MEMBAYAR NAZAR (2)
Pembacaan Alkitab: Im. 27:16-34
Dalam berita ini kita akan melanjutkan memperhatikan membayar nazar dalam pasal 27.
D. Mempersembahkan Ladang
Imamat 27:16-25 membicarakan mempersembahkan ladang.
1. Bagian Ladang yang Dikuduskan kepada TUHAN
Dinilai Menurut Benih yang Diperlukan
“Jikalau seseorang menguduskan sebagian dari ladang miliknya bagi TUHAN, maka nilainya haruslah sesuai dengan taburannya, yakni sehomer taburan benih jelai berharga lima puluh syikal perak” (ayat 16). Ini melambangkan bahwa persembahan kita yang berhubungan dengan kenikmatan akan Kristus sebagai tanah yang kaya harus dinilai menurut benih hayat ilahi yang diperlukan untuk perluasan rohani kita.
Ladang yang dikuduskan, yang dipersembahkan kepada TUHAN dinilai menurut benih yang diperlukan. Andaikata sebidang tanah dipersembahkan tiga puluh lima tahun sebelum tahun Yobel. Untuk tiga puluh lima tahun ini sejumlah benih tertentu diperlukan. Nilai sebidang tanah ini tentu lebih tinggi dibandingkan dengan sebidang tanah yang dijual hanya dua puluh tahun sebelum tahun Yobel.
Dalam menafsirkan ayat 16, kita membicarakan persembahan yang berhubungan dengan kenikmatan atas Kristus. Tanah melambangkan Kristus. Namun, kita seharusnya tidak menafsirkan ayat 16 sebagai lambang mempersembahkan satu bagian dari Kristus. Penafsiran demikian tidak bermakna juga tidak logis. Walaupun kita tidak dapat mempersembahkan satu bagian dari Kristus atau mempersembahkan kenikmatan kita atas Kristus, tetapi kita dapat memiliki persembahan yang berhubungan dengan kenikmatan atas Kristus. Tiga persembahan sebelumnya, diri sendiri, hewan, dan rumah, semua untuk menikmati Kristus. Semakin kita memiliki tiga jenis persembahan ini, kita akan semakin ada kedudukan untuk menikmati Kristus. Karena itu, pasal ini menyimpulkan bahwa semua persembahan kita berkesimpulan dalam kenikmatan atas Kristus.
Persembahan kita yang berhubungan dengan kenikmatan atas Kristus harus dinilai menurut benih hayat ilahi yang diperlukan untuk perluasan rohani kita. Dalam lambang, semakin banyak benih yang diperlukan, semakin tinggi nilai tanah itu. Penilaian dilakukan menurut benih yang diperlukan untuk sejangka waktu sebelum tahun Yobel. Dalam penafsiran rohani kita atas hal ini, “menurut benih yang diperlukan” sebenarnya mengacu kepada pengharapan.
Andaikata saya mempersembahkan sesuatu untuk kenikmatan atas Kristus sebagai tanah permai. Bagaimana persembahan ini dinilai? Persembahan ini harus dinilai menurut pengharapannya. Semakin banyak benih diperlukan, semakin banyak pengharapan untuk meluas. Semakin sedikit benih diperlukan, semakin sedikit pengharapan untuk perluasan atau pertambahan jumlah dalam gereja. Jika persembahan kita yang berhubungan dengan kenikmatan atas Kristus memberikan pengharapan yang besar untuk perluasan gereja, persembahan ini akan semakin bernilai. Namun, jika persembahan kita, konsekrasi kita, hanya memberi pengharapan yang terbatas untuk perluasan, persembahan kita tidak akan begitu bernilai dibandingkan dengan persembahan orang yang memberi pengharapan yang lebih besar.
Mungkin Anda heran mengapa kita menafsirkan ayat 16 seperti ini. Alasan untuk penafsiran ini adalah fakta bahwa benih adalah untuk perluasan. Di satu pihak, benih menunjukkan nilai tanah. Di pihak lain, secara rohani, benih menunjukkan perluasan hayat; ini menunjukkan pelipatgandaan. Kita mungkin mempersembahkan diri sendiri kepada Tuhan, tetapi persembahan kita tidak memberikan banyak pengharapan perluasan gereja. Jika persembahan kita memberikan pengharapan yang lebih besar bagi perluasan gereja, sesungguhnya persembahan ini akan lebih bernilai dibandingkan orang yang tidak memiliki pengharapan demikian. Mari kita mengambil Paulus sebagai contoh. Ketika Paulus mempersembahkan dirinya untuk kenikmatan atas Kristus, persembahan ini mengandung pengharapan yang besar bagi perluasan gereja.
2. Dinilai Juga Menurut Jumlah Tahun mulai dari Tahun Yobel
“Jikalau ia menguduskan ladangnya mulai dari tahun Yobel, maka nilainya haruslah dipegang teguh. Tetapi jikalau ia menguduskan ladangnya sesudah tahun Yobel, maka imam harus menghitung harganya bagi orang itu sesuai dengan tahun-tahun yang masih tinggal sampai kepada tahun Yobel, dan harga itu harus dikurangkan dari nilainya” (ayat 17-18). Semakin lama waktu sebelum tahun Yobel, semakin besar nilai dari tanah yang dipersembahkan. Ini melambangkan bahwa persembahan kita yang berhubungan dengan kenikmatan atas Kristus harus juga dinilai menurut ukuran anugerah Allah dari tahun Yobel.
Dalam ayat ini ada dua cara penilaian: menurut benih yang diperlukan dan menurut jumlah tahun mulai dari tahun Yobel. Sebenarnya, dua cara ini adalah satu. Semakin besar jumlah tahun sebelum tahun Yobel, semakin banyak benih yang diperlukan. Semakin kecil jumlah tahun, semakin sedikit benih yang diperlukan.
Persembahan Paulus memberikan pengharapan yang lebih besar terhadap perluasan gereja. Persembahan Paulus juga memberinya kesempatan besar untuk menikmati anugerah Allah. Semakin besar perluasan yang kita bawa masuk, semakin besar anugerah yang dapat kita peroleh. Semakin luas persembahan kita, semakin besar anugerah yang kita nikmati. Ini berhubungan dengan jumlah tahun. Jika kita mempersembahkan diri kita kepada Tuhan lebih dini, kita akan memiliki lebih banyak waktu untuk membawa orang dosa kepada Tuhan dan berbagian dalam perluasan gereja. Perluasan ini kemudian akan menunjukkan bahwa kita menikmati anugerah Tuhan. Jumlah anugerah diukur oleh jumlah perluasan. Semakin besar perluasan, semakin besar anugerah, dan semakin kecil perluasan, semakin kecil anugerah. Penampakan ini menggugah kita untuk menyerahkan diri kita lebih dini, makin dini, makin baik. Sebagai contoh, jika Anda menanti sampai sekarang untuk memberitakan Injil dengan mengunjungi orang di rumah-rumah mereka, Anda akan mendapat lebih sedikit pengharapan akan perluasan daripada jika Anda memulainya tahun yang lalu; namun lebih baik daripada Anda menanti sampai tahun depan. Ini menunjukkan bahwa lebih dini Anda menyerahkan diri Anda untuk memberitakan Injil, lebih baik. Memberitakan Injil akan membantu Anda menikmati Kristus. Anda dapat menikmati Tuhan di pagi hari melalui doa-baca beberapa ayat, tetapi Anda akan memiliki lebih banyak kenikmatan atas Kristus jika Anda memberitakan Injil melalui mengunjungi orang. Mengunjungi orang dengan Injil memerlukan sejumlah persembahan. Kita mempersembahkan diri kita, waktu kita, dan kekuatan kita untuk memberitakan Injil, kita akan semakin terbantu untuk menikmati Tuhan. Jenis persembahan untuk memberitakan Injil ini bukan hanya membuat orang beroleh selamat, tetapi juga membuat kita menikmati Kristus. Prinsipnya sama dengan berbagian dalam sidang-sidang kelompok untuk merawat orang-orang baru.
Butir yang saya ingin tekankan di sini adalah: Semakin kita mempersembahkan diri kita kepada Tuhan dalam segala sesuatu, semakin erat kita terhubung dengan kenikmatan atas Kristus. Jumlah, tingkatan, kadar, dari kenikmatan atas Kristus digambarkan oleh benih yang diperlukan dan oleh jumlah tahun sampai tahun Yobel. Benih yang diperlukan menunjukkan pengharapan perluasan Tubuh Kristus. Semakin banyak benih diperlukan, semakin banyak pula orang yang dibawa masuk untuk Tubuh Kristus. Semakin besar jumlah tahun sampai tahun Yobel, semakin besar pula anugerah untuk kenikmatan kita.
3. Orang yang Menguduskannya yang Menebus Ladang Itu,
Harus Menambahkan Seperlima Harganya
“Dan jikalau orang yang menguduskannya benar-benar mau menebus ladang itu, maka ia harus menambah harganya dengan seperlima dari uang nilainya dan ladang itu tetap dimilikinya” (ayat 19). Ini melambangkan bahwa kita harus membayar harga untuk persembahan kita yang berhubungan dengan kenikmatan atas Kristus sebagai tanah yang kaya.
Jika kita telah mempersembahkan sesuatu dan ingin menarik kembali, kita harus membayar harga. Jika kita tidak mempersembahkan, tidak perlu ada penebusan atau membayar apa-apa. Dalam kasus demikian, tidak ada penambahan untuk kenikmatan kita atas Kristus. Namun, jika kita telah mempersembahkan dan ingin menarik kembali apa yang telah dipersembahkan, kita harus membayar harga dan kemudian menambahkan seperlima. Perkara penting di sini bukan menambahkan sejumlah harga, melainkan dengan ketat mengikatkan diri kita dalam kenikmatan atas Kristus.
Entah kita benar atau salah, adalah baik untuk mempersembahkan diri kita kepada Tuhan. Selama kita mempersembahkan diri, kita berbagian dengan dan terhubung dengan kenikmatan atas Kristus. Di masa lalu saya mengenal sejumlah orang beriman yang mempersembahkan diri mereka kepada Tuhan secara salah, tetapi mereka semua berbagian dengan kenikmatan atas Kristus.
4. Jika Orang yang Menguduskan Tidak Mau Menebus Ladang Itu,
atau malah Menjualnya kepada Orang Lain, Ia Tidak Dapat Menebusnya Lagi
“Tetapi jikalau ia tidak menebus ladang itu, malahan ladang itu telah dijualnya kepada orang lain, maka tidak dapat ditebus lagi” (ayat 20). Ini melambangkan bahwa jika dalam persembahan kita yang berhubungan dengan kenikmatan atas Kristus sebagai tanah yang kaya kita tidak mau membayar harga, kita akan kehilangan kenikmatan ini untuk waktu tertentu.
5. Pada Tahun Yobel, Tanah yang Diserahkan
tapi Dibeli oleh Orang Lain Haruslah Kudus bagi TUHAN
dan Akan Dimiliki Imam; tetapi jika Telah Dibelinya
sebagai Miliknya, Akan Dikembalikan kepada Orang
yang Mempersembahkan dan Penjual Mula-mula,
dan Pembeli Memberikan Harganya
sebagai Persembahan Kudus bagi TUHAN
“Tetapi pada waktu bebas dalam tahun Yobel, ladang itu haruslah kudus bagi TUHAN, sama seperti ladang yang dikhususkan bagi TUHAN. Imamlah yang harus memilikinya. Dan jikalau ia menguduskan bagi TUHAN ladang yang telah dibelinya dan yang tidak termasuk ladang miliknya dahulu, maka imam harus menghitung baginya harga nilainya sampai kepada tahun Yobel dan orang itu haruslah mempersembahkan nilai itu pada hari itu juga sebagai persembahan kudus bagi TUHAN. Dalam tahun Yobel ladang itu harus dipulangkan kepada orang yang menjualnya kepadanya, yakni kepada orang yang mula-mula memiliki tanah itu” (ayat 21-24). Ini melambangkan bahwa dalam persembahan kita yang berhubungan dengan kenikmatan atas Kristus sebagai tanah yang kaya, kita tidak dapat mengambil untung dari orang lain dan kita harus jujur dengan Allah.
Andaikata seseorang mempersembahkan tanahnya kepada Allah. Kemudian mungkin karena dia jatuh miskin, dia menjual tanah itu kepada orang lain, yang membelinya dengan membayar sejumlah harga dan menambahkan seperlima dari jumlah itu. Maka sebidang tanah itu menjadi milik orang lain ini. Namun, menurut peraturan tahun Yobel, tanah itu harus dikembalikan kepada pemilik mula-mula, yang mempersembahkan dan juga yang menjual tanah itu. Walaupun pemilik telah menjual tanah itu, tanah itu tidak akan tetap terjual selamanya. Pada tahun Yobel, orang yang membeli tanah itu tidak masuk hitungan, sebab dia memiliki tanah itu hanya sampai tahun Yobel. Pada waktu itu tanah dikembalikan kepada pemilik semula. Seperti telah kita tekankan, ini melambangkan bahwa dalam persembahan kita yang berhubungan dengan kenikmatan atas Kristus, kita tidak dapat mengambil keuntungan dari orang lain dan kita harus jujur dengan Allah.
II. PERATURAN UNTUK PERSEMBAHAN
Imamat 27:26-33 membicarakan peraturan untuk persembahan.
A. Anak Sulung Hewan, yang Menjadi Hak TUHAN, Tidak Boleh Dikuduskan oleh Siapa pun
“Akan tetapi anak sulung, yang sebagai anak sulung menjadi hak TUHAN dari antara hewan, tidak boleh dikuduskan oleh siapa pun, baik seekor lembu maupun seekor kambing atau domba, itu milik TUHAN” (ayat 26). Ini melambangkan bahwa kita tidak boleh mempersembahkan segala sesuatu yang dimiliki Allah. Anak sulung selalu dimiliki Allah; karena itu, kita tidak berhak untuk mempersembahkan mereka.
B. Mempersembahkan Hewan yang Haram Haruslah Ditebus
dengan Menambah Seperlima Nilainya, atau Dijual Menurut Penilaian Imam
“Tetapi jikalau itu dari antara hewan yang haram, maka haruslah orang menebusnya menurut nilainya dengan menambah seperlima dan jikalau tidak ditebus, haruslah dijual menurut nilainya” (ayat 27). Ini melambangkan bahwa walaupun apa yang kita persembahan kepada Allah adalah haram, melalui penilaian Pengantara kita, Tuhan Yesus, motivasi penyerahan kita masih bernilai sampai tingkat tertentu di hadapan Allah. Hal tertentu yang hendak kita persembahan kepada Allah mungkin tidak diperkenan oleh Dia, tetapi, melalui Tuhan Yesus, motivasi persembahan kita masih manis bagi Allah.
C. Hal yang Dipersembahkan kepada TUHAN
Tidak Boleh Ditebus atau Dijual,
tetapi Milik Maha Kudus bagi TUHAN
“Akan tetapi segala yang sudah dikhususkan oleh seseorang bagi TUHAN dari segala miliknya, baik manusia atau hewan, maupun ladang miliknya, tidak boleh dijual dan tidak boleh ditebus, karena segala yang dikhususkan adalah maha kudus bagi TUHAN” (ayat 28). Ini melambangkan bahwa penyerahan kita harus kuat sehingga tidak dapat diubah.
D. Orang yang Dikhususkan Dihukum Mati
dan yang Telah Diserahkan kepada Allah Tidak Dapat Ditebus
“Setiap orang yang dikhususkan, yang harus ditumpas di antara manusia, tidak boleh ditebus, pastilah ia dihukum mati” (ayat 29). Ini melambangkan bahwa apa pun yang kita serahkan untuk Allah yang seharusnya dihancurkan, tidak boleh dilepaskan kembali untuk kita.
E. Persepuluhan dari Segala Sesuatu Adalah Kudus
bagi Allah; Tidak Boleh Dipersembahkan,
tetapi Dapat Ditebus dengan Menambahkan
Seperlima Harganya, dan Tidak Boleh Ditukar;
Kalau Ditukar, Persepuluhan Ini dan Penukarnya,
Keduanya akan Menjadi Kudus bagi Allah
“Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah milik TUHAN; itulah persembahan kudus bagi TUHAN. Tetapi jikalau seseorang mau menebus juga sebagian dari persembahan persepuluhannya itu, maka ia harus menambah seperlima. Mengenai segala persembahan persepuluhan dari lembu sapi atau kambing domba, maka dari segala yang lewat dari bawah tongkat gembala waktu dihitung, setiap yang kesepuluh harus menjadi persembahan kudus bagi TUHAN. Janganlah dipilih-pilih mana yang baik dan mana yang buruk, dan janganlah ditukar; jikalau orang menukarnya juga, maka baik hewan itu maupun tukarnya haruslah kudus dan tidak boleh ditebus” (ayat 30-33). Ini melambangkan bahwa kita tidak memiliki hak atas segala sesuatu yang dimiliki Allah, dan kita tidak dapat mengatur atau mengubah kepemilikannya dengan cara apa pun.
Setelah memperhatikan butir-butir ini, kita dapat melihat betapa Allah sangat mendambakan persembahan kita. Apa pun yang kita persembahkan, Allah menghargainya. Ini seharusnya mendorong kita untuk mempersembahkan diri kita kepada Tuhan, diri kita, milik kita, dan segala sesuatu yang dapat kita lakukan.
Imamat 27 mengesankan kita dengan fakta bahwa Allah ingin kita semua mempersembahkan diri kita kepada Dia dalam apa adanya kita, dalam apa yang kita miliki, dan dalam apa yang dapat kita lakukan. Ini adalah kedambaan Allah, keinginan-Nya. Dia haus akan hal ini. Dia ingin melihat kita mempersembahkan diri kita kepada Dia, walaupun mungkin dalam cara yang salah. Dia suka melihat kita mempersembahkan kepada Dia waktu, kemampuan, milik, kekuatan kita, apa pun yang kita miliki, dan apa pun yang dapat kita lakukan. Asalkan kita mempersembahkan diri kita kepada Dia dalam begitu banyak aspek, Dia senang. Dia memperkenan persembahan demikian. Inilah penekanan Imamat 27.
Kitab Imamat, kitab yang membicarakan apa yang telah Allah kerjakan untuk kenikmatan kita, diakhiri dengan keinginan Allah supaya kita bernazar untuk mempersembahkan diri kita sendiri kepada-Nya. Allah telah melakukan segala sesuatu untuk kita, dan sekarang Dia meminta kita untuk menikmati Dia. Dia ingin memiliki lebih banyak penikmat. Dia telah menyiapkan segala sesuatu untuk kita. Perjamuan telah siap, dan kita harus datang dan makan.
Di sini pada akhir Kitab Imamat Allah menyatakan keinginan dan pengharapan-Nya supaya kita bernazar kepada Dia untuk mempersembahkan kepada Dia apa adanya kita, apa yang kita miliki, dan apa yang dapat kita kerjakan. Tujuan persembahan ini adalah supaya kita menikmati Tuhan dalam segala perkara yang telah Dia siapkan untuk kita. Segala sesuatu telah dipersiapkan, tetapi banyak kursi pada pesta-Nya masih kosong. Karena itu, Allah memanggil, mendorong, dan bahkan mendesak kita untuk mempersembahkan diri kita kepada-Nya, untuk menikmati Dia dalam segala hal yang telah Dia persiapkan dan sediakan untuk kita.
NUBUAT-NUBUAT YANG TERSIRAT DALAM KITAB IMAMAT
Dalam Kitab Imamat tersirat nubuat-nubuat. Nubuat yang tersirat itu berupa lambang dan juga dalam peringatan.
A. Dalam Lambang-lambang
Nubuat-nubuat itu tersirat dalam lambang hari-hari raya, dalam lambang panen dan tuaian, dan dalam lambang tahun Yobel. Hari raya Paskah mengacu kepada kematian Kristus (23:5). Hari raya Hasil Pertama mengacu kepada kebangkitan Kristus (23:10-11). Hari raya Pentakosta mengacu kepada timbulnya gereja (23:15-17). Panen yang ditinggal di sudut ladang dan tuaian untuk orang asing dan untuk orang miskin mengacu kepada keselamatan Allah yang ditinggalkan untuk bangsa kafir (23:22). Hari raya Meniup Serunai mengacu kepada Allah memanggil kembali umat-Nya yang berserakan, Israel (23:24). Hari raya Pendamaian mengacu kepada pertobatan dan keselamatan bangsa itu, Israel, yang dipanggil kembali oleh Allah (23:27). Hari raya Pondok Daun mengacu kepada Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang (23:34, 39-42). Tahun Yobel untuk bangsa itu bebas kembali kepada harta miliknya mengacu bahwa pada kedatangan Kristus kali kedua bani Israel akan dibebaskan untuk kembali kepada harta miliknya yang telah hilang (25:8-41).
B. Dalam Peringatan
Bahkan dalam peringatan (Im. 26:1-46) tersirat beberapa nubuat. Peringatan menunjukkan bahwa dalam menaati Allah, Israel akan diberkati, tetapi dalam ketidaktaatan kepada Allah, Israel akan dihukum. Selain itu, dalam peringatan kita melihat bahwa Allah tidak akan membenci dan menolak Israel, juga tidak akan memusnahkan mereka sama sekali. Akhirnya, ketika Israel bertobat kepada Allah, Dia akan mengingat mereka dan melawat mereka.