← Daftar isi 1 Korintus (1) · bab 7/21

KRISTUS YANG DISALIBKAN, KEKUATAN ALLAH DAN HIKMAT ALLAH (1)

Pembacaan Alkitab: 1Kor. 1:18-25

ROH PAULUS

DALAM 1 KORINTUS

Saudara Watchman Nee pernah memberi tahu kita bahwa yang paling penting dan berharga dalam membaca Alkitab ialah menjamah roh penulisnya. Tatkala Paulus menulis Surat 1Korintus, dalam rohnya pasti ada satu beban khusus. Maka, ketika kita membaca surat ini, kita perlu masuk ke dalam roh penulisnya.

Untuk menjamah roh Paulus dalam Surat 1 Korintus, kita perlu mengetahui sesuatu tentang latar belakang Paulus sendiri dan kaum beriman di Korintus. Paulus adalah seorang Yahudi agamawi yang khas, yang berbakti dengan mutlak bagi agama nenek moyangnya. Karena kemutlakannya bagi agama Yahudi, ia menentang Injil, nama Yesus, dan gereja. Sebagaimana kita ketahui, ketika ia menentang gereja, Tuhan Yesus mendatanginya, memanggilnya, memisahkannya, memberinya amanat, dan menyuruhnya memberitakan Kristus. Dalam ketaatan terhadap amanat Tuhan, Paulus benar-benar memberitakan Kristus.

Pada salah satu perjalanan ministrinya, ia mengunjungi kota Korintus, sebuah kota budaya di Yunani, tempat banyak ahli filsafat tinggal. Kepada orang-orang ini Paulus memberitakan Kristus Yesus. Ada beberapa orang Yunani yang filosofis di Korintus ini menerima firman yang Paulus beritakan, menerima Kristus, dan beroleh selamat. Ketika mereka dilahirkan kembali, mereka menerima karunia awal: hayat kekal dan Roh Kudus. Karunia-karunia awal ini ditaburkan ke dalam mereka sebagai benih-benih rohani. Namun, setelah menerima hayat ilahi dan Roh Kudus, mereka tidak hidup oleh karunia-karunia ini. Mereka tidak hidup oleh hayat ilahi dan Roh Kudus, malah masih tetap menempuh kehidupan menurut kebudayaan Yunani. Ini berarti mereka menempuh kehidupan hikmat dan filsafat, bukan kehidupan Kristus. Mereka hidup menurut filsafat mereka dan hikmat duniawi, bukan menurut hayat ilahi dan Roh Kudus.

Karena hikmat duniawi dari filsafat mereka, kaum beriman di Korintus mempunyai pikiran dan opini yang berbeda. Mereka mengatakan perkara yang berlainan dan memiliki kesukaan serta pilihan yang berbeda. Ada yang berkata, ”Aku suka Paulus,” yang lain mengatakan, ”Aku lebih suka Kefas,” masih ada yang lain berkata, ”Aku memilih Apolos.” Beberapa orang beriman Korintus bahkan berkata, ”Aku suka Kristus.” Opini-opini dan cara berbicara yang berlainan itu telah membuka pintu bagi banyak perkara jahat ke dalam kehidupan gereja, termasuk pertengkaran, perselisihan, percabulan, dan pendakwaan. Dalam aspek kehidupan pernikahan, juga terdapat kekacauan dan opini-opini yang berbeda. Ada yang mengatakan bahwa seorang saudara wajib meninggalkan istrinya, bila istrinya tidak mau percaya kepada Tuhan seperti Dia. Yang lain menentang hal ini. Jadi di antara kaum beriman di Korintus terdapat opini yang berbeda-beda. Sekalipun mereka adalah orang Kristen sejati yang telah menerima karunia-karunia ilahi, mereka tidak menempuh kehidupan orang Kristen, melainkan menempuh kehidupan orang Yunani. Mereka tidak menempuh kehidupan ilahi, melainkan menempuh kehidupan filsafat menurut hikmat duniawi mereka. Akibatnya terjadilah kekalutan di antara mereka. Inilah latar belakang Surat Kiriman ini.

Ketika Paulus menulis Surat Kiriman ini, ia berbeban memimpin orang-orang Kristen Korintus filosofis yang menyimpang itu kembali kepada Kristus. Kaum beriman itu telah diselewengkan oleh hikmat, filsafat, dan kebudayaan mereka. Jadi, roh Paulus berbeban membawa mereka kembali kepada Kristus yang ia persaksikan kepada mereka. Beban dalam roh Paulus ini khususnya tertampak jelas dalam dua pasal pertama dari surat ini.

KRISTUS YANG DISALIBKAN

Kedua pasal pertama dari 1 Korintus sangat sulit dipahami. Anda mungkin telah membaca pasal ini berkali-kali tanpa mengerti apa yang dibicarakan Paulus. Anda mungkin terkesan dengan banyak ayat yang berbeda namun belum dapat nampak butir utama Paulus. Butir utama dalam kedua pasal ini ialah bahwa dalam rohnya Paulus berusaha membawa kaum beriman filosofis yang diselewengkan itu kembali kepada Kristus. Sebab itu, dalam kedua pasal ini Paulus tidak menekankan Kristus yang telah bangkit atau naik ke surga. Sebaliknya, ia menekankan Kristus yang disalibkan. Dalam 2:2 ia berkata, ”Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.” Kepada orang-orang Korintus Paulus memberitakan Kristus yang disalibkan, Kristus yang dibunuh.

Kita telah menunjukkan bahwa cara yang terbaik untuk memecahkan problem di antara manusia adalah mengakhiri setiap orang yang terlibat. Namun, cara manusia memecahkan problem ialah berunding atau berkompromi. Sebaliknya, cara Allah bukan berunding, melainkan mengakhiri. Apabila setiap orang telah diakhiri, semuanya tidak bersuara lagi. Jalan terbaik untuk mendatangkan ketenangan dan kesederhanaan ialah memiliki Kristus yang telah disalibkan. Seolah-olah Paulus berkata kepada orang-orang Korintus, ”Aku bersaksi kepada kalian tentang Kristus yang telah disalibkan. Kali pertama aku datang kepada kalian, aku memberitakan kepada kalian tentang Kristus yang disalibkan. Kehidupan Tuhan di bumi berakhir dengan kematian di atas salib.”

Fakta telah disalibkannya Kristus mengandung banyak hal: Ia telah dibuang, ditolak, dan dikalahkan. Tidak seorang pun dapat disalibkan tanpa terlebih dulu ditolak dan dikalahkan oleh manusia. Melalui penyaliban, Kristus mengalami penolakan manusia. Ia sebetulnya dapat menghindari kematian di atas salib, tetapi Ia tidak berbuat demikian. Ia hanya dapat disalibkan karena Ia rela dibunuh. Penyaliban Kristus telah membuat alam semesta sunyi dan tenang, dan menyederhanakan keadaan alam semesta yang teramat rumit itu.

Dalam lubuk rohnya, Paulus damba memberi kesan yang mendalam kepada umat Kristen Korintus filosofis yang terselewengkan tentang Kristus yang disalibkan ini. Di antara orang-orang kudus terdapat keresahan-keresahan dan kesulitan-kesulitan. Banyak suara yang mengatakan perkara yang berbeda, ”Aku dari golongan Apolos,” ”Aku dari golongan Kefas,” ”Aku dari golongan Paulus,” ”Aku dari golongan Kristus.” Apakah yang dapat mendiamkan suara-suara ini? Paulus mengetahui bahwa mereka hanya dapat didiamkan oleh Kristus yang disalibkan. Sebab itu, dalam rohnya, Paulus berbeban untuk membawa kaum beriman kembali kepada Kristus yang telah ia beritakan dan persaksikan kepada mereka. Paulus dapat berkata, ”Kristus yang aku beritakan kepada kalian adalah Kristus yang tak bersuara, Kristus yang mau disalibkan tanpa berbicara sepatah kata pun. Ia rela dihina, ditolak, dan dimatikan. Inilah Kristus yang aku ministrikan kepada kalian ketika aku datang kepada kalian. Kini aku ingin kalian tahu bahwa Kristus yang demikian ini adalah kekuatan Allah. Hanya Kristus yang disalibkan inilah yang dapat menyelamatkan kalian. Kekuatan penyelamatan Allah bukan Kristus yang kuat, melainkan Kristus yang disalibkan, bukan Kristus yang berperang, melainkan Kristus yang telah dikalahkan.” Saya ulangi, roh Paulus ingin membawa orang Kristen filosofis yang bergumul itu, kembali kepada kesederhanaan dan kesunyian Kristus yang disalibkan.

Lagi pula, dalam 1:17 Paulus mengatakan bahwa ia memberitakan Injil ”bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia.” Dalam ayat ini hikmat perkataan mengacu kepada pemikiran filsafat. Dalam 2:1 Paulus berkata, ”Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, Saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang muluk atau dengan hikmat yang tinggi untuk menyampaikan rahasia Allah kepada kamu.” Secara harfiah, istilah Yunani yang diterjemahkan ”yang muluk” berarti yang tinggi dan baik. Paulus datang ke Korintus bukan untuk memamerkan perkataannya yang muluk, tinggi, dan baik, atau hikmat filsafat dalam pemberitaannya akan rahasia Allah. Sebaliknya, Paulus menghindari pemikiran filsafat dan perkataan yang muluk; ia memberitakan perkataan sederhana tentang salib. Perkataan tentang salib itu sederhana, tidak bersangkutan dengan perkataan yang muluk.

Tatkala Paulus meministrikan Kristus kepada orang-orang Korintus, ia tidak menggunakan hikmat dari filsafat, sebab ia mengetahui bahwa orang-orang Korintus adalah orang-orang yang filosofis, orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan filsafat dan dibesarkan di bawah pengaruhnya. Tujuan Paulus ialah membebaskan orang-orang Korintus itu dari filsafat di mana mereka dilahirkan. Paulus seolah-olah berkata, ”Kalian telah dilahirkan ke dalam hikmat filsafat dan duniawi. Tetapi aku datang kepada kalian bukan dengan filsafat, melainkan dengan Kristus dan salib. Aku tidak memberitakan Kristus menurut keindahan pemikiran filsafat kalian. Sebaliknya, aku memberitakan Kristus kepada kalian dengan cara yang sederhana, memberi tahu kalian bahwa Ia telah disalibkan. Kristus rela dihina dan ditolak. Ia menerima penolakan manusia. Tatkala Ia ditangkap, Ia tidak melawan. Ketika Ia dipaku di atas salib, Ia tidak berontak. Ia diam, sebab Ia rela disalibkan. Inilah Kristus yang kuberitakan kepada kalian.”

Pemberitaan Paulus mutlak berlawanan dengan prinsip filsafat Yunani. Menurut filsafat Yunani, pemberitaan Paulus tentang Kristus yang disalibkan tidak logis dan tidak filosofis. Di sini Paulus seolah-olah berkata kepada orang-orang Korintus, ”Pemberitaanku bukan menurut filsafat atau hikmat duniawi. Namun kalian menerima pemberitaanku dan kesaksianku, kalian telah diperkaya dalam Kristus atas segala ungkapan dan pengetahuan, dan oleh anugerah, kalian telah menerima karunia-karunia awal, yakni hayat ilahi dan Roh Kudus. Tetapi, kalian belum hidup menurut apa yang kalian terima dari Tuhan. Karunia-karunia awal yang kalian terima belum dikembangkan. Karunia-karunia itu belum bertumbuh besar. Sebaliknya, kalian masih berada dalam tingkat bayi. Kalian masih bayi dalam Kristus. Kini bebanku adalah membawa kalian kembali kepada Kristus yang disalibkan dan karunia-karunia awal. Kalian wajib melupakan kebudayaan Yunani, hikmat, dan filsafat kalian dan kembali kepada Kristus dan Dia yang disalibkan.” Inilah roh Paulus ketika menulis kedua pasal pertama dari 1Korintus. Melalui menulis dengan roh yang demikian, Paulus menunjukkan Kristus yang disalibkan kepada kaum beriman dan menyampaikan perkataan salib kepada mereka. Ia memberi tahu mereka bahwa Kristus yang disalibkan adalah kekuatan Allah untuk menyelamatkan kita dan hikmat Allah bagi penggenapan rencana-Nya.

Dalam berita ini kita akan membahas 1Korintus 1:18-25. Pengertian kita terhadap ayat-ayat ini tergantung pada pengertian yang tepat atas ketujuh belas ayat terdahulu. Ayat 1-9 merupakan pendahuluan Surat Kiriman ini. Dalam bagian pendahuluan ini Paulus membicarakan karunia-karunia awal dan hal berbagian dalam Kristus. Dalam ayat 10-17 Paulus selanjutnya menunjukkan bahwa Kristus itu tidak terbagi-bagi. Ia meminta kepada orang-orang kudus demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, agar semuanya mengatakan perkara yang sama, yakni Kristus dan salib, dan disenadakan dalam pikiran dan opini. Kemudian dalam ayat 18-25 Paulus menunjukkan kepada kita bahwa Kristus yang disalibkan adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.

SALIB KRISTUS

Ayat 18 mengatakan, ”Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” Kata ”sebab” pada permulaan ayat ini menunjukkan bahwa ayat 18 adalah keterangan ayat 17. Dalam ayat 17 Paulus mendeklarasikan, ”Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itu pun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia.” Salib Kristus adalah sentral dalam perampungan ekonomi Perjanjian Baru Allah, yang menghasilkan gereja melalui penebusan Kristus. Paulus memberitakan Kristus yang disalibkan (ayat 23; 2:2; Gal. 3:1) dan bermegah atas salib Kristus (Gal. 6:14). Dia tidak memberitakan sunat dan hukum Taurat yang diperjuangkan oleh orang-orang Yahudi dan para penganut agama Yahudi (Gal. 3:11; 5:11; 6:12-13), dia juga tidak memberitakan filsafat yang dipromosikan oleh orang-orang Yunani dan beberapa orang beriman kafir (Kol. 2:8, 20-21). Salib Kristus telah menyingkirkan peraturan hukum Taurat (Ef. 2:15; Kol. 2:14), dan kita, orang-orang yang beriman, juga telah mati terhadap filsafat, suatu unsur dunia (Kol. 2:20). Tetapi Iblis menghasut para agamawan Yahudi dan filsuf-filsuf Yunani untuk menyebarkan berbagai ajaran hikmat duniawi guna menyia-nyiakan salib Krisus. Atas hal ini rasul Paulus sangat waspada. Perpecahan di antara kaum beriman di Korintus, sebagian besar berasal dari latar belakang agama Yahudi dan filsafat Yunani. Ketika rasul menanggulangi hal ini, dia khusus menekankan Kristus dan salib-Nya. Jika orang mengganti opini agama dan hikmat filsafat dengan Kristus, dan membiarkan salib Kristus bekerja menanggulangi daging yang terkait dengan latar belakang apa pun, perpecahan akan tersingkirkan. Kesenangan alamiah dan hikmat yang dijunjung tinggi manusia, tidak dapat berdiri di hadapan Kristus dan salib-Nya.

PERKATAAN TENTANG SALIB

Paulus tidak menghendaki salib Kristus menjadi sia-sia karena pemberitaan hikmat perkataan, yaitu pemikiran filsafat. Kristus tidak mengutus Paulus untuk memberitakan Injil dengan hikmat perkataan. Paulus enggan memberi hati kepada pemikiran filsafat. Ia khawatir salib Kristus menjadi sia-sia. Ia mengetahui bahwa perkataan salib itu memang kebodohan bagi mereka yang binasa. Mereka menganggap perkataan tentang salib itu terlalu sederhana dan menganggapnya suatu kebodohan.

Perkataan salib adalah penyataan, penuturan, dan pemberitaan salib. Pemberitaan ini dipandang hina, dianggap sebagai kebodohan oleh orang-orang yang sedang binasa, tetapi dihargai dan diterima sebagai kekuatan Allah oleh orang-orang yang sedang beroleh selamat. Ketika Paulus menunaikan ministrinya, ia menekankan salib sebagai sentral penyelamatan Allah (Gal. 2:20; 3:1; 5:11, 24; 6:14; Ef. 2:16; Flp. 2:8; 3:18; Kol. 2:14).

Banyak profesor dan orang terpelajar hari ini menganggap perkataan salib benar-benar bodoh. Bagi mereka, membicarakan Kristus yang dibuang, ditolak, dan disalibkan adalah hal yang bodoh. Mereka tidak ingin mendengar tentang Kristus yang dibunuh tanpa membela diri. Bila orang mengatakan tentang Kristus yang disalibkan, mereka akan berkata, ”Itu suatu kebodohan, dan jangan mengatakan hal itu kepadaku. Jika seseorang menghina aku, aku akan melawannya. Jika seseorang menolak aku, aku akan bertarung. Selain itu, jika seseorang mencoba membunuh aku, aku akan melindungi diri dan memukulnya lebih dahulu. Bahkan hukum negara pun menjamin hak untuk melindungi diri. Jangan bercerita tentang Kristus yang disalibkan kepadaku.” Jadi, perkataan tentang salib tetap merupakan kebodohan bagi mereka yang binasa, terutama bagi orang-orang yang filosofis.

SEDANG DISELAMATKAN

Dalam ayat 18 Paulus mengatakan tentang ”Kita yang (sedang) diselamatkan.” Saya mengapresiasi ungkapan ”sedang diselamatkan.” Jika seseorang bertanya kepada Anda apakah Anda telah diselamatkan, Anda boleh menjawab, ”Aku sedang dalam proses diselamatkan. Aku sudah diselamatkan sebagian, sampai taraf tertentu. Tetapi aku belum diselamatkan sepenuhnya. Akan tetapi aku sedang beroleh selamat.” Bagi kita yang berada dalam proses diselamatkan, perkataan salib adalah kekuatan Allah.

MEMBINASAKAN HIKMAT

ORANG YANG BERHIKMAT

Dalam ayat 19 Paulus melanjutkan, ”Karena ada tertulis: ’Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan.’” Sekali lagi Paulus membuka ayat ini dengan perkataan ”karena”, menunjukkan bahwa ayat ini merupakan keterangan perkataan sebelumnya. Di sini Paulus menunjukkan bahwa Allah tidak mempedulikan hikmat orang berhikmat atau kearifan orang bijak. Sebaliknya, Ia akan membinasakan hikmat ini dan melenyapkan kearifan ini.

Maksud Paulus dalam ayat 19 ialah menunjukkan secara khusus kepada orang Yunani yang filosofis. Paulus seolah-olah berkata, ”Kalian orang Yunani mengira diri kalian berhikmat dan bijak. Kalian tidak tahu bahwa Allah akan membinasakan hikmat orang berhikmat dan melenyapkan kearifan orang-orang bijak. Kalau kalian meng-anggap diri kalian berhikmat, Allah akan membinasakan hikmat kalian. Jika kalian menganggap diri kalian bijak, Allah akan melenyapkan kearifan kalian. Sungguh berbahaya menganggap diri kalian berhikmat atau bijak, sebab kalian akan menanggung risiko dibinasakan oleh Allah atau dilenyapkan oleh Dia.”

Dalam ayat 20 Paulus mengajukan sejumlah pertanyaan, ”Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan?” Di manakah orang berhikmat hari ini? Apakah mereka di Yunani? Di Selandia Baru? Di Amerika? Di Taiwan? Pada umumnya bangsa yang berlatar belakang kebudayaan tertentu menganggap dirinya sebagai orang-orang yang paling berhikmat dan berfilsafat. Boleh jadi orang-orang demikian memang lebih berhikmat daripada orang lain, tetapi mereka tidak lebih berhikmat daripada Allah di surga. Dalam kehidupan gereja, kita tidak boleh mempraktekkan hikmat tertentu. Lagi pula, dalam kehidupan gereja, kita tidak boleh menjadi ahli Taurat atau pembantah. Namun, ada pemimpin-pemimpin di tempat tertentu yang bangga karena mengira orang muda yang mereka latih menjadi ahli-ahli Taurat dan pembantah-pembantah. Tetapi Alkitab bertanya, ”Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini?” Sesungguhnya Allah membuat hikmat dunia itu menjadi suatu kebodohan.

KEBODOHAN PEMBERITAAN

Dalam ayat 21 Paulus melanjutkan, ”Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmat, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.” Di sini pemberitaan ini berlainan dengan memberitakan. Pemberitaan adalah sarana untuk meministrikan firman. Pemberitaan di sini adalah hal-hal yang diberitakan, yaitu berita. Allah berkenan melalui kebodohan pemberitaan ini, hal-hal yang diberitakan ini, menyelamatkan mereka yang percaya.

Dalam ayat ini Paulus menyebutkan kebodohan pemberitaan. Dalam pembicaraan dan tulisan saya, saya sengaja menggunakan ungkapan-ungkapan yang sederhana. Orang lain pernah menganjuri saya jangan demikian. Mereka berkata bahwa penggunaan ungkapan yang sederhana tidak bisa menarik orang-orang yang berpendidikan. Namun, saya tidak mau menggunakan ungkapan-ungkapan yang indah-indah. Itu bukan memberitakan Kristus atau salib. Dalam memberitakan Kristus dan salib, kita harus menggunakan istilah dan ungkapan-ungkapan sederhana. Kita bukan orang yang memberitakan pemikiran-pemikiran yang muluk-muluk. Jadi, kita harus mencontoh teladan Yohanes dalam Injilnya. Tulisannya sangat sederhana. Misalkan, Yohanes 1:1 mengatakan, ”Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Dalam ayat 4 Yohanes berkata, ”Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” Dalam ayat 14 ia hanya berkata, ”Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita.”

Dalam memberitakan Kristus dan salib kepada orang-orang filosofis, Paulus berbicara secara sederhana. Menurut opini kita, seharusnya ia menggunakan pengetahuannya, mengeluarkan perkataan-perkataan dari pemikiran filsafat yang muluk-muluk. Namun, Paulus sengaja menghindari hal ini. Tatkala ia pergi ke Korintus untuk memberitakan Kristus dan salib-Nya, ia memilih untuk tidak mengetahui apa pun tentang tutur kata yang muluk-muluk. Sebaliknya, ia menggunakan ungkapan-ungkapan yang sederhana dan singkat yang mungkin dianggap sebagai kebodohan oleh orang-orang Yunani yang filosofis itu. Namun, Paulus mengatakan bahwa Allah menggunakan kebodohan pemberitaan itu untuk menyelamatkan mereka yang percaya. Dengan memberitakan Kristus dan salib secara sederhana, orang-orang percaya dan diselamatkan. Hasilnya, kita yakin bahwa mereka percaya bukan karena keindahan perkataan kita, melainkan karena Kristus dan salib yang kita beritakan.

TANDA DAN HIKMAT

Ayat 22 mengatakan, ”Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat.” Tanda adalah petunjuk yang menakjubkan (Mat. 12:38-39) untuk membuktikan apa yang diberitakan. Agama memerlukan tanda, dan orang-orang Yahudi selalu meminta ini. Hikmat berkaitan dengan filsafat, dan orang-orang Yunani sering mencarinya.

Dalam ayat 22 Paulus menyebut dua jenis orang, yaitu orang Yahudi yang agamawi dan orang Yunani yang filosofis. Orang-orang yang agamawi mendambakan tanda-tanda, mujizat-mujizat, dan orang-orang filosofis menuntut hikmat. Tetapi dalam memberitakan Kristus yang disalibkan, Paulus tidak mempedulikan hikmat maupun tanda-tanda.

Ketika Tuhan Yesus terpaku di atas salib, orang-orang Yahudi mencemooh Dia dan berkata, ”Hai Engkau yang mau meruntuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu dan selamatkanlah diri-Mu!” (Mat. 27:40). Para imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan tua-tua berkata, ”Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Jika Ia Raja Israel, baiklah Ia turun dari salib itu, maka kami akan percaya kepada-Nya” (ayat 42). Mereka menantang Tuhan untuk membuktikan bahwa Ia adalah Kristus, Putra Allah melalui menyelamatkan diri-Nya dari salib. Namun Tuhan tetap diam, Ia tidak melakukan apa pun untuk menyelamatkan diri-Nya sendiri. Tidak ada mujizat dan hikmat, sebaliknya yang ada hanya kelemahan dan kebodohan. Menurut hikmat manusia, disalibkan adalah perkara yang benar-benar bodoh.

Ketika berkata, ”Aku milik Paulus,” atau “Aku milik Kefas,” orang-orang Korintus menggunakan hikmat mereka. Mereka mengikuti filsafat mereka, bukan mengikuti Kristus. Tetapi Paulus memberitakan Kristus yang disalibkan kepada mereka, suatu batu sandungan terhadap orang-orang Yahudi yang menuntut mujizat dan orang Yunani yang menuntut hikmat. Tetapi bagi mereka yang terpanggil, Kristus ini adalah hikmat Allah dan kekuatan Allah.

MEMBERITAKAN KRISTUS YANG DISALIBKAN

Paulus tidak berkata kepada orang Korintus bahwa ia memberitakan Kristus yang bangkit, hal ini sangat bermakna. Fokus pemberitaan dalam kitab Kisah Para Rasul terletak pada kebangkitan Kristus. Menurut kitab Kisah Para Rasul, pemberitaannya adalah kesaksian bahwa Yesus Kristus, Persona yang disalibkan, telah dibangkitkan. Tetapi dalam Surat Kiriman ini, Paulus tidak menekankan kebangkitan Kristus. Sebaliknya, ia menekankan pemberitaan Kristus yang disalibkan. Tidak diragukan, baik orang-orang Yahudi maupun orang Yunani lebih suka mendengarkan berita tentang Kristus yang telah bangkit. Bagi orang-orang Yahudi, ini merupakan mujizat besar. Betapa ajaibnya ada orang yang bangkit dari kubur dan naik ke surga! Orang-orang Yunani mungkin menganggap perkataan tentang kebangkitan sangat filosofis. Dalam usaha mereka mencari hikmat, mereka mungkin tertarik untuk mempelajari bagaimana orang yang telah mati dapat hidup kembali. Namun, Paulus memberitakan Kristus yang disalibkan, yang tidak melakukan apa pun untuk menyelamatkan diri-Nya sendiri. Paulus mengikuti Kristus yang disalibkan ini dan memberitakan Dia kepada orang-orang Korintus. Sebab itu, ayat 23 menyatakan, ”Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: Untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan.” Paulus mengikuti Kristus yang disalibkan. Hal ini merupakan batu sandungan bagi orang-orang Yahudi dan suatu kebodohan bagi orang-orang Yunani.

Dalam ayat 24 Paulus melanjutkan, ”Tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.” Mereka yang terpanggil adalah orang-orang yang dipilih Allah dalam kekekalan (Ef. 1:4) dan yang percaya kepada Kristus dalam waktu (Kis. 13:48). Bagi orang-orang yang terpanggil, Kristus yang disalibkan yang diberitakan rasul adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Hikmat adalah untuk perencanaan, ketetapan; kekuatan adalah untuk pelaksanaan, merampungkan apa yang telah direncanakan dan ditetapkan. Di dalam ekonomi Allah, Kristus adalah hikmat juga kekuatan. Puji Tuhan bahwa bagi kita hari ini Kristus yang disalibkan adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah!

Dalam ayat 25 Paulus menyimpulkan, ”Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia.” Bahkan kebodohan Allah lebih hikmat daripada hikmat kita dan kelemahan-Nya lebih kuat daripada kekuatan kita.