MANUSIA TRIPARTIT MEWUJUDKAN HIDUP TUBUH
Kini kita maju dari Roma 8 ke Roma 12. Pasal 9, 10, dan 11 adalah pasal-pasal sisipan; jadi, pasal 12 adalah lanjutan pasal 8. Dalam pasal 7 pikiran begitu merdeka, tetapi dalam pasal 8 pikiran menjadi bersandar - bersandar pada roh. Pikiran dalam pasal 7 mewakili diri yang merdeka, yang berjuang dengan usahanya sendiri, yang selalu berakhir dalam kegagalan. Pikiran dalam pasal 8 mewakili diri yang bersandar, beristirahat pada Tuhan Yesus. Hal itu memberi kesempatan kepada Tuhan untuk meresapi seluruh diri kita dengan diri-Nya, membuat kita menjadi anggota yang hidup dari TubuhNya. Kemudian kita dibawa ke pasal 12. Pasal 12 membahas tiga hal untuk mewujudkan hidup gereja yang wajar : tubuh, pikiran (yang adalah bagian utama dari jiwa), dan roh.
(1) Tubuh Kita Dipersembahkan
bagi Hidup Gereja
Begitu kita bersandar kepada Kristus dan Dia memiliki seluruh diri kita, tubuh kita terlepas dari tangan perampas musuh. Ketika kita hidup dengan merdeka, Iblis dapat merebut tubuh kita dan memaksa kita melakukan perkara-perkara yang bertentangan dengan kehendak kita. Kini, ketika kita bersandar pada Kristus, yang paling kuat, Dia melepaskan tubuh kita dari tangan perampas musuh. Lalu apa langkah selanjutnya? Kita harus mempersembahkan tubuh kita kepada Tuhan (Rm. 12:1). Ini adalah satu tindakan yang belum dilakukan oleh kebanyakan saudara saudari Kristen yang terkasih. Kita harus mempersembahkan tubuh kita dengan tegas kepada-Nya, dengan berkata, "Tuhan, terima kasih kepadaMu karena tubuhku, yang sebelumnya adalah tubuh dosa dan tubuh di bawah kuasa maut, kini dihidupkan dan dilepaskan. Aku persembahkan tubuh ini kepada-Mu untuk Tubuh-Mu. Jika aku menahan tubuhku, Tubuh-Mu tidak dapat terwujud." Jika kita hendak mewujudkan Tubuh Kristus, kita, harus dengan tegas dan praktis mempersembahkan tubuh kita kepada Kristus.
Dalam beberapa hari ini, ketika menempuh perjalanan dari Barat ke Timur, saya bertemu dengan sejumlah orang Kristen yang membicarakan hidup Tubuh. Tetapi, bagaimana dengan tubuh kita? Kita sudah berbicara begitu banyak tentang Tubuh Kristus, tetapi apa yang kita lakukan dengan tubuh kita? Masihkah kita, menahannya? Selama kita masih menahan tubuh kita, tidak mungkin
kita mewujudkan Tubuh Kristus. Dalam Roma 12 kita diberi tahu bahwa jika kita ingin mewujudkan hidup gereja, pertama-tama kita harus mempersembahkan tubuh kita yang sudah mengalami kelepasan ini kepada Tuhan. Karena ini bukan lagi tubuh kita, tubuh ini harus dipersembahkan kepada Tuhan sebagai persembahan yang hidup.
Saudara-saudara, kita menghadiri sidang dengan hati kita atau dengan tubuh kita? Banyak orang Kristen berkata, "0, aku memiliki hati bagi hidup gereja!" Memang mereka mungkin memiliki hati bagi (tertarik kepada) hidup gereja, tetapi tubuh mereka bukan bagi hidup gereja. Tubuh mereka ditinggal di rumah. Kita harus dapat mengatakan, "Aku tidak hanya memiliki hati bagi hidup gereja, tetapi aku pun memiliki tubuh bagi hidup gereja." Apakah hati kita bagi hidup gereja dan tubuh kita bagi hidup pribadi kita? Kalau demikian, bagaimana kita dapat mewujudkan hidup gereja? Kita dapat berkata dengan sangat manis mengenai hal ini : segalanya hanya, "Haleluya" dan setiap orang ada dalam suasana "surgawi"! Tetapi sebenarnya segala sesuatu hanya ada di "udara" dan di dalam hati. Jika kita hendak mewujudkan penghidupan Tubuh Kristus, kita harus dengan tegas mempersembahkan tubuh kita, kepada Tuhan. "Tuhan, dulu tubuhku ada di bawah tangan perampas musuh. Kini aku bersyukur kepada-Mu, Engkau telah melepaskan tubuh ini. Di sini aku mempersembahkannya kepada-Mu. Tubuh ini bukan lagi tubuhku, melainkan kurban bagiMu!" Kemudian kita akan mampu mewujudkan hidup gereja.
(2) Pikiran Kita Diperbarui bagi Hidup Gereja
Setelah kita mempersembahkan tubuh kita kepada Tuhan, hal kedua untuk mewujudkan hidup gereja harus dilakukan dengan tepat. Kita harus diubah melalui pembaruan pikiran kita. (Rm. 12:2). Dulu, pikiran kita selalu berusaha melakukan sesuatu berdasarkan dirinya sendiri bagi Allah; kini pikiran ini bersandar pada Kristus. Pikiran ini, yang bersandar kepada Tuhan, harus diperbarui, diterangi, dan dididik ulang.
Ada sebuah contoh yang nyata. Seorang saudara, yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan hidup gereja, dengan tegas mempersembahkan tubuhnya sebagai persembahan kepada Tuhan dan kepada gereja. Tetapi, setelah dia mempersembahkan dirinya, dia menjadi satu persoalan besar bagi gereja. Ketika dia bersikap acuh tak acuh terhadap hidup gereja, keadaan gereja tenang-tenang saja; tetapi sekarang, ketika tubuhnya masuk ke dalam gereja, pikirannya juga masuk, dan pikirannya itu belum diperbarui. Perkara-perkara usang kekristenan belum disalibkan dan dimurnikan. Ketika dia belum mempersembahkan tubuhnya, dia acuh tak acuh terhadap hidup gereja. Dia berkata, "Jika aku ada waktu dan aku suka, aku akan menghadiri sidang. Kalau tidak, aku tidak mau datang." Tetapi sekarang dia lebih mengasihi Tuhan, maka dia mempersembahkan dirinya kepada Tuhan dan gereja. Dia telah menaruh seluruh dirinya ke dalam gereja. Tetapi begitu tubuhnya masuk, pikirannya yang menjadi masalah juga masuk, mendatangkan banyak opini, ajaran, pemikiran, dan berbagai pertimbangan, yang menyebabkan timbulnya banyak kesulitan dalam hidup gereja.
Setelah tubuh dipersembahkan, pikiran harus diperbarui. Ketika kita mengambil bagian sepenuhnya dalam hidup gereja yang praktis, pikiran kita harus dimurnikan, diperbarui, dan dididik ulang. Agar pikiran kita diperbarui dan dididik ulang, kita harus membuang semua pikiran usang kita dan ide alamiah kita serta semua ajaran dan pertimbangan dari kekristenan yang tradisional. Inilah yang disebut diubah oleh pembaruan pikiran. Setelah itu, barulah mungkin kita memiliki hidup gereja; kalau tidak, pikiran akan menjadi persoalan paling besar dan sumber kesulitan paling besar dalam gereja. Beberapa orang yang kekasih telah mendatangkan begitu banyak persoalan sejak mereka masuk ke dalam gereja. Sebelum mereka masuk, gereja sangat damai dan berada dalam keesaan; tetapi sejak mereka masuk, pikiran mereka telah menimbulkan persoalan bagi gereja. Mereka pikir, "Hatiku baik", tetapi sebenarnya pikiran mereka sangat mengerikan. Banyak perkara usang harus ditanggalkan untuk mengubah pikiran mereka.
(3) Roh Kita Membara bagi Hidup Gereja
Pertama, tubuh harus dipersembahkan; kedua pikiran, yang mewakili jiwa kita, perlu diperbarui; dan terakhir, roh harus membara, menyala-nyala dan berapi-api. Roh kita harus menyala-nyala (Rm. 12:11). Seorang saudara yang terkasih mungkin sudah mempersembahkan dirinya kepada Tuhan dan kepada gereja dan mungkin sudah sepenuhnya diperbarui dalam pikirannya, karena semua perkara usang telah ditanggalkan; tetapi mungkin dia begitu dingin di dalam roh! Dia tidak lagi menjadi masalah, tetapi menjadi beban. Setiap kali dia datang bersidang, dia duduk sedingin kuburan. Dia selalu tenang dan tidak pernah menimbulkan masalah, tetapi gereja harus memikulnya sebagai beban. Ketika dalam sidang penatua dan diaken dibagikan tanggung jawab, dia hanya duduk di sana. Sikapnya adalah demikian : "Aku sepenuhnya setuju denganmu dan aku bagi gereja. Aku tidak ada masalah; apa saja yang kalian katakan semuanya baik bagiku." Misalkan ketika saudara-saudara pewajib bersidang bersama, mereka semua seperti itu. Siapa yang akan memikul beban? Semua saudara itu sendiri menjadi beban, bukan orang yang mengambil bagian dalam memikul beban gereja. Di satu pihak, kita tidak seharusnya menjadi pembawa masalah, tetapi di pihak lain, kita perlu menjadi sumber masalah. Dengan kata. lain, kita tidak seharusnya berbeda pendapat dan berselisih dengan saudara lain, tetapi kita harus membara. Kita harus menyala dan membara. Kita harus menyala di dalam roh kita.
Kehidupan orang Kristen mungkin nampaknya bersifat perorangan/pribadi, tetapi sebenarnya tidak demikian, kehidupan orang Kristen adalah kehidupan yang korporat, kehidupan Tubuh. Anda sendiri bukanlah Tubuh, Anda hanyalah satu anggota dan Anda memerlukan orang lain sebagai anggota untuk mewujudkan hidup gereja. Ketika kita berhenti berusaha berbuat baik berdasarkan diri kita sendiri, dan belajar bersandar kepada Kristus serta hidup oleh-Nya, kita adalah anggota yang hidup dan dipersiapkan untuk menjadi anggota yang berfungsi dari Tubuh-Nya. Kemudian kita harus mewujudkan hidup gereja dengan mempersembahkan tubuh kita secara tegas kepada Tuhan; dengan membiarkan pikiran kita diperbarui dan menjaga roh kita menyala-nyala. Ketika tubuh kita dipersembahkan, jiwa kita diubah, dan roh menyala-nyala, kita akan memiliki hidup gereja. Kita akan menjadi anggota Tubuh yang hidup dan berfungsi - bukan yang mendatangkan masalah, dingin atau mati. Kita tidak akan menjadi anggota yang tidak bisa berfungsi, melainkan akan menjadi anggota yang unggul dan agresif dalam menunaikan fungsi. Kita akan memiliki realitas hidup gereja.
PEMBANGUNAN TEMPAT KEDIAMAN ALLAH
Ada banyak perincian yang lebih penting sehubungan dengan roh dan jiwa, tetapi perhatian kita sekarang harus terpusat pada masalah pembangunan tempat kediaman Allah. Banyak penekanan yang telah dilakukan mengenai kemah pertemuan, tempat kediaman Allah. Telah kita lihat bahwa kemah pertemuan terdiri dari pelataran luar dan dua bagian yang berupa kemah, yaitu tempat kudus dan tempat maha kudus. Baiklah kita tinjau kembali secara singkat isi ketiga tempat tersebut.
Di pelataran luar terdapat mezbah yang melambangkan salib Kristus, dan bejana pembasuhan yang melambangkan karya pembasuhan Roh Kudus.
Tempat kudus berisi meja roti sajian, kaki dian, dan mezbah pembakaran ukupan. Ketiga benda tersebut merupakan lambang Kristus sebagai hayat kita dalam berbagai aspeknya. Meja roti sajian mewahyukan Kristus sebagai suplai hayat kita setiap hari - Dialah roti hayat kita. Kaki dian melambangkan Kristus sebagai terang hayat. Suplai hayat yang kita nikmati menjadi terang, yang bersinar di dalam kita. Berikutnya, mezbah pembakaran ukupan melambangkan aroma kebangkitan Kristus.
Tempat maha kudus berisi satu benda, tabut perjanjian, melambangkan Kristus itu sendiri. Ada tiga benda di dalam tabut itu : manna yang tersembunyi, yaitu hayat batini dan suplai hayat batini; hukum yang tersembunyi, yaitu penyorotan batini di dalam kita; dan tongkat yang tersembunyi dengan tunas yang bersemi, yaitu kekuatan kebangkitan dan otoritas kebangkitan yang batini. Manna yang tersembunyi, hukum yang tersembunyi, dan otoritas yang tersembunyi semuanya berada dalam kebangkitan, dan jauh lebih dalam daripada ketiga benda yang terdapat dalam tempat kudus.
ISI KERAH PERTEMUAN
Semua itu adalah isi kemah pertemuan, tempat kediaman Allah. Pengalaman atas kedelapan benda yang terdapat di pelataran luar, tempat kudus, dan tempat maha kudus adalah isi yang sejati dari bangunan Allah yang sejati, gereja. Jika kita hendak menjadi bangunan tempat kediaman Allah, kita harus mengalami apa yang telah dirampungkan Kristus dengan salib-Nya dan pembersihan Roh Kudus. Kita juga harus mengalami Kristus secara memadai sebagai hayat kita, terang kita, dan aroma kebangkitan kita. Selanjutnya, kita harus memiliki pengalaman yang sejati atas diri Kristus sebagai manna yang tersembunyi, hukum yang tersembunyi, dan otoritas yang tersembunyi. Pengalaman atas Kristus dalam aspek-aspek ini merupakan isi yang sejati dari bangunan Allah dan menghasilkan bahan-bahan untuk bangunan Allah.
Dalam beberapa tahun yang lalu, orang-orang sering membicarakan gereja Perjanjian Baru. Tetapi gereja Perjanjian Baru bukanlah gereja yang mengikuti pola tertentu, melainkan gereja yang berasal dari hayat dan dari pengalaman atas Kristus. Misalnya kita berkata, "Kita akan membuat seorang manusia seperti orang itu." Lalu kita membuat sebuah lengan dari lilin, sebuah kepala dari marmer, badan dari kayu, dan kaki dari tanah liat. Kalau semua benda itu disatukan dalam ukuran dan bentuk yang tepat dan dicat dengan warna yang cocok, mungkin kita bisa melihat pola yang persis dengan orang itu, tetapi kita tidak memiliki realitas dari orang itu. Manusia yang sejati bukan dibuat berdasarkan suatu pola, melainkan dilahirkan dan dimatangkan dengan pertumbuhan hayat. Manusia atau orang itu mula-mula dilahirkan dari seorang ibu yang hidup dan kemudian bertumbuh dengan menerima rawatan setiap hari. Akhirnya, dia menjadi orang semacam itu dengan pola tertentu. Kalau tidak, mungkin saja ada polanya tetapi tidak ada manusia yang hidup.
Suatu kali ketika kami di Pittsburgh, saya berkata kepada seorang teman, "Mari kita lupakan pola itu dan sepenuhnya memperhatikan hayat." Misalnya, Anda memiliki seorang anak laki-laki yang baik. Anda tidak memperhatikan terlalu banyak polanya. Anda tidak berusaha membentuknya hari demi hari dengan cara tertentu. Pertama-tama, dia dilahirkan oleh ibunya, dan kemudian Anda merawatnya dengan susu dan makanan bayi. Bayi itu pun bertumbuh dan bertumbuh, mencapai bentuk tertentu, dan pola tertentu. Pola itu muncul dari kelahirannya dan pertumbuhannya dalam hayat. Sebagaimana kita tidak bisa membentuk anak Anda, demikian pula kita tidak bisa membentuk satu gereja Perjanjian Baru. Jika kita mencoba membentuknya, yang kita miliki hanyalah satu pola tanpa hayat. Kita memang bisa membentuk gereja berdasarkan suatu pola, tetapi kita tidak bisa membentuk gereja yang hidup.
Selama beberapa tahun ini saya terus-menerus mendorong orang dan memohon orang, "Jangan membentuk apa-apa!" Apa saja yang kita bentuk bukanlah gereja yang sejati. Selama 6.000 tahun yang lalu tidak ada satu pun orang hidup, di bumi ini yang berasal dari pembentukan; semua orang dilahirkan dan bertumbuh dalam hayat. Gereja adalah Tubuh Kristus, dan tidak ada tangan manusia yang mana pun yang dapat membuatnya. Kita dapat membuat banyak hal; tetapi kita tidak bisa membuat satu Tubuh yang hidup dengan anggota-anggota yang hidup. Kita tidak pernah diperintah atau disuruh membuat gereja dalam Perjanjian Baru; melainkan dianjuri untuk mengalami Kristus, melayankan Kristus kepada orang lain dan melahirkan banyak anak melalui kelahiran rohani. Gereja yang sejati, Tubuh Kristus, hanya muncul, dari kelahiran dan pertumbuhan hayat. Inilah sebabnya kita menekankan prinsip bahwa kemah pertemuan berasal dari pengalaman terhadap isinya.
PEMISAHAN PELATARAN LUAR
Berdasarkan prinsip ini, mari kita lihat bahan utama dari kemah pertemuan. Mula-mula, ada "pemisahan" pelataran luar (Kel. 27:9-19; 38:9-20). Disebut "pemisahan" karena pelataran luar seperti pagar yang mengelilingi harta benda Anda, memisahkan dan menjaganya dari segala yang ada di luar. Pemisahan pelataran luar terdiri dari tiga hal utama : 1) alas tembaga, 2) tiang, dan 3) layar yang terbuat dari lenan halus yang dipintal benangnya. Dasar dari dinding pemisah terbuat dari alas tembaga. Ada dua puluh alas di sebelah utara, dua puluh lagi di sebelah selatan, sepuluh di sebelah barat, dan sepuluh di sebelah depan (Kel. 27) - semuanya berjumlah enam puluh alas tembaga. Di atas setiap, alas itu ada tiang, yang dihubungkan dan disatukan dengan kaitan. Layar yang tergantung pada tiang itu dibuat dari lenan halus yang dipintal benangnya. Sebab itu, tiga benda utama adalah alas tembaga, tiang, dan lenan halus yang dipintal
Tembaga yang membentuk dasar pemisahan itu adalah bahan yang sama dengan dua benda yang terdapat di pelataran luar : mezbah tembaga dan bejana pembasuhan dari tembaga. Makna rohaninya adalah alas tembaga itu berasal dari pengalaman terhadap mezbah dan bejana pembasuhan. Mezbah dan bejana pembasuhan itu terbuat dari tembaga, sebab itu semua alas pemisah itu dibuat dari tembaga. Di pelataran luar ada mezbah tembaga, bejana pembasuhan dari tembaga dan alas tembaga. Kesan langsung yang diterima orang ketika mereka masuk ke dalam pelataran luar adalah alas pemisah itu adalah tembaga, bahan yang sama dengan bahan pembuat mezbah dan bejana pembasuhan. Ini berarti pengalaman atas salib dan pembersihan oleh Roh Kudus adalah satu-satunya alas untuk pemisahan dalam bangunan Tuhan.
Kita tahu bahwa tembaga melambangkan penghakiman ilahi Allah. Semua yang kita miliki, semua apa adanya kita, dan semua yang kita lakukan harus ditaruh di mezbah untuk dihakimi. Mezbah atau salib, pertama-tama adalah tempat penghakiman; Allah menghakimi segala sesuatu di atas salib. Tembaga yang dipakai untuk menyalut mezbah ini, menurut Bilangan 16, berasal dari perbaraam tembaga 250 orang yang memberontak. Ketika orang-orang yang memberontak kepada Allah dan Musa itu dihakimi dengan api, Allah menyuruh Musa mengambil semua perbaraan tembaga mereka untuk dijadikan penyalut mezbah sebagai peringatan. Ini adalah peringatan penghakiman Allah atas orang-orang yang memberontak (Bil. 16:38). Untuk memahami dan mewujudkan pembangunan gereja, semua yang kita miliki, semua yang dapat kita lakukan, dan semua adanya kita perlu dihakimi dengan salib Kristus. Inilah dasar alas pemisah bagi bangunan Allah.
Mungkin kita jelas tentang prinsip pemisahan, tetapi kita tidak mampu menerapkannya. Misalkan saya adalah seorang saudara yang beroleh selamat dalam kekristenan hari ini. Melalui pemberitaan Injil, saya dengar bahwa saya adalah orang dosa, Kristus mengasihi saya, dan Dia mati di atas salib. Hasilnya, saya mengakui bahwa saya adalah orang dosa. Saya berdoa, "Ya Allah, ampunilah aku, karena aku orang dosa. Aku mengucap syukur kepada-Mu karena Engkau memberikan Anak-Mu, Tuhan Yesus, mati di atas salib bagiku. Aku memuji-Mu, karena Dia adalah Juruselamatku dan karena dosa-dosaku telah diampuni. Haleluya! Aku memiliki sukacita dan damai sejahtera di batinku." Tentu saja, kemudian saya pergi menemui seorang pendeta, yang adalah teman baik saya, dan mengizinkannya membaptis saya. Setelah dibaptis, Saya menjadi "anggota" gerejanya. Suatu hari Tuhan membuka mata saya, sehingga saya nampak alasan Dia menyelamatkan saya. Dia menyelamatkan saya dengan tujuan terbangun bersama dengan orang lain untuk menjadi tempat kediaman Allah. Setelah mendengar sekelompok orang beriman di tempat saya berbicara tentang hayat Tubuh dan pembangunan gereja, saya rela dibangun bereama mereka dalam hayat Tubuh. Akhirnya, Roh Kudus berkata kepada saya, "Apakah kamu datang untuk dibangun? Apakah kamu datang untuk mewujudkan hidup gereja? Kalau begitu, kamu harus pergi kepada salib dulu! Apa yang kamu bisa lakukan, apa adamu, dan apa yang kamu miliki harus dihakimi di atas salib." Kemudian saya harus mengakui dan bertobat, berkata, "Tuhan, tidak satu pun yang berasal dari diriku yang bisa Kau perkenan, dan tidak ada yang baik bagi pembangunanMu. Semua harus dihakimi." Jika saya tidak menempuh penghakiman salib, tidaklah mungkin saya terbangun bersama orang lain; karena tidak ada dasar, tidak ada fondasinya. Jika saya datang ke dalam gereja dengan sombong, mungkin saya bisa diorganisir, tetapi tidak mungkin saya terbangun di dalam gereja. Fondasinya, seperti yang tampak pada alas pemisah bangunan Allah, berasal dari pengalaman atas mezbah tembaga. Jadi, fondasi yang kukuh dari pembangunan tempat kediaman Allah berasal dari pengalaman atas salib. Tidak ada jalan lain. Semua harus diletakkan di mezbah, dibakar, dan dihakimi. Pada pintu masuk utama dari gereja terdapat salib. Jika kita hendak masuk ke dalam gereja, kita harus menaruh diri kita di atas mezbah salib.
Bila seluruh diri kita dan seluruh tindakan kita telah ditaruh pada salib, kita dapat bersaksi betapa kotor, betapa duniawi, dan betapa dosanya diri kita. Kita sadar bahwa kita tidak hanya memerlukan penebusan Kristus, tetapi juga pembersihan Roh Kudus. Suatu hari, menurut indra batini saya, saya merasa seperti melompat ke dalam bejana pembasuhan. Saya berdoa, "Tuhan, bersihkanlah aku! Aku berdosa, aku duniawi! Setiap bagian dari diriku kotor! Aku memerlukan pembersihan Roh Kudus!" Dengan beban ini dalam doa saya, saya mengalami salib dan bejana pembasuhan. Di salib kita menaruh segala sesuatu dari diri kita pada maut, dan dalam bejana pembasuhan, kita menaruh segala sesuatu di bawah kuasa pembersih Roh Kudus. Ini tidak hanya membuat kita murni, tetapi tidak bercela. Kemudian kita akan datang dengan rendah hati ke dalam gereja dengan rahmat-Nya, dengan penebusan-Nya, dan dengan pembersihan-Nya. Setelah seorang saudara mengalami mezbah dan bejana pembasuhan, dan setelah dia dimurnikan dari segala kesombongan dan pembenaran diri, dia telah memiliki dasar, alas tembaga, untuk memancangkan tiang di atasnya.
Alkitab tidak memberi tahu kita dari bahan apa tiang itu dibuat, tetapi kita diberi tahu bahwa kaitan dan penyambung yang mengencangkan dan menyatukan tiang itu, juga salut kepala tiang itu dibuat dari perak. Perak melambangkan penebusan. Ini melambangkan, bagi pembangunan Allah, kita semua dibubungkan dan disatukan, dan ditutupi dengan penebusan Tuhan, bukan dengan yang lain. Jika kita hendak mempraktekkan hidup gereja, kita harus menyadari bahwa demi penebusan Tuhanlah kita disatukan dan di bawah penebusan ini kita ditutupi, sehingga kita dapat dipisahkan bagi bangunan Allah.
Pada tiang juga tergantung lenan halus yang dipintal benangnya, memberi kesaksian kepada orang-orang bahwa gereja begitu murni dan bersih dalam sikap dan tingkah laku. Ini adalah garis pemisah. Jika kemah pertemuan itu didirikan dengan garis pemisah yang berkeliling, dari jauh orang dapat melihat lenan halus membatasinya. Itulah kesaksian gereja kepada dunia yang berada dalam kegelapan. Seluruh dunia hitam, tetapi di sini ada sesuatu yang tegak, bersaksi bahwa gereja itu bersih, murni, dan putih. Kesaksian semacam ini hanya dapat berasal dari penghakiman mezbah dan pembersihan bejana pembasuhan, yang menghasilkan tingkah laku yang murni dan sikap yang tidak bercela di hadapan dunia. Inilah lenan halus yang dipintal benangnya, yang tergantung pada tiang penunjang yang didirikan di atas alas tembaga. Inilah garis pemisah kesaksian bahwa gereja dimurnikan dari dunia. Di luar garis ini segalanya hitam, tetapi di dalam garis ini, segalanya putih.
PAPAN-PAPAN KEMAH PERTEMUAN
Meskipun ini baik, ini hanya pengalaman di pelataran luar. Ada banyak hal yang baik di pelataran luar : tembaga, perak, dan lenan putih. Tetapi tidak ada emas, yang melambangkan sifat ilahi. Ini berarti, ketika kita berada di pelataran luar, sifat ilahi belum tergarap ke dalam kita dan belum dapat terekspresi dari diri kita. yang ada hanya penghakiman dan pembersihan perkara-perkara negatif. Dengan kata lain, seorang saudara yang begitu sombong ketika dia datang, kini sangat rendah hati dan nampaknya tidak lagi membenarkan diri sendiri, tidak lagi memuliakan diri sendiri dan tidak sombong. Tetapi ini hanya perkara dalam sikap manusia dan pembersihannya. Tidak ada kadar Allah yang tergarap ke dalamnya, sehingga dapat diekspresikan - tidak terlihat adanya emas. Hal itu baik secara luaran, tetapi hanya di pelataran, belum masuk ke dalam kemahnya. Itu masih di udara terbuka, tanpa penutup, tanpa tudung, tanpa bangunan. Sifat ilahi perlu dibaurkan dengan sifat kita : kita memerlukan perbauran sifat ilahi dengan sifat insani. Sebab itu, kita harus maju dari pelataran luar ke tempat kudus, bahkan ke tempat maha kudus.
Jika dengan rahmat dan anugerah Tuhan, kita masuk ke dalam tempat kudus dan tempat maha kudus, hampir di segala tempat kita akan melihat emas - meja emas, kaki dian emas, mezbah pembakaran ukupan dari emas, tabut perjanjian emas, dan papan emas. Sekelilingnya adalah emas, isinya emas, setiap perabotnya dan perkakasnya dari emas. Apa artinya ini? Puji Tuhan, kayu dari papan-papan itu (Kel. 26:15) melambangkan keinsanian, sifat insani; dan emas yang menyalut papan itu melambangkan keilahian, sifat ilahi. Kini sifat ilahi dan sifat insani telah menjadi satu! Di satu pihak, papan itu kayu, dan di pihak lain juga emas. Di dalam tempat kudus dan tempat maha kudus ini, sifat ilahi berbaur dengan sifat insani. Itulah sebabnya tempat itu disebut tempat kudus dan tempat maha kudus, karena setiap barang yang kudus tentu berasal dari Allah. Di pelataran luar, kita benar, tetapi tidak kudus. Setiap aspek dari tingkah laku dan sikap kita di pelataran luar itu benar, karena sudah dihakimi di atas salib dan dimurnikan di bejana pembasuhan. Di sana ada kebenaran, tetapi tidak ada kekudusan, yaitu sifat ilahi tergarap ke dalam kita. Setelah kita masuk ke dalam tempat kudus dan tempat maha kudus, barulah kita melihat segalanya disalut dengan emas. Hampir segala sesuatu, setiap bagian, memiliki unsur kayu, tetapi disalut dengan emas. Di sana ada sifat insani, tetapi berbaur dengan sifat ilahi.
Kalau kita tidak masuk ke dalam tempat kudus dan tempat maha kudus, serta memiliki sesuatu yang ilahi tergarap ke dalam kita, tidaklah mungkin kita menjadi papan yang terbangun bersama sebagai tempat kediaman Allah. Gereja dibangun dengan perbauran Allah dengan manusia. Perbauran Allah dengan kita menjadi satu-satunya bahan bagi pembangunan Tubuh Kristus. Tidak peduli berapa banyak kita telah dimurnikan, kita hanya dapat menjadi kain lenan putih; kita tidak bisa menjadi papan untuk pembangunan kemah pertemuan. Tetapi semakin banyak kita disalut dengan emas, kita akan semakin menjadi bahan-bahan untuk pembangunan Allah. Itulah sebabnya kita harus masuk ke dalam roh, melatih roh kita, berjalan menurut roh dan selalu berbaur dengan Tuhan di dalam roh. Dengan perbauran sifat ilahi dan sifat insani itulah kita menjadi bahan-bahan pembangunan rumah Allah.
Papan-papan yang disalut dengan emas dalam tempat kudus dan tempat maha kudus didirikan di atas alas perak, yang berarti penebusan Kristus adalah dasar dan fondasi bagi pembangunan rumah Allah. Tetapi dari mana asal emas untuk menyalut papan-papan itu? Emas itu berasal dari pengalaman atas meja emas, kaki than emas, mezbah pembakaran ukupan dari emas, dan tabut perjanjian emas. Semakin banyak pengalaman kita atas Kristus sebagai hayat kita, terang kita, dan aroma kebangkitan kita, dan semakin banyak pengalaman kita atas diri Kristus dengan cara yang mendalam, semakin banyak pula sifat ilahi yang tergarap ke dalam kita. Emas yang menyalut papan-papan itu berasal dari pengalaman atas isi tempat kudus dan tempat maha kudus. Sifat ilahi yang berbaur dengan sifat insani kita hanya berasal dari pengalaman atas Kristus sebagai hayat kita, terang kita, dan aroma kebangkitan kita, dan bahkan dari pengalaman yang paling dalam atas diri Kristus. Ini menghasilkan bahan bagi pembangunan Allah. Kita harus mengalami Kristus setiap, hari sebagai manna kita, sebagai terang kita, sebagai aroma kebangkitan kita, dan mengalamiNya dengan cara yang paling dalam, untuk mendapatkan perbauran yang ilahi.
Agar bisa dibangun, sedikitnya ada tiga hal lain yang perlu kita pahami dengan jelas. Pertama, lebar setiap papan satu setengah hasta (Kel. 26:16). Kita harus sadar bahwa kita hanya satu setengah hasta, tidak lebih dari itu. Ada 48 papan dalam kemah pertemuan yang digabungkan sepasang-sepasang, setiap pasang papan lebarnya tiga hasta. Alasan setiap papan hanya selebar satu setengah hasta adalah setiap papan hanya berukuran setengah dari ukuran yang penuh dan perlu dipasangkan dengan papan yang lain. Kita harus ingat, kita hanya setengah. Ketika Tuhan Yesus mengutus murid-muridNya, Dia selalu mengutus mereka dua-dua. Petrus memerlukan Yohanes, Yohanes memerlukan Petrus. Kita hanya setengah, dan memerlukan setengah lainnya untuk melengkapi kita. Kita tidak seharusnya bertindak dan bekeria secara independen atau secara perorangan. Semua pelayanan kita dan fungsi kita dalam gereja harus dirampungkan secara korporat. Dua lembar papan harus digabungkan menjadi satu. Kits, bukanlah satuan yang lengkap; kita memerlukan setengah yang lain. Siapakah setengah Anda? Kita harus menyadari bahwa setiap, orang di antara kita bukan berukuran tiga hasta, melainkan hanya satu setengah hasta. Kita tidak bisa pergi sendiri, kita tidak bisa melayani secara perorangan, kita tidak bisa berfungsi dan bekerja secara merdeka. Kita harus menjadi anggota, yang berkoordinasi dalam bangunan Allah.
Di samping itu, setiap papan memiliki dua pasak, dua bagian ekstra yang masuk ke dalam alas (Kel. 26:19). Mengapa ada dua pasak bagi setiap papan, dan bukan hanya satu? Itu jelas. Satu pasak akan menyebabkan papan itu goyang, tetapi dua pasak memegang dan menjaga papan itu dengan kukuh di tempatnya. Dua berarti penegasan. Itu sama seperti seseorang memiliki dua kaki. Jika seseorang berdiri dengan satu kaki, orang itu akan mudah goyang atau jatuh; tetapi dengan kedudukan dua kaki, dia tidak mudah goyang dan jatuh. Kita tidak suka memiliki banyak saudara yang goyang. Pada pagi hari, seseorang mungkin menghadap ke satu arah, dan pada sore hari menghadap arah yang berlawanan. Pada pagi berikutnya, dia sudah berpaling ke arah yang lain lagi selalu berubah-ubah arah. Jika kita tidak tahu di mana dia berada, kita tidak mungkin dapat menangkapnya. Dia selalu berputar pada satu pasak. Pada diri saudara dan saudari yang tidak mantap seperti ini, tidak mungkin ada pembangunan. Mereka harus menjadi stabil (mantap). Tidak peduli apa yang terjadi, mereka harus berdiri di sana sampai mati. Bila seseorang rela mengorbankan hayatnya, maka pembangunan gereja baru mungkin terlaksana yang lain diperlukan untuk mendampingi kita, kita perlu penegasan mereka secara terus-menerus.
Selain itu, ada kayu lintang emas dan gelang emas yang menghubungkan dan menyatukan semua papan menjadi satu kesatuan. Gelang itu mewakili Roh Kudus. Kita menerima Roh Kudus sebagai gelang pada saat kita memulai kehidupan kita sebagai orang Kristen, ketika kita dilahirkan kembali (Luk. 15:22 dan Kej. 24:47). Gelang itu menjaga kayu lintang, yang juga melambangkan Roh Kudus, tetapi dengan sifat insani - dalam kayu lintang itu ada unsur kayu penaga. Seperti telah kita lihat, setelah kebangkitan dan kenaikan Tuhan, Roh Kudus turun dari surga dengan sifat ilahi dan sifat insani; jadi kini Dia adalah Roh Yesus. Roh Kudus yang ajaib inilah, dengan sifat ilahi dan sifat insani, yang menggabungkan kita dan menyatukan kita. Semua papan lalu menjadi satu. Misalkan semua emas dilucuti dari papan, gelang, dan kayu lintang. Maka, dengan dilucutinya semua unsur emas, semua papan akan terceral berai, menjadi lembaran yang terpisah-pisah. Kesatuan bukan terdapat pada kayu itu melainkan pada emas. Jika emas itu diambil, tidak ada lagi unsur yang menyatukan, dan papan itu menjadi lembaran yang berdiri sendiri dan terpisah-pisah. Dengan gambaran ini kita dapat melihat dengan jelas bahwa kesatuan, keesaan, dan pembangunan bukan terdapat pada unsur kayu, melainkan sepenuhnya dalam unsur emas. Ini berarti pembangunan gereja bukanlah terletak pada sifat insani, melainkan dalam sifat ilahi. Dalam sifat ilahilah kita semua terbangun bersama. Sifat ilahilah yang menghubungkan kita, menyatukan kita, dan mengikat kita dalam kesatuan.
Saya dan Anda harus tahu, pertama-tama bahwa kita hanyalah setengah; kedua, kita tidak seharusnya bertindak secara independen dan perorangan tanpa penegasan dari pihak lain. Terakhir, kita harus bertindak, hidup, dan melayani dalam sifat ilahi. Dalam sifat ilahilah kita sebagai papan digabungkan bersama. Kemudian kita akan memiliki pembangunan Allah. Sekali lagi, harus diulangi bahwa semuanya ini berasal dari pengalaman atas Kristus sebagai roti sajian, kaki dian, aroma kebangkitan, dan sebagai tabut perjanjian, termasuk manna yang tersembunyi, hukum yang tersembunyi dan tongkat yang tersembunyi. Betapa penuh maknanya hal ini! Kiranya Tuhan sepenuhnya, dan dengan mendalam serta tuntas mengesankan kita dengan gambaran ini. Inilah jalan yang tepat bagi kita untuk dibangun bersama sebagai tempat kediaman Allah. Gereja bukanlah perkara pola, melainkan pengalaman sejati atas Kristus sebagai hayat dan segala sesuatu kita; sebab itu, satu-satunya jalan bagi gereja agar bisa terbangun di antara kita adalah mengalami Kristus di dalam roh.