← Daftar isi Ekonomi Allah Tritunggal · bab 22/24

PENUDUNG BANGUNAN ALLAH

"Kemah Suci itu haruslah kaubuat dari sepuluh tenda dari lenan halus yang dipintal benangnya dan dari kain ungu tua, kain ungu muda dan kain kirmizi; dengan ada kerubnya, buatan ahli tenun, haruslah kaubuat semuanya itu."

"Juga haruslah engkau membuat tenda-tenda dari bulu kambing menjadi atap kemah yang menudungi Kemah Suci, sebelas tenda harus kaubuat."

"Juga haruslah engkau membuat untuk kemah itu tudung dari kulit domba jantan yang diwarnai merah, dan tudung dari kulit lumba-lumba di atasnya lagi" (Kel. 26:1, 7, 14).

Dari kutipan di atas, kita nampak empat lapisan bahan yang menutupi (menudungi) kemah pertemuan. Lapisan pertama terdiri dari sepuluh layar (tirai) yang terbuat dari kain lenan halus; lapisan kedua terbuat dari tirai bulu kambing; lapisan ketiga adalah kulit, domba jantan, dan lapisan keempat, yang paling luar, adalah kulit anjing laut atau kulit berang-berang (Alkitab versi LAI menerjemahkannya lumba-lumba). Keempat lapisan penutup ini merupakan atap dari kemah pertemuan. Banyak orang telah menulis tentang kemah pertemuan dengan penutupnya, tetapi beban saya adalah menunjukkan bahwa penutup ini berhubungan dengan bangunan Allah.

GEREJA DIBANGUN

DENGAN KRISTUS SEBAGAI HAYAT

Dalam bab yang lalu kita nampak bahwa bangunan Allah bukan hanya sebuah pola, melainkan perkara Kristus digarapkan ke dalam diri manusia. Pembangunan gereja tidak bisa dikerjakan dengan tangan manusia, dengan meniru suatu pola atau dengan membentuk suatu organisasi. Tentu saja, dengan kelahiran dan pertumbuhan hayat, suatu pola akan dengan sendirinya tertampil, sama seperti ukuran dan bentuk seorang manusia berkembang melalui kelahiran dan pertumbuhan dalam hayat. Tidak ada seorang pun yang dapat membuat atau membentuk manusia menjadi modelnya saat ini. Demikian pula, pembangunan gereja bukanlah pola buatan manusia, bukan tiruan tangan manusia, melainkan pertumbuhan yang spontan dari Kristus sebagai hayat kita.

Setiap bagian dan setiap aspek dari kemah pertemuan melambangkan pekerjaan atau Persona Kristus lebih dari sekadar sebuah pola. Kemah pertemuan menunjukkan bahwa dengan pekerjaan penebusan-Nya, Kristus harus tertempa ke dalam kita sebagai segala sesuatu kita. Mezbah di pelataran luar melambangkan kematian yang almuhit dari Kristus di atas salib, yang telah merampungkan hubungan yang tepat dengan Allah. Dengan mengaku bahwa kita adalah orang dosa dan bahwa kita telah diakhiri oleh kematian-Nya, kita menerima Dia sebagai hayat kita. Kemudian pekerjaan pembersihan dan pemurnian Roh-Nya, yang dilambangkan dengan bejana pembasuhan, membersihkan kita dari kotoran dunia untuk membuat kita layak dan pantas menerima Dia tergarap ke dalam kita.

Setelah kedua hal itu, kini kita dapat menengok ke dalam bangunan kemah pertemuan itu. Dengan segera dapat kita lihat bahwa segala aspek kemah pertemuan itu menyatakan Kristus yang sudah tergarap ke dalam kita. Hampir di mana saja dalam tempat kudus dan tempat maha kudus, kayu-kayu dilapisi (disalut) dengan emas, melambangkan sifat insani disalut dengan sifat ilahi; sifat ilahi telah tergarap ke dalam dan ke atas diri manusia. Meja roti sajian, kaki dian, mezbah pembakaran ukupan, tabut perjanjian, semua papan yang membentuk kerangka kemah pertemuan, dan bahkan keempat lapisan penutup, kemah pertemuan mewahyukan dan menekankan satu hal : Kristus sebagai penjelmaan Allah telah tergarap, ke dalam kita, sehingga kita dapat mengalami Dia sebagai hayat dan segala sesuatu.

Kiranya Tuhan membuka mata kita dan mengesankan kita, dengan segala perkara ini. Kita tidak dapat hanya menemukan suatu pola dari Kitab Kisah Para Rasul, menetapkan penatua dan diaken, lalu menyebut itu gereja. Itu bukan gereja, itu hanyalah tiruan dari gereja. Jika kita bertanya kepada seseorang, bagaimana dia muncul ke dunia dan menjadi orang yang setinggi ini, dia akan memberi tahu kita, "Aku dilahirkan oleh ibuku, aku makan banyak makanan yang bergizi, lalu aku bertumbuh setinggi ini." Kita bisa membuat sebuah mainan atau boneka, tetapi tidak bisa membuat seorang manusia. Gereja adalah manusia yang sejati; tidak seorang pun dapat membuat sebuah gereja! Gereja harus merupakan suatu kelahiran kembali di dalam Roh dan pertumbuhan hayat dalam Kristus. Kita harus berkata sekali dan sekali lagi, "Saudara, lepaskan tanganmu!" Kita tidak seharusnya mencoba membentuk atau mengatur sesuatu.

Di berbagai tempat, selama beberapa tahun yang lalu, saya sudah memohon demikian, tetapi tidak banyak saudara yang memahami apa yang saya maksud. Mereka berkata, "Baik, kalau kami tidak membentuk gereja, kalau kami tidak mengatur apa-apa, lalu apa yang harus kami lakukan?" Kita harus melakukan satu hal, makan Kristus dan minum Kristus. Di samping itu, kita perlu "ditelan" oleh Kristus. Semakin kita berpesta makan Dia, kita akan semakin ditelan oleh-Nya. Kita mengira kita hanya makan Dia dan menikmati Dia, tetapi sebenarnya semakin banyak kita memakan-Nya, kita akan semakin ditelan oleh-Nya. Gereja tidak bisa dirumuskan dan diorganisir, tetapi harus dilahirkan dari Kristus di dalam Roh; gereja harus merupakan Tubuh Kristus yang hidup, yang bertumbuh dengan hayat Kristus. Kemudian, hasilnya gereja akan dengan spontan mencapai bentuk tertentu, dan terlihatlah sebuah pola. Gereja bertumbuh dengan Kristus, oleh Kristus, dan di dalam Kristus.

Di pelataran luar kita mengalami pekerjaan Kristus yang sudah rampung, yang merupakan sarana bagi kita untuk masuk ke dalam tempat kudus. Tempat kudus dan tempat maha kudus bukanlah masalah mengalami pekerjaan Kristus, melainkan mengalami diri Kristus. Di sana, Kristus sendiri dialami sebagai makanan untuk suplai hayat, sebagai terang hayat, sebagai aroma kebangkitan, dan sebagai yang Almuhit. Begitu Kristus tergarap ke dalam kita, tersedialah bahan-bahan untuk pembangunan gereja. Kemudian kita akan disatukan dan dibangun bersama menjadi satu melalui Roh Kudus, yang melahirkan kembali dan mematangkan kita (seperti yang tertampak dari gelang emas dan kayu lintang emas). Inilah Tubuh Kristus; inilah tempat kediaman Allah. Sekali lagi kita ulangi : Pembangunan gereja adalah perkara pertumbuhan, yaitu Kristus dengan progresif tergarap ke dalam kita sebagai segala sesuatu kita. Hal inilah yang akan menghasilkan bahan-bahan untuk pembangunan gereja. Melalui proses kelahiran kembali dan pematangan oleh Roh, semua bahan ini akan disusun dengan rapi dan disatukan sebagai satu kesatuan. Pembangunan dalam keesaan ini adalah Tubuh Kristus dan tempat kediaman Allah.

GEREJA DITUDUNGI DENGAN KRISTUS

SEBAGAI EKSPRESINYA

Tetapi kita harus sadar bahwa sampai tahap ini pun kemah pertemuan masih belum memiliki atap. Tidak peduli sampai tahap apa kita sudah digarap ke dalam Kristus, dan Kristus sudah digarap ke dalam kita, kita hanyalah papan-papan - tidak ada seorang pun di antara kita dapat menjadi penudung. Jika kita adalah penudungnya, maka gereja akan menjadi ekspresi manusia. Hanya Kristus dapat menjadi penudung, karena gereja harus menjadi ekspresi Kristus semata. Dalam lambang kemah pertemuan, seperti telah kita lihat, atapnya terdiri dari empat lapisan, dan setiap lapisan adalah satu aspek dari diri Kristus. Seluruh atap kemah pertemuan adalah wahyu tentang Kristus sebagai satu-satunya penudung. Dengan demikian, kemah pertemuan menjadi ekspresi Kristus melalui penudung tersebut, yang menudunginya secara keseluruhan. Setelah penudung itu dikenakan pada kemah pertemuan, selain penudung itu, tidak ada yang kelihatan dari luar. Bahkan papan dan perabot terdapat dalam penudung itu. Penudung itu bukan hanya melindungi semua papan dan perabot dalam kemah pertemuan, tetapi juga mengekspresikan seluruh kemah pertemuan itu. Sebenarnya, ekspresi itulah yang melindungi semua papan dan perabot itu. Ini berarti jika kita tidak memiliki Kristus sebagai ekspresi kita, kita tidak memiliki-Nya sebagai perlindungan. Jika kita mengharapkan Kristus melindungi gereja, kita harus memiliki-Nya sebagai ekspresi kita.

Di beberapa tempat nampaknya gereja tidak ditudungi oleh Kristus, melainkan oleh sejumlah ajaran. Di tempat yang lain, tudungnya adalah penyataan karunia-karunia tertentu - karunia-karunia itu telah menjadi atap. Banyak kelompok orang beriman berada di bawah penudungan ajaran atau karunia - bukan di bawah penudungan Kristus. Tetapi karunia dan ajaran tidak mungkin bisa melindungi kita. Tidak ada karunia, ajaran, doktrin yang memadai untuk menudungi sekelompok orang beriman. Hanya Kristus yang harus ditinggikan, hanya Kristus yang harus dijunjung, dan hanya Kristus yang harus diekspresikan sebagai atap untuk menudungi kita.

Jika kita membaca ukuran kemah pertemuan, kita akan menemukan bahwa penudung itu tidak hanya mencakup atap, tetapi juga kedua sisinya. Dari luar, kita hanya bisa mehhat penudung itu. Alas, papan, dan isi kemah pertemuan tidak kehhatan dari luar. Ini berarti orang-orang yang ada di luar, tentu hanya melihat Kristus sebagai penudung gereja. Bila orang-orang masuk ke dalam kemah pertemuan, mereka tidak melihat yang lain, kecuali perbauran Kristus dengan manusia. Di luar, tidak ada yang lain kecuali Kristus, dan di dalam, tidak ada yang lain kecuali Kristus tergarap ke dalam dan berbaur dengan manusia. Dengan kata lain, ketika saya memandang gereja dari luar, saya hanya nampak Kristus, tetapi ketika saya masuk ke dalam gereja dan memandang orang-orang, saya nampak perbauran Kristus dengan setiap orang. Inilah gereja yang sejati. Dari luar, orang hanya dapat melihat Kristus, dan dari dalam, mereka hanya melihat Kristus tergarap ke dalam banyak orang.

Ini adalah gambar yang ajaib. Jika saya memiliki lebih dari sepuluh Surat Kiriman seperti Surat Roma, dua belas surat seperti Surat Korintus, dan enam puluh surat seperti Surat Efesus, tanpa gambar ini saya tidak akan begitu jelas. Saya hanyalah seorang anak kecil yang sederhana, masih memerlukan gambar atau lukisan. Ketika kita mengajar anak-anak di Taman Kanak-kanak, kita perlu menggunakan gambar. Misalnya, mengeja kata K-U-C-I-N-G di depan anak-anak tidak akan bisa mereka pahami. Kita perlu membawa sebuah gambar kucing dan menunjukkannya kepada mereka. Demikian pula, dengan memandang gambar kemah pertemuan ini, kita dapat memahami pembangunan yang sejati dari gereja. Ini bukanlah perkara suatu pola atau suatu organisasi, juga bukan semacam bentukan tangan manusia, melainkan Kristus tergarap ke dalam banyak orang; kini mereka menjunjung Kristus dan meninggikan Kristus, dan mengenakan Kristus sebagai ekspresi mereka untuk menudungi dan melindungi diri mereka.

Sekarang, mari kita perhatikan keempat lapisan dari penudung itu. Dari dalam, lapisan pertama adalah lapisan yang terbuat dari barang yang paling bagus - lenan halus yang dipintal benangnya dengan sulaman kerub dan diwarnai dengan warna-warna yang indah seperti biru (ungu tua), ungu (ungu muda), dan merah kirmizi. Biru berarti surgawi, ungu berarti kerajaan, dan merah kirmizi berarti penebusan. Namun bahan dasar kain itu adalah lenan halus, yang melambangkan keinsanian Kristus dengan segala ciri dan tingkah laku-Nya yang indah. Keempat kitab Injil memberikan uraian tentang seorang Manusia yang sifat dan sikap-Nya benar-benar seperti kain lenan halus. Begitu halus, tetapi sangat kuat, karena dibuat dengan kain lenan yang dipintal benangnya, kekuatannya dua kali lipat. Tuhan Yesus begitu halus, tetapi juga sangat kuat; tidak ada sesuatu pada diri-Nya yang kasar atau lemah.

Sulaman kerub berarti kemuliaan Allah ternyata dalam ciptaan-Nya. Kerub melambangkan kemuliaan Allah, dan sulaman kerubim pada lenan halus berarti kemuliaan Allah telah tergarap ke dalam manusia dan ke dalam ciptaan-Nya. Ketika Yesus berada di bumi, kita dapat melihat bahwa di dalam Manusia yang memiliki sifat dan karakter yang halus ini, kemuliaan ilahi Allah digarapkan ke dalam, ciptaan-Nya. Dia adalah Manusia yang sejati dengan sifat dan sikap manusia yang halus, tetapi Dia juga adalah jelmaan kemuhaan Allah yang tergarap ke dalam ciptaan-Nya. Sebagai Manusia, Dia adalah pancaran kemuhaan Allah. Dengan kata lain, pada-Nya terdapat kerub yang disulam. Dapatkah Anda memahami perkataan ini? Dia bukan hanya insani, tetapi juga ilahi. Sifat insani-Nya mengandung kemuliaan ilahi. Kita tidak bisa menjelaskan hal ini secara panjang lebar, kita harus terus maju.

Lapisan kedua terbuat dari bulu kambing. Dalam perlambangan Alkitab, kambing adalah lambang manusia yang berdosa. Matius 25:31-46 membicarakan pemisahan dan perbedaan antara domba dengan kambing, dan kambing disebutkan sebagai orang yang berdosa. Ini tepat berhubungan dengan 2 Korintus 5:21, Allah menjadikan Seseorang yang tidak mengenal dosa sebagai dosa karena kita. Sebab itu, lapisan tirai yang terbuat dari bulu kambing melambangkan Kristus, yang dijadikan dosa karena kita. Walaupun Dia adalah kain lenan yang halus, Dia dijadikan bulu kambing : Dia tidak berdosa dan tidak mengenal dosa, tetapi dijadikan dosa karena kita.

Setelah lapisan bulu kambing, ada lapisan kulit domba jantan, yang diwarnai merah. Warna merah mengacu kepada pencurahan darah dalam karya penebusan Kristus. Dia adalah yang tidak berdosa, yang dijadikan dosa karena kita, untuk menanggung dosa-dosa kita – kalimat yang sederhana ini menjelaskan ketiga lapisan yang pertama. Lapisan pertama melambangkan Dia sebagai yang tidak berdosa, lapisan kedua melambangkan Dia dijadikan dosa karena kita, dan lapisan ketiga melambangkan Dia menanggung dosa-dosa kita dan mengucurkan darahNya untuk menebus kita.

Setelah kulit domba jantan yang diwarnai merah, ada lapisan keempat, yang menjadi penudung paling luar. Penutup ini terbuat dari kulit anjing laut atau berang-berang, yang sangat kuat; dapat menahan segala macam cuaca, segala macam serangan. Penudung luar tidaklah begitu menarik dan agak kasar. Hari ini, secara lahiriah, Kristus tidaklah menyenangkan (menarik) orang dunia; Dia tampak seperti kulit berang-berang yang kuat, penampilannya sama sekali tidak menarik. Meskipun secara luaran Dia tidak begitu menarik, di dalam-Nya, Dia begitu cantik, ajaib, dan surgawi. Dia tidak seperti kekristenan hari ini dengan bangunannya yang indah dan besar - dari luar begitu megah, tetapi dari dalam dan ditinjau dari segi rohani, kotor, kosong, dan kadang-kadang bejat. Organisasi Kristen duniawi benar-benar buruk. Dari dalam gereja yang normal, bangunan Allah, ada sesuatu yang surgawi dan indah, namun dari luar kelihatan rendah dan kasar, tidak memiliki keindahan atau keelokan.

Saya hendak menggunakan kesempatan ini untuk mengatakan bahwa kita semua harus berusaha sekuatnya menyembunyikan diri kita. Jangan menaruh foto kita dalam koran (surat kabar). Itu bukan sesuatu yang berasal dari gereja, melainkan sepenuhnya berasal dari agama Kristen yang jatuh dan duniawi. 0, saudara-saudara, jika Mungkin, jangan membiarkan orang lain (siapa saja) memamerkan (mengiklankan) nama Anda di surat kabar. Tuhan Yesus tidak pernah mengiklankan diri-Nya. Dalam keempat kitab Injil kita baca, bagaimana Dia selalu berusaha menyembunyikan diri-Nya, dan kalau mungkin, merahasiakan diri-Nya. Kecantikan atau keelokan seharusnya merupakan pengalaman atas Kristus di dalam roh kita. Itulah kecantikan yang sejati di hadapan Allah.

Dalam kesempatan ini saya hendak menyampaikan nasihat tentang pembangunan balai sidang. Saudara-saudara, jika mungkin, seharusnya kita membangun balai sidang yang sederhana dan biasa saja. Jangan membanjun gedung yang mewah dan indah. Kita tidak dapat menarik orang kepada Tuhan dengan bangunan luaran yang indah. Saya pernah ke Roma dan melihat yang disebut Katedral Santo Petrus. Saya tidak tahu berapa juta dolar nilai bangunan itu, atau berapa banyak orang yang tertarik ke sana setiap hari. Ketika saya di sana, bangunan itu dikerumuni banyak orang. Tetapi saya takut, tidak ada satu per seribu dari para pengunjung itu yang beroleh selamat. Apa untungnya menarik orang dengan sarana semacam itu? Saya katakan, sekiranya mungkin, kita harus terlepas dari bangunan semacam itu. Itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan hati Tuhan, melainkan menyalahi Tuhan.

Namun penekanan saya bukan pada perkara itu, melainkan pada Kristus yang penuh kecantikan di dalam-Nya dan begitu sederhana serta rendah hati dipandang dari luar. Kristus semacam itulah yang harus terekspresi dari kesaksian kita dan menjadi penudung gereja. Ini bukanlah pendapat atau pikiran manusia; ini adalah gambaran yang diperlihatkan oleh firman Allah. Kita tidak seharusnya meninggikan apa saja sebagai satu ekspresi. Seharusnya kita hanya meninggikan dan menjunjung Kristus kita yang ajaib sebagai penudung bangunan Allah - Kristus yang di dalam-Nya penuh dengan keindahan ilahi, dan Kristus yang di luar-Nya begitu sederhana dan rendah hati di pandangan dunia. Gereja yang demikianlah yang dapat menahan segala macam serbuan dan menahan segala godaan. Begitu serangan musuh datang, orang-orang yang berada dalam bangunan indah yang disebut gereja-gereja Kristen akan jatuh lebih dulu. Hanya orang yang tidak memiliki penampilan luaran (tetapi memiliki keindahan dan kecantikan ilahi di dalam diri mereka) yang akan bertahan sampai akhir. Kristus adalah isi mereka dan penudung mereka. Tidak ada yang dapat menghancurkan atau mengalahkan bangunan gereja yang ditudungi dengan Kristus yang demikian.

Mari kita belajar melaksanakan hal-hal ini dan mencari-Nya di dalam roh. Mari kita belajar mengenali roh kita dan mengalami Dia sebagai segala sesuatu bagi kita. Kemudian kita akan memiliki ukuran kepenuhan Kristus dan menjadi bahan-bahan bangunan yang siap untuk dibangun bersama orang lain sebagai bangunan Allah, yang ditudungi dengan Kristus sebagai ekspresinya. Dengan demikian, akan tampak gereja yang wajar dan kuat, yang dapat menahan segala serangan, menanggung segala cobaan, dan mengalahkan segala godaan, sehingga Allah mendapatkan kemuliaan yang terunggul.