KRISTUS TIDAK TERBAGI-BAGI
Pembacaan Alkitab: 1Kor. 1:10-17
Dalam 1:10 Paulus berkata, ”Tetapi aku menasihatkan kamu, Saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.” Mulai ayat ini, rasul mulai me-nanggulangi perpecahan di antara orang-orang Korintus. Pertama, dia meminta kepada mereka demi nama Tuhan; nama ini adalah nama yang melampaui segala nama (Flp. 2:9), seharusnya adalah satu-satunya nama yang ada di antara kaum beriman. Namun, orang-orang yang terpecah belah itu malah menyejajarkan nama Paulus, Apolos, dan Kefas dengan nama Kristus, seperti yang dilakukan Petrus di atas gunung perubahan dengan menyejajarkan Musa dan Elia dengan Kristus (Mat. 17:1-8). Untuk menjaga kesatuan di dalam Tuhan dan untuk menghindari perpecahan, kita perlu meninggikan dan menjunjung satu-satunya nama Tuhan kita dengan menolak semua nama selain nama Sang Mahatinggi.
MENGATAKAN HAL YANG SAMA
Dalam ayat 10, Paulus mendorong kaum beriman mengatakan perkara yang sama, sehingga tidak ada perpecahan di antara mereka. Dalam surat ini rasul menanggulangi sebelas masalah di antara kaum beriman di Korintus. Pertama adalah masalah perpecahan. Perpecahan hampir selalu merupakan masalah pendahulu, yang membawa masuk segala masalah lainnya di antara kaum beriman, ini boleh dipandang sebagai akar segala masalah di antara kaum beriman. Karena itu, ketika menanggulangi segala masalah dalam gereja di Korintus, mata kapak rasul terlebih dulu memotong akar ini, yaitu menanggulangi perpecahan di antara mereka. Kebajikan pertama dari tingkah laku kaum beriman yang bersesuaian dengan panggilan Allah ialah memelihara kesatuan Roh itu dalam Tubuh Kristus (Ef. 4:1-6).
Dalam ayat 12 Paulus selanjutnya berkata, ”Yang aku maksudkan ialah bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus.” Dalam prinsipnya, hal ini seperti orang berkata, ”Aku Lutheran,” ”Aku Methodis,” ”Aku Presbiterian,” ”Aku Episkopal,” ”Aku golongan Baptis,” dan lain sebagainya. Semua sebutan sedemikian harus dihakimi, ditolak. Hanya dengan menerima Kristus sebagai satu-satunya sentral seluruh kaum beriman, baru sebutan-sebutan itu bisa dihapuskan, disingkirkan.
Mengatakan ”Aku golongan Kristus” untuk menolak rasul dan ajaran rasul atau menolak kaum beriman lainnya, sama saja dengan berkata, ”Aku golongan ini, aku golongan itu,” ini pun suatu perpecahan.
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa perpecahan di antara orang Kristen selalu merupakan akibat dari meletakkan nama lain di atas nama Tuhan Yesus. Tatkala beberapa orang Korintus berkata, ”Aku dari golongan Apolos,” dengan otomatis mereka meninggikan nama Apolos di atas nama Kristus. Selama berabad-abad, perpecahan di antara orang Kristen disebabkan oleh praktek ini. Hari ini kaum beriman umumnya menyebut diri mereka sebagai Lutheran, Presbiterian, atau Baptis, tanpa merasa malu. Seorang Kristen yang menyebut dirinya seorang Lutheran itu sebenarnya memalukan, sebab berarti ia meletakkan nama Luther di atas nama Kristus. Orang yang percaya Tuhan tidak seharusnya melakukan hal semacam ini.
Sangatlah bermakna bahwa dalam ayat 10 Paulus menasihati saudara-saudara demi nama Tuhan kita Yesus Kristus. Ini menunjukkan bahwa kita tidak boleh meninggikan nama apa pun melampaui nama ini. Karena itu, orang Kristen tidak boleh memiliki sebutan nama apa pun. Menyebut diri kita dengan suatu nama berarti membuat nama itu lebih tinggi daripada nama Kristus. Ini suatu keaiban bagi Tuhan maupun bagi kaum beriman. Namun, ada sebagian orang Kristen malahan bangga mengatakan bahwa mereka adalah dari denominasi tertentu. Di samping itu, nama-nama itu dicantum di atas papan nama dan diiklankan. Ini menunjukkan orang-orang Kristen hari ini telah jauh menyimpang dari jalan yang benar. Mereka tidak mempunyai perasaan malu ketika menyebut diri dengan nama tertentu yang bukan nama Kristus.
Demi nama Tuhan Yesus Kristus Paulus menyuruh kaum beriman di Korintus agar semuanya membicarakan hal yang sama. Tatkala saya masih muda, ada beberapa tokoh Kristen berkata kepada saya, supaya saya jangan berharap semua orang Kristen mengatakan hal yang sama. Menurut Anda mungkinkah kita, orang Kristen, mengatakan hal yang sama? Jika Anda menganggap hal ini mungkin, saya ingin bertanya kepada Anda, bagaimana kita dapat mengatakan hal yang sama. Ketika kita melihat perbedaan-perbedaan di antara bangsa-bangsa dan suku-suku hari ini, kita nampak bahwa orang-orang itu tidak dapat mengatakan hal yang sama. Misalnya orang Tionghoa tidak dapat mengatakan hal yang sama dengan orang Jepang, demikian pula orang Jerman dengan orang Perancis. Bagaimana mungkin kaum beriman yang dari berbagai kebangsaan itu dapat mengatakan hal yang sama? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu mengerti apa yang Paulus maksudkan dengan ungkapan ”hal yang sama.”
KRISTUS DAN DIA YANG DISALIBKAN
Ketika Paulus mengatakan ”hal yang sama”, yang ia maksudkan ialah Kristus dan Dia yang disalibkan. Jadi, bagi kita mengatakan hal yang sama berarti kita semua mengatakan tentang Kristus dan Kristus yang disalibkan. Dari pengalaman saya dapat bersaksi, walaupun menurut sejarah tidaklah mungkin orang Tionghoa dan Jepang, Jerman dan Perancis, benar-benar bersatu, namun saya telah nampak keesaan yang sejati di antara kaum beriman dari bangsa yang berbeda-beda ini. Indah sekali melihat keesaan yang sejati di antara kaum beriman Tionghoa dengan Jepang, juga di antara kaum beriman Jerman dengan Perancis. Keesaan sedemikian ini hanya mungkin bila kita memusatkan perhatian pada Kristus sebagai pusat dan bagian unik kita. Sebagai pusat dan bagian unik kita, Kristus ada di dalam semua orang kudus (Kol. 1:27), bahkan menjadi semua orang kudus (Kol. 3:11). Kebanyakan orang Kristen hari ini terpecah-belah, karena mereka menekankan banyak perkara untuk menggantikan Kristus; tetapi kita adalah esa disebabkan kita tidak memiliki yang lain, kecuali Kristus.
Orang Kristen terpecah belah karena mereka memperhatikan banyak perkara lain di luar Kristus. Misalnya, ada yang memperdebatkan tentang nama yang ke dalamnya kita membaptiskan orang. Bagi kita, Kristus yang almuhit wajib menjadi pusat dan kenikmatan unik kita. Asalkan orang mempunyai iman yang hidup dalam Kristus Yesus, tidaklah menjadi masalah apakah mereka dibaptis ke dalam nama Tuhan Yesus atau ke dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Karena Tuhan telah membangkitkan kita untuk melaksanakan pemulihan-Nya, maka kita memusatkan perhatian kita pada Kristus dan bukan pada praktek-praktek lainnya. Kita telah berpaling dari segala sesuatu yang lain kepada Tuhan itu sendiri. Hal ini membuat orang lain menyiarkan kabar angin tentang kita dan mengecam kita. Misalnya, mulai tahun 1968, ada beberapa saudara dan saudari mengakui keusangan diri mereka dan ingin dikuburkan ke dalam air baptisan. Pada akhirnya, tersebar luas kabar angin bahwa kita mengajarkan baptisan ulang. Para penentang mengutip perkataan Paulus dalam Efesus 4 tentang satu baptisan. Namun, baptisan itu menunjuk pada baptisan yang satu dalam sifat dan jenisnya, bukan pada praktek sekali membaptis kaum beriman. Pada kenyataannya kita tidak mengajarkan atau mempraktekkan baptisan ulang. Jika ada kaum beriman menyadari keusangan mereka dan ingin dikubur, mereka tidak boleh disalahkan.
Yang lain mengecam kita karena kita menyeru nama Tuhan Yesus. Ada yang mengatakan bahwa hal ini merupakan satu mantra dan sama seperti lagu bernada tunggal dari orang timur.
Pada masa lampau ada beberapa orang yang diselewengkan oleh apa yang mereka kira cara bersidang yang lebih baik. Namun, inti kita bukanlah suatu cara bersidang tertentu, melainkan Kristus sendiri. Bila ada orang datang kepada Anda dan mengecam cara sidang serta mengusulkan cara lain, Anda harus menjawab, ”Aku tidak mau membicarakan hal ini. Aku hanya tahu Kristus dan Dia yang disalibkan.” Membicarakan perkara selain Kristus, sekalipun tentang sidang-sidang gereja, dapat menjadi suatu perangkap. Dalam pemulihan Tuhan, pilihan dan kesukaan kita satu-satunya adalah Kristus yang disalibkan. Cara yang terbaik untuk menutup mulut yang suka bergosip ialah tidak menanggapi mereka ketika mereka berusaha mengalihkan Anda dari Kristus kepada perkara-perkara lain. Misalnya seorang saudara datang kepada Anda dan berkata, ”Bagaimana perasaanmu tentang sidang minggu lalu?” Anda harus menjawab, ”Aku tidak peduli sidangnya, Aku hanya mempedulikan Kristus.” Namun, jika Anda mulai membicarakan sidang, maka pintu gosip dan kritik akan terbuka.
Hari ini banyak orang Kristen yang sama sekali tidak membicarakan Kristus. Dalam percakapan mereka, mereka diduduki oleh banyak perkara lain. Dalam gereja lokal kita semua perlu membicarakan Kristus yang disalibkan. Jangan membicarakan sidang, apakah sidang-sidang itu rendah atau tinggi, dan jangan membicarakan gereja, apakah gereja itu baik atau buruk. Demikian pula, jangan membicarakan para penatua, apakah mereka itu benar atau salah, pandai atau tidak. Sikap kita seharusnya hanya mempedulikan Kristus, memperhatikan gereja Allah di tiap tempat dan memperhatikan pemulihan Tuhan. Sasaran Allah dalam pemulihan-Nya ialah memulihkan Kristus sebagai segala sesuatu kita.
Selama lebih dari lima puluh tahun dalam hidup gereja, saya telah mengamati banyaknya orang kudus di berbagai negara dan kota yang belum mutlak diselamatkan dari situasi kekristenan yang merosot. Bahkan ada beberapa orang kudus terkasih dalam pemulihan Tuhan berbicara seperti praktek kekristenan hari ini. Mereka tidak membicarakan Kristus dan Dia yang disalibkan, melainkan membicarakan sidang-sidang, para penatua, dan orang kudus. Bila orang lain menghendaki Anda berkata-kata dengan mereka demikian, Anda harus berkata, ”Aku tidak berminat terhadap hal itu. Kesukaanku satu-satunya ialah Kristus. Aku hanya memperhatikan Kristus, bukan kondisi gereja atau sidang-sidang.”
NAMPAK KRISTUS SEBAGAI SATU-SATUNYA INTI
Sejati tidaknya sebuah gereja lokal bukan dilihat dari kondisinya. Jangan mengira jika suatu gereja itu sehat, itu adalah gereja, tetapi jika tidak sehat, itu bukan gereja. Saudara Anu adalah seorang manusia yang sama, entah ia kuat atau lemah, sehat atau sakit. Demikian pula, sekalipun kondisi gereja itu miskin atau sangat tidak sehat, ia tetap gereja. Jika kita nampak gereja dalam pemulihan Tuhan secara demikian dan hanya memperhatikan Kristus sebagai satu-satunya inti kita, niscayalah kita tidak akan terpecah belah.
Jika seseorang dapat meninggalkan pemulihan, berarti ia tidak pernah nampak apa pemulihan itu. Jika Anda dapat berhenti dari kehidupan gereja, itu membuktikan bahwa Anda tidak pernah nampak gereja. Gereja tetap gereja, entah baik atau buruk, sehat atau tidak sehat, hidup atau mati. Jika kita menyadari hal ini, berarti kita telah nampak Kristus sebagai satu-satunya inti Allah.
Seandainya Anda seorang Kristen yang tinggal di Korintus, apakah Anda mau bersidang dengan gereja di sana? Saya percaya bahwa kebanyakan dari kita akan merasa tidak tahan dengan gereja yang kacau dan terpecah belah itu, dan lebih suka pindah ke tempat lain untuk menempuh kehidupan gereja. Sekalipun sikap yang demikian nampaknya bukan berpecah-belah, tetapi sesungguhnya itu adalah berpecah-belah. Tidak peduli bagaimana kondisi gereja di tempat kita, kita tidak boleh pilih-pilih, condong kepada selera kita sendiri, atau mencari kesempatan bagi diri kita sendiri. Sebaliknya, kita harus membiarkan angin Roh bertiup bebas. Hari ini kita berada di tempat tertentu oleh pengaturan Allah. Kita tidak boleh pindah ke tempat lain menurut pilihan kita. Tetapi jika angin meniup kita ke kota lain, ini adalah pengaturan Allah, bukan pilihan atau kesukaan kita.
Jangan menganggap karena Anda berada dalam pemulihan Tuhan, dengan sendirinya aman dalam pemulihan, dan tidak mungkin berpecah belah. Apakah kita aman dalam pemulihan dan terlindung dari perpecahan tergantung pada visi yang kita lihat. Jika kita nampak Kristus adalah satu-satunya inti, kita akan aman. Tidak peduli apa yang terjadi dalam pemulihan, kita akan tetap berada dalam kehidupan gereja. Kita akan mempunyai keyakinan dalam batin bahwa kita berada dalam pemulihan Tuhan.
Bila kita mengunjungi tempat lain atau bersekutu dengan orang kudus dari tempat lain, kita selalu tergoda untuk menanyakan keadaan gereja di tempat mereka. Pertanyaan semacam ini dapat membuka pintu masuk banyak perkara yang negatif. Kita harus belajar untuk memperhatikan Kristus dan tidak ingin tahu tentang kondisi gereja-gereja lainnya.
Pada tahun 1942, terjadi kekalutan besar di Shanghai, terutama disebabkan oleh penentangan terhadap saudara Watchman Nee. Kekalutan tersebut meluas sampai ke tempat-tempat lain. Pada saat itu saya berada di Chefoo, China Utara. Para pemimpin membuat keputusan tegas di hadapan Tuhan, yaitu siapa pun yang datang dari Shanghai harus diberi tahu untuk tidak membicarakan situasi gereja di sana. Kami berkata, ”Jangan membicarakan situasi gereja di Shanghai. Kami di sini adalah gereja di Chefoo. Marilah kita membicarakan Tuhan Yesus Kristus dan gereja di sini.” Hal ini telah menyelamatkan Chefoo dari keterlibatan dalam kekalutan tersebut.
Kita semua benar-benar perlu belajar rahasia ini: tidak mengetahui apa pun kecuali Kristus dan Dia yang disalibkan. Namun, sebenarnya prakteknya amat sulit. Mengatakan hal yang sama itu tidaklah mudah. Tetapi kita perlu belajar untuk mengatakan hal yang sama, yaitu Kristus dan Dia yang disalibkan.
ERAT BERSATU DAN SEHATI SEPIKIR
Dalam ayat 10 Paulus berkata pula kepada orang-orang Korintus untuk ”erat bersatu dan sehati sepikir.” Kata Yunani yang diterjemahkan ”erat bersatu” di sini sama dengan kata yang diterjemahkan membereskan jala dalam Matius 4:21. Dalam bahasa Yunani berarti memperbaiki, memulihkan, membetulkan, menambal, sepenuhnya membereskan kembali barang yang sudah pecah, dengan indah sempurna menggabungkan menjadi satu. Kaum beriman di Korintus telah terpecah belah, terbagi-bagi secara keseluruhan. Mereka memerlukan perbaikan, agar dengan indah sempurna bersatu kembali, sehingga di dalam keharmonisan memiliki satu pikiran, satu opini, mengucapkan perkataan yang sama, yaitu Kristus dan salib-Nya.
Kesaksian gereja di Korintus telah menderita kerusakan berat, dan Paulus menulis surat ini untuk memperbaiki keadaan itu. Perbaikan ini juga merupakan suatu ”penyeteman”. Kata penyeteman ini adalah istilah musik. Di antara orang kudus di Korintus tidak ada keharmonisan. Dalam menulis surat ini Paulus berusaha memulihkan keharmonisan, menyetem mereka agar mereka dapat disenadakan dalam pikiran dan opini yang sama.
Problem di antara orang-orang Korintus tidak terletak pada roh mereka. Mereka telah dilahirkan kembali, dan Tuhan Yesus telah berhuni di dalam roh mereka. Problem mereka terletak pada pikiran dan opini mereka. Pikiran berbeda dengan opini. Angan-angan terjadi dalam pikiran, sedangkan opini adalah angan-angan yang diwujudkan dalam kata-kata. Jika kita hanya memikirkan sesuatu, itu adalah aktivitas dalam pikiran; tetapi ketika angan-angan kita beralih menjadi perkataan, itu menjadi opini. Disenadakan dalam cara berpikir yang sama, yakni dalam pikiran yang sama dan dalam pembicaraan yang sama, yaitu dalam opini yang sama tidaklah mudah. Disenadakan dalam opini yang sama sesungguhnya berarti membicarakan hal yang sama. Ketika kita semua membicarakan perkara yang sama, kita berada dalam opini yang sama.
VISI KRISTUS DALAM EKONOMI ALLAH
Jika kita ingin disenadakan dalam opini yang sama, kita perlu memiliki visi tentang kedudukan Kristus dalam ekonomi Allah. Saya berbeban agar semua orang kudus nampak Kristus dan mengenal Dia. Ketika Anda nampak Kristus yang almuhit dan telah belajar rahasia untuk menikmati Dia, maka cara berpikir dan berbicara Anda akan berubah. Kemudian Anda akan menjadi murni dan sederhana. Anda bukan mengekspresikan opini Anda sendiri, tetapi Anda hanya memperhatikan menikmati Kristus dan membicarakan Dia. Setelah Anda menjadi orang yang tidak mengetahui apa pun kecuali Kristus, barulah Anda akan setia terhadap pemulihan Tuhan.
Hari ini Tuhan sedang mencari orang-orang yang hanya memperhatikan Dia. Secara korporat, di banyak lokal orang-orang ini akan menjadi kaki dian emas. Di antara mereka tidak akan terdapat kesukaan-kesukaan atau opiniopini, yang ada hanya Kristus. Semoga kita semua belajar rahasia ini.
Misalnya Anda masuk ke dalam balai sidang dan kursi-kursi diatur tidak seperti biasanya, dan sama sekali berlawanan dengan kesukaan Anda. Cara pengaturan kursi itu seharusnya tidak membuat perbedaan apa pun bagi kita. Asalkan kita dapat bersidang, membaca firman, dan berkata-kata tentang Kristus, kita seharusnya merasa puas. Jika Anda menggerutu tentang pengaturan kursi dan terganggu olehnya, itu membuktikan bahwa Anda belum nampak visi tentang Kristus. Berlian-berlian ilahi tersedia bagi Anda di dalam sidang gereja, tetapi Anda diselewengkan dari berlian-berlian itu oleh pengaturan kursi. Bukankah itu menunjukkan bahwa Anda belum menyadari kemustikaan berlian? Asalkan Anda dapat menerima lebih banyak berlian dari Tuhan, Anda tidak usah mempedulikan bagaimana kursi-kursi itu diatur. Jika Anda mengetahui kemustikaan berlian, Anda tidak akan berminat memperhatikan perkara-perkara yang lain. Anda tidak akan mempedulikan pengaturan kursi-kursi, sebab Anda akan bersidang bagi Kristus dan hanya Kristus semata.
Dalam pemulihan Tuhan, kita hanya memperhatikan Kristus. Dalam pemulihan Tuhan, Tuhan tidak memulihkan yang lainnya, kecuali Kristus itu sendiri dalam pengalaman kita. Hanya dengan memusatkan perhatian pada Kristus barulah kita dapat diselamatkan dari perpecahan.
DISELAMATKAN DARI PEMECAH BELAH
Sifat alamiah kita semua cenderung berpecah belah. Sejak lahir, kita sudah memiliki unsur pemecah belah. Jalan satu-satunya untuk diselamatkan dari pemecah belah ini ialah nampak Kristus yang almuhit dan belajar rahasia menikmati Dia. Ingatlah bahwa jalan satu-satunya untuk menghindari perpecahan adalah nampak Kristus, menerima Kristus, dan menikmati Kristus. Ini dan hanya inilah yang dapat membuat kita disenadakan dalam opini yang sama. Dengan demikian baru ada keharmonisan yang sejati di antara kita.
Jika Anda berkunjung ke tempat lain, janganlah berusaha mengetahui perkara-perkara tentang gereja di sana. Janganlah bertanya tentang penatua-penatua atau kaum muda. Sebaliknya, perhatikan saja keharmonisan yang datang dari kenikmatan atas Kristus. Tatkala saya mengunjungi gereja mana saja, saya hanya ingin melihat keharmonisannya. Jika keharmonisan ini tidak ada dalam sebuah gereja, saya tahu bahwa orang-orang kudus di tempat itu pasti belum menikmati Kristus secara memadai. Jika kita terus-menerus menikmati Kristus, di antara kita akan terdapat keharmonisan.
Kadang-kadang saya kecewa tatkala orang-orang kudus memberitahukan apa yang mereka nampak selama mereka mengunjungi gereja-gereja dan tempat-tempat lain. Yang mengecewakan saya bukan berita yang mereka sampaikan, melainkan fakta bahwa mereka membicarakan perkara-perkara lain yang bukan kenikmatan atas Kristus. Percakapan mereka menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki pandangan yang wajar dan belum sepenuhnya diselamatkan dari sifat pemecah belah mereka. Mereka tidak memperhatikan Kristus, melainkan tertarik pada cara para penatua menangani gereja atau cara kaum muda maju ke depan. Memperhatikan perkara-perkara semacam itu dan bukan memperhatikan Kristus; mengarah kepada perpecahan. Bila Anda mengunjungi gereja lokal lain, Anda harus buta dan tidak nampak lainnya selain Kristus. Dengan demikian Anda akan menjadi orang yang telah mempelajari rahasia itu, yang membicarakan perkara yang sama, dan yang berpikiran dan beropini sama.
Marilah kita belajar untuk tidak mempunyai pilihan, kesukaan, atau selera apa pun selain Kristus. Kristus yang almuhit itu adalah pilihan, kesukaan, selera, dan kenikmatan unik kita. Hal ini akan melindungi kita dalam gereja dalam pemulihan Tuhan, sampai Ia datang kembali. Kalau tidak, akhirnya kita akan dikecewakan atau diselewengkan sehingga meninggalkan pemulihan Tuhan.
KRISTUS, SATU-SATUNYA
DAN TIDAK TERBAGI-BAGI
Dalam ayat 13 Paulus bertanya, ”Apakah Kristus terbagi-bagi? Apakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau apakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?” Kristus itu satu-satunya, tidak terbagi-bagi. Jika semua orang beriman menerima Kristus yang satu-satunya dan tidak terbagi-bagi sebagai satu-satunya inti, segala perpecahan akan tersingkirkan.
Kristus, bukan orang lain, telah disalibkan bagi kita. Persona yang disalibkan bagi kita sepatutnya memiliki semua orang beriman. Dia tentunya Kristus, bukan siapa pun. Semua orang beriman dibaptis ke dalam nama Kristus, yang mati tersalib dan bangkit kembali, yaitu dibaptis masuk ke dalam persona-Nya. Ini menghasilkan satu kesatuan organik dengan-Nya. Nama dan persona-Nya yang unik tidak bisa digantikan oleh nama atau persona dari hamba-Nya yang mana pun.
Setelah membicarakan mereka yang dibaptis olehnya dalam ayat 14-16, dalam ayat 17 Paulus berkata, ”Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itu pun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia.” Paulus diutus bukan untuk membaptis orang secara formalitas, tetapi untuk memberitakan Injil, menyuplaikan Kristus kepada orang, untuk menghasilkan gereja sebagai ekspresi Kristus dan menjadi kepenuhan Allah (Ef. 1:23; 3:19).