MENGALAMI KRISTUS SEBAGAI HIKMAT DARI ALLAH BAGI KITA
Pembacaan Alkitab: 1Kor. 1:24, 30
Dalam 1:24 Paulus berkata, ”Tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.” Ini adalah sebuah ayat yang penting. Di sini Paulus berkata bahwa bagi orang-orang yang dipanggil, yakni orang-orang yang dipilih Allah dalam kekekalan dan yang telah percaya kepada Kristus, Kristus adalah kekuatan dan hikmat Allah. Sebagai orang-orang yang telah dipanggil oleh Allah dan berseru kepada nama Tuhan, Kristus adalah kekuatan dan hikmat Allah bagi kita.
BERBAGAI ASPEK KRISTUS
SEBAGAI BAGIAN KITA
Dalam 1:30 Paulus selanjutnya berkata, ”Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita: kebenaran, dan pengudusan, dan penebusan” (Tl.). Sesudah menunjukkan bahwa Kristus adalah Tuhan mereka dan Tuhan kita, dan kita telah dipanggil ke dalam persekutuan-Nya, mengapa Paulus berkata bahwa Kristus ini telah menjadi hikmat dari Allah bagi kita, juga sebagai kebenaran, dan pengudusan, dan penebusan? Kita telah nampak bahwa dipanggil ke dalam persekutuan Kristus berarti dipanggil ke dalam kenikmatan bersama atas Kristus sebagai bagian unik kita. Dalam bagian kedua dari pasal 1 ini, Paulus memperlihatkan kepada kita berbagai aspek kenikmatan atas bagian yang ajaib ini. Ini dapat kita ilustrasikan dengan jamuan malam berupa ayam goreng. Ketika Anda disuguhi sepiring ayam goreng, orang yang menjamu Anda mungkin bertanya bagian mana yang Anda sukai, dada, paha, atau sayap. Dalam ayat 24 dan 30 kita memiliki berbagai aspek Kristus; kita memiliki ”sayap”, ”dada”, dan ”paha” Kristus untuk kita nikmati. Dalam ayat 2 Paulus mengatakan tentang bagian kita, dan dalam ayat 9 ia mengatakan bahwa kita telah dipanggil ke dalam kenikmatan atas bagian tersebut. Sekarang dalam ayat 24 dan 30 kita melihat berbagai aspek dari bagian ini untuk kenikmatan kita. Dari ayat-ayat tersebut kita memahami bahwa kita bisa menikmati Kristus sebagai hikmat Allah dan kekuatan Allah. Tambahan pula, Kristus sebagai hikmat Allah mencakup kebenaran, pengudusan, dan penebusan. Beban saya dalam berita ini ialah membahas dari segi pengalaman kita bagaimana Kristus adalah hikmat dari Allah bagi kita, termasuk kebenaran, pengudusan, dan penebusan.
JALAN ILAHI
Untuk menjelaskan atau memahami makna hikmat, kebenaran, pengudusan, dan penebusan tidaklah mudah. Saya lebih suka membicarakan perkara-perkara tersebut menurut pengalaman rohani. Dalam ayat 24 dan 30 hikmat Allah mengacu kepada jalan ilahi. Jika kita berhikmat, kita akan tahu cara yang tepat untuk melakukan sesuatu. Namun jika kita tidak berhikmat, kita akan melakukan segala hal dengan cara yang tolol. Untuk memiliki cara yang terbaik, kita perlu memiliki hikmat. Hikmat dalam ayat ini setara dengan jalan dalam Yohanes 14:6; sebuah ayat di mana Tuhan Yesus berkata, ”Akulah jalan.” Di luar Kristus sebagai jalan, kita tidak mempunyai jalan untuk datang ke hadirat Bapa. Karena itu, jalan Allah adalah hikmat-Nya. Bagaimana kita dapat menikmati Allah dan mengambil bagian di dalam Dia? Jika kita ingin menikmati Dia dan mengambil bagian di dalam Dia, kita harus memiliki jalan, dan jalan ini adalah hikmat Allah.
Kita bisa mengilustrasikan hubungan antara hikmat dan jalan dengan belajar menyetir mobil. Seorang yang sedang belajar menyetir mobil mungkin merasa sukar untuk membelokkan mobilnya. Karena ia belum mempunyai hikmat yang cukup, ia tidak tahu cara membelokkan mobilnya dengan tepat. Akan tetapi seorang sopir yang trampil dan berpengalaman mempunyai hikmat untuk menguasai mobilnya. Ia memiliki cara untuk mengendalikannya, dan menjalankannya ke mana saja ia kehendaki. Cara ini adalah hikmat si sopir itu.
Sebagai hikmat dari Allah dan jalan Allah bagi kita, Kristus adalah kebenaran, pengudusan, dan penebusan. Sebenarnya, ini adalah ketiga langkah dari jalan itu. Sudah tentu pengertian ini bertalian dengan pengalaman kita.
Misalkan seorang saudari ada problem dengan suaminya, lalu ia melatih rohnya dan berseru kepada nama Tuhan Yesus. Hasilnya, ia diselamatkan dari problem tersebut. Dengan kata lain, ia menerima Kristus sebagai hikmat dari Allah baginya. Sebelum ia belajar melatih rohnya dan berseru kepada nama Tuhan Yesus, ia akan berbantah-bantah dengan suaminya. Ini berarti ia tolol. Namun, para istri sering berbantah-bantah dengan suami mereka, mencoba meyakinkan mereka, bahkan menaklukkan mereka. Sebagai contoh, ada suami yang terbiasa pulang terlambat. Sang istri lalu dengan hikmat alamiahnya berusaha mengubah kelakuan suaminya. Namun, semakin ia berbantah-bantah, suaminya menjadi lebih sering pulang terlambat. Perbantahan istrinya sebenarnya menyebabkan bertambah buruknya problem itu. Seharusnya ia jangan berbantah-bantah dengan suaminya, tetapi melatih rohnya dan menyeru nama Tuhan. Kemudian ia akan memiliki hikmat, cara, untuk menanggulangi problem tersebut.
MENJADI BENAR
Kebenaran, pengudusan, dan penebusan adalah bahan-bahan yang dipakai untuk membuat jalan bebas hambatan dalam kehidupan Kristiani kita. Pernahkah Anda sadari bahwa hikmat adalah jalan kita, jalan bebas hambatan kita dan bahwa kebenaran, pengudusan, dan penebusan adalah bahan-bahan yang dipakai untuk membuat jalan bebas hambatan ini? Demikianlah pengalaman kristiani kita. Ketika kita menikmati Kristus, aspek pertama dari pekerti ilahi, yang akan kita alami ialah Allah sebagai kebenaran kita. Ketika kita menikmati Kristus dan mengalami Dia, yang pertama kita miliki ialah Allah sebagai kebenaran kita. Ini berarti tatkala kita melatih roh kita dan menyeru nama Tuhan Yesus, kita menjadi benar. Semakin kita berseru, kita semakin menjadi benar.
Mari kita sekali lagi mengambil satu ilustrasi dari kehidupan pernikahan. Memang keliru sekali seorang suami pulang pada larut malam. Namun seorang istri juga keliru dan tidak benar dalam menanggulangi suaminya. Mungkin ia sama sekali tidak adil, yakni menyalahkannya dan melemparkan semua dosa ke atas suaminya. Ia tidak pernah menyalahkan dirinya sendiri. Sikapnya pun keliru, dan tidak benar dalam berbantahan dengan suaminya. Boleh jadi suaminya salah sepuluh persen, tetapi sang istri menyalahkannya seolah-olah ia salah seratus persen. Jadi, sikap dan tindak tanduknya terhadap suaminya sembilan puluh persen tidak benar.
Bila seorang suami dan istrinya bersilat lidah, keduanya tidak benar. Sang suami mungkin akan menyatakan bahwa ia benar dan istrinya sama sekali salah. Sang istri akan bersikeras bahwa suaminyalah yang sebenarnya salah, dan ia saja yang benar. Akibatnya, baik suami maupun istri, keduanya tidak benar. Jika sang istri mulai melatih rohnya dan menyeru nama Tuhan Yesus, ia akan menyadari bahwa dialah yang tidak adil dan tidak benar dalam hubungannya dengan suaminya. Kemudian ia akan berkata kepada dirinya sendiri, ”Ya, sampai taraf tertentu, suamiku memang bersalah, tetapi aku terlalu menyalahkannya. Selain itu, aku juga bersalah karena berbantah-bantah dan menghakiminya. Sekarang aku nampak bahwa kesalahannya hanya sedikit, dan akulah yang lebih bersalah daripada dia, setidaknya ketidak benaranku dua kali lipat lebih banyak daripadanya.” Ketika saudari itu menyadari situasinya melalui menyeru nama Tuhan, dengan spontan ia akan menjadi benar, sebab Kristus menjadi kebenarannya.
Setiap kali terjadi pertikaian atau perbantahan antara seorang dengan yang lain, tidak seorang pun di antaranya yang benar. Sebagai contoh, misalnya, seorang penatua berbantah-bantah dengan seorang saudara dalam gereja. Penatua itu tidak melatih rohnya dan menyeru nama Tuhan, tetapi terus mempertahankan kebenarannya sendiri. Dalam kasus ini, ia tidak benar. Lagi pula, mungkin ia berkata kepada penatua lain, ”Ah, saudara itu selalu membawa maut ke dalam sidang.” Kemudian, ketika penatua ini melatih rohnya dan menyeru nama Tuhan, ia menyadari bahwa ia tidak benar. Ia pun mungkin menyadari bahwa pembicaraan saudara tersebut jarang menyebarkan maut di dalam sidang. Akan tetapi, penatua itu telah mengatakan kepada orang lain bahwa saudara itu selalu membawa maut ke dalam sidang gereja. Karena itu, penatua ini, yang menyadari bahwa ia tidak benar, perlu mengaku kepada para penatua lainnya dan berkata, ”Saudara-saudara, aku minta kalian memaafkanku atas perkataanku tentang saudara itu. Aku sudah mengaku dosa di hadapan Tuhan, dan Tuhan telah mengampuni aku. Sekarang aku juga mengaku salah kepada kalian. Seingatku, saudara itu hanya satu kali saja membawa maut ke dalam sidang. Tetapi aku mengatakan bahwa ia selalu melakukan hal tersebut. Aku tidak adil, aku pun tidak benar.”
Ketika kita menyeru nama Tuhan dengan melatih roh kita, kita akan menjadi benar. Ketika kita lambat laun menjadi benar dengan cara demikian, akhirnya kita akan menjadi benar dalam tutur kata kita kepada istri atau suami kita. Andaikata seorang saudari sangat benar terhadap suaminya, pada akhirnya kebenarannya akan meyakinkan dan menundukkan suaminya. Suaminya akan berkata kepada dirinya sendiri, ”Dulu istriku tidak demikian. Begitu aku berbuat salah, ia pasti akan menghakimiku dengan hebat. Aku mengakui bahwa aku salah, tetapi ia bahkan lebih bersalah dalam caranya menghakimi aku.” Karena penghakimannya terhadap suaminya, ia telah melukai suaminya dan menyebabkan suaminya bereaksi secara negatif. Tetapi kini ia telah benar terhadap suaminya, karena ia melatih rohnya dan menyeru nama Tuhan. Dengan cara inilah Tuhan menjadi kebenaran baginya.
Setiap kali kita menjadi benar melalui menyeru nama Tuhan, kita akan menjadi tenang. Kebenaranlah yang menenangkan kita. Alasan atau penyebab seorang suami berbantah-bantah dan cekcok dengan istrinya ialah karena kedua-duanya tidak benar. Tetapi kalau ada satu pihak benar, kebenaran ini akan membuat pihak lain tenang. Misalkan sang istri yang berpaling kepada Tuhan, menyeru nama Tuhan, dan menjadi benar dalam menghadapi suami-nya, maka suaminya akan segera menyadari bahwa ia telah berubah dan ia sekarang adil dan benar dalam menghadapi suaminya.
Apa yang saya lukiskan tentang kebenaran di sini telah saya pelajari melalui pengalaman, bukan dari buku-buku. Dari pengalaman kita tahu bahwa menjadi orang benar berarti menjadi orang yang berhikmat. Memiliki Kristus sebagai kebenaran kita berarti memiliki Dia sebagai hikmat kita. Dengan cara inilah Kristus menjadi hikmat dari Allah bagi kita.
DIKUDUSKAN
Kita telah menunjukkan bahwa semakin kita melatih roh kita untuk menyeru nama Tuhan, kita akan menjadi semakin benar. Sekarang kita perlu nampak bahwa kita tidak saja menjadi benar dan suci, tetapi juga dikuduskan. Ini berarti semakin kita melatih roh untuk menyeru nama Tuhan Yesus, kita akan semakin dipisahkan dari apa yang biasa dan dari hal-hal yang umum dalam diri kita. Setiap kali seorang saudari bertengkar, berbantah-bantah, bersilat lidah dengan suaminya, ia menjadi umum. Ia tidak berbeda dengan seorang istri yang tidak percaya Tuhan. Setiap istri yang duniawi, yang tidak percaya Tuhan, bertengkar dengan suaminya. Tetapi bila seorang saudari menyeru nama Tuhan dan menjadi benar, ia mengalami Kristus sebagai pengudusan, dan ia dikuduskan. Kristus yang dinikmatinya membuatnya menjadi suci, dikuduskan, dipisahkan. Hasilnya, suaminya akan menyadari perbedaannya, sekalipun ia belum percaya kepada Tuhan, ia akan tahu bahwa istrinya tidak lagi menjadi istri yang umum.
Selama ini saya tahu banyak saudari yang telah mengalami pengudusan yang sejati. Dalam sejumlah kasus, pengudusan seorang saudari telah meyakinkan suaminya dan mempengaruhinya untuk percaya kepada Tuhan. Akibatnya, suami dari saudari yang demikian menjadi seorang saudara yang baik di dalam Tuhan.
Baik kebenaran maupun pengudusan adalah aspek-aspek Kristus menjadi hikmat dari Allah bagi kita. Kita telah menekankan fakta bahwa hikmat sebenarnya adalah jalan atau cara. Bagaimanakah kita bisa menerima hikmat yang kita perlukan? Hikmat ini berasal dari kenikmatan atas Kristus. Dari hari ke hari, dan dari jam ke jam, kita seharusnya tidak hidup di dalam jiwa, dalam diri sendiri, melainkan hidup di dalam roh, melatih roh kita untuk menyeru nama Tuhan Yesus. Lalu Kristus akan menjadi kenikmatan, makanan, tunjangan, dan suplai kita secara riil. Hasilnya, kita menjadi benar. Kita tidak lagi menghakimi orang lain, menyalahkan mereka, malah sebaliknya menghakimi dan menyalahkan diri kita sendiri. Kita nampak bahwa kita telah bersalah terhadap orang lain dalam banyak hal. Karena itu, kita menjadi benar dan adil. Selain itu, kita akan menjadi seorang suami yang berbeda dengan suami-suami lainnya, atau menjadi seorang istri yang berbeda dengan istri-istri lain. Kita tidak lagi menjadi orang yang umum, melainkan dipisahkan, dikuduskan, dan bahkan menjadi orang yang istimewa. Itulah pengudusan.
DIBAWA KEMBALI KEPADA ALLAH
Kalau kita adalah orang-orang yang melatih roh, menyeru nama Tuhan, dan menikmati Kristus sebagai bagian kita yang unik, kita tidak saja akan menjadi benar dan dikuduskan, kita pun akan mengalami Kristus sebagai penebusan kita. Ini berarti dalam pengalaman kita, kita akan dibawa kembali kepada Allah. Bila seorang saudari bertengkar dengan suaminya, atau berbantah-bantah dengannya, ia semakin jauh dari Allah. Tetapi bila ia menikmati Kristus dan karenanya ia menjadi benar serta dikuduskan, ia dibawa kembali kepada Allah.
Penebusan juga mencakup pengakhiran. Kristus yang berhuni di dalam kita, yang menyuplai kita, dan yang menjadi makanan kita juga mengakhiri kita. Semakin kita menyeru nama Tuhan, kita akan semakin mengetahui betapa kita masih berada dalam ciptaan lama. Kita akan membenci diri kita sendiri dan mengaku bahwa kita perlu diakhiri. Pengakhiran ini adalah aspek kedua dari pengalaman Kristus sebagai penebusan kita. Pertama, penebusan membawa kita kembali kepada Allah; kedua, penebusan berarti diakhiri oleh Tuhan. Penebusan mencakup kesadaran akan keperluan kita untuk diakhiri dan kesadaran bahwa Tuhan sebenarnya sedang mengakhiri kita.
Penebusan juga mencakup penggantian kita oleh Kristus. Ketika Kristus mengakhiri kita, Ia menggantikan kita dengan diriNya sendiri. Ini adalah transformasi (pengubahan), juga transfigurasi (pengalihragaman). Ini melebihi pengudusan, yang memisahkan kita dan membuat kita berbeda dari orang-orang lain. Ini adalah proses transformasi yang sebenarnya di mana unsur lama kita, susunan lama kita diakhiri dan diganti dengan unsur dan susunan yang baru, yaitu Kristus sendiri dalam kebangkitan-Nya. Bila kita telah digantikan, kita ditransformasikan dan disusun kembali oleh Kristus. Bukankah ini hikmat Allah? Ketika kita mengalami Kristus sebagai kebenaran, pengudusan, dan penebusan, kita benar-benar memiliki Dia sebagai hikmat dari Allah bagi kita.
Saya ulangi, 1Korintus 1:2 mengatakan bahwa Kristus bagian kita adalah Tuhan mereka dan Tuhan kita. Ayat 9 mengatakan bahwa kita telah dipanggil ke dalam kenikmatan, ke dalam persekutuan Kristus sebagai bagian kita yang unik. Dalam beberapa ayat terakhir dari pasal pertama kita nampak, ketika menikmati Kristus sebagai bagian ini, kita menjadi benar, dikuduskan, dan ditebus. Kemudian Kristus menjadi hikmat kita, jalan kita. Hasilnya, kita menjadi orang-orang yang paling berhikmat di dunia ini. Jika Anda adalah seorang saudara yang telah menikah, Anda akan menjadi suami yang sangat berhikmat, seorang suami yang memiliki hikmat dari Allah. Hikmat ini adalah Kristus yang Anda nikmati dari hari ke hari secara riil. Dengan Kristus sebagai hikmat kita, kita akan berjalan dalam jalan kebenaran, pengudusan, dan penebusan. Kita akan menjadi orang benar, yang dipisahkan, dan ditebus. Ini adalah hasil dari menikmati Kristus sebagai bagian kita yang unik.