← Daftar isi Imamat (3) · bab 3/20

PENDAMAIAN (1)

Pembacaan Alkitab: Im. 16:1-16; Ibr. 10:1-4

Dalam berita ini kita sampai pada perkara pendamaian. Pendamaian (propitiation) di sini adalah istilah yang sangat sulit dalam teologi. Definisi yang diberikan dalam banyak kamus tidak sesuai dengan arti kata Ibraninya. Kata Ibrani yang diterjemahkan “pendamaian” dalam Imamat 16 berarti menutupi; memiliki akar yang sama seperti kata untuk penutup tabut. Dalam tabut, tempat di mana Allah bertemu dengan umat-Nya dan di mana umat bertemu dengan Allah, ada dua loh batu bertuliskan Sepuluh Perintah. Ini berarti loh-loh batu yang bertuliskan Sepuluh Perintah ada di depan Allah dan di depan orang yang datang untuk bertemu dengan Allah. Sepuluh Perintah memperlihatkan semua dosa yang dilakukan oleh orang yang mendekati Allah.

Antara Allah dengan orang yang mendekati Dia ada satu masalah. Masalahnya bukan pada Allah, sebab Dia mengasihi umat-Nya dan ingin bertemu dengan mereka. Masalahnya ada pada umat-Nya yang telah berbuat dosa, melakukan banyak hal yang bertentangan dengan perintahperintah-Nya.

Sepuluh Perintah adalah gambaran apa adanya Allah. Allah adalah kasih dan terang, Dia itu kudus dan benar. Empat kata ini, kasih, terang, kudus, dan benar, menggambarkan Allah itu Allah yang bagaimana. Allah penuh kasih dan terang, dan Dia adalah benar dan kudus. Sepuluh Perintah diberikan oleh Dia untuk memperlihatkan kepada kita bahwa Dia adalah Allah yang demikian.

Loh-loh batu yang bertuliskan Sepuluh Perintah berdiri di hadapan orang yang mendekati Allah dan menyingkapkan dia sebagai orang dosa. Karena itu, di antara Allah dengan orang yang mendekati Dia ada masalah sifat dosa dan perbuatan dosa. Bagaimana orang dosa mendekati dan berbicara dengan Dia yang adalah kasih dan terang dan yang adalah benar dan kudus? Masalah ini harus dibereskan. Jika tidak, akan ada sekatan, halangan, antara Allah dengan orang yang mendekati Dia.

Kita telah melihat bahwa kita dilahirkan najis dan berada di tengah-tengah orang yang najis. Maka, masalahnya bukan hanya pada kelahiran kita, tetapi juga pada kontak kita dengan orang lain. Melalui kontak ini sangat mudah kita tercemar. Selain itu, dalam keadaan kita, kita benar-benar kusta; kita adalah totalitas kusta. Selain itu, apa pun yang keluar dari kita adalah najis, menular, dan mencemari. Bagaimana orang yang demikian dapat mendekati Allah, yang tahir, kudus, dan benar, serta berbicara dengan Dia? Tidak mungkin. Allah mengasihi manusia, tetapi manusia berada dalam keadaan yang kasihan. Keadaan ini mewahyukan apa yang kita perlukan. Kita memerlukan pendamaian.

Saya telah menunjukkan bahwa kata Ibrani untuk pendamaian berarti menutupi dan bahwa kata untuk menutupi tabut berasal dari akar kata yang sama. Loh-loh batu yang bertuliskan Sepuluh Perintah dalam tabut perlu ditutupi. Jika Sepuluh Perintah ditutupi, barulah situasi kita dengan Allah dapat dibereskan.

Pendamaian membereskan situasi kita. Dalam pendamaian terutama bukan Allah tetapi situasi kita dengan Allah yang dibereskan. Masalahnya ada pada kita, bukan pada Allah. Allah tidak marah kepada kita. Allah mengasihi kita, tetapi ada masalah antara kita dengan Allah. Karena itu, situasi kita perlu dibereskan melalui tutup yang diletakkan di atas perintah-perintah yang menghukum, menghakimi.

Kita tidak perlu meminta Allah mengampuni kita. Begitu Allah memperoleh kedudukan untuk melakukannya, Dia siap mengampuni kita. Karena Allah itu benar, pengampunan-Nya menuntut Dia memiliki kedudukan untuk mengampuni kita. Andaikata kita berkata, “Ya Allah, aku tahu bahwa Engkau mengasihi aku. Aku mohon Engkau mengampuni aku.” Jika kita berkata demikian, Allah akan menjawab, “Ya, Aku mengasihimu. Tidak perlu kamu meminta Aku mengampunimu. Tetapi bagaimana dengan Sepuluh Perintah? Aku harus meletakkan penutup atasnya bagimu. Barulah situasimu beres.” Betapa ajaibnya bahwa melalui pendamaian situasi kita dengan Allah dibereskan!

Dalam pemberitaan Injil, banyak orang berkata bahwa Allah marah kepada kita, tetapi Yesus ini, Teman kita, memohon Allah karena Dia mengampuni kita. Menurut pengabaran Injil semacam ini, Allah mengabulkan permohonan Tuhan dan mengampuni kita. Cara pemberitaan Injil ini mutlak salah, karena menggambarkan Allah dalam cara yang salah sama sekali.

Yohanes 3:16 mengatakan, “Allah begitu mengasihi dunia.” “Dunia” di sini berarti umat manusia yang jatuh. Walaupun umat manusia telah jatuh, Allah tetap mengasihi umat manusia. Kita tidak boleh mengira bahwa Dia marah kepada kita. Bukannya marah kepada kita, Dia mengasihi kita. Dia mengasihi kita sedemikian rupa sehingga pada kekekalan yang lampau, Dia telah menyiapkan cara pertama menutupi dosa kita dan kemudian menyingkirkannya. Dalam Perjanjian Lama ekonomi Allah adalah menutupi dosa manusia; dalam Perjanjian Baru ekonomi Allah adalah menghapus dosa manusia.

Walaupun pada masa Perjanjian Lama dosa manusia belum dihapus, Allah masih menyiapkan sesuatu untuk menutupi Sepuluh Perintah, supaya situasi manusia yang jatuh dapat dibereskan. Pada tutup tabut ada dua kerub yang berjaga-jaga atas Sepuluh Perintah. Dalam perlambangan kerub melambangkan kemuliaan Allah. Maka kerub yang berjaga-jaga atas Sepuluh Perintah berarti kemuliaan Allah berjaga-jaga atas Sepuluh Perintah. Kemuliaan Allah berjaga-jaga atas Sepuluh Perintah, menanti untuk melihat apa yang dilakukan Allah yang kudus dan benar terhadap orang dosa yang datang padanya. Tutup dipasang untuk menutupi Sepuluh perintah, supaya kemuliaan Allah tidak melihat Sepuluh Perintah, melainkan hanya melihat tutup itu saja. Beginilah cara Allah: Dia hanya melihat tutup; Dia tidak melihat Sepuluh Perintah. Dalam Imamat 16:2, 13-15 penutup ini disebut tutup pendamaian. Jadi, dalam Perjanjian Lama, pendamaian, menurut kata Ibraninya, adalah perkara menutupi.

Dalam Septuagin, terjemahan bahasa Yunani Perjanjian Lama, kata “pendamaian” dipakai untuk menunjukkan penutup tabut. Kata Yunani untuk “pendamaian” berarti membereskan situasi antara dua pihak. Antara pihak-pihak ini ada masalah yang membuat mereka tidak dapat saling berkomunikasi. Karena itu, perlu sesuatu terjadi untuk membereskan situasi ini. Dalam Perjanjian Lama, penutup tabutlah yang membereskan situasi yang melibatkan Allah dan manusia yang jatuh. Karena Sepuluh Perintah ditutupi dan situasi dibereskan, orang yang mendekati Allah bisa merasa damai sejahtera, dan tidak ada apa-apa yang menghalangi Allah dan orang yang mendekati Dia untuk berbincang-bincang satu sama lain. Karena itu, Perjanjian Lama mewahyukan bahwa penutup tabut, yang di dalamnya ada Sepuluh Perintah, dan yang berada di tempat maha kudus, adalah tempat di mana Allah bertemu dengan umat-Nya.

Versi King James memakai ungkapan “takhta belas kasihan” untuk menerjemahkan kata Ibrani “tutup pendamaian” (Im. 16:2) dan “perujukan” untuk menerjemahkan kata pendamaian. Banyak ahli teologi memakai kata “perujukan” (perkara Perjanjian Lama) dan penebusan (perkara Perjanjian Baru) secara bergantian. Selain itu, kidung tertentu memakai kata “perujukan” untuk “penebusan”. Apa yang kita miliki dalam Perjanjian Baru bukan perujukan, melainkan penebusan.

Dirujukkan berarti disatukan. Dirujukkan menyebabkan dua pihak menjadi satu; yaitu membawa pihak-pihak ini ke dalam kesatuan, menjadikan pihak-pihak ini satu. Dalam Perjanjian Lama perujukan ini, penyatuan ini, sama dengan pendamaian. Dalam Kitab Imamat versi Pemulihan, kita memakai kata “pendamaian” daripada “perujukan”.

Ada perbedaan antara pendamaian dalam Perjanjian Lama dan penebusan dalam Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama, dosa-dosa ditutupi, tetapi tidak dihapuskan. Penutupan sifat dosa dan perbuatan dosa dalam Perjanjian Lama adalah perkara pendamaian. Dalam Perjanjian Baru dosa dihapuskan. “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” (Yoh. 1:29). “Dosa” di sini adalah totalitas dosa dan dosa-dosa. Dosa tidak ditutupi, melainkan dihapuskan. Ini adalah perkara penebusan.

Menurut Ibrani 10:1-4, pendamaian dalam Perjanjian Lama tidak dapat menghapus dosa. Jika pendamaian itu bisa menghapus dosa, maka orang tidak perlu lagi mempersembahkan kurban penghapus dosa terus-menerus setiap tahun. Pengulangan mempersembahkan kurban menunjukkan bahwa penghapusan dosa untuk merampungkan penebusan belum terjadi. Tuhan Yesus perlu datang dan mati di atas salib bagi penebusan kita.

Ibrani 10:5-9 adalah kutipan dari Mazmur 40:6-8, yang menubuatkan mengenai Kristus. Ibrani 10:5 mengatakan, “Karena itu, ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata, ‘Kurban dan persembahan tidak Engkau kehendaki, tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku.” Allah telah menyediakan tubuh untuk Kristus, supaya Dia dapat menjadi kurban persembahan yang sejati, bukan untuk menutupi sifat dosa dan perbuatan dosa, melainkan menghapuskan totalitas dosa. Inilah yang dilakukan Tuhan Yesus ketika Dia mati di atas salib. Di atas salib Dia menghapus dosa untuk merampungkan penebusan yang penuh. Sekarang apa yang kita miliki dalam Perjanjian Baru bukan hanya menutupi dosa untuk membereskan situasi, tetapi penebusan yang penuh, lengkap, yang membereskan seluruh masalah dosa.

Sepuluh pasal pertama Kitab Imamat membahas kurban persembahan dan jabatan imam. Pasal 11 sampai 15 sangat negatif dan memperlihatkan kepada kita apa adanya kita, keberadaan kita, keadaan kita, dan apa yang dihasilkan dari kita. Melalui pasal-pasal ini kita sepenuhnya disingkapkan. Pasal-pasal ini bukan hanya cermin, tetapi juga sinar x yang sepenuhnya menyingkapkan kita. Sekarang kita tahu apa adanya kita, keberadaan kita, dan bagaimana keadaan keberadaan kita. Kita juga tahu apa yang dihasilkan dari alamiah kita adalah najis. Bersama Paulus kita dapat berkata, “Sebab aku tahu bahwa di dalam aku, yaitu di dalam dagingku, tidak ada sesuatu yang baik” (Rm. 7:18a Tl.). Kita adalah totalitas kenajisan, totalitas kusta. Karena kita adalah demikian, kita perlu kurban penghapus dosa untuk membereskan akar masalah dosa. Selain itu, sebagai orang dosa, kita bukan untuk Allah tetapi mutlak untuk diri kita sendiri. Karena itu, kita juga perlu kurban bakaran.

Situasi kita yang sesungguhnya adalah kita berdosa dan bahwa kita tidak untuk Allah. Tidak peduli bagaimana manusia kita, kita adalah orang dosa, dan kita tidak untuk Allah. Jadi, kita perlu kurban penghapus dosa dan kurban bakaran. Kita perlu kurban penghapus dosa untuk membereskan akar masalah dosa kita. Kita perlu kurban bakaran supaya kita dapat hidup untuk Allah.

Kristus adalah kurban penghapus dosa dan kurban bakaran. Menurut Ibrani 10, Kristus datang untuk melakukan dua hal: menghapus dosa kita (ayat 10-12) dan melakukan kehendak Allah (ayat 7, 9). Kristus datang untuk menghapus dosa kita, untuk membereskan akar masalah dosa kita. Dia juga datang untuk melakukan kehendak Allah, karena Dia sepenuhnya dan mutlak untuk Allah. Maka, Kristus adalah kurban penghapus dosa dan kurban bakaran.

Perjanjian Lama adalah zaman dosa tidak dihapus, tetapi dosa ditutupi. Apa yang kita miliki dalam Imamat 16 adalah menutupi dosa. Mengenai pendamaian dalam pasal ini, dua kurban persembahan diperlukan untuk menutupi dosa, kurban penghapus dosa dan kurban bakaran. Untuk menutupi dosa kita dan membereskan situasi kita dengan Allah, kita perlu dua kurban persembahan ini.

Sekarang mari kita lanjutkan untuk memperhatikan banyak rincian dalam Imamat 16 mengenai pendamaian.

I. HARUN DILARANG SEMBARANG WAKTU

MASUK KE DALAM TEMPAT MAHA KUDUS DI BELAKANG TABIR,

DI DEPAN TUTUP PENDAMAIAN DI ATAS TABUT, SUPAYA JANGAN MATI

“Firman TUHAN kepadanya: ‘Katakanlah kepada Harun, kakakmu, supaya ia jangan sembarang waktu masuk ke dalam tempat (maha) kudus di belakang tabir, ke depan tutup pendamaian yang di atas tabut supaya jangan ia mati; karena Aku menampakkan diri dalam awan di atas tutup pendamaian’” (ayat 2). Ini melambangkan bahwa manusia, berdosa karena kejatuhan, tidak dapat masuk ke hadirat Allah berdasarkan dirinya sendiri.

Dalam Kemah Suci ada tempat kudus dan tempat maha kudus. Meja roti sajian, kaki pelita, dan mezbah ukupan ada di tempat kudus; tabut berisi dua loh batu yang bertuliskan Sepuluh Perintah ada di dalam tempat maha kudus. Tabir memisahkan tempat kudus dari tempat maha kudus. Imam besar dapat masuk ke dalam tempat kudus setiap saat. Namun, karena kemuliaan shekinah, kemuliaan Allah, ada di dalam tempat maha kudus dan karena kehadiran Allah ada di atas tutup tabut (tutup pendamaian), maka imam besar tidak dapat sembarang waktu masuk ke tempat itu, supaya jangan ia mati, seperti anak-anak Harun mati (10:1-2). Ini menunjukkan bahwa dalam dirinya sendiri manusia yang jatuh dilarang masuk ke hadirat Allah, yang dihalangi oleh tabir.

II. UNTUK MASUK KE DALAM TEMPAT MAHA KUDUS,

HARUN HARUS MEMBAWA SEEKOR LEMBU JANTAN MUDA

UNTUK KURBAN PENGHAPUS DOSA

DAN SEEKOR DOMBA JANTAN UNTUK KURBAN BAKARAN

“Beginilah caranya Harun masuk ke dalam tempat (maha) kudus itu, yakni dengan membawa seekor lembu jantan muda untuk kurban penghapus dosa dan seekor domba jantan untuk kurban bakaran” (16:3). Ini melambangkan bahwa manusia mendekati Allah harus membawa Kristus sebagai kurban penghapus dosa dan kurban bakarannya. Dalam Imamat 11 sampai 15, kita melihat gambaran dari manusia yang jatuh. Gambaran ini mewahyukan bahwa manusia adalah totalitas kenajisan, totalitas pemberontakan, totalitas kusta. Karena itu, manusia tidak dapat masuk ke hadirat Allah tanpa Kristus sebagai kurban penghapus dosa dan kurban bakarannya.

III. HARUN MENGENAKAN KEMEJA LENAN YANG KUDUS,

CELANA LENAN UNTUK MENUTUPI DAGINGNYA,

IKAT PINGGANG DAN BERLILITKAN SERBAN LENAN

SUPAYA MASUK KE DALAM TEMPAT MAHA KUDUS

“Ia harus mengenakan kemeja lenan yang kudus dan ia harus menutupi auratnya dengan celana lenan dan ia harus memakai ikat pinggang lenan dan berlilitkan serban lenan; itulah pakaian kudus yang harus dikenakannya” (ayat 4a). Ini melambangkan bahwa orang yang mendekati Allah harus menerima Kristus sebagai kebenaran dan kekudusannya, supaya dia dapat menutupi seluruh dirinya dan mengekspresikan Kristus.

Semua pakaian lenan yang dikenakan Harun adalah lambang kebenaran dan kekudusan Allah. Kebenaran Allah dan kekudusan-Nya adalah Kristus. Harun mengenakan pakaian lenan ini melambangkan hari ini kita mengenakan Kristus. Kapan saja kita masuk ke hadirat Allah, kita harus mengenakan Kristus sebagai kemeja, celana, ikat pinggang, dan serban. Kristus sebagai kebenaran dan kekudusan Allah harus menutupi kita seluruhnya. Dengan Kristus menutupi kita seluruhnya, kita akan mengekspresikan Kristus. Karena itu, kita perlu Kristus bukan saja sebagai kurban penghapus dosa kita dan kurban bakaran kita, tetapi juga sebagai penutup kita.

IV. HARUN MEMBASUH TUBUHNYA DENGAN AIR,

KEMUDIAN MENGENAKAN PAKAIAN KUDUS

Ayat 4b memberi tahu kita bahwa Harun membasuh tubuhnya dengan air, kemudian mengenakan pakaian kudus. Ini melambangkan bahwa seseorang mula-mula harus menanggulangi diri sendiri, dan kemudian mengenakan Kristus sebagai penutup, kebenaran, dan kekudusannya. Mula-mula kita harus menanggulangi diri kita sendiri. Ini dilambangkan oleh membasuh dengan air. Kemudian kita harus mengenakan berbagai aspek Kristus sebagai penutup kita. Ini dilambangkan oleh mengenakan pakaian kudus.

V. HARUN MENGAMBIL DARI UMAT ISRAEL

DUA EKOR KAMBING JANTAN UNTUK KURBAN PENGHAPUS DOSA

DAN SEEKOR DOMBA JANTAN UNTUK KURBAN BAKARAN

“Dari umat Israel ia harus mengambil dua ekor kambing jantan untuk kurban penghapus dosa dan seekor domba jantan untuk kurban bakaran” (ayat 5). Ini melambangkan bahwa setiap orang yang damba masuk ke hadirat Allah dan melayani Dia, harus mengalami Kristus sebagai kurban penghapus dosa dan kurban bakaran untuk mereka yang dia layani. Kurban penghapus dosa bersifat negatif, dan kurban bakaran bersifat positif. Untuk kurban persembahan yang negatif dipakailah kambing (lihat Mat. 25:32-33, 41), dan untuk yang positif dipakailah domba. Sebagai kaum beriman yang melayani, kita perlu mengalami Kristus sebagai kurban penghapus dosa dan sebagai kurban bakaran bukan hanya untuk kita sendiri, tetapi juga untuk mereka yang kita layani. Mula-mula kita mengalami Kristus sebagai kurban penghapus dosa dan kurban bakaran, kemudian kita melayankan apa yang kita alami kepada orang lain, supaya mereka dapat memiliki pengalaman yang sama.

VI. HARUN MEMPERSEMBAHKAN LEMBU JANTAN SEBAGAI

KURBAN PENGHAPUS DOSA BAGI DIRINYA DAN BAGI KELUARGANYA

Dalam ayat 6 dan 11 dikatakan bahwa Harun harus mempersembahkan lembu jantan kurban penghapus dosa bagi dirinya sendiri, untuk mengadakan pendamaian bagi dirinya dan keluarganya. Ini menunjukkan bahwa Harun, sebagai lambang Kristus, tidak perlu pendamaian, tetapi sebagai lambang kita, dia perlu pendamaian untuk menggenapkan jabatan imam.

VII. HARUN MENGAMBIL DUA EKOR KAMBING JANTAN DARI JEMAAT,

MENEMPATKANNYA DI HADAPAN ALLAH,

MEMBUANG UNDI ATAS MEREKA, SATU BAGI TUHAN DAN YANG SATUNYA BAGI AZAZEL;

MEMPERSEMBAHKAN KAMBING JANTAN BAGI TUHAN SEBAGAI KURBAN PENGHAPUS DOSA,

TETAPI MENYAJIKAN KAMBING JANTAN BAGI AZAZEL HIDUP-HIDUP DI HADAPAN

TUHAN DAN DILEPASKANNYA BAGI AZAZEL KE PADANG GURUN

“Ia harus mengambil kedua ekor kambing jantan itu dan menempatkannya di hadapan TUHAN di depan pintu Kemah Pertemuan, dan harus membuang undi atas kedua kambing jantan itu, sebuah undi bagi TUHAN dan sebuah bagi Azazel. Lalu Harun harus mempersembahkan kambing jantan yang kena undi bagi TUHAN itu dan mengolahnya sebagai kurban penghapus dosa. Tetapi kambing jantan yang kena undi bagi Azazel haruslah ditempatkan hidup-hidup di hadapan TUHAN untuk mengadakan pendamaian, lalu dilepaskan bagi Azazel ke padang gurun” (ayat 7-10). Ayat 20b-22 selanjutnya mengatakan, “ia harus mempersembahkan kambing jantan yang masih hidup itu, dan Harun harus meletakkan kedua tangannya ke atas kepala kambing jantan yang hidup itu dan mengakui di atas kepala kambing itu segala kesalahan orang Israel dan segala pelanggaran mereka, apa pun juga dosa mereka; ia harus menanggungkan semuanya itu ke atas kepala kambing jantan itu dan kemudian melepaskannya ke padang gurun dengan perantaraan seseorang yang sudah siap sedia untuk itu. Demikianlah kambing jantan itu harus mengangkut segala kesalahan Israel ke tanah yang tandus, dan kambing itu harus dilepaskan di padang gurun.” Semua ini melambangkan bahwa Kristus sebagai kurban penghapus dosa bagi umat Allah, di satu pihak, menanggulangi dosa kita di hadapan Allah dan di pihak lain, melalui khasiat salib mengirim dosa, kembali kepada Satan (Iblis), yang darinya dosa masuk ke dalam manusia.

Jika kita mempelajari pasal ini dengan tuntas, kita akan melihat bahwa Azazel melambangkan Iblis, yang berdosa, yang adalah sumber asal usul dosa. Kambing jantan yang bagi TUHAN disembelih, tetapi kambing jantan yang bagi Satan si Iblis, dilepaskan. Ini adalah kabar baik, Injil yang lengkap dan sempurna, sebab ini melambangkan bahwa dosa telah dikembalikan kepada Iblis, sumbernya. Dosa datang dari Iblis dan masuk ke dalam manusia, dan manusia yang jatuh tidak berdaya membuangnya. Namun, Kristus mati di atas salib untuk dosa-dosa kita dan sebagai kurban penghapus dosa kita. Menurut Ibrani 2:14, melalui kematian-Nya di atas salib, Kristus memusnahkan “dia, yaitu Iblis yang berkuasa atas maut.” Melalui kematian-Nya, Kristus telah menghancurkan Iblis, sumber dosa. Karena itu, salib memberi Kristus kedudukan, tenaga, kekuatan, dan otoritas untuk menghapus dosa dan mengembalikannya kepada Iblis. Dosa datang dari Iblis, dan dosa ini harus dikembalikan kepadanya. Iblis akan membawa dosa bersama dia ke lautan api. Semua orang yang tidak beroleh selamat akan membantu Iblis memikul dosa di lautan api selama-lamanya.

Syukur kepada Tuhan, kita telah beroleh selamat dan dosa kita telah dihapuskan. Kita semua harus bersukacita karena firman yang dikatakan Yohanes Pembaptis: “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” (Yoh. 1:29). Sebelum Kristus datang, dosa ditutupi, tetapi belum dihapuskan. Dosa tetap ada, tetapi di mata Allah dosa ditutupi, dan masalah antara manusia dengan Allah dibereskan. Akibatnya, kaum beriman Perjanjian Lama dapat berdamai dengan Allah. Namun, karena Kristus telah datang untuk mati di atas salib bagi sifat dosa kita, perbuatan dosa kita, juga bagi dosa-dosa kaum beriman Perjanjian Lama, maka dosa itu dihapuskan dan dikembalikan kepada Iblis. Demikianlah khasiat salib Kristus. Melalui salib-Nya, Tuhan Yesus memiliki kedudukan dan bersyarat, juga memiliki kekuatan, tenaga dan otoritas untuk menghapus dosa dari orang yang ditebus dan mengembalikannya kepada sumbernya, Iblis.

VIII. HARUN MENGAMBIL PERBARAAN BERISI PENUH BARA API DARI ATAS MEZBAH,

SERTA SERANGKUP PENUH UKUPAN DARI WANGI-WANGIAN YANG DIGILING SAMPAI HALUS,

MEMBAWANYA KE BELAKANG TABIR, MELETAKKAN UKUPAN ITU DI ATAS API,

AGAR ASAP UKUPAN ITU MENUTUPI TUTUP PENDAMAIAN DI ATAS TABUT,

SUPAYA IA JANGAN MATI

“Dan ia harus mengambil perbaraan berisi penuh bara api dari atas mezbah yang di hadapan TUHAN, serta serangkup penuh ukupan dari wangi-wangian yang digiling sampai halus, lalu membawanya masuk ke belakang tabir. Kemudian ia harus meletakkan ukupan itu di atas api yang di hadapan TUHAN, sehingga asap ukupan itu menutupi tutup pendamaian yang di atas hukum Allah, supaya ia jangan mati” (ayat 12-13). Ini melambangkan bahwa dalam kebangkitan-Nya Tuhan Yesus menjadi bau harum untuk menjadi sarana dan perlindungan bagi kita untuk mendekati Allah dengan segala keberanian dan diperkenan Allah tanpa mengalami kematian. Ini adalah satu akibat yang dihasilkan melalui kematian yang menebus dan mencurahkan darah (dilambangkan oleh bara api dari mezbah dan ukupan dari wangi-wangian yang digiling sampai halus) Tuhan Yesus di atas salib.

Di satu pihak, dalam penebusan Allah, Kristus adalah kurban persembahan supaya kita dapat ditebus dari dosa dan supaya dosa kita dapat dihapuskan dari kita. Dia adalah kurban penghapus dosa dan kurban bakaran. Di pihak lain, Kristus adalah ukupan yang harum agar kita diperkenan. Bau harum, wangi-wangian dari ukupan datang dari pembakaran. Tanpa pembakaran, ukupan tidak akan menghasilkan bau harum. Api yang dengannya ukupan dibakar berasal dari mezbah di depan Kemah Suci. Bagi penebusan kita, Kristus adalah kurban persembahan di atas mezbah di pelataran luar; bagi perkenanan kita, Kristus menjadi ukupan yang dibakar di atas mezbah ukupan, mezbah emas, di tempat kudus dengan api dari mezbah di pelataran luar. Ini berarti diri-Nya yang dibakar sebagai ukupan agar kita diperkenan di hadapan Allah tergantung pada kematian-Nya di atas salib untuk dosa kita.

Sebagai orang dosa, kita berdosa di mata Allah. Selain itu, kita sama sekali tidak dapat diperkenan oleh-Nya. Tidak ada wangi-wangian yang keluar dari kita, hanya ada lelehan najis. Karena itu, di sisi negatif, Kristus mula-mula menjadi kurban persembahan untuk menghapus dosa kita. Kemudian di sisi positif, berdasarkan kematian-Nya di atas salib, Dia menjadi ukupan agar kita diperkenan. Dalam Imamat 16, kita memiliki dua gambaran khusus tentang Kristus. Yang pertama memperlihatkan kepada kita Kristus sebagai kurban persembahan kita untuk menghapus dosa kita dan mengembalikannya kepada Iblis. Hal ini membereskan masalah dosa kita. Namun, kita masih tidak wangi untuk Allah. Maka dalam gambaran kedua, kita melihat bahwa Kristus, berdasarkan kematian-Nya, dibakar menjadi wangi-wangian untuk Allah, agar kita diperkenan.

Sekarang kita paham mengapa kita harus datang kepada Allah di dalam Kristus. “Di dalam Kristus” bukan saja berarti tanpa dosa juga berarti dengan wangi-wangian. Wangi-wangian ini memuaskan Allah. Ketika Dia menciumnya, Dia senang dan puas. Dalam kebangkitan-Nya, Kristus adalah wangi-wangian yang memuaskan Allah.

IX. HARUN MENGAMBIL SEDIKIT DARAH LEMBU JANTAN ITU,

MEMERCIKKANNYA DENGAN JARINYA KE ATAS TUTUP PENDAMAIAN DI BAGIAN MUKA,

DAN MEMERCIKKAN SEDIKIT DARAH ITU KE DEPAN TUTUP PENDAMAIAN TUJUH KALI

“Lalu ia harus mengambil sedikit dari darah lembu jantan itu dan memercikkannya dengan jarinya ke atas tutup pendamaian di bagian muka, dan ke depan tutup pendamaian itu ia harus memercikkan sedikit dari darah itu dengan jarinya tujuh kali” (ayat 14). Ini melambangkan bahwa darah penebusan Kristus dibawa ke hadirat Allah untuk memuaskan tuntutan kebenaran Allah untuk pendamaian kita.

Tuhan Yesus mencucurkan darah-Nya di atas salib. Kemudian darah ini dibawa ke dalam tempat maha kudus di surga dan dipercikkan di atas tutup pendamaian dan juga di hadapan Allah. Dengan demikian Kristus mengadakan penebusan yang lengkap bagi kita. Dalam perkataan Ibrani 9:12, Dia “mendapat kelepasan (penebusan) yang kekal.” “Kekal” di sini berarti lengkap sempurna bukan saja dalam kualitas, tetapi juga dalam waktu. Penebusan ini juga lengkap dalam khasiatnya. Penebusan adalah kekal dalam waktu, kualitas, dan khasiat.

X. HARUN MENYEMBELIH

KAMBING JANTAN KURBAN PENGHAPUS DOSA UNTUK BANGSA ITU,

MEMBAWA DARAHNYA MASUK KE BELAKANG TABIR,

MEMERCIKKAN DARAHNYA DI ATAS DAN DI DEPAN TUTUP PENDAMAIAN

“Lalu ia harus menyembelih domba jantan yang akan menjadi kurban penghapus dosa bagi bangsa itu dan membawa darahnya masuk ke belakang tabir, kemudian haruslah diperbuatnya dengan darah itu seperti yang diperbuatnya dengan darah lembu jantan, yakni ia harus memercik kannya ke atas tutup pendamaian dan ke depan tutup pendamaian itu” (ayat 15). Ini melambangkan bahwa Tuhan Yesus disalibkan di atas salib, dan darah-Nya dibawa ke surga dan dipercikkan di hadapan Allah untuk pendamaian kita. Sekarang kita memiliki penebusan kekal, yang membawa kita secara langsung ke hadirat Allah, supaya kita dapat melayani Dia sebagai Allah yang hidup (Ibr. 9:14).

XI. KARENA KENAJISAN ORANG ISRAEL DAN KARENA PELANGGARAN MEREKA,

BAHKAN SEGALA DOSA MEREKA, TEMPAT MAHA KUDUS

DAN KEMAH PERTEMUAN JUGA PERLU PENDAMAIAN

“Dengan demikian ia mengadakan pendamaian bagi tempat kudus itu karena segala kenajisan orang Israel dan karena segala pelanggaran mereka, apa pun juga dosa mereka. Demikianlah harus diperbuatnya dengan Kemah Pertemuan yang tetap diam di antara mereka di tengah-tengah segala kenajisan mereka” (ayat 16). Ini melambangkan bahwa meskipun kita telah ditebus dan dibasuh oleh darah Kristus, kita masih dalam ciptaan lama dan masih hidup dalam kenajisan. Maka, dalam penyembahan kita terhadap Allah masih ada perasaan akan dosa, yang juga perlu didamaikan oleh darah Kristus.

Karena kita masih ada dalam ciptaan lama dan masih hidup dalam kenajisan, kita masih memiliki perasaan akan dosa. Inilah sebabnya kita perlu berkali-kali berkata kepada Tuhan, “Tuhan Yesus, aku menerima Engkau sebagai kurban penebus salahku dan sebagai kurban penghapus dosaku.” Kita akan terus memiliki perasaan akan dosa ini sampai kita terangkat dan ditransfigurasi dalam tubuh kita, sepenuhnya diserupakan dengan gambar Kristus dalam kemuliaan-Nya. Suatu hari, kita akan mencapai keadaan ini. Namun, sementara kita masih ada dalam ciptaan lama, kita masih memiliki perasaan akan dosa dan memerlukan Kristus sebagai kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah kita.