MEMBAYAR NAZAR (1)
Pembacaan Alkitab: Im. 27:1-15
Dalam berita ini kita sampai pada Imamat pasal terakhir, satu pasal mengenai membayar nazar.
Kitab Imamat ditutup dengan nazar yang perlu kita miliki terhadap Allah. Setelah dua puluh enam pasal yang lalu, yang membahas banyak hal, dalam pasal 27 kitab ini berbicara tentang kita bernazar kepada Allah. Nazar ini memiliki empat jenis persembahan: mempersembahkan orang, mempersembahkan hewan, mempersembahkan rumah, dan mempersembahkan satu bagian dari ladang. Keempat jenis persembahan ini sebenarnya mengekspresikan apa yang Allah inginkan dari kita, orang yang menikmati semua berkat dan semua rawatan dalam pasal-pasal yang lalu. Dalam bagian pertama kitab ini, kita telah melihat kurban-kurban persembahan dengan jabatan imam. Kurban-kurban persembahan mengacu kepada Kristus, dan jabatan imam menunjukkan pelayanan imamat yang menangani kurban-kurban persembahan. Dalam bagian kedua kita telah melihat keadaan kita, yang adalah perkara kenajisan dan lelehan najis. Setelah melihat keadaan kita, kita dibawa ke dalam kenikmatan atas hari-hari raya, dan hal ini memimpin kita ke dalam tahun Yobel. Kemudian kita menerima peringatan. Sekarang, pada akhir Kitab Imamat, kita perlu nazar.
Sebenarnya, kehidupan orang Kristen harus menjadi kehidupan nazar. Saya percaya bahwa di dalam hati setiap orang yang beroleh selamat sampai tingkat tertentu, ada nazar kepada Allah. Nazar ini mungkin jelas atau tidak jelas; mungkin kuat atau lemah. Walaupun demikian, ada banyak jenis nazar di dalam setiap orang yang beroleh selamat. Sekurangnya ada kedambaan yang menghasilkan nazar. Kedambaan terhadap Allah adalah sumber, dan kedambaan ini menghasilkan nazar kepada Allah. Kedambaan kita terhadap Allah akhirnya menjadi nazar yang dibuat kepada Allah.
Di pihak kita, kehidupan orang Kristen adalah kehidupan membuat nazar kepada Allah. Ini seharusnya terjadi bukan saja sekali, tetapi berkali-kali. Setiap kali kita mengalami kebangunan, kita membuat nazar kepada Allah. Sekarang setiap pagi ketika kita dibangkitkan, kita membuat sejenis nazar kepada Allah. Karena itu, kehidupan kristiani kita adalah kehidupan nazar.
Kitab Imamat ditutup dengan membayar nazar. Totalitas semua hal dalam kitab ini adalah nazar. Bila kita menggabungkan kurban-kurban persembahan, jabatan imam, keadaan kita, kenikmatan kita atas Kristus, dan tahun Yobel, jumlah, totalnya, adalah nazar. Nazar ini kemudian menjadi kehidupan kita, penempuhan seumur hidup kita. Karena itu, kehidupan imamat adalah kehidupan nazar.
Kitab Imamat dimulai dengan mempersembahkan Kristus dalam banyak aspek kepada Allah untuk kepuasan Allah dan manusia, dan diakhiri dengan kita mempersembahkan diri kita dan milik kita kepada Allah untuk nazar kita kepada Dia. Namun, apakah arti kata mempersembahkan? Apakah artinya mengatakan bahwa kita mempersembahkan diri kita kepada Allah? Ada orang berpikir bahwa mempersembahkan di sini sama seperti menyerahkan diri atau mengabdikan diri. Menurut pemahaman saya, mempersembahkan di sini lebih kuat daripada menyerahkan, juga lebih kuat daripada memberi, menyajikan, mengeluarkan, dan melepaskan. Mempersembahkan sering disertai dengan nazar. Sesuatu mungkin diserahkan atau diberikan tanpa lewat nazar, tetapi jika Anda memutuskan untuk memberi sesuatu kepada orang, ini adalah jenis persembahan dengan nazar. Persembahan ini tidak dapat diubah. Karena itu, mempersembahkan di sini lebih kuat daripada menyerahkan.
I. EMPAT JENIS PEMBAYARAN NAZAR
Kitab Imamat, kitab jabatan imam, diakhiri dengan kita mempersembahkan diri kita dan milik kita, ternak, tanah, dan rumah kita. Dalam Imamat 27, kita memiliki empat jenis persembahan nazar, bukan empat jenis persembahan yang umum (ayat 2-25).
A. Mempersembahkan Orang kepada Allah
Dalam Imamat 27:2-8, kita membaca perihal mempersembahkan orang kepada Allah.
1. Menilai Orang
Ayat 2 mengatakan, “Mengucapkan nazar khusus kepada TUHAN mengenai orang menurut penilaian yang berlaku untuk itu.” Jadi persembahan di sini berhubungan dengan nilai seseorang. Ini menunjukkan bahwa ketika kita mempersembahkan diri kita kepada Allah, persembahan ini berhubungan dengan nilai kita.
a. Oleh Allah—di Mata Allah
Berapa besar nilai kita, bukan diukur menurut penilaian kita, melainkan menurut Allah.
b. Menurut Syikal Tempat Kudus
Nilai seseorang juga “ditimbang menurut syikal kudus” (ayat 3b). Ini berarti menurut timbangan kudus tempat tinggal Allah. Dengan kata lain, nilainya menurut timbangan rohani gereja, yang adalah tempat tinggal Allah hari ini.
2. Berbagai Jenis Penilaian
Dalam ayat 3-8 ada berbagai jenis penilaian.
a. Orang Laki-laki dari yang Berumur Dua Puluh Tahun
Sampai Enam Puluh Tahun, Lima Puluh Syikal Perak
“Maka tentang nilai bagi orang laki-laki dari yang berumur dua puluh tahun sampai yang berumur enam puluh tahun, nilai itu harus lima puluh syikal perak” (ayat 3a). Orang-orang dalam kategori ini, yang paling besar nilainya, melambangkan mereka yang secara rohani kuat, dewasa, berpengalaman, dan mampu berperang dalam gereja.
Angka lima puluh terdiri atas lima dikali sepuluh. Lima adalah angka tanggung jawab. Maka, lima puluh adalah sepuluh kali tanggung jawab. Mereka yang bernilai lima puluh syikal perak harus memikul tanggung jawab yang paling besar.
b. Seorang Perempuan dari yang Berusia Dua Puluh Tahun
Sampai Enam Puluh Tahun, Tiga Puluh Syikal
“Tetapi jikalau itu seorang perempuan, maka nilai itu harus tiga puluh syikal” (ayat 4). Di sini kita melihat bahwa nilai seorang perempuan dari yang berusia dua puluh tahun sampai yang berusia enam puluh tahun adalah tiga puluh syikal perak, nilai terbesar kedua setelah laki-laki di atas. Perempuan melambangkan mereka yang lemah dan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Ini adalah ketentuan Allah dan juga menurut penciptaan-Nya.
c. Seorang Laki-laki dari yang Berumur Lima Tahun
Sampai Dua Puluh Tahun, Dua Puluh Syikal
“Jikalau itu mengenai seorang dari yang berumur lima tahun sampai yang berumur dua puluh tahun, maka bagi laki-laki nilai itu harus dua puluh syikal” (ayat 5a). Mereka yang dalam kategori ini, nilai terbesar ketiga, melambangkan mereka yang secara rohani masih dalam gereja (lihat 1Yoh. 2:13-14).
d. Seorang Perempuan dari yang Berumur Lima Tahun
Sampai Dua Puluh Tahun, Sepuluh Syikal
Nilai seorang perempuan dari yang berusia lima tahun sampai yang berumur dua puluh adalah sepuluh syikal (ayat 5b), nilai kedua setelah laki-laki.
e. Seorang Laki-laki dari yang Berumur Satu Bulan Sampai Lima Tahun, Lima Syikal
“Jikalau itu mengenai seorang dari yang berumur satu bulan sampai yang berumur lima tahun, maka bagi laki-laki nilai itu harus lima syikal perak” (ayat 6a). Mereka yang dalam kategori ini adalah laki-laki yang paling kecil nilainya dan melambangkan mereka yang secara rohani masih kanak-kanak (lihat 1Yoh. 2:13).
f. Seorang Perempuan dari yang Berumur Satu Bulan Sampai Lima Tahun, Tiga Syikal
Nilai seorang perempuan dari yang berumur satu bulan sampai yang berumur lima tahun adalah tiga syikal (ayat 6b), nilai yang paling kecil.
g. Seorang Laki-laki dari yang Berumur Enam Puluh Tahun atau Lebih, Lima Belas Syikal
“Jikalau itu mengenai seorang yang berumur enam puluh tahun atau lebih, jikalau itu mengenai laki-laki, maka nilai itu harus lima belas syikal” (ayat 7a). Usia dari enam puluh tahun atau lebih menunjukkan kelemahan laki-laki. Ini melambangkan mereka yang lemah secara rohani.
h. Seorang Perempuan dari yang Berusia Enam Puluh Tahun atau Lebih, Sepuluh Syikal
Nilai seorang perempuan dari yang berusia enam puluh tahun atau lebih adalah sepuluh syikal (ayat 7b). Ini melambangkan kelemahan perempuan.
3. Orang yang Terlalu Miskin,
Dinilai oleh Imam Menurut Kemampuannya
“Tetapi jikalau orang itu terlalu miskin untuk membayar nilai itu, maka haruslah dihadapkannya orang yang dinazarkannya itu kepada imam, dan imam harus menilainya; sesuai dengan kemampuan orang yang bernazar itu imam harus menentukan nilainya” (ayat 8). Ini melambangkan bahwa kita tidak dinilai menurut usia rohani kita, tetapi menurut kemampuan rohani kita, bukan menurut apa yang seharusnya kita lakukan secara rohani, tetapi menurut apa yang dapat kita lakukan secara rohani.
Menilai seseorang ada tujuannya. Jika Anda ingin menebus diri Anda sendiri dari nazar Anda, Anda harus mengeluarkan harga menurut nilai Anda. Dalam hidup gereja kita mungkin mempersembahkan diri kita sendiri kepada Allah. Menurut ukuran rohani, nilai kita mungkin sekian, tetapi menurut keadaan dan kemampuan sebenarnya, kita mungkin tidak dapat membayar sebanyak itu.
Di sini kita melihat bahwa dalam penebusan Allah tidak ada perbedaan tingkatan, tetapi persembahan kita memiliki beberapa tingkatan. Apa adanya kita dan apa yang dapat kita lakukan secara rohani akan dinilai pada saat kita mempersembahkan.
B. Mempersembahkan Hewan kepada Allah
Dalam ayat 9-13 membicarakan tentang mempersembahkan hewan kepada Allah.
1. Menjadi Kudus
“Jikalau itu termasuk hewan yang boleh dipersembahkan sebagai persembahan kepada TUHAN, maka apa pun dari pada hewan itu yang dipersembahkan orang itu kepada TUHAN haruslah kudus” (ayat 9). Menjadi kudus adalah dikuduskan bagi Allah dan dimiliki Allah, menjadi milik-Nya.
2. Jangan Mengganti atau Menukar
“Janganlah ia menggantinya dan janganlah ia menukarnya, yang baik dengan yang buruk atau yang buruk dengan yang baik” (ayat 10a). Begitu dipersembahkan, itu adalah milik Allah selamanya, dan statusnya tidak dapat diubah dengan penggantian atau penukaran. Sulit untuk mengubah status Anda begitu Anda telah mempersembahkan diri Anda. Berubah pikiran tentang persembahan Anda hanya menyebabkan masalah.
3. Jika Penukaran Terjadi, Hewan yang Diserahkan dengan Hewan Tukarannya Harus Kudus
“Tetapi jikalau ia menukar juga seekor hewan dengan seekor hewan lain, maka baik hewan itu maupun tukarnya haruslah kudus” (ayat 10b). Kedua hewan itu akan menjadi milik Allah. Ini menunjukkan bahwa Allah sangat mengharapkan persembahan kita.
Begitu sesuatu dipersembahkan kepada Allah, diletakkan di atas mezbah, itu tidak dapat dikembalikan. Dari sini kita melihat bahwa kita perlu berhati-hati dalam hal mempersembahkan diri kita kepada Allah. Allah sungguh-sungguh; Dia tidak main-main. Kapan kala Anda mempersembahkan diri kepada Dia, Anda perlu memiliki satu pertimbangan yang tuntas. Jangan mempersembahkan secara ringan.
4. Jika Hewan Haram, yang Tidak Boleh Dipersembahkan kepada TUHAN,
Diserahkan, Hewan Itu Harus Dinilai oleh Imam
“Jikalau itu barang seekor dari antara hewan haram yang tidak boleh dipersembahkan sebagai persembahan kepada TUHAN, maka hewan itu harus dihadapkannya kepada imam, dan imam harus menetapkan nilainya menurut baik atau buruknya, dan seperti penilaian imam demikianlah jadinya” (ayat 11-12). Ini melambangkan bahwa sekalipun apa yang kita serahkan kepada Allah adalah najis, melalui penilaian Pengantara kita, Tuhan Yesus, motivasi persembahan kita masih berharga sampai tingkat tertentu di hadapan Allah.
5. Jika Orang Itu Mau Menebus Juga,
Ia Harus Menambahkan Seperlima kepada Nilai Itu
“Dan jikalau orang itu mau menebusnya juga, ia harus menambahkan seperlima kepada nilai itu” (ayat 13). Ini melambangkan bahwa kita harus berhati-hati, jangan berhutang sesuatu kepada Allah dalam persembahan kita.
Beberapa orang beriman berubah pikiran setelah mempersembahkan diri mereka kepada Allah, dan sebagai akibatnya mereka menjadi berhutang kepada Allah. Kita perlu berhati-hati tentang hal ini, jangan berhutang sesuatu kepada Allah dalam persembahan kita. Kita seharusnya tidak menjadi orang yang berhutang kepada Allah agar Allah tidak memiliki posisi untuk menuntut sesuatu dari kita.
C. Mempersembahkan Rumah
Ayat 14-15 membicarakan mempersembahkan rumah.
1. Rumah Dikuduskan bagi TUHAN Dinilai oleh Imam
“Apabila seorang menguduskan rumahnya sebagai persembahan kudus bagi TUHAN, maka imam harus menetapkan nilainya menurut baik atau buruknya, dan seperti nilai yang ditetapkan imam demikianlah harus dipegang teguh” (ayat 14). Ini melambangkan bahwa persembahan kita berhubungan dengan gereja seharusnya dinilai oleh Pengantara kita, Tuhan Yesus.
Ketika kita masuk ke dalam hidup gereja, kita memiliki keinginan untuk mempersembahkan diri kita dan hidup untuk gereja. Kita perlu berhati-hati ketika membuat persembahan demikian. Jika tidak, di mata Allah, kita mungkin menjadi orang yang berhutang kepada gereja.
2. Jika Orang Itu Mau Menebus Rumahnya,
Dia Harus Menambahkan Seperlima dari Uang Nilainya,
sehingga Rumah Itu Menjadi Miliknya
“Tetapi jikalau orang yang menguduskan itu mau menebus rumahnya, maka ia harus menambah harganya dengan seperlima dari uang nilainya dan rumah itu menjadi kepunyaannya pula” (ayat 15). Ini melambangkan bahwa kita seharusnya tidak mengambil keuntungan dari persembahan kita berhubungan dengan hidup gereja, supaya kita dapat menjaga kenikmatan atas hidup gereja. Jika tidak, kita akan menjadi orang yang tanpa gereja.
Kitab Imamat, bahkan dalam perihal persembahan kita, memberi kita arahan yang rinci. Dalam Perjanjian Baru, tidak ada banyak rincian mengenai persembahan kita, atau mengenai apa yang disebut dalam Kitab Imamat persembahan nazar. Kita harus memperhatikan persembahan kita dalam rincian ini sehubungan dengan diri kita, milik kita, dan rumah serta tanah kita. Demikian, kita akan memiliki damai sejahtera dan kita akan memiliki sukacita bagi Tuhan. Jika tidak, dalam persembahan kita, kita mungkin membuat diri kita berhutang kepada Allah atau kepada gereja.