← Daftar isi Ekonomi Allah Tritunggal · bab 4/24

KUNCI BERKONTAK DENGAN ROH YANG BERHUNI DI BATIN

Dalam terjemahan Alkitab Perjanjian Baru dalam bahasa Inggris yang banyaknya lebih dari 20 macam terdapat perbedaan cara penulisan kata "roh". Ada beberapa terjemahan yang menulis kata tersebut dengan huruf besar dalam hal-hal tertentu, sedang dalam hal serupa dalam terjemahan lainnya tidak demikian. Sebagai contoh, dalam versi King James, kata "roh" dalam Roma 8:2 ditulis dengan huruf besar, yakni "hukum Roh", tetapi tidak demikian dengan terjemahan bahasa Inggris yang bersisipan bahasa Yunani. Versi King James pun menulis kata "Roh" dengan huruf besar dalam ayat 4 - "hidup menurut Roh", begitu pula kata "roh" dalam ayat 5 "mereka yang hidup menurut Roh." Tetapi, dalam terjemahan bahasa Inggris bersisipan bahasa Yunani, kedua kata "roh" dalam kedua ayat tersebut tidak ditulis dengan huruf besar.

Mengapa terdapat perselisihan yang sedemikian dalam penerjemahan? Memang sulit bagi setiap penerjemah untuk menentukan apakah "roh" dalam bagian-bagian itu ditujukan kepada Roh Kudus atau ditujukan kepada roh manusia. Karena roh kita telah berbaur dengan Roh Kudus; kedua roh itu telah berbaur menjadi satu roh (1 Kor. 6:17). Karena itu, yang satu mengatakan bahwa roh ini adalah roh manusia, sedang yang lainnya mengatakannya Roh Kudus. Memang ada konteks beberapa bagian yang cukup jelas bahwa keterangan itu ditujukan kepada Roh Kudus, sedang di bagian lain ditujukan kepada roh manusia.

"Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi 'roh' adalah kehidupan oleh karena pembenaran." Konteks ayat ini, Roma 8:10, jelas menunjukkan bahwa roh di sini bukan Roh Kudus, sebab ia dibandingkan dengan tubuh. Kita tidak dapat membandingkan Roh Kudus dengan tubuh kita. yang rasul bandingkan dengan tubuh kita adalah roh manusia kita. Apakah makna ayat ini? Tubuh kita pada mulanya mati karena dosa, kini Kristus berada di dalam kita, walau tubuh kita yang berdosa tetap mati karena dosa, tetapi roh kita hidup dan penuh dengan hayat karena kebenaran. Maka "roh" yang dikatakan di sini bukanlah Roh Kudus, melainkan roh manusia, yang dibandingkan dengan tubuh manusia.

Dalam Roma 8:11, jelaslah bahwa yang dimaksud adalah Roh Allah. (Apa yang mengikuti frase "Roh Dia" menegaskan bahwa Roh itu adalah Roh Allah). "Jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, tinggal di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam kamu." Ayat 10 mengatakan kepada kita, walaupun Kristus berada di dalam kita, tubuh kita tetap mati karena dosa. Tetapi ayat 11 mengatakan bahwa kelemahan kita, tubuh kita yang fana, akan dibangkitkan, dibangunkan, dan diperkuat oleh Kristus yang berhuni di batin. Karena Kristus hidup di dalam kita, bahkan tubuh kita yang fana, yang telah mati karena dosa, akan dibangkitkan dan dihidupkan pula oleh Roh ilahi yang berhuni di roh kita. Roh yang berhuni di batin ini tidak hanya menghidupkan roh kita, akhirnya juga menghidupkan tubuh kita.

ROH MANUSIA SEBAGAI KUNCI

Mengapa kita menitikberatkan perbedaan antara Roh Kudus dengan roh manusia? Karena pRohlem kita yang terbesar terletak pada kita tidak mengetahui Roh yang menghuni di batin dan tak menyadari bahwa roh manusia sebagai tempat kediaman Roh Kudus; tambahan pula kita tidak mengetahui bahwa kedua roh tersebut telah berbaur menjadi satu roh. Hal ini sangatlah menyedihkan! Padahal itu adalah sasaran ekonomi Allah. Sayang, banyak orang Kristen telah kehilangan sasaran ini. Ibarat sebuah rumah yang tak dapat kita masuki karena kuncinya hilang. Hanya kuncilah yang dapat membuka rumah itu bagi kita, sehingga kita dapat menikmati segala sesuatu yang ada di dalamnya. Berabad-abad lamanya musuh telah menyembunyikan kunci itu. Apakah kunci itu? Roh manusia kita sebagai tempat kediaman Roh Kudus, dan roh manusia kita telah bersatu dengan Roh Kudus yang ajaib.

Firman Allah itu hidup dan tajam, bahkan lebih tajam daripada pedang yang bermata dua, ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh. Selama lebih dari 30 tahun, saya mencoba untuk memahami mengapa firman ini ditulis dan mengapa ia ditulis dalam Ibrani 4. Kini Tuhan telah mewahyukan sebabnya. Surat Ibrani menganjuri kita maju ke depan, dari padang gurun masuk ke tanah permai; dari tahap pengembaraan ke tahap perhentian dalam Kristus yang almuhit. Pada waktu itu, orang Kristen Ibrani sedang dalam bahaya terlepas dari Kristus ke dalam agama Yahudi; hal itu sama dengan kembali lagi ke Tanah Mesir. Mereka telah diselamatkan dari agama Yahudi dan bertujuan memasuki tanah permai perhentian, tetapi mereka mengembara di tengah jalan di antara agama Yahudi dengan Kristus. Surat Ibrani ditulis untuk mendorong mereka maju ke depan melewati tahap pengembaraan dengan mendapatkan Kristus sebagai hayat dan perhentian mereka yang almuhit.

Surat Ibrani juga menyinggung tempat maha kudus. Lagi-lagi, selama beberapa tahun saya tidak dapat mengerti makna tempat maha kudus. Akhirnya saya dibantu oleh Tuhan hingga memahami bahwa tempat maha kudus pada suatu aspek berarti roh kita. Hari ini, roh manusia kita adalah tempat maha kudus. Ketiga bagian darl bait suci itu sepadan dengan ketiga. bagian manusia - tubuh, jiwa, dan roh. Bagian terdalam dari bait, yaitu tempat maha kudus menunjukkan bagian yang terdalam dari manusia kita, yakni roh manusia. Sebagaimana tabut, lambang Kristus itu, berada dalam tempat maha kudus, begitu pula Kristus, hari ini berada di dalam roh kita. Maka roh manusia kita adalah tempat maha kudus, tempat kita dapat berkontak dengan Allah. Jika kita tidak dapat membedakan roh kita, kita pun tidak dapat menemukan tempat maha kudus.

Lagi pula, kita harus mengetahui dengan jelas bahwa hari ini Allah Tritunggal telah merampungkan segala perkara - penciptaan, inkarnasi dan kehidupan serta penderitaan di bumi; Ia telah masuk ke dalam maut dan mengalami maut; Ia telah dibangkitkan, dinaikkan ke surga, dan telah dinobatkan. Setiap perkara telah dicapai oleh Allah Tritunggal yang ajaib, dan semua realitas ini berada dalam. Roh Kudus, yang telah masuk ke dalam kita. Maka penekanannya terletak pada telah disalurkannya Roh Kudus ini ke dalam roh manusia kita, yang kini sebagai tempat kediaman Allah. Roh kita adalah organ untuk menerima Allah dan menampung-Nya. Jika kita ingin berkontak dengan Roh yang ajaib ini, kita harus mengetahui roh kita. Kalau Anda ingin menghubungi saya, Anda harus mengetahui tempat tinggal saya. Ibrani 4:12 ditulis untuk mendorong kita maju ke depan, ke dalam tempat maha kudus, yakni roh kita. Kalau kita tidak mengetahui bagaimana membedakan roh kita, mustahillah kita dapat menemukan tempat maha kudus, yaitu tempat kediaman Tuhan pada hari ini. Ekonomi Allah ialah Allah menyalurkan diri-Nya sendiri ke, dalam kita, dan tempat Ia menyalurkan diri-Nya ialah roh kita. Setelah kita dapat membedakan roh kita dan melatih roh kita untuk berkontak dengan Tuhan, barulah kita dapat diresapi dan dijenuhi oleh Tuhan, sehingga kita diubah menjadi serupa dan segambar dengan-Nya.

HAL-HAL YANG MENYIMPANGKAN KITA

DARI KUNCI

(1) Kebaikan

Musuh berusaha menggagalkan kita, dalam hal membedakan roh kita. Segera setelah kita diselamatkan, ia sudah melakukan hal ini dengan cara membantu kita bertekad untuk berbuat baik. Tak seorang pun yang bebas dari sarannya yang licik ini. Bahkan pagi hari ini juga ada beberapa orang yang berdoa, "Tuhan, aku ingin melakukan kehendak-Mu; aku ingin mencari perkenan-Mu; aku ingin berusaha sedapat mungkin untuk melakukan perkara-perkara yang dapat memuaskan-Mu." Doa demikian kedengarannya baik sekah. Tetapi itu bukan berasal dari Tuhan, melainkan berasal dari musuh. Bila kita mempunyai keinginan yang sebaik itu, kita harus melompat bangun dan mengusir setan pergi. Dalam kamus Kristen saya tidak ada istilah "jahat" maupun "baik"; yang ada dari awal hingga akhir hanya satu istilah saja, yakni "Kristus". Saya tidak mengerti baik maupun jahat, saya pun tidak mau dibantu untuk berbuat baik, saya hanya mau Kristus!

Sekarang Anda dapat memahami perkataan Tuhan, "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Siapa saja yang tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak." Di sini tidak ada satu pun perkara yang berasal dari usaha kita sendiri. Hanya dengan tinggal saja di dalam Sang Penghuni batin, dan membiarkan-Nya tinggal dalam kita, maka segala kekayaan Kristus akan dinyatakan melalui kita. Menghasilkan buah adalah karya yang dikerjakan oleh Kristus yang berhuni di batin. Kita seharusnya berkatal "Aku tak tahu ini, aku pun tak tahu itu, aku hanya tahu satu hal saja, yaitu aku sebagai sebuah carang, dan Dia sebagai pokok anggur; aku harus tinggal di dalam Dia, dan memblarkan Dia tinggal di dalamku." Dengan sendirinya kita akan herbuah. Itulah kunci yang telah hilang. Berusaha berbuat baik merupakan suatu cobaan yang nyata dan suatu penyelewengan yang besar dalam hal mengalami Kristus.

(2) Doktrin-doktrin

Doktrin-doktrin merupakan muslihat lainnya yang dipakai musuh untuk menyimpangkan para pencari Tuhan dari Kristus. Abad demi abad, doktrin-doktrin, antara lain seperti keselamatan kekal, berbagai zaman, penakdiran, anugerah yang sempurna, dan lain sebagainya, sering dipakai musuh untuk menyimpangkan orang Kristen dari Kristus yang hidup. Saya tahu ada orang Kristen yang sangat hafal akan Alkitab, sehingga ada seorang dari antara mereka sampai dijuluki sebagai "konkordansi hidup". Kalau Anda tidak dapat menemukan bagian tertentu dalam Alkitab, ia dapat dengan segera menunjukkan kata-kata itu tercantum dalam kitab, pasal dan ayat mana. Namun saya dapat bersaksi bahwa pengetahuan mereka tentang masalah berkontak dengan Kristus sebagai hayat sangatlah sedikit. Memiliki pengetahuan Alkitab itu satu perkara, tetapi mengetahui Dia yang hidup yang diwahyukan Alkitab itu perkara yang sangat berlainan. Kristus harus dihubungi melalui Alkitab. Tetapi, sayang sekah, banyak orang Kristen hanya memiliki Alkitab dalam tangan dan dalam ingatan saja, Kristus itu sendiri sangatlah sedikit dalam roh mereka. Hukum Taurat Musa membawa orang kepada Kristus dan memelihara mereka bagi Kristus, ia membantu orang untuk mengetahui Kristus, tetapi kebanyakan orang hanya memelihara Taurat, tanpa mengenal Kristus itu sendiri; hukum Taurat telah disalahgunakan. Hari ini, pRohlemnya tetap tak berubah. Asas yang sama itu berlaku pula atas semua doktrin dan ajaran-ajaran Alkitab. Doktrin hanya sebagai sarana atau perantara untuk mengalami Kristus, namun banyak orang Kristen menggunakan doktrin atau pengetahuan sebagai pengganti Kristus.

(3) Karunia-karunia

Perkara lain yang diperalat oleh musuh ialah karunia-karunia rohani. Memang pengertian yang wajar tentang karunia-karunia itu perlu, agar orang mengetahui betapa karunia-karunia itu berkaitan dengan ekonomi Allah. Itu berlaku bagi semua karunia. Namun banyak orang yang berkarunia terlampau banyak menaruh perhatian kepada karunia mereka, dan sedikit banyak telah mengabaikan Kristus yang berhuni di batin. Justru Kristus yang berhuni di batin itu barulah sasaran ekonomi Allah, dan semua karunia sebenarnya untuk sasaran ini. Banyak orang mengetahui bagaimana berbahasa roh dan bagaimana melakukan penyembuhan, tetapi mereka tidak tahu bagaimana membedakan roh dan berkontak dengan Kristus. Walau saya tidak menentang karunia yang mana pun, tetapi saya menentang satu perkara, yaitu hanya menaruh perhatian penuh kepada karunia, tetapi menganggap sepi perihal pembedaan roh yang berguna untuk berkontak dengan Kristus. Itu sepenuhnya keliru.

Dalam Surat Roma sedikit sekali tempat yang diberikan bagi karunia-karunia. Surat Roma merupakan sketsa umum dari kehidupan dan perbuatan orang Kristen, tetapi dalam sketsa yang sedemikian tidak banyak keterangan tentang karunia. Dari 16 pasal, hanya satu pasal (pasal 12) yang menyinggung sedikit hal tersebut. Bahkan bila kita membaca seluruh pasal 12, kita nampak bahwa di situ tidak saja ada karunia bernubuat, ada pula karunia menunjukkan kemurahan dan membagi-bagikan benda-benda material (Rm. 12:5-8). Karunia-karunia yang disebut di sini berasal dari pengalaman atas Kristus yang hidup sebagai anugerah di dalam setiap orang beriman. Tidak semua orang Kristen memiliki karunia bernubuat, itu hanya salah satu dari sekian banyak karunia. Walau kita tidak menentang karunia yang mana pun, namun kita harus memberi tempat yang wajar kepada setiap karunia; jika tidak, kita akan menjadi pincang.

Satu Korintus 12 dan 14 juga menyinggung masalah karunia. Kaum beriman di Korintus telah memiliki semua karunia, tanpa kekurangan yang mana pun (1 Kor. 1:7). Tetapi, walaupun mereka memiliki semua karunia, kondisi kerohanian mereka dilukiskan sebagai yang duniawi dan belum dewasa (1 Kor. 3:1). Mungkin kita memiliki karunia-karunia, namun kita tetap kekanak-kanakan atau hijau dan duniawi. Tak dapat disangkal bahwa kita dapat menerima bantuan dari karunia-karunia itu, namun kita perlu mempel ari sesuatu yang lebih banyak lagi. Tanda-tanda dan hikmat adalah karunia (1 Kor. 1:22), tetapi rasul memberitakan "Kristus yang tersalib" dan "Kristus, kuasa dan hikmat Allah." Satu-satunya keinginan rasul adalah menyuplaikan Kristus sebagai kuasa dan hikmat - bukan penyataan karunia maupun tanda-tanda. Semua karunia, hanyalah suatu bantuan, bukan tujuan dan sasaran; sasarannya ialah Kristus yang berhuni di batin. Karunia-karunia itu hanya sebagai pembantu kita untuk mencapai sasaran ini.

Satu Korintus 12 mengatakan tentang karunia-karunia yang rohani, termasuk berbahasa lidah, tetapi pada akhir pasal itu Paulus mengatakan tentang "jalan yang lebih utama". Ungkapan ini dalam bahasa Yunani lebih kuat lagi, yaitu "jalan yang paling utama". Apakah jalan yang paling utama itu? Pasal 13 adalah lanjutan ayat tersebut. Di sana dikatakan dengan jelas, "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang." Kita hanya mendengar suatu suara, tetapi tidak dapat melihat hayat! Kasih adalah ekspresi hayat. Ini membuktikan bahwa bahasa lidah, (dikatakan dengan cermat), bukanlah masalah hayat. Berbicara dengan bahasa lidah tanpa memperhatikan hayat akan menjadi seperti gong yang berkumandang. Banyak orang yang sering berbahasa lidah, namun kehidupan atau hayat kekristenannya sangat dangkal dan hijau.

Dalam pasal 14, rasul menganjuri kita untuk lebih banyak melatih roh kita demi kebaikan kerohanian gereja. Itulah kesimpulan seluruh pasal tersebut. Sekalipun Paulus lebih banyak berbahasa lidah daripada oranglain, tetapi ia sendiri lebih suka mengucapkan lima kalimat yang dapat dimengerti dalam pertemuan gereja daripada beribu-ribu kata dalam bahasa lidah (ayat 18-19). Dalam pasal ini, rasul memperlihatkan suatu sikap yang agak negatif terhadap bahasa lidah. Daripada menganjuri mereka mempraktekkan bahasa lidah, ia lebih baik mengatur orang Korintus itu dengan beberapa instruksi yang korektif. Karena itu, kita harus dapat menarik kesimpulan bahwa segala karunia hanyalah sekadar untuk mengalami Kristus, dan harus dipakai dalam proporsinya yang wajar.

Kunci ekonomi Allah ialah Kristus sebagai segala sesuatu yang tergarap ke dalam roh kita. Sudah tentu, kita perlu ajaran-ajaran dan karunia-karunia tertentu untuk membantu kita mencapai sasaran itu. Tetapi kita tidak seharusnya mengizinkan doktrin maupun karunia menggantikan sasaran ini. Sasaran ini bukan ajaran, juga bukan karunia, melainkan Kristus itu sendiri; Dialah Roh yang hidup yang menghuni roh kita. Bagi beberapa orang, suatu karunia mungkin diperlukan untuk membantu mereka mencapai sasaran ini, namun tidak semua orang memerlukan karunia yang sama. Mungkin ada orang perlu karunia bernubuat, ada pula yang perlu karunia berbahasa lidah; mungkin ada yang perlu karunia penyembuhan, sedang yang lainnya perlu doktrin-doktrin tertentu. Memang banyak orang Kristen telah tertarik kepada Kristus lewat ajaran-ajaran tertentu, namun hendaklah kita ketahui dengan jelas bahwa Kristus yang menghuni roh kita itulah kunci ekonomi Allah. Kita harus menaruh perhatian sepenuhnya atas kunci ini. Sebenarnya, kita tidak perlu menaruh perhatian istimewa ke atas ajaran atau karunia yang mana pun jika Kristus yang berhuni di batin ini telah terealisasikan di dalam roh kita.

Hamba Abraham yang tua diutus dengan membawa sejumlah hadiah untuk memperoleh seorang istri bagi Ishak. Semua hadiah itu membantu Ribka menyadari bahwa ia harus pergi menemui Ishak. Itulah kedudukan atau fungsi yang sebenarnya dari setiap karunia. Tetapi setelah Ribka menerima pemberian-pemberian tersebut, ia seolah-olah melupakan semuanya itu, dan berkata, “Aku ingin pergi kepada Ishak! Aku tidak akan merasa puas tinggal di sini untuk menikmati pemberian-pemberian ini hingga melupakan Ishak. Aku ingin pergi menemui mempelai laki-lakiku.” Setelah Ribka menikah dengan Ishal, pemberian-pemberian itu tidak lagi disebut-sebut. Hari demi hari Ribka hanya menikmati hidup bersama Ishak. Kristus jauh lebih indah daripada bahasa lidah, nubuat dan setiap perkara lainnya!

Dengan kunci di tangan saya, saya dapat membuka semua pintu dan menikmati seluruh rumah itu. Kalau saya tidak memiliki kunci, saya harus mencari tukang kunci; tetapi kalau saya telah memiliki sebuah kunci, bantuan tukang kunci itu tidak lagi diperlukan. Kebutuhan saya yang utama ialah kunci itu, bukan tukang kunci. Sebagaimana saya tidak perlu tukang kunci bila saya sudah memiliki kunci, begitu pula bila kita telah mendapatkan Kristus yang berhuni dalam roh kita, maka karunia-karunia maupun ajaran-ajaran itu tidak lagi diperlukan.

Mungkin ada orang yang masih memerlukan ajaran atau karunia tertentu untuk menemukan kunci, tetapi puji Tuhan, selama kunci ada di tangan kita untuk mencapai Kristus, 1upakanlah semua ajaran dan karunia. Marilah kita menaruh perhatian kita sepenuhnya untuk membedakan roh kital berkontak dengan Kristus yang hidup dan bersekutu dengan-Nya. Demi memperoleh kunci, Allah telah membagikan beberapa karunia dan ajaran. Kita boleh memuji Tuhan atas rahmat ini, tetapi kita harus berhati-hati. Kita tidak boleh menaruh perhatian terlalu banyak kepada si tukang kunci itu, hingga setiap hari mengunjunginya. Jika kita telah memiliki kunci, ucapkanlah terima kasih kepada tukang kunci, dan tinggalkanlah dia! Pakailah kunci itu untuk masuk ke dalam rumah dan memperoleh kekayaannya. Dari hari ke hani, belajarlah mengenal Allah Tritunggal yang ajaib ini, Kristus yang tak terduga ini, dan Roh Kudus yang almuhit, yang kini berada dalam roh kita. Kita pasti memiliki kunci ini apabila kita membedakan roh kita. Ya, kita mempunyai kunci! Dalam hal apa saja yang kita perlukan dari Kristus, haruslah kita menghubungi-Nya dengan melatih roh kita. Itulah sasaran ekonomi Allah. Meskipun Tuhan memberi kita ajaran-ajaran dan karunia-karunia, tetapi sasaran kita ialah Dia, Sang Almuhit yang serba lengkap itu sendiri. Janganlah kita puas dengan apa pun selain Dia itu sendiri. Tujuan ekonomi Allah ialah supaya Kristus yang almuhit berhuni di dalam roh kita. Sepanjang hari, yang harus kita tuntut ialah beralih ke dalam roh kita, membedakan roh kita dan berkontak dengan Kristus sebagai segala sesuatu kita. Demikianlah baru kita memiliki kunci untuk menempuh kehidupan orang Kristen yang wajar dan normal.