← Daftar isi Ekonomi Allah Tritunggal · bab 16/24

KELIMPAHAN KEBANGKITAN

"'Inilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu,' demikianlah firman Tuhan. 'Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatKu. Dan mereka tidak akan mengajar lagi sesama warjanya, atau sesama saudaranya dengan mengatakan : Kenallah Tuhan! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku'" (Ibr. 8:10-11).

"Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari Dia. Karena itu, kamu tidak perlu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu dan pengajaran-Nya itu benar, bukan dusta - dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia" (1 Yoh. 2:27).

Baik Ibrani 8 maupun 1 Yohanes 2 mengatakan bahwa dalam zaman Perjanjian Baru tidak perlu ajaran manusia luaran yang mana pun. Ibrani 8:10 mengatakan bahwa hukum telah ditulis dalam batin kita, maka tidak perlu ada saudara yang mengajar kita untuk mengenal Tuhan. Satu Yohanes 2:27 mengatakan, ada pengurapan yang tinggal di dalam kita, maka tidak perlu add ajaran manusia. Satu ayat mengatakan, "hukum" ini telah dituliskan di dalam kita, dan ayat lainnya mengatakan, "pengurapan" itu tinggal di dalam kita. Apakah kedua benda itu? Mungkin sekali kita sebagai orang Kristen bertahun-tahun lamanya masih tidak tahu, apakah sebenarnya kedua benda yang ajaib dalam batin kita itu. Kita mempunyai satu hukum ajaib yang tertulis di dalam kita, dan satu pengurapan rahasia yang tinggal di dalam kita. Alangkah ganjil dan kasihan sekali jika kita tidak mengetahuinya! Karena adanya hukum di dalam dan pengurapan di batin ini, maka kita tidak perlu ajaran-ajaran manusia yang di luar.

SALIB DAN KEBANGKITAN

Hukum dan pengurapan yang di batin ini adalah sesuatu yang berasal dari kebangkitan. Kita telah nampak bahwa prinsip salib ialah pengakhiran yang almuhit dari perkara-perkara negatif dalam alam semesta. Kita pun telah nampak prinsip dan realitas kebangkitan. Salib mengakhiri ciptaan lama, sedang kebangkitan menghasilkan kekayaan ciptaan baru. Ciptaan lama telah dituntaskan melalui salib. Melalui kematian Kristus, kedua belas butir dari ciptaan lama telah dibawa ke atas salib dan ditanggulangi secara menyeluruh. Tetapi itu bukan merupakan kesudahan ceritanya, sebab setelah kematian datanglah kebangkitan. Apakah yang dibangkitkan? Iblis? Kerajaan Iblis? Dosa? Daging? Sama sekah bukan! Roh kekekalan itu hanya membangkitkan esensi dari apa yang diciptakan Allah semula untuk kehendak-Nya.

Sifat manusia merupakan sebagian dari ciptaan Allah yang semula. Allah menciptakan sifat manusia bagi kehendak-Nya sendiri, tetapi Iblis telah merusaknya. Sebab itu, melalui kematian-Nya, Tuhan membawa sifat tersebut ke dalam maut; tapi melalui kebangkitan-Nya, Tuhan membawa sifat ciptaan Allah ke dalam kebangkitan. Tuhan tidak saja menebus sifat manusia, tetapi juga mengangkatnya kepada suatu standar yang lebih tinggi. Jadi ciptaan baru terdiri dari Kristus dalam Roh kekekalan dan sifat manusia yang telah terpulih dan terangkat tinggi dalam kebangkitan.

Apakah butir-butir dari kelimpahan kebangkitan? Pertama, ada Allah Tritunggal, tetapi bukan dalam arti Perjanjian Lama, melainkan dalam arti Perjanjian Baru. Kemudian, ada hayat kekal dan ilahi, yaitu Allah itu sendiri sebagai hayat kita. (Perbedaan antara Allah dan hayat ilahi boleh diumpamakan dengan perbedaan antara listrik dan terang. Dikatakan dengan saksama, listrik itulah terang, dan terang itulah listrik, tetapi tetap ada bedanya. Sebagai contoh, listrik tidak saja berguna untuk terang, juga untuk energi, panas, dan sebagainya. Demikian pula, Allah sendiri adalah hayat kita, juga sebagai butir-butir lainnya). Butir ketiga ialah sifat ilahi (2 Ptr. 1:4). Keempat, hukum hayat (Rm. 8:2; lbr. 8:10). Kelima, pengurapan (I Yoh. 2:27). Kelima butir tersebut merupakan kelimpahan kebangkitan yang almuhit, semua hal lainnya yang dapat orang sebutkan tercakup di dalamnya. Ciptaan baru mewarisi semua butir tersebut di dalam kebangkitan.

Dapat kita katakan bahwa seluruh kelimpahan kebangkitan ini ialah Allah itu sendiri. Sifat ilahi itu sesungguhnya adalah Allah itu sendiri, dan hukum hayat serta pengurapan juga merupakan Allah itu sendiri dan gerakan Allah. Namun, manusia bukan suatu kelimpahan kebangkitan, melainkan sesuatu yang terpulih dan terangkat tinggi melalui kelimpahan ini. Kita sedikit banyak mengenal Allah Tritunggal, hayat ilahi, dan sifat ilahi, tetapi kebanyakan orang Kristen tidak mengenal hukum hayat dan pengurapan di batin itu. Di kalangan kekristenan hari ini hal ini telah diabaikan. Tetapi hukum dan pengurapan batini ini adalah kelimpahan kebangkitan yang praktis. Kalau kita tidak mengetahui kedua hal ini, kita tidak dapat mengerti kebangkitan secara praktis. Kebangkitan hanya dapat diketahui secara obyektif, kecuali kita mengetahui hukum hayat dan pengurapan batini. Dan hanya demikianlah baru kita dapat mengalami kebangkitan secara subyektif.

HUKUM TAURAT DAN PARA NABI

Mari kita lihat Perianiian Lama dengan hukum Taurat dan para nabi. Dalam suatu pengertian, Perjanjian Lama bahkan disebut hukum Taurat dan para nabi (Mat. 7:12; 22:40). Apakah perbedaan antara kedua hal ini? Hukum Taurat merupakan sejumlah peraturan pasti atau tetap yang tidak dapat diubah. Sebagai contoh, satu butir dari hukum Taurat menuntut setiap orang menghormati orang tua. Ini adalah sebuah peraturan yang tidak dapat diubah, dan yang wajib ditaati oleh setiap orang. Manusia tidak perlu mencari pimpinan untuk menghormati orang tuanya; hukum ini tetap dan pasti. Peraturan lainnya ialah "Jangan mencuri" Ini pun satu peraturan yang tetap dan pasti, tidak perlu orang berdoa, "Tuhan, tunjukkanlah kepadaku, apakah mencuri itu kehendak-Mu. Berilah aku pimpinan mengenai pencurian." Pimpinan demikian tidak perlu dicari. Prinsip yang sama ini berlaku pada hukum lain dalam kesepuluh hukum. Jadi, hukum Taurat adalah seperangkat peraturan yang tetap dan pasti yang harus dipehhara oleh setiap orang. Ia tidak dapat berubah berdasarkan manusia. Tak peduli orang itu pria atau wanita, tua atau muda, kaya atau miskin, ia harus memelihara peraturan-peraturan tersebut.

Sekarang bagaimana dengan para nabi? Para nabi mengatakan tentang situasi perorangan. Misalkan, seseorang datang bertanya kepada Yeremia, "Bolehkah aku pergi ke Yerusalem? Sang nabi mungkin berkata, "Ya, kamu boleh pergi." Tetapi pada waktu lain, mungkin ia berkata, "Tidak, kamu jangan pergi." Para nabi memberikan pimpinan Tuhan yang hidup sesuai dengan situasi orang yang berbeda-beda. Hukum Taurat tidak berubah, "Tetapi para nabi berubah-ubah tergantung pada situasi orang-orang yang bersangkutan. Bila kita mempunyai bukum Taurat, kita akan selalu memilikinya, sebab perintah-perintah itu bersifat permanen; sedangkan pimpinan para nabi hanya berlaku untuk sesekali. Karena itu, nabi harus dihubungi secara terus-menerus. Orang yang pernah mencari Yeremia tidak dapat berkata, "Sebulan yang lalu nabi berkata bahwa aku boleh pergi ke Yerusalem; maka sekarang aku boleh pergi tanpa berkonsultasi dengannya." Kalau orang tersebut ingin pergi ke Yerusalem lagi, ia harus mencari pimpinan sekali lagi dari nabi. Mengenai menghormati orang tuanya atau tidak, ia tidak perlu pimpinan, sebab hal itu merupakan prinsip hukum Taurat yang tetap dan pasti. Tetapi bagaimana ia menghormati orang tuanya, itu pasti suatu masalah pimpinan. Apakah ia harus menghormati orang tuanya pada suatu kesempatan dengan cara begini atau begitu? Ini perlu pimpinan. Karena itu, ia harus berkontak dengan nabi.

Perjanjian Lama melarang kaum wanita mengenakan pakaian pria dan sebaliknya. Ini jelas ditetapkan oleh Tuhan sebagai sebuah peraturan tetap dan hukum Taurat yang tak berubah. Tetapi ketika kita berbelanja membeli pakaian, ada yang berharga 200 dollar ada pula yang 20 dollar. Hal ini adalah masalah mencari pimpinan Tuhan, bukan hukum Taurat-Nya. Itulah perbedaan antara hukum Taurat dan para nabi. Kalau prinsip hukum Taurat yang tetap tidak berubah bagi siapa pun, tetapi pimpinan para nabi berubah menurut masing-masing orang. Adakalanya bahkan pada orang yang sama, ia pun bisa berubah dari satu keiadian ke kejadian lain.

HUKUM TAURAT DAN PENGURAPAN

YANG BATINI

Apakah dalam Perjanjian Baru juga ada hukum Taurat? Ya, tetapi bukan hukum Taurat yang harfiah. Dalam Perjanjian Baru hanya ada hukum Taurat hayat. Itulah hukum yang batini, bukan yang di luar; hukum yang ditulis di atas hati, bukan di atas loh batu. Bagaimana tentang para nabi dalam Perjanjian Baru? Seperti hukum hayat menggantikan hukum harfiah, begitu pula pengurapan batini menggantikan para nabi. Sebagai contoh, jika saya ingin mencukur rambut, apakah saya harus mencari pimpinan Tuhan dengan berdoa, "Tuhan, tunjukkan kepadaku apakah aku harus mencukur rambut seperti gembala sapi atau seperti bintang film?" Tidak perlu mencari pimpinan dalam masalah sedemikian ini, karena ada hukum di dalam batin saya yang melarang saya mencukur rambut dengan gaya gembala sapi atau bintang film. Hukum hayat batini mengatur saya dalam perkara-perkara seperti ini. Misalkan Anda seorang saudari dalam Tuhan, dan Anda mencoba menghias rambut Anda dengan model bintang film, maka dalam lubuk batin Anda akan ada sesuatu yang mengatur dan mengawasi Anda. Ini adalah pengaturan hukum hayat yang batini. Dalam pasal-pasal Alkitab sebanyak lebih dari seribu pasal tidak ada sepatah kata pun yang melarang potongan atau model rambut yang mirip dengan para bintang film. Bahkan bintang film pun tidak pernah disebut-sebut dalam Alkitab! Tetapi ada satu hukum batini yang mencegah Anda dari membuat diri Anda menuruti pola bintang film.

Misalkan ketika seorang saudara ingin menyampaikan firman Tuhan, ia tidak perlu bertanya, "Tuhan, bolehkah aku mengenakan celana gembala?" Jika ia terus berdandan dengan pakaian itu, hukum batini akan mengatur, mengawasi, dan melarangnya. Itulah satu prinsip tetap dari hukum yang di batinnya. Ia tidak perlu mencari pimpinan untuk mencukur rambutnya seperti gembala sapi. Tetapi bila dan di mana ia harus mencukur rambut, itulah masalah pimpinan Tuhan. Sebab itu, ia harus berdoa, "Tuhan, apakah Kau menghendaki aku mencukur rambut hari ini? Apakah aku harus mencukur di tukang cukur atau di rumah seorang saudara?" Ini bukan masalah hukum batini, melainkan masalah pengurapan batini. Pengurapan batini adalah "nabi-nabi" yang berhuni di batin, yang memberinya pimpinan. Jika ia lengah dan tidak mencari pimpinan "nabi" di batin itu, ia mungkin cepat-cepat pergi ke seorang saudara untuk mencukur rambutnya dan menjumpai suatu kesulitan. Karena kealpaannya terhadap pengurapan yang di batin, maka ia harus menderita. Sudahkah Anda mengerti hal ini?

Kebanyakan kaum wanita senang berbelanja. Ketika mereka masuk ke toko serba ada, mereka tidak ada pembatasan atau pengaturan kecuali rekening koran mereka. Tetapi para saudari yang mengasihi Tuhan dan yang belajar hidup dan bertindak oleh Tuhan mempunyai cerita lain. Bila mereka masuk ke toko serba ada dan membeli satu benda, ada sesuatu di batin yang mengatur mereka dan berkata, "Hentikan!" Mereka lalu membatalkannya. Ketika mereka mengambil barang lainnya, sekali lagi, "Jangan menyentuhnya; letakkan!" Apakah sebenarnya protes batini ini? Inilah hukum batin, hukum hayat. Kaum wanita yang duniawi bisa membeli apa saja sekehendak mereka, tanpa mempedulikan desain, warna, atau modelnya. Asal mereka suka, mereka membelinya. Tetapi saudari-saudari yang mengasihi Tuhan mempunyai suatu perasaan batini yang negatif bila mereka membeli barang tertentu. Itulah pengaturan dari hukum batini.

Di pihak lain, jika Anda perlu membeli suatu barang, Anda harus mencari pimpinan pengurapan batini, berapa banyak uang yang harus Anda pakai untuk membelinya. Anda wajib bersekutu dengan Tuhan, mencari pimpinanNya lewat pengurapan batini tersebut. Tak seorang pun yang dapat memberi tahu Anda. Jika Anda membawa problem itu kepadaku, aku akan berkata, "Jangan bertanya kepadaku; tanya saja kepada Dia yang ada di batin Anda. Anda akan mengetahui, berapa banyak uang yang harus Anda gunakan melalui pengurapan yang ada di batin Anda itu." Katakan saja, "Tuhan, apakah 150 dollar?" Pengurapan batini mungkin berkata, "Tidak!" "Apakah 95 dollar?" "Tidak" "Apakah 65 dollar?" "Kira-kira sebesar itu." "Apakah 50 dollar?" "Ya!" Ada sesuatu di batin Anda yang akan menyetujui.

Seorang suami bahkan tidak dapat memberi tahu istrinya apa yang harus ia lakukan. Jika si istri bertanya kepada suaminya tentang sebuah topi yang seharga 30 dollar, lebih baik ia berkata, "Anda harus pergi saja kepada Tuhan dan mencari pimpinan-Nya melalui pengurapan batini." Pengurapan batini ini akan memberi tahu kepadanya, tetapi ia perlu waktu untuk berdoa dan berkontak dengan Tuhan. "Tuhan, aku menyembah kepada-Mu. Engkau adalah hayatku! Tuhanku! Engkau berhuni dibatinku. Tuhan berilah aku perasaan yang wajar, berapa harga topi yang boleh kubeh?" aku harus membayar tudung itu?" Kemudian ia akan merasakan Tuhan di batinnya. "Apakah 30 dollar?" "Tidak!" "Apakah 25 dollar?" "Tidak!" "Apakah 20 dollar?" "Tidak!" " Apakah 15 dollar?" "Tidak!" "Apakah 12 dollar?" "Ya!" Pada akhirnya, pengurapan batin itu akan memberinya suatu perasaan batin yang wajar.

Jika Anda tidak mengalami hal semacam ini, saya khawatir Anda mungkin bukan seorang anak Allah. "Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah" (Rm. 8:14). Bagaimana Roh Allah memimpin kita? Melalui pengurapan batini. Puji Tuhan, kita adalah ciptaan baru dalam kebangkitan. Dalam kebangkitan, kita memiliki Allah Tritunggal, kita memiliki Dia sebagai hayat dan Roh-Nya bekerja di batin kita sebagai minyak urapan, yang secara terus-menerus bergerak dan mengurapi kita dengan Allah itu sendiri. Semakin kita terurap oleh-Nya secara hakiki, kita akan semakin memiliki esensi Allah di batin kita. Seperti seorang tukang cat mengecat sebuah meja. Semakin ia mengecat meja itu, maka unsur cat itu semakin bertambah di atasnya. Demikian pula, semakin kita diurapi oleh Roh Kudus di batin kita, kita akan semakin beroleh esensi Allah. Jika kita mau secara terusmenerus diurapi oleh Roh Kudus di batin kita, setelah lewat sejangka waktu kita akan lebih banyak memperoleh esensi Allah. Allah itu sendiri ibarat cat, Roh Kudus ibarat tukang cat dan pengurapan itulah pengecatan. Roh Kudus mengecat kita di batin dengan Allah sendiri sebagai catnya. Pengecatan ini akan memberi kita perasaan batini tentang kehendak Tuhan.

Kita harus mempunyai pengaturan dan pengurapan batini ini. Kita diatur oleh hukum batini agar kita terpelihara dalam jalan Tuhan, dan kita diurapi oleh pengurapan batini agar kita mengetahui kehendak Allah dalam segala perkara. Dengan cara demikianlah esensi Allah akan bertambah-tambah di batin kita sepanjang masa. Semakin kita dicat oleh Roh Kudus dengan Allah sebagai catnya, maka esensi Allah akan semakin bertambah di batin kita. Inilah kelimpahan kebangkitan sebagai pengalaman praktis kita yang batini.