← Daftar isi Ekonomi Allah Tritunggal · bab 24/24

VISI TENTANG SASARAN EKONOMI ALLAH

Ekonomi Allah dengan sasarannya sudah dipaparkan pada permulaan buku ini, tetapi setelah membaca semua bab di depan, masih ada kemungkinan bagi kita untuk mengabaikannya. Dengan perkataan yang lebih sederhana ekonomi Allah adalah Allah menggarapkan diri-Nya ke dalam kita. Untuk merampungkan hal ini, Dia harus lakukannya dalam tiga Persona - Bapa, Putra, dan Roh. Dari awal buku ini kita sudah menggunakan banyak waktu membahas ekonomi Allah Tritunggal. Allah tidak pernah bermaksud memberi kita doktrin tentang Allah Tritunggal dalam Alkitab. Doktrin hanya melibatkan kita dalam berbagai konsepsi yang berbeda. Tetapi Alkitab benar-benar mewahyukan bagaimana Allah merampungkan ekonomi ilahi-Nya dalam tiga Persona yang berbeda.

Telah kita tunjukkan bahwa kata "ekonomi" dalam bahasa Yunani berarti "administrasi, kepengurusan keluarga, pemerintahan, pengaturan, dispensi/penyaluran". Kata dispensi atau penyaluran dipakai tanpa menyinggung suatu kurun waktu, melainkan mengandung makna penyaluran diri Allah ke dalam kita. Sekali lagi kita ulangi, maksud Allah adalah menyalurkan diri-Nya ke dalam kita. Rencana ini adalah inti dari penciptaan dan penebusan-Nya. Allah menciptakan dan menebus manusia untuk tujuan ini, agar manusia bisa menjadi suatu wadah untuk menampung penyaluran diri-Nya. Di alam semesta - waktu, ruang, dan kekekalan - inti ekonomi Allah adalah menyalurkan diri-Nya ke dalam umat manusia.

Akhirnya, kesimpulan puncak dari semua pekerjaan Allah, yang mencakup penciptaan, penebusan, dan pengubahan, adalah perbauran semesta antara Allah dengan manusia. Jadi, Yerusalem Baru muncul sebagai hasil akhir dari semua pekerjaan Allah seperti yang tercatat dalam keenam puluh enam kitab dari Alkitab. Hasil ini ialah perbauran semesta antara Allah dengan manusia. Yerusalem Baru adalah suatu perbauran diri Allah dengan manusia yang korporat. Pada saat itu mereka tidak akan bersifat alamiah lagi, tetapi setiap bagian dan setiap aspek sudah dilahirkan kembali, diubah, dan dibentuk menjadi serupa dengan Allah dan bersama Allah sebagai hayat. Mereka tentu sudah diubah dalam sifat dan diserupakan dalam penampilan mereka dengan diri Allah sendiri. Jika kita hendak melayani Tuhan dengan cara yang tepat, kita perlu memiliki visi ini. Visi ini bukan sesuatu yang baru, melainkan visi asli dari permulaan zaman gereja. Tetapi visi ini harus menjadi sesuatu yang baru dan diperbarui dari hari ke hari di dalam kita. Visi ini harus menjadi visi yang mengendalikan semua pekerjaan kita, hidup kita, dan kegiatan kita.

SASARAN YANG DIRAMPUNGKAN

DALAM EMPAT TAHAP

Apakah sasaran ekonomi ini? Pertama, Bapa, yang adalah sumber, telah diletakkan di dalam Putra. Bapa dengan segala kelimpahan-Nya telah tertampil dalam Persona Putra. Putra adalah penjelmaan/perwujudan dan ekspresi Bapa; tidak ada seorang pun selain Putra, yang pernah melihat Allah Bapa. Dalam Putra, Allah telah merampungkan semua yang direncanakan-Nya dengan empat tahap besar : inkarnasi, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan. Keempat tahap besar ini telah merampungkan semua yang Allah rencanakan dalam kekekalan.

Melalui inkarnasi, Allah dibawa masuk ke dalam manusia. Allah telah dibawa masuk ke dalam sifat manusia dan telah hidup di dalamnya selama tiga puluh tiga setengah tahun di bumi. Penderitaan apa saja yang dialami manusia di bumi ini, telah Allah derita yang menderita bukan hanya manusia yang bernama Yesus, melainkan juga Allah yang ada di dalam-Nya.

Berikutnya adalah penyaliban. Dua belas perkara negatif seperti Iblis, manusia yang telah jatuh, dosa, dunia, kematian dan sebagainya, telah dibawa kepada salib dan diakhiri. Semua perkara negatif itu telah diakhirl di atas salib.

Setelah penyaliban, menyusul kebangkitan. Kebangkitan memulihkan dan meninggikan standar umat manusia yang diciptakan oleh Allah dan membawa sifat insani ke dalam Allah. Melalui inkarnasi, sifat ilahi telah dibawa masuk ke dalam manusia; melalui kebangkitan, sifat insani telah dibawa masuk ke dalam Allah. Kini manusia bisa memiliki lebih dari sekadar sifat insani ciptaan, karena sifatnya telah dilahirkan kembali, ditinggikan, dan dibawa masuk ke dalam Allah. Setelah kebangkitan, Kristus dipamerkan kepada alam semesta sebagai satu "model". Dalam model ini Allah ada di dalam manusia dan manusia ada di dalam Allah. Karena semua perkara negatif telah dibereskan dan diakhiri oleh salib, maka dalam model ini tidak ada lagi sesuatu yang negatif.

Model ini kemudian naik ke surga dan dilantik dengan kemuliaan dan kekuasaan. Pikiran manusia tidak dapat memahami gambaran ini. Pada tahap ini, segalanya sudah rampung; tidak ada satu pun yang belum rampung. Model ini, yaitu Allah berbaur dengan manusia dan manusia berbaur dengan Allah, naik jauh melampaui segalanya dalam ruang dan waktu. Dia terangkat ke tempat yang paling tinggi di alam semesta dan dilantik dengan kemuliaan dan kekuasaan.

Kemudian, dari yang dipermuliakan ini, Roh Kudus datang sebagai pengaliran suatu aliran yang berisi banyak unsur. Sifat ilahi, sifat insani, kehidupan insani, penderitaan insani, kematian salib, kebangkitan, kenaikan dan pelantikan adalah unsur-unsur yang tercakup dalam Roh Kudus. Seperti telah kita ketahui, pengaliran yang ajaib ini adalah "dosis yang almuhit" - apa saja yang kita perlukan ada di dalam "dosis" ini. Sebagai pengaliran yang demikian, Roh Kudus telah dicurahkan ke dalam kita. Pada hari kebangkitan dan pada hari Pentakosta, Roh Kudus dari Yesus, Roh yang mencakup segala unsur, masuk ke dalam orang-orang Kristen sebermula dan turun kepada orang-orang Kristen sebermula. Di satu pihak, Dia masuk ke dalam kita, dan di pihak lain, Dia turun kepada kita. Allah dalam tiga Persona-Nya membaurkan diri-Nya dengan kita.

SASARAN BEKERJA/BERGERAK

DI DALAM ROH MANUSIA

Sasaran ekonomi Allah adalah : Allah dalam tiga Persona masuk ke dalam kita. Perjanjian Baru lebih banyak mengisahkan fakta bahwa Allah di dalam Roh telah masuk ke dalam kita daripada mengisahkan fakta turun-Nya kepada diri kita. Kata yang sederhana ini, "ke dalam" atau "di dalam", muncul banyak kali dalam Alkitab Perjanjian Baru - Kristus "di dalamku", Kristus "hidup di dalamku", Kristus "terbentuk di dalamku", Kristus "berumah di dalamku", "tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu" dan sebagainya. Jika Anda ada waktu, hitunglah berapa banyak kata yang sederhana ini dipakai dalam Perjanjian Baru. Allah sengaja membuat manusia dengan tiga bagian, agar Dia dapat masuk ke dalam manusia dan manusia bisa mencapai tujuan-Nya. Manusia, seperti telah kita lihat, adalah makhluk yang terdiri dari tiga bagian (tubuh, jiwa, dan roh), berhubungan dengan kemah pertemuan dengan tiga bagiannya (pelataran luar, tempat kudus, dan tempat maha kudus). Hanya bagian yang paling dalam adalah tempat berdiamnya kemuliaan Allah yang agung dan tempat diletakkannya tabut perjanjian yang melambangkan Kristus. Ini menunjukkan kepada kita dengan jelas bahwa Allah dan Kristus telah datang untuk tinggal di dalam roh kita. Roh kita adalah bagian yang paling dalam dari diri kita, sebagaimana tempat maha kudus adalah bagian paling dalam dari kemah pertemuan.

Kita dapat menelusuri hal ini dari Alkitab dengan sangat jelas, khususnya dalam 2 Timotius 4:22, "Tuhan menyertai rohmu." Juga dalam Efesus 4:6, Allah Bapa ada di dalam kita; 2 Korintus 13:5, Allah Putra ada di dalam kita; dan Roma 8:11, Allah Roh ada di dalam kita. Allah Tritunggal dalam Persona Bapa, Putra, dan Roh kini ada di dalam roh kita. Inilah sasaran ekonomi Allah : Allah Tritunggal, di dalam roh kita, menjadi hayat dan segala sesuatu kita. 0, betapa ekonomi Allah telah diabaikan dalam abad-abad yang lampau oleh anak-anakNya! Kita harus memulihkan sasaran Allah ini di dalam roh kita.

Dengan memakai roh kita sebagai pusat-Nya, Allah menggarapkan diri-Nya ke bagian luar diri kita. Allah Tritunggal ada di dalam pusat (inti) diri kita. Ini sangat ajaib! Allah masuk ke dalam sifat insani, membawa sifat insani ke dalam sifat ilahi, dan mengakhiri semua perkara negatif, kini Allah Tritunggal dan semua yang telah dirampungkan-Nya ada di dalam roh kita sebagai hayat dan segala sesuatu kita. Dari tempat yang inti ini, Allah Tritunggal meluas untuk menjenuhi bagian-bagian batin kita dengan diri-Nya. Roh manusia adalah kedudukan dari sasaran ekonomi Allah. Jika kita mengabaikan kedudukan ini, berarti kita mengabaikan sasaran ekonomi Allah. Saya tidak mengatakan ini adalah tujuan akhir ekonomi Allah, melainkan sasaran. Sasaran ini telah diabaikan oleh kebanyakan orang Kristen hari ini. Kita boleh saja membicarakan banyak hal dalam Alkitab, namun tetap tidak menyinggung kedudukan ini! Sebenarnya, kita harus sadar bahwa semua pengajaran dari keenam puluh enam kitab dalam Alkitab adalah untuk sasaran ini. Semua karunia yang berbeda-beda dan berbagai fungsi adalah untuk sasaran ini dan harus dipusatkan pada sasaran ini.

Bagaimana kita dapat menyadari Allah Tritunggal tinggal di dalam roh kita? Bagaimana kita dapat mengalami Roh yang berhuni di dalam roh kita ini? Kita harus sadar bahwa Allah Tritunggal selalu bekerja di dalam kita (Flp. 2:13). Dia sedang bekerja di dalam kita, bukan di luar kita; dan bahkan Dia bekerja di dalam kita lebih banyak daripada bekerja di atas diri kita. Perkataan Yunani yang diterjemahkan "bekerja" sebanding dengan kata "energizing" (menguatkan, memberi tenaga) dalam bahasa Inggris. Allah yang berhuni di dalam kita memberi tenaga di dalam diri kita sepanjang waktu. Dia juga hidup di dalam kita melalui Kristus yang "hidup di dalamku". Dengan kata lain, Allah Tritunggal ada di dalam kita hari ini sebagai hayat kita. Pada hayat ini, juga terdapat hukum batiniah, hukum yang hidup - bukan hukum harfiah, melainkan hukum hayat. Hukum hayat yang ilahi ini selalu mengatur kita dari dalam (Ibr. 8:10). Di samping mengatur kita dari dalam, Allah Tritunggal yang berhuni di dalam kita ini juga mengurapi kita dari dalam sepanjang waktu (1 Yoh. 2:27).

Mari kita bahas keempat kata ini lebih lanjut - bekerja, hidup, mengatur, dan mengurapi. Gereja benar-benar memerlukan wahyu batiniah dan pengalaman batiniah dari keempat hal ini! Kita tidak seharusnya menganggap hal-hal itu sebagai suatu ajaran, melainkan harus mengalami Allah Tritunggal setiap hari bekerja di dalam kita, hidup di dalam kita, mengatur kita, dan mengurapi kita. Kita harus membiarkan Allah Tritunggal yang ajaib ini terus-menerus mengatur kita dalam pemikiran kita, dalam motivasi kita, dalam perkataan kita, dalam sikap kita, dan dalam hubungan kita dengan orang lain. Bahkan perkara makan dan berpakaian kita pun perlu diatur oleh-Nya. Kita harus mengalami-Nya sedemikian rupa dan secara praktis. Ini tidak seharusnya merosot menjadi satu ajaran belaka; ajaran tidaklah berguna. Bila ini dipraktekkan, ini akan membuat suatu perubahan yang besar dan cepat. Kita harus menyadari bahwa Kristus yang demikian ajaib ini telah menghuni roh kita dengan tujuan bekerja dan hidup di dalam kita, serta mengatur dan mengurapi kita.

SASARAN MEMBANGUN GEREJA

Jika kita tidak mengalami-Nya secara praktis, tidaklah mungkin kita membangun gereja. Ini digambarkan dalam lambang Hawa, yang dijadikan dengan mengambil sesuatu dari diri Adam (Kej. 2:21-24; Ef. 5:30-32). Hawa adalah bagian dari Adam, sesuatu yang berasal dari Adam. Hanya yang keluar dari Adam (berasal dari Adam) yang dapat menjadi istri Adam. Setiap bagian dan setiap aspek Hawa adalah sesuatu yang berasal dari Adam. Ini menegaskan bahwa gereja hanya dapat dibangun dengan sesuatu yang berasal dari Kristus. Ajaran dan karunia tidak bisa membangun gereja. Kristus itu sendirilah yang berada di dalam kaum saleh, satu-satuya bahan untuk membangun Tubuh Kristus. Jika kita kekurangan pengalaman hidup oleh Kristus secara praktis, kita hanya akan menjadi semacam "gereja yang agamis".

Selanjutnya, kita harus belajar mengalami Kristus bukan hanya sebagai hayat kita, tetapi juga sebagai makanan kita, roti hayat kita. Dialah suplai makanan di dalam kita. Hari demi hari kita harus makan Kristus dan menerima rawatan dari-Nya. Ini tidak seharusnya hanya berupa ajaran bagi kita, melainkan menjadi pengalaman kita setiap hari dan setiap jam. Dalam Yohanes 6:57 Tuhan berkata, siapa saja yang makan Dia akan hidup oleh Dia. Jika kita hendak hidup, oleh Kristus, kita harus makan Dia; kemudian, Dia akan menjadi begitu nyata bagi kita. Sungguh menyedihkan, banyak orang Kristen tidak makan Kristus setiap hari.

Saya akan berikan gambarannya. Ketika Anda baru lahir, mungkin berat Anda sekitar enam atau delapan pon (2.730 gram - 3.640 gram), tetapi sekarang berat Anda lebih dari 100 pon (45,5 kg). Tubuh Anda telah terbangun/bertumbuh. Coba katakan pada saya, dengan apa Anda bertumbuh? Dengan pergi ke restoran dan melihat daftar menu? Tentu saja tidak. Tubuh Anda terbangun dengan barang-barang yang Anda makan, dengan banyak telur, ayam, kentang, apel, pisang, dan sebagainya. Lalu, bagaimana Tubuh Kristus terbangun? Bukan dengan ajaran, karena semakin sering Anda diajari cara-cara makan, Anda akan semakin kurus. Sebenarnya, jika Anda hanya belajar cara atau seni makan, kita akan segera menyiapkan sidang pemakaman bagi Anda. Mungkin Anda belajar banyak hal dan bahkan menjadi ahli diet (gizi) yang terbaik, tetapi Anda akan cepat mati! Demikian pula, mungkin Anda tahu semua ajaran yang baik, Alkitabiah dan rohani, namun Anda kelaparan karena kurang makan. Hari ini gereja memerlukan "ibu-ibu" untuk merawat orang-orang muda dan bukan memberi mereka ajaran, melainkan sesuatu dari Kristus untuk dimakan dan diminum.

Jika Anda bertanya pada saya, apa yang merisaukan saya pada hari-hari ini, saya akan beri tahu Anda dua hal : pertama adalah meskipun begitu banyak saudara dan saudari terkasih yang sudah benar-benar nampak perkara negatif dari kekristenan, dan sedikit tentang jalan Tuhan dengan gereja-Nya, saya khawatir, mereka akan mempraktekkan hidup gereja dengan metode luaran. Mungkin Anda akan berkata, "Dulu aku menggembalakan sebuah gereja dengan cara tertentu, tetapi kini aku nampak bahwa cara itu salah. Maka aku akan meninggalkan cara itu dan memakai cara lain." Ini masih tetap suatu kegiatan agamis, bukan membangun Tubuh Kristus. Pembangunan Tubuh Kristus adalah sesuatu yang berasal dari dalam Anda harus makan Kristus dan minum Kristus, sehingga Anda mendapat rawatan dari Kristus. Bila Anda penuh dengan Kristus, Anda akan melayankan sesuatu dari-Nya sebagai makanan kepada orang lain. Dengan demikian, Tubuh Kristus akan terbangun.

Ini bukanlah suatu metode. Jika Anda membaca seluruh Perjanjian Baru, Anda tidak dapat menemukan satu pun metode. Jika saya memiliki satu metode, metode itu tidak lain adalah : pertama, Anda harus ditaruh di atas salib; kedua, Anda harus makan Kristus di dalam roh dari hari ke hari; ketiga, ketika Anda dirawat dengan Kristus dan penuh dengan Kristus, Anda perlu merawat orang lain dengan Kristus. Kemudian, gereja akan terwujud. Satu-satunya metode adalah pergi ke atas salib, makan Kristus, dan merawat orang lain dengan Kristus.

Perkara lain yang merisaukan saya adalah : Meskipun kita telah berulang-ulang membicarakan Kristus sebagai hayat kita, saya khawatir kita hanya tahu hal ini sebagai suatu berita, sebagai istilah, sebagai judul pembicaraan; kita tidak memiliki pengalaman setiap hari dan setiap jam. Kita perlu terus-menerus diatur dan diurapi oleh-Nya. Setiap hari dan setiap jam, kita harus makan Dia dan memiliki persekutuan yang intim dengan Dia. Kita perlu melupakan diri kita lalu berkontak dengan Dia, menikmati Dia, diatur oleh Dia, dan diurapi oleh Dia sepanjang waktu. Inilah hayat batiniah, pengalaman batiniah terhadap Kristus yang berhuni di dalam kita. Saya sarankan Anda membaca buku yang ditulis oleh Andrew Murray, berjudul The Spirit of Christ (Roh Kristus). Buku itu akan memberi bantuan yang besar - bukan untuk memperoleh pengetahuan, melainkan untuk mengalami Kristus yang berhuni di batin kita dalam hidup sehari-hari Anda. Ketika Anda membiarkan Kristus menjadi makanan Anda sehari-hari, Anda dapat bersaksi kepada alam semesta, "Aku mengecap Kristus hari demi hari. Aku memiliki persekutuan yang begitu intim dan hidup degan-Nya jam demi Jam. Aku berada di bawah pengaturan-Nya dan pengurapan-Nya sepanjang waktu." Kita semua perlu mencurahkan perhatian penuh kepada perkara ini. Inilah sasaran ekonomi Allah. Jika kita mengabaikan sasaran ekonomi Allah ini dalam, roh kita, bagaimana ekonomi-Nya dapat terlaksana di dalam gereja? Ketika Anda mengemudikan mobil Anda, Anda tahu tempat bensin, dan tempat untuk menyalakan mesin; itulah sasaran untuk menjalankan mobil Anda. Jika Anda tidak tahu sasaran itu, walaupun Anda mungkin memiliki mobil yang bagus sekali, mobil itu tidak akan bisa dijalankan!

Itulah sebabnya Kitab Ibrani memberi kita ayat seperti pasal 4:12. Firman Allah begitu hidup dan menembus, sehingga bisa memisahkan roh kita dari jiwa kita. Semua pengalaman yang diajarkan dalam Kitab Ibrani harus diterima dengan cara memisahkan roh (dari jiwa). Kristus yang almuhit sebagai tanah permai ada di dalam roh, tempat kediaman-Nya di dalam tempat maha kudus juga ada dalam roh kita. Jika Anda tidak tahu bagaimana membedakan jiwa dari roh, Anda akan kehilangan sasaran dan tidak bisa menikmati Kristus. Setiap hari, Anda harus berurusan dengan Kristus yang hidup, yang begitu subjektif bagi Anda. Kristus ada di batin Anda, Dia begitu hidup, begitu riil, begitu praktis. Ketika Anda makan Dia, minum Dia, dan berpesta makan Dia sebagai perawatan Anda setiap hari, Anda akan hidup oleh Dia, dengan Dia dan berada di bawah pengaturanNya yang konstan, serta, pengurapan-Nya yang teratur. Inilah yang perlu kita alami sepanjang waktu jika kita hendak membagikan Kristus sebagai makanan kepada orang lain. Jika orang lain diberi makan Kristus, Dia akan menjadi bahan bangunan di dalam mereka dan kemudian Tubuh Kristus akan perlahan-lahan bertumbuh dan terbangun. Saya benar-benar menengadah kepada Tuhan agar mata kita tercelik, nampak visi surgawi dan wahyu batiniah dari Kristus yang hidup, berhuni di dalam kita dan subjektif di dalam roh kita sebagai sasaran ekonomi Allah.

DIPERBARUI DARI SEHARI KE SEHARI

Pasal

1 2

Pasal Satu

DIPERBARUI DARI SEHARI KE SERARI

Pembacaan Alkkab:

2Kor. 4:16, 10-11; Tit. 3:5b; Ef. 4:23; 5:26; Mat. 26:29;

1Kor. 11:27-31; Mat. 18:21-22, 35; Ef. 4:32; 5:2; Mat. 5:23-24

Dalam berita ini kita akan membahas proses pembaruan sesuai dengan ketetapan Allah, yang harus kita alami dalam kehidupan orang Kristen. Dua Korintus 4:16 mengatakan, "Manusia batiniah kita diperbarui dari sehari ke sehari. " Saudara Watchman Nee pernah berkata, bahwa I dan II Korintus boleh dianggap sebagai otobiografi dari rasul Paulus. Kehidupan yang dilukiskan dalam kedua surat tersebut penuh dengan kehidupan yang menderita. Namun jika kita mempelajari dan memasuki kedalaman surat itu, kita akan nampak, sebenarnya yang diberitakannya tak lain adalah masalah pembaruan. Segala penderitaan yang Allah aturkan bagi kita, hanya mempunyai satu tujuan, yaitu ingin memperbarui kita. Tak peduli kita ini baik atau buruk, kita adalah ciptaan lama. Namun dalam ekonomiNya, Allah ingin menciptakan sesuatu yang baru dari antara ciptaan lamaNya. Dalam waktu yang singkat, Allah telah menciptakan ciptaan lama melalui firmanNya. Dalam lima hari Ia telah menciptakan ciptaan lama. Pada hari keenam Ia menciptakan manusia, dan Ia mengaso pada hari ketujuh, hari Sabat. Ciptaan lama ini bukanlah sasaran Allah. Ciptaan lama ini hanya merupakan bahan-bahan dan ruang lingkup yang akan Allah pakai untuk memperoleh sesuatu yang baru.

Diperbarui Melalui Empat Jaman

Menurut Alkitab, dalam ciptaan lamaNya, Allah menggunakan empat jaman untuk menciptakan sesuatu yang baru. Jaman yang pertama adalah jaman sebelum hukum Taurat, yaitu jaman leluhur; dari Adam sampal kepada Musa mengumunikan hukum Taurat. Jaman kedua adalah jaman hukum Taurat, yaitu sejak Musa mengumumkan hukum Taurat sampai kedatangan Tuhan yang pertama. Jaman yang ketiga adalah jaman kasih karunia, yang dimulai dari kedatangan Tuhan yang pertama sampai kedatangan Tuhan yang kedua kalinya. Jaman keempat adalah jaman kerajaan, yaitu setelah Tuhan datang kedua kalinya, Ia akan mendirikan pemerintahan Allah di bumi ini, supaya dalam realisasi kerajaan Allah, Ia melaksanakan kerejaan Allah seribu tahun. Dalam keempat jaman ciptaan lama ini, Allah bekerja untuk melahirkan ciptaan baru. Setelah keempat jaman tersebut, datanglah langit baru dan bumi baru dan Yerusalem Baru sebagai intinya. Yerusalem Baru adalah yang terbentuk dari semua orang yang ditebus, dilahirkan ulang, diubah dan dibawa ke dalam kemuliaan. Orang-orang yang telah ditebus oleh Allah ini, akan menjadi Yerusalem Baru di dalam kemuliaanNya, dan Yerusalem Baru yang terbentuk dari orang-orang yang hidup dan beroleh kemuliaan ini, mutlak baru adanya, sedikit pun tanpa keusangan.

Hari ini kita berada dalam proses pembaharuan untuk menjadi Yerusalem Baru. Syukur kepada Allah, hari ini kita berada di jaman yang ketiga, yaitu jaman kasih karunia. Dalam jaman ini, terjadilah hal-hal yang ajaib. Antara lain, Allah Tritunggal itu sendiri telah menjadi seorang manusia. Ia tidak saja telah datang kepada manusia, bahkan telah menjadi daging datang kepada manusia. Melalui berinkarnasi, Dia mendatangi manusia. Hal ini betapa ajaib! Allah Tritunggal berinkarnasi; ini jauh lebih agung dan besar daripada Dia menciptakan langit dan bumi. Maka salah satu perkara yang paling besar dan paling ajaib, adalahAllah telah berinkarnasi menjadi manusia. Allah sendiri, yaitu Allah yang sempurna ini, masuk ke dalam rahim seorang dara. Di sana Dia tinggal sembilan bulan lamanya, kemudian terlahir sebagai manusia Allah. Sang Bayi yang disebut Yesus, yang dilahirkan di malaf di Betlehem ini, tidak hanya sebagai manusia. Dia adalah manusia Allah.

Perkara kedua yang terjadi dalam jaman kasih karunia ini ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi ini telah menjadi manusia, hidup di bumi, tidak hanya hidup sebentar saja, melainkan telah hidup tiga puluh tiga setengah tahun lamanya. Ia tidak tinggal di kota yang ternama, melainkan di tempat yang dipandang rendah oleh manusia, di kota yang terhina, yaitu Nazaret, Galilea. Ia tidak dibesarkan di rumah orang yang kaya dan tersohor, melainkan di rumah yang miskin, yaitu rumah seorang tukang kayu. Kita boleh mengatakan, bahwa tukang kayu ini ialah Yesus; tapi kita pun barns tahu, bahwa tukang kayu ini adalah Allah. Allah hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun. Alangkah ajaibnya hal ini!

Perkara ajaib yang ketiga ialah Dia pergi ke kayu salib, mengalami kematian yang almuhit. Melalui kematianNya Ia telah membereskan segala kesulitan dalam alam semesta. Ia telah mengakhiri seluruh ciptaan lama. Dalam kematianNya yang almuhit itu, Ia pun telah melepaskan hayat ilahiNya.

Perkara ajaib yang keempat dalam jaman kasih karunia ialah Kristus telah bangkit dan naik ke sorga. Tidak saja diriNya sendiri telah bangkit, Ia pun telah membangkitkan semua orang pilihanNya bersama Dia, termasuk Anda dan saya. Dalam statusNya sebagai manusia, Ia telah naik ke sorga tingkat tiga. Jarak antara bumi dan bulan sangat pendek. Tetapi jarak antara bumi dengan sorga tingkat tiga, sungguh jauh di luar dugaan manusia. Dalam kenaikanNya, Ia telah menjadikan diriNya sebagai Roh yang almuhit, lalu dicurahkan ke bawah, dan Roh itu adalah kesempurnaan terakhir dari Allah Tritunggal. Sebagai Roh yang demikian, Ia telah mencuralikan diriNya sendiri ke atas diri orang pililian Allah, agar mereka semua menjadi TubuhNya. Hari ini kita menjadi bagian dari Tubuh Kristus yang ajaib ini. Semua keajaiban yang tersebut di atas adalah keajaiban yang sudah terjadi. Namun sayang, kebanyakan kita tidak begitu mengerti atau kurang tuntas mengerti hal tersebut. Ini dikarenakan kita kekurangan visi. Walaupun kita telah menderita susah, kita belum lagi nampak dan belum mengerti dengan tuntas tujuan penderitaan kita itu.

Beroleh Pembaruan Melalui Penderitaan

Sewaktu saya masili merupakan orang Kristen muda, saya mengira, kalau sudah menjadi anak Allah, pasti Allah akan mengaruniai saya banyak kebaikan, memberkati saya. Ada beberapa penginjil menjamin kepada orang, yaitu jika seseorang pereaya kepada Tuhan Yesus Kristus, ia tidak hanya beroleh selamat, bahkan akan mendapatkan banyak berkat. Mereka mungkin berkata, berkat-berkat itu adalah sukacita, damai sejahtera yang lahiriah; banyak orang yang telah percaya Yesus Kristus karena hal tersebut. Siapakah yang tidak ingin beroleh berkat duniawi, agar dirinya merasa sukacita, damai sejahtera? Namun banyak orang Kristen bisa bersaksi, setelah mereka percaya Tuhan Yesus, dalam lingkungan mereka, tidak ada damai sejahtera yang lahiriah itu. Ada pula orang-orang yang beroleh jaminan, setelah pereaya Tuhan Yesus, pasti beroleh damai sejahtera dan sukacita. Namun, kenyataannya berlainan. Mereka mungkin kehilangan pekerjaan atau mengalami kecelakaan kendaman. Kehidupan orang Kristen seolah-olah tanpa berkat yang lahiriah, sebaliknya, penuh penderitaan.

Sejak tahun 1925 hingga kini, saya telah menjadi orang Kristen selama enam puluh empat tahun. Dalam hidup Kristiani yang saya tempuh ini, penderitaan yang saya alami lebih banyak daripada damal sejahtera dan sukacita yang saya nikmati di dunia ini. Benar-benar kita dapat bersaksi, kehidupan Kristiani kita lebih banyak penderitaannya daripada menikmati damai sejahtera dan sukacita secara lahiriah. Ketika saya baru menikah, itulah saat-saat yang menggembirakan. Namun banyak orang dapat bersaksi, bahwa kehidupan perkawinan mereka lebili banyak menderitanya daripada menikmati damai sejahtera dan sukacita secara lahiriah. Banyak orang yang sudah menikah pernah berpikir, bahwa mereka telah salah memilih jodoh. Adanya pikiran semacam itu membuktikan kita telah menerima banyak sengsara dalam hal pernikahan. Memiliki anak juga merupakan perkara yang menggembirakan; anak-anak kita begitu mustika bagi kita. Namun, orang-orang yang telah memiliki anak dan meliliat anak-anaknya mulai besar, menjadi dewasa, dapat bersaksi, bahwa apa yang dialami melalui anak-anak itu lebih banyak susahnya daripada senangnya.

Mungkin kita mengira bahwa rasul Paulus adalah orang yang paling berbahagia, karena dia tidak beristri dan tidak mempunyai anak. Memang, Paulus tak memiliki anak-anak jasmani, namun ia memiliki banyak anak rohani. Dia memiliki lebih banyak anak daripada kita semua. Dalam II Korintus dikatakan, penderitaan yang dialaminya, terutama ialah berasal dari anak-anak rohaninya.

Saudara Nee memberitahu kita, bahwa surat II Korintus dapat dianggap sebagai riwayat pribadi Paulus. Mulanya, saya mengira bahwa saya telah mengerti, namun sebenarnya saya tidak mengerti. Tetapi lambat laun saya mulai mengerti apa yang dikatakan saudara Nee kepada kita. Di dalam rencana Allah, kita, orang-orang yang terpilih, harus mengalami penderitaan. Dalam hal ini tidak ada kekecualian, karena Dia menghendaki kita menjadi ciptaan baru. Dia ingin memindahkan kita dari ruang lingkup ciptaan lama ke dalam ruang lingkup ciptaan baru. Perubahan ini adalah proses penderitaan. Boleh jadi Anda mengira bahwa dalam hal pernikahan, Anda telah salah memilih jodoh. Tetapi kalaupun Anda memilih sendiri dan Anda menggunakan berbagai macam hikmat Anda, Anda akan tetap merasa keliru. Mungkin setelah mendengar persekutuan de.mikian, ada orang- orang yang belum menikah merasa lebih baik tidak menikah. Tetapi tidak menikah juga akan mendatangkan banyak penderitaan, bahkan mungkin lebih banyak lagi. Jika demikian, bagaimana ini? Kita harus bersukacita atas penderitaan yang kita alami, seperti halnya rasul Paulus. Ia berkata bahwa ia bersukacita karena penderitaan yang diterimanya (Kolose 1:24). Sebab ia tahu, segala penderitaan itu, akan membuat dia berada dalam. proses pembaruan.

Dua Korintus 4:16 mengatakan, "Manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari." Dari konteksnya kita nampak, bahwa pembaruan itu didapatkan melalui penderitaan. Paulus menyebut penderitaan yang dialaminya ini sebagai "Kematian Yesus." Pada 4:10-11, ia mengatakan, "Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. sebab kami yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini." Menurut bahasa aslinya kata "Kematian " di sini berarti "dibunuh".Jadi, kematian Yesus ini artinya Yesus selalu "membunuh" kita, "mematikan" kita. Dimatikan di sini sama dengan salib. Jadi kematian Yesus di sini berarti pekedaan maut yait:u pekerjaan salib.

Tuhan Yesus memberitahu murid-muridnya, bahwa kalau mereka ingin mengikuti Dia mereka harus memikul salib mereka (Mat. 16:24). Maka, jika kita ingin mengikuti Tuhan Yesus haruslah kita menanggung salib kita untuk mengikuti Tuhan. Jika kita tidak memikul salib kita, tak mungkinlah kita mengikuti Tuhan. Orang-orang yang muda boleh jadi mengharapkan suatu hari depan yang sukses, namun Tuhan Yesus tidak pernah menjanjikan hari depan yang demikian. Dia berkata kepada Petrus agar memikul salibnya dan mengikuti Dia. Kemudian Dia berkata lagi kepada Petrus, "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan kemana saja kau kehendaki, tetapijika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu, dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki." Hal ini dikatakanNya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian, Ia berkata kepada Petrus, "Ikutlah aku" (Yohanes 21:18-19). Di sini Tuhan ingin mempersiapkan Petrus yaitu supaya dia mengikuti Dia sampai mati. Jadi, penderitaan yang kita alami adalah suatu proses yang akan memindahkan kita dari ruang lingkup ciptaan lama ke dalam ruang lingkup ciptaan baru.

Paulus adalah teladan sebagai orang Kristen yang menang, namun ia lebili banyak mengalami penderitaaan daripada kita (Kis. 9:16). Dalam II Korintus 4:11 ia memberitahu kita, bahwa ia selalu diserah.kan kepada maut; ia berada di bawah pembunuhan salib setiap hari; ia berada dalam keadaan mati setiap hari, sehingga dia dapat diperbarui setiap hari. Inilah sebabnya Paulus memberitahu kita dalam II Korintus 4:16, bahwa dia tidak tawar hati, tidak putus asa dan tidak kecewa. Ini dikarenakan "penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya" (ayat 17). Penderitaan yang kita alami, agar kita diperbarui, tidak bisa dibandingkan dengan kemuliaan kita dalam keadaan yang diperbarui. Sebenarnya, hidup Kristiani bukanlah hidup yang menderita. Hidup Kristiani adalah hidup yang diperbarui hari demi hari. Tetapi, pembaruan ini terjadi melalui penderitaan. Allah tidak senang meliliat anak-anakNya menderita, tapi kita harus melalui proses penderitaan.

Kita selalu memimpikan suatu hidup gereja yang mulia. Koor dari sebuah kidung kita dimulai dengan perkataan "Hidup gereja yang mulia." Di satu pihak, gereja itu mulia, tetapi di pihak lain, tidak ada gereja yang mulia secara luaran. Tidak ada satu pun di antara gereja-gereja yang Paulus dirikan itu mulia secara luaran; semuanya memiliki persoalan. Ketika saya masih muda, saya pernah mendengar seseorang menyampaikan suatu khotbah, mengatakan bahwa gereja yang terbaik adalah gereja di Filipi. Namun ketika saya mempelajari kitab Filipi, saya nampak ada dua orang saudari saling berselisih (4:2). Ada pula bersungut-sungut dan beralasan di antara orang-orang Filipi. Inilah sebabnya Paulus menasiliati mereka untuk melakukan segala sesuatu dengan tidak bersungutsungut dan berbantah- bantah (2:14). Jika kita membaca surat kiriman Paulus dengan lebih cermat, kita dapat melihat bahwa gereja yang didirikannya tidak semulia yang kita bayangkan.

Ketika saya masuk ke dalam pemullhan Tuhan, saya datang dengan harapan segalanya akan mulia. Saya dipanggil oleh Tuhan untuk berhenti dari pekerjaan saya dan melayaniNya sepenuh waktu. Saya dibawa Tuhan ke dalam pusat pekerjaan di Shanghai, dan mulai nampak, setiap hari penderitaan demi penderitaan menimpa orang terkemuka dalam pekerjaan, saudara Watchman Nee. Dia adalah "Payung"besar yang menerima semua penganiayaan dan serangan. Beberapa orang saleh yang mengenalnya, berkata, bahwa dia tidak pernah menempuh satu hari pun dalam keadaan damai. Seumur hidupnya penuh dengan penderitaan.

Keadaan dalam hidup gereja sering tampak sangat miskin (kasihan), tetapi kita, tidak seharusnya tawar hati karena kita sedang menempuh proses pembaruan. Ketika kita mengalami penyakit tertentu, tubuh jasmani kita mengadakan suatu perlawanan terhadap penyakit itu dan membuat tubuh kita menjadi lebih kuat. Balikan melalui suatu. penyakit, kita dapat belajar merawat diri kita dengan cara yang lebih baik. Bertahun-tahun yang lalu, saya terkena radang lambung, juga mengidap TBC. Penyakit itu membuat saya hampir mati, namun melalui penyakit itu, saya. menjadi kuat. Setelah sakit selama sejangka waktu dan kemudian sembuh, seseorang akan menjadi kuat. Sebab itu, kita tidak seharusnya menjadi tawar hati. Setelah gereja mengalami banyak penderitaan, kita harus yakin bahwa gereja akan menjadi lebih kuat.

Dalam pekerjaan di daratan China, ketika saya masili di sana, saudara Nee seperti sebuah "payung", sehingga dia menjadi sasaran dari serangan musuh. Sejak pekerjaan dimulai dari pulau Taiwan dan telah berkembang ke semua benua dalam tiga puluh tahun yang lalu, dengan sendirinya saya menjadi sebuah "payung".Karena saya merupakan "payung", semua panah musuh tertuju kepada saya. Saya. harus bersaksi, bahwa walaupun serangan itu datang bertubi-tubi, saya, lebih kuat daripada sebelumnya. Hari ini, saya bekerja lebih lama daripada dua puluh tahun yang lalu. Hampir setiap buku yang akan kita, terbitkan, saya baca terlebih dulu. Setelah disunting, naskah itu sampai ke tangan saya untuk saya baca. Membaca saja sudah memerlukan banyak waktu, tetapi saya, sering harue bekerja lebih keras, untuk membuat tulisan itu lebih memuaskan. Di samping itu, saya, juga mengadakan banyak sidang dan sidang istimewa, hal ini mencakup mengadakan banyak perjalanan ke luar. Beberapa orang yang dekat dengan saya. priliatin terhadap pekeijaan saya, karena saya. sudah berusia lebili dari delapan puluh. Tetapi kita, semua harus tahu, bahwa kita ditetapkan untuk menderita, agar kita dapat diperbarui.

Paulus memberitahu orang-orang Tesalonika dalam I Tesalonika 3:3,"Supaya jangan ada orang yang goyang imannya karena kesusahan- kesusahan ini. Kamu sendiri tahu, bahwa kita ditentukan untuk itu." Catatan 32 mengenai ayat ini dalam Alkitab Versi Pemulilian mengatakan, "Allah telah menetapkan, menentukan, bahwa kita harus melalui/ menempuh penderitaan. Sebab itu, penderitaan adalah bagian yang Allah aturkan bagi kita, dan Dia menetapkan kita, menaruh kita. di dalam keadaan yang menderita." Kita sudah ditetapkan untuk menderita. Madame Guyon mengatakan, bahwa dia mencium salib-salib yang datang kepadanya. Saya tidak mau berkata, begitu. Saya mengucap syukur kepada Allah atas penderitaan itu, tapi saya tidak berkata bahwa saya menyambut penderitaan itu. Namun, saya. tidak menentang penderitaan itu. yang membuat saya bisa demikian tenang di tengah-tengah penderitaan ialah karena saya sadar, bahwa berkat yang sejati bukanlah damai sejahtera dan sukacita luaran, melainkan pembaruan sejati dalam hidup Kristiani kita.

Dibangunkan Setiap Pagi

untuk Diperharui dari Sehari ke Sehari

Dalam Matius 13:43 para pemenang diumpamakan seperti matahari yang bersinar dalam kerajaan Bapa mereka. Matahari kembali terbit setiap pagi. Jika kita ingin menjadi para pemenang, matahari, kita juga harus setiap pagi disegarkan (dibangunkan) oleh Tuhan. Amsal 4:18 mengatakan, "Jalan orang benar seperti cahaya fajar, yang makin bertambah terang, sampai rembang tengah hari" Kita seharusnya mengikuti matahari, disegarkan dan memiliki permulaan baru setiap pagi. Jalan kita seperti cahaya fajar yang makin bertambah terang sampai rembang tengah hari. Saya senang dengan ungkapan Paulus dalam II Korintus 4:16 -- "dari sehari ke sehari". Penghidupan orang Kristen bukan hanya berlangsung selama satu hari. Kita diperbarui dari sehari ke sehari. Ini berarti dari sehari ke sehari kita disegarkan oleh Tuhan. Kemarin pagi mungkin kita sudah mengalami penyegaran, tetapi pagi ini kita perlu penyegaran yang lain, dan besok kita perlu yang lain lagi. Setiap tahun kita perlu 365 kebangunan (penyegaran) agar diperbarui dari sehari ke sehari.

Diperbarui oleh Salib, oleh Roh Kudus,

oleh Roh Perbauran Kita dan oleh Firman Kudus

Allah memiliki persediaan yang terbaik untuk membantu kita menerima pembaruan. Persediaan pertama ialah salib, kematian Yesus. Menurut II Korintus 4, Paulus selalu berada di bawah pembunuhan salib, kematian Tuhan. Salib adalah bantuan paling besar untuk merampungkan pembaruan bagi kita.

Persediaan kedua ialah Roh Kudus. Titus 3:5 mengatakan tentang "Pembaruan Roh Kudus". Kita memiliki Roh Kudus di dalam kita. PekerjaanNya yang utama terlebih dulu adalah melahir ulangkan kita, dan kemudian memperbarui kita setiap hari. Kita menerima suplai baru dari Roh itu setiap hari untuk memperbarui kita secara metabolis. Syukur kepada Tuhan, kita memiliki Roh yang memperbarui itu. Persediaan ketiga yang Allah berikan kepada kita ialah roh perbauran kita, yakni roh insani kita berbaur dengan Roh ilahi. Dalam roh insani kita, Roh Kudus berdiam, bekerja dan memperbarui kita. Efesus 4:23 mengatakan, bahwa kita perlu diperbarui di dalam roh pikiran kita. Roh kita adalah tempat kita menerima

pembaruan. Roh perbauran kita berkembang ke dalam pikiran kita, sehingga menjadi roh pikiran kita. Dalam roh yang demikianlah kita diperbarui untuk diubah.

Sering kali ketika kita menderita, kita bertanya, "Mengapa aku menderita? Apa sebabnya?" Banyak guru Kristen memberitahu orang, bahwa jika mereka cermat dalam hal taat kepada Tuhan, mereka akan lebih sedikit menderita. Tetapi pengalaman banyak orang rohani dalam sejarah gereja, berkebalikan dengan nasiliat itu. Ketika kita sedang menderita, kita perlu menerima pembaruan. Kalau tidak, penderitaan yang kita alami tidak berarti apa-apa bagi kita. Dalam kita ada suatu jalan keluar. Jalan keluar ini adalah roh kita. Kita perlu berpaling dari pikiran kita ke roh kita. Dernikian kita akan terlindung, tersembunyi dan terjaga dari setiap serangan. Di dalam

roh kita, kita akan diperbarui.

Selain salib, Roh Kudus dan roh kita, kita masih memiliki Firman Kudus. Kepala dari Tubuh membersihkan gereja, TubuhNya dengan pembasuhan air dalam firman (Efesus 5:26). Karena saya sudah mempelajari Alkitab cukup lama, maka saya dapat mengingat pasal-pasal seperti Matius 1 dan Roma 8. Ketika saya sedang memikirkan/ merenungkan isi dari pasal-pasal itu, saya terbasuh. Ketika saya meikirkan dan merenungkan Roma 8:4 - berjalan mengikuti roh -- saya terbasuh. Kita semua perlu menerima pembasuhan air dalam firman setiap hari.

Kita mungkin merasakan, bahwa banyak hal menimpa kita secara tidak adil, tetapi kita perlu menyadari bahwa salib itu sendiri juga tidak adil. Ketika Pilatus menjatuhi Tuhan Yesus hukuman mati, adilkah itu? Adilkah Tuhan Yesus dipaku di kayu salib? Apa yang adil dalam pengalaman hidup Tuhan Yesus? Segala yang terjadi dalam hidup Tuhan Yesus tidaklah adil. Kita tidak seharusnya berkata, "Ini tidak adil." Tidak ada penderitaan yang adil. Tuhan bisa menanggapi kita demikian, "Memang, penderitaan itu tidak adil, tetapi panggilanKu terhadapmu untuk menderita adalah adil. Aku berhak sepenuhnya untuk memperlakukan kamu dengan tidak adil, sehingga kamu dapat menerima pembaruan." Beberapa orang di antara kita mungkin masih mengalami sejumlah penderitaan. Kita harus belajar bagaimana berpaling ke roh kita. Itulah jalan kelepasan kita, tempat persembunyian kita, agar kita menerima pembaruan. Karena kita adalah manusia, maka menurut pemikiran dan pertimbangan kita, apa yang kita alami itu tidak adil, bahkan mungkin kita tidak bisa menerima keadaan yang menimpa kita. Tetapi ketika kita datang kepada firman, tidak peduli pasal atau ayat yang mana, firman itu akan membasuh kita. Ada air dalam firman untuk membasuh kita. Pembasuhan adalah sinonim dari pembaruan. Dengan keempat hal ini -- salib, Roh Kudus, roh perbauran kita, dan firman kudus -- kita dapat menerima pembaruan.

Datang ke Meja Tuhan dalam Kebaruan

Saya juga ingin mengatakan sesuatu tentang sidang pemecahan roti. Setiap kali kita datang ke meja Tuhan, kita perlu suatu pembaruan. Ketika Tuhan Yesus menetapkan meja ini, Dia berkata, "Mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan BapaKu" (Matius 26:29). Di sini Tuhan mendirikan suatu prinsip, yakni Dia tidak akan mengadakan suatu perjamuan yang usang. Meja atau perjamuan yang ditetapkanNya adalah meja yang baru, dan meja yang akan dinikmatiNya dalam kerajaan BapaNya juga baru. Kita harus datang ke meja Tuhan dengan keadaan yang baru, dalam prinsip kebaruan. Bagaimana kita dapat datang ke meja Tuhan dalam kebaruan? Kita harus tahu, bahwa segala yang negatif adalah penyebab atau faktor keusangan. Perkara-perkara yang negatif membuat kita menjadi usang.

Ketika kita datang ke meja Tuhan, pertama-tama kita harus mengadakan suatu pengakuan yang tuntas akan segala perkara negatif, dan kita harus membereskan semua perkara negatif. Kita harus mengakui dan membereskan segala perkara negatif antara kita dengan Allah dan antara kita dengan manusia (orang lain). Hubungan kita dengan Allah dan dengan manusia harus tepat dan positif (Kisah Para Rasul 24:16). Kalau tidak, kita perlu mengadakan pengakuan yang tuntas dan pemberesan yang tuntas. Hal lain yang membuat kita usang adalah tidak mengampuni orang lain. Kita perlu selalu mengampuni orang (Matius 18:21-22, 35; Efesus 4:32; 5:2), dan selalu mencari pengampunan (minta maaf) (Matius 5:2324). Karena kita adalah manusia, maka orang sering menyalahi kita, dan kita menyalahi orang lain. Asalkan kita berkumpul bersama, kita akan saling menyalahi. Suami istri manakah yang tidak pernah saling menyalahi? Karena Allah telah menaruh dua orang dalam pernikahan dan karena mereka begitu dekat satu sama lain, mereka akan sering saling menyalahi. Perkara tersebut adalah penyebab keusangan. Bagaimana kita bisa terlepas dari keusangan ini? Jalannya adalah mengampuni satu sama lain. Kita perlu mengampuni orang lain dan minta maaf. Salah satu dari perkataan bijak saudara Nee untuk mencapai hidup pernikahan yang sehat adalah: suami dan istri perlu belajar mengatakan, "Maaf. Madkan saya." Jika kita tidak belajar mengatakan ini satu kepada yang lain dalam penghidupan pernikahan, kita akan terjerumus ke dalam kesulitan. Kita harus belajar mengatakan kepada pasangan kita, "Maaf. Maafkan saya." Kita perlu berdoa agar persekutuan dalam. berita ini dapat menjadi pengalaman kita hari demi hari sehingga kita dapat memasuki realitas diperbarui dari sehari ke sehari.

Pasal Dua

KEMAMPUAN PEMBARUAN HAYAT ILAHI

DALAM KEBANGKITAN

Pembacaan Alkkab :

2Kor. 4:16; Rm. 6:4-5; F1p. 2:12-15; 3:10

Doa :

Tuhan, kami menengadah kepadaMu. Besertalah dengan kami dan berbicaralah kepada kami. Tuhan, belaskasihanilah kami, supaya kami semua terbuka kepadaMu. Terima kasih atas Berbicaranya.Dikau kepada kami. Tuhan, besertalah dengan kami sampai akhir. Berkatalah kepada hati kami, kepada setiap orang di antara kami. Tutupi kami dengan darahMu yang adi. Terima kash atas penyertaanMu. Amin.

Hidup Sebagai Ciptaan Baru

Dalam pasal yang lalu kita sudah bersekutu tentang diperbarui dari sehari ke sehari. Dalam persekutuan itu kita katakan, bahwa Allah mempunyai satu tujuan yang kekal untuk menghasilkan suatu ciptaan baru dari ciptaan lama. Allah ingin memiliki suatu ciptaan baru. Kita nampak, bahwa Allah memakai banyak waktu untuk membawa umatNya melalui satu proses yang panjang sehingga menghasilkan ciptaan baru. Allah memakai empat jaman untuk melakukan pekerjaanNya. Jaman itu adalah : jaman leluhur, jaman hukum Taurat, jaman kasih karunia dan jaman kerajaan. Allah memakai keempat jaman ini untuk menciptakan suatu ciptaan baru dari ciptaan lamaNya.

Ciptaan lama tidak memiliki hayat dan sifat ilahi, tetapi ciptaan baru memilikinya (Yohanes 1:13; 3:15; 2Petrus 1:4). Apa saja yang diciptakan oleh Allah, yang tidak memiliki Allah di dalamnya sebagai hayatnya, sifatnya, penampilannya dan ekspresinya, adalah usang; sebaliknya apa saja yang memiliki Allah di dalamnya sebagai hayatnya, sifatnya, penampilannya dan ekspresinya, adalah ciptaan baru. Sebelum kita dilahirkan kembali, kita adalah ciptaan lama. Setelah kita dilahirkan kembali, kita menjadi ciptaan baru. Dilahirkan kembali adalah dijadikan satu ciptaan baru. Dua Korintus 5:17 mengatakan, "Jika seseorang ada di dalam Kristus, dia adalah ciptaan baru." Dalam hal berada di dalam Kristus, kita adalah ciptaan baru, tetapi dalam hidup kita sehari-hari, kita tidaklah begitu baru, karena kita tidak memiliki Kristus sebagai satu-satunya yang menduduki kita, yang memenuhi kita, dan yang adalah hayat kita, sifat kita, penampilan kita dan ekspresi kita. Sekalipun kita telah dilahirkan kembali untuk menjadi satu ciptaan baru, dalam hidup sehari-hari kita sesungguhnya kita sering masih berupa ciptaan lama. Tidak peduli berapa lama kita sudah berada di dalam Tuhan, kita masih menyimpan kebiasaan lama kita. Kadang-kadang kita hidup di dalam roh untuk menampilkan Kristus, tetapi kebanyakan kita masih hidup dalam kebiasaan lama kita, sifat lama kita. Kita harus mengakui bahwa ini adalah ciptaan lama. Kita telah dilahirkan kembali, tetapi sampai hari ini kita masih memiliki campuran dalam hidup sehari-hari kita, Hidup kita sebagian merupakan ciptaan baru dan sebagian besar merupakan ciptaan lama.

Dalam munajat pagi kita dengan Tuhan, mungkin kita benar-benar menikmati, memuji dan menyembah Dia. Pada saat itu, kita adalah ciptaan baru. Sesudah waktu kita bersama Tuhan di pagi hari usai, mungkin kita datang ke meja makan untuk makan pagi; mungkin kita mengalami/ menemukan sesuatu yang tidak begitu menyenangkan hati kita, sehingga kita mengucapkan perkataan yang tidak tepat dan hati nurani kita menegor kita. Mungkin kita mengatakan hal itu adalah suatu kegagalan, kekalahan, kekeliruan, pelanggaran atau dosa. Namun apa yang terjadi pada meja makan bukan hanya dosa, pelanggaran, kekeliruan, kegagalan atau kekalahan; itu adalah ciptaan lama kita.

Ketika kita memecahkan roti, kita memuji dan menyembah Tuhan. Kelihatannya kita sernua adalah ciptaan baru. Kita adalah ciptaan baru, tapi kita pun tetap merupakan ciptaan lama, karena kita masili terbenam dalam kebiasaan lama kita. Kita terlahir ke dalam ciptaan lama, dan kita sudah menempuh hidup berdasarkan kebiasaan lama kita selama bertahun-tahun. Ketika saya berbicara tentang kebiasaan kita, saya tidak hanya mengacu kepada kebiasaan-kebiasaan yang buruk. Seseorang mungkin bersifat agak lamban, sedangkan yang lain mungkin sangat cepat. Orang-orang yang cepat mudah berbuat salah, sedangkan orang-orang yang lamban terlalu lamban melakukan pekerjaan atau dalam menghasilkan sesuatu. Tidak peduli kita ini cepat atau lambat, kita adalah ciptaan lama. Apa adanya kita dalam pembawaan kita sejak lahir adalah ciptaan lama. Beberapa orang berpembawaan suka berbicara (meleter), sedangkan yang lain pendiam. Meskipun orang-orang yang suka berbicara bisa berfungsi dalam sidang, kita tidak seharusnya menganggap semua fungsi itu berasal dari ciptaan baru. Beberapa fungsi mungkin saja dilakukan menurut temperamen cepat seseorang dari alamiahnya. Beberapa orang tidak mau berhicara karena mereka memiliki sifat yang pendiam. Baik yang suka berbicara atau yang pendiam, adalah ciptaan lama.

Apa yang akan Tuhan lakukan terhadap kita? Tentu, Dia tidak mengingini ciptaan lama. Secara doktrinal, kita memiliki Allah, tetapi kita mungkin kekurangan Allah sebagai hayat dan sifat kita dalam hidup kita seharihari. Mungkin kita lambat dalam sifat kita, tetapi sering kali sitat Allah, khususnya dalam sidang, adalah melakukan sesuatu dengan gesit. Mungkin kita berpembawaan tenang, tetapi Allah ingin kita menjadi satu ciptaan baru untuk meng.utarakan sesuatu dalam sidang berlawanan dengan kebiasaan alamiah kita. Allah menghendaki kita semua menjadi ciptaan baruNya, memilikiNya sebagai sifat kita. Dia juga menginginkan kita mengekspresikan diriNya. Allah adalah bagian kita, tetapi dapatkah kita mengatakan bahwa Dia adalah kebiasaan baru kita? Kita semua harus dilepaskan dari kebiasaan lama kita dan mengambil Allah sebagai kebiasaan baru kita.

Diperbarui dengan Penambahan Unsur Allah

Perjanjian Baru mengatakan, "Allah memilih kita sebelum dunia dijadikan dan menandai kita" (Ef. 1:4-5; Terjemahan langsung). Ia ingin membuat umat pilihanNya menjadi ciptaan baru. Untuk itu, pertama-tama Dia menaruh, diriNya ke dalam kita, melahirkan kembali kita. Kita dilahirkan kembali menjadi anak-anak Allah. Ini sangat ajaib! Tetapi Perianjian Barn mewahyukan bahwa dilahirkan kembali saja tidaklah cukup. Setelah melahirkan kembali kita, Allah harus memperbarui kita, mengubah kita, membentuk kita serupa dengan gambarNya, dan memuliakan kita. Pengubahan memerlukan pengudusan dan pembaruan. Pengubahan adalah perubahan yang metabolis. Ketika kita diubah, suatu unsur baru ditambahkan ke dalam kita secara metabolis untuk menggantikan unsur yang lama. Unsur yang baru adalah Allah sendiri. Allah adalah "yang baru" (suatu kata benda). Tidak ada keusangan pada diri Allah.

Setelah kita dilahirkan kembali, kita memiliki Allah, tetapi unsur Allah yang kita miliki masih tidak banyak (limpah). Itulah sebabnya Kolose 2:19 mengatakan, bahwa kita perlu bertumbuh dengan pertumbuhan ilahi, atau bertambah dengan pertambahan ilahi. Ini berarti kita hertumbuh dengan penambahan unsur Allah di dalam kita. Jika kita mendapat pertambahan unsur Allah dalam jumlab yang sedikit, pertumbuhan kita sedikit. Jika kita mendapat pertambahan unsur Allah dalarn jumlah banyak, kita bertumbuh pesat. Bila kita memiliki Allah dalam jumlah yang sepenuh- penuhnya, kita akan mencapai pertumbuhan yang maksimal. Allah harus bertambah di dalam kita, unsurNya yang baru ditambahkan ke dalam kita. Ketika unsur ilahi masuk ke dalam kita, unsur ilahi itu memperbarui kita tanpa mempedulikan kita bersifat cepat atau lamban. Ketika kita berhubungan dengan Allah, Allah menginfuskan diriNya sebagai unsur 'lahi ke dalam diri kita. Unsur baru ini ditambahkan ke dalam unsur kita yang sudah ada. Ketika unsur yang baru ini ditambahkan ke dalam kita, terjadilah sesuatu di dalam kita.

Allah ingin menambalikan diriNya ke dalam. diri kita, tetapi bila kita tidak berkontak denganNya, Dia tidak bisa bertambah di dalam kita. Mungkin kita mengalami sejangka waktu yang tanpa kontak dengan Allah atau tidak berdoa kepadaNya, malahan saat itu kita melakukan segala sesuatu berdasarkan dan di dalam diri kita sendiri. Saat itu, Allah tidak tertambah ke dalam diri kita dan kita tidak bertumbuh dengan pertambahan unsur Allah. Hal inilah yang menyebabkan kita mendorong seluruh umat saleh agar bermunajat pagi. Munajat pagi kita bersama Tuhan bukan hanya untuk meladh pikiran kita membaca huruf-huruf dalam Alkitab, melainkan untuk melatih roh kita. Sebab itu kita harus mengatakan, "O, Tuhan Yesus." Seruan kita kepada Tuhan adalah pernafasan rohani kita. Kita harus berkontak dengan Allah dengan berdoa kepadaNya dan menyeru namaNya. Kemudian, Dia akan menambahkan diriNya ke dalam kita. Ketika kita berkontak denganNya, Dia menambahIcan lebih banyak unsur ilahi ke dalam diri kita. Begitu unsur baru Allah ditambahkan ke dalam diri kita, unsur baru ini secara metabolis akan memperbarui kita. Mungkin secara alamiah aku adalah orang yang cepat, tetapi karena unsur Allah masuk ke dalam diriku, unsur ini memperbarui kebiasaan alamiahku. Mungkin sifat alamiahku lamban, tetapi Allah memperbaruiku dengan unsurNya, menyingkirkan unsurku yang lama.

Diperharui dari Sehari ke Sehari dengan Unsur

Allah Melatui Penderitaan

Mungkin kita adalah orang-orang saleh yang baik di dalam gereja, yang telah disisihkan dan dilindungi oleh Tuhan, tetapi sudahkah kita diperbarui dengan unsur ilahi? Adakah suatu proses pembaruan pada diri kita? Apakah kita tetap sama dari hari ke hari dan dari tahun ke tahun? Sungguh menyedihkan jika kita sudah melalui banyak penderitaan tetapi masih tetap sama. Untuk menyempurnakan pekerjaan pembaruanNya di dalam kita dan bersama kita, Allah menjadi hayat dan sifat kita di batin. Di samping itu, Allah sebagai Tuhan yang berdaulat mengendalikan alam semesta untuk memperbarui kita. Allah memakai lingkungan untuk menggarapkan hayat dan sifatNya ke dalam kita. Tanpa lingkungan, kita tidak mungkin diperbarui. Kita akan tetap saja tak berubah.

Menurut pandangan dan pertimbangan kita, kita sering memutuskan sesuatu berdasarkan baik dan buruknya perkara. Kita sudah terbiasa menghadapi segala perkara berdasarkan pohon pengetahuan tentang baik dan jahat, bukan berdasarkan pohon hayat. Pohon pengetahuan tentang baik dan jahat adalah pohon tentang baik dan buruk. Pohon hayat tidak bersangkut paut dengan baik atau buruk. Hanya hayat, yaitu diri Allah, yang merupakan pohon hayat. Pandangan dan pertimbangan kita sering kali didasari apakah sesuatu itu baik atau buruk, benar atau salah, tetapi Allah tidak mempertimbangkan suatu perkara Becara demikian.

Mungkin kita mengatakan, karena kita telah berbuat salah, maka Allah menghukum kita dengan mengganjar dan mengoreksi kita. Di satu pihak, memang demikian. Banyak ayat Alkitab yang mendukung pengertian semacam itu. Tetapi jika kita mengenal Alkitab dalam prinsipnya, kita dapat menemukan, sebenarnya Allah hendak memperbarui kita. Allah memperhatikan apakah kita masih dalam ciptaan lama atau sudah diperbarui. Mungkin kita adalah orang yang paling benar, namun juga orang yang paling usang. Mungkin kita kuat berpegang pada kebiasaan kita dan kuat dalam apa adanya (hakiki) kita. Maksud Allah bukan hanya mengganjar atau mengoreksi kita, tetapi memakai lingkungan luaran untuk mempersulit kita, mengingatkan kita dan menyadarkan kita, bahwa kita memiliki Allah sebagai sifat kita. Namun kita tidak menampilkan Dia menurut sifatNya; kita memilikiNya sebagai kenikmatan kita, tetapi kita tidak menampilkan diriNya sebagai sifat kita.

Apakah kita mendisiplin anak-anak kita menurut sifat Allah? Mungkin kita mendisiplin mereka berdasarkan sifat, diri dan kebiasaan kita. Sebab itu, Allah memakai lingkungan untuk menaruh kita di dalam "penjara". Melalui ini kita diingatkan untuk berdoa dan hasil akhir dari doa kita bukan hanya kita mengalami koreksi, tetapi juga diperbarui. Di kemudian hari, ketika kita hendak mendisiplin anak-anak kita, kita akan mempertimbangkan apakah kita mendisiplin mereka dalam diri kita, atau dengan Allah dan melalui Allah. Dulu, kita mendisiplin anak-anak kita dengan diri kita, oleh diri kita, dan di dalam diri kita. Kita tidak memiliki Allah di dalam kita sebagai hayat dan sifat kita, ketika kita mendisiplin anakanak kita. Kini Allah ada dalam pendisiplinan kita terhadap anak-anak kita, dan pendisiplinan kita terhadap mereka menjadi pendisiplinan yang insani dan ilahi. Orang tua melakukan pendisiplinan, tetapi pendisiplinannya adalah pendisiplinan ilahi, karena ada unsur Allah di dalamnya. Allah memakai lingkungan luaran yang membuat kita menderita, untuk memperbarui kita.

Ada ajaran kepereay aan tertentu juga mengatakan bahwa kita perlu diperbarui dari hari ke hari, tetapi konsepsinya tentang pembaruan ini hanyalah suatu perubahan. Dengan kata lain, orang yang marah-marah perlu memperbarui dirinya dengan mengekang amarahnya. Alkitab tidak mengajar kita demikian. Alkitab mengajar kita untuk diperbarui bukan berdasarkan diri kita. Kita diperbarui karena kadar Allah makin bertambah di dalam kita. Saya sudah menempuh hidup sebagai orang Kristen selama lebih dari enam puluh tahun, dan saya dapat bersaksi tentang apa yang dimaksud dengan hidup orang Kristen yang sejati. Hidup orang Kristen yang sejati adalah memiliki Allah tortambah ke dalam kita, pagi dan malam, dari hari ke hari.

Mungkin kita mendisiplin anak-anak kita tanpa Allah, hanya menurut rasa senang atau benci kita. Setelah kita mendengar pereekutuan ini, mungkin kita mengira, Allah tidak ingin kita mendisiplin anak-anak kita. Ini juga calah. Kita tidak mengatakan Allah tidak ingin kita mendisiplin anak-anak kita. yang perlu kita nampak ialah Allah ingin kita mendisiplin anak-anak kita bersamaNya. Ini adalah pelajaran yang sulit kita pelajari.

Hari ini, sangat sedikit pengajaran Kristen yang menunjukkan, bahwa hidup orang Kristen bukanlah manalah apa yang kita lakukan atau tidak kita lakukan. Kesulitan hari ini ialah: manusia melakukan apa saja tanpa Allah. Apa yang diperhatikan Allah adalah umat pilihanNya mau belajar bekeria sama denganNya melalui membiarkanNya tertambah ke dalam mereka dari hari ke hari. Setiap hari Allah tertambah ke dalarn kita untuk tujuan mengubah kita secara metabolis. Unsur baru Allah masuk ke dalam kita untuk menggantikan unsur yang lama. Unsur baru ini adalah Allah sendiri dan unsur yang lama adalah kita. Kita perlu digantikan dengan Allah sebagai unsur yang baru.

Penggantian diri kita dengan unsur ilahi bukan berarti kita harus disingkirkan sama sekali. Memang benar mengatakan manusia lama kita harus diganti, tetapi kita tidak seharusnya mengatakan manusia lama kita harus disingkirkan sama sekali. Galatia 2:20 mengatakan, "Aku telah disalibkan dengan Kristus, namun aku hidup tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku, dan hidupku yang kuhidupi sekarang ..." Ketika kita membaca bagian depan dari ayat ini, mungkin kita mengira Kristus hidup di dalam kita dan kita sudah disingkirkan sama sekali. Paulus mengatakan, "Bukan lagi dirinya sendiri yang hidup," tetapi dia juga mengatakan, "Hidupku yang kuhidupi sekarang. " Aku sudah disalibkan, bukan lagi aku melainkan Kristus, tetapi aku masih hidup. "Aku" yang lama digantikan dengan Persona ilahi untuk menciptakan "aku" yang baru. Allah kita setiap hari menunggu kesempatan untuk menambahkan diriNya ke dalam kita. Jika kita mau memberiNya kesempatan dan membuka jalan, Dia akan menambahkan diriNya ke dalam diri kita sebagai unsur yang baru, bukan hanya untuk mengoreksi kita, bahkan untuk menggantikan kita, memperbarui kita.

Proses pembaruan ini terjadi secara bertahap. Proses ini memakan waktu yang cukup panjang. Dari kelahiran kembali sampai dimuliakan, adalah satu proses yang panjang. Dalam proses yang panjang ini, Allah harus menguduskan kita, memisalikan kita dari dunia. Dia harus mengubah kita dengan memperbarui kita secara metabolis. Pembaruan ini mengubah kita dari satu bentuk (model) ke model yang lain. Model kita yang lama adalah model tanpa Allah, tetapi model yang baru memiliki Allah sebagai hayat, sifat, penampilan dan ekspresi kita di batin. Pembaruan ini mendatangkan pembentukan sempa dengan gambar Tuhan. Kemudian dalam melakukan segala hal kita serupa dengan Allah, dan kita melakukan segala perkara berdasarkan Allah pada saat yang tepat. Apa yang kita perlukan adalah diperbarui dari sehari ke sehari.

Kadang-kadang Allah mengijinkan gereja mengalami "badai". Allah mungkin membiarkan "badai" ini terjadi karena Dia ingin kita diperbarui. Hal yang tragis adalah bila kita menderita akibat "badai"itu, tetapi kita tetap sama, tanpa pembaruan sedikit pun. Saya harap kita memperhatikan perkara ini. Kita harus berdoa, "Tuhan, aku tidak mau terus begini. Aku tidak mau terus-menerus demikian dari tahun ke tahun. Aku mau diperbarui dari sehari ke sehari." Maksud Allah adalah agar kita diperbarui dari sehari ke sehari. Untuk diperbarui, kita perlu pertambahan Allah yang baru ke dalam kita hari demi hari. Setiap hari kita perlu berkontak dengan Allah, membuka diri kita kepadaNya, dan membiarkanNya masuk ke dalam kita sebagai pertambahan baru ke dalam kita hari demi hari.

Kemampuan Pembaruan Hayat Ilahi

dalam Kebangkitan

Jangan mengira Allah itu tiada aktivitas (pengangguran). Ketika Allah tertambah ke dalam kita, Ia tidak hanya tinggal diam di sana, menganggur. Filipi 2:13 mengatakan, "Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu, baik kemauan maupun pekerjaan sesuai dengan kerelaan kehendakNya." Allah di dalam kita bukan tenangtenang dan menganggur. Allah bekerja di dalam kita. Istilah Yunani yang ditedemahkan "bekerja" dalam Filipi 2:13 serupa dengan kata "energizes" dalam bahasa Inggris (menguatkan, memberi tenaga/energi"). Allah bekerja di dalam kita, memberi tenaga di dalam kita.

Unsur ilahi sangatlah aktif. Unsur itu menguatkan, bekerja dan bersifat organik. Apa saja yang organik, di dalamnya pasti memiliki suatu kemampuan memberi tenaga. Di dalam hayat ilahi yang kini kita nikmati, ada kemampuan untuk memperbarui. Kemampuan ini bukan sekadar kapasitas hayat ilahi. Saya memakai istilah "Kemampuan",maksudnya adalah "kesanggupan hayat ilahi dalam sifatnya". Dalam sifat ilahi Allah, ada kemampuan yang memberi tenaga sepanjang hari. Begitu hayat ilahi dengan sifat ilahi masuk ke dalam kita, hayat dan sifat ilahi itu memberi tenaga di dalam kita. Kita semua memiliki unsur ilahi yang memberi tenaga di dalam kita, dan dalam unsur ilahi ini terdapat kemampuan untu memperbarui.

Kita dapat memakai sabun sebagai ilustrasi, karena sabun memiliki kemampuan untuk mencuci kotoran. Dalam sifat atau hakiki sabun terdapat kemampuan untuk mencuci bersih kotoran. Demikian pula, dalam hayat ilahi yang kita terima dan yang kita nikmati, terdapat kemampuan memperbarui menurut hakiki sifat ilahi. Syukur kepada Tuhan atas kemampuan memperbarui dad hayat ilahi. Kita perlu menikmati kemampuan memperbarui dari hayat ilahi dalam. kebangkitan, hari demi hari.

Itulah sebabnya kita harus belajar mati terhadap diri kita. Bagaimana kita mati terhadap diri kita? Setiap pagi kita harus berkontak dengan Tuhan. Pertama, kita harus mengaku dosa. Kedua, kita harus menolak diri kita. Dalam menolak diri kita, kita mengalami kematian Yesus dan kematian Yesus akan membunuh kita. Dalam II Korintus 4, Paulus berbicara tentang "mengenakan kematian Yesus" (ayat 10). Ini berarti Yesus, dalam arti yang positif, selalu membunuh kita. Dalam obat-obatan hari ini terdapat unsur penyembuh, juga terdapat unsur pembunuh yang membunuh kuman/bakteri yang jahat di dalam kita. Dalam diri Yesus, terdapat unsur pembunuh. Dialah obat kita untuk menyembuhkan kita, menghidupkan kita, juga membunuh semua perkara negatif di dalam. kita. Dalam dosis ini, terdapat kuasa membunuh. Pagi demi pagi, kita perlu datang kepada Tuhan dan mengambilNya sebagal antibiotik kita. Yesus adalah antibiotik kita setiap hari. Bila kita mengambilNya sebagai obat kita, kita menikmati pembunuhan dari Yesus, atau kematian Yesus. Pembunuhan ini adalah proses pembaruan. Selanjutnya, pembunuhan ini mendatangkan kebangkitan. Yesus tidak hanya mengandung unsur pembunuh, juga unsur yang membangkitkan. Dalam kebangkitan Kristus, hayat ilahi memiliki kemampuan memperbarui. Ketika kita menolak diri kita pada pagi hari, dan menerima Allah ke dalam kita, kita merasakan sepanjang hari itu berlangsung proses pembunuhan di dalam kita. Demikian pula ada kemampuan dalam hayat ilahi yang memperbarui kita dalam segala tindakan kita.

Filipi 2:13 memberitahu kita, bahwa Allah bekerja di dalam kita, dan ayat 14 memberitahu kita, agar kita melakukan segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantah. iika kita menerima pertambahan unsur Allah pada pagi hari, pertambahan ini mengandung daya pembunuh. Pertambahan ini akan membunuh sungut-sungut kita dan perbantahan kita. Dalam pasal yang lalu saya sudah mengatakan, ketika saya masih muda, saya pernah mendengar orang mengatakan, bahwa gereja di Filipi adalah gereja yang terbaik. Tetapi Filipi 2:14 menunjukkan kepada kita bahwa gereja di Filip! juga memiliki sungut-sungut dan perbantahan. Sungut- sungut berasal dari emosi kita, kebanyakan ditampilkan oleh saudari; perbantahan berasal dari pikiran kita, kebanyakan ditampilkan oleh saudara. Dalam gereja, saudari suka bersungut-sungut karena mereka emosional, dan saudara suka berbantah-bantah, karena mereka rasional. Kebanyakan saudaralah yang mempertimbangkan berdasarkan rasionya, siapa salah dan siapa benar. Mazmur 133 memberitahu kita, betapa baik dan menyenangkan bila saudara-saudara diam bersama dengan rukun, tetapi jika hidup gereja penuh dengan sungut-sungut dan perbantahan, bagaimana kita dapat hidup bersama dalam damai sejahtera? Sungut-sungut dan berbantah-bantah adalah perbuatan yang menurut ciptaan lama.

Dalam hari-hari pertama saya melayani, saya, menasihati orang untuk memperhatikan tingkah laku mereka, tetapi hal itu hanya berkhasiat sementara. Dalam sebuah latihan tahun 1953 dan 19.54, saya menekankan tiga puluh aspek karaktor. Semua peserta latihan menerima persekutuan ini dan melaksanakannya. Namun setelah sejangka waktu, banyak aspek dari karakter-karakter itu yang hilang. Banyak peserta ladhan, termasuk sekerja, kembali kepada karakter lama mereka. Karakter kita adalah ciptaan lama yang perlu diperbarui agar menjadi ciptaan baru.

Maksud Allah adalah membuat kita sama sekali baru. Ini bukan perkara semalaman; ini membutuhkan waktu seumur hidup kita dan menuntut kita berkontak dengan Allah, menerima Allah, agar Allah tertambah ke dalam diri kita sepaniang hari. Hal ini menuntut kita berdoa, mengaku dosa dan menolak diri kita serta menerima salib Kristus. Menerima salib Kristus adalah suatu pembunuhan dan pembunuhan ini adalah kematian. Kematian ini mendatangkan kebangkitan dan dalam kebangkitan ini, hayat ilahi di dalam kita akan menunjukkan kemampuan pembaruannya. Kemudian kita akan diubah secara metabolis. Proses pembaruan ini memakan waktu bertahun-tahun. Saudara Nee pernah mengatakan, pembaruan ini memerlukan waktu dua puluh tahun.

Proses pembaruan ini harus berlangsung terus-menerus. Saat demi saat kita harus menerima Allah sehingga Dia dapat tertambah ke dalam kita; kita pun harus menolak diri kita, menerima kematian Kristus, agar kita dapat bekerja sama dengan Tuhan yang ada di dalam kita. Dengan demikian kita baru dapat menikmati bukan hanya kemampuan pembaruan, tetapi juga hasil pembaruan, yang merupakan perubahan metabolis dalam tingkah laku, dalam karakter, dalam sifat dan bahkan dalam kebiasaan kita. Perkara yang paling sulit untuk diperbarui adalah kebiasaan kita. Ketika kita mengalami Allah dalam Kristus setiap hari, kita akan nampak bahwa maksud Allah ialah memperbarui kita sedikit demi sedikit, khususnya memperbarui kebiasaan kita. Inilah pengalaman yang dil diperbarui dari sehari ke sehari. Demi tujuan ini, Allah membangkitkan segala macam lingkungan untuk membakar habis manusia luaran kita, sehingga manusia batiniah kita dapat diperbarui dar! sehari ke sehari.

Allah menghendaki kita menjadi ciptaan baru. Ketika semua anak Allah mengalami proses pembaruan menjadi Yerusalem Baru, mereka akan berada dalam keadaan sepenuhnya diperbarui. Kota kudus itu disebut Yerusalem Baru karena di dalamnya tidak ada unsur lama dari ciptaan lama Allah. Ketika kita mengalami penderitaan, kita perlu mengalami pembaruan yang tak henti-hentinya di dalam kita dari hari ke hari, sehingga Allah dapat merampungkan maksud hatiNya.