← Daftar isi Imamat (3) · bab 4/20

PENDAMAIAN (2)

Pembacaan Alkitab: Im. 16:17-34

Dalam berita ini kita akan membahas lebih lanjut rincian mengenai pendamaian dalam Imamat 16.

XII. KETIKA HARUN MASUK MENGADAKAN PENDAMAIAN DI TEMPAT MAHA KUDUS,

SEORANG PUN TIDAK BOLEH HADIR DI DALAM KEMAH PERTEMUAN

“Seorang pun tidak boleh hadir di dalam Kemah Pertemuan, bila Harun masuk untuk mengadakan pendamaian di tempat (maha) kudus, sampai ia keluar, setelah mengadakan pendamaian baginya sendiri, bagi keluarganya dan bagi seluruh jemaah orang Israel” (ayat 17). Ini melambangkan bahwa hanya Tuhan Yesus sendiri dapat mengadakan pendamaian untuk dosa-dosa kita. Hanya Tuhan Yesus yang bersyarat mati untuk kita dan untuk dosa-dosa kita. Hanya Dia yang bersyarat merampungkan penebusan untuk dosa-dosa kita di tempat maha kudus. Mengenai ini, lambang dalam Imamat 16 adalah pasti dan jelas.

XIII. SETELAH MENGADAKAN PENDAMAIAN BAGI DIRINYA,

BAGI KELUARGANYA, DAN BAGI SELURUH ORANG ISRAEL,

HARUN KELUAR KE MEZBAH DAN MENGADAKAN PENDAMAIAN UNTUK MEZBAH

A. Membubuhkan Darah Lembu Jantan

dan Darah Kambing Jantan pada Tanduk-tanduk Mezbah Sekelilingnya

“Kemudian haruslah ia pergi ke luar ke mezbah yang ada di hadapan TUHAN, dan mengadakan pendamaian bagi mezbah itu. Ia harus mengambil sedikit dari darah lembu jantan dan dari darah domba (kambing) jantan itu dan membubuhnya pada tanduk-tanduk mezbah sekelilingnya” (ayat 18). Lembu jantan untuk Harun dan keluarganya, dan kambing jantan untuk seluruh orang Israel. Empat tanduk menghadap empat penjuru bumi. Membubuhkan darah lembu jantan dan kambing jantan pada tanduk-tanduk mezbah sekelingnya melambangkan bahwa khasiat penebusan salib mengarah ke empat penjuru bumi.

B. Dengan Jarinya Harun Memercikkan Sedikit Darah di Atas Mezbah Tujuh Kali

“Kemudian ia harus memercikkan sedikit dari darah itu ke mezbah itu dengan jarinya tujuh kali” (ayat 19a). Ini melambangkan bahwa kepenuhan khasiat darah yang dicurahkan di atas salib oleh Kristus adalah supaya orang dosa mendapatkan damai sejahtera di dalam hatinya. Ketika kita orang berdosa, memandang darah yang dipercikkan di atas mezbah, kita tahu bahwa sifat dosa dan perbuatan dosa kita telah ditanggulangi. Karena tahu bahwa masalah dosa telah dibereskan, kita memiliki damai sejahtera di dalam hati kita.

Darah yang dipercikkan pada mezbah adalah untuk damai sejahtera kita, darah yang dipercikkan pada tutup pendamaian adalah untuk kepuasan Allah. Mula-mula darah dipercikkan pada tutup pendamaian di belakang tabir. Ini adalah untuk Allah lihat, untuk kepuasan-Nya. Kemudian darah dipercikkan pada mezbah kurban persembahan di pelataran luar, untuk kita lihat; ini untuk kepuasan kita. Allah dan manusia dipuaskan melalui darah penebusan Kristus.

C. Mentahirkan Mezbah dan Menguduskannya dari Kenajisan Orang Israel

Ayat 19b memberi tahu kita bahwa Harun harus mentahirkan mezbah serta “menguduskannya dari segala kenajisan orang Israel.” Ini melambangkan bahwa seluruh dosa dunia dikumpulkan di atas salib Kristus dan dibersihkan.

Kata “kenajisan” dalam ayat 19 mengacu kepada dosa kita, kusta kita, pemberontakan kita, bahkan sifat setani di dalam kita. Karena umat Allah masih berada dalam kenajisannya, bahkan mezbah yang dipakai oleh Allah untuk penebusan umat-Nya juga tercemar. Melalui ini kita dapat melihat betapa menularnya kenajisan umat Allah. Kenajisan ini memiliki sumbernya (Iblis), kelahirannya, dan kehidupannya, yang adalah kusta. Karena itu, kita adalah totalitas kenajisan, yang melelehkan hal-hal najis yang mencemari orang lain dan menjadikannya najis. Melalui salib Kristus, kenajisan ini telah ditanggulangi dan disingkirkan. Sekarang ada situasi yang tahir yang di dalamnya kita dan Allah dapat saling menikmati.

XIV. HARUN MENGADAKAN PENDAMAIAN

UNTUK TEMPAT MAHA KUDUS, KEMAH PERTEMUAN, DAN MEZBAH

Ayat 20a membicarakan Harun “mengadakan pendamaian bagi tempat (maha) kudus dan Kemah Pertemuan serta mezbah.” Ini melambangkan bahwa kurban penghapus dosa bukan hanya menyingkirkan kenajisan, tetapi juga untuk menyempurnakan kekudusan. Tempat maha kudus, tempat yang paling kudus di alam semesta, dicemari oleh kenajisan umat tebusan Allah. Karena tempat maha kudus dikontak oleh orang yang najis, tempat itu perlu pendamaian. Begitu pula Kemah Pertemuan dan mezbah. Fakta bahwa pendamaian dibuat untuk semua ini menunjukkan bahwa kurban penghapus dosa bukan hanya untuk menyingkirkan kenajisan tetapi juga untuk menyempurnakan kekudusan. Apa yang Kristus rampungkan di atas salib bukan hanya untuk menyingkirkan kenajisan kita tetapi juga untuk menyempurnakan kekudusan Allah, yang ke dalamnya kita telah dibawa. Sekarang kita ada di dalam kekudusan ini menikmati Allah sebagai kekudusan kita.

XV. HARUN MASUK KEMBALI KE KEMAH PERTEMUAN,

MENANGGALKAN PAKAIAN LENAN, MENINGGALKANNYA DI SANA,

MEMBASUH TUBUHNYA DENGAN AIR DI TEMPAT KUDUS,

DAN MENGENAKAN PAKAIANNYA,

KEMUDIAN KELUAR DAN MEMPERSEMBAHKAN KURBAN

BAKARANNYA DAN KURBAN BAKARAN BANGSA ITU,

MENGADAKAN PENDAMAIAN BAGI DIRINYA DAN BAGI BANGSA ITU

“Sesudah itu Harun harus masuk ke dalam Kemah Pertemuan dan menanggalkan pakaian lenan, yang dikenakannya ketika ia masuk ke dalam tempat kudus dan harus meninggalkannya di sana. Ia harus membasuh tubuhnya dengan air di suatu tempat yang kudus dan mengenakan pakaiannya sendiri, lalu ia harus keluar dan mempersembahkan kurban bakarannya sendiri dan kurban bakaran bangsa itu; dengan demikian ia mengadakan pendamaian baginya sendiri dan bagi bangsa itu” (ayat 23-24). Ini melambangkan bahwa setelah kita menerima penebusan Tuhan Yesus dan masalah dosa-dosa kita dibereskan, kita perlu pembasuhan Roh itu supaya kita dapat menerima Kristus sebagai kurban bakaran kita untuk hidup bagi Allah berdasarkan hayat Kristus.

Sebelum Harun membasuh dirinya, dia mempersembahkan kurban penghapus dosa untuk dirinya dan bangsa itu. Kemudian setelah dibasuh, dia datang ke mezbah untuk mempersembahkan kurban bakaran bagi dirinya dan juga bagi bangsa itu. Dari sini kita dapat melihat bahwa kurban penghapus dosa adalah untuk kurban bakaran, kurban penghapus dosa ini dipersembahkan mengingat kurban bakaran. Dengan perkataan lain, kurban penghapus dosa memiliki satu tujuan, membawa kita kepada kurban bakaran. Ini berarti kita, orang dosa, telah ditebus untuk tujuan menjadi kepuasan Allah. Kita telah ditebus, supaya dengan menerima Kristus sebagai hayat dan suplai hayat kita, kita dapat menjadi orang yang di dalam Kristus hidup mutlak untuk Allah. Jadi, sebagai orang tebusan, kita bukan lagi orang dosa, tetapi orang yang mutlak untuk kepuasan Allah. Penebusan lengkap Kristus bukan hanya untuk menghapus dosa, tetapi juga agar kita hidup untuk Allah dengan mutlak. Ini adalah tujuan penebusan Kristus.

Jika penebusan Kristus hanya menyingkirkan dosa kita tetapi tidak memampukan kita hidup untuk Allah dengan mutlak, penebusan-Nya tidaklah lengkap. Kita memuji Tuhan bahwa melalui penebusan Kristus bukan hanya dosa kita telah dihapus, kita juga telah dibuat oleh Kristus menjadi orang yang di dalam Dia sebagai kurban bakaran kita, sekarang dapat hidup untuk Allah dengan mutlak. Dalam penebusan yang lengkap ini, Kristus adalah kurban penghapus dosa dan kurban bakaran. Dia adalah kurban penghapus dosa kita untuk menyingkirkan dosa-dosa kita, dan Dia adalah kurban bakaran kita guna menjadikan kita orang yang mutlak untuk Allah. Melalui menerima Kristus sebagai kurban bakaran kita dan melalui hidup di dalam Dia oleh hayat-Nya dan dengan suplai hayat-Nya, kita dapat dan bersyarat hidup untuk Allah dengan mutlak.

XVI. LEMAK KURBAN PENGHAPUS DOSA

DIPERSEMBAHKAN DALAM ASAP DI ATAS MEZBAH

“Kemudian ia harus membakar lemak kurban penghapus dosa (sebagai ukupan) di atas mezbah” (ayat 25). Ini melambangkan kematian Tuhan Yesus di atas salib adalah untuk penebusan kita, tetapi hati-Nya yang tertuju kepada Allah dan untuk Allah, adalah untuk perkenan Allah. Lemak kurban penghapus dosa melambangkan hati Kristus, bagian yang lembut dari Kristus. Bagian yang lembut dari Kristus ini sepenuhnya tertuju kepada Allah dan untuk Allah. Hati-Nya yang tertuju kepada Allah dan untuk Allah adalah untuk perkenan Allah.

Dalam pemandangan yang digambarkan dalam Imamat 16, ada dua hal yang manis untuk Allah. Pertama, hati Kristus, yang tertuju kepada Allah dan untuk Allah, adalah manis untuk Allah. Kedua, Kristus akhirnya menjadi ukupan yang dibakar di atas mezbah ukupan dengan api dari mezbah kurban persembahan, dan ukupan yang dibakar ini menjadi bau harum untuk Allah. Keduanya ini termasuk yang diperkenan Allah dan yang menjadi perkenan Allah terhadap kita. Kita diperkenan di dalam Kristus sebagai ukupan yang dibakar di hadapan Allah dan juga dalam hati Kristus, yang tertuju kepada Allah dan untuk Dia. Karena itu, pada kurban penghapus dosa kita memiliki dua hal: Kristus (sebagai ukupan yang dibakar di atas mezbah ukupan) dan hati Kristus (yang dilambangkan oleh lemak yang dibakar di atas mezbah kurban persembahan).

XVII. ORANG YANG MELEPASKAN KAMBING JANTAN

BAGI AZAZEL MENCUCI PAKAIANNYA,

MEMBASUH TUBUHNYA DENGAN AIR,

SETELAH ITU MASUK KE PERKEMAHAN

“Maka orang yang melepaskan kambing jantan bagi Azazel itu harus mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air dan sesudah itu barulah boleh masuk ke perkemahan” (ayat 26). Ini melambangkan orang yang tercemar dengan menyentuh segala sesuatu yang berhubungan dengan dosa harus menanggulangi kehidupan luarannya dan dirinya sendiri.

Orang yang melepaskan kambing jantan yang memikul dosa bangsa itu kepada Azazel berhubungan dengan dosa dan dicemari olehnya. Karena itu, dia harus membasuh dirinya dan mencuci pakaiannya. Dia harus menanggulangi kehidupan luarannya (dilambangkan oleh pakaian) dan juga dirinya sendiri. Ini menunjukkan bahwa kapan pun kita dicemari melalui mengontak sesuatu yang berhubungan dengan dosa, kita perlu membasuh, menanggulangi, perilaku kita dan diri kita.

XVIII. LEMBU JANTAN DAN KAMBING JANTAN KURBAN PENGHAPUS DOSA

DIBAWA KELUAR PERKEMAHAN, DAN KULIT, DAGING,

DAN KOTORANNYA DIBAKAR DENGAN API

“Lembu jantan dan kambing jantan kurban penghapus dosa, yang darahnya telah dibawa masuk untuk mengadakan pendamaian di dalam tempat (maha) kudus, harus dibawa keluar dari perkemahan, dan kulitnya, dagingnya dan kotorannya harus dibakar habis” (ayat 27). Ini memiliki makna ganda. Pertama, ini melambangkan bahwa Tuhan Yesus merampungkan di atas salib, sekali untuk selamanya, penebusan yang kekal dan sempurna, dan orang-orang yang melayani-Nya tidak berbagian dalam perkara ini. Dia sendiri merampungkan penebusan yang sempurna dan kekal di atas salib (dilambangkan oleh mezbah di luar Kemah). Selain itu, Dia juga sendirian masuk ke belakang tabir ke dalam tempat maha kudus. Kita, orang-orang yang melayani-Nya, tidak berbagian dalam merampungkan penebusan.

Kedua, apa yang digambarkan dalam ayat 27 melambangkan bahwa Tuhan yang merampungkan penebusan ditolak oleh manusia. Maka, yang menerima penebusan-Nya harus pergi bersama Dia keluar perkemahan, menanggung kehinaan-Nya (Ibr. 13:13). Perkemahan melambangkan organisasi agama, khususnya organisasi agama Yahudi. Keluar perkemahan berarti keluar dari organisasi agama. Hari ini kita ada di luar organisasi agama, menanggung kehinaan Tuhan. Menanggung kehinaan Tuhan berarti memikul kehinaan yang sama seperti yang Dia tanggung. Kehinaan Dia sekarang menjadi kehinaan kita. Dalam pemulihan Tuhan, kita menanggung kehinaan-Nya karena pendirian kita mengenai gereja, yaitu, karena kita berdiri pada tumpuan keesaan Tubuh Kristus. Ketika mereka yang di denominasi mengkritik dan menyerang pendirian kita dalam gereja-gereja lokal, kita menanggung kehinaan Tuhan.

XIX. ORANG YANG MEMBAKAR LEMBU JANTAN

DAN KAMBING JANTAN KURBAN PENGHAPUS DOSA

MENCUCI PAKAIANNYA, MEMBASUH TUBUHNYA DENGAN AIR,

SESUDAH ITU MASUK KE PERKEMAHAN

“Siapa yang membakar semuanya itu, harus mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air dan sesudah itu barulah boleh masuk ke perkemahan” (ayat 28). Ini melambangkan bahwa orang yang dicemari karena mengontak segala sesuatu yang terkait dengan dosa harus menanggulangi kehidupan luarannya dan dirinya sendiri. Maknanya di sini sama seperti orang yang melepaskan kambing jantan kepada Azazel.

XX. MERENDAHKAN DIRI DENGAN BERPUASA

Ayat 29a mengatakan, “Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal sepuluh bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa.” Secara harfiah, “diri” berarti “jiwa”. Orang Israel menafsirkan “berpuasa” di sini sebagai sama sekali tidak makan (lihat Yes. 58:3, 5, 10). Dalam Imamat 16:29, merendahkan diri dengan berpuasa melambangkan berdukacita, bertobat, dan perasaan menderita karena dosa.

XXI. JANGAN MELAKUKAN PEKERJAAN APA PUN

Umat Allah tidak boleh melakukan pekerjaan apa pun pada hari itu (ayat 29b), sebab hari itu adalah “hari sabat perhentian penuh” untuk mereka (ayat 31). Ini melambangkan bahwa penebusan telah selengkapnya dirampungkan oleh Kristus. Tidak ada apa-apa yang tertinggal untuk ma-nusia lakukan; manusia harus beristirahat dalam penebusan Kristus. Jika kita mencoba melakukan sesuatu untuk penebusan kita, kita akan menghina Kristus dan meremehkan penebusan-Nya. Karena kita telah melihat penebusan Kristus, telah menerimanya dan menikmatinya, kita harus berhenti dari jerih lelah kita. Dalam perkara ini Martin Luther benar untuk menentang kesalahan pengajaran Gereja Roma Katolik mengenai bekerja untuk keselamatan kita. Penebusan lengkap telah dirampungkan secara penuh oleh Kristus, dan sekarang kita menikmatinya tanpa berjerih lelah.

XXII. PENDAMAIAN DIADAKAN UNTUK SELURUH BANGSA ITU,

UNTUK SEMUA DOSA MEREKA, SEKALI SETAHUN

“Ia harus mengadakan pendamaian bagi tempat maha kudus, bagi Kemah Pertemuan dan bagi mezbah, juga bagi para imam dan bagi seluruh bangsa itu, yakni jemaah itu. Itulah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagimu, supaya sekali setahun diadakan pendamaian bagi orang Israel karena segala dosa mereka” (ayat 33-34a). Ini melambangkan bahwa kurban persembahan tidak dapat membuat manusia sempurna, ini hanya bayangan dari hal-hal baik yang akan datang, sampai Anak Allah datang melengkapi penebusan yang penuh. “Hal-hal baik yang akan datang” (Ibr. 10:1) mengacu kepada hal-hal yang dirampungkan oleh Kristus. Hal-hal baik ini diwahyukan dalam Ibrani 9 dan 10, dua pasal yang menyajikan isi dari butir ini.

Apa yang kita miliki dalam Imamat 16 adalah bayangan, bukan realitas. Realitas, perwujudan, dari bayangan ini adalah Kristus dengan semua perampungan dan pencapaian-Nya. Bayangan membantu kita mengapresiasi realitas dan mengenal rincian realitas. Namun demikian, kita tidak memperhatikan bayangan, kita memperhatikan realitas. Kita memperhatikan Kristus dan semua yang telah Dia capai dan rampungkan.