← Daftar isi 1 Korintus (1) · bab 17/21

DENGAN PERKATAAN ROHANI, MENERANGKAN HAL-HAL ROHANI KEPADA ORANG-ORANG

YANG ROHANI

Pembacaan Alkitab: 1Kor. 2:11-16, 7, 10

MEMPERHIDUPKAN KRISTUS

UNTUK EKSPRESI ALLAH

Kehendak Allah adalah membuat manusia menjadi ekspresi-Nya. Untuk menggenapkan hal ini, Allah damba masuk ke dalam manusia menjadi hayatnya, supaya manusia dapat memperhidupkan Dia. Untuk itu, Allah menjadi seorang manusia melalui inkarnasi. Pada akhirnya, Kristus, Allah yang berinkarnasi, mati di atas salib. Melalui penyaliban-Nya, Ia mengakhiri seluruh ciptaan lama. Karena itu, penyaliban Kristus tidak saja mencakup kematian Tuhan Yesus, tetapi juga mencakup pengakhiran segala sesuatu dari ciptaan lama. Dengan kematian almuhit ini, maka hayat ilahi, yang sebenarnya adalah Allah itu sendiri, telah dibebaskan dan disalurkan kepada umat Allah yang ditakdirkan, ditebus, dan dipanggil. Melalui percaya kepada Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan ini, mereka menerima hayat ilahi dan Roh ilahi. Harapan Allah ialah supaya mereka sekarang dapat hidup oleh hayat ini dan bertindak oleh Roh ini. Inilah artinya memperhidupkan Kristus untuk ekspresi Allah. Tambahan pula, kehidupan semacam ini tidak seharusnya bersifat individualistis, sebaliknya, haruslah bersifat korporat. Jadi, Allah damba umat-Nya terbangun bersama menjadi tempat kediaman-Nya, Tubuh Kristus. Inilah kehendak Allah.

Kaum beriman di Korintus yang sebagian besar adalah orang Yunani telah menerima karunia-karunia awal, yakni hayat ilahi dan Roh ilahi. Tetapi setelah menerima karunia-karunia ini, mereka tidak hidup olehnya. Mereka tidak hidup oleh hayat ilahi atau bertindak oleh Roh ilahi. Akibatnya, mereka tidak memperhidupkan Kristus sebagai hayat mereka, isi mereka, dan segala sesuatu mereka. Sebaliknya, mereka malah tetap berada dalam kebudayaan Yunani mereka dan membesar-besarkan hikmat dan filsafat mereka. Itulah situasi mereka ketika Paulus menulis Surat ini kepada mereka.

MEMPERHIDUPKAN KEBUDAYAAN,

BUKAN KRISTUS

Ketika menyurati orang-orang Korintus, Paulus seolaholah berkata, ”Kalian, kaum beriman di Korintus, harus membuang kebudayaan, hikmat, dan filsafat Yunani kalian. Jangan lagi menjadi orang-orang Yunani. Sekarang kalian adalah orang-orang Kristen. Jangan lagi memperhidupkan kebudayaan Yunani, membanggakan filsafat kalian, dan menyombongkan hikmat kalian. Kalian telah menerima Kristus, dan Allah telah menaruh kalian ke dalam Kristus. Sekarang karena Allah telah membuat kalian menjadi orang-orang Kristen, maka kalian harus menerima Kristus sebagai hayat, isi, dan segala sesuatu kalian, dan kalian harus memperhidupkan Kristus. Pula, Kristus ini adalah hikmat Allah. Hikmat Yunani itu dangkal, dan kebodohan dalam pandangan Allah. Namun hikmat Allah adalah hikmat yang sejati, dalam dan rahasia. Hikmat Allah jauh melampaui pengertian orang-orang yang filosofis, sebab hikmat ini tersembunyi di dalam Allah, bahkan adalah hal-hal yang tersembunyi di dalam Allah. Hikmat ini, hal-hal yang tersembunyi di dalam Allah, adalah Kristus yang kalian percayai dan yang telah kalian terima. Aku menganjuri kalian untuk meninggikan Kristus ini, menerima Dia sebagai hayat dan segala sesuatu kalian, serta memperhidupkan Dia saja.” Kalau kita mengerti konsepsi yang mendasar ini, kita akan lebih mudah memahami kedua pasal pertama dari surat 1 Korintus ini.

Baik Katholik maupun Protestan telah meninggalkan wahyu Kristus dalam kedua pasal ini. Katholik telah menyerap banyak perkara yang berasal dari aliran penyembah berhala, setan, dan Iblis; praktek Katholik ialah mengambil dan menyerap ajaran-ajaran kafir dan kepercayaan-kepercayaan paganisme; ini tercatat dalam buku The Two Babylons (Dua Babilon) dan dalam tulisan-tulisan G.H. Pember. Protestan telah mengikuti praktek mengadopsi budaya setempat. Asalkan unsur-unsur budaya itu tidak berbau dosa atau berhala, akan diterima oleh agama Protestan. Misalkan di China banyak misionaris Protestan yang mengambil etika-etika China, dan di India mereka mengikuti aspek-aspek tertentu dari kebudayaan India. Akibatnya, apa yang disebut gereja di China dan di India menjadi suatu percampuran kebudayaan. Di China saya pernah melihat para misionaris itu merasa gembira bila orang-orang China mengambil kebudayaan Barat. Misionaris itu juga dengan senang hati menerima kebudayaan setempat. Karena itu, kekristenan di China telah menjadi suatu percampuran kebudayaan China dan Barat. Dilihat dari luar, percampuran semacam itu tidak sejahat seperti paganisme di Katholik. Tetapi pada dasarnya, keduanya itu sama, karena keduanya sama-sama memberitakan Kristus, tetapi tidak membantu orang memperhidupkan Kristus, tidak menerima-Nya sebagai hayat, kehidupan, isi, dan segala sesuatu mereka.

Kehidupan macam apakah yang Anda miliki ketika Anda masih berada dalam kekristenan yang terorganisir? Kalau tidak memperhidupkan Kristus, bukankah Anda hidup menurut kebudayaan Anda? Tentu saja tidak ada seorang pun yang mengajarkan Anda untuk memperhidupkan Kristus, menerima Kristus sebagai hayat dan isi Anda. Adakah orang yang mengajarkan Anda untuk menghirup Kristus, makan dan minum Kristus? Semuanya ini adalah perkara yang asing bagi kebanyakan orang Kristen hari ini.

Prinsipnya, situasi di antara kaum beriman hari ini serupa dengan situasi kaum beriman di Korintus. Orang-orang beriman di Korintus telah menerima Kristus, namun mereka tidak memperhidupkan Dia. Mereka tidak mempunyai konsepsi bahwa Kristus seharusnya menjadi hayat, kehidupan, dan isi mereka. Sebaliknya, pikiran mereka berfokus pada kebudayaan, hikmat, dan filsafat Yunani. Pula, mereka menjunjung hikmat mereka dan memegahkan filsafat mereka. Hal ini menyebabkan mereka mempunyai pikiran yang berbeda seorang dengan yang lain dan mempunyai pilihan atau kesukaan yang berbeda-beda. Ada yang menyukai Paulus, ada yang menyukai Kefas, dan lainnya lagi menyukai Apolos. Akibatnya, mereka terpecah-belah. Perpecahan ini adalah akar kejahatan dan kekacauan di antara mereka.

Situasi di kalangan orang Kristen hari ini mirip dengan situasi gereja di Korintus. Karena itu, semua orang Kristen, termasuk kita, memerlukan Surat Kiriman ini. Kita perlu ditolong oleh kitab ini untuk membuang segala hal yang bukan Kristus. Tidak peduli apa kebudayaan atau kebangsaan Anda, Anda perlu membuang semuanya itu. Kita semua harus meninggalkan kebudayaan, filsafat, etika, dan tradisi kita dan berpusat pada Kristus sebagai bagian kita yang unik.

MENERIMA KRISTUS

SEBAGAI SEGALA SESUATU KITA

Sebagian besar dari kaum beriman yang dibaptis ke dalam satu denominasi telah dibentuk menurut pola denominasi itu, bukan menurut pola Kristus atau Alkitab. Mereka berbicara dan berperilaku menurut pola denominasi itu. Sekarang, karena kita berada dalam kehidupan gereja di dalam pemulihan Tuhan, kita tidak boleh dibentuk oleh sesuatu yang bukan Kristus. Kita harus memiliki Kristus saja, bukan tradisi atau peraturan yang mana pun. Misalnya, seorang saudari yang tidak berdandan karena ia membentuk dirinya menurut pola pemulihan berbeda dengan seorang saudari yang tidak berdandan karena ia memperhidupkan Kristus melalui hidup di dalam roh dan menyeru nama Tuhan. Demikian pula, seorang saudara mungkin berhenti merokok, karena ia berusaha membentuk dirinya sesuai dengan praktek pemulihan, atau mungkin ia berbuat demikian karena ia memperhidupkan Kristus, sehingga ia tidak lagi memiliki keinginan untuk merokok. Kita bukan membentuk diri kita menurut pola pemulihan, tetapi kita harus memperhidupkan Kristus.

Di kalangan orang Kristen, sangatlah umum orang memiliki banyak hal untuk menggantikan Kristus. Orang-orang beriman boleh jadi memiliki etika, moralitas, kebudayaan, filsafat, doktrin, dan tradisi, namun tanpa Kristus. Sebenarnya, kekristenan hari ini adalah tanpa Kristus. Di antara orang-orang Kristen, hampir setiap hal bisa menjadi pengganti Kristus.

Konsepsi yang mendasar dalam 1Korintus 1 dan 2 ialah, kita harus membuang setiap hal selain Kristus. Ketika Paulus datang ke Korintus dan memberitakan Kristus, ia memutuskan untuk tidak tahu apa-apa selain Yesus Kristus dan Dia yang disalibkan. Ini dengan jelas menunjukkan bahwa ia meninggalkan segala hal selain Kristus. Ketika kita membaca 1 Korintus, kita perlu mempunyai kesan yang dalam terhadap konsepsi yang mendasar ini. Kita perlu nampak bahwa kita harus membuang setiap hal selain Kristus dan dengan sungguh-sungguh menerima Kristus sebagai segala sesuatu kita. Kristus benar-benar almuhit; Ia adalah segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi di dalam diri Allah.

MENGENAL DUA ROH

Dalam 2:11 Paulus berkata, ”Siapa di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah.” Roh manusia adalah bagian terdalam dari manusia, memiliki indra yang bisa menembus hal-hal terdalam dari diri manusia, sedang pikiran manusia hanya mampu menjangkau hal-hal permukaan saja. Demikian juga, hanya Roh Allah yang mampu mengetahui hal-hal Allah yang dalam dan tersembunyi.

Orang-orang Yunani terkenal dengan olah raga dan filsafat mereka. Olah raga adalah untuk melatih dan mengembangkan tubuh, dan filsafat untuk mengembangkan pikiran. Hari ini juga terdapat suatu penekanan yang kuat atas pengembangan tubuh dan pikiran. Namun, roh sama sekali diabaikan. Apabila kita membicarakan roh, ada beberapa orang tidak mengerti apa yang kita katakan. Bagi mereka roh mengacu kepada hantu atau setan. Bahkan banyak orang Kristen tidak tahu perbedaan antara roh manusia dengan jiwa. Kebanyakan orang Kristen percaya dikotomi suatu ajaran yang mengatakan bahwa manusia terbagi dalam dua bagian; tubuh dan jiwa dan hanya sebagian kecil yang mengikuti Alkitab, yaitu percaya kepada trikotomi kebenaran yang menyatakan bahwa manusia memiliki tiga bagian: roh, jiwa, dan tubuh. Kaum beriman di Korintus tahu bagaimana melatih tubuh dan pikiran, namun mereka tidak tahu apa-apa tentang roh manusia. Karena itu, dalam ayat 11 Paulus mengajar mereka tentang roh dan mengatakan bahwa roh manusia mengetahui hal-hal manusia. Mereka yang tidak melatih roh manusianya, tidak bisa mengetahui hal-hal yang terdapat dalam diri manusia dengan sempurna. Sebagaimana hanya roh manusialah yang mengetahui hal-hal manusia, demikian pula hanya Roh Allah yang mengetahui hal-hal Allah.

Dalam ayat 12 Paulus menyambung, ”Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita.” Sebagai orang-orang yang oleh Roh Allah dilahirkan dari Allah, kita telah menerima Roh Allah. Karena itu, kita bisa mengetahui hal-hal Allah yang dalam dan tersembunyi, yang Allah berikan secara cuma-cuma kepada kita untuk kenikmatan kita.

Paulus menghendaki kaum beriman di Korintus mengetahui bahwa sebagai manusia, mereka memiliki satu roh untuk mengetahui hal-hal manusia, dan sebagai kaum beriman di dalam Kristus, mereka telah menerima Roh Allah untuk mengetahui hal-hal yang dikaruniakan oleh Allah dengan cuma-cuma. Orang-orang Kristen di sana kekurangan pengetahuan yang tepat tentang kedua roh ini. Mereka mempunyai pikiran yang tajam dan jiwa yang kuat, tetapi mereka tidak menyadari bahwa mereka memiliki roh manusia. Tambahan pula, mereka mengabaikan Roh Allah yang telah mereka terima. Jadi, dalam ayat 11-12 Paulus mengingatkan mereka tentang kedua roh ini. Ia menunjukkan bahwa mereka mempunyai satu roh manusia di batin mereka dan mereka pun telah menerima Roh yang berasal dari Allah, untuk mengetahui hal-hal yang dikaruniakan Allah dengan cuma-cuma. Berdasarkan ayat 9, hal-hal ini telah disediakan Allah dan ditetapkan oleh-Nya. Semua hal tersebut bertalian dengan Kristus. Untuk mengetahui hal-hal ini, orang-orang Korintus harus memperhatikan roh manusia mereka dan Roh Allah.

HAL-HAL ROHANI DAN PERKATAAN ROHANI

Dalam ayat 13 Paulus melanjutkan perkataannya tentang hal-hal yang dikaruniakan Allah kepada kita, ”Karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang rohani, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh.” Istilah ”menafsirkan” di sini dalam bahasa Yunaninya berarti ”membaurkan” atau ”menjajarkan”, seperti dalam menerjemahkan atau menerangkan sesuatu secara rinci. Ini sering terlihat di dalam kitab Septuagin, seperti dalam Kejadian 40:8; 41:12, 15. Kalimat ”kepada mereka yang rohani” dalam bahasa aslinya adalah ”dengan perkataan rohani”. Pemikirannya di sini ialah menerangkan hal-hal rohani dengan perkataan rohani. Di sini tidak ditekankan berkata kepada siapa, melainkan ditekankan pada sarana yang dipakai untuk mengatakan hal-hal rohani. Rasul menerangkan hal-hal rohani, yakni hal-hal Allah yang dalam dan tersembunyi tentang Kristus dengan perkataan rohani yang diajarkan oleh Roh itu.

Paulus berkata bahwa ia tidak mengatakan hal-hal rohani dengan kata-kata yang diajarkan oleh hikmat manusia, melainkan dengan kata-kata yang diajarkan oleh Roh. Ini berarti ia tidak berbicara dengan kata-kata filsafat atau hikmat Yunani, melainkan menerangkan hal-hal rohani dengan perkataan rohani. Dalam ayat ini, istilah ”hal-hal rohani” dan ”perkataan rohani” dalam bahasa aslinya sama, namun memiliki dua arti. Pertama, hal-hal rohani mengacu kepada hal-hal Allah yang dalam tentang Kristus. Kedua, ungkapan ini mengacu kepada perkataan rohani. Hal-hal rohani dijelaskan dengan perkataan rohani. Perkataan rohani ini adalah hal-hal rohani yang dipakai untuk menjelaskan hal-hal rohani. Sebagai contoh, kata meja ini mengacu kepada suatu obyek yang disebut meja. Karena kata meja adalah satu petunjuk dari meja yang sesungguhnya, maka kita tidak boleh menganggap kata ini satu hal dan meja ini hal yang lain. Pembicaraan yang menurut hikmat Yunani bukanlah yang rohani. Tetapi perkataan-perkataan yang diajarkan oleh Roh Allah benar-benar adalah yang rohani. Jadi, hal-hal rohani ini adalah hal-hal yang dikaruniakan Allah kepada kita tentang Kristus sebagai bagian kita, juga adalah perkataan-perkataan yang diajarkan oleh Roh Allah. Kita perlu seperti Paulus, yakni membicarakan hal-hal rohani dengan perkataan rohani.

Kaum beriman di Korintus membicarakan tentang Kristus bukannya dengan kata-kata rohani, melainkan dengan kata-kata filsafat dan hikmat Yunani. Sebagai akibatnya, mereka memberi kesan kepada orang lain dengan istilah-istilah filsafat, bukan dengan Kristus. Akan tetapi Paulus tidak memakai istilah-istilah filsafat ketika ia membicarakan Kristus. Sebaliknya ia membicarakan hal-hal rohani dengan perkataan rohani. Ia menggunakan perkataan rohani yang identik dengan hal-hal rohani itu sendiri. Dalam ayat 13 Paulus seolah-olah berkata kepada orang-orang Korintus, ”Aku tidak bisa menggunakan perkataan hikmat Yunani untuk menyampaikan hal-hal rohani, sebab itu adalah kata-kata yang diajarkan oleh hikmat manusia. Yang demikian itu bukan perkataan rohani, dan tidak dapat digunakan untuk menerangkan hal-hal rohani. Kalau aku menggunakan kata-kata hikmat yang dikagumi oleh kalian, orang-orang Yunani, aku tidak akan sanggup membicarakan hal-hal rohani kepada kalian.”

Kita semua harus belajar dari Paulus, yaitu tidak mencoba berbicara dengan ungkapan-ungkapan ”umum” kepada orang lain. Ini berarti kita tidak boleh merendahkan standar pemberitaan kita kepada standar ungkapan manusia yang umum. Ungkapan manusia yang umum tidak cukup untuk menyampaikan hal-hal rohani. Begitu kita meninggalkan standar bahasa yang diajarkan oleh Roh dan memakai kata-kata yang diajarkan oleh hikmat manusia, kita akan tidak mampu lagi menyampaikan hal-hal rohani kepada orang lain. Karena alasan inilah dalam pembicaraan dan tulisan saya, saya berusaha bertumpu pada kata-kata yang diajarkan oleh Roh itu.

Kita harus menentang godaan untuk merendahkan standar rohani. Sebaliknya, kita harus berusaha membawa orang lain mencapai standar ini. Setelah nampak visi tentang ekonomi Allah, kita harus mempertahankan standar visi ini. Bahkan ketika orang lain menganjuri kita untuk turun ke standar mereka dengan alasan mereka tidak dapat memahami apa yang kita katakan. Permintaan semacam itu telah sering disampaikan kepada saya dan datang dari berbagai arah. Namun demikian, saya menolak untuk turun ke standar hikmat manusia. Sebaliknya, saya menganjuri orang lain, demi rahmat Allah, mencapai standar-Nya. Kita pasti tidak dapat menerangkan hal-hal rohani dengan filsafat Yunani, etika China, atau dengan ungkapan-ungkapan kebudayaan Amerika umumnya. Hal-hal rohani hanya dapat diterangkan dengan hal-hal rohani, yaitu dengan perkataan rohani. Inilah pelajaran penting yang harus kita pelajari.

Orang-orang yang menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa China tahu pentingnya menggunakan kata-kata rohani untuk menyampaikan hal-hal rohani. Misalkan, Perjanjian Baru sering memakai ungkapan ”di dalam Kristus”. Tetapi dalam bahasa China tidak ada cara untuk mengungkapkan fakta bahwa seseorang dapat berada di dalam orang lain. Para penerjemah itu tidak mengganti ungkapan ”di dalam Kristus” ini. Mereka tidak menyesuaikan diri dengan batasan bahasa China dalam hal ini. Sebaliknya, mereka menciptakan ungkapan baru dalam bahasa China untuk menyampaikan pemikiran tentang berada di dalam Kristus. Kemudian, ungkapan tersebut menjadi populer dalam bahasa China lisan. Hal ini mengilustrasikan fakta bahwa bila kita ingin menerangkan hal-hal rohani dengan kata-kata rohani, pada akhirnya orang lain pun akan belajar dan mencapai standar Allah juga.

MANUSIA JIWANI

Ayat 14 mengatakan, ”Tetapi manusia jiwani tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani” (Tl.). Ayat 13 menekankan sarana rohani, yakni kata-kata rohani yang olehnya hal-hal rohani dibicarakan. Ayat 14 dan 15 menekankan sasaran rohani, yakni manusia rohani, bukan yang jiwani; hanya orang yang rohani yang mampu melihat jelas hal-hal rohani. Baik sarana maupun sasarannya haruslah rohani. Hal-hal rohani harus disampaikan kepada manusia rohani dengan kata-kata rohani.

Manusia jiwani adalah manusia alamiah, yaitu manusia yang membiarkan jiwanya (meliputi pikiran, emosi, dan tekad) menjadi majikan yang mengendalikan antero dirinya dan yang hidup berdasarkan jiwanya, tidak menghiraukan rohnya, tidak menggunakan rohnya, bahkan seperti tidak memiliki roh (Yud. 19). Orang sedemikian tidak menerima dan tidak bisa memahami hal Roh Allah, malahan menolaknya. Para agamawan Yahudi yang meminta tanda dan orang-orang Yunani yang mencari hikmat filsafat (1:22), adalah orang-orang alamiah. Bagi mereka hal Roh Allah adalah suatu kebodohan (1:23).

Hal-hal rohani dari Allah dalam ayat 14 mengacu pada hal Allah yang dalam dan tersembunyi tentang Kristus yang adalah bagian kita. Seorang manusia jiwani tidak mampu mengetahui hal-hal ini, sebab ia tidak memiliki kekuatan dasar untuk memahami hal-hal rohani. Karena itu, ia tidak sanggup memahami hal-hal rohani. Hal-hal rohani hanya dapat dikenal, diuji, dan diselidiki secara rohani oleh orang-orang rohani dengan sarana rohani.

Menurut konteks 1Korintus, seorang manusia jiwani adalah orang yang hidup menurut kebudayaan Yunani. Pada prinsipnya, orang-orang yang hidup menurut kebudayaan mereka adalah orang yang jiwani. Kalau seorang beriman China hidup menurut etika China, ia adalah orang yang jiwani. Demikian pula, kalau seorang saudara Amerika hidup menurut kebudayaan modern Amerika, ia pun seorang manusia jiwani. Karena itu, seorang manusia jiwani adalah seorang yang hidup di dalam kebudayaannya.

MELIHAT JELAS SECARA ROHANI

Dalam ayat 14 Paulus menekankan fakta bahwa halhal dari Roh Allah hanya dapat dilihat jelas secara rohani. Jika kita ingin melihat jelas hal-hal rohani, kita harus tahu bahwa kita memiliki satu roh. Kemudian kita perlu menyadari bahwa Roh Allah berhuni di dalam roh kita dan kita mulai melatih roh kita untuk melihat jelas hal-hal rohani dengan cara yang rohani.

Dalam ayat 15 Paulus berkata, ”Tetapi manusia rohani menilai (melihat jelas) segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain.” Manusia rohani adalah orang yang menyangkal jiwanya dan tidak hidup oleh jiwanya, tetapi membiarkan rohnya, yaitu roh yang telah dilahirkan kembali, yang digerakkan dan diduduki Roh Allah, untuk mengendalikan antero dirinya. Lebih jauh, ia hidup oleh roh ini, bergerak dan berperilaku berdasarkan roh ini (Rm. 8:4). Orang rohani sedemikian bisa melihat jelas perkara Roh Allah, karena naluri kesadaran rohaninya bisa menyatakan daya gunanya. Mereka yang tidak melatih roh, tidak bisa melihat jelas orang yang rohani. Seperti halnya seekor lembu tidak bisa mengapresiasi musik yang indah, demikian juga seorang manusia jiwani tidak dapat melihat jelas orang yang rohani. Hari ini banyak orang Kristen dapat diumpamakan dengan lembu-lembu yang mendengarkan musik; mereka tidak bisa mengapresiasi atau memahami apa yang mereka dengar. Orang-orang Kristen ini sangat mengerti perkara-perkara duniawi atau perkara-perkara alamiah, namun mereka tidak mampu melihat jelas hal-hal rohani atau orang-orang rohani.

PIKIRAN-PIKIRAN KRISTUS

Ayat 16 adalah penutup dari bagian 1 Korintus ini: ”Sebab: ’Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?’ Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.” Karena kita bersatu secara organik dengan Kristus, maka kita memiliki segala indra yang Ia miliki. Pikiran adalah indra kecerdasan, adalah organ pemahaman. Kita memiliki organ pikiran Kristus ini, maka kita bisa mengetahui apa yang Ia ketahui. Kita bukan hanya memiliki hayat Kristus, tetapi juga memiliki pikiran Kristus. Kristus harus menjenuhi pikiran kita dari roh kita, sehingga pikiran kita menjadi satu dengan pikiran-Nya. Ketika kita menjadi satu dengan Kristus, maka pikiran-Nya akan menjadi pikiran kita. Ini tidak seharusnya hanya menjadi doktrin bagi kita, tetapi harus menjadi pengalaman dan praktek kita.