MENGAMBIL BAGIAN ATAS KRISTUS SEBAGAI BAGIAN KITA
Pembacaan Alkitab: 1Kor. 1:2, 9; 6:17; 10:16-17
DALAM KEBANGKITAN
Kristus yang kita miliki adalah Persona yang almuhit. Ia adalah Allah Tritunggal, Bapa, Putra, dan Roh. Sebagai Allah yang telah berinkarnasi, Ia hidup sebagai manusia di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun. Melalui kematian-Nya di atas salib, Ia menyalibkan ciptaan lama. Dengan demikian Ia membawa ciptaan kembali kepada Allah. Sekarang, karena Kristus telah mengakhiri kita di atas salib, apa yang telah Ia akhiri itu Ia gantikan dengan diri-Nya sendiri dalam kebangkitan. Dalam kebangkitan, Kristus telah menjadi Roh pemberi hayat. Sebenarnya Roh pemberi hayat adalah kebangkitan. Jadi kebangkitan bukan hanya suatu perkara atau suatu benda, melainkan satu Persona hidup. Dalam Yohanes 11:25 Tuhan Yesus berkata, ”Akulah kebangkitan dan hidup.”
Hari ini Persona Kristus yang ajaib ini, Sang yang oleh-Nya segala sesuatu telah diciptakan, yang telah melalui inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan, adalah Roh pemberihayat yang almuhit. Roh ini adalah ekspresi Allah Tritunggal yang rampung sempurna.
Jika ada orang bertanya kepada kita di mana kita berada hari ini, kita harus berkata bahwa kita sekarang berada di dalam kebangkitan. Kebangkitan adalah Roh pemberi hayat, Roh pemberi hayat adalah Kristus, dan Kristus adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses.
Dalam 1 Korintus Paulus menanggulangi sebelas problem. Enam problem di antaranya tercakup dalam sepuluh pasal yang pertama, dan lima problem lainnya tercakup dalam enam pasal terakhir. Keenam problem yang pertama adalah perpecahan, pendakwaan, percabulan, penyalahgunaan kebebasan dalam makan dan pernikahan, pernikahan itu sendiri, dan masalah memakan sajian berhala. Semua problem ini berkaitan dengan sifat insani, kehidupan insani. Problem golongan kedua bertalian dengan lingkungan pemerintahan Allah. Kelima problem ini mencakup kekepalaan, perjamuan Tuhan, karunia-karunia rohani, kebangkitan, dan pemberian barang material. Ketika menanggulangi problem kebangkitan, Paulus mengucapkan sebuah perkataan yang ajaib, yakni ”Adam yang akhir telah menjadi Roh pemberi hayat” (1Kor. 15:45 Tl.). Inilah kebangkitan. Ketika Kristus hanya sebagai Adam yang akhir, Ia belum berada dalam kebangkitan. Sebaliknya, Ia berada dalam sifat insani, dalam daging. Tetapi melalui kematian, Ia masuk ke dalam kebangkitan. Kini dalam kebangkitan Ia tidak lagi di dalam daging, sebab Ia adalah Roh pemberi hayat. Roh pemberi hayat ini adalah realitas kebangkitan.
Bila kita berada di dalam roh, kita pun berada dalam kebangkitan. Kebangkitan adalah hayat yang menaklukkan maut. Kalau kita benar-benar mengalami berada dalam kebangkitan, maka kita pasti segar dan lincah, sebab ada hayat yang meluap dari batin kita. Dalam keadaan demikian, kita dapat dibandingkan dengan sebuah tanaman yang hijau. Sebuah tanaman yang hidup boleh dipakai untuk mengilustrasikan kebangkitan. Jika sebuah tanaman subur dan berbunga, kita boleh mengatakan bahwa pohon itu sedang dalam kebangkitan. Tetapi bila pohon itu layu dan mati, kita tidak dapat mengatakan tanaman itu dalam kebangkitan. Demikian pula, jika kita duduk dalam sidang secara formal atau agamawi, pasti kita tidak berada dalam kebangkitan. Sebaliknya, mungkin kita masih berada di dalam kubur.
CARA PAULUS MENANGGULANGI PROBLEM
Kita telah menunjukkan bahwa keenam problem pertama yang disinggung dalam 1Korintus berkaitan dengan kehidupan insani. Cara Paulus menanggulangi problem-problem tersebut berlainan dengan cara yang dipraktekkan para pengkhotbah atau pendeta hari ini. Sebagai contoh, misalkan ada sepasang suami istri yang mempunyai problem dan berkonsultasi dengan pendeta mereka, maka ia akan menanggulangi problem mereka dengan cara agamawi atau dengan cara yang alamiah. Namun, cara Paulus sangat dalam dan sangat sulit dilukiskan. Cara Paulus menanggulangi problem-problem diwahyukan secara bertahap dalam kesepuluh pasal pertama. Cara Paulus sangat rohani dan unggul. Kita dapat mengibaratkan caranya seperti seutas rantai yang dirangkai dengan banyak bagian. Pasal pertama dari Surat Kiriman ini diawali dengan satu bagian rantai itu, dan pasal terakhir diakhiri dengan bagian yang lain. Paulus memulai dengan perkataan dalam 1:2 tentang Kristus adalah Tuhan mereka dan Tuhan kita. Problem-problem di kalangan kaum beriman di Korintus dikarenakan fakta bahwa mereka mengabaikan Kristus sebagai bagian mereka yang unik. Bagian mereka bukan filsafat Yunani atau hikmat duniawi, bagian mereka adalah Kristus yang almuhit yang diministrikan oleh Paulus. Kristus yang almuhit ini adalah Tuhan mereka dan Tuhan kita. Ini berarti Dia adalah bagian kita yang unik.
Andaikata sepasang suami istri berkonsultasi dengan Paulus tentang problem mereka dalam kehidupan pernikahan, ia tentu tidak membantu mereka secara agamawi. Ia tentu tidak menganjuri sang suami harus mengasihi istrinya atau sang istri harus menaati suaminya. Tetapi cara demikian ini justru dipraktekkan oleh para pendeta hari ini. Cara Paulus untuk menanggulangi problem manusia sangatlah berbeda. Bahkan kata-katanya dalam 1:2 tentang orang kudus yang terpanggil, mereka yang dikuduskan di dalam Kristus Yesus, dan mereka yang menyeru nama Tuhan kita Yesus Kristus di segala tempat, Tuhan mereka dan Tuhan kita, adalah kata-kata yang berhubungan dengan problem yang disinggung dalam Surat Kiriman ini. Walaupun ayat ini kelihatannya bukan bagian dari cara Paulus menanggulangi problem manusia, tetapi sebenarnya ayat ini mengandung kekayaan rohani yang dipakai Paulus untuk memecahkan problem-problem tersebut. Berdasarkan ayat ini, kita, orang-orang Kristen harus memahami bahwa Kristus yang almuhit adalah Tuhan kita. Selain itu, kita adalah orang kudus yang terpanggil, yaitu orang-orang yang telah dipanggil Allah untuk menyeru nama Tuhan Yesus Kristus yang mustika dan tersayang itu. Jika seorang saudari yang telah menikah menyeru nama Kristus yang almuhit, ia akan benar-benar taat kepada suaminya. Alasan para istri tidak taat kepada suami mereka ialah karena mereka kurang menikmati Kristus yang almuhit. Saudari-saudari, bila kalian sulit taat kepada suami kalian, seru saja nama Tuhan. Saya jamin setelah kalian menyeru beberapa kali, Tuhan akan menjamah dan menyuplai kalian. Dengan spontan kalian akan menjadi istri yang paling taat. Ini adalah hasil dari menikmati Kristus sebagai bagian kalian.
Pada tahun-tahun belakangan ini para saudari sering datang kepada saya membawa problem kehidupan pernikahan. Dalam banyak kasus, saya tidak saja bersimpati kepada mereka, tetapi juga menyetujui mereka. Pada tahun-tahun pertama dari ministri saya, tindakan saya sama dengan yang dilakukan para pendeta. Saya menganjuri para saudari itu membaca Efesus 5 dan berdoa, bahkan sambil berpuasa kalau perlu. Sering kali seorang saudari kembali berkata bahwa apa yang saya usulkan itu tidak membuahkan hasil. Yang dapat saya lakukan kemudian ialah menghibur saudari itu, dan berusaha membantu dia lagi. Sebenarnya sedikit pun saya tidak bisa membantunya. Lambat laun saya baru tahu bahwa problem-problem dalam kehidupan pernikahan tidak dapat dipecahkan hanya dengan berdoa dan membaca Alkitab. Pemeliharaan dan suplai hayat itulah yang mereka butuhkan. Kita tidak dapat menerima perawatan yang kita butuhkan hanya dari Alkitab hitam atas putih saja, sebab yang kita butuhkan ialah Kristus yang hidup itu sendiri. Dengan mendoabacakan firman dan menyeru nama Tuhan, kita akan menerima perawatan dan suplai yang diperlukan. Bila seorang saudari tersuplai sedemikian, ia pasti akan menemukan pemecahan atas problem yang ia hadapi dengan suaminya.
Kadang-kadang, ketika saya menyeru nama Tuhan Yesus, saya benar-benar terjamah oleh-Nya, bahkan menangis. Kemudian, jamahan itu menjadi perawatan, suplai, dan kekuatan saya. Tambahan pula, saya menyadari bahwa melalui menyeru nama Tuhan, saya dapat melakukan perkara yang tidak dapat saya lakukan dengan kekuatan saya sendiri. Inilah kenikmatan atas Kristus menurut 1:2. Jika kita menyeru nama Tuhan Yesus di segala tempat, kita akan mengetahui bahwa Kristus adalah Tuhan kita, dan kita akan menikmati Dia.
Satu Korintus 1:9 mengatakan, ”Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.” Kita telah dipanggil ke dalam persekutuan Kristus yang almuhit sebagai bagian kita. Persekutuan ini tidak lain adalah Persona hidup dari Kristus yang almuhit itu. Ini berarti kita telah dipanggil ke dalam Persona ini dan ke dalam persekutuan-Nya. Allah telah memanggil kita ke dalam Kristus, menjadi bagian bersama dan kenikmatan kita.
MENJADI SATU ROH DENGAN TUHAN
Kita telah melihat bahwa Kristus yang almuhit adalah bagian kita dan kita telah dipanggil ke dalam persekutuan Kristus ini. Namun bagaimana Kristus yang berinkarnasi, tersalib, dan bangkit ini menjadi bagian kita untuk kita nikmati? Untuk mengerti hal ini kita perlu membahas 6:17. Dalam 1Korintus 6:17 Paulus mengatakan, ”Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Persekutuan yang kita masuki tidak lain adalah Kristus sebagai Roh pemberi hayat. Untuk mengalami persekutuan ini kita harus menjadi satu roh dengan Dia. Dalam roh kita, kita menjadi satu dengan Roh pemberi hayat ini.
Ketika saya memulai ministri saya di Amerika Serikat beberapa tahun yang silam, saya sudah menekankan fakta bahwa kita yang telah percaya kepada Kristus memiliki roh manusia yang telah dilahirkan kembali, yaitu satu roh manusia yang dihuni oleh Roh ilahi, dan kita telah menjadi satu roh dengan Tuhan. Banyak orang yang merasa kagum setelah mengetahui diri mereka memiliki satu roh manusia. Tentu saja mereka sudah mengetahui bahwa mereka mempunyai satu jiwa dan satu hati, tetapi mereka belum mengetahui tentang roh manusia. Semua orang Kristen mengetahui Roh Kudus, tetapi tidak semua menyadari bahwa mereka pun mempunyai satu roh manusia. Setiap orang yang baru masuk ke dalam kehidupan gereja perlu memahami bahwa mereka memiliki satu roh manusia yang telah dilahirkan kembali oleh Roh Kudus. Selain itu, dalam kehidupan sehari-hari, kita harus melatih roh ini.
Ketika menghadapi problem dalam kehidupan seharihari, mungkin yang bereaksi adalah jiwa kita, tubuh kita, atau roh kita. Misalkan seorang saudara pulang ke rumah dari bekerja yang melelahkan seharian itu. Tiba di rumah ia disambut oleh istrinya dengan penuh keluhan dan tidak senang terhadapnya. Saudara itu dapat bereaksi dalam tiga cara. Cara pertama, yang paling umum, yaitu bereaksi dengan jiwanya, terutama dari pikiran atau emosi. Kemungkinan kedua ialah ia bereaksi dengan cara jasmaniah, yakni naik pitam. Alternatif ketiga ialah saudara ini bereaksi dengan melatih rohnya yang telah dilahirkan kembali. Setiap orang beriman harus menyadari bahwa roh kita telah dilahirkan kembali dan telah dihuni oleh Roh pemberi hayat yang almuhit. Saudara yang menghadapi kesulitan dengan istrinya harus melatih rohnya dan membiarkan Roh pemberi hayat memimpin dia. Kemudian ia akan mengetahui apa yang harus ia katakan kepada istrinya dan bagaimana ia harus bertindak. Siapa pun yang melihat seorang saudara hidup secara demikian akan mengetahui bahwa ia berbeda dengan suami-suami pada umumnya. Ia tidak menggunakan tubuhnya untuk bereaksi secara jasmani atau menggunakan jiwanya, tetapi ia melatih rohnya. Kita semua perlu melatih roh kita dalam kehidupan sehari-hari, teristimewa dalam kehidupan pernikahan dan kehidupan keluarga kita.
Karena kita memiliki roh yang dilahirkan kembali, kita dapat mengalami Kristus sebagai bagian kita dan dapat pula mengalami persekutuan Kristus ini. Kalau roh kita belum dilahirkan kembali oleh Roh itu dan belum dihuni oleh Roh itu, Kristus tidak dapat menjadi bagian kita, dan kita pun tidak mungkin berada dalam persekutuan Kristus. Sebagaimana instalasi listrik harus memiliki aliran listrik baru bisa berfungsi, demikian pula kita harus berada dalam roh jika kita ingin mengalami Kristus sebagai bagian kita dan menikmati persekutuan-Nya. Bila arus listrik itu mengalir ke dalam instalasi listrik, barulah kita dapat menikmati terang, panas, atau udara sejuk. Demikian pula, dengan menjadi satu roh dengan Tuhan, barulah kita dapat mengalami Dia sebagai Sang almuhit. Karena alasan inilah Paulus berkata bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. Semua orang yang percaya kepada Tuhan Yesus dan mengasihi Dia sudah mengikatkan dirinya pada Dia. Di dalam roh kita benar-benar telah menjadi satu dengan Dia. Kita mempunyai roh yang dilahirkan kembali, dan Kristus sekarang adalah Roh pemberi hayat yang berhuni di dalam roh kita. Hasilnya, kita menjadi satu roh dengan Dia. Alangkah menakjubkan hal ini! Kita semua harus menyadari bahwa kita telah menjadi satu roh dengan Tuhan. Jika kita nampak hal ini kita akan berkata, ”Puji Tuhan, sekarang aku menjadi satu roh dengan Tuhan! Allah telah menciptakan aku dengan satu roh manusia, dan rohku telah dilahirkan kembali oleh Dia. Hari ini Kristus yang almuhit adalah Roh pemberi hayat yang berhuni di dalam rohku. Ia menjadi satu dengan rohku, dan aku menjadi satu dengan Dia.”
Sering kali saudara-saudara berkata kepada saya bah-wa mereka tidak mengerti bagaimana saya bisa menyampaikan begitu banyak berita dalam sidang istimewa dan pelatihan dari tahun ke tahun. Ada beberapa yang bertanya kepada saya, dari manakah datangnya ratusan bahkan ribuan berita itu. Saya dapat bersaksi bahwa berita-berita itu berasal dari Kristus yang almuhit. Ia adalah Roh pemberi hayat yang berbaur dengan roh saya. Setiap kali saya menyeru nama Tuhan Yesus, Ia menyuplai saya. Itulah sebabnya saya bisa menyampaikan berita demi berita. Satu-satunya pembatasan ialah waktu dan kekuatan jasmani. Suplai Tuhan tidak ada batasnya. Sebenarnya, semakin berbicara, saya semakin bisa berbicara. Waduk air rohani ini tidak bisa asat. Semakin airnya mengalir ke luar, semakin banyaklah yang mengalir. Bagi siapa saja yang menjadi satu roh dengan Tuhan, suplai itu tidak akan kering.
Misalkan seorang saudara datang kepada Anda dengan keluhan-keluhan terhadap istrinya. Boleh jadi ia berkata, ”Tuhan telah memberi Anda seorang istri yang baik, lembut, sabar, dan pengasih, tetapi istriku sukar sekali untuk diajak hidup bersama. Kalau istri Anda seperti istriku, boleh jadi kehidupan pernikahan Anda lebih buruk daripada kehidupanku. Aku benar-benar tidak bisa hidup bersamanya. Apakah yang harus kulakukan?” Cara terbaik untuk membantu saudara yang demikian bukanlah dengan memberi penjelasan kepadanya atau berdebat dengannya. Mengajari dia pun bukan cara yang tepat, demikian pula memberinya lebih banyak konsepsi yang doktrinal. Kebutuhannya yang mendesak ialah menyadari bahwa ia telah menjadi satu roh dengan Tuhan. Akan tetapi, memang sulit membantu seorang saudara yang berada dalam situasi demikian untuk melihat bahwa ia telah menjadi satu roh dengan Tuhan dan ia harus menyeru nama Tuhan. Tetapi, kalau Anda dapat menolong saudara itu mengerti bahwa ia telah menjadi satu roh dengan Roh pemberi hayat, dan jika Anda dapat membantunya menyeru nama Tuhan, kehidupan saudara itu akan berubah besar.
Jika Anda ingin menyakinkan orang kudus bahwa ia telah menjadi satu roh dengan Tuhan, Anda sendiri harus mempunyai pengalaman menjadi satu roh dengan Tuhan secara memadai. Apabila Anda telah menjadi orang yang demikian, Anda akan bersaksi bahwa sekalipun istri Anda melukai Anda, Anda dapat melatih roh Anda, menyeru nama Tuhan Yesus, dan menerima suplai-Nya.
Di luar Kristus tidak mungkin seorang saudara bisa menjadi suami yang pantas, saudari pun tidak dapat menjadi istri yang pantas. Tidak ada yang terkecuali. Di luar Kristus kita semua sama. Sulit sekali seorang saudari menjadi istri yang baik, atau seorang saudara menjadi suami yang baik. Namun, pernikahan adalah ketetapan Allah. Karena itu, jika pernikahan itu ketetapan Allah dan jika sulit menjadi istri atau suami yang pantas, kita tidak ada pilihan selain mengalami Kristus.
Banyak di antara kita dapat bersaksi, bila kita melatih roh kita dan menyeru nama Tuhan, kita akan menikmati kemanisan-Nya. Adakalanya kita mungkin menangis karena Tuhan menjamah kita dengan sangat lembut. Pada saat lain mungkin kita akan memuji, dan kita akan bersyukur karena Tuhan memberi kita seorang suami atau istri yang paling baik dan paling cocok. Jika kita menyeru nama Tuhan dengan menggunakan roh kita, kita akan segera menyadari bahwa Allah telah memberi kita jodoh yang paling baik. Semoga di antara kita akan lebih banyak orang yang mempunyai pengalaman semacam ini.
Kristus adalah Tuhan mereka dan Tuhan kita, dan kita telah dipanggil ke dalam persekutuan Kristus ini. Persekutuan ini hanya dapat berlangsung di dalam roh. Puji Tuhan, karena siapa yang mengikatkan dirinya dengan Dia menjadi satu roh dengan Dia! Sebab itu, kita mempunyai satu sumber, satu mata air, dan satu waduk yang tidak kunjung asat. Sumber itu adalah Kristus, Allah Tritunggal yang telah diproses, Roh pemberi hayat yang almuhit.
MENERIMA KRISTUS MELALUI MEMAKAN DIA
Dalam 10:16 Paulus tiba pada butir penting yang lain: ”Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?” Kalau 1Korintus 1:9 membicarakan persekutuan Putra, maka dalam 10:16 Paulus mengatakan tentang persekutuan tubuh dan darah Kristus. Persekutuan dalam 10:16 lebih riil daripada persekutuan dalam 1:9, sebab dalam 10:16 darah Kristus telah terpisah dari tubuh-Nya, menunjukkan bahwa Dia dapat kita makan. Namun, dalam 1:9 Kristus sebagai Putra Allah belum siap untuk kita miliki melalui memakan-Nya.
Keriilan persekutuan dalam 10:16 boleh diilustrasikan seperti cara seekor ayam yang diproses untuk kita makan. Bertahun-tahun yang lampau di China, saudari-saudari sering menghadiahkan keluarga saya seekor ayam. Maksud mereka ialah agar ayam itu bisa memberi gizi bagi keluarga kami. Seekor ayam memang sebuah hadiah yang baik. Namun ayam itu masih belum riil untuk dimakan. Sebelum ayam itu bisa memberikan gizi kepada kita, ia harus disembelih, dimasak, kemudian disajikan di atas meja makan. Demikian pula, untuk menjadi hidangan kita, Kristus, Putra Allah harus diproses dulu. Dalam 10:16 kita lihat bahwa darah dan tubuh-Nya kini berada di atas meja, tempat perjamuan. Ini menunjuk kepada fakta bahwa Kristus telah berinkarnasi dan tersalib. Darah terpisah dari tubuh menunjukkan penyaliban. Namun, fakta bahwa Kristus berada di atas meja menunjuk kepada kebangkitan-Nya. Karena itu, di atas meja kita nampak inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan Kristus.
Jika Kristus tidak berinkarnasi, Ia tidak mempunyai darah dan tubuh. Jika Ia tidak disalibkan, darah-Nya tidak dapat terpisah dari tubuh-Nya. Jika Ia tidak bangkit, Ia tidak dapat berada di atas meja sebagai makanan kita. Ketika kita datang ke meja Tuhan dan melihat roti dan cawan, kita harus berkata, ”Tuhan, aku menyembah-Mu! Engkau adalah Persona yang telah berinkarnasi, disalibkan, dan bangkit. Aku bersyukur kepada-Mu Tuhan, karena melalui inkarnasi Engkau mengenakan tubuh manusia yang memiliki darah dan daging. Aku pun bersyukur kepada-Mu, karena melalui penyaliban darah-Mu telah terpisah dari tubuh-Mu. Kini, dalam kebangkitan, Engkau telah disajikan kepada kami di atas meja. Oh Tuhan, aku memuji-Mu.”
Dalam pasal 10, Persona yang ajaib ini, yang ke dalam persekutuan-Nya kita telah dipanggil, menjadi sangat riil bagi kita. Sekarang kita dapat menerima Dia ke dalam kita melalui memakan Dia. Seperti yang akan kita lihat dalam berita yang akan datang, perjamuan dengan darah dan tubuh Kristus itu adalah realitas Kristus sebagai tanah permai. Kristus tidak saja mempunyai darah dan tubuh, Ia pun perjamuan, dan perjamuan ini adalah tanah permai.
KEKURANGAN KENIKMATAN ATAS KRISTUS
Dalam 1Korintus Paulus tidak menanggulangi problem-problem di antara kaum beriman secara agamawi, atau secara alamiah, manusiawi. Sebaliknya, cara penanggulangannya sama sekali bertalian dengan kenikmatan atas Kristus. Paulus mengetahui bahwa segala problem di tengah-tengah orang Kristen disebabkan oleh kekurangan kenikmatan atas Kristus. Jika seorang saudara dan istrinya menghadapi problem, itu membuktikan mereka kekurangan Kristus. Mereka kekurangan kenikmatan yang wajar atas Kristus. Demikian pula, jika di antara para penatua, atau di dalam gereja lokal, atau di antara orang kudus terdapat problem, itu pun suatu tanda kekurangan kenikmatan atas Kristus.
Karena Paulus mengetahui bahwa problem-problem di tengah-tengah orang Korintus adalah karena kekurangan kenikmatan atas Kristus, maka ia menanggulangi problem mereka dengan menunjuk Kristus sebagai bagian mereka untuk mereka nikmati. Dalam Surat Kiriman ini, Paulus seolah-olah berkata kepada orang-orang Korintus, ”Kalian perlu menyadari, hanya Kristuslah satu-satunya bagian kalian. Jangan mencari bagian kalian di dalam hikmat atau filsafat. Allah telah memanggil kalian ke dalam persekutuan Kristus sebagai bagian kalian. Hari ini bagian ini adalah Roh itu, dan kalian telah menjadi satu roh dengan Dia. Tambahan pula, Kristus, Persona yang berinkarnasi, tersalib, dan bangkit, sekarang disajikan kepada kalian di atas meja sebagai jamuan untuk perawatan dan kenikmatan kalian. Kalian telah diundang untuk menikmati Persona ini, yang telah dihidangkan kepada kalian di atas meja. Jika kalian menikmati Dia sebagai jamuan dan sebagai tanah permai, kalian akan terpelihara. Kemudian barulah gereja akan bebas dari problem.”
Alasan adanya problem dalam hal-hal tertentu ialah karena kita kurang menikmati Kristus. Kalau kita mempunyai problem dalam kehidupan gereja atau dalam kehidupan keluarga, itu dikarenakan kita kurang menikmati Kristus secara memadai. Yang kita butuhkan bukanlah Kristus yang doktrinal di dalam pikiran kita, melainkan Kristus yang ada di dalam roh kita, yang dapat kita nikmati dan alami secara riil. Jika kita nampak Kristus yang almuhit, yang berhuni di dalam roh kita sebagai Roh pemberi hayat adalah bagian unik kita untuk kenikmatan kita, dan jika kita dari hari ke hari melatih roh kita untuk menyeru nama-Nya, kehidupan pernikahan dan kehidupan gereja kita akan penuh dengan Kristus. Hasilnya, kita tidak akan diganggu oleh apa pun dalam kehidupan pernikahan dan kehidupan gereja kita. Kita akan memperhatikan Kristus semata, dan kita tidak mempunyai citarasa dan selera lagi untuk perkara lain selain Kristus. Kita akan mendambakan Kristus dan Kristus semata, dan kita akan berpesta makan Dia dalam perjamuan Tuhan. Inilah wahyu yang terdapat dalam Surat 1 Korintus.