Daftar isi Dua Belas Bakul (4) · bab 12/12

Tabut Perjanjian

“Haruslah mereka membuat tabut dari kayu penaga, dua setengah hasta panjangnya, satu setengah hasta lebarnya dan satu setengah hasta tingginya. Haruslah engkau menyalutnya dengan emas murni; dari dalam dan dari luar engkau harus menyalutnya dan di atasnya harus kaubuat bingkai emas sekelilingnya. Haruslah engkau menuang empat gelang emas untuk tabut itu dan pasanglah gelang itu pada keempat penjurunya, yaitu dua gelang pada rusuknya yang satu dan dua gelang pada rusuknya yang kedua. Engkau harus membuat kayu pengusung dari kayu penaga dan menyalutnya dengan emas. Haruslah engkau memasukkan kayu pengusung itu ke dalam gelang yang ada pada rusuk tabut itu, supaya dengan itu tabut dapat diangkut. Kayu pengusung itu haruslah tetap tinggal dalam gelang itu, tidak boleh dicabut dari dalamnya. Dalam tabut itu haruslah kautaruh loh hukum, yang akan Kuberikan kepadamu. Juga engkau harus membuat tutp pendamaian dari emas murni, dua setengah hasta panjangnya dan satu setengah hasta lebarnya. Dan harus kaubuat dua kerub dari emas, kaubuat itu dari emas tempaan, pada kedua ujung tutup pendamaian itu. Buatlah satu kerub pada ujung sebelah sini dan satu kerub pada ujung sebelah sana; seiras dengan tutup pendamaian itu kamu buatlah kerub itu di atas kedua ujungnya. Kerub-kerub itu harus mengembangkan kedua sayapnya ke atas, sedang sayap-sayapnya menudungi tutup pendamaian itu dan mukanya menghadap kepada masing-masing; kepada tutup pendamaian itulah harus menghadap muka kerub-kerub itu. Haruslah kauletakkan tutup pendamaian itu di atas tabut dan dalam tabut itu engkau harus menaruh loh hukum, yang akan Kuberikan kepadamu. Dan di sanalah Aku akan bertemu dengan engkau dan dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerub yang di atas tabut hukum itu, Aku akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel.”

Keluaran 25:10-22

Tabut perjanjian dalam Alkitab menduduki tempat yang sangat penting. Ketika Allah berpesan kepada Musa untuk membuat kemah, yang disinggung lebih dulu ialah bagaimana membuat tabut perjanjian. Ketika mendirikan kemah, di tengah-tengah pelataran ada mezbah kurban bakaran, ada bejana pembasuhan; di dalam tempat kudus ada kandil emas, meja roti sajian dan mezbah pembakaran ukupan; tetapi dalam tempat Maha kudus hanya ada satu, yaitu tabut perjanjian (Kel. 40:17-33). Di sana Allah akan bertemu dengan manusia dan akan berbicara kepada manusia dari antara kedua kerub yang berada di atas tabut perjanjian. Sebab itu, tabut perjanjian adalah pusat dari Kemah Pertemuan, menduduki tempat yang sangat penting.

I

Terlebih dulu kita akan melihat sebutan tabut perjanjian. Kitab Keluaran menyebutnya tabut hukum, belum ada sebutan tabut perjanjian. Tabut hukum boleh diterjemahkan tabut kesaksian. Artinya, kesaksian Allah ada di tengah-tengah Israel. Tempat tabut berada menunjukkan tempat Allah berada. Tempat tabut berada menunjukkan tempat hukum Taurat Allah berada. Dalam Kitab Bilangan disebut lagi satu nama, yaitu tabut perjanjian (Bil. 10:33; 14:44). Di sini berarti, tabut berhubungan dengan perjanjian. Di mana tabut berada di sana ada perjanjian. Sampai Kitab Samuel kita temukan satu nama lagi, yaitu tabut Allah (1 Sam. 4:11, 13, 17, 19, 21-22). Artinya, di mana tabut berada di sana Allah berada; tabut itu mewakili Allah, beserta dengan umat Allah, berarti Allah beserta dengan umat-Nya.

II

Tabut perjanjian melambangkan apa? Tabut perjanjian melambangkan Tuhan Yesus. Dalam kemah ada tabut perjanjian, melambangkan Allah beserta dengan manusia. Tuhan Yesus datang adalah mewakili Allah beserta dengan kita. Dia adalah Imanuel (Mat. 1:23). Dia di mana, Allah juga di mana. Tabut perjanjian dalam Perjanjian Lama berada dalam tempat Maha kudus. Hari ini Kristus juga berada di tempat kudus surga (Ibr. 8:1-2). Ketika Allah menghendaki orang Israel membuat Kemah Pertemuan, perkara pertama yang disinggung adalah tabut. Ini melambangkan Tuhan adalah “inti dari segala sesuatu”. Tabut ini terbuat dari kayu penaga dilapisi emas murni. Kayu penaga adalah kayu yang kuat, melambangkan sifat insani Kristus. Emas dalam Alkitab melambangkan kebenaran Allah, kemuliaan Allah, dan segala sesuatu milik Allah. Sebab itu, emas di sini melambangkan sifat ilahi Tuhan Yesus. Tuhan Yesus adalah manusia juga Allah. Ia mempunyai sifat manusia juga mempunyai sifat Allah.

Di atas tabut yang panjangnya dua setengah hasta, lebar satu setengah hasta dan tinggi satu setengah hasta ada satu tutup pendamaian (takhta kasih karunia). Tutup pendamaian ini diletakkan di atas tabut, terbuat dari emas murni; panjang dan lebarnya sama dengan tabut. Kemudian dari emas tempaan dibuat dua buah kerub yang ditaruh pada kedua ujung tutup pendamaian. Mereka harus mengembangkan sayapnya menutupi tutup pendamaian, muka kerub-kerub itu harus berhadapan satu sama lain dan mengarah kepada tutup pendamaian. (Kerub mengekspresikan kemuliaan Allah; Yeh. 9:3; Ibr. 9:5). Allah berkata kepada Musa, “Di sanalah Aku akan bertemu dengan engkau dan dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerub yang di atas tabut hukum itu, Aku akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel” (Kel. 25:22). Sejak hari itu, dari sanalah Allah memimpin orang Israel berjalan dan bergerak. Dalam Perjanjian Lama, tutup pendamaian menyatakan: “Semua kasih karunia Allah diberikan dari sini.” Demikian juga dalam Perjanjian Baru. Semua kasih karunia Allah diberikan kepada kita melalui Kristus. Imamat 16 memberi tahu kita, satu tahun sekali pada bulan ketujuh Imam Besar mempersembahkan kurban penebus dosa. Saat itu ia harus membawa masuk darah lembu/domba ke tempat Maha kudus dan memercikkannya ke atas tutup pendamaian. Demikian juga, darah yang dialirkan Tuhan Yesus telah merampungkan penebusan. Darah Tuhan Yesus senantiasa berbicara di depan Allah, bahwa pekerjaan penebusan sudah genap. Sebab itu, Allah harus mengampuni dosa-dosa kita. Singkatnya, tabut melambangkan Kristus, melambangkan Allah melalui Kristus memberikan kasih karunia kepada kita. Sebab itu, kita ada Kristus, berarti Allah beserta dengan kita; karena Kristus kita bisa mendapat pimpinan Allah.

Pada keempat kaki tabut harus diberi empat gelang emas. Kemudian dengan kayu penaga dibuat kayu-kayu pengusung yang juga dilapisi dengan emas, dimasukkan ke dalam gelang untuk mengangkat tabut. Kayu pengusung itu harus selalu ditaruh di dalam gelang, tidak boleh dikeluarkan. Artinya, tabut itu bisa diangkat kapan saja. Di sini kita tampak bahwa tabut memiliki dua fungsi. Pertama, tabut adalah inti penyembahan kepada Allah. Tabut ditaruh di tempat Maha kudus, di sana Allah beserta dengan manusia. Kalau mau menyembah Allah, harus datang pada tabut; kalau tidak, tidak bisa menyembah. Kedua, tabut adalah pemimpin umat Allah. Tabut berjalan di depan, orang Israel mengikuti di belakang (Bil. 10:33; Yos. 3:3). Orang Israel tidak boleh semaunya sendiri pergi ke mana-mana. Mereka hanya bisa melihat ke mana tabut pergi, dan mereka harus mengikutinya. Sebab itu kita tampak, Kristuslah yang memimpin kita menempuh jalan di depan.

Bagaimana cara mengangkat tabut? Bilangan 4:5-6 mengatakan, “Kalau perkemahan akan berangkat, haruslah Harun dan anak-anaknya masuk ke dalam untuk menurunkan tabir penudung, dan menudungkannya kepada tabut hukum. Di atasnya mereka harus meletakkan tutup dari kulit lumbalumba, dan di atasnya lagi mereka harus membentangkan sehelai kain yang seluruhnya ungu tua (kata ‘ungu tua’ seharusnya ‘biru’), kemudian mereka harus memasang kayu-kayu pengusung tabut itu.” Di sini dikatakan, setiap kali tabut perjanjian keluar perlu ditutup dengan tiga benda. Pertama ditutup dengan tirai yang memisahkan tempat kudus dan tempat Maha kudus. Kedua ditutup dengan kulit lumbalumba. Ketiga ditutup dengan kain yang seluruhnya berwarna biru.

Waktu tabut diusung keluar, itu berarti waktu memberitakan Kristus. Tirai mengacu kepada tubuh Kristus (Ibr. 10:20). Sekarang tirai telah terbelah. Kristus yang kita beritakan adalah Tuhan yang dapat kita dekati. Tabut perjanjian masih ditutup lagi dengan kulit lumba-lumba. Dipandang dari luarnya, kulit lumba-lumba tidaklah indah; ini mewakili kerendahan hati Tuhan dan penolakan manusia terhadap Tuhan. Di atas tabut masih ada satu kain penutup yang berwarna biru. Dalam Alkitab warna putih melambangkan kebenaran. Warna emas melambangkan kemuliaan Allah, milik Allah. Warna ungu melambangkan wewenang. Warna biru melambangkan surgawi; karena warna langit itu biru. Di sini kita tampak, Kristus yang kita ikuti ini di satu pihak, seperti kulit lumba-lumba, luarannya tidak indah, ditolak oleh orang. Di pihak yang lain Dia seperti kain yang semuanya berwarna biru, surgawi, yang diterima dan diperkenan Allah. Pendek kata, Kristus yang kita beritakan di satu pihak adalah Tuhan yang bisa kita dekati, di pihak lain adalah Tuhan yang ditolak oleh orang, tetapi juga Kristus yang diperkenan Allah.

III

Sekarang kita akan membahas sedikit sejarah tabut perjanjian. Dari sini kita akan melihat bagaimana hubungan tabut perjanjian dengan orang Israel dan bagaimana hubungan Kristus dengan kita.

TABUT MENYEBERANGI SUNGAI YORDAN

Ketika orang Israel akan masuk ke tanah Kanaan, bagaimana mereka menyeberangi Sungai Yordan? Kitab Yosua 3:10-17 mengatakan, “Lagi kata Yosua: ‘Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu . . . Segera sesudah kaki para imam pengangkat tabut TUHAN, Tuhan semesta bumi, berhenti di dalam air Sungai Yordan, maka air Sungai Yordan itu akan terputus; air yang turun dari hulu akan berhenti mengalir menjadi bendungan.’ Ketika bangsa itu berangkat dari tempat perkemahan mereka untuk menyeberangi Sungai Yordan, para imam pengangkat tabut perjanjian itu berjalan di depan bangsa itu. Segera sesudah para pengangkat tabut itu sampai ke Sungai Yordan, dan para imam pengangkat tabut itu mencelupkan kakinya ke dalam air di tepi sungai itu — Sungai Yordan itu sebak sampai meluap sepanjang tepinya selama musim menuai — maka berhentilah air itu mengalir. Air yang turun dari hulu melonjak menjadi bendungan, jauh sekali, di dekat Adam, kota yang terletak di sebelah Sartan, sedang air yang turun ke Laut Araba itu, yakni Laut Asin, terputus sama sekali. Lalu menyeberanglah bangsa itu, di tentangan Yerikho. Tetapi para imam pengangkat tabut perjanjian TUHAN itu tetap berdiri di tanah yang kering, di tengah-tengah sungai Yordan, sedang seluruh bangsa Israel menyeberang di tanah yang kering, sampai seluruh bangsa itu selesai menyeberangi Sungai Yordan.”

Potongan ayat Alkitab di atas memberi tahu kita, bagaimana tabut memimpin orang Israel masuk ke Tanah Kanaan. Yang terlebih dulu turun ke dalam air adalah tabut, yang terakhir naik ke tepi sungai juga tabut. Ini memperlihatkan kepada kita ada satu kekuatan yang lebih besar daripada maut yang memimpin orang Israel menyeberang Sungai Yordan dengan selamat sampai ke seberang. Demikian juga kita mati dan bangkit beserta Tuhan, sama seperti ketika orang Israel menyeberangi Sungai Yordan karena ada tabut perjanjian yang memimpin.

TABUT PERJANJIAN DI KEMAH SILO

Setelah orang Israel memasuki Tanah Kanaan dan selesai berperang, seluruh umat Israel berkumpul di Silo, membangun kemah di Silo (Yos. 18:1). Saat itu imam Eli sudah tua, dan kedua anaknya adalah orang jahat. Mereka tidak mengenal Allah tetapi melakukan pekerjaan imam. Eli tidak mengambil tindakan apa-apa terhadap mereka, karena dia menghormati anak-anaknya melebihi menghormati Allah. Kemudian ada abdi Allah bernubuat, “maka engkau akan melihat kemalangan rumah-Ku” (1 Sam. 2:32, Tl.). Artinya, Allah akan meninggalkan Kemah. “Pada masa itu firman Tuhan jarang, penglihatan-penglihatan juga jarang. Pada suatu hari, Eli yang matanya mulai kabur dan tak dapat melihat dengan baik, sedang berbaring di tempat tidurnya. Lampu rumah Allah belum lagi padam. Samuel telah tidur di tempat bait suci Tuhan, tempat tabut Allah. Lalu Tuhan memanggil: Samuel! Samuel!, dan ia menjawab: Ya, bapa!” (1 Sam. 3:1-4). Ini memperlihatkan kepada kita, meskipun lampu di dalam bait Allah di depan tabut belum padam, meskipun lahiriah kemah pertemuan masih ada, sama seperti dulu, tetapi penyertaan Allah sudah hampir meninggalkannya. Saat itu Allah tidak memanggil Eli, Allah justru memanggil Samuel. Allah tidak memberikan firman-Nya kepada Eli, tetapi memberikan firman-Nya kepada Samuel. Sejak saat itu, Allah akan mengesampingkan Eli. Allah telah memilih seorang anak kecil, yaitu Samuel, kepadanya dipercayakan jabatan nabi (1 Sam. 3:20).

Tidak lama setelah itu, tabut perjanjian pun meninggalkan kemah Silo. Satu Samuel 4:3 mengatakan, “Ketika tentara itu kembali ke perkemahan, berkatalah para tua-tua Israel: ‘Mengapa TUHAN membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini? Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian TUHAN, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita.’” Orang Israel berperang melawan orang Filistin, namun orang Israel kalah. Lalu mereka ingin mengusung tabut perjanjian dari Silo ke tengah-tengah mereka supaya mereka bisa menang. “Segera sesudah tabut perjanjian TUHAN sampai ke perkemahan, bersoraklah seluruh orang Israel dengan nyaring” (1 Sam. 4:5). Bagaimana hasilnya? “Lalu berperanglah orang Filistin, sehingga orang Israel terpukul kalah. Mereka melarikan diri masing-masing ke kemahnya. Amatlah besar kekalahan itu: Dari pihak Israel gugur tiga puluh ribu orang pasukan berjalan kaki. Lagipula tabut Allah dirampas dan kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, tewas” (1 Sam. 4:10-11). Lihatlah, ketika dalam keadaan bahaya manusia ingin memakai tabut perjanjian, tetapi akibatnya tabut perjanjian malah dirampas musuh. Mereka mengira kalau tabut perjanjian ada di tengah-tengah mereka, Allah pasti membantu mereka. Karena Allah pasti tidak tega melepaskan tabut-Nya. Tetapi Allah tidak berbuat demikian, Allah membiarkan mereka kalah dan membiarkan tabut tertawan. Ini perkara yang serius sekali!

Oh, kalau ada orang mengira dengan lebih banyak mengatakan, “Aku ada Allah”, “Demi nama Tuhan Yesus”, lalu pasti menang, ia telah melakukan kesalahan yang sama dengan orang Israel. Orang Israel kalah berperang melawan orang Filistin dikarenakan mereka lalai membereskan dosa-dosa mereka. Mereka tidak menyadari, kalau dosa tidak dibereskan, mereka tidak akan bisa menang. Mereka lupa, mereka telah berontak kepada Allah. Mereka mengira, asal berpegang pada tabut perjanjian, pasti bisa menang. Oh, salah! Tabut perjanjian Allah bukan untuk digunakan secara demikian. Kita harus ingat, perkara rohani selamanya tidak bisa dipakai oleh daging. Nama Kristus selamanya tidak bisa dipakai oleh daging. Kalau orang ingin dengan sembarangan memakai nama Tuhan, akhirnya pasti gagal total. Orang Israel ingin memakai tabut perjanjian Allah, tetapi mereka tidak mengetahui bahwa kemuliaan Allah telah meninggalkan Israel. Akhirnya Allah membiarkan tabut-Nya ditawan. Ingatlah, bukan karena tabut ditawan lalu Allah meninggalkan kemah Silo, melainkan Allah meninggalkan kemah terlebih dulu, kemudian tabut tertawan (Mzm. 78:60-61). Begitu tabut meninggalkan kemah di Silo, tabut Allah tidak lagi kembali ke Silo.

TABUT DI FILISTIN

Setelah tabut ditawan di Filistin, lalu bagaimana? Tabut bisa menjaga dirinya sendiri. Satu Samuel pasal 5 memberi tahu kita, “Tetapi ketika keesokan harinya mereka bangun pagi-pagi, tampaklah Dagon terjatuh dengan mukanya ke tanah di hadapan tabut TUHAN, tetapi kepala Dagon dan kedua belah tangannya terpenggal dan terpelanting ke ambang pintu, hanya badan Dagon itu yang masih tinggal . . . Tangan TUHAN menekan orang-orang Asdod itu dengan berat dan Ia membingungkan mereka: Ia menghajar mereka dengan borok-borok, baik Asdod maupun daerahnya.” Orang Asdod takut, lalu mengundang pemimpin-pemimpin Filistin datang dan bertanya kepada mereka, harus berbuat apa. Mereka memutuskan untuk memindahkan tabut Allah ke Gad. Tetapi setelah dipindah ke sana, orang-orang kota itu, baik anak-anak maupun orang dewasa, semua tertimpa borok-borok. Kemudian mereka mengangkat tabut Allah ke Ekron. Orang Ekron berteriak, “Mereka memindahkan tabut Allah Israel itu kepada kita untuk mematikan kita dan bangsa kita.” Lalu mereka mengutus orang mengundang pemimpin orang Filistin dan mohon mereka mengembalikan tabut Allah Israel ke tempat asalnya. Tujuh bulan lamanya tabut perjanjian Allah berada di Filistin.

Bagaimana cara mereka mengantarkan kembali tabut Allah? Dalam pasal 6 tercatat, lalu para imam dan para petenung orang Filistin memikirkan satu cara baru. Mereka membuat sebuah kereta baru yang ditarik dua ekor lembu betina yang menyusui, yang belum pernah kena kuk; memasang lembu-lembu itu pada kereta, tetapi anak-anaknya dibawa kembali ke rumah supaya tidak mengikuti induknya. Kemudian mereka meletakkan tabut Tuhan di atas kereta itu. Mereka juga menyertakan upeti sebagai tebusan salah, yaitu lima tikus emas, lima borok emas. Mereka berkata, “Perhatikanlah: apabila tabut itu mengambil jalan ke daerahnya, ke Bet-Semes, maka Dialah itu yang telah mendatangkan malapetaka yang hebat ini kepada kita. Dan jika tidak, maka kita mengetahui, bahwa bukanlah tangan-Nya yang telah menimpa kita; kebetulan saja hal itu terjadi kepada kita.” Kejadiannya sangat ajaib. Kereta lembu itu langsung menuju ke suatu tempat, tepat di Bet-Semes, sehingga pemimpin-pemimpin Filistin tunduk. Sebab itu kita berkata, tabut perjanjian bisa menjaga dirinya sendiri.

TABUT PERJANJIAN SAMPAI KE BET-SEMES

Bagaimana setelah tabut sampai ke Bet-Semes? “Orang-orang Bet-Semes sedang menuai gandum di lembah. Ketika mereka mengangkat muka, maka tampaklah kepada mereka tabut itu, lalu bersukacitalah mereka melihatnya” (1 Sam. 6:13). Tetapi selanjutnya terjadilah satu peristiwa yang sangat menyedihkan, yaitu “Ia membunuh beberapa orang Bet-Semes, karena mereka melihat ke dalam tabut TUHAN; Ia membunuh tujuh puluh orang dari rakyat itu. Rakyat itu berkabung, karena TUHAN telah menghajar mereka dengan dahsyatnya. Dan orang-orang Bet-Semes berkata: ‘Siapakah yang tahan berdiri di hadapan TUHAN, Allah yang kudus ini? Kepada siapakah Ia akan berangkat meninggalkan kita?’ Lalu mereka mengirim utusan kepada penduduk Kiryat-Yearim dengan pesan: ‘Orang Filistin telah mengembalikan tabut TUHAN; datanglah dan angkutlah itu kepadamu’” (1 Sam. 6:19-21). Memang penyertaan Kristus adalah berkat, tetapi manusia harus kudus baru bisa menerima berkat itu. Orang-orang Bet-Semes dengan sembarangan melihat tabut Allah, tidak ada rasa ibadah dan takut kepada Allah, sebab itu Allah membunuh mereka. Karena dipukul, mereka lalu tidak mau tabut perjanjian. Mereka tidak membereskan sebab musabab datangnya pukulan. Mereka malahan tidak mau penyertaan Tuhan. Ini satu hal yang sangat menyedihkan.

TABUT PERJANJIAN DI KIRYAT-YEARIM

Bagaimana sikap orang Kiryat Yearim terhadap tabut perjanjian? “Lalu orang-orang Kiryat-Yearim datang, mereka mengangkut tabut TUHAN itu dan membawanya ke dalam rumah Abinadab yang di atas bukit. Dan Eleazar, anaknya, mereka kuduskan untuk menjaga tabut Tuhan itu. Sejak saat tabut itu tinggal di Kiryat-Yearim, berlalulah waktu yang cukup lama, yakni dua puluh tahun, dan seluruh kaum Israel mengeluh kepada TUHAN” (1 Sam. 7:1-2). Tabut perjanjian dibawa keluar dari Silo, tetapi tidak kembali ke Silo lagi, melainkan ditaruh di rumah Abinadab di Kiryat-Yearim selama 20 tahun. Di Silo ada kemah pertemuan, tetapi tidak ada tabut perjanjian. Silo benar-benar kosong. Sekarang rumah Abinadablah yang mendapat penyertaan Tuhan. Saudara saudari, tabut perjanjian tidak lagi kembali ke Silo. Masalahnya sekarang, kita seperti orang-orang di Bet-Semes yang takut penyertaan Tuhan atau seperti orang-orang di Kiryat-Yearim yang menyambut penyertaan Tuhan?

TABUT DI RUMAH OBED-EDOM

Dua puluh tahun kemudian, Daud menjadi raja. Begitu menjadi raja, ia segera ingin memindahkan tabut perjanjian ke Yerusalem. Satu Tawarikh 13:1-3 mengatakan, “Daud berunding dengan pemimpin-pemimpin pasukan seribu dan pasukan seratus dan dengan semua pemuka . . . baiklah kita memindahkan tabut Allah kita ke tempat kita, sebab pada zaman Saul kita tidak mengindahkannya.” Daud ingin memindahkan tabut perjanjian ke Yerusalem, ini benar, ini baik. Tetapi bagaimana caranya? “Mereka menaikkan tabut Allah itu ke dalam kereta yang baru dari rumah Abinadab, sedang Uza dan Ahyo mengantarkan kereta itu. Daud dan seluruh orang Israel menari-nari di hadapan Allah dengan sekuat tenaga diiringi nyanyian kecapi, gambus, rebana, ceracap dan nafiri.” Tidak terduga oleh mereka, ketika mereka bersukaria demikian, terjadilah satu perkara yang menyedihkan, yaitu “ketika mereka sampai ke tempat pengirik Nakhon, maka Uza mengulurkan tangannya memegang tabut itu, karena lembu-lembu itu tergelincir. Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Ia membunuh dia oleh karena Uza telah mengulurkan tangannya kepada tabut itu. Ia mati di sana di hadapan Allah . . . Pada waktu itu Daud menjadi takut kepada Allah, lalu katanya: ‘Bagaimanakah aku dapat membawa tabut Allah itu ke tempatku?’ Sebab itu Daud tidak mau memindahkan tabut itu ke tempatnya, ke kota Daud, tetapi Daud menyimpang dan membawanya ke rumah Obed-Edom, orang Gat itu. Tiga bulan lamanya tabut Allah itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, dan TUHAN memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya” (2 Sam. 6:3-11). Daud tidak mencari penyebab lembu-lembu itu tergelincir, hanya karena Uza terbunuh, ia tidak mau mengangkut tabut perjanjian ke Yerusalem. Obed-Edom menyambut tabut Allah, maka rumah Obed-Edom mendapat berkat Allah. Saudara saudari, begitu kita menerima pemberesan Allah, apakah kita tidak mau penyertaan Tuhan lagi? Atau kita seperti rumah Obed-Edom yang menyambut penyertaan Tuhan?

Di manakah kesalahan Daud? Yaitu ketika ia ingin memindahkan tabut perjanjian ke Yerusalem, ia berunding dengan pemimpin-pemimpin pasukan seribu dan pasukan seratus, tetapi tidak memeriksa hukum Taurat, bagaimana cara memindahkan tabut perjanjian. Menurut Bilangan 4:4-15, tabut perjanjian harus diangkat oleh orang Lewi. Allah tidak pernah memerintahkan mereka supaya memindahkan dengan kereta. Diletakkan di atas kereta dan ditarik dengan lembu adalah meniru cara orang Filistin. Orang Filistin tidak mengerti, Allah tidak menyalahkan orang Filistin. Daud tidak menurut perintah Allah, malah meniru cara orang Filistin, hal itu tidak diperkenan Allah. Semua ini memperlihatkan kepada kita bahwa bergairah untuk Allah dengan cara baru apa saja yang kita cari di luar Alkitab, dengan cara baru apa saja yang di luar kehendak Allah, pasti tidak tahan lama, pasti akan menimbulkan masalah. Pertama-tama bersukaria, menari, sangat ramai, orangnya banyak. Tidak lama kemudian semuanya berhenti. Apa saja yang hanya sesaat bersukacita terhadap Allah, tidak diperkenan Allah. Allah tidak menghendaki manusia menjamah kehidupan pribadi kaum beriman dan segala perkara dalam gereja dengan daging; Allah tidak menghendaki manusia mengubah ketetapan-Nya.

Uza dengan tangan menahan tabut perjanjian dikarenakan gairah melindungi tabut, tetapi itu tidak diperkenan Allah. Allah tidak menghendaki tangan daging Uza menahan tabut perjanjian. Dengan kata lain, Allah tidak menghendaki manusia dengan daging mempertahankan kesalahan. Mungkin Anda mengira bahwa apa yang Anda pikirkan, lebih baik daripada ketetapan Allah, tetapi Allah tidak memperbolehkannya. Anda hanya bisa menurut ketetapan Allah, kalau tidak, Anda pasti di bawah penghakiman Allah. Mungkin ada orang berkata, “Di dalam gereja banyak sekali cara daging menggantikan kehendak Allah. Mengapa tidak kelihatan Allah menghakimi mereka?” Kita di sini dengan takut dan gentar berkata, “Kalau bukan waktunya belum sampai, pastilah tabut perjanjian sudah tidak ada di sana.” Jangan mengira karena Allah bersabar, lalu menganggap Allah boleh diremehkan.

TABUT DI DALAM KEMAH DAUD

Daud tidak tampak sebab musabab Allah memukul Uza, lalu tidak berani membawa tabut perjanjian ke Yerusalem. Tetapi selama 3 bulan tabut perjanjian di rumah Obed-Edom, Allah memberkati rumah Obed-Edom dan seluruh keluarganya. Ada orang memberi tahu hal itu kepada Daud, lalu Daud dengan sukacita menyambut tabut perjanjian Allah dan memindahkannya dari rumah Obed-Edom ke kota Daud (2 Sam. 6:12, 1 Taw. 15:25). Kali ini berbeda dengan yang lalu. Kali ini, ketika mempersiapkannya, Daud berkata, “Janganlah ada yang mengangkat tabut Allah selain dari orang Lewi, sebab merekalah yang dipilih TUHAN untuk mengangkat tabut TUHAN dan untuk menyelenggarakannya sampai selamalamanya” (1 Taw. 15:2). Sekarang Daud telah belajar satu pelajaran. Dulu mengira orang Filistin bagaimana, aku juga boleh bagaimana. Sekarang dia tahu, melayani Allah harus menurut cara Allah; cara manusia tidak bisa dipakai. Sekarang ia memakai orang Lewi untuk mengangkat tabut perjanjian. Hasil pengangkatan kali ini, “Tabut Allah itu dibawa masuk, lalu diletakkan di tengah-tengah kemah yang dipasang Daud untuk itu, kemudian mereka mempersembahkan kurban bakaran dan kurban keselamatan di hadapan Allah. Setelah Daud selesai mempersembahkan kurban bakaran dan kurban keselamatan, diberkatinyalah bangsa itu demi nama TUHAN” (1 Taw. 16:1-2).

SALOMO DENGAN TABUT PERJANJIAN

Kisah tabut perjanjian masih berlanjut, yaitu di 1 Raja-raja 3:4, “Pada suatu hari raja pergi ke Gibeon untuk mempersembahkan kurban, sebab di situlah bukit pengorbanan yang paling besar; seribu kurban bakaran dipersembahkan Salomo di atas mezbah itu.” Pada malam hari setelah mempersembahkan kurban, Allah dalam mimpi menyatakan diri kepada Salomo. Salomo meminta hikmat dari Allah, dan Allah mengabulkannya; bahkan yang tidak ia minta pun diberikan kepadanya. Setelah Salomo bangun dari mimpi, apa yang ia perbuat? “Sekembalinya ke Yerusalem, berdirilah ia di hadapan tabut perjanjian Tuhan, dipersembahkannya kurban-kurban bakaran dan kurban keselamatan, kemudian ia mengadakan perjamuan bagi semua pegawainya” (1 Raj. 3:5-18).

Mari kita lihat 2 Tawarikh 1:3-4, “Lalu pergilah Salomo bersama-sama dengan segenap jemaah itu ke bukit pengorbanan yang di Gibeon, sebab di situlah Kemah Pertemuan Allah yang dibuat Musa, hamba Tuhan itu, di padang gurun. — Tetapi Daud telah mengangkut tabut Allah dari Kiryat-Yearim ke tempat yang disiapkan bagi tabut itu, — sebab ia telah memasang kemah untuk tabut itu di Yerusalem.” Saat itu Kemah Pertemuan berada di Gibeon, tetapi tabut perjanjian tidak ada di sana. Masalahnya di sini, di Gibeon ada Kemah Pertemuan, tetapi tabut perjanjian ada di Yerusalem. Sebab itu, setelah Salomo mendapatkan hikmat, hal pertama yang ia lakukan adalah kembali ke Yerusalem mempersembahkan kurban di depan tabut perjanjian. Ia tidak lagi mempersembahkan kurban di Gibeon. Inilah perubahan besar Salomo.

Secara lahiriah, di Silo ada Kemah Pertemuan, ada mezbah, ada bejana pembasuhan, ada kaki dian, ada meja dan roti sajian, ada mezbah pembakaran ukupan, hanya tidak ada tabut saja. (Kemah Pertemuan di Gibeon adalah kemah yang di Silo, karena di 2 Tawarikh 1:3 dijelaskan, di Gibeon ada Kemah Pertemuan Allah yang dibuat Musa hamba Tuhan itu di padang). Orang mengira ada tabut perjanjian atau tidak, itu bukan masalah yang besar. Siapa tahu, tabut perjanjian mewakili penyertaan Allah, kalau tidak ada penyertaan Allah, meskipun yang lain baik, tidak dapat memuaskan Allah juga tidak bisa memuaskan hati kita.

Sebelum Salomo mendapatkan penyataan diri Tuhan, ia tidak mengetahui juga tidak merasakan pentingnya tabut perjanjian. Tetapi setelah mendapat penyataan Tuhan, dia menyadari penyertaan Tuhan lebih berharga daripada segalanya. Karena itu, dia kembali ke Yerusalem, berdiri di depan tabut perjanjian Allah dan mempersembahkan kurban. Di Gibeon dia hanya mempersembahkan kurban bakaran, sekarang dia mempersembahkan kurban bakaran dan kurban keselamatan, bahkan menyiapkan perjamuan bagi pegawaipegawainya.

O, penyembahan di depan Allah barulah penyembahan yang sejati; persekutuan di depan Allah barulah persekutuan yang sejati; sukacita di depan Allah barulah sukacita yang sejati. Inilah yang dialami oleh Salomo, yang juga seharusnya dialami oleh orang-orang yang mengenal Tuhan. O, tabut perjanjian yang mustika! Orang yang mengenalnya akan mencari dan berdiri di depannya dan menyembah. Sampai Salomo selesai membangun Bait Suci dan menaruh tabut perjanjian di dalamnya, tabut perjanjian kembali menjadi inti Bait Suci (2 Taw. 5:1-9).

IV

Kita telah melihat sekian banyak sejarah tentang tabut perjanjian, dan melalui hal itu kita melihat hubungan Kristus dengan gereja. Kita sudah melihat bahwa tabut perjanjian melambangkan Kristus. Tabut perjanjian menyeberang Sungai Yordan melambangkan kematian dan kebangkitan Tuhan. Setelah Tuhan bangkit dari kematian, kita memberitakan Kristus, memberi tahu orang bahwa tirai telah terbelah, Kristus telah membukakan satu jalan yang baru dan yang hidup menembus sampai ke hadapan Tuhan. Kita juga memberi tahu orang, Dia diremehkan orang, sama seperti kulit lumba-lumba, tetapi Dia diperkenan Allah pun milik Allah, sama seperti kain yang berwarna biru seluruhnya. Kita memberitakan Kristus yang dihina oleh orang, tetapi diangkat tinggi dan mendapatkan kemuliaan di depan Allah.

Pada mulanya gereja benar-benar memberitakan Kristus yang surgawi, tetapi pada zaman rasul-rasul sudah ada perubahan. Pada zaman Paulus, sudah ada orang memberitakan injil lain (Gal. 1:6-7). Petrus memperingatkan harus berhati-hati kepada pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan (2 Ptr. 2:1-3). Yohanes juga memberitakan kita harus hati-hati terhadap penyesat, AntiKristus (2 Yoh. 7). Nyatalah bahwa perkara yang mengacaukan firman Tuhan sudah terjadi pada saat itu. Sampai Konstantinus bangkit, ia mengubah kekristenan menjadi agama negara dan menyuruh penilik di Kota Roma menjadi kepala seluruh umat. Asalnya nama Kristus hanya di dalam gereja, saat itu telah jatuh ke luar gereja. Asalnya tabut perjanjian ada di Silo, sekarang ada di tempat orang Filistin. Sekali tabut perjanjian Allah meninggalkan Silo selamanya tidak kembali ke Silo lagi. Yeremia 26:6 mengatakan, “Maka Aku akan membuat rumah ini seperti Silo, dan kota ini menjadi kutuk bagi segala bangsa di bumi.” Dengan kata lain, meskipun di Silo ada Kemah Pertemuan, tetapi karena tabut perjanjian tidak di sana lagi, maka Allah menolak Kemah di Silo itu.

Oh, anak-anak Allah perlu ada wahyu, perlu wahyu yang diperoleh Salomo! Allah menyatakan diri kepada Salomo, membuka matanya sehingga dia mempunyai perubahan yang besar. Supaya dia mengenal betapa pentingnya tabut perjanjian, dan mengenal kalau tidak ada tabut perjanjian, kemah adalah kosong.

Saudara saudari, apa yang Anda ingini, tabut perjanjian Allah atau Kemah yang tidak ada tabut perjanjian? Anda memilih Kristus atau corak agama yang tidak ada Kristus? Renungkanlah, Anda memandang berat Kristus, Kristus sebagai inti, atau mempertahankan kemah di Silo yang tidak ada tabut perjanjiannya? Orang selalu menganggap kemah di Silo penting dan memegangnya erat-erat, mengira sekali menjadi Bait Suci selama-lamnya Bait Suci. Tetapi tidak demikian. Yeremia 7:4 mengatakan, “Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait TUHAN, bait TUHAN, bait TUHAN!” Allah menegur orang-orang Israel karena apa pun tidak mereka urus, mereka malah bersandar pada perkataan bohong yang mengatakan ini adalah bait Allah; bahkan ini diucapkan sampai tiga kali. Sesungguhnya, bait itu bisa menjadi bait Allah karena Allah menjadi inti bait itu. Kalau Allah sudah meninggalkan bait itu, bait itu hanya bangunan biasa saja.

Saudara saudari, kita harus mengetahui bahwa yang berharga adalah tabut perjanjian, bukan Kemah Pertemuan; karena tabut perjanjian adalah inti Kemah Pertemuan. Persoalan kita ialah, kita mempunyai Kristus sebagai inti atau hanya mempunyai Kemah Pertemuan yang kosong. Saudara saudari, kalau Anda memandang penting Kristus, Anda harus mencari tempat yang menjunjung Kristus sebagai inti. Tempat nama Kristus berada, haruslah menjadi tempat kita berada. Saudara saudari, di tempat Anda berada, apakah Kristus sebagai inti? Kalau ya, kita bersyukur kepada Allah! Kalau tidak, semoga Allah membuka mata Anda, seperti Salomo mendapatkan wahyu sehingga segera kembali ke Yerusalem, menyembah-Nya di depan tabut perjanjian Allah; mengenal gairah yang lalu adalah pelayanan yang sia-sia, kemudian berbalik untuk menikmati sukacita dan damai sejahtera di depan tabut perjanjian, dan mempunyai pelayanan dan penyembahan yang sejati.

Saudara saudari, kiranya Anda mendapatkan wahyu, tampak kemustikaan Tuhan, memandang Dia sebagai inti, mempersembahkan kurban bakaran, hidup bagi-Nya, memuaskan hati-Nya. Amin!

DUA BELAS BAKUL