← Daftar isi Ekonomi Allah Tritunggal · bab 5/24

PERSONA-PERSONA ALLAH DAN BAGIAN-BAGIAN MANUSIA

"Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka Injil itu tertutup untuk mereka yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus yang adalah gambaran Allah. Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus. Sebab Allah yang telah berfirman, ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang tampak pada wajah Kristus. Tetapi harta (mustika) ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami" (2 Kor. 4:3-7).

Ayat-ayat di atas memberi tahu kita bahwa Iblis, i1ah zaman ini, membutakan pikiran orang-orang yang tidak percaya, "sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus". Musuh takut akan cahaya "Injil tentang kemuliaan Kristus" yang sedemikian. Injil tentang kemuliaan Kristus dalam ayat 4 ini berhubungan dengan "pengetahuan tentang kemuliaan Allah" dalam ayat 6. "Mustika" ini adalah Allah di dalam Kristus, yang telah menyinarkan diri-Nya ke dalam kita, bejana tanah liat.

Kita telah nampak ekonomi Allah dan sasaran ekonomi-Nya. Kita pun telah menunjukkan bahwa hal utama dalam ekonomi Allah adalah Allah bermaksud menggarapkan diri-Nya ke dalam kita. Ia menggarapkan diri-Nya ke dalam setiap bagian diri kita melalui Persona-Nya yang berbeda. Jika kita membaca Alkitab dengan cermat, kita akan menyadari bahwa hal itu adalah hal yang utama. Saya memiliki beban ini, karena itu saya dapat mengutarakannya kepada anak-anak Allah ratusan kali, ya, bahkan ribuan kali : dalam alam semesta, kehendak Allah ialah ingin menggarapkan diri-Nya ke dalam manusia.

Untuk apa Allah menciptakan manusia? Tidak lain agar manusia menjadi wadah-Nya. Saya suka sekah menggunakan istilah "wadah" ini, karena istilah ini lebih jelas daripada istilah "bejana". Dalam Roma 9:21, 23, dan 2 Korintus 4:7 jelas tampak bahwa Allah menciptakan kita untuk menjadi wadah-Nya, agar bisa menampung diriNya sendiri. Kita hanyalah wadah yang kosong, dan Allah bermaksud menjadi satu-satunya isi kita. Sebagai contoh, botol minuman dipakai untuk menampung minuman, dan bola lampu dipakai untuk menampung listrik. Jika kita memandang botol yang dibuat untuk menampung minuman, atau bola lampu yang dibuat untuk menampung listrik, kita akan mengerti bahwa wadah yang "khusus" itu adalah barang yang cukup istimewa; dibuat untuk pemakaian tertentu. Manusia juga merupakan wadah yang "khusus", karena manusia juga diciptakan dengan tujuan khusus. Begitu selesai dibuat, bola lampu harus bisa memuat listrik; kalau tidak, bola lampu itu akan tidak ada artinya dan tidak ada gunanya. Demikian pula, jika botol minuman tidak pernah diisi dengan minuman, botol itu juga tidak akan ada artinya. Manusia diciptakan khusus untuk diisi oleh Allah. Jika kita tidak diisi oleh Allah dan tidak tahu Allah adalah isi kita, kita adalah "barang" yang bersifat kontradiksi dan tidak berarti.

Tidak peduli berapa banyak pendidikan yang kita tempuh, kedudukan apa yang kita miliki, atau berapa banyak harta yang kita miliki, kita masih belum berarti, karena kita dibuat khusus sebagai wadah untuk diisi Allah sebagai satu-satunya isi kita. Sebagai wadah, kita harus menerima Allah ke dalam diri kita. Walaupun perkataan ini nampaknya sederhana, ini adalah perkataan yang tepat yang diperlukan untuk menunjukkan pikiran utama dari seluruh Alkitab. Pengajaran dasar dari seluruh Alkitab adalah ini : Allah adalah satu-satunya isi dan kita adalah wadah yang dibuat untuk menerima isi itu. Kita harus diisi dengan Allah dan dipenuhi dengan Allah.

BAPA, PUTRA, DAN ROH

Agar Allah bisa meletakkan diri-Nya ke dalam kita sebagai isi kita, Ia harus ada dalam tiga Persona. Kita tidak mungkin bisa memahami dengan sepenuhnya rahasia ketiga Persona Allah. Kita diberi tahu dengan jelas pada beberapa tempat dalam Alkitab bahwa Allah itu esa. Satu Korintus 8:4, 6 dan 1 Timotius 2:5 menyatakan hal ini. Tetapi dalam pasal pertama Kitab Kejadian, kata ganti orang yang dipakai untuk Allah bukanlah "Aku" dalam bentuk tunggal, melainkan "Kita" dalam bentuk jamak.

Mari kita baca Kejadian 1:26 dan 27, "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita ... Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya." Dalam ayat 26 dikatakan, "menurut gambar Kita", sedangkan dalam ayat berikutnya, dikatakan "menurut gambar-Nya". Coba katakan kepada saya, Allah itu satu atau banyak? Siapa yang dapat menjelaskan hal ini? Allah sendiri memakai kata ganti jamak untuk diri-Nya : "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita." Tetapi jika Anda mengatakan Allah lebih dari satu, Anda adalah orang yang sesat, karena Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa Allah itu esa. Di alam semesta, tidak ada lebih dari satu Allah. Lalu, kalau Allah hanya satu, mengapa dipakai kata ganti jamak?

Setiap orang yang tahu bahasa Ibrani dapat memberi tahu kita bahwa kata "Allah" dalam Kejadian 1 berbentuk jamak. Kata Ibrani untuk Allah dalam ayat pertama, "Pada mulanya Allah ..." adalah "Elohim", yang berbentuk jamak. Namun kata "menciptakan" dalam bahasa Ibrani adalah predikat dalam bentuk tunggal. Ini sangat aneh. Komposisi tata bahasa dari ayat ini adalah subyek yang berbentuk jamak, dengan kata kerja dalam bentuk tunggal. Tidak ada yang dapat membantah hal ini : ini dibuktikan oleh bahasa Ibrani. Sekarang, saya ingn bertanya, "Allah itu satu atau tiga?"

Kini, mari kita baca Yesaya 9:5, "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan untuk kita,... namanya akan disebutkan orang Allah yang Perkasa, Bapa Kekal." Ayat ini tidak mengatakan manusia yang perkasa, melainkan "Allah yang perkasa." Anak yang kecil disebut Allah yang perkasa. Semua orang Kristen sependapat mengenai nubuat ayat ini. Anak yang disebut di sini mengacu kepada anak yang lahir di palungan, di Betlehem, yang tidak hanya diberi nama "Allah yang perkasa", tetapi juga "Bapa kekal". Sebagai anak yang lahir untuk kita, Dia disebut Allah yang perkasa; dan sebagai seorang putra yang diberikan untuk kita, Dia disebut Bapa kekal (atau Bapa Kekekalan). Ini sangat ajaib. Ketika anak itu disebut Allah yang perkasa, Dia itu seorang anak atau Allah? Dan, ketika putra itu disebut Bapa kekal, Dia itu Putra atau Bapa? Jika Anda berusaha untuk menganalisisnya, Anda tidak akan berhasil. Anda harus mengambilnya sebagai fakta saja, kalau tidak, Anda tentu tidak percaya kepada Alkitab. Jika Anda percaya otoritas Alkitab, Anda harus menerima fakta bahwa karena anak itu disebut Allah yang perkasa, berarti sang anak adalah Allah yang perkasa; dan karena putra itu disebut Bapa kekal, berarti putra itu adalah Bapa. Kalau anak itu bukan Allah yang perkasa, bagaimana anak itu bisa disebut Allah yang perkasa? Dan kalau putra itu bukan Bapa, bagaimana putra dapat disebut Bapa? Lalu, berapa banyak Allah yang kita miliki? Kita hanya memiliki satu Allah, karena Anak (Yesus) itu adalah Allah yang perkasa dan Putra itu adalah Bapa kekal.

Selain itu, 2 Korintus 3:17 mengatakan, "Tuhan adalah Roh itu" (Tl.). Menurut pemahaman kita, siapakah Tuhan? Kita semua sependapat, bahwa Tuhan adalah Yesus Kristus. Tetapi ayat itu mengatakan, "Tuhan adalah Roh itu." Siapakah Roh itu? Kita harus mengakui bahwa Roh itu adalah Roh Kudus. Sebab itu, Putra disebut Bapa, dan Putra, yang adalah Tuhan, juga adalah Roh itu. Itu berarti Bapa, Putra, dan Roh adalah satu. Kita menekankan perkara ini karena melalui ketiga Persona-Nyalah Allah mengerjakan ekonomi-Nya. Tanpa Persona yang berbeda ini - Persona Bapa, Persona Putra, dan Persona Roh itu - Allah tidak bisa menggarapkan diri-Nya ke dalam kita.

Matius 28:19 mengatakan, "Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka (ke) dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus." Ayat ini tidak mengatakan, agar kita membaptis mereka dalam nama salah satu Persona ilahi. Ayat ini juga tidak mengatakan, agar kita membaptis mereka dalam namanama (jamak), melainkan dalam nama (tunggal) Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Mengapa kita perlu dibaptis ke dalam nama Bapa, Anak, dan Roh? Selain itu, jika kita memeriksa teks asli Yunaninya, kita akan menemukan bahwa preposisi "dalam" yang dipakai versi LAI, sebenarnya berarti "ke dalam" atau "kepada" (eis). Jadi, ayat itu mengatakan, "baptislah ke dalam nama" bukan "dalam nama". Kata yang sama dipakai dalam Roma 6:3, "... dibaptis ke dalam Kristus", yang merupakan terjemahan yang tepat. Apa makna dari semuanya ini?

Izinkan saya menjelaskannya demikian : jika Anda membeli sebuah semangka, maksud Anda tentu memakan dan mencerna semangka itu. Dengan kata lain, Anda bermaksud menggarapkan semangka itu ke dalam diri Anda. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Pertama, Anda membeli satu buah semangka yang utuh; kedua, Anda memotongnya menjadi beberapa potong; kemudian ketiga, sebelum semangka itu masuk ke dalam lambung Anda, Anda memakannya, mengunyahnya sampai menjadi sari. Urutannya adalah : semangka, potongan, dan akhirnya sari. Apakah ketiga hat itu tiga benda yang berbeda? Saya percaya, ini adalah ilustrasi yang baik dari Ketritunggalan. Kebanyakan buah semangka lebih besar daripada lambung Anda. Bagaimana Anda dapat menelan sebuah semangka yang besar bila mulut Anda begitu kecil dan kerongkongan Anda begitu sempit? Sebelum menjadi semangka yang berukuran sedang untuk Anda makan, Anda harus memotongnya menjadi beberapa potong. Kemudian, begitu dimakan, semangka itu menjadi sari. Apakah potongan semangka itu bukan semangka? Dan apakah sari itu bukan semangka? Jika kita mengatakan, "Bukan," kita tentu orang yang sangat picik.

Bapa digambarkan sebagai sebuah semangka yang utuh, Putra digambarkan sebagai potongan buah semangka; dan terakhir Roh itu sebagai sari. Kini Anda jelas : Bapa bukan hanya Bapa, tetapi juga Putra, dan Putra bukan hanya Putra, tetapi juga Roh itu. Dengan kata lain, semangka ini juga potongan buah semangka yang siap dimakan, pun sari di dalam diri kita. Semangka itu lenyap setelah dimakan. Semula semangka itu ada di meja, tetapi setelah dimakan, semangka itu ada di dalam seluruh keluarga.

Dalam Injil Yohanes, Bapa terdapat dalam pasal-pasal pertama; Putra sebagai ekspresi Bapa terdapat dalam pasal-pasal selanjutnya; dan terakhir Roh itu, sebagai Nafas Putra terdapat dalam pasal 20 (ayat 22). Injil Yohanes ini mewahyukan Bapa, Putra, dan Roh. Bacalah kedua puluh satu pasal dari kitab ini. Mula-mula dikatakan, "Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersamasama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah ... dan Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita." Firman ini, yakni Allah sendiri, suatu hari menjadi seorang manusia dan tinggal di antara kita bukan di dalam kita, melainkan di tengah-tengah kita. Kemudian Dia hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun. Akhirnya Dia mati dan bangkit kembali. Ini misterius, luar biasa, dan ajaib; kita tidak pernah dapat memahaminya. Pada malam setelah Dia bangkit, Dia datang kepada murid-murid-Nya dalam tubuh-Nya yang sudah bangkit. Semua pintu tertutup, tetapi Dia masuk dengan memakai tubuh-Nya dan menunjukkan kepada murid-murid tangan dan lambung-Nya. Kita tidak bisa memahaminya. Dia datang dengan cara yang luar biasa dan misterius. Terakhir, Dia menghembusi murid-muridNya dan menyuruh mereka "menerima Roh Kudus". Hembusan nafas itu adalah Roh Kudus, sama seperti sari buah semangka.

Sekarang, saya hendak bertanya kepada Anda, "Di manakah Yesus dalam Injil Yohanes?" Setelah Dia datang kepada murid-murid-Nya, Injil ini tidak pernah menyebutkan kenaikan Yesus ke surga. Lalu di manakah Sang Ajaib ini pada akhir Injil ini? Seperti halnya semangka di dalam lambung, Dia ada di dalam murid-murid melalui Roh itu yang seperti hembusan nafas.

Ekonomi Allah adalah Allah menggarapkan diri-Nya ke dalam kita dengan perantaraan ketiga Persona-Nya. Kita memerlukan ketiga Persona ke-Allahan itu, karena tanpa ketiga Persona itu, Allah tidak bisa digarapkan ke dalam kita. Sama seperti ilustrasi dari semangka itu tadi. Tanpa dipotong menjadi potongan dan diterima sebagai sari, semangka itu tidak akan dapat masuk ke dalam kita. Allah dapat digarapkan ke dalam kita hanya dengan ketiga Persona-Nya yang berbeda itu.

PIKIRAN, HATI, DAN GAMBAR

Kini mari kita berpaling kepada diri kita, dan membahas diri kita sebagai wadah. Jangan mengira diri kita ini begitu sederhana. Saya percaya, para dokter dapat memberi tahu kita bahwa tubuh manusia sangat halus dan rumit. Diri manusia bukanlah wadah yang sederhana seperti sebuah botol yang diisi minuman; sebaliknya, manusia memiliki banyak bagian. Itulah sebabnya kita perlu tabu berbagai bagian manusia seperti halnya ketiga Persona Allah untuk mencapai sasaran ekonomi Allah. Ekonomi Allah melibatkan ketiga Persona-Nya dan tujuan ekonomi-Nya mehbatkan berbagai bagian kita.

Banyak orang di antara kita memiliki mobil. Tetapi udaklah mungkin kita mengemudikan mobil itu kalau kita tidak tahu sedikitnya beberapa bagian dari mobil itu. Kita harus tahu paling sedikit bagian-bagian yang penting untuk menjalankannya. Misalnya, kita harus tahu tempat rem, persneling, pedal gas, dan sebagainya. Jika kita tidak tahu bagian-bagian dari mobil itu, kita tidak akan tahu cara menjalankannya. Demikian pula, kalau kita ingin tahu bagaimana kita dapat menampung diri Allah, kita. harus tahu berbagai bagian diri kita sendiri.

Perhatikanlah, berapa banyak bagian yang terdapat dalam potongan pendek dari 2 Korintus 4. Dalam ayat 4, disinggung pikiran; dalam ayat 6, hati. Paling sedikit dua bagian, pikiran dan hati, terdapat dalam kutipan ini. Mungkin Anda sudah menjadi orang Kristen selama bertahun-tahun, dan sampai saat ini, Anda tidak tahu perbedaan antara pikiran dengan hati. Dari ayat di atas kita tabu bahwa pikiran dapat dibutakan oleh musuh dan hati dapat diterangi oleh terang Allah. Ilah zaman ini membutakan pikiran orang yang tidak percaya, tetapi Allah menyorotkan sinar-Nya ke dalam hati kaum beriman. Mungkin Anda mengira Anda mengerti bagian firman ini, tetapi tidak pernah memperhatikan bahwa di sana ada dua bagian dari diri manusia.

Sebelum mendefinisikan pikiran dan hati dari Alkitab, mari kita memakai kamera sebagai ilustrasi. Kamera dibuat untuk mengambil (memasukkan) sesuatu ke dalamnya. Mengambil gambar berarti memasukkan sesuatu ke dalam kamera itu. Ketika saya mengunjungi Tokyo, saya memakai kamera untuk memasukkan Tokyo ke dalamnya. Maksud saya ialah gambar di luar kamera itu akan saya bawa masuk ke dalam kamera itu.

Apa yang saya perlukan untuk mengambil sebuah gambar dan memasukkannya ke dalam kamera? Tiga benda : lensa yang ada di luar, film yang ada di dalam, dan terang. Dengan ketiga benda itu, sebuah obyek dapat dimasukkan ke dalam kamera. Beberapa tahun yang lalu, ketika saya bepergian dengan kereta api, saya mengambil beberapa gambar. Setelah film itu diproses, banyak di antaranya yang kosong. Apa yang terjadi? Ternyata saya terburu-buru mengambil. gambar sehingga saya lupa membuka tutup lensanya. Lensa kamera itu telah dibutakan oleh penutupnya.

Sering kali, ketika orang yang tidak percaya datang untuk mendengarkan berita Injil, kita mengira, "0, malam ini orang ini akan beroleh selamat." Tetapi akhirnya dia masih kosong. Musuh Allah telah membutakan pikirannya. Pikiran adalah organ untuk memahami, dan Iblis telah membutakan pemahaman pendengar itu. Tidak peduli betapa baik beritanya, dan betapa banyak yang didengarnya, pemahamannya telah dibutakan atau tertutup. Pikirannya masih kosong, tidak ada sesuatu pun yang telah dimasukkan.

Tiga puluh tahun yang lalu, dalam suatu pemberitaan Injil, Saudara Watchman Nee memberi tahu para pendengarnya bahwa kehendak Allah bukanlah supaya kita berbuat baik. Kebaikan tidak berarti apa-apa bagi Allah. Dia menekankan hal ini dengan sangat jelas. Ada seorang saudara membawa seorang temannya menghadiri sidang itu, dan melalui memperhatikan temannya selama pemberitaan itu, dia melihat bahwa temannya itu selalu mengangguk-anggukkan kepalanya dengan positif, seakan-akan dia sudah mengerti. Saudara itu sangat senang, mengira temannya mendengarkan dengan cermat dan menerima semua berita itu ke dalam dirinya. Tahukah Anda apa yang terjadi? Seusai sidang, saudara itu bertanya kepada temannya, "Bagaimana pendapatmu tentang berita tadi?" Ia menjawab, "Ya, semua agama menganjuri orang berbuat baik!" Tetapi, dalam pemberitaannya, Saudara Watdiman Nee menekankan dengan begitu jelas bahwa Allah tidak bermaksud menuntut manusia berbuat baik. Jawaban orang itu menunjukkan bahwa pemahamannya telah dibutakan oleh musuh. Sering kali, kita perlu berdoa mohon Allah mengikat ilah zaman ini, mengikat pekerjaan musuh yang membutakan pikiran orang selama pemberitaan. Berbuat demikian berarti melepaskan/membuka tutup lensa itu.

Setelah tutup lensa dilepas, kita perlu film yang tepat. Tanpa film yang tepat, sekalipun lensanya sudah benar, tetap tidak bisa mengambil gambar. Kita tidak bisa menerima gambar yang tepat jika kita memakai film yang salah. Film itu menggambarkan hati kita. Pikiran kita seperti lensa dan hati kita seperti film. Sebab itu, hati kita harus diarahkan dan disetel dengan tepat. Kita memerlukan lensa, kita juga memerlukan film. Kita memerlukan pikiran yang bisa memahami, kita juga memerlukan hati yang bisa menerima. Hati harus murni, bersih, tepat, dan terarah.

Setelah kita memiliki lensa dan film, kita masih memerlukan terang. Kita memerlukan terang untuk menyinari lensa dan terus menembus ke film. Terang ilahi dari kemuliaan Allah menyinari kita untuk memberi citra dan gambar Kristus. Citra Kristus ini adalah mustika dalam bejana tanah hat. Melalui ilustrasi ini kita dapat memahami bagaimana membereskan pikiran kita dan hati kita. Sama seperti kamera : kita harus tahu bagaimana mengarahkan lensa dan bagaimana memakai film. Jika kita tidak tahu bagaimana menangani lensa dan film, kita tidak bisa menerima gambar yang tepat.

Pengalaman rohani sama seperti mengambil gambar. Kita sendiri adalah kamera, dan kita harus belajar bagaimana memakai kamera kita untuk menerima Allah di dalam Kristus sebagai gambar. Sungguh sayang, begitu banyak orang Kristen yang kekasih tidak tahu cara menangani pikiran dan hati mereka. Bahkan, mereka tidak tahu bahwa diri mereka adalah kamera.

Dikatakan secara tegas, kekristenan bukanlah suatu agama yang mengajar orang untuk melakukan ini dan itu. Kekristenan sebenarnya adalah Kristus itu sendiri, yang hidup, tergarap ke dalam kita. Dialah satu-satunya obyek (sasaran), satu-satunya gambar dan kita adalah kamera. Sebagai obyek, Dia harus tergarap ke dalam kita dengan penyinaran terang ilahi melalui lensa dan terus ke film. Hari demi hari dan saat demi saat, kita memerlukan terang ilahi untuk menyinari lebih banyak citra Kristus melalui pemahaman pikiran, sehingga kita dapat menerima Dia ke dalain hati kita. Sebab itu, kita harus belajar mengarahkan pikiran dan hati kita.

Apa yang dimaksud dengan pengalaman rohani? Pengalaman rohani tidak lain gambar Kristus yang tergarap ke dalain kita, dan tercetak di dalam film rohani kita. Bagi beberapa orang Kristen, lensanya hampir selalu tertutup, dan filmnya selalu kurang tepat. Jika Anda melihat film mereka, tidak ada gambar di dalamnya; setiap foto kosong, karena tidak ada pengalaman atas Kristus. Tetapi jika Rasul Paulus datang dan kita membuka kameranya dan mengambil filmnya, kita akan mendapatkan setiap foto adalah gambar yang penuh dengan Kristus. Semuanya tergantung pada berapa banyak kita mengarahkan lensa dan memperhatikan filmnya - yaitu bagaimana kita menanggulangi pikiran kita dan menyetel hati kita. Jika kita melakukan hal ini dengan baik, setiap kah terang ilahi menyinari kita, citra Kristus akan terpancar ke dalam kita. Kita akan memiliki gambar yang indah dari Kristus. Inilah ekonomi Allah dengan sasarannya.

Kini kita tahu pentingnya mempelajari bagian-bagian kita. Kita dibuat untuk menampung Allah dalam setiap bagian kita. Kita harus terus maju untuk mengetahui setiap bagian kita - lebih dari sekadar pikiran dan hati. Dalam bab berikutnya kita akan membahas dengan rinci semua bagian itu, bagaimana mereka berfungsi, dan bagaimana menanggulanginya.