Daftar isi Dua Belas Bakul (4) · bab 11/12

Sukacita yang Lebih Dalam

“Tetapi aku berkata: ‘Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna; namun, hakku terjamin pada TUHAN dan upahku pada Allahku.’ Maka sekarang firman TUHAN, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya, dan supaya Israel dikumpulkan kepada-Nya — maka aku dipermuliakan di mata TUHAN, dan Allahku menjadi kekuatanku —, firman-Nya.”

Yesaya 49:4-5

“Pada waktu itu berkatalah Yesus, ‘Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah-lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.’”

Matius 11:25-30

I

Kitab Yesaya adalah kitab nubuat yang banyak menyinggung tentang Kristus. Pasal 49:5 memperlihatkan kepada kita pekerjaan yang dilakukan Tuhan di bumi, sedang ayat 4 memperlihatkan bagaimana hasil dari pekerjaan-Nya itu. Allah mengutus Tuhan ke bumi untuk melakukan apa? Tidak lain untuk mengembalikan keluarga Yakub kepada Allah, dan supaya Israel dikumpulkan kepada Allah. Bagaimanakah hasilnya? Tidak tercapai. Dalam pandangan manusia, Tuhan kita telah gagal total. Keluarga Yakub tidak mau berpaling kembali kepada Allah, orang-orang Israel menolak Dia, bahkan memaku-Nya di atas salib. Salah seorang dari antara murid-Nya malah mengkhianati-Nya. Karena itu, di sini dikatakan, “Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna.”

Saudara saudari, seandainya kita yang menghadapi keadaan demikian — ditolak orang, seolah bekerja tanpa hasil, seolah kehendak Allah sedikit pun tidak tercapai — kita pasti akan merasa sangat sedih bahkan menangis. Kalau tidak sedih, bisa juga timbul rasa kesal; kalau tidak kesal, tentu takkan terlepas dari adanya sesuatu yang negatif. Tetapi Tuhan kita tidak demikian. Walaupun dikatakan, “Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna,” tetapi kata-kata berikutnya, “Namun hakku terjamin pada TUHAN dan upahku pada Allahku.” Kata-kata tersebut berarti, meskipun apa yang kuharap untuk kulakukan tidak terlaksana, meskipun apa yang sangat ingin kucapai tidak terpenuhi, tetapi aku memiliki hakku pada TUHAN; meskipun aku telah sekian lama bersusah payah, seolah bekerja tanpa hasil sedikit pun, tetapi hakku pada TUHAN. Dengan kata lain, aku memiliki hak atau tidak, itu pada TUHAN. Tidak hanya demikian, bahkan, “upahku pada Allahku.” Meskipun aku tidak mendapatkan apa-apa dari keluarga Yakub, tetapi aku pasti mendapatkan upah dari Allah. Sebab itu, hatiku tetap merasa puas, aku tidak kecewa, aku tidak menangis, dan aku tidak akan bersedih hati. Inilah sikap Tuhan kita.

Saudara saudari, perkara di atas memperlihatkan bahwa kita tidak dapat berhubungan langsung dengan pekerjaan kita, kita hanya dapat berhubungan langsung dengan Allah; kita tidak dapat berhubungan langsung dengan urusan-urusan, kita hanya dapat berhubungan langsung dengan Allah; kita tidak dapat berhubungan langsung dengan manusia, kita hanya dapat berhubungan langsung dengan Allah. Bila Anda secara langsung berhubungan dengan pekerjaan, secara langsung berhubungan dengan urusan, secara langsung berhubungan dengan orang, maka seandainya timbul kesulitan atau kegagalan, Anda pasti merasa sedih, menangis, dan kecewa. Namun bila Anda berhubungan langsung dengan Allah, maka kalaupun Anda ditolak, Anda tidak sedih; Anda membentur kesulitan, Anda tetap gembira; Anda seolah gagal total, tetapi Anda tetap bersukacita. Kalau kita langsung berhubungan dengan Allah, kita tidak akan terjamah oleh keberhasilan atau kegagalan. Hanya ada satu perkara yang perlu diperhatikan, yaitu di hadapan Allah Anda memiliki hak atau tidak, di hadapan Allah Anda mendapatkan upah atau tidak. Jika Anda memiliki hak pada Allah, Anda pasti memiliki upah pada Allah.

II

Sikap dan penderitaan yang dialami Tuhan di bumi yang tercatat dalam Matius 11, sangat sesuai dengan kata-kata yang tertulis dalam Kitab Yesaya tadi. Seluruh Matius 11 merupakan sebuah kisah yang penuh kesedihan. Pertama, keragu-raguan Yohanes Pembaptis. Ia mengutus murid-muridnya bertanya kepada Tuhan, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Pertanyaan itu mencerminkan kekurangpercayaannya akan kebenaran Tuhan sebagai Mesias dan Kristus. Ah! Sang perintis jalan Tuhan, justru ragu-ragu sehingga berkata, “Engkaukah yang akan datang itu?” Dalam pandangan manusia, hal ini sungguh menyedihkan.

Ketika Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan dan juga tidak minum, orang lalu mengatai dia dirasuk setan. Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, datang ke tengah-tengah manusia dengan harapan menyelamatkan mereka — seharusnya mereka tidak dapat berkata apa-apa lagi, — ternyata mereka mengatai Dia pelahap dan peminum,bergaul dengan orang dosa. Sekelompok orang itu adalah orang-orang yang ringan mulut; makan dicela, tidak makan juga dicela; begini dicela, begitu juga dicela. Bagi sekelompok orang itu, bagaimanapun perbuatan dan kehidupan Tuhan, selalu dicela dan dikritik. Tidak hanya demikian, Ia juga ditolak dan dibenci oleh orang-orang di Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum. Tetapi justru di tempat-tempat itulah Ia pernah mengadakan banyak tanda mujizat dan menolong banyak orang. Singkatnya, boleh dikatakan pasal tersebut mengisahkan betapa Tuhan kita difitnah, dicurigai, ditolak, dan dibenci orang-orang.

Saudara saudari, seandainya rangkaian kesulitan dan ketidaknyamanan itu terjadi dalam hidup Anda, pekerjaan Anda, dan dalam hubungan Anda dengan sesama manusia, bagaimanakah sikap Anda? Kita akan sulit untuk tidak merasa sedih, kecewa, putus asa, dan merasa semuanya telah musnah. Namun, Tuhan kita tidak demikian. Alkitab mencatat sikap-Nya pada saat demikian, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.” “Pada waktu itu”, ya, pada waktu yang selayaknya membuat Tuhan sedih dan putus asa, tetapi Tuhan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa . . .” Dalam hati-Nya tidak ada perasaan pahit, tidak ada kesal dan dendam, tidak ada rasa tidak terima pun tidak ada amarah. Dia bisa berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa.”

Saudara saudari, ketika Anda tanpa sebab apa-apa difitnah orang, ditolak orang, dapatkah Anda bersyukur kepada Allah? Oh, bukan bersyukur ketika Anda mendapatkan sesuatu, bukan bersyukur pada saat pekerjaan Anda sukses, bukan bersyukur ketika Anda disambut dan dijunjung orang, melainkan ketika tanpa sebab Anda dicurigai orang, difitnah orang, ditolak orang, saat itulah Anda dapat bersyukur. Saudara saudari, bisakah Anda bersyukur dalam keadaan tersebut?

Untuk apa Tuhan memuji Allah? Di sini ada satu penghiburan yang paling besar, yaitu “Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.” Tuhan tahu bahwa itulah yang berkenan kepada Bapa; jika demikian apa lagi yang hendak dikata selain memuji? Bagi Tuhan, keragu-raguan Yohanes Pembaptis, kritik dan fitnahan orang terhadap diri-Nya, semua itu berkenan kepada Bapa. Dia tunduk di bawah segala perlakuan dan keadaan yang diperkenan Allah. Karena itu Dia dapat berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa.” Kita sering tidak dapat berkata, “Ya Bapa,” seolah-olah kita sudah tidak percaya bahwa Allah adalah Bapa kita. Tetapi Tuhan kita dapat menyebut, “Ya Bapa,” Dia tetap dekat dan akrab dengan Allah. Kita juga sering tidak bisa menyebut, “Ya Tuhan langit dan bumi”, seolah-olah kita tidak percaya kalau di langit dan di bumi ini ada Tuhan. Saudara saudari, bisakah Anda berkata, “Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu”? Ketika Anda disalahpahami orang, ditolak orang, menghadapi kesulitan, apakah Anda segera merasa sedih, merasa sukar menerima? Dapatkah Anda tunduk di bawah keadaan yang berkenan kepada Allah dan berkata, “Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu”? Dapatkah?

III

Dari kata-kata Tuhan selanjutnya, jelaslah bagi kita mengapa Ia dapat berkata demikian. Tuhan berkata, “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa.” Cukuplah, asal Bapa mengenal, cukuplah. Orang Khorazim, orang Betsaida, orang Kapernaum tidak mengenal, itu tidak mengapa; segenap keluarga Yakub tidak mengenal, itu tidak mengapa; semua orang yang pernah dibantu tidak mengenal juga tidak mengapa, bahkan Yohanes Pembaptis ragu-ragu pun tidak mempengaruhi-Nya. Ia hanya memperhatikan satu perkara, yaitu “semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa.” O, asal Bapa tahu, cukuplah. Saudara saudari, apakah Anda juga merasa cukup hanya diketahui oleh Bapa saja? Atau masihkah perlu diketahui oleh orang? Memang, kita tidak boleh kekurangan saudara dan saudari seiman, tetapi seandainya mereka tidak mengetahui dan tidak mengenal kita, dan jika kita hidup di hadapan Allah, kita akan merasa cukup asal Bapa mengetahui.

Tuhan dapat mengatakan, “Semua sudah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku.” Saudara saudari, apakah segala sesuatu yang ada pada Anda adalah yang diserahkan Bapa kepada Anda? Atau diserahkan oleh orang? Dapatkah Anda berkata, “Ya Bapa, segala yang ada, Engkaulah yang memberikan”? Dapatkah Anda berkata, “Ya Bapa, selain yang Engkau berikan kepadaku, atas diri orang lain aku tidak ada permintaan apa pun”? Kalau dapat, Anda pasti menikmati damai sejahtera, Anda dapat memuji Allah.

Tuhan berkata, “Tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa”, dan juga “tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.” Dengan kata-kata itu kita jelas bahwa orang yang hanya ingin diketahui Allah baru dapat mengetahui Allah, dan hanya orang yang telah mengenal Allah dapat memimpin orang lain mengenal Allah. Orang yang tidak mengenal Bapa tidak bisa memimpin orang lain mengenal Bapa.

Saudara saudari, apakah Anda berniat membantu dan memimpin orang lain mengenal Bapa? Mengapa perkataan Anda tidak berbobot dan tidak dapat mengharukan orang? Tidak lain karena yang ada pada Anda bukanlah yang diserahkan Bapa kepada Anda. Anda merasa pemberian Bapa tidak cukup, Anda tidak mengindahkan pemberian Bapa, Anda berusaha memperoleh sesuatu dari manusia. Jika demikian, berarti Anda bukan orang yang diketahui oleh Bapa saja. Saudara saudari, benarkah Anda merasa cukup hanya diketahui oleh Bapa? Jika ya, Anda dapat mengetahui dan mengenal Allah. Hanya orang yang diketahui Allah dapat mengenal Allah; hanya orang yang mengenal Allah dapat memimpin sesamanya mengenal Allah.

Saudara saudari, jika kita berada di luar Allah, mustahil kita mengenal Allah. Emosi kita terlalu berat, benda-benda kita terlalu banyak, sebab itu kita tidak dapat mengenal Allah. Hiburan serta kemuliaan yang kita peroleh dari manusia terlalu banyak, karena itu kita tidak dapat memimpin orang mengenal Allah. Kalau hati kita telah dipenuhi berbagai macam benda selain Allah, kita mustahil mengenal Allah. Camkanlah firman Tuhan ini, “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.” Saudara saudari, jika Anda dapat meletakkan segala benda yang ada dalam hati Anda, maka Anda dapat mengenal Dia dan dapat memimpin orang mengenal Dia. Sebab hati Anda bersih-suci, dan “semua orang yang suci hatinya akan melihat Allah” (Mat. 5:8).

IV

Setelah Tuhan mengucapkan kata-kata di atas, segera disambung dengan kata-kata yang penuh penghiburan, yaitu “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.” Di sini Tuhan menunjukkan kepada kita pengalaman-Nya sendiri, dengan maksud memberi teladan agar kita dapat memperoleh jalan menikmati kelegaan seperti yang diperoleh-Nya.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Saudara saudari, adakah beban berat sedang Anda pikul? Apakah Anda meronta-ronta terus sepanjang hari? Apakah hati Anda sedang bersedih? Tuhan kini berkata kepada Anda, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Apakah Anda merasa banyak perkara membuat Anda khawatir? Atau banyak tanggungan yang tidak mampu Anda pikul? Mungkin pula Anda menderita susah karena kegagalan? Tuhan mengundang Anda. Anda boleh datang kepada-Nya untuk menerima kelegaan.

Bagaimana Tuhan dapat memberi kelegaan kepada kita? Tuhan telah menaruh diri-Nya di hadapan kita, dan Ia menyuruh kita memandang Dia. Sabda-Nya, “Aku lemah lembut dan rendah hati.” Tahukah Anda, apa lemah lembut itu? Seorang saudara pernah mengambil suatu perumpamaan untuk mengutarakannya. Katanya, “Lemah lembut itu seolah bola-bola yang terbuat dari tali yang biasa diikatkan pada sisi setiap perahu kecil. Bola-bola itu berguna untuk melindungi badan perahu. Ketika perahu itu merapat ke dermaga, membentur sini keras, membentur sana keras, kalau demikian badan perahu bisa pecah. Tetapi karena ada bola-bola tali tersebut, maka kerasnya dermaga tidak menjadi masalah lagi.” Saudara saudari, perumpamaan ini cukup tepat, inilah lemah lembut. Kedua belah pihak sama-sama keras, tidak bisa saling berbenturan. Tetapi karena di antara kedua benda keras tadi ada benda lunak, maka tidak ada masalah lagi. Dia keras, tetapi Anda lunak, Anda bisa membiarkan dia membentur Anda, Anda tahan terhadap benturan itu.

Tuhan Yesus berkata bahwa Dia lemah lembut, berarti Dia dapat menahan setiap benturan terhadap diri-Nya. Saudara saudari, apakah kelembutan ini juga Anda miliki? Bukankah hati Anda sering begitu kerasnya sehingga tidak ada apa pun yang dapat mengubah keinginan Anda, termasuk Allah? Itu menunjukkan bahwa hati Anda tidak lemah lembut. Lemah lembut berarti dapat diubah. Lemah lembut berarti Allah ingin aku mendapatkan apa, itulah yang ingin aku dapatkan. Lemah lembut berarti boleh mendapatkan yang diinginkan, boleh juga tidak; senantiasa dapat bernyanyi “Haleluya” kepada Allah, baik berhasil atau tidak. Lemah lembut berarti demi terlaksananya kehendak Allah, Anda bisa mengubah ketentuan Anda yang semula.

Saudara saudari, dapatkah kehendak Allah mengubah ketetapan Anda? Apa yang telah Anda putuskan, apa yang Anda dambakan, apa yang Anda harapkan, apa yang selalu Anda tuntut, kalau semua itu tidak diperkenan Allah, dapatkah Anda mengubahnya? Memang, Anda mengakui bahwa Allah mengasihi Anda, tetapi jika keinginan hati Anda tidak dikabulkan Allah, dapatkah Anda melewatkannya? Dapatkah Anda tetap menyanyi “Haleluya”? Saudara saudari, kita harus tahu, hati yang lemah lembut juga berarti dapat mematuhi dan menuruti Allah. Karena itu, lemah lembut juga berarti tidak mempertahankan pendapat diri sendiri, tidak mengukuhi pandangan sendiri, dan tidak menentukan harus memperoleh sesuatu bagi diri sendiri. Hati yang lemah lembut berarti jika Allah menghendaki aku berubah, aku bisa berubah; Allah menghendaki aku berbalik, aku akan berbalik; Allah menghendaki aku bagaimana pun boleh. Orang yang demikian, pasti akan menikmati kelegaan Tuhan.

Betapa mustika kelegaan itu! Sayang, banyak orang Kristen hidup tanpa kelegaan. Mereka terlalu sering merasa tidak puas, selalu bersungut-sungut. Salah satu sebabnya ialah mereka belum berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tetapi Tuhan menunjukkan kepada kita, syarat memperoleh kelegaan adalah lemah lembut. Ketika jalan dan tujuan kita berselisih dengan jalan dan tujuan Allah, baiklah kita berbalik untuk menerima jalan-Nya. Tanpa hati yang lembut, orang tidak akan memperoleh kelegaan. Ingatlah, lemah lembut adalah syarat pertama untuk memperoleh kelegaan.

Tuhan tidak hanya lemah lembut, Ia pun rendah hati. Kita sering mempunyai pikiran yang bodoh, cita-cita yang duniawi, harapan yang sia-sia pula perhitungan yang tak berguna. Kita sering membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita tidak senang melihat orang lain berhasil atau lebih maju daripada kita. Kita ingin selalu lebih tinggi dan lebih besar daripada orang lain. Pikiran kita sering dipenuhi kesombongan. Kita tidak mempunyai kerendahan hati seperti Tuhan. Tuhan kita lemah lembut dan rendah hati. Tuhan kita tidak sombong, Dia tidak mengharapkan mendapatkan sesuatu bagi diri-Nya sendiri, Dia mau menerima apa yang diberikan Allah kepada-Nya. Inilah kerendahan hati-Nya.

Saudara saudari, sudahkah Anda merasa puas akan pemberian-Nya? Atau terhadap perkara dan barang tertentu Anda memiliki tuntutan sendiri? Banyak orang memiliki satu ambisi, memiliki satu tekad pribadi, tetapi semua itu tidak diperkenan Allah, dan orang semacam itu tidak akan berguna bagi-Nya. Orang demikian tidak memiliki kerendahan hati, dan pasti tidak akan memperoleh kelegaan; mereka tidak puas dengan pemberian Allah, karena itu mereka tidak memiliki perhentian. Hanya orang yang lemah lembut yang dapat menerima pimpinan Tuhan, dan hanya orang yang lemah lembut yang dapat memuaskan hati-Nya.

Tuhan berkata, “Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati, dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Melalui ayat ini kita mengerti, jika kita ingin memperoleh ketenangan jiwa, kita wajib memikul gandar Tuhan serta belajar kepada-Nya. Kesulitan kita yang terbesar adalah tidak mengindahkan kehendak Allah. Inilah yang menyebabkan jiwa kita tidak tenang dan tidak bersukacita.

Dalam Alkitab ada dua macam sukacita. Pertama adalah sukacita karena kita percaya kepada karunia Allah. Kedua adalah sukacita karena kita rela patuh kepada kehendak Allah. Kita telah percaya kepada karunia Allah, tetapi maukah kita patuh kepada kehendak-Nya? Adakah sukacita di dalam hati Anda? Adakah ketidakpuasan di dalam hati Anda? Apakah Anda menggerutu karena sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan Anda telah menimpa Anda? Jika ada, penyebabnya tidak lain adalah kita tidak mau mematuhi kehendak Allah. Orang yang mempunyai sedikit pengalaman dapat berkata, tidak ada perkara yang dapat membuat hati kita lebih bersukacita daripada mempersembahkan diri. Jika Anda tidak memiliki sukacita, tidak puas, hanya satu sebabnya yaitu Anda tidak memikul gandar yang Tuhan pasang dan tidak belajar kepada Tuhan. Sukacita macam ini adalah sukacita yang dalam. Semua yang ada pada Anda berasal dari Bapa, bahkan Anda dapat berkata, “Ya Bapa, semua yang Kautentukan adalah baik.” Inilah pengalaman Tuhan yang diperlihatkan kepada kita.

V

Saudara saudari, kapan kala Anda tidak memiliki kelegaan, tidak memiliki sukacita, pasti ada suatu benda atau hal di dalam Anda yang tidak mau Anda lepaskan. Ada orang selalu sedih dan sumpek, dikarenakan di dalamnya ada masalah. Saudara saudari, apakah di dalam Anda ada masalah? Adakah perkara yang tidak berani Anda kemukakan atau pikirkan? Banyak orang Kristen tidak berani menilik ke dalam dirinya sendiri, karena takut akan terjadi sesuatu. Banyak orang Kristen segera melarikan diri ketika Allah menjamah hatinya, mereka tidak berani merenungkan dengan tenang di hadapan Allah walau sejenak saja. Mereka selalu meronta dan membuat dirinya sibuk, akibatnya, mereka tidak ada kelegaan dan sukacita. Namun, bila Anda sungguh-sungguh mau menanggung gandar Tuhan dan belajar kepada Tuhan, Anda pasti dipenuhi kelegaan dan puji-pujian.

Dulu ada seorang saudara pergi menginjil ke suatu tempat. Ketika ia berjalan meninggalkan kampung halamannya, sambil memikul barang bawaannya ia berkata, “Sejak kini, aku berjauhan dan meninggalkan sanak keluargaku, teman-temanku.” Kemudian diteruskan lagi, “Aku adalah orang yang paling bersukacita di dunia ini!” Saudara saudari, mungkin Anda hanya mengenal sukacita karena beroleh selamat, tetapi belum mengenal sukacita karena konsikrasi. Ya, sering kali hati kita merasa pedih, namun mulut kita penuh pujian. Sayang sekali, banyak suara pujian orang Kristen tertutup oleh banyaknya benda dan perkara! Bukan berarti ia telah berdosa, melainkan di dalam dirinya masih banyak benda di luar Allah. Asal ia mau membiarkan Tuhan membuang benda-benda itu, hatinya segera beroleh kelegaan dan penuh dengan sukacita.

Banyak orang menjalin hubungan yang dalam dengan manusia lebih daripada dengan Allah. Suatu hari, bila ia kehilangan kasih manusia, ia pun kehilangan kelegaan dan sukacita. Seandainya Anda dianiaya, difitnah, dan dibuang seperti halnya Tuhan, bagaimanakah perasaan Anda dan apakah yang hendak Anda katakan? Boleh jadi Anda akan mengemukakan alasan-alasan kepada Tuhan, atau akan bergumul dengan Tuhan. Akibatnya, hati Anda tidak memiliki kelegaan dan sukacita. Sebaliknya, kalau Anda datang ke hadapan Tuhan serta berkata kepada-Nya, “Ya Tuhan, segala perkara yang menimpa diriku tidak lain atas seizin-Mu, dan aku menerimanya dengan rela.” Jika demikian, Anda akan dipenuhi kelegaan dan sukacita surgawi.

Pada suatu hari, seorang saudara sedang berjalan-jalan di padang gurun di bawah sinar rembulan, Allah berkata kepadanya, “Bagaimana kalau kesayanganmu Kuambil?” Saudara itu menjawab, “Ya Allah, aku tidak sanggup.” Allah berkata lagi, “Kamu memang lemah dan tidak sanggup, tetapi Aku bisa membuat kamu sanggup, bagaimana?” Saudara itu berkata lagi, “Ya Allah, aku bersyukur kepada-Mu dan memuji-Mu, aku tidak sanggup, namun Dikau sanggup.” Ia membiarkan Allah melakukan hal itu atas dirinya, dan ia rela tunduk di bawah kehendak Allah. Ia menyerahkan hal itu kepada Allah sambil mengucurkan air mata. Ajaib sekali, begitu ia tunduk kepada Allah, hatinya segera dipenuhi kelegaan dan sukacita surgawi.

Saudara saudari, pernahkah Anda menikmati kelegaan dan sukacita surgawi semacam itu? Tuhan sedang menunggu dan ingin memberikan kelegaan dan sukacita itu kepada Anda. Persoalannya ialah apakah Anda mau memikul gandar Tuhan dan belajar kepada-Nya. Jika Anda tidak merelakan perkara atau benda yang diminta oleh Tuhan, Anda tidak akan bisa menerima berkat-Nya, dan Anda tidak dapat menyalurkan berkat itu kepada orang lain. Tuhan berkata, “Gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.” Percayakah Anda kepada firman Tuhan ini? Orang yang tidak mengenal Allah akan menganggap Allah kejam, menuai di tempat Ia tidak menabur dan memungut di tempat Ia tidak menanam. Tetapi orang yang mengenal Allah akan mengakui bahwa gandar-Nya itu menyenangkan dan beban-Nya pun ringan.

Tetapi, entah mengapa, banyak anak Allah takut mendengar kehendak Allah. Mereka dapat menyanyi, memujimuji haleluya ketika mendengar tentang kasih Allah, kuat kuasa Allah, hikmat Allah; tetapi segera menjadi takut begitu mendengar kehendak Allah. Bagaimana dengan Tuhan kita? Dia tidak mengatakan kehendak Allah itu sebagai kehendak Allah saja, bahkan mengatakan itu sebagai kehendak yang diperkenan Allah (kehendak yang indah). Dalam pandangan Tuhan, semua kehendak Allah itu indah. Kita harus percaya kepada hati kasih Allah. Kita percaya Dia mengasihi kita, karena itu bagaimanapun keadaannya, hati kita tetap tenang.

Sering terjadi ketika kita minta ikan, seolah-olah Allah memberi ular kepada kita, dan ketika kita minta roti, seolah-olah Allah memberi batu. Hal ini membuat kita tidak mengerti dan bertanya mengapa demikian. Ketahuilah, kita sering minta ikan, tetapi sebenarnya justru ularlah yang kita minta; kita minta roti, sebenarnya batulah yang kita minta. Sebaliknya, yang Allah berikan seolah-olah ular, itu sebenarnya ikan, dan yang seolah-olah batu, itu sebenarnya adalah roti. Kita sering mengira Allah tidak mau mengabulkan doa kita, dan mengira Allah tidak mengasihi kita. Padahal Ia selalu mengabulkan apa yang baik dan indah bagi kita. O, Allah kita tidak pernah salah. Kesulitannya justru karena manusia tidak percaya kepada kasih Allah. Ingatlah, ada kalanya Allah membiarkan perkara-perkara yang menyulitkan dan menyedihkan menimpa diri kita, itu bukan karena Allah tidak mengasihi kita, melainkan Ia ingin membina kita dan ingin memberikan yang lebih baik kepada kita. Bila kita percaya semua itu adalah kehendak-Nya yang indah, kita pasti memuji-Nya sambil mengucurkan air mata.

Kita tidak saja harus percaya akan kasih Allah, juga harus percaya akan hikmat Allah. Dia mengasihi kita, Dia pun tahu segala sesuatu tentang kita. Kasih-Nya tidak berubah selamanya, hikmat-Nya pun tidak pernah salah. Perkara apa pun yang tidak bermanfaat bagi kita tidak akan menimpa diri kita. Kita harus percaya bahwa kuasa-Nya dapat memimpin kita melalui segala situasi yang harus kita lalui, dan dapat membuat kita sanggup menanggung semua beban yang menimpa diri kita. Akhirnya kita dapat berkata kepada-Nya, “Syukur kepada Allah, terpujilah Allah, sebab kehendak-Mu tidak pernah salah.” Puji-pujian yang tertuju kepada karunia Allah adalah puji-pujian permulaan, sedang puji-pujian yang tertuju pada kehendak Allah adalah puji-pujian yang telah melalui belajar. Puji-pujian yang disebabkan karena memperoleh sesuatu adalah puji-pujian yang rendah, tetapi puji-pujian karena kehilangan sesuatu barulah puji-pujian yang tinggi. Kiranya kita senantiasa bersukacita dan menikmati kelegaan, sebab dalam segala perkara kita penuh dengan kasih, hikmat, dan kuasa Allah.

Dalam buku yang berjudul The Stream in the Desert (Mata Air di Padang Gurun) tanggal 24 Oktober tercantum kata-kata sebagai berikut: “Sebatang besi baja yang berharga $ 5.00 jika dijadikan tapal kuda akan berharga $ 10.00, jika dijadikan jarum-jarum yang halus akan menjadi $ 350.00, dan bila dijadikan pisau-pisau kecil, akan meningkat harganya menjadi $ 32,000.00. Kalau dijadikan per-per arloji, akan menjadi $ 250,000.00.” Saudara saudari, sudahkah Anda tampak, di manakah perbedaan antara $ 10.00, $ 350.00, $ 32,000.00, dan $ 250,000.00? Besinya sama, tetapi setelah melalui tempaan, pembakaran, dan pengolahan yang lebih banyak, menjadi lebih ulet, kuat, serta lebih berharga. Demikian juga, karena Allah ingin menjadikan kita lebih berharga, maka diizinkanlah kita mengalami banyak ujian dan tempaan. Jika kita mau menjadi bejana yang berguna dan berharga, terimalah segala perkara yang diizinkan-Nya tanpa gelisah dan mengeluh, melainkan dengan sukacita dan kelegaan. Kita boleh berkata kepada Allah, “Ya Allah, aku bersyukur kepada-Mu, karena segala perkara yang Kauperkenankan itu baik dan indah.” Bila kita tunduk di bawah kehendak Allah, hati kita pasti beroleh kelegaan dan penuh dengan sukacita, mulut kita akan penuh dengan puji-pujian, dan beban kita pun pasti tidak lagi menjadi pikulan yang berat.

Kita telah tampak bahwa Tuhan kita mempunyai satu sukacita yang lebih dalam. Itu karena Dia percaya bahwa “Hakku terjamin pada TUHAN dan upahku pada Allah”, dan karena Ia percaya “Itulah yang berkenan kepada-Mu.” Tuhan dengan jelas sekali mengatakan kepada kita, “Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”

O, saudara saudari, jika kita ingin berbagian dalam sukacita yang lebih dalam ini, kita harus percaya kepada firman Tuhan, dan dengan rela memikul gandar Tuhan serta belajar kepada-Nya. Syukur kepada Tuhan, karena gandar-Nya itu menyenangkan dan beban-Nya pun ringan.