Melayani Allah dalam Roh
“Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa mencari orang-orang yang menyembah Dia secara demikian. Allah itu Roh dan siapa saja yang menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”
Yohanes 4:23-24
“Karena Allah, yang kulayani dengan segenap hatiku dalam pemberitaan Injil Anak-Nya, adalah saksiku, bahwa dalam doaku aku selalu mengingat kamu.”
Roma 1:9
“Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah.”
Roma 8:16
HARUS MEMPUNYAI PERASAAN DI DALAM ROH
Di antara anak-anak Allah, banyak yang benar-benar mau melayani Allah. Namun sayang, kebanyakan dari mereka belum mengetahui jalan melaksanakannya. Dipandang dari sudut ajaran maupun perbuatan, kesalahan ini tidaklah besar, tetapi jika dipandang dari jalan melayani Allah, mereka telah salah jalan. Mengapa demikian? Di mana persoalannya? Persoalannya ialah dari mana sumber pelayanan Anda itu, dari pikiran atau dari perasaan batin Anda? Semua pelayanan anak-anak Allah kepada Allah seharusnya timbul dari perasaan batin. (Perasaan batin bukan ditujukan kepada perasaan jiwa, melainkan perasaan roh). Jadi, baik berdoa, membaca Alkitab, berkhotbah, maupun penuntutan rohani lainnya, semuanya harus timbul dari perasaan batin. Dalam hal mengenal orang, juga harus berdasarkan perasaan batin. Jika kehidupan dan pekerjaan Anda timbul dari pikiran, maka jalan kerohanian Anda pasti menemui jalan buntu. Memang, Anda bisa menggunakan pikiran Anda sewaktu mengerjakan urusan biasa; tetapi dalam urusan rohani Anda harus memakai roh. Kita harus tahu, terhadap masalah rohani, sumber utamanya harus dari perasaan dalam roh, kemudian barulah menggunakan pikiran.
SUMBERNYA HARUS BENAR
Jangan melayani Allah berdasarkan pikiran kita, tetapi harus berdasarkan perasaan di dalam kita. Tidak saja perkaranya harus benar, sumbernya juga harus benar. Berdoa, membaca Alkitab, dan berkhotbah, memang adalah perkara-perkara yang benar, tetapi jika dilakukan di dalam pikiran Anda sendiri, itu berarti Anda melakukan perkara yang benar dengan sumber yang salah, jalan Anda salah. Saudara saudari, berdoa harus berdasarkan perasaan batin; membaca Alkitab harus berdasarkan perasaan batin; berkhotbah harus berdasarkan perasaan batin; memberitakan Injil pun harus berdasarkan perasaan batin. Perkara yang paling berharga di atas diri anak-anak Allah ialah mereka memiliki kehidupan dan pekerjaan yang didasarkan pada perasaan batin mereka. Boleh jadi Anda masih mempunyai banyak kekurangan, namun jika sumbernya benar, jalannya benar, akhirnya masih dapat diperbaiki dan mudah dipimpin untuk mencapai taraf diperkenan Allah. Jadi, dalam melayani Tuhan, hal pertama yang harus kita perhatikan bukan urusannya, melainkan sumbernya; bukan melakukan apa, tetapi melakukan berdasarkan apa. Segala hal dalam pelayanan harus timbul dari dalam roh.
PIKIRAN DAN PERASAAN ROH
Saat membaca buku-buku umum, kita boleh sepenuhnya menggunakan pikiran otak kita. Tetapi kalau kita ingin menjamah Allah, ingin berhubungan dengan Allah, kita tidak dapat menggunakan pikiran; itu berarti kita salah menggunakan alat. Untuk berhubungan dengan Allah, kita wajib menggunakan roh kita.
Misalnya, di sini ada aliran listrik. Kalau Anda ingin mengontak listrik itu dengan sebatang kayu, itu tidaklah mungkin. Tetapi jika Anda dengan seutas kawat kuningan menyentuhnya, segera aliran listrik itu berkontak dengan Anda. Jika doa Anda, pembacaan Alkitab Anda, pemberitaan Injil Anda, khotbah Anda, sama seperti memindahkan arus listrik dengan sebatang kayu, tentu tidak berguna sama sekali, karena Anda menggunakan alat yang salah. Dalam hal rohani, kita wajib menengadah kepada Allah, wajib memeriksa perasaan apa yang Allah nyatakan di dalam roh kita; ini harus diperhatikan sebaik-baiknya. Ketika kita menemukan suatu persoalan, kalau yang segera bekerja adalah otak kita, maka semua keputusan yang diambil tak lain berasal dari pikiran kita sendiri, di hadapan Allah sama sekali tidak ada nilai rohaninya.
Saudara saudari, di sini ada dua jalan. Jalan pertama ialah pikiran, dan jalan kedua ialah perasaan batin. Yang keluar dari pikiran, tidak dapat membuat kita bersentuhan dengan Allah; yang keluar dari perasaan batin dapat membuat orang bersentuhan dengan Allah.
Misalnya, kita ingin berbicara di dalam sidang gereja. Saat itu kita harus memperhatikan satu perkara, yaitu menolak pikiran kita dan tidak menggunakannya sebagai titik permulaan. Sebelum kita berbicara, wajib terlebih dulu mohon Allah dengan darah Anak-Nya mencuci segala kenajisan kita, juga mohon Ia mengurapi kita dengan Roh-Nya, sehingga perkataan apa yang terasa dari batin, itulah yang kita ucapkan. Sekalipun perkataannya mungkin tidak lancar, seolah-olah berantakan, tetapi dapat mendatangkan faedah bagi semua pendengar. Sebaliknya, jika perkataan kita berasal dari pikiran, meskipun susunan kalimatnya baik, diucapkan sepatah demi sepatah dengan baik dan teratur, tetap tidak dapat mendatangkan faedah bagi orang lain.
Setiap perkara rohani harus dilakukan berdasarkan perasaan batin, tidak dapat dengan pikiran kita sendiri. Tatkala Anda sedang berlutut berdoa kepada Allah, Anda merasa dalam batin ada perkataan, lalu Anda berdoa dengan perkataan itu, makin berdoa, makin terasa bahwa Anda menjamah Allah. Tetapi ketika Anda sedang berdoa, tiba-tiba otak Anda berputar, segeralah Anda tidak dapat meneruskan doa Anda, sebab Anda sudah tidak mempunyai perkataan lagi. Saat Anda berdoa dengan roh dan kebenaran, itu seperti menyentuh arus listrik dengan kawat tembaga, segera arus itu mengalir ke dalam Anda. Sebaliknya, saat Anda berdoa dengan pikiran, itu seperti menyentuh arus listrik dengan sebatang kayu, sedikit pun tidak ada aliran. Orang yang rohani pasti menjamah perkara rohani dengan roh; dengan roh menjamah Allah. Orang yang telah jatuh di hadapan Allah, kehidupan dan perbuatannya hanya menurut pikirannya sendiri, bagaimana otaknya berpikir bagaimana pula ia berbuat.
Karena itu, bila ada suatu perkara terjadi di depan Anda, Anda harus memeriksa diri sendiri, di mana Anda berada? Anda berada di dalam pikiran atau di dalam perasaan roh? Kalau Anda berpikir: dengan berbuat begini, itu pasti menguntungkan Anda, dan Anda mau melakukannya; atau dengan berbuat begitu, itu pasti merugikan Anda, dan Anda tidak mau melakukannya. Dalam pandangan manusia, Anda terlihat cukup pandai, tetapi menurut kami, “Entah Anda melakukan atau tidak, yang harus Anda perhatikan ialah, apakah sumbernya benar?” Jika pikiran Anda terus berputar seperti kipas angin dan berlari-lari seperti kuda liar, keadaan Anda sudah tidak benar. Anda harus terlebih dulu mohon Allah mengekang pikiran Anda, kemudian berpalinglah ke dalam roh Anda untuk mengamati bagaimana perasaan roh. Jika roh Anda merasakan itu benar, meskipun mungkin kurang masuk akal, itu bukan masalah; sebaliknya, jika roh Anda merasa itu tidak benar, sekalipun masuk akal, itu tetap salah.
Misalkan, ada dua orang saudara berselisih. Mereka lalu datang kepada seorang saudara untuk memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah. Jika saudara itu seorang yang hidup di dalam pikiran, maka yang ia perhatikan adalah alasan mereka, mana yang benar dan mana yang salah. Ia pun mudah memasukkan emosi, kasih atau benci. Dan setelah mendengar penuturan kedua orang tadi, ia akan segera memutuskan ini salah dan itu benar. Inilah keputusan berdasarkan alasan-alasan. Orang Kristen yang hidup di dalam pikiran, selalu hidup di dalam alasan. Padahal alasannya belum tentu tepat. Mereka berselisih karena alasan-alasan, mereka memberi putusan juga karena alasan-alasan. Jika demikian, akhirnya hanya membuat orang yang beralasan makin beralasan, dan membuat orang yang tidak mau tunduk makin tidak mau tunduk.
Dua saudara berselisih karena alasan-alasan. Jika saudara yang ketiga mohon kepada Allah agar ia bisa dari pikiran berpaling ke dalam roh dan hanya memutuskan di dalam roh, ia pasti dapat membantu mereka, dan mengeluarkan mereka dari alasan-alasan. Kita harus tahu bahwa alasan didatangkan oleh pikiran, dan alasan paling bisa menggerakkan emosi dan hawa nafsu orang. Begitu Anda menggunakan pikiran, Anda segera menggunakan emosi; begitu emosi keluar, hawa nafsu pun ikut keluar. Kalau demikian, bukan saja Anda tidak dapat membantu mereka, malah merusak dan menjatuhkan mereka. Kita harus belajar dengan sebaikbaiknya dalam hal ini. Bagaimanapun, kita perlu mohon belas kasih Allah, supaya kita diselamatkan ke dalam roh, sehingga di dalam roh kita dapat merasakan apa yang seharusnya kita katakan atau lakukan, dan kita dapat membantu orang lain menyelesaikan kesulitan mereka.
PENANGGULANGAN SALIB DAN PEMBASUHAN DARAH
Terakhir, kami ingin mengetengahkan dua hal yang penting.
Pertama adalah penanggulangan salib. Siapa saja yang mau belajar hidup di hadapan Allah, wajib belajar mengenal penanggulangan salib. Salib akan menanggulangi hayat alamiah kita, yaitu pikiran dan emosi alamiah kita. Jika pikiran dan emosi alamiah kita tidak ditanggulangi, sukar sekali kita hidup di dalam roh. Ingatlah, jika Anda menghadapi suatu perkara dengan pikiran atau emosi Anda, mungkin perkataan Anda yang pertama ialah, “Apa alasannya?” Anda adalah seorang yang selalu menuntut aturan atau alasan. Orang yang selalu menuntut alasan adalah orang yang hidup dalam pikiran; orang yang selalu menuntut alasan adalah orang yang hidup di dalam gerakan emosi. Tetapi orang yang hidup dalam roh, tidak berani dengan pendapat sendiri menuntut alasan-alasan dan tidak berani dengan emosinya sendiri mengeluarkan perkataan. Orang yang dipimpin oleh roh adalah orang yang memiliki pelajaran salib.
Kedua adalah pembasuhan darah adi. Siapa saja yang mau belajar hidup di dalam roh, wajib selalu mengharapkan pembasuhan darah adi. Berapa banyak Anda dibasuh oleh darah adi, sebanyak itu pula Anda menjadi terang. Bila Anda masih memiliki setumpuk kenajisan yang belum dibasuh oleh darah adi, Anda pasti hidup dalam kegelapan, tidak ada terang. Sebab itu, Anda wajib membiarkan darah adi membasuh Anda, sehingga Anda menjadi terang.
Kedua perkara di atas adalah perkara-perkara yang harus dipelajari oleh semua orang yang mau melayani Allah. Banyak orang Kristen tidak hidup dalam roh, itu disebabkan pikiran dan emosi mereka masih belum ditanggulangi, dan kenajisan mereka masih belum dibasuh oleh darah adi. Akibatnya, mereka menjadi orang Kristen yang sembarangan. Mereka tidak mau membiarkan Allah memalingkan mereka ke dalam roh. Sebab itu, kita harus memperhatikan penanggulangan salib dan pembasuhan darah adi. Setelah itu, baru kita bisa tampak berapa banyak waktu kita hidup dalam pikiran dan tidak kembali ke dalam roh.
Mungkin ada orang berkata, “Aku tidak mempunyai perasaan batin.” Terhadap orang yang berkata demikian, kami berani mengatakan bahwa ia masih belum dilahirkan kembali. Kalau seseorang sudah dilahirkan kembali, Roh Allah pasti telah menghidupkan kembali rohnya, sehingga di dalamnya pasti ada perasaan. Atau mungkin juga ia telah dilahirkan kembali, tetapi di dalam dirinya ada penyakit. Orang yang sakit bisa kehilangan perasaannya. Orang yang sakit perlu menerima penanggulangan salib dan pembasuhan darah adi.
O, orang yang hidup di dalam roh adalah orang yang diperkenan oleh Allah. Semoga Allah mengaruniai kita, memimpin kita, agar kita menjadi orang yang hidup dalam roh dan menjadi orang yang dapat melayani Allah di dalam roh.