Daftar isi Dua Belas Bakul (4) · bab 3/12

Takut akan Allah dan Ibadah

“Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya.”

“TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.”

Mazmur 25:12; 14

“Saudara-saudaraku yang terkasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.”

2 Korintus 7:1

“Sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita, Dia, yangtelah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan.”

1 Timotius 3:16

“Tetapi jauhilah cerita-cerita takhayul nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah. Latihan jasmani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang. Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya.”

1 Timotius 4:7-9

“Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini.”

Titus 2:12

Kita sering menemukan dua istilah dalam Alkitab, yaitu takut akan Allah dan ibadah. Sebenarnya, apakah yang disebut takut akan Allah? Apakah yang disebut ibadah? Bersandar kasih karunia Allah, kita ingin mengutarakan sedikit apa yang kita pelajari.

I. TAKUT AKAN ALLAH

Terhadap anak-anak-Nya Allah mempunyai satu tuntutan kudus. Sebab itu, dalam 2 Korintus 7:1 Paulus berkata, “Saudara-saudaraku yang terkasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.” Dari ayat di atas kita tampak bahwa dikuduskannya kita sangat erat hubungannya dengan kita takut akan Allah. Allah itu kudus. Semakin mendekati Dia, manusia akan makin merasa dirinya najis; makin melayani Dia, makin takut akan dirinya sendiri. Sebab itu, ketika kita mulai belajar takut akan Allah, dengan sendirinya dalam segala hal kita takut ada unsur diri sendiri di dalamnya.

Misalnya, ketika anak Anda bertanya kepada Anda mengenai satu perkara, kalau kita mempunyai hati yang takut akan Allah, kita akan takut kalau jawaban kita ada unsur diri kita sendiri. Inilah yang disebut takut akan Allah. Pula, jika ada seorang saudara meminta Anda membantu dia, kalau Anda mempunyai hati yang takut akan Allah, Anda khawatir sewaktu membantu saudara itu, ada unsur diri Anda sendiri. Bersamaan dengan itu, Anda pun takut karena ada unsur diri sendiri maka Anda tidak membantu saudara tersebut. Di sini ada satu hati yang takut pada diri sendiri. Inilah yang disebut takut akan Allah.

Misalnya lagi, ketika Anda akan berhubungan dengan seorang saudara atau saudari, di hadapan Allah Anda takut masih ada unsur diri sendiri tercampur di dalamnya. Anda mempunyai hati yang demikian, inilah yang disebut takut akan Allah. Jadi takut akan Allah adalah rasa takut akan adanya unsur diri sendiri ketika menghadapi suatu perkara. Umpamanya lagi, tatkala Anda mengkritik atau memuji saudara atau saudari, Anda takut kalau kritikan Anda berasal dari diri sendiri, juga takut kalau pujian Anda berasal dari diri sendiri. Anda takut unsur Anda masuk ke dalam perkara-perkara tersebut, ini berarti di dalam Anda ada hati yang takut akan Allah.

Mari kita mengambil beberapa contoh lagi. Ada saudara saudari sangat gemar menulis surat. Menulis surat secara normal tentu boleh. Tetapi ada saudara saudari sangat senang menulis surat, entah sudah memboroskan berapa banyak waktu hanya untuk menulis surat-surat. Kalau kita takut akan Allah, dalam hal menulis surat pun seharusnya kita takut ada unsur diri kita di dalamnya. Karena segala sesuatu yang untuk diri sendiri, yang dikerjakan bersandarkan diri sendiri, ada unsur kesenangan diri sendiri, ada tujuan diri sendiri, penuh dengan diri sendiri, semua itu bukan takut akan Allah. Dalam setiap perkara, kita takut ada unsur diri sendiri, takut menyalahi Allah, inilah yang disebut takut akan Allah.

Perlakuan kita terhadap anak-anak, cara kita membuat pakaian, cara kita membeli barang-barang, semuanya juga harus demikian; takut di dalam semua itu ada unsur diri sendiri, sehingga bersalah kepada Allah, motivasi yang takut pada diri sendiri ini disebut takut akan Allah.

Misalnya lagi, kita menemukan seorang saudara bersalah, dan kita ingin menegur dia. Kalau kita hidup di hadapan Allah, ketika akan membereskan hal itu kita berkata, “Ya, Allah, aku takut dalam menegur saudara itu ada unsur diriku sendiri.” Inilah yang disebut takut akan Allah. Tetapi kalau kita takut menegur saudara karena khawatir melukai hubungan dengannya, itu bukan takut akan Allah. Takut akan Allah ini tidak takut kesulitan, tidak takut melukai hubungan, melainkan takut ada unsur diri sendiri. Takut pada diri sendiri, inilah yang harus ada. Ada orang mempunyai banyak ketakutan, takut ini, takut itu. Orang yang tidak tahu hal-hal rohani akan berkata, “O, orang ini sangat rohani.” Tetapi orang yang benar-benar takut akan Allah, dia tidak takut ini, tidak takut itu, dia hanya takut satu hal, yaitu takut dalam perkara itu ada unsur dirinya sendiri, takut perkara ini bukan berasal dari Allah, takut dalam perkara ini tidak melalui Allah, takut perkara ini bukan bagi Allah. Inilah yang disebut takut akan Allah.

Saudara saudari, kalau kita memiliki pertumbuhan hayat, kita tidak takut yang lain, kita hanya takut ada unsur diri sendiri, yaitu takut bersalah kepada Allah. Ada saudara atau saudari ketika mendapati keadaan orang lain tidak benar, segera dengan kepandaian otaknya mencari cara yang dianggap betul untuk mengatasinya. Kita perlu bertanya, “Apakah cara yang demikian rohani?” Kita tidak mengakui cara demikian rohani. Cara demikian adalah cara politik untuk menyelesaikan suatu masalah. Kalaupun perkara itu beres dan sukses, tetap tidak ada bobot dan buah rohaninya.

Ketika kita marah-marah, ada unsur diri kita sendiri; ketika kita tertawa dan menghadapi orang, lebih-lebih ada unsur diri kita sendiri. Saudara saudari, bukan saja ketika Anda marah-marah, itu tidak takut akan Allah; ketika Anda dengan politik lemah lembut menghadapi orang, itu juga tidak takut akan Allah. Cara politik adalah cara diri kita sendiri. Anda bermain politik berarti Anda tidak takut akan Allah. Orang yang takut akan Allah, bukan saja ketika marah-marah takut ada diri sendiri, ketika lemah lembut pun takut ada diri sendiri. Sering kali ketika kita marah-marah, ada unsur diri sendiri, tetapi juga tidak jarang ketika kita dengan lemah lembut menghadapi orang, di dalamnya malah penuh diri sendiri. Itu berarti di dalam lemah lembut kita tidak ada takut akan Allah.

Takut akan Allah adalah di depan Allah kita memiliki satu motivasi — takut ada unsur diri sendiri. Motivasi manusia yang paling berharga di hadapan Tuhan adalah adanya satu hati yang takut akan Allah. Dengan kata lain, di hadapan Allah takut ada unsur diri sendiri. Inilah yang disebut takut akan Allah.

II. IBADAH

Apakah yang disebut ibadah? Dalam 1 Timotius 3:16 dikatakan, “Sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, . . . “ Ibadah adalah Allah menyatakan diri dalam rupa manusia. Dengan kata lain ibadah adalah Allah terekspresi melalui diri manusia. Sebagaimana pada mulanya hayat Allah terekspresi di atas diri Tuhan Yesus, (Tuhan Yesus adalah Kepala gereja), demikian juga hari ini, hayat Allah terekspresi di atas diri orang-orang yang percaya (gereja). Jadi, ibadah bagi kita tidak lain adalah hayat Allah yang ada di dalam kita terekspresi dari tubuh daging kita. Kalau kita benar-benar diselamatkan, maka pikiran, perkataan, tingkah laku, sikap kita, tidak lagi mengekspresikan diri kita sendiri, melainkan mengekspresikan Kristus. Inilah kehidupan yang ibadah. Itulah tuntutan Allah di atas diri kita, yaitu membiarkan Allah terus terekspresi di atas tubuh daging kita.

Dalam 2 Timotius 3:12 disinggung tentang “hidup beribadah”. Ini berarti hidup sehari-hari kita seharusnya merupakan kehidupan beribadah, sehingga orang lain tampak Allah. Sikap bicara kita membuat orang merasakan Allah; tingkah laku kita membuat orang merasakan Allah; pakaian kita, perabot rumah kita, dekorasi rumah kita, segala tindaktanduk kita, semuanya membuat orang merasakan Allah. Ketika kita bersentuhan dengan orang, orang lain melalui diri kita merasakan Allah. Inilah ibadah.

Sayang, di antara orang Kristen, (katakan saja di antara 100 orang Kristen), entah ada berapa orang yang benar-benar beribadah. Sering kali kita melihat keadaan saudara saudari, meskipun ikat pinggangnya telah kendur, perkataannya tidak terkendali, saling bercanda dan mengolok-olok, namun di dalam mereka masih tidak merasakan apa-apa. Dengan sembunyi-sembunyi mereka bermabuk-mabukan, berjudi, namun di dalam mereka seolah-olah tidak tertegur. Ini dikarenakan mereka — di antara mereka yang mengaku dirinya orang Kristen — sama sekali tidak tahu apa yang disebut ibadah. Jika demikian, mana mungkin mereka bisa menempuh kehidupan beribadah. Kalau hanya ada penampilan luar beribadah, tetapi tidak ada realitas ibadah, itu tidak ada harganya. Sebaliknya kalau ada realitas ibadah pasti tidak mungkin tidak ada penampilan luar ibadah. Ibadah bersumber dari hayat Allah, sifat hakiki hayat Allah ialah ibadah. Jika hayat ini bisa terekspresi di atas diri kita, itulah yang disebut ibadah.

Kesulitan manusia adalah unsurnya sendiri terlalu banyak, masih bersifat daging, sehingga hayat ibadah terhalang, tidak bisa dengan bebas diekspresikan. Kalau seorang Kristen di atas dirinya sedikit pun tidak ada perasaan ibadah, saya khawatir kalau-kalau dia tidak mempunyai hayat Allah, atau dia sudah jatuh ke dalam kegelapan. Asal dia adalah orang Kristen yang hidup dalam terang, meskipun tingkatan perasaan masing-masing orang berbeda, sedikit banyak tetap ada perasaan. Orang yang bisa mengikuti perasaan ibadah untuk berpikir, berbicara, bertingkah laku, adalah orang yang beribadah.

Perkara beribadah ini perlu dilatih. Surat 1 Timotius 4:7 mengatakan, “Tetapi jauhilah cerita-cerita takhayul neneknenek tua. Latihlah dirimu beribadah.” Dari ayat di atas kita tampak, berlatih ibadah sangat berhubungan dengan mengendalikan perkataan. Sembarangan berbicara, pasti bukan penampilan ibadah. Memang kita harus lincah, harus segar, tetapi kita harus membiarkan Allah keluar dari perkataan kita. Titus 2:12 mengatakan, “Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini.” Di sini ibadah adalah satu kehidupan. Ibadah ialah Allah terekspresi di atas diri kita.

Kita ulangi lagi, apakah yang disebut takut akan Allah? Takut akan Allah adalah satu motivasi, yaitu dalam perkara apa saja takut ada unsur diri sendiri, takut menyalahi Allah. Lalu, apakah yang disebut ibadah? Ibadah adalah suatu kehidupan, dalam hidup sehari-hari mengekspresikan Allah. Prinsip Allah bekerja selalu dari dalam ke luar. Kalau orang hanya memperhatikan penampilan luaran ibadah tetapi bukan berasal dari hayat beribadah, perbuatan itu adalah pura-pura, tidak ada realitas ibadah. Tetapi kalau kita mempunyai hati yang takut akan Allah, takut ada aktivitas ego sendiri, menolak, menentang dan menyalahkan pikiran, sikap, serta tindak-tanduk yang tidak ibadah, sehingga lahiriah kita tidak bisa tidak terbatasi, (kalau tidak terbatasi, di dalam tidak bisa lewat, di dalam akan tertegur dan tidak ada damai), penampilan ibadah itu adalah sejati. Kita harus belajar takut akan Allah, belajar beribadah.

Semoga Tuhan di atas diri kita ada jalan.