GEREJA – ALLAH TERNYATA DALAM TUBUH DAGING
"Jadi, jika aku terlambat, engkau sudah tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga (rumah) Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran. Sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita, Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa, yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan" (1 Tim. 3:15-16).
Ada tiga aspek dari gereja yang disebutkan dalam ayat 15 : "keluarga Allah", "jemaat dari Allah yang hidup", dan "tiang penopang dan dasar kebenaran". Ayat 16 melanjutkan dengan "Agunglah rahasia ibadah, yaitu Allah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia (tubuh daging)." Apakah hubungan kedua ayat ini? Ada orang yang mengatakan dengan benar bahwa titik koma (;) pada akhir ayat 15 lebih baik daripada tanda titik (.) yang berarti selesai : "… tiang penopang dan dasar kebenaran; sesungguhnya, agunglah rahasia ibadah kita, Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia…"
GEREJA – RUMAH ALLAH
Mengapa gereja disebutkan bersama dengan penyataan Allah di dalam rupa manusia (tubuh daging)? Karena gereja adalah keluarga Allah. Apa makna istilah "rumah Allah" ini? Ketika Anda menyebut "rumah Anda", tentu yang Anda maksudkan adalah tempat Anda tinggal, tempat Anda hidup, tempat Anda melangsungkan hidup Anda; demikian pulalah makna keluarga Allah. Ini bukanlah istilah yang remeh atau sederhana. "Rumah Allah" adalah tempat Allah berdiam, tempat Allah tinggal, dan tempat Dia melangsungkan hidup-Nya.
Rumah ini tidak lain adalah gereja dari Allah yang hidup. Perhatikanlah, istilah yang dipakai di sini bukan hanya "Allah", melainkan "Allah yang hidup". Dia begitu hidup; dan kini Dia tinggal di dalam gereja, bergerak di dalain gereja, hidup di dalam gereja, dan melangsungkan hidup-Nya di dalam gereja. Ketika kita berkata bahwa gereja adalah rumah Allah, kita harus memiliki kesadaran yang sangat dalam bahwa Allah tinggal, berdiam, dan melangsungkan hidup-Nya di dalam rumah ini. Adakah kita pengertian yang mendalam seperti itu terhadap rumah Allah?
GEREJA –
TIANG PENOPANG DAN DASAR KEBENARAN
Gereja ini bukan hanya rumah Allah, tempat Allah berdiam, tinggal, dan melangsungkan hidup-Nya, tetapi juga tiang penopang dan dasar kebenaran. Apakah kebenaran? Jangan mengira kebenaran adalah doktrin atau ajaran. Kata "kebenaran" dalam potongan ayat tersebut berarti "realitas". Tidak ada yang riil dalam alam semesta ini, tidak ada yang merupakan kebenaran; segalanya hanya merupakan bayangan. Segala hal yang dapat dilihat, yang dapat dijamah, yang dapat dimiliki dan dinikmati, tidaklah riil, melainkan paling-paling (tidak lebih dari) satu bayang-bayang saja. Apa saja yang ada di dalam alam semesta hanyalah bayang-bayang, bukan sesuatu yang riil.
Apakah yang riil? Kristus sebagai realitas segala jesuatu. Makanan yang Anda makan bukanlah makanan sejati, melainkan hanyalah bayang-bayang dari makanan yang sejati. Makanan yang sejati adalah Kristus. Jika Anda tidak memiliki Kristus, Anda tidak memiliki realitas dari makanan. Mungkin Anda mengira bahwa kehidupan Anda sebagai manusia adalah riil, tetapi tidak demikian; itu pun hanyalah bayang-bayang. Kehidupan yang sejati adalah Kristus. Jika Anda memiliki Anak Allah, Anda memiliki hidup; jika Anda tidak memiliki Anak Allah, Anda tidak memiliki hidup (1 Yoh. 5:12).
Jika seorang saudara mengirimkan fotonya kepada Anda mungkin Anda akan berkata, "Ini adalah Saudara A," Tetapi pada kenyataannya, itu bukanlah Saudara A. Itu hanya sebuah gambar; sebenarnya, semua gambar (potret) adalah palsu, karena benda yang riil tidak terdapat dalam gambar (potret) itu. Alam semesta tidak lain daripada sebuah gambar. Semua lambang, semua kiasan, semua bayang-bayang dalam Perjanjian Lama hanyalah gambar-gambar dari realitas yang akan datang, yaitu Kristus sendiri. Kristus adalah kebenaran, Kristus adalah realitas dari alam semesta, Kristus adalah realitas dari Perjanjian Lama dan juga realitas dari Perjanjian Baru. Jika Anda hanya memiliki pengajaran tentang Kristus, Anda tidak memiliki realitas Kristus. Kristus sendirilah kebenaran, dan Roh-Nya adalah Roh kebenaran (Yoh. 14:17; 15:26; 16:13; 1 Yoh. 5:7). Dia sendiri adalah realitas dan Roh-Nya adalah Roh realitas.
Gereja, tempat kediaman, tempat tinggal dan tempat bergeraknya Allah yang hidup, adalah tiang penopang dan dasar realitas. Gereja mengandung realitas. Dalam gereja ini berdiam Allah yang hidup, dan pada gereja ini, kebenaran, realitas berdiri tegak. Kita bukan berdiri untuk doktrin, melainkan kita berdiri untuk Kristus, realitas, kebenaran. Kita harus dapat berkata, "Teman, datang dan lihatlah, datanglah ke dalam gereja dan lihatlah realitas dari alam semesta. Datanglah dan lihatlah realitas hidup, realitas kasih, realitas kesabaran, dan realitas banyak hal lainnya."
Suatu sore pada tahun 1933, ketika saya mengunjungi saudara Watchman Nee, tiba-tiba dia bertanya, "Saudara, apakah kesabaran?" Mula-mula, saya pikir ini adalah pertanyaan yang kekanak-kanakan. Sejak masih kanak-kanak saya sudah diajari apa yang disebut kesabaran. Tetapi karena pertanyaan itu muncul dari mulutnya, saya tidak bisa menganggapnya ringan; saya mempertimbangkannya lebih lama, "Apa yang dia maksudkan dengan ‘apakah kesabaran itu’?..." Saya tidak berani menjawab. Dia sedang duduk di kursi goyang, bergoyang-goyang depan dan belakang. Akhirnya saya memberanikan menjawab, "Kesabaran adalah suatu keadaan bila orang menderita dan menahan perlakuan buruk dari orang lain. Itulah kesabaran." Lalu dia berkata, "Bukan!" ia bertanya, "Baiklah, saudara, jika kesabaran bukan ketahanan, katakanlah kepadaku, apakah kesabaran?" Sambil terus bergoyang-goyang di kursinya, dia terus bertanya, "Apakah kesabaran? Apakah kesabaran?"
Setelah cukup lama, tiba-tiba dia menjawab, "Kesaran adalah Kristus." Jawabannya begitu pendek dan sangat sederhana. "Kesabaran adalah Kristus." Saya benar-benar tidak bisa mengerti bahasa yang "asing" ini. Saya berkata, "Saudara, nampaknya aneh bagiku. Aku tidak mengerti. Katakanlah apa maksudmu?" Dia tidak mau mengatakan apa-apa lagi, selain terus-menerus berkata, "Kesabaran adalah Kristus, kesabaran adalah Kristus." Sepanjang sore itu kami tidak membicarakan hal lain. Saya sungguh-sungguh merasa tidak enak.
Tiga atau empat jam kemudian saya meninggalkan dia dengan perasaan yang sangat kecewa. Sesampainya di kamar, saya berlutut dan berdoa, "Tuhan, beritahukanlah padaku, apa maksudnya 'kesabaran adalah Kristus'? Aku tidak bisa mengerti." Akhirnya Tuhan menunjukkan kepada saya bahwa kesabaran kita haruslah Kristus itu sendiri. Kesabaran adalah Kristus hidup di dalam saya dan melalui saya. Ah, ketika saya nampak hal itu, itu benar-benar suatu wahyu bagi saya! Saya sungguh-sungguh lembira!
Kita harus sadar bahwa kesabaran manusia, yang dapat kita capai berdasarkan diri kita sendiri, bukanlah kesabaran yang sejati. Kesabaran manusia hanyalah suatu bentuk dan suatu bayang-bayang; kesabaran yang sejati adalah Kristus. Segala hal yang kita perlukan - kesabaran, kerendahan hati, kebaikan, kasih terhadap orang lain, dan bahkan kasih terhadap Allah - dapat kita temukan dalam diri Kristus. Bahkan sepuluh perintah dalam hukum Taurat juga adalah bayang-bayang belaka; Kristuslah realitas itu. Jika kita memiliki Kristus tertampil melalui kita, kita memiliki realitas dan kegenapan dari semua tuntutan kesepuluh perintah.
Gereja harus memiliki (mengemban) kebenaran, realitas. Gereja harus menjadi tiang penopang dan dasar realitas alam semesta ini, yaitu Kristus itu sendiri. Kita harus dapat memberi tahu orang, "Datanglah ke dalam gereja dan lihatlah kesabaran yang sejati dan kerendahan hati yang sejati. Datanglah kepada kami dan lihatlah kesetiaan yang sejati dan realitas dari kejujuran."
Dalam gereja Allah berdiam, karena gereja adalah rumah Allah. Allah hidup, Allah bergerak, dan Allah melangsungkan hidup-Nya di dalam gereja dan kesaksian serta realitas berdiri tegak pada gereja. Kita harus memperhatikan kedua aspek ini : di dalam, tempat kediaman Allah di dalam gereja; dan di luar, gereja mengemban kesaksian dan realitas. Kedua aspek ini menunjukkan perbauran yang sejati antara Allah dengan manusia. Dalam gereja - kelompok orang-orang yang telah ditebus, dilahirkan ulang, dan diubah - Allah bersemayam; dan pada kelompok orang ini, terdapat realitas alam semesta. Semua realitas alam semesta terpusat dalam kelompok ini. Jika seseorang ingin tahu apa itu hayat, dia harus datang ke dalam gereja dan melihatnya di sana. Jika seseorang ingin tahu apa itu kasih, ia juga harus datang melihatnya dalam gereja. Jika realitas dari kerendahan hati dan kebaikan hendak diperlihatkan, gereja adalah tempat untuk melihatnya. Pada sekelompok orang ini tertampak realitas dari Kristus yang almuhit. Kesaksian gereja bukan terdapat dalam doktrin, melainkan dalam mengemban Kristus sebagai realitas. Semakin kita menyerukan "Kristus", tetapi tanpa realitas batiniah, Kristus akan semakin hilang. Kita hanya memiliki Kristus dalam teriakan, dalam pembicaraan dan dalam ajaran. tidak memiliki-Nya dalam hayat batiniah kita, dan mengalami-Nya dalam kehidupan lahiriah kita, dalam hidup kita sehari-hari. Gereja harus merupakan tiang penopang dan dasar, yang mengemban Kristus sebagai satu-satunya realitas dari segala sesuatu. Jika kita tahu makna sejati dari hidup ini, kita harus datang ke dalam gereja dan mendapatkannya di sana.
GEREJA - PENYATAAN ALLAH DALAM
RUPA MANUSIA (TUBUH DAGING)
Inilah makna yang tepat dari "rumah Allah" dan "tiang penopang dan dasar kebenaran". Gereja ini adalah kelanjutan dan penggandaan dari "Allah menyatakan diri dalam rupa manusia". Itulah sebabnya Rasul Paulus menjajarkan kedua ayat tersebut. Penyataan Allah dalam rupa manusia sangat erat hubungannya dengan gereja sebagai rumah Allah dan tiang penopang dan dasar kebenaran. Bila kita adalah Tubuh Kristus yang hidup di suatu tempat, kita benar-benar rumah Allah dan tiang penopang dan dasar realitas. Maka, kita adalah pertambahan, perluasan dari penyataan Allah dalam rupa manusia-Allah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia sekali lagi, namun dalam cara yang lebih besar. Prinsip Perjanjian Baru adalah prinsip inkarnasi, yang tidak lain adalah "Allah sendiri menyatakan diri dalam rupa manusia." Dengan kata lain, Allah berbaur dengan manusia bukan secara luaran, melainkan secara batiniah. Gereja adalah penyataan Allah, bukan penyataan doktrin atau karunia. Gereja harus menyatakan Allah di dalam Kristus melalui Roh itu, bukan menampilkan doktrin atau karunia.
BUKAN DIBANGUN DENGAN
PERUBAHAN LUARAN
Saya berbeban, karena saya khawatir banyak saudara saudari dengan tidak sadar mengira bahwa kita hendak membentuk satu gerakan baru atau melatih orang untuk membentuk suatu pola baru bagi gereja. Inilah masalah kita yang sebenarnya. Kita semua harus menengadah kepada Tuhan, memohon agar pikiran dan pengertian semacam itu bisa tertanggal sepenuhnya. Pikiran dan pengertian semacam itu harus terlucut dari darah kita sama sekali. Di sini kita tidak bermaksud mengadakan suatu gerakan baru. Tidak! Sama sekali tidak! Kalau kita bermaksud demikian, itu hanya membuktikan kita tidak mengenal ekonomi Allah. Saya harus menekankan berkali-kali bahwa gereja bukanlah sesuatu yang terbentuk menurut pola tertentu. Allah yang hidup tinggal di dalam kita, ini bukanlah perkara doktrin. Menurut hidup mereka sehari-hari, kebanyakan orang Kristen hari ini tidak mengenal jalan hayat batiniah dan Kristus sebagai hayat kita. Ini benar-benar menyulitkan kita dan membebani kita. Ketika orang mendapatkan suatu pengertian atau belajar suatu metode, mereka berusaha memulai sesuatu yang baru di tempat mereka berada. Ini bukanlah jalan Tuhan.
Yang kita perlukan hari ini bukanlah sekadar perubahan pakaian melainkan perubahan darah. Darah yang alamiah harus diubah. Kita tidak hanya perlu mengganti jalan yang luaran, melainkan hidup kita yang batiniah. Misalnya seseorang dulu adalah pastur/pendeta yang begelar "Yang Terhormat". Mungkin dia juga memakai jubah imam, dengan kerah baju di belakang. Kemudian menerima terang bahwa semua hal itu salah : gelar "Pastur/pendeta" itu salah, kerah baju yang mengarah ke belakang itu salah, dan jubah hitam keimaman itu salah. Lalu dia melepaskan semua hal itu; dia menanggalkan gelar keimaman dan mulai memakai pakaian biasa. Sesudah itu, dia kembali bekerja bagi Tuhan di tempat lain dengan cara lain, tanpa gelar dan tanpa jubah imam itu.
Saya tidak mengatakan hal ini benar atau salah, tetapi saya ingin mengatakan satu hal : kita harus melihat apakah dalam orang itu terjadi suatu perubahan yang sejati. Memang dia sudah melepaskan semua perkara yang lalu, tetapi perubahan itu terlalu lahiriah. Dulu orang ini melayani dengan dirinya sendiri, dengan hayat alamiahnya. Kini dia mengalami perubahan dalam hal luaran, tetapi adakah dia mengalami perubahan dalam hayat batiniahnya? Mungkin saja, dia masih bekerja dan melayani Tuhan dengan hayat yang sama ketika dia masih menyandang gelar itu. Walaupun dia mengalami perubahan yang sejati secara lahiriah, namun dalam batinnya dia masih tetap sama. Perubahan semacam itu hanyalah merupakan gerakan luaran. Dulu dia mempraktekkan "gereja" dengan menggunakan pemungutan suara dan membentuk panitia pelaksana; kini dia melepaskan hal itu dan mengumpulkan sekelompok penatua. Walaupun ini adalah perubahan yang sejati, tetapi tidak ada yang berubah dalam hayat batiniahnya. Perubahan yang di luar bukanlah hasil dari perubahan batiniah di dalam hayatnya, karena itu, hal itu hanya menjadi pergerakan baru yang agamais.
Kita harus mengalami perubahan di dalam hayat batiniah dan mengenal gereja. Gereja adalah perbauran Allah dengan manusia. Alasan yang telah kita kemukakan begitu banyak tentang jiwa, roh, dan hati adalah karena hal ini membantu kita mengenal Allah sebagai isi kita dan kita adalah wadah-Nya. Kita harus tahu bagaimana mengarahkan hati kita, sehingga kita bisa membuka hati kita dan membiarkan-Nya masuk; dan kita harus tahu bagaimana melatih roh kita untuk bisa berkontak dengan-Nya, menampung-Nya dan bahkan mencerna-Nya. Misalnya, Anda makan bistik pada malam hari. Ketika Anda sudah menampung bistik itu di dalam lambung Anda selama empat jam, bistik itu akan dicerna dan menjadi unsur-unsur pembangun tubuh Anda. Inilah gambaran yang benar tentang gereja. Tetapi kekristenan saat ini lebih merupakan agama daripada realitas hayat. Persoalannya hari ini bukanlah perubahan bentuk yang di melainkan perubahan hayat di batin.
TIDAK DIBANGUN DENGAN AJARAN
Selanjutnya, kita tidak seharusnya hanya memperhatikan ajaran. Untuk membantu kita, izinkan saya memakai gambaran yang sederhana. Ketika masih kecil, sayaa dan banyak orang lain belajar di sekolah Kristen dan menerima pendidikan Kristen. Kami diajari cerita-cerita Alkitab. Meskipun kami belum beroleh selamat, kebanyakan di antara kami terbawa masuk ke dalam kekristenan dan belajar doktrin-doktrin. Sering kali kami berdebat dengan orang-orang dan mengatakan bahwa kekristenan adalah agama yang paling benar. Misionaris melayankan semua doktrin dan ajaran kepada kami. Kami diajari bahwa Allah adalah Allah yang memiliki tiga Persona - Bapa, Putra, dan Roh. Kami diajari bahwa Kristus dilahirkan oleh seorang dara; hidup, berjalan, dan bekerja di bumi ini; kami pun percaya bahwa Dia bangkit. Tetapi jika Anda bertanya kepada kami, "Sudahkah kamu beroleh selamat?" kami tidak tahu. Bagi kami, Allah dan Kristus hanya merupakan suatu istilah. Saya harus bersaksi bahwa sampai saat itu, hampir tidak ada yang jelas tentang keselamatan di dalam gereja, di antara beberapa ratus anggotanya. Namun mereka dikenal sebagai "orang Kristen". Kadang-kadang semua anggota gereja berbaris di jalan, memegang kayu salib dan bernyanyi "Maju Laskar Kristus." Saya menceritakan hal ini untuk menggambarkan betapa kosongnya ajaran.
Hari ini beberapa orang tetap saja memberitakan serangkaian ajaran seperti penetapan sebelumnya, kehendak bebas, anugerah yang mutlak, dan keamanan kekal. Anda bisa menyampaikan semua ajaran itu, tetapi hayat dan roh di dalam orang-orang tidak terjamah. Menyambung kesaksian saya, suatu hari seorang anggota keluarga kami beroleh selamat, dan kemudian saya juga beroleh selamat. Akhirnya kami benar-benar menjamah Allah dan hayat menjamah kami dengan dalam dan menghasilkan suatu perubahan yang sejati. Bahkan kehidupan luaran dan perilaku luaran kami pun berubah. Perubahan yang sejati dalam hidup kami juga mempengaruhi orang lain sehingga mereka juga beroleh selamat. Mulai saat itu kami tahu bahwa kami harus memiliki sesuatu. yang lebih dari sekadar ajaran. Semua ajaran dalam Alkitab haruslah merupakan sarana untuk menyalurkan Kristus ke dalam kita. Jika ajaran-ajaran itu tidak mencapai tujuan itu, kita benar-benar akan kekurangan sesuatu.
TIDAK DIBANGUN DENGAN KARUNIA
Prinsip yang sama berlaku pula terhadap karunia. Hari ini banyak orang Kristen mengira, karena mereka memiliki karunia, mereka cukup rohani. Tetapi sebenarnya tidaklah demikian. Jika Anda membaca Surat I Korintus, Anda dapat nampak keadaan kaum beriman Korintus. Mereka memakai karunia melebihi rasul (1 Kor. 14:18-20), tetapi apakah mereka memiliki pertumbuhan hayat yang sejati? Tidak, mereka bersifat daging dan kekanak-kanakan (1 Kor. 3:1-3). Sebagaimana ajaran haruslah merupakan sarana untuk menyalurkan Kristus kepada orang lain, demikian pula karunia haruslah merupakan sarana untuk menyalurkan Kristus. Maksud Allah hari ini bukanlah memberikan banyak ajaran dan karunia kepada kita, melainkan untuk melayankan dan membagikan Kristus ke dalam kita.
Ada satu kisah nyata. Saya berjumpa dengan orang yang penuh dengan pengetahuan Alkitab; tetapi ketika dia berbicara tentang Alkitab, dia mengutarakannya sambil mengisap rokoknya. Setelah berbicara tentang Kitab Matius, dan sepuluh anak dara selama setengah jam, dia berkata, "Maafkan aku, aku harus mengisap rokok sebentar. Aku tahu ini salah, tetapi aku lemah." Kemudian dia melanjutkan dengan berbicara tentang Kitab Wahyu dan membicarakan sepuluh tanduk, tujuh kepala, dan empat puluh dua bulan. Dia memiliki kekuatan untuk mengajar, tetapi akhirnya dia harus berkata, "Maaf, aku harus merokok lagi." Walaupun dia begitu kuat dalam ajaran Alkitabnya, dia dia sangat lemah dalam hidup rohaninya.
Saya juga melihat banyak orang berbahasa lidah. Setelah memperagakan, mereka begitu ceroboh dalam hidup sehari-hari mereka. Sebagian orang bahkan lebih ceroboh daripada orang yang tidak percaya. Mudah saja bagi mereka untuk marah-marah di rumah. Semua perkara itu hanya membuktikan satu hal, bahwa maksud Allah bukanlah memberi kita ajaran dan karunia, melainkan memberi kita Kristus, yang hidup. Dia memakai ajaran, bila disampaikan dengan cara yang tepat, untuk menyalurkan Kristus kepada kita; dan kadang-kadang Dia memakai karunia-karunia tertentu sebagai sarana untuk melayankan Kristus kepada kita dan merangsang orang untuk menerima Kristus. Tetapi kita semua harus sadar bahwa maksud Allah adalah agar kita mengenal Yang hidup, Allah Tritunggal, dan mengalami Kristus dalam Roh Kudus.
Ingatkah Anda cerita dalam Perjanjian Lama, tentang seekor keledai yang berbicara dalam bahasa manusia? Itu adalah bahasa lidah! Saya sangsi, apakah semua bahasa lidah yang dilakukan orang hari ini ada yang sejati. Baru-baru ini saya membaca suatu artikel yang mencantumkan bahwa penulis artikel itu telah berkontak dengan lebih dari seratus orang yang berbahasa lidah, namun mereka semual tanpa terkecuali, menyangsikan apakah bahasa yang mereka ucapkan itu sejati atau palsu. Tetapi penulis artikel itu masih mendorong orang untuk tidak meragukan, melainkan tetap melanjutkan berbahasa lidah. Setelah saya membaca artikel itu, aku berkata kepada diri sendiri, "Pada hari Pentakosta, apakah Petrus meragukan bahasa lidah yang diucapkannya? Adakah seseorang saat itu yang ragu-ragu seperti itu?" Tetapi hari ini, mengapa begitu banyak orang mempertanyakan bahasa lidah yang mereka ucapkan itu sejati atau palsu? Jawaban yang sederhana untuk pertanyaan itu adalah banyak bahasa lidah yang diucapkan orang hari ini tidak sejati.
Tetapi sekalipun Anda berbahasa lidah sejati, ketahuilah, itu bukan hayat. Bahkan Raja Saul pun menerima pencurahan Roh Kudus (1 Sam. 19:22-24), tetapi tidak berpikir bahwa dia mengalami hayat. Sebaliknya, hal itu menelanjanginya. Setelah dia menerima pencurahan Roh Kudus, dia menelanjangi dirinya! Ini menunjukkan bahwa pencurahan Roh Kudus berbeda dengan hayat. Hayat bukanlah pencurahan Roh Kudus; hayat adalah Kristus sendiri di dalam Roh.
O, saudara-saudari, saya mohon Anda sebisanya memahami bahwa saya tidak mencoba mengecam, tetapi saya benar-benar tertekan oleh beban saya. Ketika saya melihat keadaan yang memprihatinkan dari umat Tuhan, saya tidak tahu apa yang harus saya katakan atau saya lakukan. Ketika ajaran disampaikan, orang-orang begitu menanggapi. Ketika menyebutkan karunia, banyak orang yang terangsang. Tetapi ketika hayat batini dan Kristus berhuni di batin diberitakan, betapa perlunya wahyu yang batiniah! Doktrin dan karunia adalah sesuatu yang luaran, tetapi Kristus tersembunyi di dalam. Oh, betapa perlunya umat Tuhan mengenal yang berhuni di dalam Dia begitu hidup dan berkuasa - membuat kita bertobat, mengatur kita, menguatkan kita, menyegarkan kita, dan selalu mengubah dan memenuhi kita.
TIDAK DIBANGUN DENGAN KEDUDUKAN
Kita juga harus nampak bahwa pembangunan gereja bukanlah perkara kedudukan atau tanggung jawab, melainkan perkara hayat dalam batin kita. Ini bukan perkara menaruh seseorang pada kedudukan tertentu, melainkan pertumbuhan mencapai kedewasaan dari hayat batiniah. Batin kita harus digarap oleh Allah melalui pekerjaan-Nya yang batiniah. Semakin kita meletakkan orang pada kedudukan, kita akan semakin tidak memiliki apa-apa. Tetapi semakin kita membantu orang menyadari pertumbuhan hayat, hayat akan semakin berkembangbiak. Pertumbuhan dari hayat batiniah adalah jalan yang pasti untuk membangun gereja. Kemudian melalui hayat yang matang, kita akan dengan spontan bersyarat untuk memikul tanggung jawab.
Sekali lagi, kita perlu mengulangi : Maksud Allah adalah menyalurkan Kristus ke dalam kita dan membuat Kristus menjadi segala sesuatu di dalam kita. Allah memakai ajaran untuk membantu orang, memakai karunia untuk membantu orang, tetapi itu bukanlah perkara yang utama. Wahyu batiniah diperlukan untuk melihat tujuan Kristus yang hidup dan tinggal di dalam kita. Kemudian, di mana saja kita berkumpul bersama, kita menjadi rumah Allah yang hidup. Allah yang hidup tinggal, hidup, dan bekerja di dalam kita; dan kita mengemban kesaksian Yesus, yaitu realitas dari alam semesta. Kemudian kita akan memiliki penyataan sejati dari Allah yang hidup dalam rupa manusia. Inilah jalan pemulihan Allah hari ini. Mari kita menengadah kepada Tuhan untuk anugerah yang batiniah, agar kita bisa memiliki realitas gereja.