KRISTUS YANG DISALIBKAN, KEKUATAN ALLAH DAN HIKMAT ALLAH (2)
Pembacaan Alkitab: 1Kor. 1:18-25
Dalam berita ini kita akan membahas lebih lanjut bagaimana Kristus yang disalibkan adalah kekuatan dan hikmat Allah. Dalam 1:23-24 Paulus mengatakan, ”Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: Untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.”
I. KRISTUS YANG DISALIBKAN
Sebagai kaum beriman di dalam Kristus, kita semua wajib menjawab pertanyaan ini: Mengapa Kristus perlu disalibkan? Dalam pemberitaannya kepada orang-orang Yunani yang filosofis di Korintus, Paulus tentu sudah menunjukkan mengapa Kristus perlu disalibkan. Boleh jadi jawaban pertanyaan ini yang paling umum ialah Kristus harus disalibkan agar Allah dapat menyelamatkan kita. Allah tidak dapat menyelamatkan kita tanpa penyaliban Kristus. Menurut Perjanjian Baru, Allah tidak berdaya menyelamatkan siapa pun tanpa salib Kristus. Marilah kita membahas secara singkat mengapa demikian.
Dalam alam semesta terdapat berbagai macam problem. Ada problem Iblis, dunia, dan dosa. Ada pula problem manusia. Manusia yang diciptakan Allah untuk tujuan-Nya telah jatuh dan berdosa. Problem lain yang berkaitan dengan manusia adalah daging dan hayat alamiah. Tambahan pula, segala sesuatu dalam alam semesta telah menjadi usang, yaitu telah rusak, busuk. Barang yang tidak bisa rusak, tidak mungkin menjadi usang. Keusangan menunjukkan kekurangan hayat. Bila sebuah pohon bertumbuh, ia mempunyai hayat. Tetapi bila ia mati, itu berarti kekurangan hayat. Karena Iblis, dunia, dan manusia (dengan dosa, daging, dan hayat alamiah), maka alam semesta, termasuk langit dan bumi, telah menjadi usang, bobrok, rusak dan penuh kematian.
Selain semua problem ini ada pula problem perintah-perintah dan peraturan-peraturan yang diberikan oleh Allah untuk kehidupan manusia. Sebab itu, salib menanggulangi problem Iblis, dunia, dosa, manusia, daging, hayat alamiah, keusangan, dan peraturan-peraturan. Agar problem-problem tersebut dapat dipecahkan, maka Kristus perlu disalibkan.
Sebelum Kristus dapat disalibkan untuk memecahkan semua problem ini, Ia harus mengenakan sifat manusia. Ini berarti Ia harus menjadi seorang manusia, satu makhluk ciptaan. Ia mengenakan sifat manusia, bukan saja agar dapat mati bagi kita dan mencucurkan darah-Nya untuk dosa-dosa kita, tetapi juga agar dapat memecahkan problem Iblis, dunia, dosa, manusia yang telah jatuh, hayat alamiah, daging, keusangan, dan peraturan-peraturan.
Sekalipun Kristus boleh menolak kematian salib, Ia tetap disalibkan. Menurut pengertian manusia, Kristus di hukum mati oleh orang lain. Namun, pengertian-Nya tentang kematian-Nya berbeda. Dalam Yohanes 10:11 Tuhan Yesus berkata, ”Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” Tentang nyawa-Nya, Tuhan berkata lebih lanjut dalam Yohanes 10:18, ”Tidak seorang pun mengambilnya dari Aku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali.” Nyawa-Nya tidak diambil dari Dia. Sebaliknya, Dialah yang memberikan nyawa-Nya bagi kita. Jika Kris-tus tidak rela memberikan nyawa-Nya, tidak mungkin orang dapat menghukum mati Dia. Kristus tidak berperang untuk membela diri, melainkan menerima kematian salib itu. Ia rela disalibkan demi menggenapkan penebusan dan memecahkan semua problem dalam alam semesta. Kristus yang disalibkan ini adalah batu sandungan bagi mereka yang menuntut tanda-tanda, dan kebodohan bagi mereka yang mencari hikmat. Tetapi bagi kita yang percaya, Ia adalah kekuatan dan hikmat Allah.
II. KEKUATAN ALLAH
Pada salib Kristus kita nampak kekuatan Allah. Untuk mengalahkan Iblis, dunia, dosa, manusia yang telah jatuh, daging, hayat alamiah, ciptaan lama, dan peraturan-peraturan, diperlukan kekuatan Allah. Kekuatan mana lagi yang lebih hebat daripada Kristus yang disalibkan sebagai kekuatan Allah? Kekuatan mana lagi yang dapat menghancurkan Iblis atau mengalahkan dunia? Hanya Allah yang memiliki kekuatan untuk menggenapkan perkara-perkara tersebut. Kekuatan ini bukan kekuatan mengerjakan sesuatu dengan berkata, seperti halnya kekuatan Allah yang digunakan dalam penciptaan. Sebaliknya, itulah kekuatan penyaliban, kekuatan kematian Kristus yang ajaib. Ini berarti penyaliban Kristus menjadi kekuatan Allah. Kematian Kristus telah menjadi kekuatan Allah untuk menghancurkan Iblis, memecahkan problem dunia, menghapus dosa, dan mengakhiri manusia yang telah jatuh, daging, hayat alamiah, dan ciptaan lama. Dengan kekuatan ini Allah dapat pula memecahkan problem peraturan-peraturan. Melalui satu kematian, kematian Kristus, semua problem dalam alam semesta telah dibereskan. Jadi, Kristus yang disalibkan adalah kekuatan Allah untuk menghapus perkara negatif dan melaksanakan rencana-Nya.
III. HIKMAT ALLAH
Kristus yang disalibkan ini juga adalah hikmat Allah. Untuk menggenapkan perkara apa pun, kita perlu kekuatan dan hikmat. Kita telah menunjukkan bahwa hikmat adalah untuk perencanaan dan ketetapan, sedang kekuatan adalah untuk pelaksanaan, merampungkan apa yang telah direncanakan. Dalam ekonomi Allah, Kristus yang disalibkan adalah kekuatan dan hikmat Allah. Boleh jadi kita memiliki kekuatan tanpa memiliki hikmat atau jalan. Jika kita mempunyai kekuatan tanpa hikmat, kita akan menggunakan kekuatan kita secara bodoh. Sebab itu, kita perlu Kristus sebagai kekuatan dan hikmat kita.
Kristus yang disalibkan sebagai kekuatan dan hikmat Allah dapat diterapkan kepada problem kita dalam menghadapi temperamen kita. Kita semua diganggu oleh temperamen kita, tidak ada yang terkecuali. Siapa yang dapat berkata bahwa ia tidak pernah marah-marah? Setelah mengalami pertumbuhan hayat pada suatu taraf, kita mulai membenci temperamen kita dan rindu untuk terlepas darinya. Saya tahu ada beberapa saudari yang menjelang hari pernikahan mereka, ”berjanji” bahwa mereka tidak akan marah-marah lagi, khususnya terhadap suami mereka. Namun, ”janji” itu sering kali dilanggar. Tidak saja dalam kehidupan pernikahan, tetapi juga dalam banyak situasi dalam kehidupan sehari-hari, kita diganggu oleh temperamen kita.
Banyak orang Kristen yang mengasihi Tuhan dan menuntut Tuhan berdoa demikian, ”Tuhan Yesus, Engkau tahu betapa mudah aku marah-marah. Tuhan, Engkaulah Yehova Penyelamat. Aku mohon Engkau menyelamatkan aku dari dosa marah-marah ini. Oh Tuhan, lepaskan aku dari hal ini.” Sekalipun banyak yang telah berdoa demikian, tidak seorang pun yang dibebaskan dari temperamen mereka. Dalam diri kita sendiri, kita sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk mengalahkan temperamen kita, atau hikmat, cara, untuk mengatasinya. Kita mungkin mengira doa akan memberi kita kekuatan dan hikmat. Namun, ketika kita berdoa pun, kita tetap tidak memiliki kekuatan dan hikmat. Tetapi ketika kita berseru kepada nama Tuhan, menikmati Kristus, dan dipenuhi dengan Roh pemberi hayat, bebaslah kita dari problem temperamen kita. Dengan spontan kita akan mempunyai kekuatan untuk mengalahkan temperamen kita dan memiliki cara untuk menanggulanginya. Apakah kekuatan dan cara ini? Kematian Kristus. Hanya Kristus yang disalibkan adalah kekuatan dan hikmat kita untuk menanggulangi temperamen kita.
Kita pun dapat menerapkan Kristus yang disalibkan itu sebagai kekuatan dan hikmat Allah untuk kebutuhan kita akan kesabaran. Kita semua damba menjadi orang yang sabar. Tetapi saya belum pernah menjumpai seorang yang betul-betul sabar. Kita menghargai kesabaran dan kita damba menjadi orang yang sabar, tetapi kita tidak dapat sabar. Namun, ketika kita mengalami Kristus yang disalibkan, dengan otomatis kita mempunyai kesabaran. Kristus yang disalibkan ini menjadi kekuatan juga hikmat kita untuk bersabar. Hasilnya, kita mempunyai kekuatan dan jalan untuk bersabar. Sebenarnya, kita tidak berusaha untuk menjadi orang yang sabar, kita hanya bersabar melalui pengalaman kita atas Kristus yang disalibkan.
Kristus yang disalibkan dapat diterapkan pada segala macam pengalaman manusia. Lebih dari 40 tahun, kita selalu memberitakan Kristus dan Dia yang disalibkan, lain tidak. Di dalam Kristus yang disalibkan ini, terdapat unsur-unsur kebangkitan dan kenaikan. Jadi, ketika kita menikmati Kristus yang disalibkan, kita juga menikmati kebangkitan dan kenaikan-Nya. Kunci untuk mengalami kebangkitan dan kenaikan Kristus terdapat dalam ketersaliban Kristus. Ketersaliban adalah anak tangga menuju ke segala kekayaan Kristus. Salib adalah jalan untuk mengalami Kristus dan semua kekayaan-Nya. Di luar penyaliban Kristus, tidak ada pintu gerbang bagi kita untuk masuk ke dalam kekayaan Kristus.
Efesus 1:9 mengatakan tentang kerelaan Allah yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam diri-Nya sendiri. Dalam Efesus 3:11 Paulus mengatakan ”sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Selain itu, dalam Efesus 1:11 Paulus mengatakan bahwa Allah ”yang mengerjakan segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya.” Kristus yang disalibkan sebagai hikmat Allah bersangkutan dengan rencana Allah menurut kerelaan-Nya; juga menurut cara Allah menggenapkan kehendak-Nya. Rencana Allah menurut kerelaan-Nya dan cara-Nya untuk menggenapkan kehendak-Nya itu dalam dan rahasia. Namun, perkara-perkara yang dalam dan rahasia ini bisa diterapkan dalam pengalaman kita.
Kita telah nampak bahwa ketika kita mengalami Kristus yang disalibkan, Ia menjadi kekuatan maupun hikmat Allah bagi kita. Karena kita memiliki Kristus yang disalibkan sebagai hikmat Allah, maka kita tidak perlu mencari suatu jalan untuk melaksanakan kehendak Allah. Hanya dengan mengalami Kristus yang disalibkan, maka dengan spontan kita mempunyai jalan untuk melaksanakan kehendak Allah itu. Kita akan sangat berhikmat dalam melakukan kehendak Allah. Kita tidak perlu lagi membuat keputusan untuk melakukan kehendak Allah atau berketetapan untuk melakukannya. Melakukan kehendak Allah bahkan tidak tergantung pada doa kita, ”Tuhan, jadilah kehendak-Mu.” Orang Kristen di mana-mana berdoa agar kehendak Allah jadi. Dalam kebaktian Kristen, umumnya kaum beriman berdoa, ”Tuhan, bukan kehendak kami, melainkan kehendak-Mu yang jadi.” Tetapi tidak peduli berapa kali kaum beriman berdoa agar kehendak Allah jadi, kehendak Allah belum juga tergenapkan. Jika Anda ingin melakukan kehendak Allah, Anda tidak perlu berdoa dengan kata-kata, ”Jadilah kehendak-Mu.” Asalkan Anda mengalami Kristus yang disalibkan, Kristus akan menjadi hikmat Allah bagi Anda untuk menggenapkan rencana-Nya. Anda akan mempunyai hikmat Allah untuk melakukan kehendak-Nya. Boleh jadi pada saat itu Anda tidak mengerti hal ini. Tetapi jika Anda menoleh ke belakang beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian, Anda akan mengetahui bahwa Anda benar-benar mempunyai hikmat Allah untuk melaksanakan rencana-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Sudah tentu hal ini bukanlah hikmat alamiah Anda, melainkan Kristus yang disalibkan sebagai hikmat Allah.
Tatkala kita mengalami Kristus yang disalibkan itu, kita akan diakhiri. Segala hakiki kita, segala milik kita, dan segala sesuatu yang dapat kita lakukan, semuanya akan diakhiri sama sekali. Untuk diakhiri, Anda tidak perlu menyalibkan diri sendiri. Bahkan Anda pun tidak perlu menghitung diri Anda sudah mati. Anda telah diakhiri hanya dengan mengalami Kristus yang disalibkan. Sebenarnya, memang mustahil seseorang menyalibkan dirinya sendiri. Tetapi ketika kita berseru kepada nama Tuhan Yesus, pada saat kita menikmati Dia dan mengalami Dia, penyaliban-Nya akan mengakhiri kita. Segala hakiki kita akan diakhiri oleh Kristus yang disalibkan ini.
Penyaliban adalah jalan kita untuk dibebaskan dari daging, hayat alamiah, dan ciptaan lama. Kristus yang disalibkan ini bukan saja kekuatan, Ia pun jalan. Bagi orangorang Yahudi, Kristus yang demikian adalah suatu batu sandungan, dan bagi orang-orang Yunani Ia adalah kebodohan. Tetapi bagi kita yang telah dipanggil, Kristus yang disalibkan ini adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah agar kita dibebaskan dari semua perkara negatif. Kita bersyukur kepada-Nya dan memuji Dia karena kita sekarang berada dalam proses diselamatkan. Semakin kita diselamatkan melalui mengalami Kristus yang disalibkan, kita akan semakin menikmati Dia.