← Daftar isi Ekonomi Ilahi · bab 5/15

EKONOMI ILAHI DI DALAM ROH SEBAGAI SUNGAI

Pembacaan Alkitab :

Kel. 17:6; Mzm. 46:5; 65:10a; 36:9;

Yeh. 47:5, 9; Yoh. 4:14; 7:37-39; Why. 21:6; 22:1-2, 17

POHON HAYAT - PERWUJUDAN HAYAT

Kita telah melihat bahwa setelah Allah menciptakan manusia, Ia menaruhnya di dalam sebuah taman. Di dalam taman tersebut ada dua, hal Yang mencolok : pohon hayat dan sungai Yang mengalir. Pohon dan sungai adalah untuk dispensi Allah. Allah menciptakan manusia menurut citraNya, menciptakannya sebagai makhIuk Yang memiliki roh, namun pada waktu itu manusia tidak memiliki hayat Allah. Manusia hanyalah diciptakan oleh Allah dan adalah bejana kosong Yang siap menampung Allah. Karena itu manusia lalu diletakkan di depan pohon hayat agar Allah bisa mendispensikan diri-Nya ke dalam manusia. Manusia adalah untuk menerima Allah sebagai isinya. Allah sebagai hayat ingin masuk ke dalam manusia untuk menjadi isi manusia. Karena, itu Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa jika kita tidak memiliki Allah (Putra), kita tidak memiliki hayat (1 Yoh. 5:12). Hayat manusia bukanlah hayat Yang dapat bertahan sampai selama-lamanya atau kekal, tetapi hanya sementara. Hayat Yang bertahan sampai selama-lamanya, hayat Yang kekal, adalah Allah sendiri. Kita sebagai manusia perlu memiliki hayat Allah Yang bertahan sampai selama-lamanya, hayat Yang kekal, sebagai isi kita. Allah Yang adalah hayat ingin mendispensikan diri-Nya sebagai hayat ilahi ke dalam manusia.

Allah dan hayat itu abstrak, karena itu Allah Yang abstrak Yang adalah hayat ini memerlukan sebuah perwujudan. Perwujudan dari hayat ilahi ini adalah pohon hayat yang merupakan sebuah gambaran dari Yesus sebagai perwujudan Allah yang menjadi hayat bagi kita. Suatu hari Allah datang dalam daging dan nama manusia Allah ini adalah Yesus. Manusia Yesus ini adalah perwujudan Allah sebagai hayat, karena itu Yohanes mengatakan bahwa di dalam Dia, di dalam Yesus, di dalam perwujudan Allah, ada hidup (hayat Tl.) (Yoh. 1:4). Yesus juga memberi tabu kita bahwa Dialah hidup/hayat (Yoh. 14:6), dan Dia datang supaya kita memiliki hidup (hayat) dan memilikinya dalam segala kehmpahan (Yoh. 10:10). Lagipula Ia memberi tabu kita bahwa Ialah roti hidup (hayat) untuk menyuplai kita dan kita dapat menerima-Nya melalui makan Dia (Yoh. 6:35, 57). Akhirnya Yesus diwahyukan dalam Injil Yohanes sebagai pokok anggur, yang adalah pohon hayat (Yoh. 15:1). Melalui menerima dan memakan-Nya, kita menjadi bagian dari-Nya, kita menjadi cabang dari pokok anggur yang besar ini.

Pada tahun 1958, saya diundang ke Inggris dan tinggal di sana selama kurang lebih satu bulan. Suatu hari seorang teman mengajak saya melihat pohon yang disebut pohon anggur besar ratu. Ratu Inggris mempunyai sebuah pohon anggur besar dalam sebuah rumah kaca. Seseorang bertanya kepada saya apakah saya pernah melihat pohon anggur yang sedemikian besar. Saya menjawab bahwa pohon anggur ini tidak mengherankan saya karena saya telah melihat pohon anggur yang lebih besar! Pohon anggur mihk ratu tersebut panjangnya kurang lebih 100 kaki, tetapi pohon anggur yang telah saya lihat begitu panjang mehngkari bola bumi. Pohon anggur yang telah saya lihat ini adalah Yesus beserta semua ranting-ranting-Nya. Semua jutaan kaum beriman adalah ranting-ranting dari pohon anggur yang besar dan panjang yang mengelilingi bumi ini. Sungguh suatu pohon anggur yang besar! Saudara saudari dalam gereja-gereja semuanya adalah ranting-ranting hijau dari pohon anggur yang besar itu. Kita telah menjadi ranting-ranting Kristus karena kita telah menerima-Nya, kita telah memakan-Nya, dan kita masih sedang memakan-Nya. Kita makan Yesus setiap hari dan kita sedang bertumbuh oleh-Nya. Ketika kita menjadi Yerusalem Baru, pohon hayat seharusnya bukanlah sesuatu yang baru bagi kita karena kita telah memakan dan menikmati pohon ini. Kita telah melihat bahwa pohon hayat merupakan butir penting dari seluruh Alkitab. Pohon hayat ini, perwujudan Allah sebagai hayat bagi kita, adalah untuk ekonomi Allah agar Ia dapat mendispensikan diri-Nya ke dalam orang-orang yang diciptakan, dipilih, dan ditebusNya. Saya harap kita memiliki visi yang jelas akan pohon hayat sebagai perwujudan hayat ilahi agar Allah dapat mendispensikan diri-Nya ke dalam kita.

SUNGAI AIR HAYAT –

ALIRAN HAYAT

Dalam bab ini kita ingin melihat hal kedua yang sangat penting dalam taman itu-sungai yang mengalir. Pohon adalah perwujudan-Nya dan sungai adalah aliran-Nya. Allah itu abstrak dan misterius. Apa saja yang misterius dan abstrak memerlukan suatu perwujudan. Bahkan hayat manusia kita memerlukan sebuah tubuh untuk menjadi perwujudannya. Hayat manusia diwujudkan dalam tubuh kita, tetapi tubuh ini perlu sebuah aliran. Kita perlu bertanya apakah aliran dari hayat manusia itu. Pertama, aliran darah di dalam kita adalah aliran hayat manusia. Ketika aliran darah tersebut berhenti, hal ini berarti kematian, Kedua, pernapasan kita juga adalah aliran dari hayat manusia. Jika berhenti bernapas, kita mati. Kita hidup karena di dalam kita ada darah dan di luar kita ada napas. Kita bernapas sepanjang hari dan darah kita mengalir sepanjang hari. Kita harus bernapas dan darah kita harus beredar secara bebas supaya kita sehat. Pohon hayat adalah perwujudan hayat; tetapi agar hayat ini masuk ke dalam kita, ia perlu mengalir. Jika hayat tidak mengalir, maka ia tidak dapat masuk ke dalam kita.

Hayat sapi diwujudkan dalam sapi, jadi seekor sapi adalah perwujudan hayat sapi. Tetapi bagaimana hayat sapi ini dapat masuk ke dalam kita? Hayat sapi tersebut memerlukan aliran dan aliran ini adalah susu. Kita dapat menerima hayat sapi melalui minum susu. Ketika petani memerah sapi, 'sapi' mengalir dan aliran ini adalah "sungai susu". Susu sapi adalah sungai itu, aliran itu. Banyak anakanak suka minum susu sapi. Sungai dari sapi adalah susu.

Ketika bangsa Israel mengembara di padang gurun, di sana tidak ada air. Lalu Allah menyuruh Musa untuk memukul batu dan batu yang terbelah itu mengalirkan air hidup (hayat) untuk diminum bangsa itu (Kel. 17:6). Dalam 1 Korintus 10 Paulus memberi tabu kita bahwa batu tersebut adalah Kristus yang menyertai bangsa Israel di padang gurun (ay. 4). Batu itu adalah perwujudan Allah sama seperti pohon hayat. Allah diwujudkan dalam batu itu, tetapi bagaimana batu tersebut dapat masuk ke dalam bangsa itu? Batu tersebut, harus mengalir sehingga air hidup mengalir keluar dari batu itu untuk diminum semua orang. Ketika mereka minum dari batu itu, mereka minum Allah. Air yang mengalir keluar dari batu itu adalah aliran hayat ilahi, sama seperti susu yang adalah aliran hayat sapi.

Kapan saja kita minum susu, kita harus menyadari bahwa susu ini adalah hayat sapi yang mengalir. Susu sapi adalah aliran hayat sapi. Ibu saya bekerja pada seorang pendeta berkebangsaan Amerika. Setiap kali kami, anakanaknya pergi ke rumah pendeta, saya mencium bau sapi. Suatu hari saya bertanya kepada ibu saya mengapa saya mencium bau sapi ketika datang ke rumah pendeta tersebut. Ibu saya menjawab, "Tidakkah kamu menyadari bahwa orang Amerika itu minum susu sapi? Semakin banyak mereka minum susu sapi, mereka semakin berbau sapi." Jika kita minum "susu Yesus" setiap bari, akhirnya kita akan beraromakan Yesus. Susu Yesus adalah sungai hayat ilahi. Susu dan sapi itu satu. Susu dan sapi bukan dua hal yang terpisah, tetapi satu hal dalam dua tahap. Ketika sapi mengalir keluar, ia menjadi susu. Susu dalam gelas adalah sapi yang mengalir keluar. Jadi ketika minum susu, kita sedang minum sapi. Dalam taman itu ada pohon hayat sebagai perwujudan hayat ilahi, tetapi hayat ini harus mengalir keluar dan masuk ke dalam kita, untuk pendispensian Allah. Selain pohon ada juga sungai yang mengalir, hal ini menunjukkan bahwa hayat ilahi mengalir keluar untuk kita minum. Ketika kita minum sungai ini, hayat ilahi didispensikan ke dalam diri kita.

Pohon hayat dan sungai hayat adalah untuk pendispensian Allah. Allah sebagai hayat ilahi ingin mendispensikan diri-Nya ke dalam kita. Kita harus memahami Alkitab, bukan hanya secara harfiah tetapi menurut terang ilahi, sehingga kita dapat melihat gambaran ajaib tentang pohon hayat dengan sungai hayat, yang menggambarkan bahwa Allah diwujudkan dan mengalir keluar dan masuk ke dalam kita untuk pendispensian diri-Nya ke dalam diri kita.

Dalam Yohanes 6, Tuhan Yesus memberi tahu orang-orang bahwa Ia adalah roti hidup untuk dimakan (ay. 48, 57). Banyak orang Yahudi tidak mengerti hal ini. Mereka mengatakan bahwa perkataan ini keras (6:60). Lalu Tuhan Yesus melanjutkan untuk memberi tahu murid-murid, "Rohlah yang memberi hidup (hayat)" (Yoh. 6:63). Bukan daging yang memberi hayat, tetapi Roh itulah yang memberi hayat. Ini seperti mengatakan bahwa bukan sapi yang besar itu yang memberi kita hayat sapi, tetapi susu sapi. Bagi seorang anak kecil, memakan seekor sapi yang besar itu mustahil. Agar seorang bayi kecil dapat menikmati seekor sapi yang besar, ia perlu minum susu sapi. Sapi mengalirkan susu dan susu ini merawat bayi itu. Daging sama sekali tidak berguna tetapi Rohlah yang memberi hidup. Yesus adalah perwujudan Allah dan Roh itu adalah aliran Allah. Bersama dengan pohon ada sungai dan hersama dengan Yesus ada, Roh itu.

Dalam Yohanes 7 Tuhan Yesus mengatakan bahwa barangsiapa haus baiklah ia datang kepada-Nya dan minum. Jika kita minum Dia, aliran-aliran air hayat akan mengalir keluar dari dalam kita. Ayat 39 memberi tahu kita bahwa yang dimaksudkan-Nya adalah "Roh itu". Roh itu akan mengalir keluar dari Yesus untuk diminum orang-orang yang percaya kepada-Nya. Ketika kita minum Roh itu, kita menikmati sungai, dan aliran-aliran air hidup akan mengalir keluar dari lubuk kita. Dalam Keluaran, batu yang terbelah itulah yang mengeluarkan air hayat (17:6). Kemudian Mazmur 46:5 memberi tahu kita bahwa ada sungai yang membuat kota Allah gembira. Kota Allah dalam Mazmur menggambarkan gereja. Ada sungai yang membuat gereja gembira. Apa yang membuat kita gembira dalam gereja adalah sungai itu. Sungai itu adalah Yesus yang mengalir sama seperti susu yang adalah sapi yang mengalir. Kita semua seperti bayi yang baru lahir yang minum sungai susu (1 Ptr. 2:2). Sungai ini membuat kita semua gembira. Puji Tuhan, karena ada sungai yang membuat kota Allah bahagia. Mazmur 65:10a menunjukkan bahwa sungai ini adalah sungai Allah. Sungai dalam Kejathan 2 adalah sungai Allah.

Secara positif, Allah adalah seperti seekor sapi yang besar. Ia adalah sumber hayat, dan susu surgawi keluar dari sapi yang besar ini untuk menjadi sebuah sungai susu. Inilah sungai sapi itu. Demikian juga sungai Allah kita penuh dengan air hayat untuk memuaskan kita, meleraikan dahaga kita, dan membuat kita gembira. Ketika minum, sungai ini, sering kali kita mendapati diri kita penuh dengan kenikmatan hingga lupa diri. Mazmur 36:9 mengatakan bahwa kita minum dari sungai kesenangan Allah. Dalam Yehezkiel 47, air dihasilkan dari bait Allah (ay. 1), yang akhirnya menjadi sebuah sungai yang dalam. (ay. 5). Ke mana saja sungai itu mengalir, segala sesuatu menjadi hidup. Aliran sungai ini membuat segala sesuatu menjadi hidup. Ketika sungai ini mengalir ke negara tertentu, maka sungai ini membuat negara itu hidup, membuat kota demi kota dalam negara itu hidup. Puji Tuhan atas sungai yang membawa hayat ke mana saja ia mengalir!

Dalam, Injil Yohanes Tuhan Yesus memberi tahu perempuan Samaria, "Tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selamalamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam. dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal" (4:14). Lalu Tuhan Yesus memberi tahu kita bahwa barangsiapa minum Dia, dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup (7:38). "Aliran-aliran air hidup" adalah banyak aliran dari berbagai aspek hayat (cf Rm. 15:30; 1 Tes. 1:6; 2 Tes. 2:13; Gal. 5:22-23) dari satu-satunya "sungai air hayat" (Why. 22:1), yang adalah "Roh hayat" Allah" (Rm. 8:2).

Pada akhir Perjanjian Baru diwahyukan bahwa dalam Yerusalem Baru ada satu sungai air hayat (Why. 22:1). Sungai itu adalah perampungan semua sungai dalam Alkitab. Sungai itu dimulai dalam Kejadian 2 dan dirampungkan dalam Wahyu 22. Sungai itu adalah sungai Allah yang mengalirkan hayat ilahi. Sungai itu adalah Roh itu. Sumber (mata air) hayat adalah Allah Bapa, pancarannya adalah Putra yang adalah perwujudan hayat, perwujudan sumber (mata air), dan Roh itu adalah aliran hayat sebagai sungai yang mengaliri kita. Inilah pendispensian diri Allah sendiri ke dalam kita. Ketika minum sungai ilahi, kita menerima aliran, pancaran, dan sumber Allah Tritunggal. Dengan demikian, Allah Tritunggal mendispensikan diri-Nya sebagai hayat ke dalam diri kita.

Kita minum sungai yang mengalir keluar dari pancaran dan pancaran ini adalah perwujudan dari sumber. Allah Bapa diwujudkan dalam Putra, Putra dialirkan oleh Roh itu, dan Roh itu mengaliri kita sebagai air hidup untuk kenikmatan kita. Inilah pendispensian diri Allah ke dalam kita untuk membuat kita menjadi sama seperti diri-Nya. Bapa ilahi memiliki banyak anak ilahi dalam satu keluarga ilahi. Inilah kehidupan gereja, yang merupakan hasil pendispensian Allah Tritunggal sendiri sebagai hayat ke dalam kita dalam ekonomi ilahi-Nya. Puji Tuhan untuk ekonomi yang demikian ilahi! Puji Tuhan untuk pohon hayat! Dan puji Tuhan untuk sungai yang mengalir!