HIKMAT ALLAH YANG RAHASIA, KRISTUS SEBAGAI PERKARA-PERKARA ALLAH YANG DALAM
Pembacaan Alkitab: 1Kor. 2:6-10
Judul berita ini ialah: ”Hikmat Allah yang Rahasia, Kristus sebagai Perkara-perkara Allah yang dalam”. Tanda koma (,) dalam judul ini menunjukkan bahwa Kristus sebagai perkara-perkara Allah yang dalam merupakan kata yang aposisi dengan hikmat Allah yang rahasia. Hikmat Allah yang rahasia sebenarnya adalah Kristus yang almuhit sebagai perkara-perkara Allah yang dalam.
Dalam Firman Allah, 1Korintus pasal 1-2 adalah bagian yang sangat dalam. Tidak banyak pembaca Alkitab yang mengerti pasal-pasal ini dengan tepat dan memadai. Perkataan Paulus dalam 2:6-10 luar biasa dalam. Jangan menganggap ayat-ayat atau pasal-pasal ini memang seharusnya begitu. Lagi pula, pemahaman atas pasal-pasal ini diperlukan untuk memahami bagian-bagian lain dalam kitab ini. Pintu masuk untuk memahami 1Korintus terdapat dalam pasal 1-2.
HIKMAT YANG RAHASIA
Dalam 2:6 Paulus berkata, ”Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan.” Dalam ayat-ayat terdahulu, Paulus berkata bahwa ia tidak datang kepada mereka dengan hikmat yang unggul dan perkataannya pun bukan perkataan muluk-muluk yang meyakinkan. Tetapi dalam ayat 6, ia berkata bahwa ia juga memberitakan hikmat di kalangan orang-orang yang matang. Tatkala Paulus menulis Surat Kiriman ini, ia benar-benar menyadari bahwa kaum beriman di Korintus masih jauh dari kematangan. Mengapa kemudian ia berkata bahwa ia juga memberitakan hikmat di kalangan orang-orang yang matang? Tujuannya berbuat demikian ialah hendak merendahkan orang-orang Korintus. Di sini Paulus seolah-olah berkata, ”Kalian orang-orang Korintus mengira kalian telah mencapai sesuatu yang besar, padahal kalian sebenarnya masih bayi. Kami memang memberitakan hikmat, tetapi kami memberitakan hikmat di kalangan orang-orang yang matang. Lagi pula, hikmat yang kami beritakan bukan hikmat dari zaman ini, dan bukan hikmat dari penguasa-penguasa zaman ini. Orang-orang biasa tidak memiliki hikmat ini, demikian pula orang-orang yang tergolong kelas penguasa. Sesungguhnya, penguasa-penguasa zaman ini akan ditiadakan.”
Dalam ayat 7 Paulus meneruskan, ”Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita.” Hikmat Allah ialah Kristus (1:24), Dia adalah rahasia yang tersembunyi (Kol. 1:26-27), yang telah ditentukan, ditakdirkan, ditetapkan sebelum dunia dijadikan untuk kemuliaan kita.
Kemuliaan dalam ayat ini mengacu kepada Kristus, Dia adalah Tuhan kemuliaan (ayat 8). Hari ini Kristus adalah hayat kita (Kol. 3:4), kelak adalah kemuliaan kita (Kol. 1:27). Allah telah memanggil kita ke dalam kemuliaan ini (1Ptr. 5:10), dan Dia akan memimpin kita masuk ke dalam kemuliaan ini (Ibr. 2:10). Inilah sasaran penyelamatan Allah.
Berdasarkan ayat 7, hikmat Allah tersembunyi dan rahasia; ini adalah hikmat yang rahasia. Karena itu, hikmat Allah tidak seperti hikmat orang Yunani, yang terbuka dan sangat dangkal. Lagi pula, hikmat Allah adalah hikmat yang telah tersembunyi dan yang telah disediakan Allah sebelum dunia dijadikan untuk kemuliaan kita. Hikmat Allah adalah nasib kita, dan sebelumnya nasib ini telah ditentukan oleh Allah, diputuskan oleh-Nya. Allah telah menetapkan nasib kita dalam kekekalan. Ia telah menakdirkan hikmat-Nya untuk kemuliaan kita. Ini berarti dalam kekekalan, Ia telah memutuskan bahwa hikmat-Nya akan menjadi nasib dan kemuliaan kita. Nasib kita bukan hanya menikmati berkat-berkat kekal di surga. Nasib kita adalah hikmat Allah yang rahasia. Allah telah menakdirkan hikmat-Nya yang rahasia itu menjadi kemuliaan kita.
Dalam ayat 8 Paulus melanjutkan pikirannya dari ayat 7, ”Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenal hikmat ini, sebab sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia.”
Dalam ayat 9 Paulus melanjutkan, ”Tetapi seperti ada tertulis: ’Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: Semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.’” Ruang lingkup yang dapat dilihat oleh mata sangat sempit, ruang lingkup yang dapat didengar oleh telinga lebih luas, ruang lingkup yang bisa dipahami oleh hati manusia tidaklah terbatas. Di dalam hikmat-Nya, yaitu di dalam Kristus, Allah telah menetapkan dan menyediakan banyak hal yang dalam, rahasia, dan tersembunyi, seperti pembenaran, pengudusan, pemuliaan, dan lain-lainnya. Semuanya ini adalah yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah timbul dalam hati manusia.
Ayat 10 mengatakan, ”Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.” Kita akan melihat bahwa hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah di sini mengacu kepada Kristus sebagai perkara-perkara Allah yang dalam.
INTI ALLAH DAN BAGIAN KITA
Semakin kita membahas 2:6-10, kita akan semakin memahami bahwa ayat-ayat ini sangat dalam, dan sulit untuk dipahami. Untuk memahami ayat-ayat ini kita perlu memperhatikan konteks pasal 1 dan 2, yakni pasal-pasal yang memberi kita visi yang jelas tentang Kristus sebagai inti Allah dan bagian kita. Dalam pasal-pasal ini Paulus menekankan fakta bahwa Kristus adalah inti Allah dan bagian kita. Allah mempunyai ekonomi yang ingin Ia genapkan. Ekonomi ini adalah kehendak-Nya, tujuan-Nya. Titik inti ekonomi Allah adalah Kristus. Sebagai Persona yang adalah kekuatan dan hikmat Allah dalam ekonomi-Nya, Kristus adalah inti unik Allah. Allah telah memanggil kita ke dalam persekutuan, partisipasi, kebersamaan inti ini. Hasilnya, Kristus sebagai inti unik ini menjadi bagian bagi kenikmatan kita. Ini ditunjukkan oleh frase ”Tuhan mereka dan Tuhan kita” dalam 1:2.
Inti pemikiran dalam 1Korintus pasal 1-2 terungkapkan melalui kata-kata inti dan bagian. Menurut pasal-pasal ini, Paulus menganggap Kristus sebagai inti Allah dan bagian kita. Ini berarti inti Allah telah diberikan kepada kita sebagai bagian kita untuk kenikmatan kita.
Satu Korintus 1:30 mengatakan, ”Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita: kebenaran, dan pengudusan, dan penebusan” (Tl.). Di sini kita nampak bahwa Kristus telah menjadi hikmat bagi kita dari Allah. Dengan demikian Ia adalah kebenaran, pengudusan, dan penebusan kita. Istilah-istilah ini merupakan definisi lebih lanjut dari hakiki Kristus sebagai bagian kita. Kristus tidak hanya kebenaran kita untuk masa lampau, pengudusan kita untuk masa kini, dan penebusan kita untuk masa kelak, bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari Ia adalah kebenaran, pengudusan, dan penebusan bagi kita. Ini adalah hakiki Kristus sebagai bagian kita untuk kita nikmati.
Kalau kita memiliki pengertian dari pemikiran inti pasal 1-2 ini, maka kita sudah siap untuk membahas 2:6-10. Selaku inti Allah dan bagian kita untuk kita nikmati, Kristus adalah hikmat Allah yang rahasia. Hikmat dalam 2:7 bermakna dalam, itulah hikmat yang di luar jangkauan pengertian manusia, sebab itu adalah hikmat yang rahasia, hikmat yang tersembunyi. Di dalam Allah terdapat sesuatu yang oleh Paulus dilukiskan sebagai hikmat yang rahasia. Inilah Kristus, inti ekonomi Allah dan bagian untuk kita nikmati. Jarang sekali pengkhotbah-pengkhotbah hari ini yang memberitakan Kristus sebagai hikmat Allah yang rahasia. Mayoritas orang Kristen hari ini tidak mengetahui Dia sebagai hikmat yang rahasia ini. Demi rahmat Tuhan kita sedang dengan sekuat tenaga melayankan Kristus dan bersaksi tentang Dia sebagai satu hikmat yang rahasia. Bahkan adanya ungkapan ”hikmat yang rahasia” dalam kosa kata kristiani kita pun sangat berguna. Terpujilah Tuhan, kita nampak bahwa Kristus ini adalah inti Allah dan bagian kita!
Dalam ayat 7 Paulus berkata bahwa hikmat ini telah tersembunyi dan ditakdirkan sebelum dunia dijadikan bagi kemuliaan kita. Takdir atau nasib adalah bagian terakhir dari seseorang. Sebagai orang-orang Kristen, kita mempunyai satu nasib, dan nasib ini adalah bagian terakhir dari kenikmatan kita. Hikmat Allah yang rahasia tidak saja dulu tersembunyi, tetapi juga telah ditakdirkan oleh Allah untuk menjadi nasib kita bagi kemuliaan kita. Kemuliaan adalah nasib kita, tujuan kita. Dalam kekekalan, kita semua akan ada di dalam kemuliaan.
TERSELUBUNG OLEH FILSAFAT
Sebagai orang-orang Yunani, kaum beriman di Korintus menganggap diri mereka sangat filosofis dan penuh dengan hikmat. Namun bagi Allah hikmat mereka sama sekali bukan hikmat, melainkan kebodohan. Hikmat yang sejati adalah hikmat yang telah tersembunyi di dalam Allah. Hikmat filsafat manusia bukanlah hikmat yang sejati.
Sebagai seorang yang dilahirkan dan dibesarkan di China, saya sangat mengenal tulisan-tulisan klasik ajaran tertentu. Kelihatannya tulisan-tulisan itu penuh dengan hikmat. Namun, dalam pandangan Allah, semua itu sebenarnya adalah kebodohan. Pada akhirnya saya sangat kasihan terhadap orang-orang China yang pandai dalam filsafat etis tersebut. Filsafat telah menyelubungi mereka dan menghalang-halangi mereka untuk mengenal Allah, Kristus, Roh itu, dan keselamatan Allah. Karena mereka telah diselubungi oleh filsafat, maka orang-orang China yang etis itu tidak dapat mengenal realitas-realitas yang indah ini. Tidak dapat disangsikan, prinsipnya sama dengan orang-orang Yunani yang filosofis ini. Filsafat itu merupakan selembar tirai tebal yang menyelubungi orang-orang Yunani. Bahkan orang Yunani Korintus yang telah percaya kepada Tuhan dan yang telah menerima Dia, masih terselubung oleh filsafat dan hikmat mereka.
Filsafat telah membuat orang menjadi bodoh, sebab filsafat membuat mereka menolak Allah dan menyangkal Kristus. Apakah yang lebih bodoh daripada hal ini? Orang-orang filosofis yang menyangkal Allah dan Kristus. Karena itu, dalam pandangan Allah, hikmat filosofis mereka tidak lebih dari kebodohan. Ketika saya masih tinggal di China, saya benar-benar menginginkan agar orang-orang China yang pandai itu bisa beralih dari filsafat mereka dan mengenal Allah dan Kristus.
NASIB KITA
Menurut pengertian Paulus dalam pasal 1-2, hikmat sejati adalah hikmat rahasia yang tersembunyi di dalam Allah. Seperti telah kita tunjukkan, hikmat ini adalah Kristus itu sendiri. Allah telah menjadikan hikmat yang rahasia dan tersembunyi ini menjadi nasib kita. Ini berarti Allah telah menentukan bahwa Kristus yang rahasia dan tersembunyi ini menjadi nasib kita. Tahukah Anda, apakah nasib Anda sebagai seorang Kristen? Nasib Anda adalah Kristus yang rahasia dan tersembunyi, yaitu Dia yang adalah hikmat Allah, inti ekonomi Allah, dan bagian kita. Pernahkah Anda mendengar bahwa Kristus adalah nasib Anda? Kita semua tahu bahwa Kristus adalah Penebus, Penyelamat, Tuhan, Tuan, dan bahkan hayat kita. Tetapi boleh jadi Anda tidak pernah menyadari bahwa Kristus adalah nasib Anda. Namun fakta yang menakjubkan ini diwahyukan dalam 2:7. Di sini Paulus berkata ada satu hikmat, satu hikmat yang rahasia dan tersembunyi di dalam Allah, yakni Kristus itu sendiri. Lagi pula, Allah telah menentukan hikmat ini bagi kemuliaan kita. Ini benar-benar menunjukkan bahwa Allah telah membuat Kristus menjadi nasib kita. Terpujilah Dia bahwa Dia tidak hanya Penyelamat, Tuhan, dan hayat kita, Ia pun nasib kita! Nasib ini akhirnya akan membawa kita ke dalam kemuliaan.
Walaupun mengatakan kemuliaan adalah Kristus, itu benar, tetapi kita perlu ingat bahwa kemuliaan adalah Allah yang terekspresikan. Mengatakan kemuliaan adalah Kristus sebenarnya berarti Kristus adalah Allah yang terekspresi. Kristus, ekspresi Allah, adalah nasib kita. Alangkah indahnya nasib kita! Nasib ini akan membawa kita ke dalam kemuliaan, kemuliaan yang adalah ekspresi Allah. Jika kita nampak hal ini, kita akan bersujud di hadapan Tuhan, menyembah Dia, dan mempersembahkan syukur dan puji-pujian kita kepada-Nya.
MENGASIHI ALLAH
Dalam ayat 9 Paulus berkata, ”Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: Semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” Jika kita mau memahami dan berbagian dalam hal-hal yang dalam, rahasia, dan tersembunyi yang Allah tentukan dan sediakan bagi kita, kita bukan hanya perlu percaya kepada-Nya, tetapi juga mengasihi-Nya. Takwa kepada Allah, menyembah Allah, percaya Allah (yaitu menerima Allah), masih kurang; mengasihi Dia adalah hal yang tidak boleh kurang. Mengasihi Allah berarti mutlak menaruh antero diri kita roh, jiwa, dan tubuh beserta hati, akal budi, kekuatan (Mrk. 12:30) ke atas diri-Nya. Ini berarti membiarkan seluruh diri kita diduduki oleh Dia, kita hilang di dalam diri-Nya, sehingga Dia menjadi segala kita dan kita bersatu dengan Dia secara riil di dalam kehidupan sehari-hari. Demikian, kita akan memiliki persekutuan yang terakrab dan terintim dengan Allah, bisa masuk ke dalam hati-Nya, memahami segala rahasia yang terkandung dalam hati-Nya (Mzm. 73:25; 25:14). Demikianlah kita bukan hanya memahami, bahkan mengalami, menikmati, dan mutlak berbagian dalam perkara-perkara Allah yang dalam, rahasia, dan tersembunyi.
MENGETAHUI HAL-HAL YANG TERSEMBUNYI DALAM DIRI ALLAH
Dalam ayat 6 Paulus berkata bahwa hikmat yang kita bicarakan bukan hikmat zaman ini, atau hikmat dari penguasa-penguasa zaman ini. Di dalam dirinya sendiri, manusia tidak mampu mengetahui hikmat ini. Hikmat ini harus diwahyukan melalui Roh itu. Karena itu dalam ayat 10 Paulus berkata, ”Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.” Allah mewahyukan perkara-perkara yang dalam dan tersembunyi kepada kita melalui Roh itu, sebab perkara-perkara itu tidak pernah dilihat oleh mata manusia, didengar oleh telinga manusia, dan tidak pernah timbul di dalam hati manusia. Ini berarti manusia tidak mempunyai ide atau pikiran terhadap perkara-perkara tersebut. Semua itu benar-benar rahasia, tersembunyi di dalam Allah, dan di luar jangkauan pengertian manusia. Namun Allah telah mewahyukannya kepada kita oleh Roh itu, yang menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.
Terwahyunya sesuatu kepada kita berbeda dengan pengajaran. Pengajaran berhubungan dengan pikiran kita, wahyu berhubungan dengan roh kita. Untuk memahami perkara yang dalam, rahasia, dan tersembunyi, yang Allah sediakan bagi kita, lebih perlu roh kita daripada pikiran kita. Ketika antero diri kita menjadi satu dengan Allah melalui mengasihi Dia di dalam persekutuan yang intim dengan Allah, maka melalui Roh-Nya, Dia akan di dalam roh kita, mewahyukan kepada kita segala rahasia Kristus sebagai bagian kita. Inilah mewahyukan kepada kita perkara-perkara tersembunyi yang direncanakan oleh hikmat Allah tentang Kristus, yang tidak pernah timbul dalam hati manusia.
Satu Korintus 2:10 mengatakan bahwa Roh itu menyelidiki segala sesuatu. Istilah yang diterjemahkan menyelidiki ini menyatakan penyelidikan yang positif dan aktif, menyiratkan pengetahuan tepat yang didapat bukan melalui penemuan, melainkan melalui eksplorasi. Roh Allah mengeksplorasi perkara Allah yang dalam dan rahasia tentang Kristus dan mewahyukannya kepada kita di dalam roh kita, sehingga kita bisa memahami dan berbagian dalamnya.
Hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah mengacu kepada perkara rahasia Allah, yaitu Kristus dalam setiap aspek menjadi bagian kekal kita, yang ditentukan, dipersiapkan, dan dikaruniakan Allah secara cuma-cuma kepada kita. Semua ini tidak pernah timbul dalam hati manusia, tetapi diwahyukan kepada kita oleh Roh Allah di dalam roh kita. Karena itu, jika kita mau berbagian atasnya, kita harus rohani. Kita harus bergerak, berperilaku, dan hidup di dalam roh, sehingga kita bisa menikmati Kristus sebagai segala sesuatu kita.
MENJADI SATU ROH DENGAN TUHAN
Kebanyakan orang yang percaya kepada Allah tidak tahu hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. Mereka mengenal Allah hanya secara dangkal. Demikianlah keadaan orang-orang beragama hari ini, termasuk sebagian besar orang Kristen. Berapa banyak orang Kristen hari ini yang mengenal Allah berdasarkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah? Banyak orang beriman bahkan tidak memiliki pengertian yang tepat atas perkara-perkara yang benar-benar dianggap dalam oleh Allah. Sebagian orang mengira bahwa memiliki pengetahuan Alkitab tentang ketujuh kepala, kesepuluh tanduk, dan ketujuh puluh minggu itu berarti mengetahui perkara-perkara yang dalam. Menurut mereka, mengerti perkara-perkara semacam itu berarti mengenal Alkitab secara mendalam. Ada orang beriman tertentu bahkan mengira berbicara dengan bahasa lidah itu sesuatu yang dalam. Padahal, bahasa lidah adalah perkara yang sangat dangkal, tidak bersangkut paut dengan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah yang dikatakan dalam ayat 10.
Jika Anda ingin mengetahui hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah, perkara-perkara Allah yang dalam, Anda perlu memahami surat Roma, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, Ibrani, Yohanes, dan Wahyu. Namun, kitab-kitab ini pun, kitab-kitab yang mewahyukan perkara-perkara yang dalam, tidak memberi tahu kita bahwa Kristus, Adam yang akhir dalam daging, telah menjadi Roh pemberi hayat. Hanya dalam 1Korintus lah kita memperoleh pernyataan yang demikian. Tambahan pula, hanya dalam kitab ini Paulus berkata, ”Siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia” (6:17). Perkara-perkara apa lagi yang lebih dalam daripada perkara-perkara ini? Apa lagi yang lebih dalam daripada Adam yang akhir menjadi Roh pemberi hayat dan kita mengikatkan diri dengan Tuhan menjadi satu roh? Perkara-perkara ini tidak dapat diterka; perkara-perkara ini tidak terukur dalamnya.
Mengenal Allah hanya sebagai Pencipta berarti mengenal Dia secara sangat dangkal. Bahkan para mahasiswa kedokteran yang mempelajari fisiologi pun bisa mengambil kesimpulan bahwa tubuh manusia pasti ada Penciptanya. Lewat studi mereka, mereka dapat mengenal Allah dan mengakui Dia sebagai Pencipta. Orang lain mungkin mengenal bahwa Allah itu berdaulat dan Ia dapat menyediakan segala yang kita butuhkan. Namun ini pun bukan pengenalan tentang hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.
Jika kita ingin mengetahui hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah, kita harus mengetahui bahwa melalui inkarnasi Allah, pada suatu hari, menjadi manusia yang bernama Yesus. Melalui penyaliban-Nya, Tuhan Yesus telah mengakhiri ciptaan lama dan melepaskan hayat ilahi supaya hayat itu dapat dibagi-bagikan ke dalam semua orang yang percaya kepada-Nya. Kini, dalam kebangkitan, Ia adalah Roh pemberi hayat yang berhuni di roh kita dan yang telah menjadi satu roh dengan kita. Kita mempunyai roh yang berbaur di batin kita, yakni roh insani yang dilahirkan kembali berbaur dengan Roh ilahi. Ini adalah perkara yang sangat dalam. Sayang sekali, tidak banyak orang Kristen yang mengetahui perkara-perkara yang dalam ini.
Jika kita memperhatikan konteks seluruh kitab 1Korintus, kita akan berkeyakinan untuk menafsirkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah (2:10) mengacu kepada Kristus yang almuhit, yang sebagai Roh pemberi hayat telah berhuni di roh kita. Setelah merampungkan penebusan, Kristus ini telah menjadi Roh pemberi hayat. Dengan demikian, Ia menjadi tersedia bagi kita, sehingga kita dapat mengikatkan diri kepada-Nya menjadi satu roh. Tidak ada perkara lain yang lebih dalam daripada hal ini. Alangkah menyedihkan, hal-hal yang tersembunyi ini telah diabaikan oleh kebanyakan orang Kristen hari ini!
Mengetahui hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah berarti mengetahui Kristus dalam berbagai aspek sebagai bagian kekal kita. Kristus adalah inti ekonomi Allah, bagian yang diberikan Allah kepada kita untuk kita nikmati, dan hikmat rahasia yang tersembunyi di dalam Allah. Hikmat Allah yang rahasia adalah Kristus sebagai perkara-perkara Allah yang dalam. Saya menganjuri kalian untuk berdoa dan bersekutu tentang hal ini dan mencari satu pengertian yang lebih dalam tentang hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah Kristus itu sendiri sebagai hikmat yang rahasia dan tersembunyi, fokus ekonomi Allah, dan bagian yang diberikan kepada kita oleh Allah untuk kita nikmati. Kristus, Sang almuhit dan alwasi ini benar-benar adalah hal-hal yang tersembunyi dalam diri Alah.