← Daftar isi 1 Korintus (1) · bab 11/21

BERBAGIAN DALAM PERSEKUTUAN KRISTUS

Pembacaan Alkitab: 1Kor. 1:2; 9-13

Dalam 1Korintus pasal 1, 2, dan 3, Paulus memakai sejumlah istilah khusus dan ungkapan-ungkapan yang luar biasa. Istilah-istilah dan ungkapan-ungkapan ini tidak terdapat dalam tulisan Paulus yang lain. Ayat luar biasa yang pertama ialah 1:2. Di sini Paulus berkata, ”Kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita.” Ungkapan ”yang dipanggil menjadi orang-orang kudus” (seharusnya orang-orang kudus yang terpanggil) adalah ungkapan yang tidak lazim. Banyak orang Kristen yang tidak yakin dirinya adalah orang kudus. Pernahkah Anda memuji Tuhan karena Anda adalah orang kudus? Apakah Anda memiliki suatu konsepsi atau pikiran bahwa Anda adalah orang kudus? Jika saya dengan berani mengumumkan bahwa saya adalah orang kudus, pasti ada orang akan menuduh saya sombong dan mengatakan saya hanyalah seorang yang berdarah China, dan hanya seorang Kristen oleh karena iman. Namun, Paulus menyebut orang-orang yang menerima Surat Kiriman ini adalah ”orang-orang kudus yang terpanggil”. Ini adalah ungkapan yang luar biasa.

Dalam ayat 2 Paulus juga menyinggung tentang berseru kepada nama Tuhan kita, Yesus Kristus di setiap tempat. Kemudian ia berkata lebih lanjut bahwa Kristus adalah Tuhan mereka dan Tuhan kita. Kristus yang nama-Nya kita serukan adalah Tuhan mereka dan Tuhan kita. Mungkin Anda telah sering membaca ayat ini tanpa memperha-tikan ungkapan tersebut. Makna kata-kata ini sangat dalam.

Dalam 1:9 Paulus berkata, ”Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.” Setiap orang Kristen tahu bahwa Allah itu memang setia dan mengenal Allah itu perahmat, pemurah, dan pengasih. Tetapi, tidak banyak orang Kristen menyadari bahwa mereka telah dipanggil ke dalam persekutuan Anak (Putra) Allah, dan jarang yang mengetahui dengan jelas apakah sebenarnya persekutuan ini. Orang Kristen sering bertanya kepada orang lain, apakah mereka telah diselamatkan, tetapi jarang bertanya apakah orang itu telah dipanggil. Pernahkah seseorang mendekati Anda dan bertanya, ”Sudahkah Anda dipanggil Allah ke dalam persekutuan Putra-Nya?” Dalam ayat ini Paulus tidak membicarakan tentang beroleh selamat, melainkan tentang dipanggil. Lagi pula, ia tidak mengatakan kita telah dipanggil ke surga atau kepada berkat yang kekal; ia mengatakan kita telah dipanggil ke dalam persekutuan Putra Allah.

Kristus yang kita serukan ialah Tuhan mereka dan Tuhan kita. Kita telah dipanggil oleh Allah yang setia ini ke dalam persekutuan Putra-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus. Hal ini sangat dalam. Selama berabad-abad orang Kristen belum memahami dengan jelas akan kedalaman perkara ini.

PERKENAN ALLAH

Kalau kita ingin mengerti kedua ayat ini, kita perlu kembali kepada Allah pada sebermula dalam kekekalan yang lampau. Sebelum Allah menciptakan alam semesta, Ia mempunyai sebuah perkenan, suatu hasrat dalam hati. Setiap orang mencari kesenangan tertentu, Allah juga mempunyai kesenangan. Berdasarkan kesenangan ini, Allah membuat sebuah rencana. Rencana ini ialah menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam sejumlah manusia, yaitu menggarapkan diri-Nya ke dalam mereka. Inilah perkenan, kesenangan Allah. Orang Kristen tidak akan mengetahui dengan tepat makna 1:2 dan 9, kecuali mereka menyadari hal ini.

Tidak banyak orang Kristen yang memahami bahwa Allah mempunyai satu perkenan, dan rencana-Nya adalah menyalurkan diri-Nya dan menggarapkan diri-Nya ke dalam kita. Tetapi perkara ini diwahyukan dalam Alkitab. Dalam Efesus 1:5 Paulus menyinggung tentang ”kerelaan kehendak-Nya” dan dalam ayat 9 ia menyinggung tentang ”rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus.” Selain itu, Paulus berkali-kali memakai kata ”ekonomi” (LAI: persiapan). Dalam Efesus 1:10 ia mengatakan tentang ”ekonomi kegenapan waktu” (LAI: persiapan kegenapan waktu), dan dalam 3:9 ia menyinggung tentang ”ekonomi rahasia (LAI: rencana rahasia) yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah yang menciptakan segala sesuatu.” Saya ulangi, perkenan Allah ialah menyalurkan diri-Nya dan menggarapkan diri-Nya ke dalam kita.

PROSES PENYALURAN ALLAH

Penciptaan

Dalam butir ini kita perlu mengajukan satu pertanyaan yang sangat penting: Bagaimana mungkin Allah menyalurkan diri-Nya ke dalam kita? Pertama, Allah menciptakan langit, bumi, dan manusia. Zakharia 12:1 mengatakan bahwa TUHAN yang membentangkan langit, dan meletakkan dasar bumi, dan yang menciptakan roh dalam diri manusia. Roh manusia adalah satu organ istimewa yang diciptakan Allah bagi manusia untuk menerima Allah. Kita boleh mengambil sebuah radio transistor sebagai ilustrasi. Sebuah radio transistor memiliki satu alat penerima yang dapat menangkap gelombang suara di udara. Kita dapat mengibaratkan diri kita sebuah radio, dan roh kita seperti alat penerimanya. Langit untuk bumi, bumi untuk manusia, dan manusia, yang diciptakan dengan satu roh, adalah untuk Allah. Karena manusia mempunyai satu roh, sebuah alat penerima, maka manusia dapat menerima Allah ke dalam dirinya.

Inkarnasi

Lama setelah Allah menggenapkan pekerjaan penciptaan yang merupakan langkah pertama untuk menyalurkan diri-Nya ke dalam kita, Allah menempuh langkah kedua, yakni inkarnasi. Pada suatu hari, Allah yang tidak terbatas, yang menciptakan alam semesta, menjadi seorang manusia. Berdasarkan Yohanes 1:1 dan 14, Firman yang adalah Allah, telah menjadi daging, yakni Allah menjadi seorang manusia. Dalam perkataan Yesaya 9:5, seorang anak telah lahir untuk kita, namanya ialah Allah yang perkasa. Bayi yang lahir di palungan di Betlehem itu sebenarnya adalah Allah yang perkasa. Tuhan Yesus hidup di bumi dalam keadaan hina. Ia dibesarkan dalam keluarga tukang kayu, dan Ia sendiri menjadi tukang kayu. Siapa yang menduga bahwa Allah tinggal di dalam-Nya? Pada usia 30 tahun, Ia keluar menunaikan ministri-Nya. Perkara-perkara yang Ia lakukan benar-benar membuat orang takjub terhadap-Nya. Kata-kata-Nya jauh lebih filosofis daripada apa yang diucapkan para filsuf terbesar lainnya. Orang-orang yang mendengar perkataan-Nya merasa kagum dan berkata, ”Bagaimanakah orang ini mempunyai pengetahuan demikian tanpa belajar?” (Yoh. 7:15). Orang lain tersinggung dan mengatakan bahwa mereka mengenal ibu-Nya, saudara-saudaraNya yang lelaki dan perempuan. Pada akhirnya Tuhan Yesus pergi ke atas salib dan mati.

Penyaliban

Melalui inkarnasi, Tuhan mengenakan sifat insani. Manusia adalah kepala dari ciptaan lama. Ketika Adam, wakil segenap ciptaan, jatuh, maka seluruh ciptaan pun jatuh dan menjadi usang. Ketika Allah mengenakan sifat insani, Ia mengenakan seluruh ciptaan lama. Jadi, ketika Kristus disalibkan, ciptaan pun turut disalibkan. Karena itu, oleh kematian-Nya di atas salib, Tuhan mengakhiri seluruh ciptaan, termasuk Anda dan saya. Melalui kematian yang ajaib dan almuhit inilah, Kristus menebus kita; Ia mengembalikan kita kepada Allah. Ia tidak saja mengakhiri kita dan mengembalikan kita kepada Allah, tetapi dalam kebangkitan Ia juga menggantikan kita dengan diri-Nya sendiri. Karena itu, Tuhan telah mengakhiri kita, membawa kita kembali kepada Allah, dan menggantikan kita dengan diri-Nya sendiri dalam kebangkitan.

Kebangkitan

Dalam Yohanes 11:25 Tuhan Yesus berkata, ”Akulah kebangkitan dan hidup.” Sebagai kebangkitan, Tuhan adalah unsur yang menggantikan kita. Selain itu, dalam kebangkitan Kristus telah menjadi Roh pemberi hayat (1Kor. 15:45). Kebangkitan sebenarnya adalah Persona Kristus yang hidup, Persona yang adalah Allah yang berinkarnasi, yang hidup di bumi sebagai seorang manusia, yang mati di atas salib untuk menebus kita, dan yang menjadi Roh pemberi-hayat dalam kebangkitan. Jadi, Kristus adalah kebangkitan juga Roh itu. Ia telah menjadi Roh itu, dan Roh itu adalah kebangkitan. Sekarang sebagai Roh itu dan kebangkitan, Ia menjadi pengganti kita.

Setelah Kristus menjadi Roh pemberi hayat dalam kebangkitan, dapatlah Ia masuk ke dalam kita. Ibarat listrik ilahi, Ia kini dapat masuk ke dalam alat penerima kita. Namun, kita perlu menerima Dia melalui bertobat, percaya kepada-Nya, dan menyeru nama-Nya. Seorang yang berdosa mungkin berdoa, ”Tuhan Yesus, aku adalah orang berdosa. Tetapi Tuhan, Engkau adalah Penyelamatku. Kini kubuka diriku kepada-Mu dan menerima Engkau.” Bila seseorang berdoa demikian, maka Persona yang tersayang, terindah, dan terajaib ini, yakni Persona yang adalah Roh dan kebangkitan ini akan masuk ke dalamnya. Ini bukan sekadar masalah teologi, tetapi adalah fakta yang menakjubkan. Setiap orang Kristen sejati dapat bersaksi bahwa tatkala ia percaya kepada Tuhan dan menyeru nama-Nya, ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas dirinya. Tuhan sebagai Roh pemberi hayat itu masuk ke dalamnya. Begitu kita menerima Tuhan ke dalam kita, Ia tidak akan meninggalkan kita, meskipun adakalanya kita menyesal menjadi orang Kristen. Setelah Anda percaya kepada Tuhan Yesus, Anda tidak mungkin menghentikan kepercayaan Anda terhadap-Nya. Begitu Ia masuk ke dalam Anda, Ia tidak akan meninggalkan Anda. Sekarang kita dapat melihat dengan jalan apa-kah Allah menyalurkan diri-Nya ke dalam kita.

Tahukah Anda, Allah macam apakah yang sedang menyalurkan diri-Nya ke dalam Anda? Ia adalah Allah Tri-tunggal, Bapa, Putra, dan Roh itu. Persona yang kita terima adalah Kristus, Penebus, Penyelamat, Roh pemberi hayat, dan kebangkitan. Semuanya ini adalah berbagai aspek dari satu Persona.

MENYERU NAMA TUHAN

Persona yang kita percayai, yang kita terima, dan yang masuk ke dalam kita seharusnya juga Persona yang nama-Nya kita serukan. Namun, kebanyakan orang Kristen hari ini tidak memperhatikan perihal menyeru nama Tu-han Yesus. Seperti telah kita lihat, Paulus menyinggung hal ini dalam 1:2, yakni ketika ia berkata, ”Dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus.” Di sini, kata ”berseru” dalam bahasa Yunani adalah epikaleo. Kata ini berarti memanggil dengan suara keras. Berdoa dengan lembut dan diam-diam sangatlah berbeda dengan memanggil nama Tuhan Yesus dengan suara keras. Misalkan seorang berdosa mendengar pemberitaan Injil dan mau percaya kepada Tuhan dan berseru kepada-Nya. Mungkin ia akan berdoa dengan tenang, ”Tuhan Yesus, aku adalah orang berdosa. Aku berterima kasih karena Engkau mati untukku. Aku percaya kepada-Mu. Darah-Mu menyucikan aku. Engkau mengaruniakan hayat kekal kepadaku.” Orang yang berdoa secara demikian memang bisa diselamatkan, tetapi ia tidak diselamatkan secara perkasa. Misalkan lagi ada seorang lain yang telah diyakinkan dan mau percaya kepada Tuhan Yesus. Tetapi ia bukan berdoa dengan tenang, melainkan berseru dengan suara keras kepada nama Tuhan, mengumumkan bahwa ia percaya kepada-Nya dan menerima-Nya. Jika ia berseru kepada Tuhan secara demikian, pengalaman-Nya atas keselamatan akan menjadi sangat kuat.

Ketika kita menyeru nama Tuhan Yesus, Persona yang kita terima, Ia segera menjadi milik kita. Ini berarti Ia menjadi bagian kita, bahkan menjadi bagian kita yang almuhit. Sebagai bagian kita, Kristus adalah hayat kita, suplai hayat kita, dan segala-gala kita. Ia adalah apa saja yang kita butuhkan: penghiburan, kesabaran, kebenaran, kekudusan, kekuatan, dan sebagainya. Lalu Ia pun menjadi hikmat kita dari Allah. Kristus ini adalah Tuhan mereka juga Tuhan kita.

MAKNA PERSEKUTUAN

Dalam 1:9 Paulus mengatakan bahwa Allah telah memanggil kita ke dalam persekutuan Putra-Nya. Makna persekutuan ini sangat dalam. Perjanjian Baru mengilustrasikan persekutuan ini sebagai suatu perjamuan. Dalam kitab-kitab Injil, Tuhan Yesus berkata bahwa suatu perjamuan telah dipersiapkan dan orang-orang pun telah diundang (Mat. 22:1-3; Luk. 14:16-17). Kita semua telah diundang untuk menghadiri perjamuan yang menakjubkan ini. Di dalam perjamuan ini kita menikmati hidangan demi hidangan. Kenikmatan perjamuan ini adalah partisipasi yang timbal balik, suatu kenikmatan bersama. Jadi, dalam persekutuan Putra Allah, kita memiliki kenikmatan. Namun kenikmatan ini bukan bersifat individual, melainkan bersifat korporat. Ketika kita menikmati perjamuan ini bersama-sama, kita akan saling bersekutu, saling berbagian.

Beberapa versi menerjemahkan istilah Yunani untuk ”persekutuan” ini koinonia, yaitu ”menikmati bersama”. Persekutuan memang mengandung makna menikmati bersama. Menikmati bersama berarti mengambil bagian atas sesuatu bersama-sama. Ketika Anda makan pagi sendirian, Anda tidak menikmati bersama dengan orang lain. Tetapi ketika Anda datang ke sebuah pesta yang dihadiri banyak orang dan menikmati pesta bersama dengan mereka, Anda akan menikmati bersama.

Persekutuan juga mencakup komunikasi. Bila kita pesta bersama orang lain, di situ akan ada komunikasi. Anda berkomunikasi dengan orang lain, mereka pun berkomunikasi dengan Anda.

Allah memanggil kita ke dalam persekutuan ini, yakni persekutuan Putra-Nya, Yesus Kristus Tuhan kita. Persekutuan ini mencakup Allah Tritunggal, Bapa, Putra, dan Roh. Ini adalah persekutuan Kristus yang berinkarnasi, tersalib, dan bangkit. Persona yang dalam kebangkitan adalah Roh pemberi hayat. Persona almuhit inilah perjamuan (pesta) kita, dan pesta ini berarti persekutuan. Sebagai orang-orang yang telah dipanggil ke dalam persekutuan ini, kita sekarang menikmati Kristus melalui berpesta atas diri-Nya. Lagi pula, kita memiliki kenikmatan bersama dan kita kini berada dalam komunikasi seorang dengan yang lain. Persekutuan ini, kenikmatan bersama ini, adalah kehidupan gereja.

Kehidupan gereja adalah hayat kebangkitan yang menjadi bagian kita bersama. Selain itu, kebangkitan ini adalah Roh pemberi hayat, Roh pemberi hayat adalah Kristus, dan Kristus adalah Allah yang berinkarnasi. Kristus, Persona almuhit juga mengandung pembenaran, pengudusan, dan penebusan. Kristus adalah Allah, bahkan Allah Tri-tunggal, Bapa, Putra, dan Roh. Sebagai Persona yang berinkarnasi, tersalib, dan bangkit, Ia juga kebangkitan dan Roh pemberi hayat. Ia bahkan adalah pesta kita. Lagi pula, Kristus sendiri sebenarnya adalah persekutuan yang ke dalamnya Allah memanggil kita. Mengatakan kita telah dipanggil ke dalam persekutuan Yesus Kristus berarti kita telah dipanggil ke dalam Dia sendiri. Kristus adalah hayat, kebangkitan, pengudusan, pembenaran, penebusan, dan segala sesuatu bagi kita. Jadi, Ia sendiri adalah persekutuan itu.

TERPECAH BELAH KARENA KESUKAAN

Mari kita tinjau lagi latar belakang 1 Korintus. Paulus menulis Surat ini kepada orang-orang Yunani yang filosofis, kepada orang yang menganggap dirinya orang berhikmat. Karena filsafat mereka maka ada beberapa yang berkata, ”Aku milik Paulus,” lainnya berkata, ”Aku milik Apolos,” dan lainnya lagi menyatakan, ”Aku milik Kefas.” Dengan demikian kaum beriman di Korintus mempunyai kesukaan masing-masing. Kesukaan semacam inilah yang membuat mereka terpecah belah. Berkata, ”Aku milik Paulus,” sama dengan berkata, ”Aku telah dipanggil ke dalam kesukaan terhadap Paulus.” Demikian pula berkata, ”Aku milik Apolos,” atau berkata, ”Aku milik Kefas.” Orang-orang Korintus bukan menerima Kristus, Persona almuhit ini sebagai bagian mereka, tetapi mereka menerima orang lain, yakni Paulus, Apolos, atau Kefas, sebagai bagian mereka. Jadi, dalam Surat Kiriman ini Paulus seolah-olah berkata, ”Hai kaum beriman di Korintus, kalian tidak dipanggil ke dalam kesukaan kalian sendiri. Allah telah memanggil kalian ke dalam persekutuan Putra-Nya. Jangan cenderung kepadaku, Apolos, Kefas, atau siapa saja. Kita semua telah dipanggil ke dalam satu Persona almuhit yang hidup ini. Kita semua telah dipanggil oleh Allah ke dalam persekutuan Putra-Nya, Tuhan kita, Yesus Kristus.”

Dalam naskah asli Perjanjian Baru Yunani tidak terdapat pembagian ayat. Ini berarti 1:10 adalah kelanjutan langsung dari ayat 9. Berulang-ulang telah kita tunjukkan bahwa dalam ayat 9 Paulus mengatakan Allah telah memanggil kita ke dalam persekutuan Putra-Nya. Kemudian dalam ayat 10 ia berkata lebih lanjut, ”Tetapi aku menasihatkan kamu, Saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.” Di sini kita melihat Paulus menasihati kaum beriman demi nama Tuhan Yesus Kristus, nama yang diserukan semua orang beriman. Secara khusus, Paulus menasihati mereka supaya seia sekata. Karena orang-orang Korintus berkata, ”Aku milik Paulus,” atau ”Aku milik Apolos,” mereka tidak sekata. Kalau kita maju melihat ayat 11-13, kita akan melihat bahwa persekutuan dalam ayat 9 jauh berbeda dengan perpecahan dalam ayat 10. Lagi pula, perpecahan-perpecahan itu disebabkan oleh kesukaan-kesukaan atas orang-orang tertentu itu. Kita tidak dipanggil ke dalam kesukaan-kesukaan, perpecahan-perpecahan, melainkan ke dalam persekutuan yang unik, ke dalam kenikmatan unik atas Kristus dan berbagian atas Kristus. Oh, penting sekali bagi kita untuk nampak hal ini! Hanya satu perkara yang dapat mencegah kita dari perpecahan, yaitu pemahaman bahwa Kristus yang almuhit adalah bagian kita dan kita telah dipanggil ke dalam persekutuan, kenikmatan atas Persona yang demikian.

Orang-orang Kristen dewasa ini terpecah belah karena kesukaan-kesukaan mereka. Hal yang demikian pun bisa terjadi dalam kehidupan gereja kita. Mungkin Anda senang akan gereja hari ini sebab kondisi gereja cocok dengan kesukaan Anda. Mungkin ada beberapa yang berkata, ”Puji Tuhan, kehidupan gereja di tempatku sangat indah. Sidangsidangnya sangat tinggi dan hidup, dan aku sangat menikmatinya.” Setelah sejangka waktu, boleh jadi sidang-sidangnya tidak setinggi dan sehidup sekarang. Lalu ada yang kecewa, bahkan meninggalkan kehidupan gereja, serta menuntut sesuatu yang sesuai dengan kesukaan mereka.

Mempunyai kesukaan berbeda sekali dengan menikmati Kristus yang almuhit. Jika kita telah nampak apa artinya Kristus menjadi bagian kita dan apa artinya dipanggil ke dalam persekutuan-Nya, kita tidak akan memperhatikan apakah sidang-sidang itu tinggi atau rendah. Kita tidak akan mempunyai kesukaan atas persidangan. Sumber utama perpecahan di kalangan orang-orang Kristen adalah kesukaan tersebut. Namun, jika kita telah nampak bahwa perkenan Allah ialah menggarapkan Kristus yang almuhit ke dalam kita sebagai bagian kita demi kenikmatan kita, maka selain Kristus dan kenikmatan atas persekutuan-Nya, tidak ada perkara lain yang menjadi perhatian kita.

MENGALAMI DAN MENIKMATI PERSEKUTUAN

Kita telah nampak bahwa persekutuan adalah kenikmatan atas Kristus dan berbagian bersama di dalam Kristus. Kita tidak perlu menganalisis persekutuan ini secara doktrinal untuk kita alami. Ketika Anda makan pagi, apakah Anda menganalisis setiap makanan yang Anda nikmati? Apakah Anda melakukan studi atas komposisi telur ayam, roti bakar, atau sari buah? Tidak seorang pun yang demikian bodohnya, menyelidiki sarapan paginya tanpa menikmatinya. Selain itu, jangan memperhatikan alat-alat yang kita pakai untuk makan pagi. Berbantah-bantahan atas sendok garpu perak, gelas, cangkir, atau piring, mangkuk, itu adalah perbuatan yang teramat tolol! Jika ada orang yang beralih dari hidangan yang disediakan untuk dia nikmati dan terpikat dengan jenis pisau, garpu, atau sendok di atas meja, bukankah itu menggelikan sekali? Namun ini adalah satu ilustrasi dari situasi yang sebenarnya di kalangan orang-orang Kristen dewasa ini. Mereka bukan memperhatikan Kristus sebagai bagian unik mereka, tetapi berdebat mengenai ajaran-ajaran dan praktek-praktek.

Misalkan Anda datang ke sidang gereja dan melihat kursi-kursi ditata dengan cara yang tidak biasa. Kalau hal itu sangat mengganggu perasaan Anda, itu membuktikan Anda masih belum nampak apa itu gereja. Kehidupan gereja yang wajar tidak tergantung pada penataan kursi yang luar biasa. Gereja adalah persekutuan, komunikasi, mengambil bagian bersama, dan kenikmatan bersama atas Kristus. Kristus ini sekarang adalah kebangkitan dan Roh itu. Jika Anda telah nampak bahwa kehidupan gereja terdiri dari persekutuan ini, tentu Anda tidak akan memperhatikan perkara-perkara seperti penataan kursi dalam balai sidang. Tambahan pula, Anda tidak akan diselewengkan dari Kristus oleh doktrin-doktrin atau praktek-praktek apa pun.

Saya menganjuri kalian semua untuk menuntut pengalaman dan kenikmatan atas persekutuan Anak Allah. Semakin kita menikmati bagian bersama dalam persekutuan ini, semakin baiklah keadaan kehidupan gereja. Kita perlu menikmati persekutuan ini baik di rumah maupun dalam sidang gereja. Kemudian kita tidak akan terganggu oleh opini-opini, gosip, atau ajaran-ajaran yang berbeda, sebab kita tidak memperhatikan perkara lain kecuali kenikmatan bersama yang riil atas Kristus yang almuhit, yang menjadi Roh itu, kebangkitan, dan Allah Tritunggal bagi kita. Persekutuan ini adalah realitas gereja. Jadi, kita harus menuntut untuk mengalami persekutuan ini sepanjang waktu. Kemudian baru kita akan menikmati Kristus dalam gereja.