PELEPASAN KEMULIAAN KEILAHIAN KRISTUS
I. Melalui peremukan kulit luar keinsanian-Nya oleh kematian-Nya - Yoh. 12:24 :
A. Dia adalah sebiji gandum yang unik yang berisikan hayat ilahi-Nya dan kemuliaan ilahi-Nya.
B. Ketika kulit luar keinsanian-Nya diremukkan melalui ketersaliban-Nya, yang adalah baptisan yang dilalui-Nya (Luk.12:50), segala elemen keilahian-Nya - hayat ilahi-Nya dan kemuliaan ilahi-Nya - dilepaskan.
C. Dalam hal ini, kematian-Nya dianggap sebagai kematian yang melepaskan hayat sekaligus melepaskan kemuliaan-Nya.
II. Pelepasan kemuliaan keilahian Kristus adalah pemuliaan-Nya oleh Bapa dengan kemuliaan ilahi (Yoh. 12:23-24) dalam kebangkitan-Nya melalui kematian-Nya (Luk. 24:26).
III. Dalam kehidupan insani-Nya, Kristus berdoa agar Bapa-Nya memuliakan Dia (Yoh. 17:1), dan Bapa menjawab doa-Nya (Kis. 3:13).
IV. Pemuliaan yang sedemikian adalah suatu perpindahan, memindahkan Kristus dari tahap inkarnasiNya ke dalam tahap inklusi-Nya, yang di dalamnya Dia, sebagai Adam yang akhir, menjadi Roh pemberi-hayat dalam kebangkitan.
Catatan : Dimuliakannya Kristus merupakan suatu perubahan yang drastis bukan hanya dalam, kondisi dan situasi-Nya, tetapi juga perubahan dalam sifat, elemen, dan esens-Nya.
Doa : Tuhan, kami menjunjung Engkau sebagai Yang dimuliakan. Kami mengapresiasi dan memustikakan dimuliakannya Engkau. Haleluya, Kristus kita adalah Kristus yang dimuliakan! Tuhan, beri kami hati untuk mencari Engkau sebagai Yang dimuliakan, dan anugerahi kami dengan perkataan terbaru untuk menyampaikan apa yang telah Engkau tunjukkan kepada kami. Tuhan, dalam hal ini, kami perlu Engkau dan kami bersandar kepada-Mu. Datanglah Tuhan, untuk leblh banyak menyingkapkan kepada kami misteri mengenai dimuliakannya Engkau. Amin.
Subjek utama dari berita-berita ini adalah hasil dari dimuliakannya Kristus oleh Bapa dengan kemuliaan ilahi. Dalam Yohanes 17, Tuhan Yesus berdoa kepada Bapa-Nya mengenai pemuliaan, "Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau" (ay. 1). Ketika membicarakan pemuliaan orang tertentu, yang kita maksudkan adalah memuji atau menjunjung tinggi orang tersebut. Tetapi ini bukan apa yang dilakukan Allah Bapa terhadap Kristus dan ini bukan apa yang diminta Tuhan Yesus kepada Bapa-Nya. Sebaliknya, Tuhan berdoa agar Bapa memuliakan Putra sehingga Bapa dapat dimuliakan dalam pemuliaan Putra. Doa Kristus yang penting, yaitu agar Allah Bapa memuliakan Dia, dilakukan sesaat sebelum Dia disalibkan. Segera setelah berdoa demikian, Ia ditangkap dan disalibkan sehingga Ia dapat dimuliakan.
Subjek dari berita sebelumnya adalah kemuliaan keilahlan Kristus yang tersembunyi. Dalam berita itu, kita melihat bahwa Kristus sebagai Yang kedua dari Allah Tritunggal memiliki kemuliaan ilahi sejak kekekalan yang lampau dan melalui inkarnasi-Nya, keinsanian-Nya, daging-Nya, menjadi kulit luar untuk menyembunyikan kemuliaan keilahian-Nya. Dalam berita ini, kita akan membahas pelepasan kemuliaan keilahian Kristus. Kita semua perlu melihat bahwa kemuliaan keilahian Kristus yang tersembunyi dalam kulit luar daging-Nya telah dilepaskan.
I. MELALUI PEREMUKAN
KULIT LUAR KEINSANIAN-NYA
OLEH KEMATIAN-NYA
Kemuliaan keilahian Kristus dilepaskan melalui peremukan kulit luar keinsanian-Nya oleh kematian-Nya (Yoh. 12:24). Kematian Kristus adalah suatu pelepasan. Dalam Yohanes 12:23 Tuhan Yesus berkata, "Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan." Bagi Dia, dimuliakan bukanlah ditinggikan tetapi dilepaskan. Hal ini dengan jelas ditunjukkan oleh ayat berikut ini, "Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah." Inilah pelepasan-Nya.
Jikalau sebutir biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja dan tidak seorang pun yang tahu apa yang ada dalam biji tersebut. Tetapi ketika biji gandum itu masuk ke dalam kematian, isinya lalu dilepaskan. Dalam Yohanes 12:24, Tuhan Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai sebutir biji gandum. Ketika la hidup dalam keinsanianNya selama tiga puluh tiga setengah tahun, tidak seorang pun, termasuk ibu-Nya, mengenal siapakah Dia. Orang lain menganggap Dia tidak lebih dari seorang manusia biasa, tetapi tidak seorang pun tahu siapakah Dia sesuai dengan kandungan batin-Nya. Ia adalah seorang manusia di dalam daging, tetapi ada Yang lain dalam diri manusia ini. Yang lain ini adalah Allah sendiri, dan Allah adalah kemuliaan. Karena Allah sebagai kemuliaan tersembunyi di dalam daging-Nya yang berfungsi sebagai kulit luar, Ia perlu pelepasan yang dibicarakan dalam Yohanes 12:24. Untuk dilepaskan agar tidak tetap, sebiji saja, sebutir biji gandum itu harus jatuh ke dalam tanah dan mati. Melalui kematian Tuhan, kemuliaan keilahian-Nya dilepaskan.
A. Sebutir Biji Gandum yang Unik
yang Berisikan Hayat Ilahi-Nya.
dan Kemuliaan Ilahi-Nya
Tuhan Yesus adalah biji yang unik yang berisikan hayat ilahi-Nya dan kemuliaan ilahi-Nya. Berkenaan dengan Yohanes 12:24, kita sering kah membicarakan mengenai pelepasan hayat ilahi. Sekarang, kita perlu melihat bahwa kemuliaan ilahi Kristus dilepaskan bersamaan dengan hayat ilahi-Nya. Ketika kita menerima Kristus, kita menerima hayat-Nya, dan hayat ini adalah kemuliaan-Nya.
B. Kulit Luar Keinsanian-Nya Diremukkan
Melalui Ketersaliban-Nya, dan
Segala Elemen Keilahian-Nya Dilepaskan
Ketika kulit luar keinsanian Tuhan diremukkan melalui ketersaliban-Nya, yaitu baptisan yang dilalui-Nya, semua elemen keilahian-Nya-hayat ilahi-Nya dan kemuliaan ilahi-Nya -- dilepaskan. Dalam. Lukas 12:50 Tuhan Yesus berkata, "Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!" Baptisan Tuhan adalah ketersaliban-Nya. Ia damba untuk dibaptis, disalibkan, agar dilepaskan. Ia tertekan, gelisah, dalam daging-Nya, dan Ia damba untuk dilepaskan melalui baptisan kematian-Nya. Melalui peremukan kulit luar keinsanian-Nya oleh kematian-Nya, kemuliaan- Nya dilepaskan. Pelepasan-Nya adalah dimuliakannya Dia. Kita perlu memuji Kristus untuk kematian-Nya karena kematian-Nya adalah pelepasan-Nya.
C. Kematian yang Melepaskan Hayat
Menurut pengertian yang dijelaskan di atas, kematianNya dianggap sebagai kematian yang melepaskan hayat sekaligus melepaskan kemuliaan-Nya. Kita tidak dapat memisahkan hayat-Nya dari kemuliaan-Nya. Ketika hayat-Nya dilepaskan, kemuliaan-Nya dilepaskan juga.
II. DIMULIAKANNYA KRISTUS
OLEH BAPA DENGAN KEMULIAAN ILAHI
Pelepasan kemuliaan keilahian Kristus adalah dimuliakannya Dia oleh Bapa dengan kemuliaan ilahi (Yoh. 12:2324) dalam kebangkitan-Nya melalui kematian-Nya (Luk. 24:26).
Yohanes 7:39b mengatakan, "Roh itu belum ada (belum datang-LAI) karena Yesus belum dimuliakan." Banyak pembaca Alkitab berpendapat bahwa ayat ini akan lebit mudah dipahami jika tidak menggunakan kata dimuliakantetapi dibangkitkan, sehingga menjadi "Roh itu belum ada karena Yesus belum dibangkitkan." Tetapi ayat tersebut tidak mengatakan "belum dibangkitkan"; ayat tersebut mengatakan "belum dimuliakan". Tetapi, dimuliakan sesungguhnya mengacu kepada dibangkitkan,karena Tuhan dimuliakan ketika Ia dibangkitkan. Dalam Lukas 24:26 Tuhan berkata tentang diri-Nya, "Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaanNya?" Ini mengacu kepada kebangkitan-Nya (ay. 46), yang membawa Dia masuk ke dalam kemuliaan (1 Kor. 15:43a; Kis. 3:13a, 15a). Bagi Kristus, masuk ke dalam kemuliaanNya, masuk ke dalam pemuliaan-Nya adalah masuk ke dalam kebangkitan-Nya. Ini berarti bahwa Ia dimuliakan dalam kebangkitan-Nya. Kebangkitan-Nya adalah pemuliaanNya.
III. KRISTUS BERDOA
AGAR BAPA MEMULIAKAN DIA
Dalam kehidupan insani-Nya, Kristus berdoa agar BapaNya memuliakan Dia (Yoh. 17:1) dan Bapa menjawab doaNya (Kis. 3:13). Subjek dari doa Kristus yang penting dalam. Yohanes 17 adalah pemuliaan-Nya oleh Bapa. Kisah Para Rasul 3:13 mengatakan, "Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus berpendapat, bahwa Ia harus dilepaskan." Inilah jawaban Bapa terhadap doa Kristus dalam Yohanes 17. Tuhan Yesus berdoa agar Bapa memuliakan Dia, dan Bapa menjawab Dia dengan membangkitkan-Nya.
Kisah Para Rasul 3:13 menggunakan pemyataan Allah Abraham, Ishak dan Yakub, yang mengindikasikan bahwa Allah adalah Allah kebangkitan. Pernyataan yang sama digunakan dalam Matius 22, yaitu ketika orang-orang Saduki berdebat dengan Tuhan Yesus mengenai kebangkitan. Dalam jawaban- Nya kepada orang-orang Saduki, Ia berkata, "Tetapi tentang kebangkitan orang-orang mati, tidakkah kamu baca apa yang difirmankan Allah, ketika Ia bersabda : Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup" (ay. 31-32). Di sini Tuhan seolah-olah berkata, "Allah adalah AlInh yang hidup. Sebagai Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Ia adalah Allah orang hidup. Jika Anda mengatakan bahwa kebangkitan itu tidak ada, maka Abraham, Ishak dan Yakub akan tetap berada dalam kubur. Tetapi Allah adalah Allah kebangkitan dan ketiga bapa leluhur ini tidak akan tetap mati tetapi akan dibangkitkan menjadi hidup." Karena Allah adalah Allah orang-orang hidup yang disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, maka Abraham, Ishak dan Yakub yang mati akan dibangkitkan.
Menurut pemikiran Perjanjian Baru, kebangkitan adalah suatu pelepasan dalam hayat, dan pelepasan dalam hayat ini adalah perkara pemuliaan. Sesaat sebelum Ia disahbkan, Tuhan Yesus berdoa bukan agar Bapa membangkitkan Dia tetapi agar Bapa memuliakan Dia. Seperti yang telah kami tunjukkan, Bapa menjawab doa yang berkenaan dengan pemuliaan ini melalui membangkitkan Tuhan Yesus. Karenanya, pemuliaan sinonim, dengan kebangkitan. Tetapi pemuliaan bukan untuk kebangkitan; sebaliknya, kebangkitan adalah untuk pemuliaan. Kebangkitan adalah sebab dan pemuliaan adalah akibat, hasil.
IV. PEMULIAAN
MEMINDAHKAN KRISTUS DARI TAHAP
INKARNASI-NYA KE DALAM TAHAP INKLUSI-NYA
Pemuliaan yang sedemikian adalah suatu pemindahan, memindahkan Kristus dari tahap inkarnasi-Nya ke dalam tahap inklusi-Nya, di mana Ia sebagai Adam yang akhir, menjadi Roh pemberi-hayat dalam kebangkitan.
Jika kita memuliakan orang tertentu dalam arti memuji dan menjunjung tinggi Dia, pemuliaan semacam ini tidak akan memindahkan dia. Tidak peduli seberapa banyak dia dimuliakan melalui ditinggikan dan dipuji, dia akan tetap sama. Tetapi pemuliaan Allah terhadap Kristus memindahkan Kristus dari satu tahap ke tahap yang lain. Ia berada dalam tahap pertama, tahap inkarnasi, tetapi ia dipindahkan. keluar dari tahap tersebut masuk ke dalam tahap kedua, tahap inklusi. Dalam tahap inklusi, Ia sebagai Adam yang akhir menjadi Roh pemberi-hayat dalam kebangkitan.
Dimuliakan-Nya Kristus adalah perubahan yang drastis bukan hanya dalam kondisi dan situasi-Nya tetapi juga dalam sifat, elemen, dan esens-Nya. Jika kita memuliakan seseorang dengan jalan meninggikan dia, kita dapat mengubah kondisi dan situasinya, tetapi kita tidak mengubah sifat, elemen, dan esensnya. Karena sekarang ia dipuji dan bukannya dihina, kondisi dan situasinya berubah, tetapi sifat, elemen, dan esensnya tetap sama. Pemuliaan Kristus sangatlah berbeda. Kita perlu melihat bahwa dimuliakanNya Kristus oleh Bapa adalah perubahan yang drastis bukan sekadar dalam kondisi dan situasi tetapi juga dalam sifat-Nya, elemen-Nya, dan esens-Nya. Inilah pelepasan kemuliaan keilahian Kristus melalui baptisan kematian-Nya di atas salib.