Daftar isi Dua Belas Bakul (4) · bab 2/12

Yang Lapar Dikenyangkan dengan Kebajikan

“Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan-tangan hampa.”

Lukas 1:53

“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kehendak Allah, karena mereka akan dipuaskan.”

Matius 5:6

“Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru: ‘Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih utang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya.’ Jawab Elisa kepadanya: ‘Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah.’ Berkatalah perempuan itu: ‘Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.’ Lalu berkatalah Elisa: ‘Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit. Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!’ Pergilah perempuan itu dari padanya; dituupnyalah pintu sesudah ia dan anak-anaknya masuk; dan anak-anaknya mendekatkan bejana-bejana kepadanya, sedang ia terus menuang. Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: ‘Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi,’ tetapi jawabnya kepada ibunya: ‘Tidak ada lagi bejana.’ Lalu berhentilah minyak itu mengalir.”

2 Raja-raja 4:1-6

Ada dua kekurangan yang paling besar pada diri orang Kristen di hadapan Allah, yaitu tidak mengenal diri sendiri dan tidak mengenal kelimpahan Tuhan. Betapa baiknya jika seorang Kristen dapat mengenal dua hal tersebut. Jika Anda mengenal diri sendiri, tidak mengenal kelimpahan Tuhan, Anda pasti akan gagal. Semua kelemahan, kegagalan, dan segala sesuatu yang tidak memuliakan Allah di dalam penempuhan hidup orang Kristen, dapat dicari sebab-musababnya dari kedua hal tadi, karena kedua hal itu cukup meliputi semua unsur kegagalan kita. Pekerjaan yang ingin Tuhan kerjakan pada diri kita, di samping membuat kita tampak bagaimana keadaan diri kita, juga memperlihatkan kepada kita bagaimana keadaan-Nya. Setelah kita mengenal diri sendiri dan mengenal Dia, maka semua kesukaran rohani kita dapat dibereskan.

I

Di sini kita perlu membahas satu hal yaitu: apakah syarat utama untuk mengalami kelimpahan Tuhan? Atau apakah syarat utama supaya kita diberkati Allah? Atau dengan kata lain lagi, apakah syarat utama pekerjaan Roh Kudus?

Hal ini harus kita pahami dengan baik, dan syarat ini harus kita penuhi. Kalau tidak, kita tidak bisa berharap mendapatkan sesuatu dari Tuhan. Apakah syarat utama itu? Yaitu “kekosongan” diri kita di hadirat Allah. Jika Anda menghendaki sepanjang jalan hidup Anda penuh dengan kelimpahan Tuhan, maka Anda harus selalu mengosongkan diri. Pengalaman mengosongkan diri itu makin lama makin dalam, karena itu Anda tidak dapat berkata bahwa Anda sudah kosong sampai tuntas, sehingga tidak dapat dan tidak perlu dikosongkan lagi. Saudara saudari, kita perlu dikosongkan dari hari ke hari, lewat satu bulan kita perlu dikosongkan, lewat satu tahun tetap perlu dikosongkan. Sekalipun kelihatannya kita sudah kosong tetapi setelah lewat beberapa waktu, kita masih tetap perlu dikosongkan. Bukan karena sekali sudah kosong maka untuk selamanya kosong, juga bukan karena sekali sudah berlimpah, lalu selamalamanya berlimpah. Pengenalan terhadap diri sendiri dan pengenalan terhadap kelimpahan Tuhan haruslah makin lama makin dalam.

Lukas 1:53 mengatakan, “Maka orang yang lapar dikenyangkan dengan kebajikan, dan orang yang kaya disuruh pergi dengan kosong” (Tl.). Ini memperlihatkan kepada kita bahwa karunia Allah hanya disajikan bagi satu macam orang, yaitu orang yang lapar. Andaikata seseorang mengikuti sidang gereja dengan maksud melihat dan mendengar saja, tentu tidak ada sesuatu yang dapat dilihat dan didengar olehnya.

Seseorang yang bermotivasi hanya ingin mendapatkan sedikit pengetahuan tentang Alkitab, tidak akan dapat membereskan kesulitan rohaninya. Tetapi orang yang benar-benar dari batinnya ada satu keperluan, dan benar-benar damba berjumpa dengan Allah, Allah pasti memberkati dia. Kita harus mengetahui bahwa semua kemajuan rohani tergantung pada kelaparan dan kehausan kita. Injil Matius 5:6 mengatakan, Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kehendak Allah, karena mereka akan dipuaskan.” Orang yang lapar dan haus adalah orang yang ingin dipuaskan. Berbahagialah orang yang demikian.

Ditinjau dari firman Allah dan pengalaman umat saleh, langkah pertama pekerjaan Roh Kudus pada semua orang adalah sama, yakni menciptakan sebuah hati yang “damba”. Semua permulaan kemajuan rohani tergantung pada Allah melalui Roh Kudus melakukan suatu pekerjaan yang indah di dalam Anda yaitu menciptakan hati yang damba. Setiap kemajuan rohani dimulai oleh Roh Kudus; Roh Kudus membuat Anda merasa kurang puas dengan keadaan Anda sekarang ini, sehingga Anda dapat tampak bahwa keadaan Anda sekarang ini sangat memprihatinkan dan kehidupan rohani Anda itu dangkal sekali. Pekerjaan pertama dari Roh Kudus ialah membuat Anda merasa tidak puas, serta menciptakan satu hati yang menuntut akan hal yang lebih baik.

Saudara saudari, jika kalian ingin mendapatkan kemajuan rohani, kalian terlebih dulu harus merasa tidak puas terhadap keadaan rohani Anda yang sekarang; dan kemudian Anda ingin mendapatkan keadaan yang lebih baik. Inilah permulaan kemajuan rohani. Semua kegagalan dan kemunduran Anda bukan disebabkan hal lain, tetapi disebabkan Anda merasa sudah cukup baik, dan sudah cukup puas dengan keadaan diri sendiri. Bila Anda merasa tidak puas terhadap diri sendiri, itu berarti Roh Kudus sudah mulai bekerja di dalam Anda, agar Anda bisa maju. Bila Anda tidak mengetahui bahwa diri Anda miskin dan dalam keadaan kurang, itu menyatakan bahwa Anda sedang dalam keadaan macet. Permulaan kemunduran disebabkan merasa puas terhadap diri sendiri; permulaan kemajuan disebabkan merasa lapar dan haus. Ini merupakan satu fakta yang selalu sama dari permulaan sampai akhir. Pada mulanya selalu Roh Kudus terlebih dulu menciptakan dalam diri Anda sebuah hati yang damba, kemudian baru Allah menggarapkan pekerjaan-Nya yang berlimpah itu di dalam Anda. Dia harus terlebih dulu melaksanakan pengosongan di dalam Anda. Setelah di dalam Anda kosong, barulah Allah dapat memenuhi Anda.

Ada beberapa saudara saudari yang benar-benar damba di hadapan Allah, mereka merasa diri mereka sangat kurang dan tidak baik. Mereka mengharapkan hidup yang lebih indah dan baik, tetapi mereka tidak tahu, apakah mereka bisa mendapatkan yang berlimpah itu. Saudara saudari, jika kalian memiliki perasaan demikian, bolehlah kalian yakin dengan hati tenteram, bahwa kalian pasti mendapatkannya. Mengapa demikian? Karena kedambaan hati kalian itu bukan berasal dari diri kalian sendiri, melainkan pekerjaan Roh Kudus yang ada di dalam kalian. Ketahuilah, yang dikosongkan oleh Allah niscaya dipenuhi oleh Allah juga. Allah tidak mengosongkan Anda lalu membiarkan Anda kosong selama-lamanya, Dia hendak memenuhi Anda. Allah mengosongkan Anda dengan maksud akan memenuhi Anda. Kalau Allah tidak mau memenuhi Anda, Ia tidak akan mengosongkan Anda. Pengosongan itu hanyalah suatu proses, sedangkan pemenuhan itulah tujuan-Nya. Bagaimanapun juga Allah tidak mungkin setelah mengosongkan Anda lalu tidak memenuhi Anda. Jika hati Anda damba, berarti Anda sudah berada di bawah kuasa Roh Kudus. Roh Kudus sekali-kali tak pernah melakukan pekerjaan yang tanpa hasil, kecuali ada hambatan di dalam kita. Asal kita sungguh-sungguh damba, pasti akan dapat. Ingat dan pahamilah ini dengan sebaikbaiknya bahwa begitu pekerjaan yang pertama telah digarap oleh Roh Kudus, Dia pasti merampungkan pekerjaan selanjutnya. Dia harus bekerja sampai pekerjaan itu selesai. Janganlah khawatir, ketika Anda sudah kosong, Dia pasti akan melimpahi Anda.

II

Satu hal yang sangat ajaib dalam pengalaman kita, ialah Roh Kudus dapat mengosongkan kita. Banyak orang Kristen sejati yang mengalami hal ini. Pada waktu Anda baru menjadi orang Kristen, Anda mengira diri Anda masih sangat baik, merasa tidak ada cacat dalam hal apa pun. Tetapi beberapa waktu kemudian, Anda mulai tampak bahwa hidup Anda sekarang ini tidak lagi sesuai dengan hidup orang Kristen, Anda merasa sudah gagal dan tidak bisa membiarkannya. Lalu timbullah suatu ketidakpuasan di dalam hati Anda. Anda benar-benar ingin dipenuhi oleh Allah dan benar-benar mohon kepada Allah agar Anda bisa taat. Kemudian Allah mengatur satu suasana yang tidak dapat Anda atasi, sampai-sampai Anda merasa jemu, tetapi karena Anda bersandar pada karunia Allah, akhirnya Anda dapat mengatasinya juga. Setelah itu, Anda mempunyai kesaksian; atau boleh dikata Anda sudah menang. Atas perkara tertentu Anda telah menang; pada saat tertentu Anda telah dipenuhi oleh Tuhan. Sejak hari itu, Anda boleh dikata layak menjadi seorang pemenang. Namun sungguh mengherankan, setelah lewat beberapa waktu, kemenangan itu lenyap lagi dan kegagalan datang kembali.

Tadinya Anda merasa bahwa kemenangan itu mudah dicapai; tetapi sekarang seolah-olah tidak mempunyai tenaga sedikit pun. Kesukaran-kesukaran yang baru datang bertubitubi, bagaikan tembok yang melintang di depan Anda. Seolah-olah jalan di depan sudah buntu, tidak dapat Anda lalui. Saat itu Anda berkata bahwa kemenangan semula sudah lenyap, Anda tidak bisa lagi mengatakan bahwa Anda sudah dipenuhi Allah.

Saudara saudari, pernahkah kalian mengalami hal demikian? Apakah arti pengalaman semacam ini? Ketahuilah, kehidupan orang Kristen di hadapan Tuhan adalah makin lama makin dalam. Diri kita makin hari makin kosong, sedang kekayaan Tuhan makin hari makin melimpah.

Tatkala Anda melalui pos yang pertama, Anda mengira Anda tidak bisa mencapai kehidupan yang lebih tinggi lagi, tidak bisa lebih maju lagi, karena Anda juga mengira bahwa Anda telah maju sampai ke titik puncak. Tuhan mengetahui keadaan Anda yang demikian ini. Dia khawatir kalau-kalau Anda merasa sudah mempunyai kehidupan yang berlimpah-limpah, maka Dia mengizinkan kesukaran baru kembali menimpa ke atas diri Anda, sehingga hal-hal yang tidak dapat Anda atasi diletakkan di hadapan Anda. Saat itu Anda masih berdasarkan pengalaman yang dulu-dulu, menyangka Anda sanggup mengatasi dan memperoleh kemenangan. Tetapi tidak tahunya Anda gagal! Dalam diri Anda menganggap bahwa kegagalan tadi disebabkan kurang berjaga-jaga dan kurang berusaha, maka untuk kali kedua Anda lebih menaruh perhatian dan lebih waspada. Tetapi kali ini Anda gagal lagi. Mungkin Anda masih mengira kurang cukup berhati-hati dan berusaha; selanjutnya harus mati-matian membanting tulang agar bisa menanggulanginya. Siapa tahu akibat yang menimpa tidak sesuai dengan yang Anda harapkan. Anda tetap gagal. Pos itu tidak dapat Anda lewati; Anda kehilangan akal, benar-benar tidak berdaya lagi; Anda bingung, mengapa kali ini Anda tidak bisa menang; Anda bimbang mengapa selalu gagal dan mengapa kepatuhan yang lama itu sekarang malah lenyap? Di samping itu, Anda juga merasa bahwa Anda tidak seharusnya terus-menerus berada di dalam kegagalan, Anda menjadi sangat sedih.

Izinkan saya memberi tahu Anda, Allah berbuat demikian tidak lain karena ingin memimpin Anda lebih maju, supaya Anda digali lebih dalam, sehingga Anda lebih banyak dipenuhi-Nya. Itulah alasannya Anda selalu menjumpai kesukaran silih berganti. Bila Anda tidak ada pemenuhan yang baru, Anda tidak akan dapat mengatasi kesukaran yang baru. Ingatlah, semakin kita maju ke depan, semakin banyak pula kesukaran di depan kita. Semua kesukaran itu sudah diatur oleh Roh Kudus agar kita merasa lebih lapar dan haus terhadap Dia, sehingga memerlukan Dia lebih banyak!

III

Kemenangan atas negeri Yerikho tidak dapat dipraktikkan atas negeri Ai, negeri yang sangat kecil. Yerikho, negeri yang besar itu, sudah Anda robohkan, tetapi pengalaman pada masa lalu tidak dapat Anda ulangi atas Ai, negeri yang kecil itu. Kejadian ini menunjukkan bahwa Anda tidak dapat menggunakan kemenangan pada masa lalu untuk menghadapi kesukaran rohani sekarang ini. Peristiwa yang lalu sudah menjadi sejarah, kini Anda harus menghadapi kesukaran rohani yang baru dengan kekuatan baru. Allah memberikan Anda kesukaran yang baru, agar Anda mempunyai keperluan yang baru. Jangan sekali-kali mengira bahwa kita boleh bersusah payah sekali untuk kemenangan selama-lamanya. Di hadapan Allah kita perlu tampak, tanpa salib bekerja di dalam kita secara terus-menerus, tidak mungkin kita terus-menerus dipenuhi. Jika Roh Kudus tidak terus-menerus bekerja di dalam kita, kita pun tidak akan menang terus-menerus. Jadi, tatkala ujian apa pun menimpa kita, kesulitan macam apa pun menghalangi di depan kita, semua pengalaman yang lalu telah menjadi sejarah dan sedikit pun tidak dapat membantu kita. Kita harus kembali mendapatkan kekuatan yang baru untuk mengatasinya.

Kita harus ingat, segala sesuatu yang diatur oleh Tuhan di sekeliling kita itu bertujuan untuk menciptakan sebuah hati yang damba di dalam kita, agar kita mengakui bahwa bersandar pengalaman yang sudah-sudah itu tidak akan membuat kita menang. Kemenangan yang sudah-sudah itu memang masih ada bekasnya, tetapi ketika kita ingin bersandarkan kemenangan-kemenangan itu untuk mengatasi kesukaran-kesukaran yang baru, kita tidak akan berhasil! Banyak orang selalu menengok kembali kepada kemenangan-kemenangan yang lampau, tanpa mengetahui mengapa kini ia tidak dapat mencapai kemenangan lagi. Saudara saudari, kalian harus tahu, Allah tidak menghendaki kita makan “Manna” yang sudah basi. Ada kesukaran yang baru, maka harus ada rasa perlu yang baru, yang belum pernah ada pada hari-hari sebelumnya.

Saudara saudari, jika kita tidak ada pengenalan yang baru terhadap Tuhan, tidak ada penglihatan yang baru, kita tidak akan dapat melalui kesulitan-kesulitan. Jadi apabila Dia memimpin kita sampai pada titik penghabisan sehingga kita berteriak, “Ah! Aku sudah tidak berdaya lagi!” Itulah titik permulaan kemajuan kita. Dengan sendirinya Allah akan bekerja di dalam Anda, menciptakan sebuah hati yang damba di dalam Anda; dan dari sinilah timbulnya rasa lapar dan haus.

Syukur kepada Allah! Semua yang kita miliki, Dialah yang mengerjakannya, bahkan hati yang damba pun Dialah yang memberikan kepada kita. Kalau harus menunggu kita sendiri yang damba, entah kapan rasa itu bisa muncul. Namun di sini ada satu prinsip, yakni perlu Anda tampak akan kelemahan dan ketidakmampuan Anda, serta mengakui adanya hambatan dan kecongkakan tubuh insani Anda. Jika Anda mempertahankan diri, menganggap diri sendiri sudah kaya dan selalu mengingat-ingat kemenangan atas Yerikho, sekalipun Allah ingin menciptakan rasa damba di dalam hati Anda, tidak akan berdaya juga! Jika Anda selalu teringat pada kemenangan-kemenangan yang lalu, maka selamanya Anda tidak akan maju. Jika Anda mengingini kemenangan selanjutnya dengan mengandalkan kemenangan yang sebelumnya, hal itu membuktikan bahwa Anda sudah gagal! Kemenangan yang lalu itu tidak mungkin menjadi kekuatan Anda yang sekarang dan selanjutnya. Ketahuilah, maksud Allah membiarkan kita mengalami kesukaran-kesukaran ialah supaya kita digali lebih dalam, sehingga Tuhan bisa lebih banyak memenuhi diri kita.

IV

Iman yang hidup, selamanya tidak pernah meniru perbuatan yang lampau. Alkitab tidak pernah menyuruh kita meniru perbuatan iman orang lain. Meskipun dalam Ibrani 6:12; 13:7 tercantum, “Meneladani iman mereka”, tetapi mengikuti teladan iman dan meniru perbuatan iman, itu adalah dua hal yang mutlak berbeda. Kita wajib mengikuti teladan iman para rasul, tetapi tidak seharusnya meniru iman mereka. Bayang-bayang, sapu tangan, dan kain yang pernah dipakai rasul-rasul dapat menyembuhkan orang sakit (Kis. 5:15; 19:12); tetapi Anda tidak dapat berbuat demikian. Kalaupun Anda meniru perbuatan iman mereka, orang yang sakit tetap tidak akan sembuh; karena Anda meniru perbuatan iman mereka, bukan mengikuti teladan iman mereka. Orang lain telah mendapat kesembuhan ilahi dari suatu penyakit, namun Anda tidak bisa mencari penyakit yang serupa, kemudian memohon Allah menyembuhkannya. Allah selamanya tidak pernah membiarkan Anda meniru perbuatan iman orang lain.

Sering kali entah berapa jauh jalan yang sudah kita tempuh, baru kita sadar bahwa yang kita ikuti adalah perbuatan iman orang lain, bukan teladan imannya. Sering kali, entah berapa banyak kesukaran telah kita alami, baru kita sadar bahwa jalan meniru perbuatan iman orang yang demikian ini adalah jalan buntu. Tatkala kita sudah tidak ada jalan dan tidak berdaya lagi, barulah doa kita itu sungguh-sungguh, dan kita benar-benar memohon kepada Allah. Tadinya doa Anda hanya berupa kata-kata saja, tanpa minat sedikit pun, tadinya doa Anda hanya karena kebiasaan saja, tanpa permohonan yang sejati; tetapi kini doa Anda menjadi sungguh-sungguh, saat ini Anda benar-benar sudah menjadi kosong, Anda bisa berkata, “Aku sungguh tidak berguna, kemenangan yang kudapat pada masa lalu juga tidak membantu aku.”

Apabila Anda membandingkan kekuatan Anda dengan kesukaran yang Tuhan atur untuk Anda, niscaya Anda akan merasa tidak sanggup dan tidak mampu mengatasinya. Saat itulah Anda baru mempunyai satu hati yang sungguh-sungguh mau Tuhan, karena Anda menyadari bahwa diri Anda tidak berguna. Tidak perlu lagi orang lain berkata kepada Anda bahwa Anda harus rendah hati, dengan sendirinya Anda bisa rendah hati. Sekarang, hal rendah hati itu bukan hasil pengajaran orang, melainkan Anda bisa rendah hati dengan sendirinya. Anda kini benar-benar tahu bahwa segala sesuatu yang ada pada diri Anda itu sia-sia belaka. Kini Anda tampak jelas apa yang tersurat dalam Injil Yohanes 15:5, “Sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

Saudara saudari, Allah menghendaki Anda benar-benar meminta kepada-Nya, maka Dia membiarkan ujian-ujian dan kesukaran-kesukaran menghadang di hadapan Anda, agar Anda sungguh-sungguh mau Allah. Ketika Anda benar-benar memerlukan kekuatan Allah, barulah Anda menyadari bahwa di luar Tuhan Anda tidak bisa berbuat apa-apa. Memang sewaktu Anda mengerjakan sesuatu menurut kehendak sendiri, seolah-olah semuanya dapat Anda perbuat. Tetapi apabila Anda hendak mengerjakan suatu pekerjaan yang sesuai dengan kehendak Allah, saat itu Anda memerlukan kekuatan Allah; bahkan untuk perkara yang paling kecil.

Saudara saudari, kita harus tahu bahwa Allah sudah mengenyahkan diri kita di salib. Sering kali kita menganggap diri kita sangat besar. Sebenarnya diri kita telah dilenyapkan oleh Allah di salib. Golgota itulah tempat yang meniadakan kita, kita sudah punah. Saudara saudari, bila diri kita kosong, saat itu baru kita dipenuhi Tuhan. Firman Allah memberi janji dengan tegas, “Orang yang lapar dikenyangkan dengan kebajikan,” Dia pasti menggenapinya. Saudara saudari, pernahkah Allah memimpin Anda mencapai taraf demikian? Apakah Anda merasa bahwa diri Anda tidak berdaya? Berbahagialah orang yang merasa dirinya tidak mempunyai sesuatu, karena mereka akan dikenyangkan. Hanya orang macam inilah yang dapat menerima berkat Allah; hanya orang macam inilah yang akan dikenyangkan. Jika Anda mengira diri Anda sudah kaya dan sudah cukup baik dalam segala-galanya, maka Anda akan pulang dengan tangan hampa. Di hadirat Allah, hanya ada satu macam orang yang bisa dikenyangkan, yaitu orang-orang yang merasa tangan dan hatinya hampa. Saudara saudari, benarkah Anda hampa atau kosong? Benarkah Anda sudah mencapai tingkat di mana Allah dapat memberkati Anda? Bisakah Anda berkata, “Dalam hal mengabdi kepada Allah, aku tidak berguna, tidak ada sedikit pun yang bisa kuperbuat.” Jika Anda benar-benar kosong dan damba akan firman Allah, Allah akan bekerja di dalam diri Anda.

V

Dalam 2 Raja-raja pasal 4 tercantum sebuah kisah yang memperlihatkan kepada kita satu prinsip rohani. (Harap baca kisah tersebut).

Benda apakah yang dimiliki oleh janda dan anaknya itu? Hanya sebuah buli-buli yang berisi minyak. Kemudian minyak itu dituang ke dalam banyak bejana kosong lainnya. Jadi, sedikit minyak yang semula itu harus ada. Dalam Alkitab minyak melambangkan Roh Kudus. Roh Kudus bekerja pada seseorang, sudah tentu disebabkan Roh Kudus telah ada di dalam diri orang itu.

Kesukaran apakah yang ada pada janda itu? Yaitu bejana yang dimilikinya terlalu sedikit. Elisa berpesan kepadanya, “Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit. Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!” (2 Raj. 4:3-4). Apakah yang dilakukan janda itu? “Pergilah perempuan itu dari padanya; ditutupnyalah pintu sesudah ia dan anak-anaknya masuk; dan anak-anaknya mendekatkan bejana-bejana kepadanya, sedang ia terus menuang. Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: ‘Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi,’ tetapi jawabnya kepada ibunya: ‘Tidak ada lagi bejana.’ Lalu berhentilah minyak itu mengalir” (2 Raj. 4:5-6).

Kejadian di atas menyatakan kepada kita bahwa Allah menghendaki Anda mengambil bejana yang kosong, yaitu tempat yang kosong untuk Roh Kudus. Jangan hanya mengambil sedikit, melainkan yang banyak. Bukan hanya sekali kosong, melainkan berkali-kali kosong. Sesudah ada kekosongan ini, harus pula ada kekosongan lainnya lagi, makin banyak kosong, makin banyak dipenuhi. Inilah prinsip yang Tuhan nyatakan kepada kita. Kemajuan rohani adalah selalu ada yang kosong sehingga selalu dipenuhi. Pekerjaan Roh Kudus bukan setelah satu kali kosong lalu dipenuhi untuk selama-lamanya, melainkan terus kosong dan terus dipenuhi. Karena itu, saudara saudari, jangan sekali-kali mengharapkan setelah sekali kosong, kemudian tidak dikosongkan lagi. Salib menggarap kita makin lama makin banyak, menggali kita makin lama makin dalam.

Ada satu hal lagi yang sangat penting, yakni di manakah kita menuangkan minyak itu? Di dalam rumah yang pintunya ditutup. Menutup pintu berarti hanya ada perempuan, anak-anaknya, dan minyak saja di dalam rumah. Itu berarti bahwa semua urusan adalah urusan Anda dengan Tuhan. Anda sendiri yang harus berurusan langsung dengan Roh Kudus. Kesukaran dan kemenangan adalah urusan Anda pribadi. Bila di dalam diri kita timbul suatu kejadian, janganlah kita bersungut-sungut atau menyalahkan orang lain. Silakan Anda masuk ke dalam rumah dan tutuplah pintu, biar Anda sendiri dengan Roh Kudus yang menyelesaikannya. Karena semua hubungan kita ada di dalam Roh Kudus, maka hanya kita dengan Roh Kudus yang dapat memutuskan bersama-sama keadaan hidup rohani kita, apakah kita mau menjadi kaya atau terus miskin. Asalkan Anda dengan Roh Kudus yang menyelesaikannya, niscaya semuanya akan beres!

Dalam kisah di atas masih ada satu hal lagi yang sangat berharga, yakni jawab anak itu, “Tidak ada lagi bejana.” Maka minyak pun berhenti mengalir. Roh Kudus mau memenuhi setiap bejana kosong, bahkan sampai bejana kosong yang terakhir. Asal masih ada bejana kosong, minyak pasti tetap ada. Ingatlah, minyak berhenti disebabkan tidak ada bejana kosong lagi; bukan minyak berhenti dulu, melainkan tidak ada lagi bejana kosong. Setelah bejana kosong habis, barulah minyak itu berhenti. Bukannya minyak tidak dapat dituangkan, melainkan tidak ada bejana kosong yang dapat dikeluarkan.

Saudara saudari, Allah sedang menunggu kita kosong. Jika kekosongan Anda itu tidak terbatas, niscaya Roh Kudus akan memberikan kepada Anda kelimpahan yang tidak terbatas juga. Bisa atau tidaknya kita beroleh berkat dari Roh Kudus, tergantung pada diri kita sendiri. Bila kita mempunyai wadah kosong, mau meluangkan tempat bagi Roh Kudus, mau memberi kedudukan agar Roh Kudus bekerja, kita pasti akan mendapat berkat dari Roh Kudus.

Kita perlu berdoa dan memohon kepada Tuhan agar kita digali lebih dalam, dan mohon Tuhan menciptakan lebih banyak tempat yang kosong, agar Roh Kudus dapat memenuhi kita. Sekali lagi saya katakan, kita perlu dikosongkan terus-menerus. Tanpa kita mengosongkan diri, Allah tidak akan memenuhi kita. Apa yang dinanti-nantikan Roh Kudus adalah tempat yang kosong. Kalau ada lebih banyak tempat kosong tersedia bagi Dia, niscaya lebih banyak pula Dia memenuhi kita. Sampai di mana kekosongan itu, sampai di sana pula Anda dipenuhi oleh Roh Kudus. Oleh sebab itu, kita tidak perlu menuntut hal pemenuhan, kita cukup hanya mengosongkan diri; karena hal memenuhi itu sepenuhnya tanggung jawab Roh Kudus, dan sebaliknya mengosongkan diri itu adalah tanggung jawab kita. Kalau kita benar-benar kosong, kita pasti benar-benar dipenuhi. Mungkin kita tidak merasa dipenuhi, namun fakta pemenuhan itu pasti terjadi pada diri kita.

Saudara saudari, Allah akan mengenyangkan orang yang lapar dengan kebajikan. Bila Allah sudah menciptakan sebuah hati yang damba di dalam Anda, bila Allah sedang menggali Anda, mengosongkan Anda, maka Anda harus percaya bahwa Allah pasti memenuhi Anda. Hanya orang yang mengira dirinya kaya akan disuruh Allah pergi dengan tangan hampa.