← Daftar isi 1 Korintus (1) · bab 15/21

KRISTUS YANG DISALIBKAN, INTI MINISTRI RASUL

Pembacaan Alkitab: 1Kor. 2:1-5; Kol. 2:2, 9; Ef. 1:9-10

Dalam berita ini kita tiba pada 1Kor. 2:1-5. Menurut ayat-ayat ini, Kristus yang tersalib adalah inti ministri Paulus. Lagi pula, dalam ayat-ayat ini kita nampak cara atau jalan ministri rasul.

CARA PEMBERITAAN PAULUS

Dalam ayat 1 Paulus berkata, ”Demikian pula, ketika aku datang kepadamu, Saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang muluk atau dengan hikmat yang tinggi untuk menyampaikan rahasia Allah kepada kamu.” Kata ”yang muluk” secara harfiah berarti yang tinggi dan baik. Paulus datang ke Korintus bukan untuk memamerkan perkataannya yang muluk, tinggi atau hikmat filsafat, dalam pemberitaannya akan rahasia Allah.

Orang-orang Yunani senang akan ungkapan-ungkapan pemikiran filosofis yang indah-indah. Tetapi, Paulus datang ke Korintus tidak dengan perkataan yang indah atau hikmat. Ini menunjukkan bahwa Paulus tidak memberitakan Injil kepada orang-orang Yunani menurut cara hikmat mereka. Sebaliknya, ia menghindari praktek semacam itu.

Cara pemberitaan Injil Paulus berbeda dengan cara yang lazim dipraktekkan para pendeta dan penginjil hari ini. Di dalam institut Alkitab atau seminari, orang-orang diajarkan berkhotbah dengan menggunakan psikologi dan filsafat terhadap orang-orang yang menerima berita mereka. Sebagai contoh, orang-orang yang pergi ke Jerman untuk memberitakan Injil dianjuri mempelajari psikologi dan filsafat orang Jerman dan memakainya dalam khotbah mereka. Akan tetapi, ketika Paulus pergi ke Yunani, ia tidak berkhotbah dengan cara demikian. Paulus khawatir kalau salib Kristus menjadi sia-sia karena perkataan hikmat itu.

Di China saya pernah mendengar ada beberapa misionaris yang berkhotbah dengan menggunakan filsafat etis China. Walaupun pendeta-pendeta itu memakai nama Kristus dan mengisahkan Alkitab, perkataan mereka tidak memberi kesan kepada orang lain tentang Kristus atau Firman Allah. Sebaliknya, mereka memberi kesan kepada orang-orang China yang terpelajar bahwa Injil sebenarnya memperkuat filsafat asli mereka.

RAHASIA ALLAH

Ketika menyampaikan Kristus dan Injil kepada orang lain, kita harus jelas bahwa cara bicara kita tidak boleh membuat pendengar meleset dari butir yang terpenting. Lebih baik perkataan kita dianggap orang aneh atau janggal daripada kita membuat orang meleset dari perkara mendasar tentang Kristus dan salib. Memberi kesan kepada orang tentang pengetahuan atau pembicaraan kita itu bukanlah sasaran kita. Sebaliknya, beban kita adalah memberi kesan kepada orang tentang Kristus. Kita harus melayankan Kristus kepada mereka dan bukan memamerkan bahasa atau pengetahuan kita.

Butir penting kedua dalam ayat 1 ialah rahasia Allah. Apa itu rahasia Allah yang Paulus katakan dalam ayat 1? Beberapa ahli pada zaman dulu mengganti rahasia dengan kesaksian. Yang diberitakan rasul sebagai kesaksian Allah adalah rahasia Allah, yaitu Kristus sebagai perwujudan Allah dan gereja sebagai ekspresi Kristus (Rm. 16:25-26; Kol. 1:26-27; 2:2; 4:3; Ef. 3:4-6, 9). Sebenarnya kesaksian Allah dan rahasia Allah adalah satu perkara. Rahasia Allah adalah kesaksian Allah. Kesaksian ini, rahasia ini, mencakup Kristus sebagai perwujudan Allah dan gereja sebagai ekspresi Kristus.

Hari ini banyak orang yang memberitakan tentang Kristus dan bersaksi tentang Dia. Tetapi kebanyakan dari mereka yang memberitakan Kristus itu tidak memperhatikan gereja. Namun, kesaksian Allah yang penuh selalu mencakup Kristus dan gereja. Akhir-akhir ini, dalam Pelajaran Hayat Keluaran kita nampak bahwa tabut kesaksian, suatu lambang Kristus, mempunyai ukuran tengahan. Dimensi-dimensi ini menunjukkan bahwa setengah unit lainnya diperlukan. Jika kita memberitakan Kristus tanpa memberitakan gereja, kita hanya memberitakan setengah berita, hanya setengah dari kesaksian Allah. Mayoritas orang Kristen hari ini hanya mempunyai setengah kesaksian. Sebenarnya, banyak yang bahkan tidak mencapai setengah, sebab mereka tidak mempunyai Kristus yang lengkap. Dalam Perjanjian Baru, kesaksian Allah yang lengkap adalah Kristus dan gereja. Kristus adalah Kepala, dan gereja adalah Tubuh. Kristus adalah rahasia Allah, dan gereja adalah rahasia Kristus.

Ketika Paulus datang ke Korintus, ia menyampaikan kedua paruhan dari kesaksian Allah ini; yakni, ia memberitakan Kristus dan gereja. Ini dapat kita buktikan dari isi 1 Korintus. Dalam Surat Kiriman ini kita nampak Kepala dan Tubuh. Sebenarnya, bagian yang lebih besar dari kitab ini bertalian dengan gereja, tidak langsung bertalian dengan Kristus. Dalam kedua pasal pertama Kristus diwahyukan, tetapi pasal-pasal selebihnya terpusat pada gereja. Sebagian besar problem di antara kaum beriman di Korintus melibatkan gereja. Karena itu, Paulus menyajikan kesaksian Allah yang lengkap kepada mereka: Kristus Sang Kepala, dan gereja, Tubuh-Nya. Lagi pula, ia menyampaikan kesaksian ini dengan kata-kata yang sederhana, bukan dengan perkataan yang muluk atau dengan pemikiran-pemikiran yang filosofis.

MEMUTUSKAN UNTUK

HANYA MENGETAHUI KRISTUS

Dalam ayat 2 Paulus meneruskan, ”Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu, selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.” Kristus yang disalibkan adalah satu-satunya pokok, sentral, isi, dan substansi dari ministri Paulus. Karena itu, ketika ia akan melayankan perkataan kesaksian Allah kepada orang-orang Yunani yang menyanjung kata-kata yang muluk dan menyanjung hikmat filsafat, ia memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa selain Kristus yang almuhit dan Dia yang disalibkan. Satu keputusan yang betapa tepat! Ini harus menjadi teladan bagi kita semua.

Yesus Kristus menyatakan persona Tuhan. Ungkapan ”Dia yang disalibkan” menyatakan model kehidupan, pergerakan, pekerjaan, dan jalan Tuhan; menyatakan kerendahan hati dan kerendahan diri Kristus. Untuk meruntuhkan kesombongan orang-orang Yunani yang menjunjung tinggi hikmat, di sini Paulus tidak menyinggung tentang kebangkitan-Nya dalam kemuliaan (Luk. 24:26), atau kenaikan-Nya ke surga dan pengangkatan-Nya (Kis. 2:33, 36).

Menurut ayat 2, Paulus memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara orang-orang Korintus selain Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. Ada beberapa yang menarik dari ayat ini sebagai dasar untuk membantah bahwa Paulus tidak memberitakan gereja, tetapi hanya bersaksi tentang Kristus. Dari konteks seluruh kitab 1Korintus, kita mengetahui bahwa mulai pasal 3, yang di dalamnya Paulus berkata bahwa kaum beriman adalah ladang Allah, bangunan Allah, Paulus membicarakan banyak hal tentang gereja. Dalam Surat Kiriman ini sebenarnya ia membicarakan lebih banyak tentang gereja daripada Kristus. Maksud Paulus dalam ayat 2 ialah dia memutuskan untuk tidak mengetahui filsafat, kebudayaan, doktrin, agama, atau jenis praktek-praktek yang mana pun. Ia hanya memperhatikan Kristus. Tetapi ketika Paulus membicarakan tentang Kristus, ia mencakup gereja, sebab Kristus adalah Kepala gereja, yang adalah Tubuh-Nya. Dalam 12:12 Paulus bahkan menunjukkan bahwa gereja, Tubuh, adalah bagian dari Kristus. Karena itu, tidak benar mengatakan Paulus meniadakan gereja ketika ia menyatakan keputusannya untuk tidak mengetahui apa-apa selain Kristus.

Dalam ayat 2 Paulus seolah-olah berkata, ”Saudara-saudara yang terkasih di Korintus, kalian masih sangat filosofis, dan kalian masih hidup menurut hikmat kalian. Namun tatkala aku datang kepada kalian untuk melayankan rahasia Allah dan menyampaikan kesaksian Allah, aku tidak mengandalkan hikmat atau filsafat. Aku benar-benar tidak menekankan agama atau kebudayaan. Yang kubicarakan kepada kalian adalah Persona yang hidup, Putra Allah, Yesus Kristus. Aku memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di tengah-tengah kalian selain Persona ajaib ini. Aku sengaja meninggalkan filsafat, hikmat, dan perkataan yang muluk-muluk.”

Paulus juga mengingatkan orang-orang Korintus bahwa Kristus yang ia beritakan adalah Dia yang telah disalibkan. Di satu pihak, Paulus tidak menggunakan perkataan yang indah atau hikmat; di pihak lain, ia bukannya memproklamirkan Kristus yang telah beroleh penghormatan, yang telah ditinggikan, dan dipermuliakan, melainkan Kristus yang dihina, ditolak, dikalahkan, dan bahkan disalibkan. Di sini Paulus seolah-olah berkata, ”Kalian telah percaya kepada Kristus dan menerima Dia dengan karunia-karunia awal. Tetapi setelah menerima Kristus, kalian telah berbuat salah, yaitu tidak menempuh kehidupan yang disalibkan. Sebaliknya, kalian menempuh satu kehidupan yang memuliakan diri sendiri dan meninggikan diri sendiri. Padahal Dia yang aku beritakan kepada kalian dan yang kalian terima adalah Kristus yang ditolak, dihina, dan disalibkan. Jangan lagi hidup dengan meninggikan diri sendiri. Sebaliknya, hendaklah kalian menempuh hidup yang disalibkan, bahkan memperhidupkan Kristus yang disalibkan. Janganlah memegahkan pengetahuan kalian, melainkan hendaklah kalian mau memberi kesan bahwa kalian tidak mengetahui apa-apa selain Kristus yang disalibkan. Kalian semua berkata bahwa kalian dari Paulus, dari Kefas, dari Apolos, atau dari Kristus yang terbatas. Itu adalah menurut cara manusia, bukan menurut Kristus yang disalibkan. Kalian harus memperhidupkan Dia yang telah disalibkan.”

Sebuah gereja lokal akan selalu bermasalah bila orang-orang kudus ingin mengetahui perkara-perkara lain yang di luar Kristus. Mengetahui terlalu banyak doktrin sering menimbulkan perdebatan dan bahkan menyebabkan perpecahan. Tidak mengetahui perkara-perkara lain selain Kristus dan Kristus yang disalibkan, selalu berfaedah; dan inilah satu-satunya jalan yang aman.

Jika semua orang kudus dalam gereja lokal memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa selain Kristus Yesus, tidak akan ada problem dalam kehidupan gereja. Gereja lokal yang paling indah adalah gereja yang tersusun dari orang-orang kudus yang tidak mengetahui apa-apa selain Kristus. Bila mereka mengajukan pertanyaan, mereka menjawab bahwa mereka hanya mengetahui Kristus, menyeru nama Tuhan, berdoa, dan menikmati Tuhan Yesus. Mereka rela tampak seperti orang bodoh, karena tidak mengetahui apa-apa selain Kristus dan Dia yang disalibkan ini.

Jika gereja lokal yang paling baik adalah gereja di mana orang-orang kudusnya tidak mengetahui apa-apa selain Kristus, maka gereja yang paling banyak problem adalah gereja yang orang-orang kudusnya mengetahui terlalu banyak perkara selain Kristus. Lebih dari 40 tahun yang silam, saya menghabiskan sejangka waktu yang panjang untuk mencoba membantu gereja semacam ini. Namun usaha saya sia-sia, sebab setiap orang dalam gereja itu mengetahui terlalu banyak.

Penting sekali kita memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa dan belajar berkata, ”Aku tidak tahu.” Belajarlah menetapkan untuk tidak mengetahui apa-apa selain Yesus Kristus. Oh, kita semua harus memiliki roh, sikap, dan praktek yang demikian. Jika kita memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa selain Kristus, niscaya tidak akan ada problem atau perpecahan di antara kita.

Adakalanya ketika kita mengunjungi sebuah gereja di tempat lain, orang-orang kudus di sana ada yang menanyakan doktrin-doktrin dan praktek-praktek tertentu. Menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka adalah satu kekeliruan besar dan hal itu akan memboroskan banyak waktu dan tenaga. Lagi pula, kita akan memboroskan kesempatan untuk melayankan Kristus kepada orang kudus. Kita harus menjadi orang-orang yang hanya mengetahui Kristus dan Firman Allah semata. Dengan demikian kita akan mempunyai lebih banyak kesempatan untuk melayankan Kristus kepada orang lain.

Problem di Korintus ialah kaum beriman tahu terlalu banyak. Selain itu, mereka memustikakan pengetahuan, bahkan sampai taraf menjunjung tinggi pengetahuan. Karena itu, tidaklah heran kalau Paulus berniat merendahkan pengetahuan mereka dan menunjukkan Kristus yang telah disalibkan kepada mereka.

KELEMAHAN, TAKUT, DAN GENTAR

Dalam ayat 3 Paulus selanjutnya berkata, ”Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.” Kelemahan di sini mengacu kepada kelemahan jasmani rasul, yang mungkin terdapat pada tubuhnya karena penganiayaan yang ia terima karena Injil. Paulus tidak menunjukkan dirinya sebagai orang yang kuat perkasa dalam tubuh jasmani ketika berada di antara orang-orang Yunani, yang mencari kekuatan bukan hanya secara psikologis atas filsafat, tetapi juga secara fisik atas olah raga mereka.

Paulus mengingatkan orang-orang di Korintus bahwa ia telah datang kepada mereka dengan perasaan yang sangat takut dan gentar. Takut adalah perasaan di dalam, gentar adalah penampilan yang di luar. Ketika rasul menunaikan ministrinya kepada orang-orang Yunani yang mencari hikmat, di dalam batin ia merasa takut kehilangan Kristus, di luar ia gentar kalau-kalau ia terpengaruh oleh kegairahan kedambaan mereka terhadap hikmat. Karena takut dan gentar sedemikian, maka ia menurut visi surgawi, menghindari setiap penyimpangan dan dengan setia berdiri teguh dalam ministri yang Allah amanatkan kepadanya. Para agamawan Yahudi yang bergairah membanggakan agama tradisional mereka, orang-orang Yunani yang menyanjung filsafat menyombongkan hikmat duniawi mereka. Ketika melayankan Kristus kepada kedua golongan orang ini, Paulus berada dalam keadaan takut dan gentar. Betapa bedanya keadaan rasul dengan mereka!

Paulus menyadari betapa sulitnya memberitakan Kristus kepada orang-orang yang filosofis. Mudah sekali kita terjerat oleh filsafat, atau tergoda untuk berusaha menundukkan orang lain. Ketika kita berbicara dengan orang lain tentang Kristus, paling baik kita lupakan saja orang macam apa mereka itu dan nyatakan saja kesaksian tentang Kristus. Seperti Paulus, kita harus takut dan gentar, supaya kita tidak kehilangan Kristus ketika kita berbicara kepada orang-orang yang filosofis.

BUKTI ROH DAN KEKUATAN

Ayat 4 mengatakan, ”Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan bukti Roh dan kekuatan” (Tl.). Kata-kata hikmat yang meyakinkan atau memikat membujuk berasal dari pikiran manusia, sedang keyakinan atau bukti Roh itu berasal dari roh kita. Perkataan yang rasul katakan, firman yang ia beritakan, bukan berasal dari pikiran yang diucapkan berdasarkan tafsiran, melainkan berasal dari rohnya, yang diucapkan dengan kebebasan dan peragaan Roh itu, karena itu sangat kuat.

Dalam ayat 5 Paulus berkata, ”Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.” Hikmat manusia adalah filsafat tingkat dasar; kekuatan Allah adalah Kristus yang almuhit (1:24).

Dalam ayat 4-5 Paulus mengulangi apa yang telah dikatakannya sebelumnya. Kata-katanya berbeda, tetapi konsepsinya sama. Paulus tidak menggunakan kata-kata hikmat yang meyakinkan, melainkan bukti Roh itu dan kekuatan. Kekuatan yang dibuktikan Paulus ialah Kristus yang disalibkan. Hasil dari pembuktian ini ialah supaya iman kaum beriman itu bukan bergantung pada hasil hikmat Paulus yang mengalahkan hikmat mereka, melainkan bergantung pada kekuatan Allah, yakni Kristus yang telah disalibkan.

Berabad-abad yang lampau kaum Nestorian dan Yesuit mencoba menginjili orang-orang China yang terpelajar. Beberapa orang China memang menyambut agama Kristen karena usaha mereka, tetapi perbuatan mereka sebenarnya tidak disertai dengan benar-benar menerima Kristus. Terutama mereka terpengaruh oleh beberapa aspek dari kebudayaan dan ilmu tertentu. Dengan ini kita nampak, adalah keliru bila kita memberitakan Kristus kepada orang dengan menurunkan standar ke tingkat mereka, dan dengan menggunakan bahasa dan filsafat mereka. Dalam memberitakan Kristus kita perlu bertahan pada level kita, dan level atau standar ini tidak lain Kristus itu sendiri. Biarlah mereka yang mau datang ke level ini dan menerima Kristus. Kemudian mereka akan menjadi kaum beriman yang sejati dalam Kristus. Usaha kaum Nestorian maupun Yesuit berakhir dengan kegagalan justru karena mereka turun ke standar etika dan filsafat lokal. Banyak orang Kristen hari ini yang melakukan kesalahan serupa, suatu kesalahan yang harus kita hindari.

VISI TENTANG EKONOMI ALLAH

Dalam pemulihan Tuhan kita harus memiliki satu visi yang jelas tentang ekonomi Allah. Kemudian kita perlu dikuasai, dikendalikan, dan dipimpin oleh visi ini. Karena saya telah nampak visi ini dan dipimpin olehnya, saya tidak pernah mengubah nada saya selama bertahun-tahun ini. Saya tahu apa yang telah saya tampak, saya tahu apa yang sedang saya ajarkan, dan saya tahu apa yang saya ministrikan kepada umat Tuhan. Jika kita nampak visi tentang ekonomi Allah, dengan otomatis kita hanya mempunyai satu pilihan, satu cita rasa, dan satu ministri. Kita hanya memperhatikan Kristus yang almuhit dan alwasi (meluas dan memenuhi semua), serta kehidupan gereja yang sejati dan wajar. Hari ini kita dalam pemulihan Tuhan harus perkasa dan tidak goyah dalam hal visi tentang ekonomi Allah, kehendak kekal Allah. Karena Paulus telah nampak visi ini dan setia pada visi ini, ia bisa menjadi sangat perkasa. Kita semua perlu menjadi perkasa dan kokoh seperti itu.