MEMBERESKAN HATI DAN ROH
Kita telah nampak definisi dan fungsi hati, roh, dan jiwa. Hubungan kita dengan Tuhan selalu dimulai dan berlangsung melalui hati. Tentu saja berkontak dengan Tuhan itu adalah perkara roh, namun dirintis dan dipelihara dengan hati, karena hati kita merupakan pintu gerbang dari seluruh manusia kita. Satu bangunan atau rumah yang besar, biasanya mempunyai satu pintu masuk dan satu pintu keluar; orang masuk melalui pintu masuk dan keluar melalui pintu keluar. Bila pintu masuknya ditutup, orang-orang tidak dapat masuk, mereka terpisah dari ruangan-ruangan di dalam gedung itu. Namun begitu pintu itu dibuka, orang-orang akan bisa masuk ke dalam gedung dan menikmati setiap ruangannya.
Hati bukanlah bagian yang tersendiri atau terpisah melainkan tersusun dari semua bagian jiwa ditambah satu bagian roh. Karena merupakan komposisi yang sedemikian, maka hati menjadi pintu gerbang seluruh manusia kita. Dengan kata lain, hati menjadi pintu masuk dan pintu keluar manusia kita. Apa saja yang masuk ke dalam kita harus melalui hati kita, dan apa saja yang keluar dari kita harus pula (keluar) melalui hati kita.
Contohnya, jika hati kita tidak waspada pada waktu mendengarkan berita, kita tidak akan menangkap inti beritanya. Atau, ketika kita sedang membaca, kita tidak akan menerima apa-apa jika hati kita tidak tertuju kepada isinya. Bahkan ketika kita makan, jika kita tidak mempunyai selera, kita tidak akan menikmati rasa makanan itu. Ini membuktikan bahwa hati adalah alat "pengontrol". Untuk mengontrol suatu gedung, kita harus mampu menutup atau membuka pintu. Karena itu, pada hati ada kuasa untuk menutup atau membuka seluruh manusia kita.
Sebab itu, pemberitaan Injil harus dipimpin oleh Roh Kudus agar dapat menyentuh hati manusia. Jalan yang paling berhasil dalam memberitakan Injil adalah menjamah hati manusia. Jika dapat menerobos hati manusia, banyak orang akan didapatkan. Inilah sebabnya, mengapa orang yang tidak percaya mengeraskan dan menutup hati mereka terhadap pemberitaan Injil. Tak peduli berapa banyak yang kita beritakan, bila mereka menutup hati mereka, kita tidak dapat menjamah mereka. Kita tidak dapat memberikan apa-apa ke dalam mereka, karena “pintu masuk” mereka tertutup. Kita harus mencari jalan untuk menerobos pintu masuk itu, jika kita hendak memberitakan dengan berhasil. Pemberitaan yang terbaik adalah mendapatkan kunci untuk membuka hati.
Bahkan Tuhan sendiri menarik kita melalui hati kita. Dia tidak terlebih dulu menggerakkan roh kita. Seorang pencari dalam awal Kitab Kidung Agung memohon agar Tuhan menariknya dengan kasih-Nya, agar dia dapat mengasihi-Nya. Tuhan datang menjamah hati kita dengan kasih-Nya. Itulah sebabnya setelah kebangkitan-Nya, Tuhan bertanya kepada Petrus, "Apakah engkau mengasihi Aku?" (Yoh. 21). Kasih Tuhan adalah cara terbaik untuk membuka pintu hati. Sebab itu, cara yang paling berhasil untuk membuka hati adalah memberitakan kasih Tuhan Allah. Begitu hati terbuka, mudahlah Roh Kudus menjamah roh dan semua bagian manusia. Ini tidak hanya berlaku dalam pemberitaan Injil, bahkan juga di dalam pelayanan pengajaran Kristen.
MEMBERESKAN HATI
Jadi, kita harus membereskan hati kita, agar kita memiliki hubungan yang wajar dengan Tuhan. Bagaimana kita membereskan hati kita? Sekali lagi, hal ini sangatlah sederhana. Alkitab mengatakan, "Berbahagialah mereka yang murni hatinya" (Mat. 5:8, Tl.). Beberapa penerjemah telah mengubah kata "murni" menjadi "bersili", yaitu "hati yang bersih". Tetapi kata "bersih" kurang memadai. Ini bukan hanya perkara hati yang bersih, melainkan perkara hati yang murni. Kita mungkin saja bersih tetapi bercampur, itu berarti tidak murni. Bercampur belum tentu kotor, tetapi mempunyai lebih dari satu tujuan/sasaran.
Inilah kesulitan kebanyakan saudara saudari. Mereka mengira bahwa mereka tidak mempunyai persoalan dengan hati mereka karena mereka bersih dan tanpa tuduhan. Tetapi mereka tidak murni, karena mereka mempunyai lebih dari satu tujuan, lebih dari satu sasaran. Benar, mereka tertuju kepada Allah, tetapi pada saat yang sama mereka tertuju kepada beberapa perkara yang lain. Mungkin mereka di samping tertuju kepada Allah juga tertuju kepada gelar doktor. Bila mereka mempunyai dua hal sebagai sasaran mereka, mereka menjadi tercampur dan rumit. Sebagai contoh, kita tidak dapat melihat dua benda dengan dua mata kita sekaligus. Jika kita mencoba melihat dua benda pada saat yang sama, keduanya akan menjadi kabur.
Mengapa ada orang berkata bahwa mereka kurang jelas akan kehendak Allah? Karena mereka mempunyai dua tujuan, dua sasaran. Banyak saudara saudari mempunyai lebih dari dua sasaran. Mereka menuntut banyak hal. Memang, mereka menuntut Tuhan, namun pada waktu yang bersamaan, mereka mencari hal-hal lain, seperti kedudukan dan karir mereka. Bagaimana mereka dapat menghindari kebingungan dan kekacauan? Hati mereka harus dimurnikan dari ambisi yang begitu banyak, sehingga Tuhan sendiri yang menjadi sasaran tunggal mereka.
Bahkan, banyak pekerja Kristen yang juga mempunyai banyak tujuan. Seorang saudari bersaksi bahwa dia mempunyai satu tujuan yang besar : dia ingin menjadi pemberita yang paling besar dalam denominasinya. Hatinya bersih, tetapi dia tidak murni. Hatinya harus dimurnikan sampai dia hanya mempunyai satu sasaran - Tuhan sendiri. Beberapa pekerja Kristen mempunyai Tuhan dan pekerjaan-Nya sebagai sasaran. Mereka mempunyai dua sasaran. Mereka perlu memurnikan hati mereka, sampai mereka tidak mencari hal yang lain selain Tuhan sendiri sebagai sasaran mereka. Tujuan mereka, sasaran mereka, dan kesenangan mereka seharusnya hanya Tuhan sendiri. Bila mereka hanya mencari Dia dengan mutlak, hati mereka murni; dan jika mereka memiliki hati yang murni, "langit" tidak hanya terbuka bagi mereka, bahkan akan sangat cerah terhadap mereka. Kadang-kadang langit terbuka, namun berawan. Mengapa langit rohani berawan? Karena hati tercampur dan tidak murni. Bila hati dimurnikan dari banyak tujuan, langit akan bersih.
Istilah lain yang dipakai Alkitab untuk menggambarkan hati adalah "ketulusan" - "hati yang tulus". Beberapa versi menerjemahkan ketulusan menjadi kesederhanaan - "kesederhanaan hati". Ketulusan hati berarti sederhana. Menjadi sederhana, di satu pihak berarti menjadi bodoh. Mereka yang benar-benar mengasihi Tuhan dan tertuju kepada Dia adalah semacam orang "bodoh". Kita semua harus menjadi orang bodoh secara Kristen! Artinya, "Aku tidak tahu apa-apa selain Yesus. Apa saja yang kulakukan, aku hanya tahu Yesus. Ke mana saja aku pergi, aku hanya tahu Yesus." Kita tidak seharusnya mencoba menjadi orang pandai. Kita hanya mempunyal satu jalan : jalan sempit Yesus. Orang-orang akan mengatakan, "Kalian bodoh", namun kita seharusnya senang menjadi bodoh sedemikian. Inilah kesederhanaan.
Tiga ayat Alkitab yang menyinggung kemurnian hati adalah Mazmur 73:1, Matius 5:8, dan 2 Timotius 2:22. Yang disebut belakangan menunjukkan bahwa ketika gereja-gereja merosot, kita harus mencari Tuhan dengan hati yang murni dan berdoa bersama orang-orang yang murni hatinya. Paling sedikit ada tiga ayat yang menunjukkan ketulusan hati : Kisah Para Rasul 2:46, Efesus 6:5, dan Kolose 3:22. Jika kita hendak menuntut dan melavani Tuhan, kita harus membereskan kedua masalah ini : menjadi orang yang murni dan tulus hati. Kita harus belajar untuk tidak hanya mempunyai suatu hati yang bersih dan benar, melainkan juga suatu hati yang murni dan tulus. Jika kita mau membereskan hati kita sedemikian, diri kita akan terbuka kepada Tuhan, karena pintu gerbangnya terbuka. Ini bukanlah suatu doktrin, melainkan suatu petunjuk mengenai bagaimana menanggulangi hati, agar dapat membiarkan Tuhan memiliki seluruh manusia kita.
MEMBERESKAN HATI NURANI
Kita ulangi : mula-mula Tuhan harus menarik kita dengan kasih-Nya. Ia menjamah hati kita dengan kasih Nya untuk membuka hati kita. Kemudian, segera setelah hati kita dibereskan, hati nurani harus pula dibereskan. Pemberesan di hadapan Tuhan yang pertama adalah terhadap hati, kemudian terhadap hati nurani. Jika hati kita murni dan tulus, fungsi hati nurani kita akan menjadi sangat peka dan tajam. Selagi kita membaca buku ini, kita mungkin tidak mempunyai perasaan, bahwa kita bersalah dan telah membuat banyak kesalahan; tetapi ketika kita membereskan hati kita dan membuatnya murni dan tulus, hati nurani akan berfungsi dengan penuh. Hati nurani kita akan mulai menegur kita, menyuruh kita mengakui dan membereskannya. Ini akan membuat hati nurani kita menjadi "hati nurani tanpa kesalahan". Paulus berkata bahwa dia melatih dirinya untuk mempunyai "hati nurani yang murni (tidak berkesalahan) di hadapan Allah dan manusia" (Kis. 24:16). Hati nurani yang tidak bersalah berarti bebas dari segala macam kesalahan atau tuduhan.
Untuk mengenal perbedaan antara jiwa dengan roh, kita memerlukan hati nurani yang peka. Tetapi hal ini sulit dicapai bila kita beralasan dalam pikiran kita. Anda mengatakan, "Baiklah, aku bersalah sepuluh persen, tetapi saudara itu bersalah kepadaku seratus persen. Jadi, dia berhutang kepadaku sembilan puluh persen." Ini tidak lain dari penampilan pikiran dalam jiwa. Sewaktu kita beralasan secara logis dalam pikiran kita, ada sesuatu yang lebih dalam di batin kita berkata, "Tak peduh berapa banyak dia berhutang kepada Anda, Anda harus membereskan yang sepuluh persen itu."
Perhitungan rohani tidak sama dengan perhitungan bank. Perhitungan di bank ada kredit, debet, dan saldo, tetapi perhitungan dalam roh hanya ada satu kolom, yaitu debet. Tak peduh berapa banyaknya piutang Anda, asalkan Anda memiliki hutang, Anda harus membereskannya. Misalkan saya mencuri jam tangan Anda, dan Anda mencuri mobil saya. Kita masing-masing tahu apa yang telah kita curi. Tetapi pada suatu hari, hati nurani berfungsi, mengatakan, "Anda harus membereskan persoalan pencurian itu." Tentu saja, jika saya menghitung dengan perhitungan bank, saya akan beralasan, "Harga jam tangan ini 100 dolar dan harga mobil itu 2.000 dolar, jadi orang itu berhutang kepadaku 1.900 dolar. Aku tidak perlu membereskan hati nuraniku; sebaliknya, aku seharusnya mengambil sisanya." Tetapi perhitungan rohani bukanlah demikian. Perhitungan rohani menuntut saya melupakan berapa banyak orang lain berhutang kepada saya, dan agar saya membereskan yang 100 dolar itu. Bahkan saya harus minta maaf kepada orang itu. "Tuan, maafkan aku. Aku sudah berdosa karena mencuri. Inilah jam tangan yang kucuri, sekarang kukembalikan kepada Anda." Saya tidak boleh mengucapkan sepatah kata pun tentang mobil itu! Saya tidak berhak menyinggungnya. Hanya Roh Kuduslah yang berhak mengatakan sesuatu kepadanya. Dalam perhitungan surgawi, hanya ada satu kolom, tidak ada dua kolom.
Sudah jelaskah Anda? Jika Anda berdebat dan beralasan, Anda hanya di dalam pikiran, tidak di dalam roh.
Untuk lebih jelasnya, misalnya Roh Kudus bekerja di dalam roh Anda, meminta agar Anda menjawab panggilan Tuhan. Tetapi banyak sekah alasan memenuhi pikiran Anda : Bagaimana istriku? Bagaimana anak-anakku? Bagaimana pendidikan mereka? Aku masih mempunyai ibu yang berusia 80 tahun. Lebih baik aku menunggu beberapa saat. Setelah ia meninggal, mungkin itulah waktu yang terbaik bagiku untuk menjawab panggilan Tuhan. Itu tidak lain dari bantahan dan dalih dalam pikiran jiwa. Anda cukup logis, cukup beralasan, cukup benar, tetapi panggilan Tuhan tetap ada dalam lubuk roh Anda.
Perbedaan antara jiwa dengan roh mudah dimengerti, tetapi persoalannya adalah seluruh manusia kita masih terkunci, karena hati kita masih belum terbuka. Kita harus berulang-ulang mengatakan : Kita harus membuka hati kita. Bila kita membereskan hati kita sehingga murni dan tulus, hati nurani kita akan menjadi sangat peka untuk menyingkapkan tuduhan-tuduhan dan kesalahan-kesalahan. Lalu, hati nurani kita hanya dapat dibenarkan melalui pengakuan dosa dan menerapkan pemercikan, pembersihan darah Tuhan (Ibr. 9:14).
Bila hati nurani kita bersih, kita akan melayani Allah yang hidup. Allah adalah Allah yang hidup, tetapi Dia bukanlah Allah yang hidup bagi kita bila hati nurani kita penuh dengan kesalahan. Dalam keadaan demikian, kita. hanya mempunyai Allah dalam nama-Nya saja; tetapi bila hati nurani kita telah dibersihkan oleh darah, kita akan merasakan Allah begitu hidup. Kadang-kadang seolah-olah Allah tidak begitu nyata dan hidup; Dia hanya merupakan suatu sebutan - Allah, hanya itu saja. Kemudian hati nurani kita menjadi bebal dan penuh dengan kesalahan; ini perlu dibereskan dengan pengakuan dosa dan pembersihan.
Setelah itu kita akan memiliki hati nurani yang murni. Rasul Paulus berkata kepada Timotius bahwa ia melayani Allah dengan hati nurani yang murni - bukan hanya dengan hati nurani yang bersih, melainkan hati nurani yang tanpa campuran dan bayang-bayang (2 Tim. 1:3). Satu tuduhan saja dalam hati nurani kita akan membuatnya tidak murni dan kabur, dan akan menghalangi persekutuan kita dengan Tuhan.
Hati nurani yang murni juga merupakan hati nurani yang baik (I Tim. 1:5, 19 dan I Ptr. 3:16, 21). Hati nurami yang baik adalah hati nurani yang dibersihkan dan dimurnikan; yang benar dan tembus cahaya, tanpa bayangan. Hati nurani dalam kondisi yang sebaik ini akan membawa kita ke hadapan Tuhan. Tidak ada apa pun yang menghalangi kita dengan Dia, karena hati nurani telah dibersihkan dan dimurnikan.
MEMBERESKAN KOMUNIKASI (PERSEKUTUAN)
Menyusul pemberesan hati nurani, maka fungsi komunikasi (persekutuan) dalam roh kita pun dibereskan, seperti terlihat dalam 1 Yohanes 1:1-7. Persekutuan antara kita dengan Allah terpelihara melalui hati nurani yang balk. Bila hati nurani salah, ia akan menjadi penghalang dan merusak perselcutuan kita dengan Tuhan. Sebab itu, menurut 1 Yohanes 1:9, kita harus mengakui kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa kita, agar darah Tuhan Yesus membersihkan hati nurani kita. Kemudian tidak akan ada tuduhan dalam hati nurani kita yang menghalangi persekutuan kita dengan Tuhan. Tegasnya, persekutuan kita tergantung pada pemberesan kita terhadap hati nurani. Ini terpelihara melalui hati nurani yang murni. Sebab itu, kedua pemberesan ini sebenarnya satu, karena membereskan hati nurani adalah membereskan persekutuan. Persekutuan akan terpelihara bila tidak ada kesalahan pada hati nurani kita. Bila ada masalah dalam persekutuan kita dengan Tuhan, itu berarti hati nurani kita salah. Ketika hati nurani kita tidak murni dan bening, persekutuan akan lenyap, dan ini hanya dapat diperoleh kembali bila hati nurani kita sudah dipulihkan.
MEMBERESKAN INTUISI (PERASAAN LANGSUNG)
Kini kita sampai pada intuisi (perasaan langsung). Seperti persekutuan menyusul hati nurani, demikian pula intuisi menyusul persekutuan. Jika kita bersalah dalam hati nurani, persekutuan akan rusak, dan bila persekutuan rusak, intuisi akan tidak berfungsi. Karena itu, pemberesan terhadap hati nurani sangatlah mendasar. Hati nurani yang bening akan membawa kita ke hadirat Tuhan, menghasilkan persekutuan yang hidup dengan Dia. Melalui persekutuan yang hidup ini, mudahlah bagi roh kita untuk merasakan kehendak Allah secara langsung - inilah fungsi intuisi. Fungsi ini sepenuhnya tergantung pada suatu persekutuan yang sempurna. Bila persekutuan kita sempurna, intuisi akan berfungsi dengan wajar. Bila persekutuan kita dengan Tuhan rusak, dengan sendirinya intuisi tidak dapat bekerja, dan hanya dapat dipulihkan melalui perbaikan persekutuan.
Satu Yohanes 2:27 adalah sebuah ayat yang sangat penting, yang diabaikan oleh kebanyakan orang di antara kita. Ayat ini mengatakan bahwa urapan itu tinggal di dalam kita. Pengurapan ini adalah pekerjaan Roh Kudus di dalam roh kita, memberi kita perasaan langsung dari Allah. Perasaan langsung itu adalah intuisi. Satu Yohanes 1 menerangkan bahwa persekutuan ini terpelihara oleh darah. Pasal 2 menerangkan bahwa intuisi bekerja melalui pengurapan batini Roh Kudus. Bila Roh Kudus mengurapi kita dengan bergerak di dalam roh kita, kita akan menerima perasaan langsung dari intuisi.
Melalui intuisi di dalam roh kita, kita mempunyai pengenalan batini, bukan pengertian pikiran. Pengenalan batini ini ada di dalam roh kita. Sedangkan pengertian ada dalam pikiran kita, dan pengenalan batini roh kita selalu mendahului pengertian pikiran kita. Dengan kata lain, bila Roh Kudus mengurapi roh kita, kita menerima perasaan langsung dalam intuisi kita. Melalui intuisi dalam roh kita, kita memiliki pengenalan batini untuk merasakan sesuatu dari Allah. Tetapi kita tetap perlu pikiran untuk memahami apa yang kita rasakan di dalam roh. Sering kah kita hanya mengetahui sesuatu di dalam roh, tetapi tidak dapat memahaminya dengan pikiran kita. Ini kedengarannya seperti bahasa surgawi, dan dunia tidak mengetahui apa yang kita bicarakan. Pengertian dalam pikiran hanya bertugas menerjemahkan apa yang roh kita rasakan sebagai pengenalan batini itu. Pikiran kita yang diterangi dan diperbarui akan menerjemahkan apa yang kita rasakan dalam intuisi roh kita.
Mari kita menjelaskannya demikian. Kadang-kadang, di pagi hari, ketika kita sedang membaca Alkitab dan berdoa, ada beban yang dengan spontan terasa jauh di dalam roh kita, begitu dalam dan beratnya sehingga kita tidak memahami apa itu. Kita harus menengadah kepada Tuhan untuk memahami beban ini. Berangsur-angsur pada siang hari, kita mulai memahami melalui pikiran kita, apa yang ada dalam roh kita tadi. Pada pagi harinya kita merasakan beban itu, atau pengenalan batini itu melalui intuisi di dalam roh kita, tetapi selama siang hari, secara bertahap, kita menerima terjemahannya di dalam pikiran kita.
Dapat kita simpulkan, 1 Yohanes 1 mewahyukan bahwa persekutuan harus dipelihara, dan 1 Yohanes 2, khususnya ayat 27, menunjukkan bahwa intuisi harus di kendalikan atau diurapi oleh Roh Kudus. Tetapi baik persekutuan maupun intuisi sama sekah tergantung pada pemberesan kita terhadap hati nurani. Melalui pemberesan yang demikian, kita akan memperoleh hati nurani yang bening dan murni, yang akan memberi kita persekutuan yang sempurna dengan Tuhan. Ini akan dihasilkan dalam fungsi intuisi, karena dengan begitu Roh Kudus akan mempunyai dasar untuk bergerak dan mengurapi roh kita. Sekali lagi kita katakan bahwa semuanya ini harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Hari demi hari kita harus membereskan hati kita, hati nurani kita, persekutuan kita, dan intuisi kita.