FUNGSI BAGIAN-BAGIAN DALAM DAN BAGIAN YANG TERSEMBUNYI
Kita harus melanjutkan melihat bagian-bagian dalam dan bagian yang tersembunyi dari diri kita. Ingatlah kedua istilah ini : bagian-bagian dalam dan bagian yang tersembunyi. Bagian-bagian dalam dari diri kita ialah bagian-bagian jiwa, dan bagian yang tersembunyi ialah roh kita. Dalam jiwa dan roh kita masing-masing terdapat tiga bagian, sedangkan hati tersusun dari tiga bagian dari jiwa yang digabungkan dengan bagian pertama dari roh. Kita harus menggunakan sedikit waktu untuk membahas perincian bagian-bagian tersebut. Pertama-tama kita harus melihat, apa itu fungsi hati dan bagaimana menanggulanginya. Kemudian kita harus melihat roh, dan terakhir, jiwa. Marilah kita menengadah kepada Tuhan, agar kita diberi anugerah untuk memahami seluruh bagian itu dengan jelas, supaya kita boleh mempunyai kesan yang mendalam untuk memahami semua bagian dari manusia kita, serta agar kita tahu, bagaimana kita melatih (menggunakan) roh dan hati kita demi mengalami Tuhan. Dalam bab ini kita harus melihat fungsi hati, roh, dan jiwa.
Menurut catatan Alkitab, hati harus ditanggulangi lebih dulu, bukan roh atau jiwa. Ini disebabkan hati merupakan satu komposisi dari semua bagian jiwa dan bagian terpenting dari roh, yakni hati nurani. Hubungan kita dengan Tuhan harus bertolak dari hati nurani. Jika hati nurani kita salah, dapat dipastikan bahwa kita telah salah, baik terhadap, Allah maupun terhadap orang lain. Sebab itu, kalau hati nurani itu merupakan bagian utama dari hati, maka hati seharusnya ditanggulangi dulu, demi menjamin suatu hubungan yang wajar dengan Allah.
HATI SEBAGAI ORGAN MENGASIHI
Dalam 2 Korintus 3:16 dikatakan, "Tetapi apabila hati seseorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari orang itu." Hati harus terlebih dulu berbalik kepada Tuhan. Inilah pertobatan yang sejati. Ketika kita jatuh, hati kita meninggalkan Tuhan. Tetapi sewaktu kita bertobat, hati kita berbalik kepada Tuhan. Masalah berbaliknya hati kepada Tuhan ini tidak berlaku sekali untuk selamanya. Hati kita harus dipalingkan kepada Tuhan sepanjang waktu, dari hari ke hari. Setiap pagi kita wajib memalingkan hati kita sekali lagi kepada Tuhan. Setelah bangun, kita harus datang kepada Tuhan dan berkata kepada-Nya, "Tuhan, aku di sini. Oleh rahmat dan anugerah-Mu, aku ingin memalingkan hatiku kembali kepada-Mu untuk hari ini."
Bila hati kita telah berpaling kepada Tuhan, maka selubung itu akan lenyap. Banyak orang berkata, "Oh, mengapa aku tidak ada petunjuk? Mengapa aku tidak mengetahui kehendak Tuhan?" Problemnya di sini : di manakah hati mereka dan ke manakah hati mereka terarah? Hati mereka harus selalu diarahkan kepada Tuhan. Sewaktu saya masih muda, saya sering berdoa dengan 2 Korintus 3:16, hampir setiap hari : "Tuhan, palingkan hatiku kepada-Mu." Oh, sungguh berkhasiat! Cobalah cara ini! Sebelum Anda membaca firman Tuhan pada pagi hari, palingkanlah dulu hati Anda kepada Tuhan, selubung itu akan lenyap dan Anda akan mendapatkan terang. Selubung yang ada di antara Anda dengan Tuhan akan tersingkir oleh berpalingnya hati Anda kepada Tuhan, dan Anda akan melihat terang.
Begitu hati kita berpaling kepada Tuhan, kita harus menggunakan iman. Roma 10:9-10 menerangkan, "Percaya dalam hatimu" dan "dengan hati orang percaya." Percaya bukan menggunakan roh, pikiran, atau tekad melainkan menggunakan hati, "Sebab dengan hati orang percaya." Kita perlu belajar menggunakan hati kita untuk percaya, agar kita dapat bekerja sama dengan Roh yang berhuni dalam batin itu. Setelah hati kita berpaling kepada Tuhan, kita harus segera menggunakan iman dalam hati kita. Apa pun yang Tuhan katakan dalam firman-Nya, kita harus menggunakan hati kita untuk percaya. Apa pun yang kita rasakan dalam lubuk batin kita, harus kita percayai melalui menggunakan hati pula. Kita harus percaya kepada Tuhan di tengah-tengah lingkungan kita. Dalam segala situasi kita, kita harus selalu menggunakan hati kita untuk percaya kepada Tuhan.
Menggunakan iman dalam Tuhan akan melindungi hati kita dari keragu-raguan. Kita bahkan harus berdoa, agar Tuhan melindungi hati kita dari keragu-raguan.
Selanjutnya, hati kita harus dibersihkan dari hati nurani yang jahat (Ibr. 10:22). Hati itu sendiri tidak perlu dibersihkan, yang perlu dibersihkan adalah hati nurani yang jahat. Hati nurani kita perlu selalu dibersihkan dengan pereikan darah penebusan Tuhan Yesus. Semakin kita memalingkan hati kita kepada Tuhan dan semakin kita percaya kepada Tuhan dengan melatih hati kita, kita akan semakin merasa dalam hati nurani kita bahwa kita bersalah dalam banyak hal. Bila hati kita tidak berpaling kepada Tuhan, kita tidak akan merasa bahwa hati nurani kita bersalah. Ketika hati kita dialihkan dari Tuhan, kita hanya memiliki satu perasaan, yakni kita benar dalam setiap perkara; setiap orang lain salah. Bila kita mengalihkan hati kita kepada Tuhan, kita hanya akan melihat diri kita sendiri, tidak dapat melihat orang lain. Semakin kita percaya kepada-Nya, kita akan semakin merasa betapa bersalahnya kita dalam banyak perkara. Kita bersalah terhadap istri, suami, anak-anak, orang tua atau teman sekolah kita. Tuduhan-tuduhan apakah ini? Itulah tuduhan-tuduhan dari hati nurani kita. Pada waktu ini, kita akan dengan spontan mengakui semuanya menurut tuduhan hati nurani kita. Semakin kita mengaku, darah Tuhan Yesus akan semakin berkhasiat bagi hati nurani kita. Hati nurani kita akan disucikan, dibersihkan, dan tanpa salah - satu hati nurani yang murni. Jadi, hati kita dibersihkan dari hati nurani yang jahat berarti hati nurani kita disucikan sedemikian rupa, sehingga tidak ada hukuman lagi dalam hati kita. Hati kita damai dan penuh sukacita di dalam Tuhan.
Lagi pula, menurut Yehezkiel 36:26, hati kita harus diperbarui. Dalam Yehezkiel 36:25 Tuhan berkata, "Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhalamu Aku akan membersihkan kamu" (Tl.). Membersihkan kita dari segala kenajisan, dari segala dosa, bahkan dari berhala-berhala, itu hanya pada segi negatifnya. Kita perlu sesuatu yang positif Karena itu, dalam ayat berikutnya dikatakan, "Kamu akan Kuberikan hati yang baru. "
Jadi dalam menanggulangi hati ada empat langkah. Keempat langkah tersebut tidak terjadi sekali untuk selamanya ketika kita percaya Tuhan Yesus dan menerimaNya sebagai Juruselamat. Sebagai pencari Tuhan, kita harus menyegarkan hati kita melalui keempat langkah ini setiap hari. Kita harus memalingkan hati kita kepada Tuhan, melatih hati kita untuk percaya kepada-Nya, menahirkan hati kita dari hati nurani yang jahat, dan memperbaruinya terus-menerus. Pembaruan hati bukanlah hal yang sekah untuk selamanya. Saya yakin jika hari ini Rasul Paulus masih hidup, ia pun tetap harus memperbarui hatinya. Kita harus segera mempraktekkan semua langkah ini. Ketika kita bangun pagi-pagi, kita harus berdoa, "Tuhan, palingkan hatiku kepada-Mu." Kemudian kita perlu menggunakan hati kita untuk percaya kepada Tuhan, "Tuhan, aku percaya kepada-Mu dan firman-Mu. Aku percaya penanggulangan-Mu di batin maupun di lingkunganku." Pada butir ini kita akan merasa betapa bersalahnya kita, betapa banyaknya kekhilafan yang kita buat, dan betapa banyaknya kenajisan kita. Karena itu, kita harus mengaku, agar kita dibersihkan dari hati nurani yang jahat. Setelah itu hati kita akan diperbarui sekali lagi.
Keempat langkah inilah yang akan membuat hati kita berfungsi dengan baik. Fungsi hati ialah mengasihi Tuhan, sebab hati ialah organ mengasihi dari manusia kita. Ini dibuktikan oleh Markus 12:30, "Kasihilah Tuhan dengan segenap hatimu." Hati diciptakan untuk mengasihi Tuhan. Jika kita tidak memiliki hati, kits, tidak dapat mengasihi. Dapatkah kita mehhat tanpa mata? Dapatkah kita mendengar tanpa telinga? Dapatkah kita berpikir tanpa pikiran? Tidak. Tanpa hati, kita pun tidak dapat mengasihi. Banyak orang Kristen tidak mengetahui, apakah fungsi hati ini. Mereka mengetahui fungsi mata, telinga, dan pikiran, tetapi mereka justru tidak mengetahui fungsi hati.
Kasih merupakan masalah hati. Orang tidak dapat kita kasihi dengan hidung atau tangan kita. Hatilah satu-satunya organ untuk melaksanakan kasih. Tak seorang pun dapat mengatakan bahwa ia tidak pernah mengasihi sesuatu apa pun. Setiap orang pasti ada sasaran kasihnya, entah itu Tuhan sendiri atau barang-barang lainnya. Semakin kita mengahhkan hati kita kepada Tuhan, kita akan semakin melatih hati kita untuk percaya kepada Tuhan, dan hati kita akan semakin dibersihkan dari hati nurani yang jahat, dan diperbarui. Setelah itu, hati kita akan memiliki satu kapasitas yang lebih besar untuk mengasihi Tuhan. Inilah fungsi dari satu hati yang telah diperbarui. Setiap pagi kita wajib memperbarui hati kita, agar kita dapat semakin mengasihi Tuhan.
Semua pengalaman rohani bertolak dari kasih dalam hati ini. Kalau kita tidak mengasihi Tuhan, tidak mungkin kita menerima pengalaman rohani yang mana pun. Dalam kenyataannya, pengalaman pertama dari kehidupan Kristen kita, keselamatan, meneakup hati yang merigasihi Tuhan Yesus ini. Tidak ada seorang pun yang benar-benar bertobat tanpa kasih terhadap Tuhan di dalam hatinya. Mungkin mereka tidak memiliki kata-kata untuk mengungkapkannya, namun dalam batin mereka memiliki perasaan kasih yang manis. Mereka tidak memiliki pengetahuan itu, tetapi pengalaman rohani yang pertama dari keselamatan mereka merupakan reaksi atau refleksi kasih terhadap, Tuhan dalam hati mereka.
Kita semua harus belajar terus-menerus memalingkan dan melatih hati kita, membersihkan hati kita dari hati nurani yang jahat dan memperbaruinya agar kita dapat semakin mengasihi Tuhan. Karena kehilangan kasih pertamanya, yakni kasihnya yang segar kepada Tuhan, maka gereja jatuh dan merosot. Bila hati kita tidak segar dalam mengasihi Tuhan, kita sudah jatuh. Kita harus sering memalingkan hati kita kembali kepada Tuhan dan memperbaruinya terus-menerus, agar kita memiliki kasih yang baru dan segar terhadap Tuhan.
ROH SEBAGAI ORGAN PENERIMA
Sekarang, setelah nampak fungsi hati, kita perlu membahas fungsi roh. Pertama-tama, Alkitab menerangkan kepada kita bahwa kita asalnya mati, tetapi ketika kita menerima Tuhan Yesus, kita telah dihidupkan dan menjadi hidup. Apakah artinya kita telah mati? Sewaktu muda, saya tidak bisa memahami hal ini. Saya berkata kepada diri sendiri, "Aku masih hidup, bagaimana mereka mengatakan aku telah mati?" Sudah tentu, lama kelamaan saya tahu bahwa aku telah mati dalam roh saya. Roh sayalah yang mati dan tidak berfungsi. Fungsi roh ialah untuk berhubungan dengan Allah, berkomunikasi dengan Allah, dan menerima serta menyembah Allah. Namun karena kejatuhan, maka roh menjadi mati dan tidak dapat berfungsi.
Saat kita menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat kita, Roh Kudus (kita harus mengingatkan diri kita sendiri, bila istilah "Roh Kudus" ini kita pakai, ini mengacu kepada Roh yang almuhit) masuk ke dalam roh kita dan menyentuh roh kita. Melalui persentuhan yang sedemikian, roh kita lalu dihidupkan. Kata "dihidupkan" tidak dapat diterjemahkan dengan tepat dalam bahasa kita. Dalam bahasa Yunani, perkataan itu berarti, "hanya sekali sentuh saja, maka hayat telah diberikan dan disuplaikan."
Mungkin ini dapat diilustrasikan dengan listrik. Kalau kita menyentuh listrik, ada sesuatu dari listrik diahrkan ke dalam kita. Dengan sentuhan yang sederhana dan sedikit saja, listrik itu sudah teralir. Demikian pula, Roh Kudus masuk ke dalam roh kita untuk menyentuh roh kita, dan oleh sentuhan itu, hayat yang adalah Tuhan itu sendiri telah disuplaikan ke dalam kita. Dengan demikian, roh kita yang mati itu segera menjadi hidup. Itu adalah perkara yang melebihi suatu mujizat. Sering kali kita berpikir, alangkah indah dan ajaibnya kalau orang yang sudah mati bisa bangkit kembali. Namun kita harus menyadari, ketika Roh Kudus membangkitkan roh kita yang mati, hal itu lebih ajaib lagi. Sejarah mencatat bahwa laksaan bahkan jutaan orang telah diubah dengan cepat karena roh mereka yang mati telah dihidupkan. Hanya dalam sekejap saja, orang yang mati dalam roh dapat dihidupkan. Roh Kudus jauh lebih kuat daripada listrik dan jauh lebih cepat daripada transmisinya (pengalirannya).
Kolose 2:13 dan Efesus 2:1, 5 mengatakan bahwa dulu roh kita mati dan kemudian dihidupkan. Dulu kita mati dalam dosa-dosa, kemudian dihidupkan bersama Kristus. Kedua ayat tersebut membuktikan bahwa kita asalnya mati dalam roh, tetapi ketika kita menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat kita, roh kita yang mati itu telah dibangkitkan dan telah dihidupkan. Ketika roh kita menjadi hidup, roh kita pun dilahirkan kembali. Ini berarti roh kita tidak saja dihidupkan, melainkan juga ada hayat lain yang ditambahkan ke dalam roh kita. Hayat lain ini adalah hayat Allah yang ilahi dan yang "bukan ciptaan". Itulah Kristus sendiri. Ketika Roh Kudus, berdasarkan pekerjaan penebusan Kristus, masuk ke dalam kita, Ia tidak hanya menghidupkan roh kita yang mati, juga membawa Kristus ke dalam roh kita. Hayat baru yang ditambahkan ke dalam roh kita ini, adalah sesuatu yang melebihi apa yang Allah berikan kepada kita pada saat penciptaan.
Karena itu, tidak saja roh kita yang mati telah dipulihkan dan menjadi hidup, juga ada suatu esensi baru yang ditambahkan ke dalam roh kita. Esensi baru ini tak lain ialah Kristus sendiri. Inilah kelahiran baru, kelahiran kembali. Yohanes 3:6 mengatakan, "Apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh" (Tl.). Melalui kelahiran baru atau kelahiran kembali, ada sesuatu yang lain daripada yang kita mihki semula, yang ditambahkan kepada kita. Kita harus mengatakan ini berulang-ulang, "Sesuatu telah ditambahkan." Tidak saja yang tua dan mati telah diperbarui dan dihidupkan, tetapi Kristus itu sendiri telah ditambahkan ke dalam kita sebagai esensi dari hayat ilahi itu. Itulah kelahiran kembali dan hayat baru. Melalui semua itu, maka kita sekarang memiliki satu roh yang baru (Yeh. 36:26).
"Sudahkah Anda menerima Kristus sendiri sebagai hayat Anda yang baru?" Jika Anda menjawab, "Ya," saya akan bertanya lagi, "Mengapa Anda tetap begitu miskin?" Orang-orang Kristen perlu mengetahui Kristus ini sebagai satu realitas yang hidup. Tenaga atom bukan saja sesuatu yang di luar, juga yang di dalam. Dalam selembar kertas sekali pun, terdapat tenaga atom. Tetapi tatkala Anda menerima Kristus, sesuatu yang jauh melebihi tenaga atom ditambahkan ke dalam roh Anda. Kalau Anda percaya hal ini, Anda harus melompat dan berkata, "Haleluya!" Anda harus berterima kasih dan memuji-Nya, sebab Kristus yang demikian ajaib, almuhit dan tak terkira ini telah benar-benar ditambahkan ke dalam Anda. Kita justru tidak memiliki kata-kata yang memadai untuk melukiskan Kristus yang telah masuk ke dalam kita. Kekekalan sajalah yang dapat menceritakan kisahnya.
Namun puji Tuhan, ini bukan segalanya. Roh kita juga dihuni oleh Roh Kudus yang almuhit. Tatkala kita diselamatkan, Allah tidak saja memperbarui hati kita dan roh kita, Ia pun menaruh Roh-Nya sendiri ke dalam kita. (Yeh. 36:26-27; Yoh. 14:17). Roh yang ajaib ini berhuni (Rm. 8:11) dalam roh manusia kita (Rm. 8:16). Jadi, roh kita merupakan tempat kediaman Roh Kudus ini. Pikirkanlah, betapa ajaibnya Roh ini. Sejak dari saat kita diselamatkan, roh kita yang mati telah menjadi roh yang dihidupkan, dilahirkan kembali bersama Kristus sebagai hayat ilahi, dan dihuni oleh Roh Kudus yang almuhit. Kini kita memiliki satu roh yang demikian.
Tetapi itu pun bukan segalanya. Sekarang roh kita berpadu dengan Tuhan menjadi satu roh. Roh kita dan Tuhan sendiri sebagai Roh itu telah berpadu bersama menjadi satu roh (1 Kor. 6:17). Tidak ada perkataan manusia dapat menjelaskan rahasia ini.
Apakah tujuan dan fungsi roh itu? Roh itu untuk berkontak dengan Tuhan, menerima Dia, menyembah Allah (Yoh. 4:24), dan untuk bersekutu dengan Persona Ilahi Allah Tritunggal. Hati adalah organ untuk mengasihi, sedangkan roh adalah organ untuk berkontak dan menerima. Kita tidak dapat mengasihi dengan roh kita; kita harus mengasihi dengan hati kita. Tetapi Dia yang dikasihi hati kita harus dikontak dan diterima oleh roh kita.
Saya tidak bisa lupa kepada seorang saudari yang terganggu oleh berita semacam ini. Ia merasa asal hati kita mengasihi Tuhan sudah cukup baik, dan tidak perlu membicarakan soal roh. Ia mengira roh dengan hati merupakan sinonim. Setelah mendengar berita semacam ini, mungkin saudari ini malamnya tidak dapat tidur dengan nyenyak; sebab itu, esok paginya ketika sedang makan pagi, ia bertanya kepada saya, "Apakah tidak cukup, kalau hati kita mengasihi Tuhan? Mengapa kita masih perlu membicarakan soal roh?" Saya menjawab, "Saudari, saya memiliki sejilid Alkitab yang bagus. Apakah Anda menyukainya?" "Ya, tentu aku menyukainya," jawabnya. Lalu saya berkata, "Ambillah!" Ketika ia mengulurkan tangannya, saya berkata, "Jangan, jangan memakai tangan Anda! Hati Andalah yang menyukai Alkitab ini. Asalkan hati Anda menyukai Alkitab ini, sudah beres. Tidak perlu Anda memakai tangan untuk mengambilnya." Persoalannya sudah jelas. Kita tidak dapat berkata bahwa asalkan hati kita mengasihi Tuhan, itu sudah cukup baik. Kita tetap memerlukan roh untuk menerima Kristus.
Misalkan, saya menyukai sarapan pagi saya. Asalkan hati saya menyukai kornet, roti panggang, susu, sari buah dan sebagainya, sudah cukupkah itu? Tentu tidak! Jika itu cukup, saya khawatir setelah beberapa hari, saya akan dikubur. Menyukai itu masalah hati, tetapi untuk menerima sesuatu, organ lainlah yang harus digunakan. Organ yang perlu kita pakai tergantung pada apa yang akan kita terima. Jika kita ingin menerima makanan, sudah tentu kita harus memakai mulut. Jika kita ingin menerima suara, kita harus memakai telinga kita. Jika kita ingin menerima pemandangan yang warna-warni, kita harus memakai mata kita. Sekarang, kalau kita mengasihi Tuhan, organ apakah yang harus kita pakai untuk menerima Dia? Apakah mata? Semakin kita melihat Dia, Dia akan semakin menghilang. Allah sengaja menciptakan satu-satunya organ untuk menerima dan mengontaki-Nya, yaitu roh. Roh yang di batin kita ini memiliki fungsi rohani yang serupa dengan fungsi perut secara jasmani. Roh ini diciptakan khusus dengan tujuan untuk menerima Allah ke dalam kita.
Tetapi sebelum kita bisa menerima sesuatu, kita harus memiliki suatu rasa suka terhadapnya. Tidak seorang pun dapat menerima sesuatu jika ia tidak terlebih dulu menyukainya. Kalau Anda tidak menyukai sarapan pagi Anda, Anda agak sulit menerimanya. Itulah sebabnya Anda harus terlebih dulu memiliki suatu selera. Bila kita mengasihi Tuhan, kita akan menerima-Nya, mengontaki-Nya, menghubungi-Nya dan bersekutu dengan-Nya. Hati adalah untuk mengasihi, tetapi roh untuk menerima. Melalui pembaruan hati, kita akan memiliki satu kegemaran baru dan kedambaan baru untuk mengasihi Tuhan. Melalui pembaruan roh, kita memiliki satu kecakapan baru atau kemampuan baru untuk menerima Tuhan. Karena itu, setelah roh kita dihidupkan, maka Kristus sebagai hayat telah ditambahkan. Setelah roh kita dihuni oleh Roh Kudus dan berpadu dengan Tuhan menjadi satu roh, ia menjadi satu organ yang sangat peka untuk menerima Tuhan dan berkontak dengan Tuhan.
JIWA SEBAGAI ORGAN PEMANTUL
Berikut ini kita harus menanggulangi jiwa. Perkara pertama yang harus kita pelajari dalam menanggulangi jiwa ialah menyangkalnya. Dalam Matius 16:24-26 dan Lukas 9:23-25 diterangkan dengan jelas bahwa kita perlu menyangkal jiwa kita, yaitu ego (diri) kita. Pada bab yang lalu kita telah nampak bahwa jiwa, ego kita ini, tersusun dari tiga bagian : pikiran, tekad, dan emosi. Karena itu, kita harus belajar menyangkal pikiran alamiah, tekad alamiah, dan emosi alamiah kita.
Kedua, jiwa harus dimurnikan (1 Ptr. 1:22) yang digenapkan terutama melalui menerima firman. Firman Allah dapat memurnikan jiwa dari berbagai perkara yang bersifat daging, dunia, dan alamiah. Jiwa kita adalah ego kita, manusia kita, yang telah dirusak dan diduduki secara luas oleh perkara-perkara yang bersifat daging, dunia dan alamiah. Sebab itu, pertama-tama kita harus menyangkal jiwa kita; semakin kita menyangkalnya, ia akan semakin dimurnikan oleh firman Allah.
Ketiga, jiwa kita harus diubah (2 Kor. 3:18; Rm. 12:2). Dua Korintus 3:18 mengatakan bahwa kita harus diubah, tetapi ayat itu tidak menjelaskan dalam bagian mana kita harus diubah. Namun, Roma 12:2 menunjukkan bahwa kita diubah melalui pembaruan pikiran. Maka, pengubahan digenapkan dalam jiwa kita, sebab pikiran merupakan bagian utama dari jiwa. Setelah roh kita dilahirkan kembali, maka jiwa kita perlu diubah.
Jiwa harus disangkal, lalu dimurnikan, kemudian diubah menjadi segambar dengan Kristus. Tetapi untuk maksud apa? Kita telah menunjukkan bahwa fungsi hati ialah untuk mengasihi Tuhan, fungsi roh ialah untuk menerima dan berkontak dengan Tuhan. Tetapi tujuan jiwa ialah untuk memantulkan Tuhan. Dalam kebanyakan versi Alkitab, istilah "memantulkan" dalam 2 Korintus 3:18 tidak diterjemahkan, tetapi artinya terdapat dalam bahasa aslinya. "Memantulkan" adalah fungsi sebuah cermin yang melihat dan mencerminkan dengan muka yang tidak berselubung. Melalui dimurnikan dan diubah, jiwa itu menjadi organ, seperti sebuah cermin, untuk memantulkan dan mengekspresikan Kristus. Jadi, kita inengasihi Dia dengan hati kita, kita menerima dan mengontak Dia dengan roh kita, dan kita memantulkan dan mengekspresikan Dia dengan jiwa kita yang telah diubah itu. Semua ini harus kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari kita. Kemudian, kehidupan kita akan membuktikan bahwa apa yang telah dijelaskan di sini sepenuhnya praktis dan benar-benar dapat diterapkan.