← Daftar isi Imamat (3) · bab 13/20

TAHUN SABAT DAN YOBEL (2)

Pembacaan Alkitab: Im. 25:23-34

Kata-kata penting tertentu menggambarkan Yobel. Beberapa kata ini adalah sorak-sorai, dilepaskan atau dibebaskan, harta milik, dan keluarga. Yobel adalah waktu bersorak-sorai, juga adalah waktu kita dilepaskan, dibebaskan dari perbudakan dan penawanan. Kita telah kehilangan milik ilahi, tetapi dalam Yobel Perjanjian Baru milik kita telah dipulihkan kepada kita untuk kenikmatan kita. Dalam Yobel, kita juga dipulihkan kepada keluarga kita. Jika kita menjajarkan semua perkara ini, kita akan memiliki pemahaman lengkap tentang apa adanya Yobel. Kita tadinya berada dalam perbudakan dan penawanan, tetapi kita telah dilepaskan dan dipulihkan kepada milik kita untuk kenikmatan kita, dan kepada keluarga kita supaya kita memiliki persekutuan yang sejati dalam anugerah Allah.

Tahun Yobel juga adalah tahun Sabat. Inilah alasan perkara pertama yang diwahyukan dalam Imamat 25 adalah tahun Sabat. Tahun Sabat kedelapan adalah Yobel, tahun Sabat yang penuh perhentian, kelepasan, dan kenikmatan. Dalam tahun Yobel ini, semua milik ilahi diseimbangkan lagi menurut ekonomi Allah. Hasil tanah menjadi bebas dan umum, bukan hanya untuk manusia, tetapi juga untuk binatang liar.

H. Tanah yang Dimiliki Bani Israel Adalah Milik Allah, Tidak Boleh Dijual kepada Seseorang secara Permanen

“Tanah jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu, sedang kamu adalah orang asing dan pendatang bagi-Ku” (ayat 23). Ini melambangkan bahwa milik ilahi kita adalah milik Allah, dan kita tidak dapat kehilangan milik kita selamanya, walaupun kita mungkin kalah atau jatuh. Ini adalah perlindungan anugerah Allah. Dalam Perjanjian Baru ada banyak pengajaran mengenai pahala kerajaan dan penghukuman kerajaan. Kita mungkin kalah dan bahkan didisiplinkan selama Kerajaan Seribu Tahun, tetapi kepemilikan rohani kita atas milik ilahi tidak dapat hilang secara permanen. Setelah Kerajaan Seribu Tahun, kaum beriman yang didisiplinkan akan dipulihkan kepada kepemilikan milik ilahinya, khususnya dalam langit baru dan bumi baru, menikmati berkat Yerusalem Baru. Karena anugerah Allah kita akan dipulihkan kepada milik ilahi kita sampai selama-lamanya.

I. Mengenai Menebus Tanah yang Telah Dijual

Imamat 25:24-28 membicarakan memulihkan tanah yang telah dijual. Catatan ini sangat bermakna, tetapi agak rumit dan memerlukan perhatian yang cermat.

1. Mendapatkan Kembali Kenikmatan Kita atas Milik Ilahi

Walaupun kita dapat menjadi lemah, mundur, dan kehilangan kenikmatan kita atas milik ilahi, kita masih bisa mendapatkannya kembali. Kita mungkin kehilangan kenikmatan ini untuk sementara, tetapi akhirnya hal ini akan dipulihkan kembali kepada kita.

2. Bani Israel Mendapatkan Kembali Milik Mereka yang Hilang

Walaupun sepanjang generasi bani Israel telah kehilangan semua yang telah mereka terima dari Allah, pada kedatangan kembali Tuhan, mereka akan mendapatkannya kembali. Pada kedatangan kembali Tuhan, orang Israel akan mendapatkan kembali kepemilikan atas bagian yang diundikan Allah.

3. Bila Seorang Israel Jatuh Miskin dan Menjual

Sebagian dari Miliknya, Kaumnya yang Terdekat

Harus Datang sebagai Penebusnya

dan Menebus Apa yang Telah Dijualnya

“Di seluruh tanah milikmu haruslah kamu memberi hak menebus tanah. Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga harus menjual sebagian dari miliknya, maka seorang kaumnya yang berhak menebus, yakni kaumnya yang terdekat harus datang dan menebus yang telah dijual saudaranya itu” (ayat 24-25). Ini melambangkan bahwa kita telah menjadi miskin dan telah menjual milik kita, dan Tuhan Yesus, kaum terdekat kita, telah datang sebagai Penebus kita untuk menebus apa yang telah kita jual. Dalam Adam kita menjual segala sesuatu. Namun, Tuhan Yesus adalah kaum terdekat kita sebagai Penebus kita, dan Dia telah menebus segala sesuatu kita. Ini diilustrasikan dalam Kitab Rut, di mana kita melihat Rut ditebus oleh kaumnya, Boas. Karena itu, dalam Kitab Rut, kita memiliki kisah penuh dari Yobel.

4. Bila Seorang Israel, Tidak Ada Orang yang Menebus Miliknya baginya,

tetapi Kemudian Ia Mampu untuk Menebusnya, Ia Boleh Menebusnya oleh Dirinya Sendiri

“Apabila seseorang tidak mempunyai penebus, tetapi kemudian ia mampu, sehingga didapatnya yang perlu untuk menebus miliknya itu, maka ia harus memasukkan tahun-tahun sesudah penjualannya itu dalam perhitungan, dan kelebihannya haruslah dikembalikannya kepada orang yang membeli dari padanya, supaya ia boleh pulang ke tanah miliknya” (ayat 26-27). Ini melambangkan bahwa bani Israel, yang tidak mengakui Tuhan Yesus sebagai kaum (kerabat) terdekatnya, telah meletakkan diri mereka dalam posisi memikul tanggung jawab untuk penebusan mereka sampai mereka mampu menebus diri mereka sendiri. Namun, sampai hari ini mereka masih tidak dapat melakukan hal ini, sesungguhnya, mereka tidak akan dapat melakukannya. Ketika Tuhan Yesus datang kembali, mereka akan mengakui Dia sebagai kerabat terdekat mereka, dan kemudian akan ditebus oleh Tuhan.

5. Jika Seseorang Tidak Memiliki Harta

yang Cukup untuk Menebus Miliknya,

Itu Tetap Tinggal Sampai Tahun Yobel, Baru Tanah Itu Dibebaskan

“Tetapi jikalau ia tidak mampu untuk mengembalikannya kepadanya, maka yang telah dijualnya itu tetap di tangan orang yang membelinya sampai kepada tahun Yobel; dalam tahun Yobel tanah itu akan bebas, dan orang itu boleh pulang ke tanah miliknya” (ayat 28). Ini melambangkan bahwa kita tidak mampu menebus apa yang telah hilang sampai Yobel Perjanjian Baru, yang di dalamnya semua milik kita yang telah hilang dibebaskan untuk kita, menjadi milik kita.

Dalam ayat-ayat ini kita melihat bahwa ada tiga cara untuk orang Israel memulihkan miliknya yang hilang. Pertama, miliknya dapat ditebus oleh kerabat terdekatnya. Ini adalah perkara anugerah. Kedua, jika dia kemudian mampu, dia dapat menebusnya sendiri. Ketiga, jika dia tidak memiliki kerabat untuk menebusnya bagi dia dan jika dia tidak dapat menebusnya sendiri, dia dapat menunggu tahun Yobel, saat milik yang dijual dengan spontan akan dipulihkan untuk dia. Ini juga masalah anugerah. Jadi, Yobel adalah lambang yang sangat baik dari anugerah Allah.

J. Mengenai Menebus Rumah yang Telah Dijual

Imamat 25:29-34 membicarakan menebus rumah yang telah dijual.

1. Jika Seorang Israel Menjual Rumah Tempat Tinggal

di Suatu Kota Berpagar Tembok,

Hak Menebus Berlaku Selama Setahun;

Setelah Satu Tahun, Hak Itu Akan Berakhir,

dan Rumah Itu Tidak Akan Dilepaskan untuk Dia,

Sekalipun dalam Tahun Yobel

“Apabila seseorang menjual rumah tempat tinggal di suatu kota yang berpagar tembok, maka hak menebus hanya berlaku selama setahun mulai dari hari penjualannya; hak menebus berlaku hanya satu tahun. Tetapi jikalau rumah itu tidak ditebus dalam jangka waktu setahun itu, rumah itu secara mutlak menjadi milik si pembeli turun-temurun; dalam tahun Yobel rumah itu tidaklah bebas” (ayat 29-30). Ini melambangkan bahwa jika seorang beriman kehilangan kenikmatan akan hidup gereja, itu hanya dapat dipulihkan dalam jangka pendek selama zaman anugerah Allah. Jika kenikmatan akan hidup gereja yang hilang tidak dipulihkan dalam zaman gereja, dia akan tetap kehilangan dalam Kerajaan Seribu Tahun. Ini sesuai dengan prinsip “siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari dia” (Mat. 25:29). Jadi, kehilangan kenikmatan akan hidup gereja lebih serius dibandingkan kehilangan kenikmatan atas Kristus sebagai milik ilahi kita.

Mengenai menebus rumah tempat tinggal dalam kota yang berpagar tembok, ada ketetapan pembatasannya. Setelah satu tahun penuh, rumah itu tidak dapat ditebus, sekalipun dalam tahun Yobel. Namun, kita mungkin berpikir bahwa tahun Yobel bisa memulihkan segala sesuatu, tetapi faktanya bukan demikian, sebab di sini ada batasan waktu. Rumah dalam kota berpagar tembok adalah lambang hidup gereja. Kita boleh menjual segala sesuatu yang lain, tetapi kita tidak boleh menjual hidup gereja. Jika kita menjual hidup gereja, kita hanya memiliki waktu yang terbatas untuk memulihkannya; jika tidak, sekalipun tahun Yobel tidak dapat menolong kita. Kenikmatan akan hidup gereja dapat dipulihkan hanya di dalam waktu singkat dari zaman anugerah Allah, seperti ditunjukkan oleh waktu satu tahun.

Satu tahun penuh melambangkan zaman gereja. Kita seharusnya tidak berpikir bahwa zaman gereja itu lama. Sebenarnya, zaman gereja itu pendek. Perjanjian Baru memperingatkan kita bahwa zaman gereja itu pendek. Tuhan Yesus sendiri telah berkata, “Aku datang segera” (Why. 3:11). Hanya hamba yang malas yang berkata, “Tuanku tidak datang-datang” (Mat. 24:49a). Sebaliknya, Tuhan sedang mempercepat kedatangan-Nya, dan zaman gereja segera berakhir. Zaman gereja tidak akan diperpanjang, diperlama. Tidak seorang pun dapat berkata bahwa Tuhan tidak akan datang besok untuk mengakhiri hidup gereja. Zaman gereja hanya sepotong waktu yang singkat, waktu yang pendek dari zaman anugerah Allah. Hari ini kita berada dalam hidup gereja, tetapi ini akan diakhiri pada kedatangan kembali Tuhan.

Jika Anda kehilangan hidup gereja dan tidak menebusnya dengan cepat, Anda juga akan kehilangan hidup gereja dalam Kerajaan Seribu Tahun. Ini berarti jika Anda kehilangan kenikmatan akan hidup gereja, Anda juga tidak bisa Anda memulihkannya selama Kerajaan Seribu Tahun. Seperti telah kita tunjukkan, ini sesuai dengan prinsip “siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari dia”. Jika Anda tidak memiliki hidup gereja di zaman ini, maka hidup gereja akan diambil dari Anda di zaman yang akan datang. Dalam Matius 25, kehilangan pahala kerajaan yang akan datang adalah kehilangan kenikmatan akan hidup gereja.

Kehilangan kenikmatan hidup gereja lebih serius dibandingkan kehilangan kenikmatan atas Kristus. Alasannya adalah memulihkan kenikmatan atas Kristus itu mudah. Jika kita kehilangan kenikmatan atas Kristus hari ini, kita dapat memulihkannya dengan cepat dan mudah. Tuhan itu pemurah, dan kapan saja Dia akan memulihkan diri-Nya untuk kita bagi kenikmatan kita. Namun, untuk memulihkan hidup gereja yang hilang memerlukan waktu yang sangat panjang, sebab ada kesulitan yang menghalangi kita datang kembali kepada hidup gereja. Kita harus waspada, agar tidak menjual hidup gereja. Namun, jika kita menjualnya, kita harus berusaha untuk memulihkan hidup gereja kita yang telah hilang sesegera mungkin, sebab zaman gereja bisa saja berakhir sewaktu-waktu. Jika kita tidak memulihkan hidup gereja kita yang hilang di zaman ini, kita akan kehilangan kenikmatan akan Tubuh Kristus, sampai kita telah didisiplinkan selama Kerajaan Seribu Tahun, barulah dalam Yerusalem Baru kita akan dipulihkan.

Walaupun dalam Perjanjian Baru ada pengajaran demikian mengenai kehilangan hidup gereja, tidak banyak guru Kristen melihatnya. Memiliki pandangan tentang kehilangan dan pemulihan hidup gereja ini akan membantu kita menyadari perlunya kita menempuh hidup gereja yang tepat hari ini. Begitu kita kehilangan hidup gereja, akan ada bahaya kehilangannya juga selama Kerajaan Seribu Tahun. Karena itu, kita perlu mengenal bahwa kehilangan hidup gereja lebih serius daripada kehilangan kenikmatan atas Kristus.

2. Rumah di Desa yang Tidak Dikelilingi Pagar Tembok

Harus Dianggap Sama dengan Ladang, Harus Ada

Hak Menebus dan Dibebaskan dalam Tahun Yobel

“Tetapi rumah-rumah di desa-desa yang tidak dikelilingi pagar tembok haruslah dianggap sama dengan ladang-ladang di negeri itu, atasnya harus ada hak menebus dan dalam tahun Yobel rumah itu harus bebas” (ayat 31). Ini melambangkan bahwa di satu tempat yang ada banyak orang beriman yang tidak dapat dianggap sebagai gereja, kehilangan kenikmatan atas Kristus dapat dipulihkan.

Jika kaum beriman berada dalam situasi yang dilambangkan oleh rumah di desa yang tidak dikelilingi pagar tembok, tidak dapat kehilangan hidup gereja, karena tidak ada hidup gereja di tempat mereka. Mereka tidak menempuh hidup gereja, sebab mereka adalah kelompok kecil orang beriman yang tidak dapat dianggap gereja. Bagi kaum beriman ini, kehilangan kenikmatan atas Kristus dapat dipulihkan.

3. Hak Tebus Permanen Diberikan kepada Orang Lewi untuk Rumah di Kota Milik Mereka

“Mengenai rumah-rumah di kota-kota orang Lewi, hak menebus rumah-rumah itu ada pada orang-orang Lewi untuk selama-lamanya. Sekalipun dari antara orang Lewi yang melakukan penebusan, tetapi rumah yang terjual di kota miliknya itu haruslah bebas dalam tahun Yobel, karena segala rumah di kota-kota orang Lewi adalah milik mereka masing-masing di tengah-tengah orang Israel” (ayat 32-33). Ini melambangkan bahwa jika kaum beriman yang secara memadai sibuk melayani Allah dalam gereja, kehilangan kenikmatan hidup gereja, kenikmatan itu dapat dipulihkan bagi mereka tanpa batasan waktu apa pun.

Jika kita adalah orang yang melayani Allah secara memadai dalam hidup gereja, dan kita kehilangan hidup gereja, itu mudah dipulihkan untuk kita. Dari sini kita melihat bahwa sangatlah baik bagi kita lebih banyak melayani dalam hidup gereja. Semakin melayani dalam hidup gereja, semakin terjamin kenikmatan kita atas hidup gereja. Kita tidak akan mudah kehilangan hidup gereja, tetapi jika kehilangannya, hidup gereja itu dapat dipulihkan dengan mudah dan cepat.

4. Padang Penggembalaan Orang Lewi Adalah Milik Permanen Mereka dan Jangan Dijual

“Dan padang penggembalaan sekitar kota-kota mereka janganlah dijual, karena itu milik mereka untuk selama-lamanya” (ayat 34). Ini melambangkan bahwa kaum beriman yang secara memadai melayani Allah dalam gereja, tidak akan kehilangan kenikmatan atas Kristus secara permanen. Dua butir dalam ayat ini yang berhubungan dengan orang Lewi, tentu mendorong kita melayani dalam hidup gereja. Semakin kita terlibat dalam pelayanan Allah, semakin baik. Jika kita terlibat dalam pelayanan ini, kita tidak akan mudah kehilangan kenikmatan atas Kristus. Jika kita kehilangan kenikmatan atas gereja, itu akan mudah dipulihkan untuk kita. Maka, untuk kenikmatan atas Kristus dan kenikmatan atas hidup gereja, kita perlu semakin melibatkan diri kita dalam pelayanan gereja.

Walaupun demikian, kita perlu paham bahwa dalam tahun Yobel, yang sepenuhnya adalah perkara anugerah, masih ada ketetapan pembatasan mengenai perkara hidup gereja seperti dilambangkan oleh rumah di kota yang berpagar tembok. Jika kita kehilangan hidup gereja yang demikian, kita perlu menebusnya di dalam batas waktu yang ditentukan oleh ketetapan pembatasan.

Ketika kami masih muda, Tuhan memperlihatkan kepada kami wahyu tentang pahala dan pendisiplinan kerajaan sezaman selama Kerajaan Seribu Tahun, dan kami mulai mengajarkan dan memberitakan hal ini. Sejumlah pengkhotbah, guru, dan pendeta Kristen berdebat dengan kami, mengutip Efesus 2:8 yang mengatakan, “Sebab karena anugerah kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.” Kemudian mereka menyatakan bahwa apa yang kami ajarkan bukan perkara anugerah. Betul, Efesus 2:8 mengatakan bahwa kita diselamatkan oleh anugerah. Namun, kita juga perlu mencurahkan perhatian kepada Efesus 5:5, di sana Paulus mengatakan, “Tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.” Mereka yang menempuh hidup yang najis tidak akan mewarisi apa pun dalam Kerajaan Kristus dan Allah. Ini berarti di zaman kerajaan yang akan datang, kaum beriman sejati tertentu tidak akan memiliki warisan. Karena kehidupan mereka najis, mereka kehilangan hidup gereja di zaman ini dan kehilangan warisan kerajaan di zaman yang akan datang.

Saya belum pernah melihat ada orang yang kehilangan hidup gereja karena melakukan sesuatu yang menyalahi Allah yang kemudian balik kembali ke hidup gereja. Dalam kasus orang beriman melakukan sesuatu yang menyebabkan dia kehilangan hidup gereja, orang itu tidak kembali ke hidup gereja selama sisa hidupnya. Mereka semua mati tanpa memulihkan hidup gereja mereka yang hilang.

Saya tidak membicarakan perkataan ini sebagai ancaman, tetapi sebagai peringatan mengenai Yobel Perjanjian Baru. Sebenarnya, jenis pembicaraan ini pun adalah menyuarakan Yobel, memberi tahu umat Tuhan bahwa Yobel adalah Yobel, namun ada batasan mengenai rumah di kota yang berpagar tembok.

Jika kita kehilangan rumah, yaitu, hidup gereja, kita dapat menebusnya, tetapi hanya dalam batas waktu tertentu. Jika kita tidak menebus hidup gereja kita yang hilang selama zaman yang ditentukan, kita akan kehilangan hidup gereja di zaman yang akan datang, dan baru akan dipulihkan untuk kita setelah zaman yang akan datang, ketika kita harus didisiplinkan, dilatih, dikoreksi, dan dihukum, supaya dibersihkan, disiapkan, dan disempurnakan untuk zaman kekekalan. Kita tidak dapat kehilangan hidup gereja selamanya, tetapi kita dapat kehilangannya sementara dan sezaman selama seribu tahun. Pemahaman ini konsisten dengan Alkitab secara menyeluruh, karena kita melihat keduanya dalam lambang di Imamat 25 dan dalam perkataan jelas Perjanjian Baru.

Peringatan tentang kehilangan hidup gereja akhirnya merupakan bagian Yobel. Mengenai Yobel, kita seharusnya tidak kendor, bersorak-sorai secara sembrono. Sebaliknya, kita perlu berhati-hati dan waspada bahwa pemulihan hidup gereja yang hilang ada batas waktunya. Jika kita kehilangan hidup gereja, kita harus berusaha segera memulihkannya. Karena kita tidak tahu berapa lama zaman gereja akan berlangsung. Bagi Allah satu hari sama seperti seribu tahun, tetapi bagi kita seribu tahun adalah seribu tahun, baik untuk pendisiplinan maupun untuk pahala.

Perkara serius berupa pahala dan penghukuman sezaman selama zaman Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang adalah bagian dari Injil, khususnya Injil seperti yang diajarkan dalam Injil Matius. Dalam Injil Matius kita memiliki Injil kerajaan. Injil ini memperingatkan kita mengenai pahala dan penghukuman. “Jika kebenaranmu tidak melampaui ahli Taurat dan orang Farisi” (Tl.), dikatakan Tuhan Yesus dalam Matius 5:20, “sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Pengajaran mengenai kerajaan ini berbeda dengan yang ditemukan dalam Injil Yohanes. Dalam Injil Yohanes tidak ada Injil kerajaan, tetapi ada Injil hayat. Menurut Injil Yohanes, kita memasuki Kerajaan Allah hanya melalui kelahiran kembali (Yoh. 3:3, 5). Ini adalah kerajaan hayat, dan asal kita menerima hayat ilahi, kita ada dalam kerajaan hayat. Namun, apa yang kita miliki dalam Injil Matius, bukan kerajaan hayat, melainkan kerajaan di atas kerajaan. Dalam berita ini saya meniupkan, menyuarakan, satu aspek Yobel yaitu bagian dari Injil kerajaan. Kita semua perlu mendengar Injil kerajaan.

Dalam Imamat 25 ada dua jenis kenikmatan: kenikmatan atas tanah dan kenikmatan atas rumah. Kenikmatan atas tanah melambangkan kenikmatan atas Kristus, dan kenikmatan atas rumah melambangkan kenikmatan atas hidup gereja. Kita seharusnya tidak ceroboh dalam hidup gereja, karena kita bisa kehilangannya. Ada kemungkinan kita kehilangan hidup gereja di zaman ini dan kemudian menderita kehilangan hidup gereja di zaman yang akan datang, dalam Kerajaan Seribu Tahun.

Kita mungkin memiliki tanah tanpa memiliki rumah, tetapi memiliki rumah tentu menyiratkan memiliki tanah. Kenikmatan atas tanah tidak menjamin kenikmatan atas rumah, tetapi kenikmatan atas rumah menjamin kenikmatan atas tanah. Selama kita menikmati rumah, kita memiliki jaminan bahwa kita juga menikmati tanah. Jika kita menikmati Kristus, itu tidak menjamin bahwa kita juga menikmati hidup gereja. Namun, selama kita ada dalam kenikmatan atas hidup gereja, kita juga ada dalam kenikmatan atas Kristus. Gereja menjamin kita dapat menikmati Kristus.