TAHUN SABAT DAN YOBEL (3)
Pembacaan Alkitab: Im. 25:35-55
Dalam berita ini kita akan membahas beberapa perkara selanjutnya yang berhubungan dengan Yobel.
K. Cara Menyokong Saudara yang Jatuh Miskin
Imamat 25:35-38 membicarakan cara menyokong saudara yang jatuh miskin.
1. Seorang Saudara Israel Jatuh Miskin dan Tidak Sanggup Menyokong Dirinya
“Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga tidak sanggup bertahan di antaramu” (ayat 35a) melambangkan seorang saudara yang jatuh miskin tidak sanggup menunjang dirinya sendiri. Dari lambang ini kita melihat bagaimana memperhatikan seorang saudara yang demikian.
2. Menopang Saudara yang Miskin,
supaya Dia Hidup dengan Anda,
Jangan Mengingini Uang ataupun Makan Ribanya
“Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga tidak sanggup bertahan di antaramu, maka engkau harus menyokong dia sebagai orang asing dan pendatang, supaya ia dapat hidup di antaramu. Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba dari padanya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu dapat hidup di antaramu. Janganlah engkau memberi uangmu kepadanya dengan meminta bunga, juga makananmu janganlah kauberikan dengan meminta riba” (ayat 35-37). Ini melambangkan bahwa kita harus membantu saudara yang lemah dalam roh, tanpa mengambil keutungan apa pun dari dia.
Dalam hidup gereja adalah mungkin mengambil keuntungan dari seorang saudara ketika kita membantu dia. Kita mungkin mengambil keuntungan dari seorang saudara bukan saja dalam satu cara dan dalam satu aspek, tetapi dalam sejumlah cara dan dalam sejumlah aspek. Kita tidak boleh melakukan hal ini, karena kita tidak boleh mengambil keuntungan dari seorang saudara yang lemah. Sebaliknya, kita harus memperhatikan dia dalam kasih supaya dia dapat hidup di hadapan Tuhan seperti kita. Kita harus hidup oleh Kristus, dalam Kristus, dan dengan Kristus, dan saudara kita harus hidup secara demikian bersama kita.
L. Mengenai Seorang Saudara yang Telah Menjual Dirinya
Imamat 25:39-55 membicarakan seorang saudara yang menjual dirinya.
1. Seorang Saudara Israel yang Jatuh Miskin dan Menjual
Dirinya kepada Saudara Lain, Jangan Dijadikan Budak,
tetapi Hamba Upahan sampai Tahun Yobel
“Apabila saudaramu jatuh miskin di antaramu, sehingga menyerahkan dirinya kepadamu, maka janganlah memperbudak dia. Sebagai orang upahan dan sebagai pendatang ia harus tinggal di antaramu; sampai kepada tahun Yobel ia harus bekerja padamu” (ayat 39-40). Ini melambangkan bahwa jika seorang saudara menjadi miskin secara rohani dan berhutang kepada Anda, Anda tidak boleh menganggap dia sebagai budak Anda, tetapi sebagai orang yang membantu Anda sampai dia dibangunkan oleh anugerah Allah (Yobel datang). Dalam butir ini kita menafsirkan Yobel sebagai semacam kebangunan rohani.
Dalam hidup gereja, seorang beriman mungkin berhutang kepada Anda secara rohani. Karena seorang beriman berhutang kepada Anda, mudah sekali Anda menganggap orang itu menjadi budak Anda. Kita mungkin memiliki perasaan demikian dalam hati kita; sikap dan roh kita mungkin menyatakan perasaan bahwa orang yang berhutang kepada kita itu adalah budak kita. Ini salah. Tidak peduli berapa banyak seorang beriman berhutang kepada kita secara rohani, kita harus menganggap orang itu bukan sebagai budak atau sebagai hamba, tetapi sebagai orang yang membantu sampai dia dibangunkan oleh anugerah Allah. Demikian, orang yang berada di bawah perawatan kita akan sepenuhnya dipulihkan.
Dalam sejumlah kasus, ada saudara memberikan bantuan rohani kepada orang yang lemah, tetapi jenis bantuan ini akhirnya malah melukai perasaan orang yang dibantu. Semakin seorang beriman dibantu, dia semakin terluka. Dari sini kita melihat bahwa perawatan rohani kita kepada orang lain mungkin saja melukai perasaan. Jika roh kita dan sikap kita salah, jika kita menganggap diri kita mengungguli orang-orang yang kita bantu dan memandang rendah mereka, jika kita menganggap mereka sebagai budak atau hamba yang rendah, bantuan dan perawatan kita akhirnya akan melukai orang yang dibantu. Kita seharusnya diperingatkan dalam hal ini. Kapan kala kita membantu atau merawat saudara yang lemah, kita perlu menghargai dia. Bahkan dalam memberitakan Injil, kita tidak boleh menganggap diri kita mengungguli mereka yang menjadi pendengar.
Demikian juga, dalam sidang-sidang rumahan dan kelompok kecil, kita tidak boleh menganggap diri kita sebagai pemimpin dan berpikir bahwa kita lebih tinggi atau lebih unggul daripada orang-orang yang kita bantu. Sikap demikian bisa melukai perasaan orang lain. Dalam membantu orang lain kita harus memiliki sikap bahwa kita adalah pelayan-pelayan mereka. Dalam 2Korintus 4:5 Paulus berkata, “Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus.” Paulus adalah rasul, dia juga jurubicara Allah, namun dia tidak berlaku seperti orang yang lebih unggul daripada orang yang dia layani. Memiliki sikap mengungguli itu sama sekali keliru. Mengenai ini, kita perlu belajar dari Tuhan. Ketika Dia datang sebagai Juruselamat kita, Dia datang untuk melayani kita sebagai hamba. Dia adalah Hamba Allah yang melayani orang-orang tebusan Allah. Ini adalah teladan kita. Jika kita menaruh hal ini dalam hati, kita akan dapat membantu saudara-saudara dengan tepat untuk jangka panjang.
2. Pada Tahun Yobel, Dia dan Anak-anaknya Pulang Kembali
kepada Kaumnya dan Pulang ke Tanah Milik Nenek Moyangnya
“Kemudian ia harus diizinkan keluar dari padamu, ia bersama-sama anak-anaknya, lalu pulang kembali kepada kaumnya dan ia boleh pulang ke tanah milik nenek moyangnya” (ayat 41). Ini melambangkan pada waktu kebangunan, saudara yang berhutang kepada Anda secara rohani akan dilepaskan dari Anda. Sebenarnya, kita tidak banyak membantu saudara muda atau saudara yang lemah, yang dapat kita lakukan adalah membantu mereka tetap tinggal dalam gereja sampai tahun Yobel, yaitu waktu kebangunan, datang. Kebangunan ini membawa anugerah Allah yang cukup dan memadai untuk memenuhi keperluan saudara itu.
Kita harus selalu mengingat bahwa apa yang dapat kita lakukan untuk orang lain sesungguhnya tidak terhitung apa-apa. Paling banyak kita hanya dapat membantu orang untuk mempertahankan suatu situasi. Paulus berkata, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang menumbuhkan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang menumbuhkan” (1Kor. 3:6-7). Di sini kita melihat bahwa orang yang menanam atau orang yang menyiram tidak dapat melakukan sesuatu untuk memberikan hayat kepada orang yang mereka layani. Allahlah yang memberikan hayat. Karena itu, kita harus belajar pelajaran rendah hati. Tidak salah, kita dapat melakukan banyak hal, tetapi banyak hal ini tidak dapat merampungkan apa-apa. Kita mungkin menanam dan menyiram, tetapi tanaman tidak akan tumbuh tanpa Allah memberi pertumbuhan. Ketika Allah memberi pertumbuhan, ada satu kebangunan, kebangunan yang mendatangkan semua anugerah yang diperlukan untuk hayat rohani.
Entah kita akan menjadi faedah bagi hidup gereja atau tidak, terletak pada motivasi kita, roh kita, dan sikap kita. Dalam membantu orang yang lemah, sikap Anda tanpa disadari mungkin menganggap orang ini sebagai pelayan Anda atau bahwa dia ada di bawah Anda. Ketika dia ada di bawah perawatan Anda, dia sebenarnya di bawah pengendalian Anda. Maka, orang yang dibantu terikat dengan orang yang membantu. Namun, ketika kebangunan datang, saudara yang terikat dengan Anda akan dibebaskan dari ikatan. Jika Anda tidak menyadari hal ini pada hari ini, akhirnya Anda akan menyadari bahwa orang yang Anda bantu mungkin terikat dengan Anda dan perlu tahun Yobel, kebangunan rohani, supaya bisa dilepaskan dari ikatan itu.
3. Jangan Memerintah Saudara yang Dijual dengan Kejam
“Janganlah engkau memerintah dia dengan kejam, melainkan engkau harus takut akan Allahmu” (ayat 43). Jangan memerintah saudara yang dijual dengan kejam melambangkan bahwa kita tidak boleh dengan kejam memperlakukan seorang saudara yang berhutang kepada kita secara rohani.
4. Hanya Boleh Membeli Budak Laki-laki dan Perempuan
dari Bangsa-bangsa Lain dan dari Orang Pendatang
dan Menganggap Mereka sebagai Milik Kepunyaan,
tetapi Tidak Mengambil Budak-budak dari Orang Israel
Dalam Imamat 25:44-46 kita melihat bahwa umat Allah boleh membeli budak laki-laki dan perempuan dari bangsa-bangsa lain dan orang pendatang dan menganggap mereka sebagai milik kepunyaannya, tetapi mereka tidak boleh mengambil budak-budak dari antara orang Israel. Ini melambangkan bahwa kita tidak boleh memperlakukan saudara-saudara seperti orang luar.
Asalkan seseorang adalah orang beriman, kita harus memperlakukan dia sebagai seorang saudara atau saudari. Istilah “saudara” dan “saudari” bukan sebutan agamawi. Ketika kita memakai istilah ini, kita harus benar-benar menganggapnya demikian. Saudara-saudara dan saudari-saudari kita dalam Tuhan adalah kerabat rohani kita dalam hayat ilahi. Orang yang tidak beriman tidak dapat dianggap saudara-saudara dan saudari-saudari kita, karena mereka tidak memiliki hayat ilahi, seperti kita. Namun, karena kita dan saudara saudari memiliki hayat yang sama, hayat ilahi, kita ada dalam satu realitas keluarga ilahi. Karena itu, kita tidak boleh memperlakukan mereka seperti orang luar.
5. Seorang Saudara Israel yang Menjual Dirinya
kepada Orang Asing atau Pendatang Dapat Ditebus
oleh Saudaranya, Pamannya, atau Kerabat Terdekatnya,
atau oleh Dirinya Sendiri, kalau Dia Telah Mampu
Dalam ayat 47-49 kita melihat seorang saudara Israel yang menjual dirinya kepada orang asing atau pendatang dapat ditebus oleh saudaranya, pamannya, atau kerabat dekatnya, atau oleh dirinya sendiri kalau dia telah mampu. Ini melambangkan bahwa kita harus membantu seorang saudara yang berhutang secara rohani kepada orang luar, supaya dia dapat dilepaskan dari hutang-hutangnya, atau supaya dia dapat melepaskan dirinya sendiri dengan membayar harga tebusan.
Mungkin Anda heran bagaimana seorang saudara dapat berhutang secara rohani kepada orang luar. Cara terbaik menjelaskan hal ini mungkin dengan memberi sejumlah ilustrasi. Misalnya, seorang saudara tidak merendahkan diri dalam kontaknya dengan tetangganya. Saudara ini mungkin melukai perasaan tetangganya dengan bersikap sombong. Akibatnya, saudara itu berhutang secara rohani kepada tetangganya. Jika Anda tahu keadaan ini ketika Anda menjenguk saudara itu, Anda harus membantu dia membetulkan hubungannya dengan tetangganya. Ini akan menyelamatkan dia dari hutang dan membantu hayat rohaninya dan kesaksiannya. Tidak diragukan, ini juga akan membantu pemberitaan Injilnya kepada tetangga-tetangganya.
Saudara lain mungkin aneh dalam berpakaian atau cara dia menyisir rambutnya. Ini menyebabkan orang di sekeliling dia merasa tidak nyaman. Karena dia adalah seorang saudara terkasih, kita perlu bersekutu dengan dia, berdoa bersama dia, mencerna beberapa ayat dengan dia; tanpa mengoreksi dia, asal membantu dia perlahan-lahan membetulkan dirinya melalui bertumbuh dalam hayat. Jika saudara ini bertumbuh dalam hayat, dia pasti akan membetulkan dirinya. Dengan kata lain, bertumbuh dalam hayat akan mengubah dia, dan dia akan sadar bahwa lebih baik tidak berlaku aneh atau liar dalam hal berpakaian atau penampilan.
Seorang saudari mungkin berhutang rohani kepada ibu mertuanya, yang belum beroleh selamat. Jika Anda tahu keadaan ini dan menyadari bahwa saudari ini perlu bantuan, tidaklah benar bila Anda menghindari situasi ini. Anda perlu berdoa untuk saudari ini juga berdoa tentang situasinya. Kemudian Anda dapat berkata kepadanya, “Saudari, Anda telah beroleh selamat, tetapi ibu mertua Anda belum beroleh selamat. Ia masih orang yang belum beriman. Ia tidak tahu apa itu dosa, dan ia tidak tahu apa itu daging. Tetapi Anda dan saya adalah kaum beriman. Kita tahu apa itu daging, dan kita tahu bahwa kita tidak boleh bertindak menurut daging. Saudari, aku melihat sikap Anda terhadap ibu mertua Anda tidak baik. Aku katakan ini kepada Anda terus terang dalam kasih, supaya Anda dapat mengenal bahwa Anda bisa kehilangan kesaksian Tuhan dalam keluarga Anda. Anda perlu berdoa.” Saya percaya bahwa perkataan demikian akan membantu saudari itu terlepas dari hutang kepada ibu mertuanya yang belum beroleh selamat.
Dalam situasi riil sehari-hari, banyak orang beriman yang berhutang kepada orang luar. Dalam sikap kita, dalam penampilan kita, dalam cara kita mengontak orang, dan dalam cara kita berhubungan dengan tetangga, kerabat, teman sekelas, teman sekantor kita, kita mungkin berhutang kepada orang luar. Ini mungkin satu penyebab utama mengapa kita tidak bisa menyebarkan Injil. Kadang-kadang kita tidak dapat memberitakan Injil kepada orang lain karena kita berhutang secara rohani kepada mereka. Sebenarnya, dalam hidup gereja tidak banyak saudara yang kaya secara rohani. Sebaliknya, banyak saudara telah menjadi miskin secara rohani. Mereka yang miskin perlu dibantu. Mungkin kita juga telah menjadi miskin secara rohani dan perlu menerima bantuan dari saudara yang lain.
6. Harga Pembeliannya Harus Dikembalikan sebagai Penebus Dirinya Menurut Jumlah Tahun Yobel Itu
Harga pembeliannya harus dikembalikan sebagai penebus dirinya menurut jumlah tahun Yobel itu (ayat 50-53). Ini melambangkan bahwa pembebasan kita dari perbudakan berhubungan dengan dan berdasar pada anugerah Allah. Tahun Yobel mencakup perkara menjual dan membeli. Kita mungkin menjual tanah kita dan bahkan diri kita sendiri, tetapi kemudian bermaksud menebus apa yang telah kita jual, tanah kita atau diri kita. Ini sepenuhnya berhubungan dengan anugerah Allah, karena akhirnya kita menyadari bahwa kita tidak dapat melakukan apa-apa atas situasi kita. Karena kita tidak dapat menebus milik kita atau diri kita sendiri, maka kita harus menyerahkan masalah penebusan kepada tahun Yobel. Jadi, kita semua perlu belajar hidup bersandarkan anugerah. Kita tidak dapat menebus milik kita atau diri kita sendiri. Penebusan mutlak tergantung pada anugerah Allah.
7. Orang yang Dijual yang Tidak Ditebus dengan Cara Demikian, Akan Dibebaskan pada Tahun Yobel
“Tetapi jikalau ia tidak ditebus dengan cara demikian, maka ia harus diizinkan keluar dalam tahun Yobel, ia bersama-sama anak-anaknya” (ayat 54). Ini melambangkan bahwa kita dapat dibebaskan dari perbudakan kita seluruhnya oleh anugerah Allah. Kita tidak perlu sarana lainnya. Orang yang tidak memiliki sarana apa pun untuk menebus dirinya sendiri berada dalam situasi yang tidak dapat ditolong sampai tahun Yobel, saatnya dia dibebaskan. Ini menunjukkan bahwa untuk penebusan kita, kita tidak memerlukan sarana lainnya selain anugerah Allah. Namun, setiap manusia suka mencoba menemukan satu sarana, cara, untuk dibebaskan, tetapi sering kali lingkungan yang diatur Allah tidak mengizinkan kita melakukan sesuatu untuk diri kita sendiri. Maka, kita harus tetap tinggal dalam situasi yang tidak tertolong itu sampai tahun Yobel, anugerah, datang kepada kita. Kemudian kita akan sepenuhnya dibebaskan dari perbudakan.
Dalam Imamat 25 tanah melambangkan Kristus, dan Kristus memberi tahu kita bahwa Dia akan membangun gereja di atas diri-Nya sendiri (Mat. 16:18). Rumah-rumah yang dibangun di atas tanah dan di dalam kota yang berpagar tembok melambangkan gereja dibangun di atas Kristus. Sekarang kita perlu melihat bahwa kenikmatan atas Kristus berdasar pada prinsip anugerah, sedangkan kenikmatan atas hidup gereja berdasar pada prinsip kebenaran. Dalam Ibrani 5:13 kita memiliki ungkapan “ajaran tentang kebenaran”. Kitab Ibrani membicarakan kenikmatan atas hidup gereja, dan sebagian besar yang ditulis dalam kitab ini adalah perkataan kebenaran. Ini menunjukkan bahwa kenikmatan atas hidup gereja itu sesuai dengan prinsip kebenaran. Karena kenikmatan ini berasal dari kebenaran, maka ada undang-undang pembatasan. Jika kita memelihara undang-undang ini, kita akan memiliki kenikmatan atas hidup gereja di zaman ini dan juga di zaman yang akan datang. Kita perlu berhati-hati tentang perkara ini.
Menurut Imamat 25, ada rumah-rumah di tanah itu yang bukan terletak dalam kota yang berpagar tembok. Kita menafsirkan rumah-rumah ini sebagai yang melambangkan kelompok-kelompok bebas. Di satu aspek tidaklah baik berada di dalam kelompok bebas. Di aspek lain adalah satu keuntungan berada dalam kelompok bebas ini. Keuntungannya adalah, dalam kelompok bebas, kita tidak mudah kehilangan hak kita untuk menikmati hidup gereja.
Dalam lambang, Imamat 25 memperlihatkan kepada kita tiga macam orang Kristen: yang tinggal dalam hidup gereja, yang kehilangan hidup gereja, dan yang berada dalam kelompok bebas. Kita harus menjadi orang-orang yang tinggal dalam hidup gereja.
Dalam bagian Kitab Imamat mengenai tahun Yobel ini, kita telah melihat kenikmatan atas Kristus, kenikmatan atas hidup gereja, dan perihal hubungan yang tepat dengan orang beriman. Menurut pengalaman saya, yang paling mudah dari tiga perkara ini untuk dimiliki adalah kenikmatan atas Kristus. Tidak mudah untuk menikmati hidup gereja seperti menikmati Kristus. Yang paling sulit adalah memiliki hubungan yang tepat dengan sesama orang beriman. Ini adalah perkara yang paling menyita perhatian, sebab ini menjamah motivasi kita, roh kita, sikap kita, dan perkataan kita. Ketika kita menempuh hidup gereja, kita perlu orang lain. Ini ditunjukkan dalam ayat 35 dengan perkataan “supaya ia dapat hidup di antaramu.” Kita perlu kaum beriman hidup bersama kita. Jika kita tidak memiliki kaum beriman lainnya yang hidup bersama kita, kita tidak memiliki hidup gereja.
Hidup gereja tidak tergantung hanya pada kita mengasihi Tuhan atau kita mengasihi hidup gereja; hidup gereja khususnya tergantung pada perhatian kita kepada kaum beriman. Kita perlu memperhatikan kaum beriman dalam cara yang baik, dan perhatian ini berkaitan dengan motivasi kita, roh kita, sikap kita, dan perkataan kita. Dalam mengontaki kaum beriman, kita mungkin salah dalam motivasi, sikap, roh kita; perkataan kita mungkin sama sekali tidak menurut pimpinan Tuhan. Saya dapat bersaksi bahwa setiap hari pengakuan dosa saya kepada Tuhan kebanyakan terkait dengan motivasi, roh, sikap, dan perkataan saya dalam hubungan saya dengan kaum beriman.
Jika Tubuh Kristus mau dibangun, kita perlu hidup bersama kaum beriman lain dan mereka perlu hidup bersama kita. Jika kita tidak dapat hidup bersama kaum beriman, tidak akan ada hidup gereja dan jika tidak ada hidup gereja, tidak akan ada pembangunan Tubuh Kristus. Tahun Yobel bukan hanya perkara sorak-sorai, pembebasan, pemulihan, dan kebangunan, sebab di bagian terakhir Imamat 25 ada tiga ujian. Tiga ujian ini adalah mengasihi Tuhan, mengasihi hidup gereja, dan memperhatikan sesama orang beriman. Bagaimana Anda hidup bersama orang beriman, bersama “mitra gereja” Anda? Bagaimana Anda membantu mereka hidup bersama Anda? Dapatkah kita memperhatikan situasi yang di dalamnya kita hidup bersama sebagai mitra gereja? Ini tergantung pada cara kita menjaga persekutuan dan hubungan kita dengan mereka, juga tergantung pada motivasi kita, roh kita, sikap kita, dan perkataan kita. Kita perlu motivasi yang bersih, roh yang murni, dan sikap yang benar dengan ucapan yang benar. Ini tidak hanya membantu, mebina, dan membangun orang beriman, juga akan dengan spontan membangun Tubuh Kristus. Ketika Tubuh Kristus terwujud secara riil, tahun Yobel akan ada di antara kita.