersembahkan di Pintu Kemah Pertemuan

Kurban bakaran harus dipersembahkan kepada TUHAN di pintu Kemah Pertemuan (ayat 9a). Ini melambangkan menerapkan Kristus sebagai kurban bakaran kita kepada Allah di pintu tempat tinggal Allah (gereja).

2. Orang yang Tidak Mempersembahkan Kurban Bakaran

di Pintu Kemah Pertemuan Harus Dilenyapkan dari Bangsa Itu

Ayat 9b mengatakan bahwa orang yang tidak mempersembahkan kurban bakaran kepada TUHAN di pintu Kemah Pertemuan harus dilenyapkan dari bangsa itu. Dilenyapkan dari bangsa itu melambangkan disingkirkan dari persekutuan umat Allah. Jika kita menerapkan Kristus sebagai kurban bakaran di tempat denominasi dan bukan dalam gereja, kita akan dilenyapkan dari persekutuan umat Allah yang tepat.

II. MEMPERHATIKAN DARAH

Imamat 17:10-16 membicarakan memperhatikan darah. Memperhatikan darah adalah memperhatikan dan memustikakan darah Kristus. Nanti kita akan melihat bahwa darah yang berbeda melambangkan kepercayaan yang berbeda. Setiap jenis darah melambangkan satu kepercayaan. Kita tidak boleh memperhatikan darah yang lain selain darah Kristus. Hanya ada satu jenis darah yang dapat kita minum (Yoh. 6:53-56), atau terima, yaitu darah Kristus. Keluaran 12 menunjukkan hal ini. Bani Israel memercikkan darah domba Paskah pada ambang pintu mereka (ayat 7, 13). Mereka hanya menerima darah ini.

A. Darah (di Dalamnya ada Hayat Daging)

Diberikan oleh Allah untuk Mengadakan Pendamaian pada Mezbah bagi Nyawa Umat Allah

“Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa” (Im. 17:11). Ini melambangkan bahwa darah Tuhan Yesus dicurahkan di atas salib bagi penebusan kita.

B. Darah Binatang Buruan atau Burung

Harus Ditimbun dengan Tanah

“Setiap orang dari orang Israel dan dari orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu, yang menangkap dalam perburuan seekor binatang atau burung yang boleh dimakan, haruslah mencurahkan darahnya, lalu menimbunnya dengan tanah” (ayat 13). Ini melambangkan bahwa semua darah selain darah Tuhan Yesus yang manusia peroleh, tidak dapat menebus kita dari dosa-dosa kita dan harus dikubur. Mengubur adalah menyerahkan, membuang, menolak. Kita menolak semua darah lain; kita “kubur” mereka. Satu-satunya darah yang kita terima dan mustikakan adalah darah Yesus yang dicurahkan di atas salib sebagai mezbah.

C. Darah dari Bangkai atau Sisa Mangsa

Binatang Buas Tidak Baik untuk Dimakan

Ayat 15a mengatakan “Dan setiap orang yang makan bangkai atau sisa mangsa binatang buas.” Seperti ayat-ayat lain dalam pasal 17, kita perlu memahaminya secara perlambangan.

1. Darah dari Bangkai

Darah dari bangkai melambangkan darah orang yang mengorbankan dirinya sendiri untuk kebaikan orang lain. Darah ini tidak dapat menebus kita dari dosa-dosa kita. Hanya darah Yesus Kristus, yang Allah remukkan (Yes. 53:10) di atas salib, dapat membersihkan kita dari segala dosa (1Yoh. 1:7). Sepanjang sejarah sejumlah pahlawan telah mencurahkan darah mereka bagi orang lain. Namun, jenis darah ini tidak dapat menebus kita. Karena itu, kita harus menolaknya.

2. Darah dari Sisa Mangsa Binatang Buas

Darah dari sisa mangsa binatang buas melambangkan darah dari orang yang martir dibunuh orang yang ganas, yang seperti binatang buas, yang darahnya juga tidak dapat menebus kita dari dosa-dosa kita. Hanya darah Yesus Kristus, yang Allah hakimi di atas salib (Yes. 53:8), dapat membasuh kita dari dosa-dosa kita (Why. 1:5). Di atas salib, Allah meremukkan Kristus dan menghakimi Dia untuk kita. Maka darah Kristus adalah darah penebusan yang unik. Hanya darah-Nya dapat menebus kita terlepas dari segala dosa kita.

Agama di dunia hari ini dibentuk terutama berdasarkan satu dari dua lambang dalam Imamat 17:15a. Agama itu dibentuk berdasarkan orang yang mempersembahkan dirinya untuk kebaikan orang lain, atau orang yang martir. Di Amerika Serikat ada banyak agama yang dibentuk berdasarkan orang. Membentuk agama atas dasar demikian adalah menerima darah yang lain; membentuk agama berdasarkan orang berarti minum darah orang itu. Dari sini kita melihat bahwa kepercayaan lain, agama lain, berdasar pada orang-orang lain, yaitu pada darah yang lain.

D. Orang yang Makan Bangkai atau Sisa Mangsa

Binatang Buas, Najis Sampai Matahari Terbenam

“Dan setiap orang yang makan bangkai atau sisa mangsa binatang buas, baik ia orang Israel asli maupun orang asing, haruslah mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam, barulah ia menjadi tahir” (Im. 17:15). Ini melambangkan bahwa orang yang mengambil darah lain, yaitu, kepercayaan lain, selain darah Tuhan Yesus adalah najis sampai perkaranya dibersihkan dan diakhiri dengan tuntas.

Jika Anda mempelajari statistik mengenai penyebaran agama, Anda akan menemukan bahwa di Amerika Serikat sangat sulit membawa penyembah berhala kepada Tuhan. Alasannya adalah hampir setiap orang ditawan dengan suatu kepercayaan atau agama. Berbicara menurut perlambangan, hampir semua orang telah minum darah lain selain darah Tuhan Yesus. Tidaklah mudah untuk menyingkirkan darah ini dan menggantikannya dengan darah Yesus Kristus.

Allah telah menentukan hanya ada satu darah yang harus kita minum, hanya satu kepercayaan yang harus kita terima. Satu darah ini adalah darah Yesus Kristus yang tercurah di atas salib. Satu kepercayaan itu adalah kepercayaan dalam Kristus yang mati di atas salib untuk kita. Namun, kaum modernis memberitakan satu Kristus yang lain dengan Kristus yang mati di atas salib untuk penebusan kita. Ini berarti mereka memiliki kepercayaan lain. Secara perlambangan, hari ini kurban-kurban dipersembahkan di mana-mana, menurut selera orang.

Dalam pemulihan Tuhan, kita mempersembahkan Kristus di tempat yang dipilih Allah, karena kita berdiri pada tumpuan unik keesaan Tubuh Kristus untuk hidup gereja. Kita tidak memiliki tumpuan lain. Kita tidak mengambil sesuatu atau seseorang sebagai tumpuan kita selain keesaan Tubuh Kristus. Ketika berhimpun di atas tumpuan ini, tempat pilihan Allah, kita menerapkan Kristus. Ini adalah mempersembahkan kurban-kurban, menerapkan Kristus, menurut pilihan Allah. Jika kita menerapkan Kristus di tempat lain, kita akan melacurkan diri, menjadikan diri sendiri pelacur yang tidak memiliki suami yang pasti. Ini adalah perzinaan rohani.

Di masa lalu, kita minum darah yang berbeda. Sekarang dalam hidup gereja dalam pemulihan Tuhan, kita minum satu darah. Ini terutama dilaksanakan pada meja Tuhan. Kita minum darah yang unik, darah Yesus Kristus. Kita menerapkan Kristus menurut pilihan Allah.

Pemulihan Tuhan adalah perkara memperhatikan persona dan pekerjaan Kristus. Hari ini kita melaksanakan hidup gereja dengan memperhatikan Kristus dalam dua aspek ini. Kita memperhatikan persona-Nya dan pekerjaan-Nya yang unik. Kita tidak memiliki persona yang lain dan pekerjaan yang lain. Kita di sini untuk Kristus dengan pekerjaan penebusan-Nya.

Setelah mempelajari pasal ini dengan cermat, saya memiliki damai sejahtera yang penuh untuk mengatakan bahwa di sini kita memiliki lambang yang memperlihatkan kepada kita betapa kita harus memperhatikan persona Kristus dan pekerjaan penebusan-Nya, Lambang ini menunjukkan bahwa kita harus mempersembahkan Kristus hanya di tempat yang sesuai dengan pilihan Allah dan bahwa kita harus percaya hanya kepada pekerjaan penebusan Kristus, bukan kepada segala sesuatu yang menggantikannya.

1. Orang yang Makan Bangkai atau Sisa Mangsa Binatang Buas

Harus Mencuci Pakaiannya dan Membasuh

Tubuhnya dengan Air, jika Tidak Melakukan Ini,

Dia akan Menanggung Kesalahannya Sendiri

Imamat 17:15 mengatakan bahwa orang yang makan bangkai atau sisa mangsa binatang buas harus mencuci pakaiannya dan membasuh tubuhnya dengan air. Ayat 16 melanjutkan, “Tetapi jikalau ia tidak mencuci pakaiannya dan tidak membasuh tubuhnya, ia akan menanggung kesalahannya sendiri.” Ini melambangkan bahwa orang yang mengambil darah yang lain selain darah Tuhan Yesus harus menanggulangi tingkah lakunya yang lampau dan keberadaannya yang dulu yang berkaitan dengan agama, dan harus membersihkan dirinya. Kalau tidak, dia akan dihukum.

2. Aspek Lambang Ini Adalah Penting

Aspek lambang ini dalam wahyu ilahi adalah penting terkait dengan orang yang hidup di dunia seperti hari ini, dunia yang penuh kekacauan dalam perkara agama. Setiap orang dosa harus percaya hanya kepada Yesus Kristus dan mengambil darah-Nya untuk penebusannya, supaya ia dapat beroleh selamat di hadapan Allah. Semua hal lain harus ditinggalkan dan dikubur.