Daftar isi Dua Belas Bakul (4) · bab 4/12

Kebenaran akan Memerdekakan Kamu

“Dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

Yohanes 8:32

Dua ribu tahun yang lalu, Pilatus pernah mengajukan satu pertanyaan, “Apakah kebenaran itu?” (Yoh. 18:38). Mungkin pertanyaan ini juga adalah pertanyaan banyak orang. Kita tidak bisa menurut maksud kita sendiri menjelaskan apakah kebenaran yang dikatakan oleh Alkitab. Kita akan melihat dari semua perkataan yang tertulis dalam Alkitab, apakah kebenaran itu?

Istilah “kebenaran” dalam bahasa Yunani berarti “kesungguhan yang mutlak”. Jadi, kebenaran bukan merupakan suatu alasan atau doktrin atau teori; kebenaran adalah sesuatu yang sungguh-sungguh; kebenaran adalah satu realitas. Banyak perkara yang benar tetapi belum tentu kita mengetahui teorinya, tetapi faktanya, keadaannya yang riil, itu bisa kita jamah.

Yohanes 1:17 memberi tahu kita, “Sebab hukum Taurat diberikan melalui Musa, tetapi anugerah dan kebenaran datang melalui Yesus Kristus.” Kasih karunia (anugerah) bukan salah satu sikap Allah, melainkan satu macam pekerjaan Allah. Kasih karunia adalah pekerjaan yang dirampungkan bagi kita oleh Anak Allah, Yesus orang Nazaret. Anak Allah tersalib di atas salib bagi kita, mengucurkan darah, merampungkan pekerjaan Allah, supaya kita semua tidak perlu melakukan sendiri; asal bersandar Dia kita bisa beroleh selamat. Tanpa pekerjaan salib, Allah tidak berdaya memberi kasih karunia kepada manusia. Melalui Musa, Allah hanya dapat memberi hukum Taurat kepada manusia. Karena ada pekerjaan salib, maka kasih karunia bisa diberikan kepada manusia. Sebab itu kasih karunia adalah pekerjaan Allah.

Dalam kalimat yang sama, di satu pihak kita tampak kasih karunia, di pihak lain kita juga tampak kebenaran. Kasih karunia datang karena Yesus Kristus, kebenaran datang juga karena Yesus Kristus. Ketika Allah memberikan Anak-Nya yang tunggal kepada manusia, Allah menghendaki Anak-Nya itu merampungkan kebenaran, seperti merampungkan kasih karunia. Karena pekerjaan Anak Allah, maka ada kasih karunia; demikian juga karena ada pekerjaan Anak Allah, maka ada kebenaran. Kalau tidak ada pekerjaan Tuhan Yesus, hari ini tidak akan ada kasih karunia. Perlu Tuhan Yesus menyelesaikan kasih karunia, baru memberikan kasih karunia ini kepada manusia. Inilah yang diimani oleh ribuan bahkan laksaan orang Kristen. Demikian juga perlu Tuhan Yesus merampungkan kebenaran, barulah kebenaran diberikan kepada manusia. Sebab itu Efesus 4:21 mengatakan, “Kebenaran yang nyata dalam Yesus.” Allah di dalam Tuhan Yesus telah merampungkan kebenaran. Kebenaran di dalam Dia. Kebenaran adalah pekerjaan-Nya.

Tuhan Yesus berkata, “Akulah kebenaran” (Yoh. 14:6). Kebenaran di dalam Alkitab tidak ada arti yang lain, kebenaran adalah realitas. Apa yang disebut realitas? Keadaan diriku yang sesungguhnya di depan Allah, akibat pekerjaan yang dirampungkan Tuhan Yesus, itulah yang disebut kebenaran, itulah yang disebut realitas. Tuhan Yesus telah berdarah, menebus semua orang milik Dia, itu adalah satu fakta. Karena Tuhan Yesus, di depan Allah aku menjadi seorang yang tertebus, inilah kebenaran. Karena fakta yang dirampungkan Tuhan Yesus, apa adanya diriku adalah kebenaran. Sebab itu, hanya karena Tuhan Yesus telah merampungkan satu pekerjaan, aku baru ada kebenaran. Kalau Tuhan Yesus tidak bekerja, di depan Allah aku sama sekali tidak ada kebenaran, tidak ada realitas. Di depan Allah asalnya aku adalah orang yang mati dan berdosa. Di depan Allah aku tidak ada kedudukan. Di depan Allah aku tidak ada apa-apa. Lalu sekarang? Puji syukur kepada Allah, karena pekerjaan Tuhan Yesus, aku di depan Allah ada realitas. Aku mendapatkan satu hal yang sungguh-sungguh; hal yang sungguh-sungguh itu adalah aku seorang yang tertebus.

Kita harus ingat, kebenaran yang disebut oleh Alkitab bukan doktrin atau teori yang dikhotbahkan di atas mimbar, melainkan satu fakta di depan Allah. Teori adalah penjelasan manusia di bumi atas suatu perkara. Kebenaran adalah yang dirampungkan oleh Tuhan Yesus, sehingga saya di depan Allah menjadi semacam manusia yang tertentu. Karena pekerjaan Tuhan Yesus, Allah telah mengubah aku menjadi manusia yang lain, itu adalah kebenaran, itu adalah realitas. Kita harus ingat bahwa pekerjaan Kristus Yesus di depan Allah sudah rampung. Karena pekerjaan tersebut aku menjadi yang dirampungkan itu, itulah kebenaran. Kebenaran adalah Kristus, kebenaran adalah Tuhan Yesus sendiri. Karena semua realitas berada di dalam Kristus, maka semua fakta yang kita miliki juga berada di dalam Kristus. Dua tambah dua sama dengan empat itulah kebenaran, tetapi itu bukan kebenaran yang akan kita bicarakan di sini. Kebenaran yang kita bicarakan di sini adalah Kristus sendiri.

KEBENARAN MEMERDEKAKAN KITA

Bukankah kita semua mempunyai kebenaran? Tetapi di sini segera timbul satu persoalan, yaitu Anda menemukan bahwa apa adanya Anda di depan Allah, mutlak berbeda dengan apa adanya Anda di bumi. Pekerjaan salib sudah rampung, tetapi Anda belum beres. Tuhan Yesus menghendaki Anda berubah menjadi semacam orang, tetapi Anda di bumi masih semacam orang yang lain. Ini berarti keadaan Anda sendiri tidak sesuai dengan kebenaran Anda di depan Allah. Inilah kesulitan kita. Sering kali kita tidak tahu apa yang disebut kebenaran. Kita pergi ke hadapan Allah berdasarkan perasaan kita, tidak berdasarkan kebenaran Allah; berdasarkan pengalaman kita, tidak berdasarkan kebenaran Allah. Tetapi kita harus tahu, kebenaran Allah berlawanan dengan perasaan kita, kebenaran Allah juga tidak sama dengan pengalaman kita. Kita harus membereskan persoalan ini, yaitu mengenal yang benar itu. Apakah yang benar itu adalah sesuatu yang telah Tuhan Yesus rampungkan bagi kita di depan Allah? Atau perasaan kita, pengalaman kita yang benar? Sebenarnya mana yang benar? Inilah persoalan kita.

Sering kali kita tidak melihat apa yang benar, tidak melihat apa yang realitas, sebab itu kita terbelenggu. Bila kita melihat kebenaran, barulah kebenaran akan memerdekakan atau membebaskan kita. Kita akan menyinggung beberapa hal, melihat apa yang dimaksud dengan kebenaran akan memerdekakan kita.

Terlebih dulu kita akan membicarakan hal beroleh selamat. Misalnya ada orang mendengar Injil, mendengar Tuhan Yesus mati di atas salib, mengucurkan darah-Nya, supaya dosanya diampuni; dia percaya Anak Allah menebus dosanya. Ia menerima Tuhan. Kalau ada orang bertanya kepadanya, apakah dia milik Tuhan? Dia berkata bahwa dia milik Tuhan. Di dalam dirinya benar-benar penuh dengan sukacita seolah-olah mau meledak. Tetapi lewat tiga bulan, lima bulan kemudian, kondisi tubuhnya kurang enak, urusan dalam keluarga makin bertambah, kesulitan makin banyak, sukacitanya tidak ada lagi. Sukacita meninggalkan dia, lalu ia merasa dalam beberapa hari ini seperti tidak beroleh selamat, tidak mirip anak Allah. Kalau orang lain bertanya kepadanya, apakah dia orang Kristen? Apakah dia telah beroleh selamat? Dia akan menjawab, “Aku sedang bimbang. Sukacitaku yang dulu sudah hilang. Bahkan kini Tuhan Yesus ada di mana, aku juga tidak tahu. Aku tidak tahu harus bagaimana.” Menghadapi situasi demikian, bagaimana Anda mengatasinya? Kalau Anda mengenal kebenaran Allah, Anda akan memberi tahu dia, “Menurut perasaan Anda, seolah-olah Anda tidak beroleh selamat. Tetapi kenyataannya Anda sudah beroleh selamat. Di dalam realitas, Anda telah beroleh selamat.”

Jadi persoalan itu dilihat dari sudut mana. Kalau Anda melihat dari sudut orang itu, Anda mungkin merasa dia belum beroleh selamat. Tetapi kalau Anda melihat dari sudut pekerjaan Tuhan Yesus, Anda akan berkata, “Saudara tidak ada perubahan, Anda adalah orang yang beroleh selamat. Anda merasa membara, Anda tetap beroleh selamat; Anda merasa dingin, Anda tetap beroleh selamat. Meskipun perasaan Anda berubah, tetapi pekerjaan Tuhan Yesus yang dirampungkan untuk Anda dan apa yang Allah berikan untuk Anda tidak berubah. Anda harus melihat dari sini.” Tuhan Yesus berkata, “Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Ketika mata seseorang tercelik, melihat apa yang ia dapat di hadapan Allah karena pekerjaan Tuhan Yesus adalah realitas itu, adalah kebenaran itu, ia akan mendapatkan kemerdekaan, ia akan mendapatkan kebebasan. Kita harus ingat, kita mendapatkan kebebasan bukan berdasarkan perasaan kita. Hanya satu hal yang dapat memerdekakan kita, yaitu realitas di hadapan Allah.

Ada seorang saudara, ia benar-benar orang yang telah bertobat, benar-benar orang yang percaya Tuhan, benar-benar telah dilahirkan kembali. Tetapi setelah lewat beberapa waktu, perasaan di dalam dirinya berubah. Ia sangat menderita dan mengira dirinya pasti binasa. Seorang saudara lain berkata kepadanya, “Dari mana Anda tahu kalau Anda akan binasa?” Ia menjawab, “Aku telah berbeda dengan yang dulu, dalamku sangat dingin, doaku tidak manjur, membaca Alkitab juga tidak bisa lagi.” Saudara itu berkata lagi, “Ini Anda lihat dari sudut keadaan Anda. Sekarang mari kita lihat dari sudut keadaan Allah. Apakah pekerjaan Tuhan Yesus itu sudah terkena korting?” “Tidak!” Jawabnya. “Apakah pekerjaan Tuhan Yesus berbeda dengan yang lalu?” Jawabnya, “ Tidak!” “Lalu, apakah pekerjaan Tuhan Yesus di depan Allah sudah dibatalkan? Seolah membatalkan Perjanjian Baru?” “Tidak!” “Baiklah, di pihak Allah tidak ada perubahan. Itu pasti. Sebab itu, berdasarkan kebenaran, berdasarkan realitas, Anda di depan Allah tidak berubah menjadi orang yang tidak beroleh selamat. Apa yang Anda rasakan berubah itu adalah perasaan Anda sendiri. Tidak peduli Anda merasa beroleh selamat atau Anda merasa tidak beroleh selamat, Allah berkata, Anda beroleh selamat, apakah Anda bisa diubah? Ingatlah, beroleh selamat atau tidak itu masalah kebenaran bukan masalah perasaan.” Mendengar sampai di sini, ia mengucurkan air mata dan berkata, “Bagaimanapun aku merasakan, tidak ada gunanya; apa pun yang aku katakan, juga tidak ada gunanya. Hanya apa yang Allah katakan, baru berguna. Allah berkata: Aku beroleh selamat, maka aku pasti selamat.” Inilah yang dimaksud kebenaran akan memerdekakan kamu. Realitas rohani membebaskan orang dari perasaannya sendiri; realitas rohani memerdekakan orang.

Kita akan maju selangkah lagi melihat bagaimana kebenaran membebaskan kita. Firman Allah tidak saja memperlihatkan kepada kita, ketika Tuhan Yesus mati di atas salib memikul dosa kita supaya dosa kita diampuni, supaya kita dilahirkan kembali, supaya kita beroleh selamat. Firman Tuhan juga memperlihatkan kepada kita, ketika Tuhan Yesus mati di atas salib, Allah juga menaruh kita di dalam Tuhan Yesus. Manusia lama kita tersalib bersama Dia. Kematian Tuhan Yesus bukan kematian individual, kematian Tuhan Yesus adalah kematian korporat. Ketika Dia mati di atas salib, kita di dalam-Nya juga mati. Karena apa yang Dia rampungkan, kita menjadi orang yang sudah mati. Inilah kebenaran, inilah realitas.

Tetapi sebelum kita melihat kebenaran ini, kita terbelenggu. Melihat diri sendiri, ah, temperamen kita masih ada; menjamah diri sendiri, ah, kelemahan kita masih ada. Kita merasa bahwa diri kita dari kepala sampai kaki tidak ada sesuatu yang baik. Tetapi sekarang masalahnya ialah apakah pengalaman kita itu yang benar, perasaan kita yang benar, atau pekerjaan Tuhan yang benar? Banyak orang mengucurkan air mata, mereka seolah-olah merasa tidak ada sesuatu yang lebih benar dan riil daripada yang membelenggu mereka. Tetapi Firman Tuhan memperlihatkan kepada kita, hanya ada satu perkara yang benar yaitu apa yang telah dikerjakan oleh Putra Allah. Manusia lama kita telah disalibkan bersama Tuhan, ini adalah kebenaran. Kalau Anda tidak tampak kebenaran ini, Anda akan menjadi budak temperamen Anda, Anda akan terbelenggu oleh perasaan Anda, Anda akan terbelenggu oleh pengalaman Anda. Apa yang bisa membebaskan Anda? Hanya kebenaran yang bisa membebaskan Anda. Hanya realitas yang bisa memerdekakan Anda. Kalau Anda berdasarkan perasaan Anda, berdasarkan pengalaman Anda, Anda akan gagal dan terus gagal. Kalau Anda telah tampak kenyataan mati bersama Tuhan, Anda segera mendapatkan kebebasan dan kemerdekaan dari Tuhan.

Mari kita melihat lagi satu perkara, yaitu kemenangan Tuhan Yesus. Dahulu ada seorang saudara berbulan-bulan lamanya atas tubuhnya, atas pikirannya terus mendapat serangan dari Iblis. Lalu dia menurut apa yang dia ketahui menentang dan berdoa. Ia menentang dengan sekuat-kuatnya, dia berdoa dengan sekuat-kuatnya. Tetapi sampai tiga bulan lebih, meskipun dia menentang dan juga berdoa, serangan tetap ada. Pada suatu malam dia berkata kepada Tuhan, “Kalau menyuruh aku menentang lagi, melawan lagi, kekuatan untuk melawan sudah habis. Kalau menghendaki aku berdoa, aku tidak bisa berdoa lagi, kekuatan untuk berdoa sudah habis. Tuhan perlihatkanlah kepadaku, di manakah sumber penyakitku itu?” Allah mencelikkan mata hatinya, memberi dia sepatah kata yang dulu pernah dilihatnya. Sepatah kata itu meskipun dulu pernah dilihatnya, namun melihat orang seperti melihat pohon. Sekarang dia jelas, yaitu “Patutkah Iblis memperoleh penentangan ini?” Dia belum pernah memikirkan bahwa dalam hal melawan Iblis, juga bisa melawan dengan cara yang salah. Hari itu ia tampak realitas. Apakah realitas itu? Realitas itu adalah Tuhan Yesus sudah menang! Aku bersatu dengan Dia, aku juga sudah menang. Bukan berarti Tuhan Yesus akan menang lalu saya mendorong mendesak Dia cepat-cepat menang. Tetapi Tuhan Yesus sudah menang. Bukan berarti Iblis seharusnya kalah, lalu sekarang saya mohon Tuhan supaya dia kalah. Puji syukur kepada Tuhan! Tuhan Yesus sudah menang! Iblis sudah kalah! Masalahnya “sudah”, bukan “akan”. Begitu dia melihat kebenaran ini, pada malam itu juga serangan segera berhenti. Tidak ada perkara lagi, semuanya sudah lewat. Inilah realitas kemerdekaan orang. Inilah kebenaran memerdekakan kamu.

KEBENARAN DAN TERANG

Kalau kita mau tampak kebenaran, harus ada sorotan terang dari Allah. Mazmur 43:3 mengatakan, “Suruhlah terang-Mu dan kebenaran-Mu supaya keduanya itu memimpin aku dan membawa aku ke bukit kesucian-Mu dan ke dalam tempat kediaman-Mu” (Tl.). Allah dengan terang menerangi apa? Allah dengan terang menerangi kebenaran-Nya. Ini sangat penting! Melalui sorotan terang kita mengenal kebenaran Allah. Kebenaran bukan datang melalui khotbah, kebenaran datang melalui penerangan Allah. Hari ini, kalau Anda bertanya kepada saudara saudari, “Apakah kalian telah mati bersama Kristus?” Mungkin banyak orang akan berkata, “Aku sudah mati, tetapi tidak tahu mengapa hal itu tidak ada khasiatnya.” Ini dikarenakan hanya mendengarkan khotbah, tetapi tidak tampak kebenaran. Kalau tampak realitas, pasti mendapat penerangan.

Ada seorang saudara berkata, “Setelah Tuhan mencelikkan matanya sehingga ia melihat Roma 6, ia juga melihat Efesus 6. Ia melihat bahwa kematian dirinya adalah satu fakta, jugamelihat bahwa kemenangan Tuhan adalah satu fakta, dia ada bagian dalam kemenangan Tuhan juga satu fakta. Dulu dia selalu mengharap mendapatkan, tetapi sekarang ia telah mendapatkan. Dulu dia mengharapkan Tuhan bisa menang, sekarang dia bersyukur, Tuhan sudah menang. Ia berkata bahwa kehidupan semacam ini, sangat berbeda dengan kehidupan yang dulu. Dulu ia hanya memiliki kedambaan, harapan. Tetapi hari ini semuanya adalah realitas. Bukan ingin meraih, melainkan sudah ada di tangan. Begitu penerangan masuk, ia melonjak dan berkata, ‘Sudah genap!’”

Setiap orang Kristen adalah orang yang pernah mendapat penerangan. Sedikitnya pada saat ia beroleh selamat, sudah mendapat penerangan. Ketika Anda beroleh selamat, Anda tampak fakta sudah beroleh selamat, Anda bukan mengharapkan memperoleh hidup yang kekal, bukan mengharap kelak akan mendapatkan, melainkan bersyukur kepada Allah, memuji Allah karena atas diri Kristus semuanya sudah dirampungkan. Anda tampak terang menyorot di atas realitas, maka Anda menjadi orang Kristen. Semua orang Kristen adalah orang yang tampak terang menyoroti realitas itu. Semua pengalaman rohani terjadi karena melihat terang menyoroti kebenaran.

Saat kebenaran diberitakan, kalau tidak ada sorotan terang, itu akan menjadi doktrin. Ketika kebenaran diberitakan dan ada terang Allah memancar di atasnya, kebenaran akan menjadi wahyu. Mendapatkan wahyu berarti mendapatkan kebenaran. Orang yang mendapatkan teori hanya di dalam otak penuh dengan ide. Hanya orang yang mendapatkan wahyu yang mendapatkan realitas, mendapatkan hayat.

ROH KEBENARAN DAN FIRMAN KEBENARAN

Ketika kita diterangi oleh Allah, maka Roh Kudus membawa kita ke dalam realitas rohani. Kita harus tahu, di samping ada Roh kebenaran, Roh penghibur itu adalah Roh Kebenaran; di samping itu ada Alkitab, yaitu Firman Kebenaran. Di satu pihak ada perkara kebenaran yaitu Allah di dalam Kristus telah merampungkan. Alkitab mengutarakan perkara-perkara kebenaran. Ketika kita percaya kepada firman kebenaran ini, Roh Kudus membawa kita masuk ke dalam kebenaran, membawa kita masuk ke dalam realitas rohani. Tuhan Yesus adalah realitas itu. Allah melalui Roh-Nya membawa kita masuk ke dalam realitas, supaya apa yang kita miliki bukan satu teori lagi, bukan suatu pembicaraan, supaya kita tidak lagi hidup dalam perasaan kita, tidak lagi hidup dalam pengalaman kita, tetapi hidup dalam fakta yang telah dirampungkan di dalam Kristus.

Sebab itu, persoalannya yang utama adalah memiliki wahyu atau tidak. Ketika Anda mendapatkan wahyu, Anda tidak lagi memikirkan pengalaman Anda sendiri, tidak lagi mempedulikan perasaan diri sendiri, sebaliknya Anda percaya semua yang di pihak Allah mutlak benar dan tepat. Banyak orang Kristen merasa bahwa manusia lamanya itu masih sangat riil. Dia tidak berani berkata bahwa dirinya sudah mati bersama Kristus. Tetapi kalau mempunyai wahyu, dia akan berubah. Wahyu akan memperlihatkan kepadanya bahwa manusia lamanya benar-benar sudah mati. Kita harus ingat, hanya orang yang mempunyai wahyu Roh Kudus yang bisa masuk ke dalam realitas. Roh Kudus membuat kita mendapatkan wahyu, melihat kenyataan itu, kemudian kita baru berani berkata, inilah yang benar.

Sebab itu kita akan berkata, “Allah sudah merampungkan, aku juga sudah melihat.” Ini baru pengalaman yang sejati. Kita telah melihat apa yang telah dirampungkan oleh Allah. Allah berkata, “Ya”, aku juga berkata, “Ya”. Saat itu puji syukur kepada Tuhan, aku mempunyai pengalaman yang sejati.

Semoga Tuhan membuka mata rohani kita, supaya kita tampak apa yang disebut kebenaran. Kalau kita benar-benar telah tampak kebenaran, kebenaran akan memerdekakan kita. Kita mendapat kemerdekaan dari kebenaran. Kita harus menuntut kebenaran, yaitu menuntut realitas itu.

Semoga wahyu Tuhan membawa kita masuk ke dalam realitas itu.