Kehendak Allah dan Kemauan Manusia
“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”
Yohanes 15:7
Setiap anak Allah perlu mengetahui kehendak Allah, dan seharusnya mengetahui kehendak Allah. Kalau kita tidak mengetahui kehendak Allah, ketidaktahuan itu tidaklah patut. Tuhan Yesus berkata, “Siapa saja yang mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan” (Yoh. 8:12). Ini berarti, setiap orang yang mengikuti Tuhan pasti mempunyai terang, pasti bisa melihat, pasti bisa mengetahui. Sebaliknya kalau seseorang tidak memiliki terang, tidak bisa melihat, tidak bisa mengetahui, pasti karena tidak mengikuti Tuhan. Sebab itu, di hadapan Tuhan kita harus hati-hati, kalau kita tidak tampak, mungkin di aspek kita mengikuti Tuhan sudah ada masalah.
Banyak orang bukannya tidak mau melaksanakan kehendak Allah, tetapi mereka mempunyai satu kesulitan, yaitu mereka benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud dengan kehendak Allah. Bagaimana bisa mengerti kehendak Allah? Di antara anak-anak Allah, pertanyaan itu merupakan satu masalah yang besar. Saudara saudari yang dengan gairah menuntut Tuhan, sangat mengharap dalam segala perkara bisa diperkenan Allah, bisa melakukan kehendak Allah. Dalam tingkah laku selalu bertanya apakah ini atau itu adalah kehendak Allah? Kemauan dan sikap demikian adalah benar dan baik, tetapi ada orang karena berbuat demikian malah mendapat suatu kesulitan. Di satu pihak, mereka mau melaksanakan kehendak Allah, tetapi di pihak lain, mereka tidak mengerti apa kehendak Allah itu. Dikerjakan, merasa tidak benar, tidak dikerjakan, juga merasa tidak benar; seolah kehendak Allah begitu jauh, entah harus melakukan apa. Untuk masalah inilah, di sini kita akan menyinggung sedikit tentang mengenal kehendak Allah.
Memang, kehendak Allah itu objektif, berada di takhta, sebab itu kita perlu mencari baru bisa mengerti. Ada kalanya kita perlu sering berdoa, berpuasa, menunggu di depan Allah baru bisa mengerti kehendak Allah. Untuk mengerti kehendak Allah, kita juga harus melepaskan maksud pribadi, menolak aktivitas daging. Aspek ini sangat penting, tetapi bukan ini yang akan kita bahas di sini. Yang akan kita bahas adalah aspek yang lain, yaitu “kehendak Allah sering kali ternyata di atas kemauan manusia.” Dengan sederhana kita akan membahas bagaimana kemauan manusia bisa cocok dengan kehendak Allah.
PENTINGNYA TEKAD YANG AKTIF
Injil Yohanes 15:7 mengatakan, “Mintalah apa saja yang kamu kehendaki dan kamu akan menerimanya.” Istilah “kehendaki” di atas, dalam bahasa Yunaninya berarti “tekad secara aktif meminta”. Jadi ayat di atas bisa diterjemahkan, “Jika tekad Anda secara aktif meminta apa saja, pasti akan digenapkan.” Mungkin ada orang bertanya, bagaimana kalau yang kita minta bukan kehendak Allah? Seolah-olah perkataan kita lebih berhati-hati daripada perkataan Tuhan Yesus. Kalau kita yang mengucapkan perkataan di atas, kita pasti berkata, “Kalau sesuai dengan kehendak Allah, dan Anda dengan aktif meminta, pasti Anda menerimanya. Tetapi Tuhan Yesus berkata, “Mintalah apa saja yang kamu kehendaki dan kamu akan menerimanya.” Dengan kata lain, Tuhan percaya ada kemauan manusia yang sesuai dengan kehendak Allah. Sebab itu Tuhan berkata, “Mintalah apa saja yang kamu kehendaki dan kamu akan menerimanya.”
Dalam 1 Korintus 10:27, Paulus juga mempunyai maksud yang sama. Dia berkata, “Kalau kamu diundang makan oleh seorang yang tidak percaya, dan undangan itu kamu terima, makanlah apa saja yang dihidangkan kepadamu, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani.” Aneh sekali, di sini Paulus tidak menyinggung kehendak Allah, hanya menyinggung kemauan manusia.
Berdasarkan kedua ayat Alkitab di atas, apakah manusia boleh berbuat sekehendak hatinya? Apakah semua yang dipikir oleh manusia, boleh demikian saja dilaksanakan? Tidak. Perkataan ini tidak ditujukan kepada manusia pada umumnya, melainkan ditujukan kepada orang Kristen yang sudah dilahirkan kembali, yang mempunyai kesadaran Kristus, yang telah menerima penanggulangan salib, yang tinggal di dalam Tuhan dan firman Tuhan juga tinggal di dalamnya.
MEMPUNYAI KESADARAN KRISTUS
Paulus berkata, “‘Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?’ Tetapi kami memiliki pikiran Kristus” (1 Kor. 2:16; kata “pikiran” lebih tepat diterjemahkan “kesadaran”). Kita harus mengetahui bahwa kehendak Allah itu objektif, sedang kesadaran Kristus itu subjektif. Kehendak Allah berada di atas takhta, sedang kesadaran Kristus berada di dalam kita. Kehendak Allah berada di luar kita, sedang kesadaran Kristus berada di dalam kita dan terus-menerus memberi pengertian kepada kita akan kehendak-Nya sendiri. Begitu seseorang dilahirkan kembali, hayat Allah benar-benar tertanam ke dalam orang itu sehingga ia mempunyai kesadaran Kristus. Begitu kita mendapatkan hayat, saat itu juga kita mendapatkan kesadaran Kristus. Sebab itu, di dalam kita ada kemauan yang baru, ada kehendak yang baru.
KITA TINGGAL DI DALAM TUHAN
DAN FIRMAN TUHAN TINGGAL DI DALAM KITA
Tuhan Yesus berkata, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh. 15:7). Ayat ini memperlihatkan kepada kita, karena kita tinggal di dalam Tuhan juga karena firman Tuhan tinggal di dalam kita, maka apa saja yang kita kehendaki, apa saja yang secara aktif kita minta, apa saja yang timbul dari tekad kita, pasti digenapkan-Nya. Yang utama adalah “kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu.” Orang yang demikian, tekadnya dapat diandalkan; baginya kehendak Allah tidak ada masalah.
Orang yang selain mendapatkan hayat juga tinggal di dalam Tuhan dan firman Tuhan tinggal di dalamnya, pasti mengetahui apa yang dikehendaki Allah, pun mengetahui apa yang tidak dikehendaki Allah. Dengan kata lain, orang ini tidak saja telah dilahirkan kembali juga terus-menerus bersekutu dengan Allah, ia hanya mau yang dikehendaki Allah. Di sini kita segera tampak ada salib. Ada sekelompok orang yang telah melalui salib, telah ditanggulangi, mereka tinggal di dalam Tuhan dan firman Tuhan tinggal di dalam mereka. Firman Tuhan di atas diri mereka hidup. Terhadap orang-orang demikian Tuhan berkata, “Mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Sebab itu, masalahnya bukan pada kehendak Allah tetapi bagaimana sebenarnya diri kita.
Boleh dikatakan, ada orang Kristen yang telah mencapai tahap yang bisa dipercayai Allah. Karena mereka tinggal di dalam Tuhan dan firman Tuhan tinggal di dalam mereka, Tuhan bisa mempercayai tekad mereka, Tuhan bisa mempercayai opini yang keluar dari pikiran mereka sesuai dengan kehendak Allah. Sebab itu Tuhan berkata, “Apa saja yang kamu kehendaki, kamu akan menerimanya.”
PENGALAMAN KAUM SALEH
Mungkin ada orang berkata, “Apakah kehendak Allah begitu sederhana?” Saudara saudari, kita tidak berkata bahwa kita dapat mengerti kehendak Allah tanpa mencari dan menuntut, tetapi kita berkata, “Kehendak Allah juga ada di dalam kita, kehendak Allah mengikuti hayat Allah tinggal di dalam kita.” Perkataan ini tidak ditujukan kepada manusia pada umumnya, melainkan ditujukan kepada orang yang telah dilahirkan kembali, telah mempunyai kesadaran Kristus, bersamaan dengan itu, ia benar-benar mengenal apa yang disebut tinggal di dalam Tuhan dan firman Tuhan tinggal di dalamnya. Atas kehendak orang-orang inilah kehendak Allah ternyata. Kalaupun mereka menghendaki sesuatu, kemauan itu juga kemauan Allah. Kalau yang dikehendaki mereka tidak dikehendaki Allah, maka di dalam mereka terasa kempis, tidak ada respons; ingin berdoa tetapi tidak bisa. Dia sendiri tidak menghendaki itu lagi, apakah Allah menghendakinya? Kalau pada suatu hari, atas diri kita tidak ada ego sendiri lagi, saat itulah maksud kita bisa sesuai dengan maksud Allah; ketika kita mau berarti Allah mau, ketika kita tidak mau berarti Allah juga tidak mau.
Roma 14:23 mengatakan, “Segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.” Inilah prinsip hidup orang Kristen. Iman yang disebut di sini berbeda dengan iman yang disebut dalam ayat-ayat Alkitab lainnya. Iman yang disebut di tempat lain ditujukan kepada percaya kepada Allah. Iman di sini ditujukan kepada Anda percaya diri sendiri salah atau tidak salah. “Segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.” Artinya, kalau Anda sendiri menyalahkan diri Anda, Allah lebih besar daripada hati Anda, bisakah Allah membenarkan Anda? Kalau hati Anda saja menyalahkan, pada diri Anda pasti ada dosa. Kalau yang kita kerjakan benar, Allah pasti memberi kita iman agar kita yakin apa yang kita kerjakan itu benar. Kalau yang kita kerjakan tidak benar, kita tidak mempunyai iman itu. Kalaupun tetap dikerjakan, Anda takkan bisa berani berkata apa-apa, batin Anda pasti terasa kosong, merasa bersalah. Karena hati Anda telah menyalahkan diri sendiri, dan Allah lebih besar daripada hati Anda, Allah pasti akan menyalahkan Anda juga.
Perkataan Paulus tentang menerima undangan makan, tidak ditujukan kepada orang Kristen yang sembarangan. Kalau seorang belum dilahirkan kembali, itu tidak perlu kita bicarakan. Kalau sudah dilahirkan kembali, tetapi dia tidak pernah mau melaksanakan kehendak Allah, tidak berminat hidup bagi Allah, ia juga tidak akan mengerti perkataan yang demikian. Anda harus tinggal di dalam Tuhan dan firman Tuhan tinggal di dalam Anda, barulah Anda boleh pergi, kalau Anda mau. Kalau tidak seharusnya pergi, di dalam Anda juga tidak ada keinginan untuk pergi. Jika Anda memaksa pergi, maka ada suatu benda lain di dalam Anda membuat Anda lemas; ada suatu benda lain di dalam Anda memberi pengarahan, ada suatu benda lain berkata di dalam Anda, bahwa Anda tidak bisa pergi. Begitu hukum hayat mengatur Anda, maksud Anda mewakili maksud Allah, kemauan Anda mewakili kemauan Allah. Banyak perkara berdasarkan diri kita sendiri ingin melakukan juga ada kesempatan untuk melakukan. Tetapi ajaib sekali, ketika kita berdasarkan kemauan kita ingin melakukan, di dalam kita menolak. Kalau kita tetap melaksanakan, di dalam kita terasa sebal, makin melaksanakan makin tidak enak, makin melaksanakan makin tidak ada kekuatan, akhirnya kita menyerah, tidak melakukannya lagi. Semua ini dikarenakan di dalam Anda ada satu benda yang lebih kuat daripada kemauan Anda.
Allah sering memakai “mau” dan “tidak mau” di dalam kita untuk memimpin kita. Misalnya, ada orang mengundang Anda pergi ke suatu tempat, Anda juga senang pergi ke tempat itu. Tetapi heran, meskipun Anda mau pergi namun tidak timbul keinginan itu, di dalam Anda dingin. Di luar mau pergi namun di dalam dingin. Anda tidak bisa pergi. Kalau Anda tetap pergi, berjalan selangkah, di dalam resah selangkah; berjalan lagi selangkah, di dalam menggerutu selangkah; semakin Anda melangkah semakin tidak tenang, yang di dalam tidak membiarkan Anda pergi. Inilah kehendak Allah yang dinyatakan dengan kemauan di dalam kita. Tetapi perkataan ini bukan ditujukan kepada semua orang secara umum, melainkan ditujukan kepada sekelompok orang yang mempunyai hayat Allah, yang tinggal di dalam Tuhan dan firman Tuhan tinggal di dalamnya.
Mari kita melihat kisah Paulus mengusir setan di Filipi. Ada seorang perempuan dirasuk setan, beberapa hari lamanya berteriak-teriak di belakang Paulus, “Orang-orang ini hamba Allah Yang Mahatinggi.” Beberapa hari lamanya, Paulus juga tidak bergerak. Apakah Paulus tidak dapat mengusir setan? Seharusnya begitu bertemu dengan setan, ia langsung mengusirnya. Ternyata tidak demikian, mulut Paulus tidak bisa bergerak, karena di dalam Paulus tidak bergerak. Di dalam Paulus tidak bergerak, itu berarti Allah di dalamnya belum bergerak. Sampai pada suatu hari, Paulus tidak tahan lagi, ia berkata kepada roh itu, “Dalam nama Yesus Kristus aku menyuruh engkau keluar dari perempuan ini.” Saat itu juga setan keluar (Kis. 16:16-18). Ketidaktahanan Paulus adalah juga ketidaktahanan Allah di dalamnya. Di dalamnya bergerak, baru di luar berkata. Begitu dia berkata, setan segera keluar. Firman Allah tinggal di dalamnya, sebab itu apa yang dia katakan adalah yang dikehendaki Allah.
Banyak pengalaman kaum beriman juga membuktikan ini. Ada kalanya ada orang menyinggung sesuatu pada Anda, “Anda harus pergi melihat orang itu,” tetapi di dalam Anda terus tidak bergerak. Kalau Anda pergi sangatlah terpaksa. Sampai pada suatu hari di dalam Anda bergerak, di dalam Anda ada firman, Anda lalu menemui orang itu. Hasilnya, Anda mempunyai satu persekutuan yang baik dengannya. Sebab itu haruslah di dalam kita bergerak dulu baru di luar melakukan. Di dalam tidak bergerak, di luar tidak melakukan.
Ketika Paulus di Atena menunggu Silas dan Timotius, dia melihat kota itu penuh dengan berhala, hati Paulus sangat sedih, (Kis. 16, “sedih” di sini boleh diterjemahkan “gelisah”). Mungkin ada orang berkata, gelisah itu tidak baik, tetapi kegelisahan Paulus ini baik. Kegelisahan ini menggiring dia berkhotbah di Areopagus, dan pemberitaan kali itu menjadi satu perkataan yang penting di dalam Alkitab. Kali itu di Atena, Paulus memiliki satu kesaksian yang baik yang timbul dari hatinya, karena hatinya merasa gelisah maka keluarlah pemberitaan itu.
Misalnya lagi, “Paulus telah memutuskan untuk tidak singgah di Efesus,” (Kis. 20:16), Alkitab tidak mengatakan bahwa keputusan itu diambil oleh Allah, melainkan Paulus yang memutuskan. Ada orang Kristen berkata, “Kehendak Allah memimpin aku sampai di sini.” “Kehendak Allah menyuruh aku demikian.” Orang-orang demikian itu kelihatannya lebih rohani daripada Paulus. Tetapi di sini kita tampak Paulus tidak memakai istilah-istilah rohani itu. Keputusannya dengan sendirinya sesuai dengan maksud Allah, karena dia adalah orang yang mengenal salib, dia adalah seorang yang takut akan Allah.
PENCEGAHAN ROH KUDUS
Mungkin ada orang berkata, orang seperti Paulus yang menurut maksudnya sendiri menentukan sesuatu, apakah sama sekali tidak pernah salah? Kita akan menjawab, “Tidak demikian sederhana.” Dalam Kisah Para Rasul, setelah Paulus berangkat dari Antiokhia memberitakan Injil, Alkitab tidak dengan jelas mencatat pimpinan Roh Kudus, tetapi dengan jelas mencatat pencegahan Roh Kudus. Selain penglihatan pada malam itu (Kis. 16:9), kita sukar sekali menemukan Roh Kudus di aspek positif memimpin Paulus, tetapi sebaliknya kita menemukan Roh Kudus di aspek negatif mencegah.
Jika kita tinggal di dalam Tuhan dan firman Tuhan tinggal di dalam kita, kalaupun kita memutuskan sesuatu, keputusan itu adalah kehendak Allah. Tetapi kita masih mungkin salah. Kalau kita salah, Roh Kudus pasti mencegah kita, tidak membiarkan kita. Inilah pengalaman Paulus yang bisa kita lihat.
Sebab itu saudara saudari, kita tidak perlu menjadi orang yang pasif. Banyak orang Kristen ingin melakukan kehendak Allah, tetapi menghadapi satu kesulitan yaitu mereka menjadi pasif. Sebenarnya kehendak Allah bukan menyuruh orang pasif. Pasif karena orang salah paham akan kehendak Allah. Kalau kita benar-benar pernah ditanggulangi oleh salib, kita benar-benar tinggal di dalam Tuhan dan firman Tuhan tinggal di dalam kita, maka kehendak Allah pasti ternyata di dalam diri kita. Kita boleh mengikuti maksud yang di dalam kita melakukan segala sesuatu. Kalau kita salah, Roh Kudus pasti mencegah kita, menyuruh kita tidak meneruskannya, membuat kita tidak bisa melakukannya.
Semoga Tuhan menyelamatkan kita dari kesalahpahaman dan kebodohan, menyelamatkan kita dari kepasifan. Semoga Tuhan membawa kita masuk ke dalam keaktifan, dan kita benar-benar menjadi orang yang berjalan mengikut Tuhan.