KRISTUS, HIKMAT KITA: KEBENARAN, DAN PENGUDUSAN, DAN PENEBUSAN
Pembacaan Alkitab: 1Kor. 1:26-31
Dalam berita ini kita akan membahas 1:26-31.
I. PILIHAN ALLAH
A. Yang Bodoh untuk Memalukan yang Berhikmat
Dalam ayat 26 Paulus berkata, ”Ingat saja, Saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: Menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.” Di sini kita nampak bahwa di antara kaum beriman tidak banyak yang berhikmat menurut manusia. Dalam ayat 27 Paulus berkata, ”Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat.” Berhikmat itu berkaitan dengan pikiran, sedangkan berkuasa berkaitan dengan tekad.
B. Yang Lemah untuk Memalukan yang Kuat
Dalam ayat 27 Paulus berkata lagi, ”Dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat.” Tatkala saya membaca ayat-ayat ini bertahun-tahun yang lalu, saya heran bagaimana Allah yang pengasih bisa memalukan orang. Saya heran bagaimana Ia dapat menggunakan yang bodoh bagi dunia untuk memalukan yang berhikmat; menggunakan yang lemah bagi dunia untuk memalukan yang kuat. Namun, Paulus dengan jelas mengatakan bahwa Allah memalukan yang berhikmat dan yang kuat.
Dalam ayat 27 Paulus dua kali menggunakan kata ”dipilih”. Panggilan Allah (ayat 24-26) berdasar pada pilihan Allah, dan ini menurut kehendak-Nya (Rm. 9:11; 2 Tim. 1:9). Pilihan Allah telah ditetapkan sebelum dunia dijadikan (Ef. 1:4); panggilan Allah tergenap di dalam waktu, untuk merampungkan pemilihan-Nya. Panggilan dan pilihan Allah adalah awal penyelamatan atas orang-orang yang ditentukan-Nya. Bukan kita yang memilih Dia; tetapi Dia yang memilih kita. Ketika Dia memanggil kita, barulah kita berseru kepada-Nya. Dia adalah pemula. Segala kemuliaan haruslah bagi Dia!
C. Yang Tidak Terpandang dan Hina untuk Memalukan yang Terpandang
Dalam ayat 26 Paulus menunjukkan bahwa di antara kaum beriman di Korintus tidak banyak yang terpandang. Dalam ayat 28 ia melanjutkan, ”Dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti.” Istilah Yunani yang diterjemahkan terpandang dalam ayat 26 berarti terhormat, yaitu lahir dalam lingkungan bangsawan atau istana. Gereja Tuhan terutama tidak terbentuk dari orang-orang kelas atas, melainkan dari orang-orang yang lahir dari kelas bawah, dipandang rendah orang. Mengapresiasi orang-orang kelas atas berarti bertentangan dengan kehendak hati Allah dan juga memalukan bagi gereja.
Dalam ayat 28 kata ”tidak terpandang” berarti rendah, tidak terhormat, yakni lahir sebagai orang awam. Hina berarti pula diremehkan orang. Ungkapan ”apa yang tidak berarti” menunjukkan kepada yang tidak terpandang dan hina, bagaikan tidak ada. Orang yang lahir rendah, dihina orang, tidak masuk hitungan di dunia ini.
Sampai tiga kali diulanginya kata ”dipilih Allah” dalam ayat 27-28, mewahyukan kepada kita kedaulatan Allah dalam menanggulangi tiga macam orang dunia yang tercantum dalam ayat 26: Yang berhikmat, yang kuat (yang berkekuatan), dan yang terpandang. Orang yang terpandang adalah ”apa yang berarti”, mereka menerima hormat di dunia, tetapi disingkirkan Allah dari dalam ekonomi-Nya.
Dalam pandangan manusia, orang-orang yang tidak terpandang, yang terhina, seolah-olah tidak ada. Mereka begitu dipandang rendah seolah-olah tidak ada. Sebab itu, mereka adalah ”yang tidak berarti”. Tetapi Allah justru menggunakan orang-orang demikian untuk meniadakan mereka yang berarti, yang terpandang, yang sangat dihargai dalam dunia. Allah telah memilih orang-orang yang tidak terpandang, orang-orang kalangan rendah, agar Ia dapat memalukan orang-orang yang terpandang, orang-orang kelas atas.
Pada satu pihak, dalam ayat 26-28, secara umum Paulus menunjuk kepada setiap orang. Pada pihak lain, ia secara khusus menunjuk kepada orang-orang Yunani. Ada orang-orang Yunani tertentu yang telah diselamatkan tetap menganggap diri mereka sebagai orang yang berhikmat. Dalam ayat-ayat ini Paulus menunjukkan bahwa sikap semacam itu tidak benar. Paulus seakan-akan berkata, ”Kaum beriman di Korintus, janganlah menganggap dirimu sendiri berhikmat. Allah tidak memilih orang yang berhikmat. Jika kamu menganggap dirimu berhikmat, berarti kamu tidak dipilih oleh Allah. Demikian pula, Allah tidak memilih orang-orang yang kuat atau yang terpandang.”
Bagaimana diri Anda menurut Anda sendiri? Anda menganggap diri Anda berhikmat atau bodoh? Kuat atau lemah? Terpandang atau hina? Saya tidak percaya dalam lubuk batin kita menganggap diri kita bodoh, lemah, dan hina. Kita sama sekali tidak memandang diri kita demikian.
Sekali lagi kita perlu mengetahui roh Paulus dalam menulis Surat Kiriman ini. Penekanan dalam roh Paulus ialah kaum beriman Korintus tidak hidup seperti orang-orang yang telah beroleh selamat. Paulus seolah-olah berkata kepada mereka, ”Orang-orang kudus Korintus yang terkasih, kalian adalah orang-orang yang telah beroleh selamat, yang dipilih Allah. Tetapi kalian tidak menempuh kehidupan seperti orang-orang pilihan. Sebaliknya, kalian hidup seakan-akan bukan orang-orang yang dipilih Allah. Dalam kehidupan kalian tidak ada petunjuk bahwa Allah telah memilih kalian, sebab kalian mengira diri kalian berhikmat, kuat, dan terpandang. Saudara-saudara, kalian ha-rus tahu bahwa Allah tidak memilih orang-orang yang demikian. Jika kalian menganggap diri kalian berhikmat, itu menunjukkan Allah tidak memilih kalian. Ingatlah, Ia telah memilih orang-orang yang bodoh untuk memalukan yang berhikmat, memilih orang-orang yang lemah untuk memalukan yang kuat, dan memilih yang tidak terpandang untuk memalukan yang terpandang. Jadi, janganlah menganggap diri kalian berhikmat, kuat, dan terpandang.”
Membicarakan hal tentang memperhidupkan Kristus itu mudah, tetapi mempraktekkannya itu sulit. Asalkan kita menganggap diri kita berhikmat, kita tidak memperhidupkan Kristus. Semua orang yang sungguh-sungguh memperhidupkan Kristus menganggap diri mereka bodoh, lemah, dan tidak terpandang. Mereka menganggap diri mereka tidak berarti dan menyadari bahwa keberadaan mereka di bumi tidak berarti apa-apa. Mereka dapat berkata tentang diri sendiri, ”Aku ada di antara yang tidak berarti. Aku tinggal di suatu tempat, tetapi keberadaanku di sini tidak berarti apa-apa. Tetapi sekalipun aku tidak berarti, Allah memilihku.” Saya ulangi, Allah tidak memilih orang yang berhikmat, kuat, dan terpandang. Jika Anda menganggap diri sendiri berhikmat, kuat, dan terpandang, itu berarti Anda menolak pilihan Allah. Cara hidup Anda membuat Anda menolak pilihan Allah. Allah memalukan orang yang berhikmat, kuat, dan terpandang. Kita semua harus dapat berkata, ”Tuhan, aku mengakui bahwa aku tidak berhikmat atau berkuasa. Sebaliknya, aku sungguh bodoh, lemah, dan di antara yang terhina.” Apa yang terkandung dalam roh Paulus dalam menulis bagian 1 Korintus ini merupakan penekanan atas hal ini.
Dalam rohnya, Paulus juga merasa perlu merendahkan kecongkakan kaum beriman Yunani. Ada orang di antara mereka yang mungkin sangat cerdas dan berhikmat, tetapi Paulus tidak memperhatikan hal itu. Sebaliknya, ia ber-usaha menunjukkan fakta bahwa mereka telah dipilih oleh Allah, membuktikan bahwa mereka bodoh, tidak berhikmat; lemah, tidak kuat; dan tak terpandang, terhina. Sebab itu, kaum beriman di Korintus keliru kalau mengira diri mereka berhikmat dan berkekuatan.
Kita telah nampak dalam ayat 28 Paulus mengatakan bahwa Allah akan ”meniadakan” yang berarti. Ditiadakan oleh Allah sebenarnya berarti dimusnahkan oleh Dia. Jika kita belajar sejarah, kita akan nampak banyak orang yang terhormat telah ditiadakan oleh Allah. Banyak orang yang memiliki kedudukan sosial tinggi telah dihancurkan, ditiadakan oleh Dia. Jangan sekali-kali menganggap diri kita berarti. Jika kita memandang diri kita berarti, Allah akan meniadakan kita.
D. Tidak Ada Daging yang Bermegah di Hadapan Allah
Dalam ayat 29 Paulus berkata, ”Supaya tidak ada daging yang bermegah di hadapan Allah” (Tl.). Ini menyatakan alasan Allah secara khusus dengan penuh rahmat memilih kita, agar semua orang milik daging tidak bisa bermegah di hadapan-Nya.
II. OLEH ALLAH KITA BERADA DALAM KRISTUS
Paulus membuka ayat 30 dengan perkataan, ”Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus.” Kaum beriman adalah ciptaan baru. Segala hakiki kita dan milik kita di dalam Kristus berasal dari Allah, bukan berasal dari diri kita sendiri. Allah yang menaruh kita di dalam Kris-tus, yang memindahkan kita dari Adam ke dalam Kristus. Allah yang membuat Kristus menjadi hikmat kita. Allah telah menaruh kita dalam Kristus, memindahkan kita keluar dari Adam ke dalam Kristus. Allah telah membuat Kristus menjadi hikmat bagi kita. Allah telah memindahkan kita dari Adam ke dalam Kristus (2Kor. 5:17), melalui penyaliban dan kebangkitan Kristus (Gal. 2:20), serta oleh percayanya dan pembaptisan kita (Yoh. 3:15; Gal. 3:26-28).
Kata ”tetapi” pada permulaan ayat 30 menyiratkan suatu perbandingan kontras yang nyata dengan ayat-ayat sebelumnya. Di samping itu, berada dalam Kristus menyiratkan bahwa kini dalam Kristus, kita berhikmat, kuat, dan terpandang. Namun, sangat sedikit kaum beriman yang menganggap dirinya berhikmat di dalam Kristus, kuat di dalam Kristus, dan terpandang di dalam Kristus. Jika para saudari mengetahui bahwa mereka berhikmat dan kuat di dalam Kristus, tentu mereka tidak akan sering menangis. Para saudari amat mudah meneteskan air mata. Ini menunjukkan bahwa sepanjang menyangkut pengalaman mereka, mereka tidak berhikmat dan tidak kuat di dalam Kristus. Menurut pengalaman kita, terlalu sering kita berhikmat di dalam daging, tetapi bodoh di dalam Kristus; kuat di dalam daging, tetapi lemah di dalam Kristus. Ini berarti dalam kehidupan kristiani kita, tidak ada kata ”tetapi” yang disisipkan Paulus dalam ayat 30. Dalam pengalaman kita haruslah ada ”tetapi” ini. Sekalipun kita terlahir bodoh, lemah, dan rendah, kita harus dapat berkata, ”Tetapi oleh Allahlah kita berada di dalam Kristus.” Sekarang kita berada di dalam Kristus, kita berhikmat, kuat, dan terpandang di dalam Dia.
Kelahiran kembali membuat kita terpandang, dan memberi kita status yang sangat tinggi, status seorang anak dalam keluarga raja. Tahukah Anda, sebagai orang yang percaya dalam Kristus, Anda memiliki status ilahi, Anda adalah anak Raja segala raja? Kita telah dilahirkan di dalam keluarga Allah! Ini berarti kita memiliki status lebih tinggi daripada malaikat. Kita adalah anggota keluarga Allah, dan malaikat-malaikat adalah pelayan-pelayan kita. Di dalam Kristus, kita benar-benar lebih tinggi daripada malaikat-malaikat. Alangkah indahnya Allah telah memilih kita orang-orang yang bodoh, lemah, dan hina, dan telah membuat kita berada di dalam Kristus! Ini bukan perbuatan kita sendiri atau pekerjaan orang lain; melainkan mutlak oleh Allah, barulah kita berada di dalam Kristus.
Menurut konteksnya, di dalam Kristus di sini menyiratkan bahwa kita berhikmat, kuat, dan terpandang di dalam Kristus. Bagi kita, mengetahui diri kita berada di dalam Kristus sangatlah penting dan menentukan. Kita pun harus bangga dengan fakta bahwa kita kini berada di dalam Kristus. Di samping itu, kita dapat bersaksi bahwa karena kita berada di dalam Kristus, kita tidak lagi bodoh, lemah, atau hina. Saudari-saudari, jika dalam pengalaman, kalian kuat di dalam Kristus, kalian akan mencicipi Yerusalem Baru, dan tidak begitu cepat meneteskan air mata. Di Yerusalem Baru tidak ada lagi air mata. Kadang-kadang pada perjamuan Tuhan kita bersyukur kepada-Nya karena pencicipan atas Yerusalem Baru yang akan datang. Ketika kita mengalami cita rasa sepenuhnya, tentu tidak akan ada air mata. Bukan air mata, melainkan aliran air hayat. Saudari-saudari, bila kalian hendak menangis, ingatlah perkataan Paulus: Tetapi oleh Allahlah kamu berada di dalam Kristus. Dalam Kristus Anda menjadi berhikmat dan kuat. Puji Tuhan, dalam Kristus kita terpandang, sebab kita adalah anak-anak keluarga Kerajaan Allah! Betapa agungnya status ini!
III. OLEH ALLAH KRISTUS MENJADI HIKMAT
BAGI KAUM BERIMAN
Dalam 1:30 Paulus mengatakan bahwa Kristus Yesus ”yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita: kebenaran, dan pengudusan, dan penebusan” (Tl.). Paulus tidak mengatakan Kristus adalah hikmat bagi kita, melainkan mengatakan Kristus menjadi hikmat bagi kita. Ini menunjukkan bahwa pada suatu saat Kristus bukan hikmat kita, tetapi kemudian Ia menjadi hikmat bagi kita. Misalnya, mengatakan saya adalah teman Anda tentu berbeda dengan mengatakan saya menjadi teman Anda. Mengatakan saya menjadi teman Anda menyiratkan bahwa saya dulu bukan teman Anda, tetapi kini saya telah menjadi teman Anda. Kristus tidak dapat menjadi hikmat bagi kita sebelum kita berada di dalam-Nya. Tetapi ketika kita percaya kepada Kristus, Allah menaruh kita ke dalam-Nya. Kemudian Kristus menjadi hikmat bagi kita.
Misalkan ada seorang wanita miskin. Pada suatu hari ia menikah dengan seorang hartawan. Pada saat itulah ia menjadi kaya. Dahulu ia miskin, tetapi kini ia telah menjadi kaya. Demikian pula dahulu, karena kita belum berada di dalam-Nya, Kristus bukanlah hikmat bagi kita. Tetapi begitu kita percaya kepada Kristus, dan Allah menaruh kita di dalam-Nya, Ia pun menjadi hikmat bagi kita.
Perhatikanlah bahwa dalam ayat 30 Paulus tidak mengatakan Kristus menjadi hikmat kita, ia mengatakan bahwa Kristus menjadi ”hikmat bagi kita”. Kristus menjadi hikmat bagi kita berlainan dengan Ia menjadi hikmat kita. Hari demi hari, kita perlu Kristus menjadi hikmat bagi kita. Sekali lagi kita boleh menggunakan listrik sebagai ilustrasi. Mengatakan listrik kita berbeda dengan mengatakan listrik bagi kita. Tatkala listrik itu bagi Anda, berarti Anda menerima pengisian dari listrik. Listrik menjadi listrik Anda berarti listrik milik Anda, tetapi listrik menjadi listrik bagi Anda berarti listrik disalurkan kepada Anda dan Anda mengalaminya. Demikian pula, mengatakan Kristus adalah hikmat kita itu agak umum, bukan dari pengalaman. Tetapi ketika Kristus menjadi hikmat bagi kita, kita mengalami Dia.
Paulus tidak saja mempunyai pengetahuan, lebih-lebih mempunyai sangat banyak pengalaman rohani. Selain itu, ia mengetahui situasi di antara kaum beriman. Sebagai orang Kristen, kita mungkin berkata, ”Kami memiliki Kristus sebagai hikmat kami.” Namun, itu tidak begitu berarti dalam pengalaman. Itu sama dengan berkata, ”Kita mempunyai listrik sebagai kekuatan kita.” Kita boleh mengatakan demikian, tetapi sesungguhnya kita tidak mempunyai terang atau panas, sebab listrik itu belum sampai kepada kita. Kita pun mungkin mempunyai Kristus sebagai hikmat kita tanpa mengalami Kristus menjadi hikmat bagi kita. Kita perlu Kristus menjadi hikmat bagi kita.
Dalam ayat 30, saya mengapresiasikan dua frase, ”bagi kita” dan ”oleh Allah”. Oleh Allah, Kristus menjadi hikmat bagi kita. Ungkapan ”oleh Allah bagi kita” menunjukkan sesuatu transmisi yang terjadi saat ini, riil, dan bersifat pengalaman. Dengan berkesinambungan, oleh Allah, Kristus harus menjadi hikmat bagi kita. Ini menunjukkan suatu transmisi yang hidup, dan berlangsung terus. Kata ”bagi” dan ”oleh” menunjukkan suatu transmisi yang ada sekarang ini, yang hidup, dan riil sedang terjadi dari Allah bagi kita.
Paulus menyusun ayat 30 secara demikian untuk menunjukkan kepada kaum beriman di Korintus bahwa Kristus harus secara berkesinambungan menjadi hikmat bagi mereka oleh Allah. Sebagai hikmat, Kristus harus tiada henti-hentinya mengalir dari Allah kepada mereka. Namun, situasi mereka yang sesungguhnya berlawanan dengan ini. Kristus mungkin sudah menjadi hikmat mereka, tetapi Ia tidak pada saat ini juga mengalir kepada mereka dari Allah. Sekali lagi saya ingin menunjukkan bahwa Paulus tidak mengatakan, ”Kristus adalah hikmat Allah” atau ”Kristus adalah hikmatmu.” Ia mengatakan, ”Oleh Allah (Kristus) telah menjadi hikmat bagi kita.” Ini menunjukkan Kristus harus secara berkesinambungan mengalir dari Allah kepada kita dan menjadi hikmat kita yang sekarang dan yang riil dalam pengalaman kita.
Sangatlah penting bagi kita untuk belajar menerapkan Alkitab ke dalam pengalaman kita. Alkitab terutama bukan sebuah kitab doktrin, melainkan kitab hayat, dan hayat adalah masalah pengalaman. Apa yang diwahyukan dalam Alkitab harus menjadi hidup bagi kita dan dapat diterapkan ke dalam kita, dalam pengalaman kita.
Dalam ayat 30, baik tanda baca maupun tata bahasanya sangat bermakna. Setelah frase ”hikmat bagi kita” terdapat titik dua. Ini menunjukkan bahwa hikmat mencakup ketiga hal yang mengikuti titik dua itu, yaitu kebenaran, dan pengudusan, dan penebusan. Menurut tata bahasa Yunani, kata ”dan” di sini digunakan tidak berkaitan dengan dua hal, tetapi dengan tiga hal. Sekalipun ini janggal dalam bahasa kita, tetapi penerjemahannya tepat menurut bahasa Yunani. Dalam ayat 30 Paulus dengan tegas mengatakan bahwa Kristus ”oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita: kebenaran, dan pengudusan, dan penebusan.” Hikmat ini menyiratkan kebenaran, pengudusan, dan penebusan.
Kristus oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita sebagai tiga perkara penting dalam penyelamatan Allah: (1) kebenaran (untuk masa lampau kita), dengannya kita telah dibenarkan Allah, sehingga kita bisa dilahirkan kembali di dalam roh, mendapatkan hayat Allah (Rm. 5:18); (2) pengudusan (untuk masa kini kita), dengannya kita berangsur-angsur dikuduskan di dalam jiwa kita, yaitu berangsur-angsur diubah di dalam pikiran, emosi, dan tekad kita oleh hayat ilahi-Nya (Rm. 6:19, 22); (3) penebusan (untuk masa kelak kita), yaitu penebusan tubuh kita (Rm. 8:23), dengannya tubuh kita akan ditransfigurasikan oleh hayat ilahi-Nya, sehingga memiliki corak-Nya yang mulia (Flp. 3:21). Karena Allah, kita bisa berbagian dalam penyelamatan yang demikian lengkap dan sempurna, agar seluruh diri kita roh, jiwa, dan tubuh secara organik bersatu dengan Kristus, dan Kristus menjadi segala sesuatu kita. Semuanya ini berasal dari Allah, bukan dari diri kita, demikian kita akan bermegah dan merasa mulia di dalam Dia, tidak di dalam diri kita sendiri.
Mengatakan Kristus adalah kebenaran bagi masa lampau kita, pengudusan bagi masa kini kita, dan penebusan bagi masa kelak kita memang tepat. Setelah kita percaya kepada Tuhan Yesus dan dibenarkan, kita perlu menempuh kehidupan yang kudus, kehidupan yang dikuduskan. Pengalaman subyektif atas kekudusan ini menyiratkan pengubahan atau transformasi, suatu proses yang terjadi dalam jiwa kita. Penebusan tubuh kita akan terjadi kelak. Jadi, kita dilahirkan kembali dalam roh kita ketika kita percaya kepada Tuhan, kita sedang dalam proses pengubahan, dikuduskan dalam jiwa kita, dan pada masa kelak, tubuh kita akan ditebus, ditransfigurasikan.
Sekalipun pengertian ini benar, kita harus menunjukkan bahwa ini adalah satu tafsiran dari ayat 30. Karena merupakan suatu tafsiran, maka kita tidak boleh membiarkan maksud Paulus di sini terbatas olehnya. Memang, untuk diselamatkan sepenuhnya, orang dosa harus melalui tiga langkah: dilahirkan kembali dalam roh, dikuduskan dalam jiwa, dan diubah, ditebus dalam tubuh. Ketika proses ini tergenap, kita akan sama seperti Tuhan Yesus. Menurut 1Yohanes 3:2, kita akan seperti Dia, sebab kita akan nampak Dia seutuhnya. Hari kita tidak seperti Tuhan dalam tubuh kita. Tetapi bila tubuh kita diubah, ditebus sepenuhnya, kita akan seluruhnya seperti Dia.
Kebenaran, pengudusan, dan penebusan tidak saja berhubungan dengan masa lampau, masa kini, dan masa kelak kita. Setiap hari kita perlu Kristus sebagai kebenaran, pengudusan, dan penebusan. Setiap hari kita perlu dibenarkan, kita perlu dikuduskan, dan kita perlu ditebus, tidak saja atas satu perkara, tetapi atas segala perkara. Misalnya, dalam menanggulangi anak-anak mereka, ada beberapa orang tua yang masih bertindak dengan cara lama. Jadi, para orang tua perlu dibenarkan, dikuduskan, dan ditebus dalam hal mendidik anak-anak mereka.
Akhir-akhir ini, dalam Pelajaran Hayat Kitab Keluaran, kita menunjukkan bahwa penebusan mencakup tiga hal: pengakhiran, penggantian, dan dibawa kembali kepada Allah. Tatkala Allah menebus kita, Ia mengakhiri kita, menggantikan kita dengan Kristus, dan membawa kita kembali kepada diri-Nya sendiri.
Berkenaan dengan segala sesuatu dalam kehidupan kita sehari-hari, kita perlu diakhiri, digantikan dengan Kristus, dan dibawa kembali kepada Allah. Jika kita masih menanggulangi anak-anak kita menurut cara lama, itu perlu diakhiri, digantikan dengan Kristus, dan perlu dibawa kembali kepada Allah. Kemudian, sejauh menyangkut masalah penanggulangan anak-anak, kita akan ditebus.
Dalam kehidupan gereja, kita juga perlu penebusan, sebab dalam banyak perkara kita masih sangat alamiah. Mungkin ada yang tidak menyukai seorang saudara atau seorang saudari. Ada lagi yang kekurangan perhatian yang wajar terhadap kaum muda atau kaum tua. Masih ada lagi yang mempunyai kecondongan atau pilihan terhadap penatua-penatua tertentu. Semuanya ini bersangkutan dengan hayat alamiah dan menunjukkan perlunya penebusan. Jadi, dalam kehidupan gereja kita perlu diakhiri, digantikan dengan Kristus, dan dibawa kembali kepada Allah. Dalam segala perkara kita perlu dibenarkan, dikuduskan, dan ditebus. Bila Kristus oleh Allah menjadi hikmat bagi kita, maka akhirnya Ia akan menjadi kebenaran, pengudusan, dan penebusan kita dalam segala sesuatu. Alangkah dalam dan limpahnya pemikiran Paulus di sini!
IV. BERMEGAH DALAM TUHAN
Dalam ayat 31 Paulus menarik kesimpulan, ”Karena itu seperti ada tertulis: ’Siapa saja yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.’” Oleh Allah kita berada di dalam Kristus, dan Kristuslah yang menjadi hikmat bagi kita oleh Allah demi memenuhi segala keperluan kita. Sebab itu, kita harus bermegah hanya di dalam Dia.